PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PAULUS
(14)
Pembacaan Alkitab: Kis. 18:1-22
Dalam Kisah Para Rasul 18 Paulus pergi ke Korintus di mana ia berjumpa dengan Akwila dan Priskila (ay. 1-4) dan memberitakan kepada orang Yahudi dan menghadapi penentangan mereka (ay. 5-17). Dalam 18:18-21a Paulus pergi ke Efesus, dan dalam 18:21b-22 ia kembali ke Antiokhia, dengan demikian mengakhiri perjalanan ministrinya kali kedua.
KE KORINTUS
Berjumpa dengan Akwila dan Priskila
Kisah Para Rasul 18:1-2 mengatakan, ”Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang ber-asal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, istrinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka.” Klaudius adalah seorang Kaisar Romawi. Apa yang dilakukannya di sini dipakai Tuhan un-tuk merampungkan ministri pembangunan gereja-Nya, sama seperti yang dilakukan oleh Kaisar Agustus dipakai Allah untuk menggenapkan nubuat tentang tempat kelahiran Kristus (Luk. 2:1-7).
Ayat 3 mengatakan, ”Karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.” Ini menunjukkan bahwa sewaktu Paulus melaksanakan ministri Tuhan, ia masih memiliki satu pekerjaan. Ia menunjukkan hal ini dalam 1 Korintus 4:12, ”Kami melakukan pekerjaan tangan yang berat.” Lagi pula, dalam 1 Tesalonika 2:9 dan 2 Tesalonika 3:8 Paulus mengatakan bahwa ia berjerih lelah siang dan malam untuk tidak menjadi beban bagi orang-orang kudus.
Praktek Paulus berbeda dengan praktek dari banyak pekerja Kristen pada hari ini. Seringkali ketika seseorang menjadi seorang pelayan atau misionaris, ia tidak mau lagi melakukan pekerjaan lainnya. Tetapi sewaktu Paulus meministrikan firman, ia juga bekerja dengan tangannya untuk mencari nafkah. Hal ini ia lakukan tidak hanya untuk menunjang dirinya sendiri, tetapi juga untuk menunjang sekerja-sekerjanya. Mengenai hal ini ia berkata dalam Kisah Para Rasul 20:34-35, ”Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi ke-perluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sekali lagi Paulus mendirkan satu teladan yang baik.
Menurut kutipan seperti 1 Korintus 9:3-15, gereja-gereja dan orang-orang kudus tidak setia dalam memperhatikan Paulus sebagai hamba Tuhan. Karena mereka tidak menunjang dia dengan memadai, ia terpaksa harus bekerja. Ada beberapa orang Korintus bahkan menuduh Paulus berusaha mencari keuntungan dari mereka bagi dirinya sendiri. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa ia lebih baik mati daripada mengambil sesuatu dari orang-orang Korintus (1 Kor. 9:15).
Orang-orang yang melayani Tuhan sepenuh waktu tidak boleh menganggap pekerjaan mereka bagi Tuhan sebagai profesi mereka. Jika perlu, beberapa orang mungkin masih perlu bekerja untuk mencari nafkah. Entah kita melakukan hal ini atau tidak, tergantung kepada berapa berat beban yang menekan kita. Jika beban menekan Anda sepenuhnya dan lingkungan sanggup menunjang penghidupan Anda, maka Anda seharusnya meluangkan seluruh waktu Anda pada pekerjaan Tuhan. Tetapi jika tidak, Anda masih harus bekerja untuk menunjang diri Anda sendiri, dan tidak hanya diri Anda sendiri, tetapi juga sekerja-sekerja Anda, khususnya saudara-saudara yang muda.
Jika Paulus tidak menerima tunjangan keuangan yang memadai, bagaimana mungkin sekerja-sekerja mudanya dapat menerima tunjangannya? Karena perlu menunjang dirinya sendiri dan orang lain, maka Paulus terpaksa melakukan pekerjaannya membuat tenda. Ini adalah teladan yang sangat baik bagi kita pada hari ini.
Mengenai tunjangan keuangan, situasi Paulus dan sekerja-sekerjanya dalam Perjanjian Baru itu berbeda dengan para imam dan orang-orang Lewi dalam Perjanjian Lama. Menurut peraturan Lewi, para imam dan orang-orang Lewi hidup dari persembahan-persembahan umat Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru peraturan ini telah berlalu.
