← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 22/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(15)

Pembacaan Alkitab: Kis. 18:5, 11; 9:11, 22; 13:5; 14:1; 17:1-3

CARA PAULUS MEMBERITAKAN

Hal utama yang perlu kita lihat dalam Kisah Para Rasul 18 ialah cara Paulus memberitakan. Menurut 18:5, ”Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesuslah Mesias.” Kisah Para Rasul 18:11 memberi tahu kita bahwa Paulus tinggal di Korintus ”selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di antara mereka.” Di Korintus Paulus pertama-tama pergi ke rumah ibadat untuk bersaksi kepada orang Yahudi bahwa Yesus adalah Kristus. Tetapi ketika mereka melawan dan menghujat, ”ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain” (ay. 6). Kemudian Paulus tetap tinggal di Korintus mengajarkan firman Allah.

Kisah Para Rasul 18:15 menunjukkan bahwa ketika Paulus berada di rumah ibadat, ia langsung mempersaksikan bahwa Yesus adalah Kristus. Namun, dalam pemberitaan Injil kita kepada orang-orang yang tidak percaya, kita dengan mungkin menyangka bahwa mereka tidak akan mendengarkan kita jika kita dengan segera dan langsung berbicara kepada mereka mengenai Tuhan. Menurut konsepsi kita, kita mungkin memerlukan beberapa cara pembukaan untuk pemberitaan Injil, beberapa cara untuk membuka hati para pendengar dan mendapatkan perhatian mereka. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh memakai suatu pembukaan dalam pemberitaan Injil. Tetapi kita harus selalu ingat apakah pekerjaan kita ini. Pekerjaan kita bukanlah menyajikan hal yang lain selain menyajikan Kristus kepada orang-orang berdosa, khususnya meministrikan Kristus kepada mereka. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa sulit sekali menyajikan Kristus dengan langsung kepada orang-orang yang tidak percaya. Saya akui bahwa hal ini memang sulit. Karena itu, kita perlu belajar memiliki kuat kuasa dan daya dobrak yang diperlukan untuk hal ini.

KUAT KUASA MELALUI DOA, FIRMAN,

DAN ROH ITU

Jika kita ingin memiliki kuat kuasa dan pengaruh dalam pemberitaan Injil kita, kita perlu berdoa. Kita tidak perlu berdoa sampai kita berkata-kata dalam bahasa lidah untuk memiliki kuat kuasa. Kita dapat memiliki kuat kuasa yang sejati melalui berdoa tanpa berbahasa lidah. Lagi pula, saya mengetahui sejumlah orang yang berbahasa lidah yang sama sekali tidak memiliki kuat kuasa dalam memberitakan Injil.

Pada butir ini, izinkan saya mempersekutukan kepada Anda sebuah percakapan yang saya lakukan bertahun-tahun yang lalu dengan seorang Kristen di Chefoo, kampung ha-laman saya. Teman saya ini adalah pemimpin dari sebuah kelompok Pentakosta. Saya mengenal saudara ini selama bertahun-tahun, dan balai pertemuan kelompok Pentakosta ini sangat dekat dengan balai sidang gereja. Satu hari saudara ini datang kepada saya dengan maksud meyakinkan saya untuk mengambil jalan Pentakosta. Karena kami berteman, saya mendorongnya untuk berbicara secara terbuka dan terus terang. Saya berkata kepadanya, ”Saudara, Anda datang mengunjungi saya untuk meyakinkan saya agar mempraktekkan hal-hal pentakosta.” Dapatkah Anda memberi tahu saya, mengapa Anda begitu antusias terhadap hal-hal Pentakosta?” Ia mengatakan bahwa alasan dari rasa antusiasnya adalah ia percaya melalui berbahasa lidah kita dapat memiliki kuat kuasa. Kemudian saya berkata, ”Saudara, marilah kita memperhatikan fakta-fakta ini. Saya tidak suka hal-hal Pentakosta, tetapi Anda begitu antusias terhadapnya, juga telah mempraktekkannya selama bertahun-tahun. Saya minta Anda membandingkan jumlah orang di jemaat Anda dengan jumlah orang yang ada di jemaat saya. Anda menyatakan, untuk memiliki kuat kuasa Anda perlu berbahasa lidah, tetapi Anda hanya memiliki sekitar lima puluh orang yang bersidang bersama Anda. Kami tidak mempraktekkan berbahasa lidah, tetapi ada ratusan orang yang bersidang bersama kami, ratusan orang yang telah dibawa kepada Tuhan melalui pemberitaan Injil kami. Jadi, di manakah kuat kuasa Anda? Anda berbahasa lidah tetapi Anda tidak memiliki kuat kuasa. Kami tidak berbahasa lidah, tetapi kami memiliki kuat kuasa yang sejati. Tahukah Anda dari manakah kuat kuasa ini? Kuat kuasa ini berasal dari doa.”

