← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 20/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(13)

Pembacaan Alkitab: Kis. 17:16-34

Dalam berita ini kita akan mempelajari pemberitaan Paulus di Areopagus. Areopagus adalah Mars Hill, tempat pengadilan Atena kuno yang berwibawa dan terhormat, yang menghakimi masalah-masalah agama yang paling serius.

SANGAT BERIBADAH

DALAM PENYEMBAHAN BERHALA

Kisah Para Rasul 17:22 mengatakan, ”Paulus berdiri di hadapan sidang Areopagus dan berkata, ”Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.” Kata Yunani yang diterjemahkan ”sangat beribadah” secara harfiah berarti takut kepada roh jahat, roh adikodrati, karena itu, ini berarti menyerahkan diri kepada penyembahan roh jahat, sangat beribadah kepada dewa-dewa. Orang-orang Atena sangat beribadah bukan dalam hubungannya dengan Allah yang benar, melainkan dalam hubungannya dengan penyembahan berhala. Kita telah melihat bahwa dalam ayat 16, Paulus ”risau rohnya karena ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Tl.).

Dalam ayat 23 Paulus melanjutkan, ”Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Aku memberitakan kepadamu Dia yang kamu sembah sebagai Allah yang tidak dikenal. Dia tidak kamu kenal, tetapi Dia aku kenal.”

SANG PENCIPTA DAN PENGELOLA PEMELIHARA

Dalam ayat 24-25 Paulus berkata, ”Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Perkataan Paulus dalam ayat-ayat ini adalah suntikan imunisasi yang sangat kuat terhadap golongan Epikuros yang ateis, yang tidak mengakui Tuhan Pencipta serta pengelolaan dan pemeliharaan-Nya atas dunia; juga terhadap golongan Stoa panteis, yang menyerahkan nasib mereka kepada kehendak dewa-dewa (lihat ay. 18). Dalam ayat 24 Paulus membicarakan tentang Allah yang menjadikan dunia dan segala isinya. Perkataan ini terutama diarahkan kepada para filsuf Epikuros, yang sebagai aliran ateis, tidak percaya kepada Allah. Mereka tidak percaya kepada Sang Pencipta maupun kepada pengelolaan dan pemeliharaan-Nya. Karena itu, setelah berbicara kepada para filsuf Epikuros, Paulus selanjutnya mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan atas langit dan bumi. Dia ini benar-benar telah diabaikan oleh para filsuf Epikuros. Selain itu, Paulus menunjukkan bahwa Allah sendiri memberikan hidup, dan napas, dan segala sesuatu kepada semua makhluk. Ini adalah penyuplaian Allah. Allah menyuplaikan segala sesuatu sehingga manusia dapat hidup. Para filsuf Epikuros tidak percaya kepada Sang Pencipta, Tuhan atas langit dan bumi yang menyuplaikan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk hidup.

Pemberitaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17 itu sangat baik. Ketika ia berbicara dengan orang-orang Yahudi di rumah ibadat, ia memakai Kitab Suci. Tetapi ketika ia memberitakan kepada para filsuf Epikuros, ia menyinggung penciptaan.

Apa yang Paulus lakukan dalam 17:2 dan 17:24-25 itu mirip dengan apa yang ia lakukan dalam pasal 13-14. Dalam pasal 13 ia memakai Kitab Suci orang Yahudi sebagai dasar untuk memberitakan Kristus yang bangkit. Tetapi dalam pasal 14 pemberitaannya kepada bangsa kafir adalah ber-dasar pada penciptaan Allah. Namun, ada satu perbedaan da-lam pemakaian Paulus mengenai penciptaan dalam pem-beritaannya dalam pasal 14-17; pengungkapannya dalam pasal-pasal ini agak berbeda. Dalam pasal 14 ia memberi tahu bangsa kafir bahwa ”Allah yang hidup yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya . . . bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (14:15-17). Di sana perkataannya tidak begitu filosofis. Sebaliknya, perkataan Paulus untuk menghadapi pengajaranpengajaran yang salah dari para filsuf Epikuros dalam pasal 17 itu sangat filosofis. Di sini Paulus mengumumkan bahwa ada satu Pencipta, Tuhan atas langit dan bumi, dan bahwa Dia menyuplaikan hidup, napas, dan segala sesuatu yang diperlukan bagi kehidupan manusia di bumi.