Menurut Lukas 8:1-3, ada sekelompok saudari yang melayani Tuhan Yesus dan kedua belas murid dengan harta milik mereka. Kedua belas murid itu mengikuti Tuhan sepenuh waktu, dan mereka semua memerlukan tunjangan keuangan. Beberapa perempuan yang mengasihi Tuhan dan yang memiliki kemampuan harus menunjang Tuhan dan para pengikut-Nya dengan memenuhi keperluan mereka.
Pada tahun-tahun permulaan di gereja di Shanghai, tunjangan keuangan terutama berasal dari para saudari. Ada sejumlah saudari yang adalah perawat-perawat di sebuah rumah sakit terkemuka, dan saudari-saudari ini menunjang gereja dan para sekerja di Shanghai. Saya juga melihat hal ini di tempat-tempat lain.
Pada kenyataannya, para saudari lebih mengasihi Tuhan daripada para saudara. Di antara kedua belas murid itu ada seorang Yudas, tetapi tidak ada ”Yudas” di antara para saudari. Yudas tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan, tetapi ia jelas mengetahui bagaimana menghitung uang. Orang-orang yang memperhatikan uang dengan cara demikian tidak mungkin menunjang orang lain. Semakin mereka menghitung uang mereka, semakin mereka mengasihinya dan semakin damba menyimpannya untuk diri mereka sendiri.
Di bawah kedaulatan Allah ada perempuan-perempuan tertentu dalam Alkitab yang menikah dengan laki-laki yang kaya. Perhatikan perkara Ester yang menikah dengan seorang raja Kafir. Dengan mempengaruhi suaminya, ia dapat menunjang semua orang Yahudi.
Di antara perempuan-perempuan dalam Lukas 8:1-3 ada ”Yohana istri Khuza bendahara Herodes” (ay. 3). Meskipun politisi-politisi Roma menganiaya Tuhan Yesus, tetapi istri seorang pegawai Roma memakai uang suaminya untuk menunjang Dia. Saya tahu perkara-perkara tentang saudari-saudari yang memakai uang suaminya untuk menunjang pekerjaan Tuhan.
Butir yang kita tekankan mengenai Kisah Para Rasul 18:3 ini ialah orang-orang yang berbeban untuk melayani Tuhan, seharusnya melayani Tuhan sepenuh waktu jika lingkungan dan keuangan mengizinkan. Tetapi jika lingkungan tidak mengizinkan seseorang untuk melayani sepenuh waktu, ia tidak boleh meninggalkan bebannya. Sebaliknya, ia harus melaksanakan bebannya dan pada waktu yang sama masih harus rajin bekerja untuk memenuhi keperluannya, seperti yang dilakukan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul.
Berbicara di Rumah Ibadat Setiap Sabat
Kisah Para Rasul 18:4 mengatakan bahwa setiap hari Sabat Paulus ”berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.” Paulus tentu pergi ke perhimpunan di rumah ibadat, orang Yahudi untuk merebut kesempatan guna memberitakan fir-man Allah. Ia bukan pergi ke sana untuk memelihara Sabat, tetapi untuk memberitakan Injil, menganjuri orang Yahudi dan orang Yunani. Orang-orang Yunani yang disinggung dalam 18:4 menunjukkan bahwa ada beberapa orang Yunani yang juga pergi ke rumah ibadat orang Yahudi untuk mendengar firman Allah.
Memberitakan kepada Orang Yahudi dan
Menghadapi Penentangan Mereka
Dalam 18:5-17 Paulus memberitakan kepada orang Yahudi dan menghadapi penentangan mereka. Ayat 5 menga-takan, ”Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah Mesias.” Kata Yunani yang diterjemahkan ”sepenuhnya memberitakan” juga dapat diterjemahkan ”ditekan oleh” atau ”dibelenggu oleh.”
Pada waktu inilah, di Korintus, setelah Silas dan Timotius datang dari Makedonia dengan membawa kabar tentang gereja di Tesalonika (1 Tes. 3:6), Paulus menulis surat kirimannya yang pertama kepada gereja di sana (1 Tes. 1:1). Dari Korintus Paulus menuliskan surat yang indah itu kepada orang-orang kudus yang kekasih di Tesalonika untuk mendorong mereka.