Saya melanjutkan bersaksi kepada saudara ini menge-nai praktek kami memberitakan Injil pada tahun baru Imlek. Sebagai pengganti merayakan tahun baru Imlek, orang-orang kudus dalam gereja di Chefoo membuat persiapan-persiapan untuk memberitakan Injil kepada kerabat, tetangga-tetangga, dan teman-teman mereka. Malam yang terakhir dari tahun itu, yang adalah waktu pesta menurut tradisi China, adalah waktu kami untuk berpuasa dan berdoa. Kemudian pada hari selanjutnya, hari yang pertama dari tahun baru itu, kami datang bersama kerabat, tetangga-tetangga, dan teman-teman kami untuk memberitakan Injil. Pemberitaan Injil itu dilaksanakan dengan banyak berdoa. Sewaktu saya memberitakan di balai sidang itu, banyak orang kudus berdoa di berbagai ruangan sampai beritanya selesai. Kuat kuasa yang kami alami dalam pem-beritaan Injil kami itu berasal dari doa yang demikian. Saya memberi tahu teman saya yang di Chefoo itu bahwa kami harus bersandar dalam doa, bukan dalam bahasa lidah.

Dalam pembicaraan saya dengan saudara ini, selanjutnya saya memberikan dua alasan lebih lanjut kepadanya atas kuat kuasa kami. Saya memberi tahu dia bahwa kuat kuasa kami bukan hanya melalui doa, tetapi juga ada dalam firman. Kami tidak memberitakan hal-hal yang aneh atau ganjil. Sebaliknya, pemberitaan kami sesuai dengan firman dalam Alkitab. Firman ini adalah kebenaran, dan kebenaran itu akan menang. Ada kuat kuasa dalam setiap firman Allah.

Kami hanya memberitakan firman, bukan etika atau filsafat. Lagi pula, sebagai pengganti memakai banyak cerita di dalam pembicaraan kami, kami memberitakan Kristus menurut wahyu dalam Kitab Suci. Karena firman Allah itu penuh kuasa, maka kami memiliki kuat kuasa dalam pemberitaan Injil kami.

Saya juga memberi tahu saudara ini bahwa kuat kuasa kami ada di dalam Roh itu, bukan di dalam bahasa lidah. Kami percaya bahwa kami memiliki Roh di dalam dan di atas kami. Karena kami memiliki Roh di dalam dan di atas kami, maka kami memiliki kuat kuasa. Karena itu, kuat kuasa kami ada di dalam doa, firman, dan Roh itu.

Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan satu kesaksian kepada Anda tentang apa yang terjadi pada suatu hari sewaktu saya berbicara di Chefoo. Ketika saya berbicara sampai suatu taraf, saya merasakan adanya suatu atmosfir yang menimpa saya, dan saya mulai menyadari bahwa pembicaraan saya itu benar-benar berasal dari kuat kuasa Allah yang sejati.

Apakah kuat kuasa dalam memberitakan Injil dapat dirasakan oleh kita atau tidak itu tidak penting. Yang pen-ting adalah dalam pemberitaan Injil kita, kita memiliki kuat kuasa yang sejati.

Bersama para penatua gereja di Chefoo, saya memiliki satu pengalaman yang tegas terhadap kuat kuasa Tuhan selama kebangunan yang terjadi di gereja itu pada tahun 1942. Banyak orang kudus yang meminta penumpangan tangan. Kami menumpangkan tangan atas mereka satu demi satu dan juga berdoa bagi setiap orang. Dalam waktu kira-kira satu jam, kami telah berdoa untuk lebih dari dua ratus orang. Doa yang dipanjatkan selama waktu itu sebenarnya adalah suatu doa yang panjang yang secara terus-menerus meluap-luap. Yang berarti adalah doa untuk setiap orang kudus itu benar-benar cocok dengan situasi orang kudus itu. Tiba-tiba doa itu terputus, dan kami tidak menumpangkan tangan ke atas orang lagi. Semua orang yang hadir pada sidang itu menyadari bahwa apa yang telah terjadi itu benar-benar merupakan pergerakan dari Roh itu dan kita tidak dapat mengulanginya lagi. Saya memberitakan hal ini sebagai satu ilustrasi lebih lanjut dari fakta bahwa sandaran kita untuk mendapat kuat kuasa itu ada di dalam doa, firman, dan Roh itu.

