← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 19/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(12)

Pembacaan Alkitab: Kis. 17:1-34

Dalam berita ini kita sampai pada 17:1-34. Dalam ayat 1-9, Paulus datang ke Tesalonika; dalam ayat 10-13, ke Berea; dan dalam ayat 14-34, ke Atena.

KE TESALONIKA

Dalam 16:11-40 kita memiliki catatan tentang pembangunan gereja di Filipi. Gereja ini dibangunkan melalui dua orang yang tidak lazim. Yang pertama adalah ”seorang penjual kain ungu” (16:14). Yang kedua adalah seorang kepala penjara. Menurut pengalaman dan penyelidikan kita, gereja-gereja sering kali dibangunkan melalui orang-orang yang tidak lazim seperti ini.

Setelah tinggal beberapa hari di Filipi, Paulus dan sekerja-sekerjanya meneruskan perjalanan melalui Amfipolis dan Apolonia dan kemudian ”tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi” (17:1). Tesalonika adalah kota utama yang lain, yang terletak di pantai teluk di propinsi Makedonia.

Menerangkan dari Kitab Suci mengenai Kristus

Di Tesalonika ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi, sebuah tempat di mana orang Yahudi mencari pengetahuan akan Allah dengan mempelajari Kitab Suci. Seperti biasanya, Paulus ”masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci” (ay. 2). Apakah yang Paulus bicarakan dengan orang-orang di rumah ibadat dari Kitab Suci? Mengenai teologi dan hukum Taurat Musa? Mengenai lambang-lambang dan nubuat-nubuat? Tidak, ia tidak membicarakan hal-hal itu dari Kitab Suci. Sebaliknya, ia mem-bicarakan Kristus, ”menerangkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu” (ay. 3).

Dalam kehidupan Kristiani saya, saya melihat orang-orang memperbincangkan banyak hal selain Kristus. Misalnya, banyak yang memperbincangkan mengenai baptisan selam. Ada yang berargumentasi bahwa kaum beriman ha-rus diselam ke arah depan; yang lainnya mengatakan bahwa mereka harus diselam ke arah belakang atau langsung diturunkan. Setiap kelompok memberikan alasan untuk pendapat-pendapat mereka. Yang lainnya memperbincangkan apakah seorang kaum beriman harus diselam satu kali atau tiga kali pertama di dalam nama Bapa, kedua di dalam nama Putra, dan ketiga di dalam nama Roh Kudus.

Ketika Paulus berada di rumah ibadat di Tesalonika, ia tidak menerangkan hukum Taurat. Sebaliknya, dari Kitab Suci ia berbicara dengan orang-orang mengenai Kristus. Ia menerangkan di hadapan mereka bahwa Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati. Kemudian ia berkata kepada mereka, ”Inilah Mesias, yaitu Yesus yang kuberitakan kepadamu.”

Menurut Susunan Rohaninya

Karena Paulus disusun dengan Roh Yesus, maka ia dipimpin, dibimbing, dan diarahkan oleh Roh ini. Ia tidak berminat untuk menerangkan silsilah, nubuat-nubuat, atau lambang-lambang. Ia hanya memiliki satu beban, dan beban ini sesuai dengan susunan rohaninya. Paulus sepenuhnya tersusun dari Roh Yesus. Karena itu, di Tesalonika Paulus tidak meministrikan yang lain selain Kristus yang almuhit. Banyak guru yang mempelajari Perjanjian Lama tanpa melihat sesuatu tentang Kristus. Tetapi, Paulus dapat melihat Kristus yang terwahyu dalam Kitab Suci.

Kita perlu mempelajari Alkitab dan memakai Alkitab menurut cara Paulus. Kita juga harus menuntut untuk meministrikan hal-hal ilahi menurut cara Paulus. Saya telah menyelidiki banyak perbincangan, perdebatan, dan perselisihan tentang kebenaran-kebenaran alkitabiah tertentu, tetapi saya jarang melihat perbincangan-perbincangan mengenai Kristus yang almuhit. Marilah kita belajar mem-bicarakan Kristus yang almuhit berdasarkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.