SEMUA BANGSA DIJADIKAN DARI ADAM

Dalam 17:26 Paulus selanjutnya berkata, ”Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.” ”Satu orang” di sini adalah Adam. Allah menjadikan setiap bangsa dari Adam untuk menghuni muka bumi.

KEDAULATAN ALLAH ATAS SELURUH BUMI

Dalam ayat 26 Paulus menunjukkan bahwa Allah telah menentukan musim-musim dan batas-batas kediaman dari semua bangsa. Di sini kita melihat wewenang kedaulatan Allah. Allah itu berdaulat atas seluruh bumi. Dia bukan hanya menciptakan semua bangsa dari satu orang, Adam, tetapi Dia juga menetapkan waktu-waktu dan tempat-tempat dari bangsa-bangsa itu. Migrasi-migrasi ke Amerika pada waktunya dan batas-batasnya adalah satu bukti yang kuat dari perkataan ini dan juga dari bagian pertama ayat 27. Kelihatannya Kolumbus yang membuka jalan dari Eropa ke Amerika; sebenarnya Allahlah yang membuka jalan itu, karena Dialah yang menetapkan musim-musim untuk pe-nemuan tanah baru itu. Selain itu, Dialah yang menggarisi batas-batas dari semua bangsa.

Pemberitaan Paulus dalam pasal 17 ini sangat filosofis. Dari penciptaan langit dan bumi dan penyuplaian Allah bagi seluruh umat manusia, Paulus selanjutnya membicarakan tentang keberadaan umat manusia. Kita perlu belajar dari Paulus dalam memberitakan Injil. Kita dapat memulainya dengan penciptaan, tetapi kita tidak boleh tetap tinggal di sana. Sebaliknya, kita harus melanjutkan dari penciptaan membicarakan mengenai kehidupan manusia. Bila kita melakukan hal ini, kita menjamah butir yang dibutuhkan ma-nusia. Dalam 17:26, Paulus dalam pemberitaannya sampai kepada kehidupan manusia di bumi.

ROH YANG MAHAADA

Menurut ayat 27, Allah membentuk bangsa-bangsa, menetapkan musim-musim mereka dan batas-batas ke-diaman mereka, ”supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.” Karena Allah adalah Roh yang mahaada, Dia tidak jauh dari kita masing-masing. Ini berkaitan dengan Trinitas ilahi. Roh ilahi itu tritunggal. Apakah Anda mengira bahwa Roh ini adalah Roh saja dan bukan Bapa dan Putra? Allah yang tidak jauh dari kita ini benar-benar adalah Roh yang mahaada, dan Roh ini adalah Allah Tritunggal. Roh ini adalah keseluruhan Allah — Bapa, Putra, dan Roh.

SEMUA MANUSIA HIDUP, BERGERAK,

DAN ADA DI DALAM ALLAH

Dalam bagian pertama dari ayat 28 Paulus menjelaskan, ”Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” Ini menunjukkan hayat, eksistensi, bahkan pergerakan manusia, semuanya ada di dalam Allah. Ini bukan berarti bahwa orang-orang yang tidak percaya memiliki hayat Allah, dan hidup, bereksistensi serta bergerak di dalam Allah seperti kaum beriman dalam Kristus. Hanya orang-orang yang dilahirkan oleh Allah yang memiliki hayat dan sifat ilahi-Nya, hidup, bereksistensi, dan bergerak di dalam persona ilahi-Nya. Tetapi, di sini Paulus menunjukkan bahwa semua manusia, termasuk para filsuf Epikuros dan semua orang yang tidak percaya lainnya, hidup, bergerak, dan ada di dalam Allah.