Sewaktu kita menuntut untuk mendapatkan kuat kuasa dan daya dobrak dalam pemberitaan Injil kita, kita tidak boleh mengikuti cara yang aneh-aneh atau ganjil. Marilah kita mengambil cara doa, cara firman, dan cara Roh itu.

Kita percaya bahwa hari ini Tuhan adalah Roh yang telah melalui proses yang berhuni di dalam kita dan juga ada di atas diri kita. Tidak peduli apakah Roh ini kita rasakan atau tidak. Kita percaya bahwa sewaktu kita melayani Dia dan berbicara bagi Dia, khususnya sewaktu kita mengutarakan Dia, Dia menyertai kita. Kita memiliki kehadiran Tuhan di dalam kita sebagai pengurapan. Melalui doa, Firman, dan Roh itu, kita dapat memiliki kuat kuasa dan daya dobrak yang sejati. Saya pernah mempraktekkan berbahasa lidah selama satu setengah tahun. Semakin saya berbahasa lidah, semakin kurang kuat kuasa yang saya miliki. Akhirnya, saya tidak meneruskan praktek itu dan kembali kepada cara berdoa yang teratur. Meskipun saya tidak me-miliki banyak waktu untuk berlutut dan berdoa, tetapi sepanjang hari saya memiliki satu roh yang berdoa. Dari pengalaman saya dapat bersaksi bahwa doa mendatangkan kuat kuasa.

Selain itu, dari tahun ke tahun ministri saya selalu bersama firman itu. Selama bertahun-tahun saya telah memberitakan dan mengajar di Amerika Serikat, saya hanya memperhatikan firman itu. Firman itu tiada habis-habisnya, dan firman itu adalah kuat kuasa.

KUAT KUASA KITA — ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI ROH ITU

Sebenarnya kuat kuasa kita adalah Allah Tritunggal sebagai Roh itu. Tidakkah Anda percaya bahwa Allah Tritunggal menyertai kita? Saya percaya bahwa Dia menyertai saya dalam pembicaraan saya. Ketika saya akan melayani, saya biasanya berdoa, ”Tuhan, buktikan fakta bahwa Engkau adalah satu roh denganku. Tuhan, aku ingin mempraktekkan menjadi satu roh dengan Engkau. Tuhan, realitas-kanlah bahwa dalam pembicaraanku Engkau adalah satu roh denganku. Tuhan katakanlah firman-Mu dalam pembicaraanku.” Inilah cara saya berdoa sebelum saya menyampaikan satu berita. Karena itu, saya percaya bahwa sewaktu saya berbicara, Dia adalah satu roh dengan saya dan bahwa Dia berbicara dalam pembicaraan saya. Ini adalah kuat kuasa yang sejati.

Kita tidak boleh bersandar kepada apa pun selain dari doa, firman, dan Roh itu. Mungkin seorang profesor dapat menyampaikan sebuah berita mengenai ilmu pengetahuan untuk meyakinkan murid-murid sains agar percaya kepada Allah. Meskipun hal itu tidak salah, kita tidak boleh bersandar pada hal itu. Sebaliknya, kita harus sepenuhnya dan dengan mutlak bersandar pada doa, firman, dan di dalam pengurapan, yang adalah Allah Tritunggal itu sendiri.

PAULUS LANGSUNG MEMBICARAKAN FIRMAN

Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat bahwa Paulus tidak memakai alat dalam memberitakan Injil. Sebaliknya, ia, ”mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah” (9:20). Ketika Saulus ada di Damsyik, ia ”semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias” (9:22). Dalam berita sebelumnya kita menekankan fakta bahwa di Tesalonika Paulus berbicara dengan orang-orang di rumah ibadat itu dari Kitab Suci mengenai Kristus dan berkata, ”Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu” (17:2-3). Demikian juga, kita telah melihat bahwa di Korintus Paulus dengan serius mempersaksikan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah Kristus (18:5). Karena itu, sebagai pengganti mema-kai suatu tehnik, Paulus selalu membicarakan firman itu secara langsung.

