← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 16/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(9)

Pembacaan Alkitab: Kis. 15:35—16:5

Dalam berita ini kita akan membahas 15:36—16:5. Kisah Para Rasul 15:35-39 mencatat tentang permasalahan Barnabas. Dalam 15:40 kita memiliki permulaan dari perjalanan ministri Paulus kali kedua. Dalam ayat 40 dan 41 Paulus dan Silas melewati Siria dan Kilikia, dan dalam 16:1-5, mereka pergi ke Derbe dan Listra.

PERMASALAHAN BARNABAS

Dalam 15:36 Paulus berkata kepada Barnabas, ”Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.” Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus bersama mereka, tetapi Paulus, ”dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus” (ay. 38-39). Barnabas dan Paulus adalah orang-orang yang telah menyerahkan hidup mereka bagi nama Tuhan (ay. 26), tetapi setelah kemenangan mereka dalam berjuang untuk kepercayaan melawan bidah mengenai sunat, timbullah perselisihan tajam di antara mereka tentang salah satu kerabat mereka, sehingga akhirnya mereka berpisah.

Tanggung Jawab Barnabas

Tanggung jawab karena masalah itu harus dipikul oleh Barnabas. Karena setelah kejadian ini, Barnabas tidak lagi disinggung dalam catatan ilahi Kisah Para Rasul yang membicarakan pergerakan Tuhan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Penyebab kegagalan Barnabas adalah hubungan alamiahnya dengan saudara sepupunya, Markus, (Kol. 4:10). Ketika Barnabas dan Paulus melakukan perjalanan ministri yang pertama, Markus secara negatif meninggalkan mereka (Kis. 13:13). Di kemudian hari, Markus dipulihkan kembali ke dalam ministri Paulus (2 Tim. 4:11; Flm. 24), tetapi Barnabas tidak.

Terhadap Markus, Paulus sangat tegas. Markus meninggalkan mereka dalam perjalanan ministri kali pertama, mungkin karena ia tidak tahan terhadap kesulitan dari pekerjaan pemberitaan Injil itu. Tetapi, Barnabas, yang namanya berarti anak penghiburan (4:36), ingin membawa Markus bersama mereka pada perjalanan kali kedua. Barnabas yang mungkin adalah seorang yang sangat baik dan sabar, ingin memberikan kesempatan lagi kepada Markus. Selain itu, karena Markus adalah saudara sepupu Barnabas, ia dan Barnabas memiliki satu hubungan dalam daging. Karena Paulus tegas dalam hal tidak membiarkan Markus ikut pada perjalanan mereka kali kedua, maka timbullah perselisihan yang tajam di antara Paulus dengan Barnabas.

Pelajaran yang Harus Dipelajari

Dari perkara perselisihan Paulus dengan Barnabas mengenai Markus, kita perlu belajar tidak memakai kebajikan-kebajikan alamiah kita dalam hubungannya dengan pekerjaan Tuhan. Anda mungkin sangat baik dan sabar, tetapi ketika Anda masuk ke dalam pekerjaan Tuhan, Anda perlu melupakan kebaikan dan kesabaran alamiah Anda dan memperhatikan peraturan-peraturan dan prinsip-prinsip ilahi yang tegas. Anda tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip ilahi demi alamiah Anda. Jika Anda secara alamiah itu baik, ramah, sabar, dan toleransi, ini akan menimbulkan masalah di dalam pekerjaan Tuhan. Jika Anda berpegang pada kebajikan-kebajikan alamiah yang demikian, maka Anda akan mengorbankan prinsip-prinsip ilahi demi kebajikan-kebajikan alamiah Anda.

Dalam 15:35-39 kita melihat sesuatu yang bahkan lebih buruk daripada memakai kebajikan-kebajikan alamiah kita di dalam pekerjaan Tuhan, dan membiarkan hubungan daging masuk ke dalam pekerjaan ini adalah perkara yang serius. Sungguh mengerikan bila hal itu terjadi. Barnabas salah dalam perkara memakai kebajikan-kebajikan alamiahnya di dalam pekerjaan Tuhan dan mungkin juga dalam hal membiarkan hubungan daging dengan Markus masuk ke dalam pekerjaan ini.

Pada pasal 15:35-39, Paulus bukan lagi seorang yang muda. Ia telah menjadi orang yang memiliki banyak pengalaman di dalam Tuhan. Tentunya ada beberapa prinsip dasar yang terlibat dalam permintaan membawa Markus bersama mereka pada perjalanan ministri mereka kali kedua, dan Paulus merasa bahwa ia tidak dapat melanggar prinsip itu. Akhirnya, Barnabas pergi sendiri dengan membawa Markus besertanya. Setelah hal ini, Barnabas tidak lagi disinggung dalam catatan ilahi dari pergerakan Allah di dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Ini menunjukkan bahwa Barnabas salah.

