← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 18/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(11)

Pembacaan Alkitab: Kis. 16:6-40

Dalam 16:6-40 kita nampak perjalanan Paulus dan sekerja-sekerjanya ke Filipi di Makedonia. Ayat 6-10 mencatat penglihatan Paulus tentang seorang Makedonia; ayat 11-18, mencatat tentang pemberitaan dan hasilnya; ayat 19-40, mencatat tentang pemenjaraan dan pembebasan.

PENGLIHATAN

TENTANG SEORANG MAKEDONIA

Paulus dan sekerja-sekerjanya dicegah oleh Roh Kudus ”untuk memberitakan Injil di Asia” (ay. 6), dan ”Roh Yesus tidak mengizinkan mereka” untuk masuk ke Bitinia (ay. 7). Setelah mereka sampai di Troas, ”Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: Ada seorang Makedonia berdiri di situ dan memohon kepadanya: Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (ay. 9). Penglihatan ini dilihat oleh Paulus bukan dalam suatu mimpi atau trans. Ini berbeda dengan pengalaman Petrus dalam 10:9-16, ketika ”rohnya diliputi kuasa ilahi” (ay. 10). Dalam penglihatan dalam 16:9, seorang Makedonia memohon Paulus untuk datang ke Makedonia. Makedonia adalah suatu propinsi Ke-kaisaran Romawi di bagian tenggara Eropa dekat Laut Aegea, antara Trake dan Akhaya.

Kisah Para Rasul 16:10 melanjutkan mengatakan, ”Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.” Ayat ini menunjukkan bahwa setelah nampak penglihatan dari Allah, masih perlu menyimpulkan, yaitu memahami maknanya dengan melatih pikiran-pikiran yang dijenuhi dan diarahkan oleh roh (Ef. 4:23) menurut situasi dan lingkungan yang sesungguhnya. Dalam 16:10, kata ganti ”kami” digunakan untuk kali pertama melibatkan Lukas penulis kitab ini. Ini menunjukkan bahwa mulai dari Troas, Lukas bergabung dengan rasul Paulus dalam perjalanan ministrinya.

Setelah menyimpulkan bahwa Allah memanggil mereka untuk membawa kabar baik untuk orang-orang Makedonia, Paulus dan sekerja-sekerjanya berusaha untuk masuk ke Makedonia. Ini adalah langkah besar dalam pergerakan Tuhan untuk perluasan kerajaan-Nya ke benua lain, Eropa. Ini menjelaskan maksud larangan Roh Kudus, Roh Yesus tidak mengizinkan, dan datangnya penglihatan pada malam hari. Untuk menjalankan pimpinan khusus dalam pergerakan Tuhan yang strategis kali ini, diperlukan kerja keras rasul dan para sekerjanya. Ini segera mereka lakukan.

PEMBERITAAN DAN HASILNYA

Kisah Para Rasul 16:11-12a mengatakan, ”Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini.” Troas adalah satu kota pelabuhan di Laut Aegea pada bagian ujung barat laut Asia Kecil, seberang Makedonia. Samotrake adalah sebuah pulau di Laut Aegea antara Troas dan Filipi, dan Neapolis adalah kota pelabuhan Filipi. Kisah Para Rasul 16:12 mengatakan bahwa Filipi adalah sebuah koloni. Ini berarti kota itu adalah benteng terdepan pertahanan Ke-kaisaran Romawi di negara asing, warga negaranya memiliki hak yang sama dengan mereka yang ada di ibukota, Roma. Karena itu, Filipi adalah tempat yang strategis untuk pemulaan perkembangan Injil di Eropa.

Satu Tempat Doa

Ayat 13 mengatakan, ”Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ.” Di sini kata ”Sabat” menunjukkan betapa besar perluasan agama Yahudi dan pengaruhnya, bahkan sampai di Eropa. Ayat ini juga membicarakan satu tempat sembahyang atau doa. Doa ma-nusia kepada Allah memberikan kesempatan untuk pergerakan-Nya di tengah-tengah manusia di bumi.

Dalam 16:13 Paulus mengikuti prinsipnya dalam mencari umat pilihan Allah. Di sini di Filipi ia tidak pergi ke tempat ibadat; tetapi, pada hari Sabat ia pergi ke satu tempat sembahyang. Kelihatannya orang Yahudi dan orang-orang beriman Yunani yang mencari Allah dan masuk ke Yuda-isme berkumpul di tempat ini. Inilah alasan Paulus pergi ke sana.