Meministrikan Kristus yang Almuhit

Dalam 17:3 Lukas menunjukkan bahwa Paulus memberitakan Kristus kepada orang-orang di rumah ibadat itu. Sebenarnya, Paulus pasti telah menerangkan mengenai Kristus dengan panjang lebar dan terperinci. Saya percaya bahwa ia menerangkan tentang Kristus adalah Allah dan manusia. Menurut ayat 3, Paulus memberi tahu mereka bahwa Kristus harus menderita. Penderitaan Kristus menyi-ratkan inkarnasi-Nya, dan inkarnasi-Nya menyiratkan status ganda-Nya, yaitu, keilahian-Nya dan keinsanian-Nya. Selain itu, penderitaan Kristus menyiratkan kematian-Nya. Dalam 17:3 Paulus dengan eksplisit membicarakan mengenai kebangkitan Kristus, dengan mengatakan bahwa ”Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati.” Karena itu, Paulus pasti telah menerangkan mengenai Kristus yang berinkarnasi dalam keilahian, keinsanian, kehidupan insani, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Fakta bahwa Paulus menerangkan secara terperinci mengenai Kristus itu ditunjukkan oleh fakta bahwa tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan bagian-bagian dari Kitab Suci dengan orang-orang yang ada di rumah ibadat itu. Pada hari-hari Sabat itu Paulus tidak mungkin hanya menerangkan selama satu jam, boleh jadi ia harus memakai beberapa jam, bahkan setengah hari, berbicara dengan mereka mengenai Kristus.

Pembicaraan Paulus di rumah ibadat mengenai Kristus berhubungan dengan ia dipimpin oleh Roh Kudus dan diatur oleh Roh Yesus. Paulus adalah orang yang demikian. Karena ia berada di bawah pimpinan Roh Kudus dan pengaturan Roh Yesus, Paulus melaksanakan satu pekerjaan yang menyajikan, menyampaikan, dan meministrikan Kristus yang almuhit kepada orang lain. Paulus tidak meministrikan hukum Taurat, silsilah-silsilah, nubuat-nubuat, atau lambang-lambang ia meministrikan Kristus yang hidup dan yang almuhit. Inilah makna yang lebih dalam dari bagian firman ini. Ketika kita datang kepada ayat-ayat dalam kitab Kisah Para Rasul ini, kita perlu membaca dan mempelajarinya dengan cara ini.

Banyak yang Menggabungkan Diri dengan Paulus dan Silas

Kisah Para Rasul 17:4 melanjutkan, ”Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka.” Orang-orang Yunani yang menyembah Allah ini mungkin adalah orang-orang Yunani yang berpaling kepada agama Yahudi. Sejumlah besar orang mengabungkan diri dengan Paulus dan Silas termasuk sejumlah perempuan terkemuka. Sungguh berarti bahwa dalam kitab Kisah Para Rasul perempuan-perempuan terkemuka di antara orang Yunani sering menjadi yang terlebih dulu percaya kepada Injil. Ini menunjukkan bahwa banyak perempuan Yunani yang mencari Allah.

Penentangan dari Orang-orang Yahudi

Kisah Para Rasul 17:5-7 menggambarkan penentangan dari orang-orang Yahudi: ”Tetapi orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan bantuan beberapa penjahat yang berkeliaran di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu. Mereka menyerbu rumah Yason dengan maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat. Tetapi ketika mereka tidak menemukan keduanya, mereka menyeret Yason dan beberapa saudara ke hadapan pembesar-pembesar kota, sambil berteriak: Orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang juga ke mari, dan Yason menerima mereka menumpang di rumahnya. Mereka semua bertindak melawan ketetapan-ketetapan Kaisar dengan mengatakan bahwa ada seorang raja lain, yaitu Yesus.” Kata ”dunia” dalam ayat 6 dalam bahasa aslinya berarti tanah yang berpenghuni. Mungkin para rasul memberitakan bahwa Yesus adalah Raja. Para penentang itu memakai perkataan mereka untuk mendakwa mereka dan dengan cara halus mengaitkannya kepada Kaisar. Para penentang sering memiliki kemampuan ini, yang mungkin berasal dari latihan yang mereka dapatkan dari Iblis, si penghasut jahat.

Dalam 17:5-7 kita dapat melihat betapa kuatnya pengaruh agama Yahudi. Pengaruh ini hebat tidak hanya di Yerusalem saja, tetapi juga di dunia Kafir, bahkan di sebelah timur Eropa. Menurut ayat 8, ”Ketika orang banyak dan pembesar-pembesar kota mendengar semuanya itu, mereka menjadi gempar.” Di sini kita melihat kelicikan mereka dalam menggabungkan politisi-politisi lokal dan bahkan memanfaatkannya untuk menganiaya rasul-rasul. Ini menunjukkan bahwa agama Yahudi telah direbut oleh musuh Allah, Iblis, untuk menentang ekonomi Allah. Pada pinsipnya, situasinya sama dengan hari ini. Agama menggabungkan para penguasa dunia untuk menghalangi pergerakan sejati Allah di bumi.