Di Korintus Paulus bersaksi kepada orang Yahudi bahwa Yesus adalah Kristus. ”Tetapi ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih; tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain” (ay. 6). Situasi orang Yahudi di Korintus sama seperti situasi orang Yahudi di Antiokhia di Pisidia, yang menolak firman Allah dan menganggap diri mereka sendiri tidak layak memperoleh hayat yang kekal (13:46). Dalam situasi itu Paulus juga mengumumkan, ”Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.”
Kisah Para Rasul 18:7-8 melanjutkan, ”Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seseorang bernama Titius Yustus, yang takut kepada Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.” Seperti dalam 16:31, kata ”rumah” dalam 18:8 menunjukkan bahwa keluarga dari orang beriman adalah satuan yang utuh untuk keselamatan Allah, seperti seisi keluarga Nuh (Kej. 7:1), keluarga-keluarga yang berbagian dengan Paskah (Kel. 12:3-4), keluarga Rahab, perempuan sundal itu (Yos. 2:18-19), keluarga Zakheus (Luk. 19:9), keluarga Kornelius (Kis. 11:14), dan keluarga Lidia (16:15).
Menurut 18:9-10, ”Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menyentuh dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Seperti dalam 16:9-10, penglihatan yang di dalamnya Tuhan berbicara kepada Paulus selama malam itu bukanlah suatu mimpi atau trans. Dalam penglihatan seperti ini obyek-obyek tertentu dapat dilihat oleh mata manusia.
Kisah Para Rasul 18:11 memberi tahu kita, ”tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di antara mereka.” Seperti yang akan kita lihat, Paulus tinggal di Efesus selama tiga tahun. Ini menunjukkan bahwa gereja di Efesus adalah gereja yang terkemuka di Asia Kecil. Demikian juga, fakta bahwa Paulus menetap di Korintus selama satu setengah tahun menunjukkan bahwa gereja di Korintus adalah gereja yang terkemuka di Akhaya. Tidak diragukan lagi, selama di Korintus, Paulus telah melakukan banyak pekerjaan.
Sewaktu kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa perlawanan, penentangan, dan serangan dari orang-orang Yahudi itu sangat kuat. Dapat kita baca bahwa orang-orang Yahudi ingin membunuh Paulus (9:23; 23:12-15, 21; 25:3). Ke mana saja Paulus pergi, orang-orang Yahudi melawan dan menentang dia. Di Tesalonika mereka, ”meng-adakan keributan dan mengacau kota” (17:5). Mengenai penentangan orang Yahudi di Korintus terhadap Paulus, 18:12-13 mengatakan, ”Akan tetapi, setelah Galio menjadi guber-nur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan penga-dilan. Kata mereka: Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” Orang-orang Yahudi membawa Paulus ke Galio dan menuduh bahwa dia mengajar orang lain menyembah kepada Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan hukum Taurat Musa.
Ketika Paulus hendak mulai berbicara, ”berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: Hai orang-orang Yahudi, sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri menyelesaikannya; aku tidak sudi menjadi hakim atas perkara yang demikian” (ay. 14-16). Di sini Galio seolah-olah akan berkata, ”Jika satu kejahatan telah terjadi, aku akan menjadi hakim dalam perkara itu. Tetapi aku tidak tertarik dalam berselisih mengenai nama dan istilah dan hukum Tauratmu. Aku tidak ada waktu untuk hal-hal itu. Uruslah sendiri masalah itu.”
Di satu pihak sikap Galio sangat membantu Paulus. Tetapi di pihak lain hal ini membawa Paulus ke dalam situasi yang berbahaya. Setelah Galio menyatakan sikapnya yang terang-terangan kepada orang-orang Yahudi, mereka menjadi berani. ”Lalu mereka semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu” (ay. 17). Dari hal ini kita melihat bahwa situasi tersebut menjadi sangat mengancam Paulus.
Sostenes dalam 18:17 itu mungkin bukan Sostenes dalam 1 Korintus 1:1, karena surat kiriman ini ditulis Paulus di Efesus (1 Kor. 16:8) tidak lama setelah ia meninggalkan Korintus, sedang Sostenes yang lain adalah kepala rumah ibadah ketika Paulus dianiaya di Korintus. Sostenes dalam 1 Korintus 1:1, sebagai seorang saudara di dalam Tuhan, pasti bergabung dengan Paulus dalam perjalanan minis-trinya.