Keselamatan Lidia

Kisah Para Rasul 16:14 melanjutkan mengatakan, ”Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.” Di sini, yang membuka hati Lidia untuk memperhatikan pemberitaan Injil, adalah Roh itu, yaitu Tuhan sendiri (2 Kor. 3:17). Kita tidak tahu apakah Lidia itu seorang perempuan Yahudi atau seorang perempuan Yunani yang mencari Allah, karena banyak perempuan Yunani, khususnya dari kelas yang lebih tinggi, yang mencari Allah. Orang pertama yang didapatkan Tuhan di Eropa bukanlah seorang laki-laki, melainkan sorang perempuan.

Kisah Para Rasul 16:15 mengatakan, ”Sesudah ia di-baptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku. Ia mendesak sampai kami menerimanya.” Di sini kita melihat begitu percaya segera dibaptis, seperti perintah Tuhan dalam Markus 16:16. Setelah Lidia percaya dan dibaptis, ia masuk ke dalam persekutuan dengan rasul dan para sekerjanya yaitu persekutuan Tubuh Kristus, sebagai bukti keselamatannya. Karena diundang mereka masuk ke rumahnya dan tinggal di sana. Inilah rumah pertama di Eropa yang Tuhan dapatkan melalui Injil-Nya dan untuk Injil-Nya (ay. 40).

Roh Jahat Diusir

Kisah Para Rasul 16:16 melanjutkan, ”Suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar.” Roh dalam ayat ini bukanlah malaikat yang jatuh, melainkan setan (Mrk. 1:23, 32, 34, 39; Luk. 4:33), roh salah satu makhluk hidup yang tidak bertubuh yang hidup dalam zaman sebelum adam dan yang dihukum Allah ketika mereka ikut serta dalam pemberontakan Iblis (lihat Pelajaran-Hayat Kejadian Berita 2). Malaikat-malaikat yang jatuh itu bekerja bersama Iblis di udara (Ef. 2:2; 6:11-12), dan roh-roh najis, yakni setan-setan, bergerak bersama Iblis di bumi. Keduanya berbuat jahat atas manusia demi Kerajaan Iblis. Merasuknya setan atas manusia menandakan Iblis merampas dan menduduki manusia yang diciptakan Allah untuk kehendak-Nya.

Dalam 16:16, hamba perempuan itu memiliki roh tenung (Python) dan dengan tenungan-tenungannya memberikan keuntungan kepada tuan-tuannya. Nama ”Python” mengacu kepada roh jahat yang bernubuat, juga kepada orang yang meramal. Tenung adalah ilmu atau praktek untuk me-lihat atau meramal kejadian-kejadian kelak atau menemu-kan pengetahuan tersembunyi dengan bantuan kekuatan adikodrati.

Menurut ayat 17-18, ”Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, ”Orang-orang ini hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan. Hal itu dilakukannya selama beberapa hari. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: Dalam nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini. Seketika itu juga keluarlah roh itu.” Perempuan dengan roh jahatnya ini menjadi satu penghalang bagi pemberitaan Paulus. Paulus mentoleransi situasi itu untuk beberapa waktu. Tetapi akhirnya ia mengusir roh jahat itu. Selanjutnya ayat 19 menunjukkan, setelah roh jahat itu diusir dari perempuan itu, ia tidak dapat lagi memberikan ke-untungan kepada tuan-tuannya.

PEMENJARAAN DAN PEMBEBASAN

Kisah Para Rasul 16:19 mengatakan, ”Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat bahwa harapan mereka untuk mendapat penghasilan telah lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap para penguasa.” Tuan-tuan perempuan itu adalah orang-orang Kafir, mereka marah karena harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap. Mereka mendatangkan kesulitan bagi Paulus dan sekerja-sekerjanya, dengan menghasut kota itu melawan mereka. ”Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka: Orang-orang ini mengacau kota kita ini; mereka adalah orang Yahudi, dan mereka mengajarkan adat istiadat yang tidak boleh diterima atau dituruti oleh orang Roma.” (ay. 20-21). Pembesar-pembesar dalam ayat 20 adalah pimpinan tentara Romawi.