KE BEREA

Kisah Para Rasul 17:10 mengatakan, ”Tetapi pada ma-lam itu juga segera saudara-saudara seiman di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di sana pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.” Mengapa saudara-saudara segera mengutus Paulus dan Silas ke Berea? Saudara-saudara segera mengutus mereka karena para rasul berada dalam bahaya akan dibunuh. Jika mereka terlambat sebentar saja, mereka mungkin akan dibunuh.

Sekali lagi, sewaktu tiba di Berea, Paulus dan Silas pergi ”ke rumah ibadat orang Yahudi.” Seperti biasanya, alasan mereka melakukan hal ini adalah merebut ke-sempatan untuk memberitakan Injil. Paulus dan Silas de-ngan berani masuk ke dalam benteng Yahudi. Ini perlu agar mereka mendapatkan orang-orang yang dipanggil Allah yang tertahan di dalam kandang agama Yahudi.

Kisah Para Rasul 17:11-12 mengatakan, ”Orang-orang Yahudi di kota itu lebih terbuka hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima fir-man itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. Karena itu, banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antaranya adalah orang-orang Yunani yang terkemuka, baik perempuan maupun laki-laki.” F.F Bruce mengatakan bahwa kata ”lebih terbuka hatinya” berarti bebas, dibebaskan dari prasangka.

Saya percaya bahwa orang-orang Berea ini tidak keras kepala, tetapi cukup bijaksana. Kapan kala kita keras kepala, kita tidak mulia. Seorang bangsawan selalu bijaksana. Orang-orang Berea itu bijaksana dalam menerima firman dengan segala kerelaan, setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Kisah Para Rasul 17:13 memberi tahu kita bahwa penentangan itu menyebar dari Tesalonika ke Berea: ”Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, mereka pun datang ke sana untuk menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak.” Kelihatannya para penentang ini menjadi profesional, tidak melakukan bisnis lain kecuali meng-ikuti rasul-rasul dan menentang ekonomi Allah. Kita tidak tahu siapa yang menyewa mereka atau yang membayar biaya mereka. Sebenarnya, mereka ”disewa” oleh si Iblis.

KE ATENA

Diutus oleh Para Saudara

Karena penentangan telah datang ke Berea, ”saudara-saudara seiman itu menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea” (ay. 14). Seperti dalam ayat 10, kata ”segera” dipakai untuk menggambarkan saudara-saudara mengutus Paulus keluar dari kota itu.

Ayat 15 melanjutkan, ”Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.” Atena adalah ibukota propinsi Akhaya Kekaisaran Romawi. Atena adalah pusat ilmu pengetahuan, sastra, dan seni budaya zaman kuno. Melalui kunjungan rasul Paulus ke pusat ini, Injil Kerajaan Allah mencapai orang-orang yang berkebudayaan tertinggi.

Bertukar Pikiran dengan Orang-orang Yahudi dan

Bersoal Jawab dengan Filsuf-filsuf Kafir

Roh Paulus Risau karena Penyembahan

Berhala di Atena

Kisah Para Rasul 17:16 mengatakan, ”Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat risau rohnya karena ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.”(Tl.). Roh di sini adalah roh insani Paulus (Za. 12:1; Ayb. 32:8; Ams. 20:27), yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), dihuni oleh Tuhan Sang Roh (2 Tim. 4:22; Rm. 8:10-11), dan bertindak bersama dengan Roh itu (Rm. 8:16), di dalam roh inilah Paulus menyembah dan me-layani Allah (Yoh. 4:24; Rm. 1:19). Roh ini risau melihat banyaknya berhala di Atena.

Bahkan kebudayaan tertinggi juga tidak bisa mencegah orang untuk menyembah berhala, karena sama dengan seluruh umat manusia, di dalam mereka terdapat roh yang menyembah Allah, yang diciptakan oleh Allah supaya manusia mencari dan menyembah Allah (cf. Kis. 17:22). Namun, karena kebutaan dan ketidaktahuan mereka, mereka menyembah sasaran yang salah (ay. 23). Sekarang Allah sejati, yang menciptakan alam semesta yang juga menciptakan mereka, mengutus rasul-Nya untuk memberitakan sasaran sejati yang seharusnya mereka sembah (ay. 23-29).