KE EFESUS
Kisah Para Rasul 18:18 mengatakan, ”Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara seiman di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia.” Ini adalah nazar pribadi untuk ucapan syukur yang dilakukan di mana saja oleh orang-orang Yahudi dengan menggunting rambut mereka. Ini berbeda dengan nazar seorang Nazir, yang harus dilaksanakan di Yerusalem dengan mencukur rambut kepala (21:24; Bil. 6:1-5; cf. 1 Kor. 11:6 ayat-ayat ini perbedaan antara menggunting dengan mencukur rambut). Paulus adalah orang Yahudi dan memelihara nazar, tetapi dia tidak pernah dan tidak mau mengenakan cara ini kepada orang Kafir.
Menurut prinsip pengajarannya tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah, Paulus seharusnya telah meninggalkan semua praktek Yahudi milik zaman Perjanjian Lama. Tetapi, secara pribadi dia masih melakukan nazar ini. Kelihatannya Allah mentoleransi hal ini, mungkin karena nazar ini dilakukannya secara pribadi, di luar Yerusalem, dan tidak akan banyak berpengaruh terhadap kaum beriman.
Beberapa buku tafsiran tentang kitab Kisah Para Rasul berusaha untuk menjelaskan mengapa Paulus memiliki nazar yang disinggung dalam 18:18. Selama nazar ini, rambutnya dibiarkan bertumbuh panjang. Ketika nazarnya genap, rambutnya digunting. Menurut 18:18, nazar Paulus digenapkan di Kengkrea dengan mencukur rambutnya. Beberapa pengulas mengatakan bahwa Paulus memiliki nazar ini karena ia berterima kasih kepada Tuhan karena memelihara kehidupannya. Sebagai seorang manusia, Paulus mungkin takut kehilangan nyawanya di tangan orang-orang Yahudi. Ia dengan konstan memberitakan dan melayani. Pada saat yang sama, ia selalu berada di dalam bahaya akan kehilangan nyawanya. Di satu pihak, Paulus rela kehilangan nyawanya demi Tuhan. Di pihak lain, ia masih manusia dan takut. Karena itu, menurut beberapa pengulas, Paulus memiliki nazar pengucapan syukur.
Pengertian akan nazar Paulus dalam 18:18 ini mungkin tepat. Ketika seorang Yahudi memiliki sesuatu dan untuknya ia bersyukur kepada Tuhan, ia dapat membuat satu nazar pengucapan syukur. Menurut konteksnya, Paulus pasti berterima kasih kepada Tuhan karena melindunginya dan memelihara kehidupannya. Di seluruh Asia Kecil, Makedonia, dan Akhaya, orang-orang Yahudi menentang dia dan bahkan ingin membunuh dia. Tetapi sepanjang perjalanan itu Tuhan melindungi dan memeliharanya. Paulus pasti bersyukur karena hal ini.
Ketika Tuhan berbicara kepada Paulus di malam itu dengan suatu penglihatan, Dia berkata kepada Paulus, ”Jangan takut.” Perkataan ini menunjukkan bahwa ada rasa takut di dalam diri Paulus. Karena itu, Tuhan datang kepadanya pada malam hari dengan cara yang luar biasa. Beberapa orang mungkin berkata, ”Bukankah Paulus memiliki Tuhan di dalamnya? Bukankah ia memiliki Roh esensial dan Roh ekonomikal?” Paulus tentu memiliki Tuhan di dalamnya, dan ia juga memiliki Roh esensial dan Roh ekonomikal. Tetapi ia masih perlu dikuatkan dan diteguhkan. Untuk memenuhi keperluan ini Tuhan datang kepada Paulus dalam suatu penglihatan, dengan berkata, ”Jangan takut . . . Aku menyertai engkau . . .” (18:9-10).
Paulus mungkin mengucapkan nazar ini karena ia bersyukur untuk perlindungan dan pemeliharaan Tuhan. Mungkin inilah alasannya bahwa sewaktu ia berada dalam perjalanan dari Akhaya ke Siria, ia berhenti di Kengkrea untuk memenuhi nazarnya.
Setelah Tuhan berbicara kepada Paulus dalam suatu penglihatan, ia tetap tinggal di Korintus selama satu tahun enam bulan, mengajarkan firman Allah. Ia pasti menunaikan tugasnya di kota itu dan akhirnya sebuah gereja yang cukup besar dibangunkan dan didirikan di sana.