Ayat 22-24 mengatakan, ”Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan medera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka pada pasungan.” Dalam bahasa Yunani, kata ”pasungan kayu”, menunjukkan sebuah alat untuk menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pada kaki, tangan, atau leher. Kata yang sama digunakan untuk salib dalam 5:30; 10:39; Gal. 3:13; dan 1 Ptr. 2:24.

Ketika para rasul dimasukkan ke dalam penjara yang paling tengah, Tuhan memiliki kesempatan yang sempurna untuk menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Raja di atas segala raja. Ayat 25-26 mengatakan, ”Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga fondasi-fondasi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” Sewaktu Paulus dan Silas berdoa dan menyanyi, Tuhan menggoyangkan penjara itu, dan semua tawanan dilepaskan dari belenggu mereka. Ketika kepala penjara melihat penjara itu terbuka, ia ”menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri” (ay. 27). Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya ”Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” (ay. 28).

Keselamatan Kepala Penjara dan Seisi Rumahnya

Dalam ayat 30 kepala penjara itu berkata kepada Paulus dan Silas, ”Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat, supaya aku diselamatkan?” Jawab mereka, ”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (ay. 31). Kata ”rumah” menunjukkan keluarga dari orang beriman adalah satuan yang utuh untuk keselamatan Allah, seperti seisi keluarga Nuh (Kej. 7:1), keluarga-keluarga yang berbagian dengan Paskah (Kel. 12:3-4), keluarga Rahab, perempuan sundal itu (Yos. 2:18-19), keluarga Zakheus (Luk. 19:9), keluarga Kornelius (Kis. 11:14), keluarga Lidia (Kis. 16:15), keluarga kepala penjara di sini, serta keluarga Krispus dalam 18:8.

Paulus dan Silas ”memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya” (ay. 32). Kemudian ”Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh luka mereka” (ay. 33a). Menurut 33b, ”Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” Seperti dalam perkara Lidia, baptisan dipraktekkan segera setelah kepala penjara dan orang-orang yang ada di rumahnya itu percaya, supaya mereka diselamatkan.

Ayat 34 melanjutkan, ”Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.” Setelah percaya dan dibaptis, kepala penjara juga masuk ke dalam persekutuan dengan para rasul, ke dalam persekutuan Tubuh Kristus, sebagai bukti keselamatannya.

Kita mungkin merasa benar bahwa kepala penjara dan seisi rumahnya percaya, dibaptis, dan dibawa masuk ke dalam persekutuan rasul-rasul, semuanya terjadi di malam yang sama. Sungguh suatu pertobatan yang menakjubkan! Saya harap kita semua juga melihat pertobatan dan keselamatan yang demikian pada hari ini, orang-orang percaya dan dibaptis serta dibawa masuk ke dalam persekutuan Tubuh Kristus.

Paulus Menuntut Hak-haknya sebagai

Warga Negara Roma

Kisah Para Rasul 16:35 mengatakan, ”Setelah hari siang pembesar-pembesar kota menyuruh pejabat-pejabat kota pergi kepada kepala penjara dengan pesan: Lepaskanlah ke-dua orang itu!” Pejabat-pejabat kota di sini adalah pejabat-pejabat Romawi, mereka yang memegang tongkat untuk membuka jalan bagi para pembesar kota dan untuk melaksanakan hukuman atas para narapidana.

Dalam ayat 36 kepala penjara melaporkan perkataan-perkataan pembesar-pembesar kota kepada Paulus: ”Pembesar-pembesar kota telah menyuruh melepaskan kamu; jadi keluarlah kamu sekarang dan pergilah dengan damai.” Dalam ayat 37 kita memiliki jawaban Paulus yang tegas: ”Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warga negara Roma, di depan umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami ke luar.” Di sini Paulus tidak bertindak seperti seekor domba yang dibawa ke pembantaian. Sebaliknya, ia menuntut hak-haknya sebagai seorang warga negara Roma. Beberapa orang yang membaca perkataan Paulus di sini mungkin berkata, ”Kelihatannya di dalam situasi ini Paulus itu tidak begitu rohani. Ia bertindak seperti seekor singa, bukan seperti seekor domba. Kita juga mungkin berkata bahwa ia bukanlah seekor ’merpati’ melainkan ’elang’.” Selama bertahun-tahun saya tidak dapat memahami tindakan Paulus dalam Kisah Para Rasul 16 ini.