Mengapa penyembahan berhala begitu subur di Atena, kota yang paling berbudaya? Alasannya adalah dalam setiap manusia terdapat roh yang mencari Allah dan menyembah Allah. Memang, banyak orang yang tidak mencari Allah yang benar atau menyembah Allah yang benar sebaliknya, mereka memiliki sasaran penyembahan yang salah. Namun, fakta bahwa orang-orang menyembah sesuatu atau mencari se-suatu untuk disembah, adalah bukti kuat bahwa manusia memerlukan Allah. Dalam diri manusia, khususnya dalam roh manusia, ada keperluan akan Allah sebagai sasaran penyembahan yang benar.

Bertukar Pikiran di Rumah Ibadat dan di Pasar

Kisah Para Rasul 17:17 melanjutkan membicarakan tentang Paulus, ”Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.” Di sini kita melihat bahwa di rumah ibadat Paulus bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan dengan orang-orang yang menyembah, yang mungkin adalah orang-orang Yunani yang menyembah Allah. Selain bertukar pikiran di rumah ibadat, setiap hari di pasar Paulus bertukar pikiran dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. Dari hal ini kita melihat bahwa Paulus bertukar pikiran di dua tempat di rumah ibadat dengan orang-orang Yahudi dan di pasar dengan orang-orang Yunani.

Kisah Para Rasul 17:18 mengatakan, ”Juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa berdebat dengan dia dan ada yang berkata: Apa yang hendak dikatakan si pem-bual ini? Tetapi yang lain berkata: Rupa-rupanya ia pemberita ajaran dewa-dewa asing. Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan kebangkitan-Nya.” Para filsuf Epikuros adalah pengikut Epikuros, seorang filsuf Yunani (341-270 SM), yang filsafatnya bersifat materialisme. Mereka tidak mengakui Tuhan Pencipta serta pengelolaan dan pemeliharaan-Nya atas dunia, tetapi mencari kesenangan daging, terutama dalam hal makan dan minum. Dalam perkataan-perkataan Paulus kepada orang-orang Filipi (Flp. 3:18-19) dan kepada orang-orang Korintus (1 Kor. 15:32) ada yang mengacu kepada orang-orang golongan Epikorus.

Para filsuf Stoa adalah anggota aliran filsafat yang diperkenalkan oleh Zeno (340-265 SM). Mereka adalah pengikut aliran panteisme, yang percaya bahwa segala sesuatu dikendalikan oleh nasib dan segala kejadian adalah kehendak ilah; karena itu, manusia harus ikhlas menerimanya, bebas dari semua perasaan suka dan duka. Mereka menekankan bahwa kebaikan yang tertinggi adalah kebajikan dan kebajikan adalah pahala bagi jiwa. Dalam surat Paulus kepada orang-orang Filipi ada perkataan-perkataan yang mengacu kepada mereka (Flp. 4:11).

Menurut 17:18, ada beberapa orang yang berkata kepada Paulus, ”Apa yang hendak dikatakan si pembual ini?” Da-lam bahasa aslinya, kata ”pembual” di sini berarti ”pemungut biji”; sejenis burung yang memungut biji-bijian di jalanan dan di pasar-pasar; karena itu mengacu kepada orang yang mengumpulkan dan menyebarkan remah-remah berita (Vincent).

Memberitakan Yesus dan Kebangkitan

Dalam 17:18 membicarakan mengenai Paulus, ”Rupa-rupanya ia pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Mereka mengatakan hal ini karena ia membawa kabar baik tentang Yesus dan kebangkitan. Pemberitaan Paulus yang demikian itu adalah petunjuk yang kuat bahwa ia disusun dengan Yesus dan kebangkitan-Nya. Paulus tersusun dengan Yesus Kristus yang almuhit dan kebangkitan-Nya. Ia adalah seorang yang dijenuhi dengan Roh Yesus. Karena itu, ia memberitakan Yesus dan kebangkitan.

Dipimpin ke Aeropagus

Ayat 19-21 mengatakan, ”Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini? Sebab engkau memperdengarkan kepada kami hal-hal yang asing. Karena itu kami ingin tahu apa artinya semua itu. Adapun semua orang Atena dan orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.” Areopagus adalah Mars Hill, tempat pengadilan Atena kuno yang berwibawa dan terhormat, yang menghakimi masalah-masalah agama yang paling serius. Paulus dibawa ke Areopagus menunjukkan bahwa pemberitaannya itu sangat hebat dan merangsang kota itu, menjadi berita paling baru. Seperti yang akan kita lihat, Paulus berdiri di tengah-tengah Areopagus dan menghadapi orang-orang Atena. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat isi perkataan Paulus yang dibicarakan di Areopagus.