Pada perjalanan ke Siria Paulus berhenti di Efesus. Seperti yang ia lakukan di banyak tempat lainnya, ”Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan berbicara dengan orang-orang Yahudi” (ay. 19). Mereka meminta Paulus untuk tetap tinggal, tetapi ia tidak mengabulkannya. Sebaliknya, ia meninggalkan mereka dan berkata, ”Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya” (ay. 21).
KEMBALI KE ANTIOKHIA MENGAKHIRI
PERJALANAN KALI KEDUA
Paulus bertolak dari Efesus (ay. 21b). ”Ia sampai di Kaisarea dan setelah naik ke darat dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia.” Ayat ini me-nunjukkan bahwa Paulus pergi ke Yerusalem (lihat. 21:15) dan kemudian pergi ke Antiokhia. Kembalinya Paulus ke Antiokhia adalah akhir perjalanan ministri Paulus kali kedua, yang dimulai dari 15:40.
Kita mungkin heran mengapa Paulus tidak langsung pergi ke Antiokhia dari Kaisarea sebaliknya ia pergi dahulu ke Yerusalem. Ia sampai di Kaisarea dan kemudian pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada gereja di sana. Mengapa Paulus pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada gereja? Ia melakukan hal ini karena masalah yang dipecahkan dalam pasal 15. Setelah pemecahan masalah itu, Paulus melakukan perjalanan ministrinya kali kedua. Sekarang pada akhir perjalanannya, ia pergi untuk mengunjungi gereja di Yerusalem.
Lukas tidak memberikan catatan yang terperinci mengenai kunjungan Paulus ke gereja di Yerusalem ini kepada kita. Tetapi jika kita menyelam ke dalam lubuk dari firman ini, kita akan menyadari bahwa dalam melakukan kunjungan ini Paulus berusaha untuk memelihara keesaan Tubuh dan juga memelihara suatu perasaan yang menyenangkan di antara dia dengan orang-orang kudus di Yerusalem, khususnya Petrus dan Yakobus.
Paulus dapat langsung pergi ke Antiokhia. Tidak ada alasan baginya untuk pergi ke Yerusalem. Meskipun demikian, dari Kaisarea ia berpaling ke selatan untuk mengunjungi gereja di Yerusalem. Kemudian dari Yerusalem ia melakukan perjalanan yang jauh ke Antiokhia. Dalam 18:22 Lukas bahkan tidak menyinggung nama Yerusalem. Mung-kin Lukas menganggap bahwa setiap orang akan mengerti perkara yang ditunjukkan dengan perkataan ”naik,” bahwa orang tidak akan naik ke tempat lain selain Yerusalem.
Kita perlu terkesan bahwa Paulus pergi ke Yerusalem dalam 18:22 karena ia berusaha untuk memelihara keesaan Tubuh dengan cara yang menggembirakan dan menyenangkan. Ia antusias dalam melakukan segala sesuatu yang mungkin ada di dalam ruang lingkupnya untuk memelihara keesaan Tubuh dan juga perasaan yang menyenangkan dengan orang-orang kudus di Yerusalem. Paulus tahu bahwa ia adalah faktor yang menyebabkan banyak kaum beriman Yahudi bangkit dan menentang prakteknya. Ia adalah faktor yang menyebabkan situasi yang tidak menyenangkan. Jika tidak ada orang seperti Paulus yang memberitakan Injil kepada bangsa Kafir, maka kebanyakan kaum beriman adalah orang-orang Yahudi, dan tidak akan ada masalah mengenai sunat. Karena Paulus adalah faktor dalam situasi yang tidak menyenangkan ini, maka ia berusaha sebisanya untuk memelihara keesaan dengan semua orang kudus. Khususnya ia berusaha untuk memiliki perasaan yang menyenangkan dengan orang-orang di Yerusalem. Karena itu, dengan melupakan pelayaran yang jauh dan sulit, ia pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi gereja. Kemudian ia kembali ke Antiokhia, mengakhiri perjalanannya kali kedua. Ini sangat jelas, dan kita perlu belajar dari kisah Paulus untuk memelihara keesaan Tubuh dan memelihara perasaan yang menyenangkan di antara orang-orang kudus mengenai praktek kita dalam melaksanakan ministri Tuhan.