KETURUNAN ALLAH

Dalam ayat 28 Paulus juga berkata, ”Seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga.” Puisi ini mungkin mengacu kepada Aratus (sekitar 270 SM) dan Cleanthes (sekitar 300 SM) yang keduanya mengungkapkan kata-kata yang sama dalam puisi-puisi mereka kepada Zeus (Yupiter), yang mereka ang-gap sebagai Allah yang mahatinggi.

Menurut pujangga-pujangga yang Paulus sebut dalam ayat 28, kita adalah keturunan Allah. Manusia adalah keturunan Allah seperti halnya Adam dianggap putra Allah (Luk. 3:38). Mengatakan bahwa Adam adalah putra Allah itu bukan berarti bahwa ia lahir dari Allah dan memiliki hayat Allah. Adam diciptakan oleh Allah (Kej. 5:1-2), dan Allah adalah sumbernya. Berdasarkan hal ini, ia dianggap putra Allah, seperti pujangga bangsa kafir yang menganggap bahwa seluruh umat manusia adalah keturunan Allah. Mereka hanya diciptakan oleh Allah, bukan dilahirkan kembali dari Dia. Ini secara mutlak dan mendasar berbeda dengan kaum beriman dalam Kristus yang adalah putra-putra Allah. Kaum beriman telah lahir, dilahirkan kembali, dari Allah dan memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:12-13; 3:16; 2 Ptr. 1:4). Karena Allah adalah Pencipta, sumber umat manusia, maka Dia adalah Bapa mereka semua (Mal. 2:10). Ini menurut arti alamiah, bukan menurut arti rohaniah. Dalam arti rohaniah Dia adalah Bapa dari semua orang beriman (Gal. 4:6), yang dilahirkan kembali oleh-Nya di dalam roh mereka (1 Ptr. 1:3; Yoh. 3:5-6).

PERBEDAAN ANTARA KETURUNAN ALLAH DAN PUTRA-PUTRA ALLAH

Kita perlu melihat secara terperinci apakah arti mengatakan bahwa semua manusia adalah keturunan Allah. Beberapa ahli teologi mengajarkan bahwa setiap manusia adalah anak Allah. Mereka mengambil perkataan dalam Lukas 3:38 mengenai ”Adam, anak Allah” sebagai dasar pengajaran mereka. Kemudian mereka beralasan bahwa karena Adam, manusia yang pertama, adalah anak Allah, maka semua keturunannya pasti juga adalah anak Allah. Mereka percaya, konsepsi ini dikuatkan oleh perkataan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17 mengenai semua ma-nusia adalah keturunan Allah. Tetapi, jika kita mempelajari Alkitab dengan teliti, kita akan melihat bahwa konsepsi ini tidak tepat.

Manusia Diciptakan dan Dihasilkan oleh Allah

Menurut Alkitab, Allah menciptakan manusia. Sebagai Pencipta, Allah adalah sumber dari manusia. Kejadian 2:7 mengatakan, ”Ketika itulah TUHAN Allah membentuk ma-nusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Mula-mula Allah memakai debu untuk membentuk tubuh fisik manusia, kemudian Dia menghembuskan nafas hidup ke dalam tubuh ini, yang membuat tubuh ini menjadi hidup. Sebagai hasilnya, manusia menjadi jiwa yang hidup. Di sini dalam Kejadian 2:7 ada satu petunjuk yang kuat bahwa hayat manusia berasal dari Allah. Dalam hal ini manusia tidak hanya diciptakan oleh Allah, tetapi juga dihasilkan oleh Allah. Dalam Kitab Suci tidak dikatakan Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam binatang-binatang. Hanya dalam menciptakan manusia Dia menghembuskan nafas hidup ke dalam manusia. Amsal 20:27 memakai kata ”roh” untuk kata Ibrani yang sama, yang diterjemahkan ”nafas hidup” dalam Kejadian 2:27. Ini menunjukkan bahwa nafas hidup yang dihembuskan Allah ke dalam manusia adalah unsur roh manusia. Sebenarnya, nafas hidup ini menjadi roh manusia. Butir yang kita tekankan di sini adalah Alkitab menunjukkan dengan jelas bahwa manusia dihasilkan oleh Allah. Kita tidak mengatakan bahwa dalam penciptaan, manusia dilahirkan dari Allah, melainkan kita mengatakan dengan yakin bahwa manusia dihasilkan oleh Dia. Allah membentuk tubuh manusia, menghembuskan nafas hidup ke dalam manusia, dan manusia itu menjadi jiwa yang hidup. Dengan cara ini manusia dihasilkan oleh Allah, dan dalam arti inilah manusia adalah keturunan Allah.