KE SIRIA DAN KILIKIA

Kisah Para Rasul 15:40-41 mengatakan, ”Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara seiman itu kepada anugerah Tuhan berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.” Ini adalah perjalanan ministri Paulus kali kedua, yang berakhir pada 18:22. Fakta bahwa Paulus diserahkan kepada kasih karunia Tuhan oleh saudara-saudara, menunjukkan bahwa ia, bukan Barnabas, telah mengambil jalan yang benar.

KE DERBE DAN LISTRA

Menyunat Timotius

Dalam 16:1-5 kita melihat bahwa Paulus datang ke Derbe dan Listra. ”Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya seorang Yahudi dan telah percaya, se-dangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara seiman di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa ayahnya orang Yunani” (ay. 1b-3). Paulus menyunat Timotius karena orang-orang Yahudi, ini menunjukkan pengaruh kuat latar belakang agama Yahudi tetap ada di antara kaum ber-iman Yahudi, sehingga mengganggu dan menghalangi pergerakan Injil Tuhan.

Dalam Kisah Para Rasul 15, pemecahan masalah mengenai sunat itu ditulis (15:20, 23-30), dan Paulus membawa surat ini besertanya. Kisah Para Rasul 16:4 menunjukkan hal ini: ”Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem.” Jika demikian, mengapa Paulus menyunat Timotius? Karena melihat Timotius adalah bahan baik untuk pekerjaan itu, maka Paulus ingin membawanya pergi bersamanya (16:3). Kita diberitahu bahwa ”Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan, Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu.” Dalam hal menyunatkan Timotius, Paulus mungkin memakai hikmatnya untuk membuat situasi lebih mudah baginya guna memberitakan Injil. Jika tidak, maka tidak ada alasan bagi Paulus untuk menyunatkan Timotius.

Penyunatan Timotius Dilihat dalam

Terang Kitab Galatia

Kita perlu melihat penyunatan Timotius oleh Paulus dalam Kisah Para Rasul 16 dalam terang yang dikatakan Paulus mengenai sunat dalam kitab Galatia. Galatia 2:1-3 mengatakan, ”Empat belas tahun kemudian, aku pergi lagi ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu penyataan Allah. Kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha. Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.” Ayat-ayat ini mengacu kepada apa yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15. Dalam Kisah Para Rasul 15 tidak disinggung mengenai Titus, tetapi dalam Galatia 2 Paulus memberi tahu kita bahwa ia membawa Titus bersamanya ke Yerusalem. Selain itu, Paulus mengatakan bahwa Titus tidak dipaksa untuk disunat. Karena Titus dalam Galatia 2 tidak disunat, mengapa dalam Kisah Para Rasul 16 Paulus menyu-natkan Timotius ketika ia melakukan perjalanan ministri-nya kali kedua? Di sini kita melihat bahwa Paulus bertindak dalam dua cara. Di satu pihak, Titus tidak disunat: di pihak lain, Paulus menyunatkan Timotius.

Galatia 5:2 mengatakan, ”Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” Bagaimana perkataan ini diterapkan kepada penyunatan Timotius? Ka-rena Timotius disunat, apakah Kristus tidak berguna baginya?

Dalam Galatia 5:4 Paulus melanjutkan berkata, ”Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan pembenaran melalui hukum Taurat; kamu hidup di luar anugerah.” Ini adalah perkataan yang serius. Dilepaskan dari Kristus berarti dikurangi hingga tidak memiliki apa-apa dari Kristus, kehilangan semua keuntungan yang bisa didapat dari Kristus, karena itu terpisah dari-Nya, membuat Dia tidak berarti apa-apa.

Dalam Galatia 6:14 Paulus berkata, ”Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Dalam ayat ini ”dunia” bukanlah dunia secara umum melainkan dunia agama Yahudi. Seperti ayat selanjutnya menunjukkan, di sini Paulus mengatakan bahwa dunia agama telah disalibkan baginya, dan ia bagi dunia agama. Dalam Galatia 6:15 ia melanjutkan menjelaskan, ”Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, te-tapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Seperti yang telah kita tunjukkan, sunat adalah ketetapan hukum Taurat, sedangkan ciptaan baru adalah milik hayat ilahi yang membawa sifat ilahi.

Paulus juga membicarakan sunat dalam Galatia 5:6 ”Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Di sini kata ”arti” menunjukkan memiliki tenaga atau kekuatan praktis. Sunat hanyalah satu ketetapan yang di luar dan tidak memiliki kekuatan atau hayat.

Bagaimana kita mencocokkan perbuatan Paulus menyunatkan Timotius dengan apa yang ia katakan mengenai sunat dalam kitab Galatia? Ketika ia menulis Galatia, sikapnya terhadap sunat benar-benar negatif. Dalam surat kirimannya itu, ia memberi tahu kita bahwa jika kita disunat maka Kristus tidak berarti apa-apa bagi kita, dan bahwa di dalam Kristus disunat atau tidak disunat tidak ada artinya. Karena ini adalah sikap Paulus terhadap sunat, mengapa ia menyunatkan Timotius?