KAUM SALEH KUDUS MUDA MEMBERITAKAN

DENGAN KUAT KUASA

Mungkin Anda akan berkata, ”Saudara Lee, Anda sudah bergumul dalam firman selama lebih dari lima puluh tahun. Bagaimana kami dapat memiliki kuat kuasa dalam memberitakan Injil jika kita masih muda di dalam Tuhan?” Izinkan saya bersaksi kepada Anda bahwa bahkan ketika saya muda, pembicaraan saya penuh dengan kuasa karena tiga perkara ini doa, firman, dan Roh itu (pengurapan itu). Ini menunjukkan bahwa kaum saleh muda pun dapat memberitakan Injil dengan kuat kuasa dan daya dobrak yang kuat, jika mereka bersandar di dalam doa, firman, dan Roh itu.

Kaum saleh muda, kalian dapat mengambil satu bagian dari firman dan memberitakannya kepada orang lain. Hanya, janganlah bersandar kepada petah lidah yang mungkin kalian miliki. Orang-orang yang fasih dalam berbicara mungkin tidak dapat memiliki kuat kuasa atau daya dobrak yang kuat. Tetapi orang-orang yang kurang fasih, bahkan tidak fasih berbicara, dapat memiliki daya dobrak yang kuat dan kuat kuasa dalam pemberitaan Injil mereka. Jika kita bersandar dalam doa, firman, dan Roh itu, Tuhan bahkan dapat memakai pembicaraan dengan pengucapan yang tidak fasih itu untuk menyelamatkan orang lain.

CONTOH D.L. MOODY

Seperti yang kalian ketahui, D.L. Moody hebat dalam memberitakan Injil. Ia adalah seorang pekerja muda di toko sepatu pamannya ketika ia berbeban untuk memberitakan Injil. Satu hari, setelah menyampaikan suatu berita Injil, Moody didekati oleh seseorang yang terpelajar di jemaat itu. Orang ini memberi tahu Moody bahwa ia sering memakai tata bahasa yang salah dalam pembicaraannya. Moody menjawab seperti ini, ”Tata bahasa Anda itu tepat. Pergilah memberitakan Injil dan lihatlah apa hasilnya. Saya mung-kin memakai tata bahasa yang buruk, tetapi melalui pemberitaan Injil saya, banyak orang yang diselamatkan.”

DISUSUN DENGAN KRISTUS YANG ALMUHIT

Entah kita memiliki kuat kuasa atau tidak dalam pemberitaan Injil itu tergantung kepada hakiki kita, persona kita. Jika kita ingin memiliki kuat kuasa, kita perlu disusun dengan Kristus yang almuhit. Karena Paulus sedemikian disusun dengan Kristus, maka dalam beritanya ia selalu memberitakan Kristus. Dalam 18:5 kita melihat Paulus bersaksi bahwa Yesus adalah Kristus, dan dalam ayat 11, selama satu tahun enam bulan di Korintus ia mengajarkan firman Allah. Kita semua perlu belajar dari Paulus untuk bersaksi tentang Kristus dan mengajarkan firman Allah.

MENJADI SATU ROH DENGAN TUHAN

DALAM PEMBERITAAN INJIL

Tidak ada jalan pintas untuk memiliki kuat kuasa dalam pemberitaan Injil. Kita perlu berdoa, kita perlu mempelajari firman, dan kita perlu menjadi satu roh dengan Tuhan. Dalam 1 Korintus 6:17 Paulus berkata, ”Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Kita perlu berdiri di atas firman ini, menuntut faktanya, dan mempraktekkannya. Kita harus berkata, ”Tuhan, ini adalah firman-Mu. Aku berdiri di atas firman-Mu. Tuhan, aku mengumumkan fakta bahwa aku adalah satu roh dengan Engkau. Tuhan, aku meminta Engkau membuktikan firman-Mu bahwa Engkau benar-benar menjadi satu dengan ku. Tuhan, aku ingin berbicara bagi-Mu dan bahkan mengutarakan Engkau. Tuhan, buktikan firman ini dan nyatakanlah bahwa Engkau benar-benar menjadi satu dengan para pengikut-Mu.” Kita semua perlu mengucapkan doa yang demikian. Ini adalah doa yang akan didengar di surga dan didengar oleh semua roh jahat. Jika kita menjadi satu roh dengan Tuhan dalam pemberitaan Injil, kita akan memiliki kuat kuasa dan daya dobrak yang kuat. Karena itu, janganlah bersandar kepada kefasihan. Bersandarlah dalam doa, firman, dan Roh itu.