Kaum Beriman Lahir dari Allah

Alkitab juga mewahyukan bahwa ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, kita dilahirkan dari Allah. Dihasilkan dari Allah adalah satu perkara; dilahirkan dari Allah adalah perkara lainnya. Semua manusia adalah keturunan Allah dalam arti manusia itu dihasilkan dari Allah. Tetapi kaum beriman adalah putra-putra Allah dalam arti bahwa mereka dilahirkan dari Allah. Tidak ada pe-tunjuk dalam Alkitab bahwa keturunan Allah, manusia yang dihasilkan oleh Allah, memiliki hayat ilahi dengan sifat ilahi. Tetapi Perjanjian Baru mengatakan bahwa kaum beriman, yang telah dilahirkan dari Allah, memiliki hayat ilahi dan berbagian dalam sifat ilahi (2 Ptr. 1:4). Karena itu, kita harus membedakan antara keturunan Allah dan putra-putra Allah. Semua manusia adalah keturunan Allah yang di-hasilkan dari Dia, tetapi kaum beriman adalah putra-putra Allah yang dilahirkan dari Dia melalui kelahiran kembali. Hal ini dengan jelas ditekankan dalam Yohanes 1:12-13: ”Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh ke-inginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”

Dua Cara Hidup, Bergerak, dan Ada di dalam Allah

Dalam Kisah Para Rasul 17:28-29 Paulus mengatakan bahwa sebagai keturunan Allah kita hidup, bergerak, dan ada di dalam Dia. Apa maksudnya semua manusia itu hidup, bergerak, dan ada diri di dalam Allah? Maksudnya adalah hayat insani mereka dihasilkan dari Allah dari nafas yang dihembuskan ke dalam manusia yang pertama. Karena kita memiliki hayat manusia yang demikian, maka semua manusia itu hidup, bergerak, dan ada di dalam Allah. Tetapi, kaum beriman, yang telah dilahirkan dari Allah, yang memiliki hayat Allah, dan yang memiliki sifat ilahi, hidup, bergerak, dan ada tidak hanya dalam arti memiliki nafas yang dihembuskan ke dalam manusia oleh Allah, tetapi juga dalam arti bertindak di dalam Persona ilahi.

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa semua manusia adalah keturunan Allah dalam arti memiliki nafas hayat dari Allah. Karena itu, dalam arti inilah mereka hidup, bergerak, dan ada di dalam Allah. Tetapi kaum beriman dilahirkan dari Allah dan memiliki Allah sendiri di dalam mereka sebagai hayat mereka dan sifat mereka. Jadi, kita hidup, bergerak, dan ada di dalam Allah tidak hanya dalam arti memiliki nafas hayat dari Allah, tetapi juga dalam arti bertindak di dalam Persona Allah. Semua manusia adalah keturunan yang dihasilkan dari Allah, tetapi kita yang percaya kepada Kristus adalah putra-putra Allah yang dilahirkan kembali oleh Dia. Kita semua perlu jelas mengenai perbedaan antara keturunan Allah dan putra-putra Allah ini.