Keluwesan Paulus

Dalam Kisah Para Rasul 18 kita melihat bahwa Paulus masih melakukan nazar seorang Yahudi (ay. 18), suatu nazar pribadi yang dapat dilakukan di mana saja oleh orang Yahudi untuk pengucapan syukur, dengan mencukur rambutnya. Paulus tahu bahwa ada orang-orang Yahudi di kota-kota besar di Asia Kecil. Ia menyadari bahwa sewaktu ia pergi melalui kota-kota itu untuk bekerja di antara orang-orang, pertama-tama ia akan melakukan pekerjaan di antara orang-orang Yahudi. Ia mungkin berpikir bahwa membawa seorang sekerja muda yang tidak bersunat bersamanya itu akan menjadi satu penghalang yang besar bagi pekerjaan Injilnya. Karena itu, mungkin demi pekerjaan Injilnya, Paulus menyunatkan Timotius. Ia melakukan hal ini agar dapat melaksanakan pekerjaannya di mana atmosfir dan lingkungan orang Yahudi masih kental. Namun, ketika Paulus pergi ke Yerusalem untuk berperang bagi kebenaran dan melawan bidah mengenai sunat, ia sengaja membawa Titus, seorang yang tidak disunat, menyertainya.

Sewaktu kita mempelajari Kisah Para Rasul 16 dan Galatia 2, kita mungkin terkesan dengan keluwesan Paulus. Ketika ia pergi ke Yerusalem untuk berperang melawan sunat, ia membawa bersamanya seorang sekerja yang tidak disunat. Paulus melakukan hal ini untuk memperlihatkan bahwa ia dengan tegas menentang sunat. Seperti yang telah kita lihat, Galatia 2:1-3 termasuk dalam kejadian dari Kisah Para Rasul 15. Kemudian segera setelah sidang khusus dalam Kisah Para Rasul 15, ketika Paulus akan pergi untuk memberitakan Injil pada perjalanan ministrinya kali kedua, ia membawa Timotius dan menyunatkan dia. Jika kita menjadi Silas, kita mungkin berkata, ”Paulus, apa yang Anda lakukan? Anda ini tidak stabil. Dulu Anda menentang sunat, dan sekarang Anda menyunat Timotius.” Namun, demi kepentingan pekerjaan Paulus, kita dapat mengatakan bahwa ia bukan tidak stabil. Ia menyunatkan Timotius itu tidak salah. Perkataan yang ia tulis dalam kitab Galatia bahwa bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya dapat ditafsirkan sebagai penerapan untuk perkara Timotius dalam Kisah Para Rasul 16. Kita dapat memahami bahwa perkataan ini berarti Paulus mencakup aspek sunat dan aspek tidak bersunat.

Pengaruh Tradisi

Begitu tradisi masuk ke dalam seseorang, akan sulit sekali meyingkirkannya. Selain itu, orang sulit menyelamatkan diri dari pengaruh atmosfir agama yang kuat. Paulus bekerja di dunia Kafir, terutama di antara masyarakat orang Yunani. Tetapi orang-orang Yahudi yang hidup di berbagai kota di Asia Kecil masih mempertahankan atmosfir Yahudi, dan bahkan Paulus sendiri sulit dibebaskan dari pengaruh ini.

Haruskah Paulus menyunatkan Timotius dalam Kisah Para Rasul 16? Terus terang, dapat dikatakan bahwa akhirnya Tuhan mengambil jalan untuk tidak menyunat siapa pun. Yang paling baik yang dapat kita katakan mengenai Paulus menyunatkan Timotius adalah bahwa ia luwes di dalam lingkungan tertentu.

Satu Kitab yang Bermakna Zaman

Kitab Kisah Para Rasul itu sangat bermakna zaman. Jika kita tidak memiliki pandangan yang berasal dari pengenalan terhadap ekonomi Allah, kita akan sulit memahami kitab ini. Kita memuji Tuhan bahwa kitab Kisah Para Rasul ini telah terbuka bagi kita sehingga kita dapat melihat semua butir bermakna zaman yang penting yang terkandung di dalamnya. Dengan melihat perkara-perkara ini kita akan lebih mudah mempelajari Perjanjian Baru.

Gereja-gereja Diteguhkan dan Bertambah

Kisah Para Rasul 16:4-5 mengatakan, ”Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan dari hari ke hari bertambah besar jumlahnya.” Semua gereja ini adalah gereja-gereja lokal, yaitu, gereja-gereja di berbagai kota. Gereja lokal adalah ge-reja yang didirikan di sebuah tempat, di dalam batas wilayah sebuah kota. Gereja lokal yang demikian ditunjukkan oleh perkataan Tuhan dalam Matius 18:17. Catatan Perjanjian Baru mengenai pendirian satu gereja di dalam lokalitas-nya itu konsisten (Kis. 8:1; 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11).