Lambat laun melalui pengalaman saya sendiri terhadap penderitaan, penganiayaan, kritikan, dan penentangan, saya menyadari bahwa kita tidak seharusnya selalu mengalah. Kita telah berusaha untuk menjadi pengikut-pengikut Yesus yang setia dan jujur. Kita telah berusaha berjalan di dalam jejak-jejak-Nya, menderita penganiayaan seperti yang Dia alami. Akhirnya saya tahu bahwa tidak selalu bijaksana, dan tidak selalu adalah maksud Allah bahwa kita bereaksi kepada penganiayaan dan penentangan dengan cara demikian.

Sebenarnya, dalam 16:35-39 pertanyaannya bukanlah apakah Paulus harus menjadi seekor merpati atau elang. Perkara yang penting di sini adalah pekerjaan pemberitaan Injil Paulus. Paulus sadar bahwa demi masa depan pekerjaan pemberitaan Injil ini, ia perlu menuntut hak-haknya sebagai seorang warga negara Roma. Pemerintahan Roma adalah sebuah pemerintahan hukum, dan pemerintahan ini melindungi warga negaranya. Karena itu, Paulus berhikmat dalam mengambil sikap yang digambarkan dalam ayat 37, karena hal ini merupakan satu bantuan bagi masa depan pekerjaannya. Sikap ini membuat para pejabat Roma berpikir bahwa mereka tidak dapat memperlakukan Paulus dengan sesuka mereka karena ia adalah orang Yahudi.

Dalam ayat 37 Paulus seolah-olah mengatakan, ”Tidak, kami tidak mau keluar secara diam-diam. Kami adalah orang-orang Romawi, dan kami tidak terbukti bersalah dalam kejahatan apa pun. Dulu kalian memasukkan kami ke dalam penjara yang paling tengah, dan sekarang kalian meminta kami keluar secara diam-diam. Kami menolak untuk melakukan hal ini. Biarlah para pembesar kota datang dan mengawal kami keluar dari penjara. Kami tidak akan melepaskan diri seperti para penjahat yang kabur. Kami ingin dibawa keluar dari penjara dengan cara yang layak sebagai warga negara Roma. Karena itu, kami meminta para pem-besar kota untuk datang dan menemani kami keluar dari penjara.”

Catatan dari Kisah Para Rasul 16 menunjukkan bahwa pembesar-pembesar kota Roma tidak memiliki pilihan lain kecuali memenuhi permintaan Paulus. ”Pejabat-pejabat itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota. Ketika mereka mendengar bahwa Paulus dan Silas adalah warga nergara Roma, maka takutlah mereka. Mereka datang minta maaf lalu membawa kedua rasul itu ke luar dan memohon, supaya mereka meninggalkan kota itu” (ay. 38-39). Di sini kita melihat bahwa pembesar-pembesar kota menemani Paulus dan Silas keluar dari penjara seperti yang Paulus inginkan. Ayat 40 menyimpulkan, ”Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan saudara-saudara seiman di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.”

Dalam 16:35-39 Paulus itu tidak rohani secara agama. Dalam situasi ini ia bukanlah seekor merpati agama; sebaliknya, ia adalah seekor elang yang menuntut haknya. Bagi masa depan pekerjaan pemberitaan Injilnya, Paulus menuntut hak-haknya sebagai seorang warga negara Roma. Tanpa membenarkan diri kita sendiri dengan cara apa pun, kita dapat bersaksi bahwa kita telah belajar dari Paulus untuk menuntut hak-hak kita sebagai warga negara dan memohon kepada ”Kaisar” hari ini hukum demokrasi negara ini untuk menanggulangi buku-buku jahat yang memfitnah kita. Kita hidup di dalam satu negara hukum, dan di dalam negara yang berundang-undang ini ada hukum yang menentang pemfitnahan. Demi pekerjaan pemberitaan Injilnya, Paulus menuntut hak-haknya sebagai seorang warga negara Roma dan memohon kepada Kaisar. Demikian juga, bagi kepentingan Tuhan, bukan bagi keuntungan kita pribadi, kita menuntut hak-hak kita sebagai warga negara dan memohon kepada hukum sebagai ”Kaisar” kita pada hari ini.