JANGAN MENGANGGAP BAHWA KEADAAN

ILAHI ITU SAMA DENGAN CIPTAAN KESENIAN

Dalam 17:29 Paulus melanjutkan, ”Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir bahwa keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.” Kata ”keadaan ilahi” di sini dalam bahasa Yunani adalah theion berarti yang ilahi. Ini tidak sama dengan theiotes dalam Roma 1:20, yang mengacu kepada karakteristik ilahi, juga tidak sama dengan theotes dalam Kolose 2:9, yang mengacu kepada ke-Allahan, yaitu Allah sendiri. Theion adalah kata yang lebih kabur dan abstrak daripada theiotes dan tidak seperti theotes, yang pasti mengacu kepada ke-Allahan, Allah sen-diri. Dalam 17:29 theion menunjukkan bahwa manusia dapat mengenal keilahian Allah dari pekerjaan-pekerjaan-Nya bukan dari Allah sendiri. Allah sendiri dapat dikenal hanya dari wahyu yang berasal dari firman kekal-Nya, Kristus yang menjadi daging, perwujudan dari Ke-Allahan.

Dalam ayat 29 Paulus memberi tahu orang-orang Atena bahwa mereka tidak boleh ”berpikir bahwa keadaan ilahi sama serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.” Di sini ”pikiran” juga berarti imajinasi atau akal. Patung-patung adalah ciptaan kesenian dan pikiran manusia.

PERTOBATAN DAN PENGHAKIMAN

Dalam 17:30-31 Paulus melanjutkan, ”Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Hari yang ditetapkan oleh Allah untuk menghakimi penduduk bumi mengacu kepada hari kedatangan-Nya kembali sebelum masa seribu tahun, saat Kristus di atas takhta kemuliaan-Nya menghakimi orang-orang hidup, yaitu bangsa-bangsa di bumi (Mat. 25:31-36). Ini mungkin tidak mencakup hari setelah masa seribu tahun, saat Dia menghakimi orang-orang mati di takhta putih yang besar (Why. 20:11-15), seperti dalam Kisah Para Rasul 10:42, 2 Timotius 4:1, dan 1 Petrus 4:5, karena pada hari yang disebut di sini Dia akan menghakimi ”dunia,” yang hanya mengacu kepada orang-orang yang hidup. Hari penghakiman Kristus di bumi ini akan tiba dengan kedatangan-Nya kembali. Dia di-tetapkan oleh Allah untuk melaksanakan penghakiman ini, dan Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati adalah bukti yang kuat tentang hal ini. Dalam pemberitaan mereka kepada orang-orang Kafir, baik Petrus dalam 10:42 maupun Paulus di sini dan dalam 24:25, semuanya menekankan penghakiman Allah yang akan datang.

Kata ”jaminan” dalam ayat 31 juga dapat diterjemahkan keyakinan, jaminan, yang dapat dipercaya. Kebangkitan Kristus adalah bukti dan jaminan bahwa Dia akan datang kembali untuk menghakimi semua penduduk di bumi. Peng-hakiman ini memiliki jaminan sedemikian rupa sehingga kita bisa percaya dan memimpin kita kepada pertobatan (ay. 30).

Perkataan Paulus mengenai Kristus sebagai Manusia yang dikatakan Allah dan mengenai kebangkitan-Nya me-nunjukkan bahwa Paulus sepenuhnya disusun dengan Dia dan dengan kebangkitan-Nya. Paulus dipimpin, dibimbing, dan diarahkan mutlak oleh Roh Yesus. Karena ia tersusun dengan Roh Yesus, maka tidak peduli apa subyek dalam pembicaraannya, sasarannya adalah memberitakan Kristus dan kebangkitan-Nya.

RESPON TERHADAP PERKATAAN PAULUS MENGENAI KEBANGKITAN

Kisah Para Rasul 17:32-34 mengatakan, ”Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu. Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Diosinius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perem-puan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.” Dari ayat-ayat ini kita melihat bahwa Paulus tidak hanya mendapatkan para pimpinan tertentu dari antara orang Yahudi, tetapi juga sejumlah orang terkemuka di antara orang Yunani. Meskipun Perjanjian Baru tidak menyebutkan sebuah gereja di Atena, tetapi Paulus telah melakukan satu pekerjaan yang hebat di kota itu.

PEMBERITAAN PAULUS TERHADAP

PARA FILSUF EPIKUROS

Pemberitaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 17 sung-guh sesuai dengan situasi dari orang-orang Yunani di Atena. Kebanyakan dari apa yang Paulus katakan itu diarahkan kepada para filsuf Epikuros dan Stoa. Kita telah melihat bahwa para filsuf Epikuros tidak mengenal Sang Pencipta serta pengelolaan dan pemeliharaan-Nya atas dunia, sebaliknya mencari kesenangan-kesenangan daging, khususnya makan dan minum. Stoa adalah aliran panteis yang percaya bahwa segala sesuatu dikendalikan oleh nasib dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah hasil kehendak ilahi. Dalam pemberitaannya di Areopagus mula-mula Paulus menyebut Allah sebagai Sang Pencipta, secara obyektif sebagai Dia yang ada di luar kita dan yang dengan-Nya kita tidak memiliki hubungan langsung. Kemudian dari mem-bicarakan Sang Pencipta, Paulus melanjutkan menunjukkan bahwa semua manusia adalah keturunan Allah dan bahwa kita hidup dan ada di dalam Dia. Setelah ini, Paulus me-lanjutkan membicarakan tentang hari ketika Kristus akan menghakimi orang-orang hidup. Semua butir ini ditujukan kepada para filsuf Epikuros.

Para filsuf Epikuros mengatakan bahwa tidak ada Pencipta atau Pengelola dan pemelihara. Mereka juga menya-takan bahwa kita harus mengejar kesenangan-kesenangan daging tanpa memperhatikan masa depan. Tampaknya Paulus memahami para filsuf Epikuros dalam pikirannya ketika ia berkata, ”Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1 Kor. 15:32). Perkataan ini kelihatannya merupakan suatu kutipan dari suatu pepatah pada masa itu, suatu peri-bahasa kelompok Epikuros. Jika tidak ada kebangkitan, kita kaum beriman tidak berpengharapan untuk masa depan dan telah menjadi orang yang paling kasihan dari semua manusia (1 Kor. 15:19). Jika demikian, lebih baik kita menikmati hidup kita pada hari ini sambil melupakan masa depan, seperti yang dilakukan oleh kelompok Epikuros.

Dalam pemberitaannya Paulus seolah-olah berkata kepada para filsuf Epikuros, ”Ada satu Pencipta, dan Dia adalah Sang Pengelola dan pemelihara yang memberikan hidup, nafas, dan segala sesuatu kepada semua orang. Kamu adalah keturunan Allah, karena kamu dihasilkan dari Dia dan hayat insanimu berasal dari Dia. Karena kamu memiliki hayat manusia, maka kamu hidup, bergerak, dan ada di dalam Dia. Kamu juga perlu mengenal bahwa akan ada suatu penghakiman di masa yang akan datang. Penghakiman pada masa yang akan datang itu berhubungan dengan kebangkitan Manusia Yesus. Allah telah menunjuk Yesus untuk menjadi Yang menghakimi setiap orang, dan Allah telah menggenapkan bukti dari hal itu dengan mem-bangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dulu Allah membiarkan kamu berjalan menurut jalanmu sendiri. Tetapi Dia telah mengutus aku ke sini untuk memberi tahu kamu bahwa kamu perlu bertobat.” Perkataan Paulus juga pasti telah menyingkapkan para filsuf Stoa yang panteistik. Betapa menakjubkan pemberitaan Paulus kepada orang-orang Atena!

PEMBERITAAN PAULUS YANG PENUH DENGAN

PENGETAHUAN KEPADA ORANG-ORANG YAHUDI

DAN ORANG-ORANG YUNANI

Dalam Kisah Para Rasul 17 kita melihat bahwa pemberitaan Paulus itu penuh dengan pengetahuan yang tepat, karena ia adalah seorang yang memiliki banyak pengetahuan baik dari kebudayaan Ibrani maupun kebudayaan Yunani. Hal ini membuat dia dapat melaksanakan suatu ministri yang di dalamnya ia menghadapi situasi di antara orang Yahudi dan orang Yunani. Ketika Paulus menghadapi orang Yahudi, ia memakai Kitab Suci mereka untuk memberitakan Kristus, menunjukkan tempat Kristus diwahyukan di seluruh Kitab Suci. Paulus memberitakan Kristus tidak hanya sebagai Mesias, tetapi juga sebagai Dia yang adalah Allah yang berinkarnasi, yang memiliki keinsanian, yang menempuh suatu kehidupan insani di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, yang menempuh suatu kematian yang almuhit untuk memecahkan masalah-masalah di antara manusia dengan Allah, yang dibangkitkan untuk mengembangbiakan hayat ilahi dengan menyalurkannya ke dalam kaum beriman-Nya, dan yang naik ke surga, tempat Dia dijadikan Tuhan dan Kristus. Paulus menghadapi situasi di antara orang Yahudi dengan memakai Kitab Suci mereka dengan cara ini. Ia tidak hanya memiliki banyak pengetahuan Perjanjian Lama dalam huruf hitam di atas putih; ia juga memiliki wahyu dan pandangan untuk melihat ke dalam lubuk dari Perjanjian Lama mengenai Kristus dalam status ganda-Nya sebagai Allah dan manusia, mengenai kehidupan insani-Nya, kematian almuhit-Nya, kebangkitan-Nya untuk pengembangbiakan, dan kekepalaan-Nya sebagai Dia yang telah naik ke surga.

Ketika Paulus menghadapi situasi di antara orang Yunani, ia menghadapinya menurut kebudayaan Yunani. Pemberitaannya berdasar pada penciptaan Allah. Menurut Kisah Para Rasul 17, Paulus menunjukkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi, bahwa Dia menyediakan hayat dan segala keperluan bagi pemeliharaannya, bahwa Dia menghasilkan manusia sebagai keturunan-Nya, dan bahwa semua manusia hidup, bergerak, dan ada di dalam Allah. Ia memberi tahu orang-orang Yunani keperluan mereka akan Allah dan bahwa Allah ini adalah Yesus Kristus.

BERSYARAT UNTUK MEMBERITAKAN KRISTUS

Cara Paulus dalam memberitakan itu menunjukkan bahwa ia adalah sebuah bejana yang terpelajar. Dalam ministrinya ia dapat menghadapi situasi dari orang Yahudi menurut Kitab Suci dan menghadapi situasi di antara orang-orang filosofis Yunani menurut penciptaan Allah akan alam semesta dan manusia. Saya tidak dapat membayangkan apakah seorang nelayan Galilea seperti Petrus dapat memikul tanggung jawab ini. Hanya orang seperti Saulus dari Tarsus yang dapat memenuhi tanggung jawab ini, karena ia terlatih dalam agama Yahudi, terdidik dalam kebudayaan filosofis Yunani, dan hidup di dalam lingkungan politik Roma. Karena itu, ia sepenuhnya bersyarat untuk memikul ministri yang demikian yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul.

Meskipun Paulus terdidik menurut kebudayaan Ibrani, kebudayaan Yunani, dan kebudayaan Roma, syarat utama-nya bukanlah pendidikannya; melainkan susunan rohani-nya. Paulus telah disusun dengan Roh Kudus dan Roh Yesus. Karena alasan inilah, maka Paulus tidak memberitakan agama Ibrani atau filsafat Yunani. Paulus memberitakan Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga. Tidak peduli betapa tinggi pendidikannya, ia tidak memberitakan pendidikannya. Paulus memberitakan Kristus yang almuhit yang direalisasikan sebagai Roh yang almuhit.