PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PAULUS
(8)
Pembacaan Alkitab: Kis. 15:1-34
Kisah Para Rasul 15:1-34 mencatat tentang kesulitan yang disebabkan oleh orang-orang yang memaksakan ajaran bahwa seseorang tidak dapat diselamatkan tanpa disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa (ay. 1). Mengenai perkara ini ada satu sidang khusus dari rasul-rasul dan penatua-penatua yang diadakan di Yerusalem (ay. 1-21). Dalam berita ini kita akan melihat apa yang terjadi pada sidang khusus itu dan apa pemecahan masalahnya (ay. 22-33).
KESAKSIAN PETRUS
Menyucikan Hati Kita oleh Iman
”Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman” (ay. 7-9). Perkataan Petrus tentang menyucikan hati kita oleh iman menunjukkan bahwa Allah tidak mempedulikan ketetapan-ketetapan hukum lahiriah yang tidak dapat membersihkan batin manusia. Allah memperhatikan pembasuhan hati manusia yang di dalam. Ini sesuai dengan penekanan Tuhan dalam Markus 7:1-23. Penyucian hati manusia hanya dapat dirampungkan oleh Roh Kudus dengan hayat ilahi, bukan dengan ketetapan huruf-huruf mati yang di luar.
Mencobai Allah
Dalam Kisah Para Rasul 15:10 Petrus melanjutkan, ”Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah de-ngan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” Gandar (kuk) ini mengacu kepada kuk hukum Taurat, yang merupakan belenggu perhambaan (Gal. 5:1). Kuk perhambaan dalam Galatia 5:1 ini adalah ikatan hukum Taurat, yang membuat pemelihara hukum Taurat menjadi hamba di bawah ikatan kuk. Menuntut orang memelihara hukum perhambaan tidak hanya memperbudak orang, tetapi juga mencobai Allah. Bahkan Allah tidak dapat dan tidak ingin menyuruh manusia memelihara hukum huruf-huruf yang mati.
Diselamatkan oleh Kasih Karunia
Dalam Kisah Para Rasul 15:11 Petrus melanjutkan berkata, ”Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.” Anugerah (kasih karunia) ini mencakup Persona Tuhan dan pekerjaan penebusan-Nya (Rm. 3:24). Petrus dan kaum beriman Yahudi diselamatkan karena kasih karunia ini, bukan karena memelihara hukum Musa. Dari segi keselamatan Allah, memelihara hukum Taurat tidak berarti apa-apa baik bagi orang Yahudi maupun bagi orang Kafir.
Kekurangan Kesaksian Petrus
Menurut 15:7, Petrus hanya berbicara setelah perdebat-an itu terjadi. Sebenarnya, Petrus tidak boleh membiarkan adanya perdebatan itu. Seharusnya ia segera berkata, ”Sau-dara-saudara, izinkan aku mengingatkan kalian akan apa yang Tuhan Yesus katakan kepada kita. Dia memberi tahu kita bahwa kita akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan bahkan sampai ke ujung bumi. Apakah kalian mengira bahwa Tuhan menyuruh kita menyunat semua orang Kafir? Tentu Dia tidak bermaksud demikian.” Jika Petrus berbicara seperti ini, orang-orang yang meng-hadiri sidang khusus itu akan mendengarkan dia.
Pembicaraan Petrus dalam 15:7-11 itu baik, tetapi tidak cukup kuat. Mengapa ia tidak menyinggung perkataan Tuhan dalam 1:8? Mengapa ia hanya mengingatkan mereka bahwa Allah telah memilih dia, agar melalui dia orang-orang Kafir akan mendengar firman Injil dan percaya? Petrus seharusnya berkata, ”Kalian tahu, dari semula Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa kita harus menjadi saksi-saksi-Nya, bahkan sampai ke ujung bumi.” Dalam Kisah Para Rasul 15 Petrus mungkin masih agak takut. Ia tidak berani, dan ia tidak melaksanakan kuasa yang diserahkan kepadanya oleh Sang Kepala. Jika Petrus melaksanakan kuasa ini, ia akan memecahkan masalah itu dan memutus aliran ”racun” bidah itu. Ia akan menanggulangi sumber aliran ini. Namun, Petrus gagal melakukan pekerjaannya dengan memadai.
Dalam 15:8 Petrus menyebut Allah sebagai Yang menge-nal hati manusia. Ini adalah pernyataan yang cukup lemah. Petrus seharusnya mengatakan bahwa Allah adalah Perencana ekonomi-Nya, Dia yang membentuk ekonomi-Nya. Paulus lebih berani daripada Petrus, dibicarakan Allah dengan cara ini dalam surat-surat kirimannya. Apakah Allah memberikan Roh Kudus kepada orang-orang Kafir hanya karena fakta bahwa Dia mengenal hati mereka? Apakah ini alasan satu-satunya Dia menyucikan hati mereka oleh iman? Apakah Tuhan memberikan kunci ini kepada Petrus hanya agar Allah dapat masuk untuk menyucikan hati orang-orang Kafir? Memang, Petrus menyajikan sejumlah butir yang baik di sini, tetapi penyajiannya itu terlalu lemah. Kelemahan ini membuat kita bertanya-tanya, apakah ia benar-benar mengenal ekonomi Allah dengan memadai.
Dalam 15:10 Petrus bertanya, ”Mengapa kamu mau mencobai Allah?” Sebenarnya, mereka bukan hanya mencobai Allah mereka meniadakan ekonomi Allah. Sekali lagi, perkataan Petrus dalam ayat 10 itu baik, tetapi perkataan ini masih lemah. Petrus adalah rasul yang memimpin, dan Tuhan telah memberikan kepadanya satu takaran kuasa, namun, dalam Kisah Para Rasul 15, ia tidak menggunakan kuasa ini. Meskipun demikian, kita memuji Tuhan karena kesaksian dan persekutuan Petrus.
Kita telah menunjukkan bahwa Petrus seharusnya mengingatkan orang-orang pada sidang khusus itu akan perkataan Tuhan dalam 1:8. Petrus juga seharusnya ber-saksi kepada mereka mengenai penglihatan yang ia lihat di Yope (10:9-16). Ia seharusnya berkata, ”Izinkan aku memberi tahu kalian apa yang terjadi padaku di Yope. Sewaktu aku berdoa, aku melihat suatu penglihatan tentang sebuah bejana seperti kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung di langit. Kemudian Tuhan menyuruhku untuk menyembelih dan memakannya. Ketika aku menolak melakukan hal ini, Tuhan menyuruhku sampai kali kedua dan ketiga untuk menyembelih dan memakannya. Tuhan memberi tahu aku bahwa apa yang telah Allah tahirkan tidak boleh aku anggap haram. Setelah melihat penglihatan itu, aku pergi ke Kaisarea. Sewaktu aku berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas orang-orang di rumah itu.” Petrus seharusnya bersaksi mengenai perkataan Tuhan dalam 1:8, penglihatan yang ia lihat, dan apa yang telah terjadi di rumah Kornelius. Petrus seharusnya mengambil hal-hal itu sebagai dasar untuk memberi tahu orang-orang pada sidang khusus itu untuk melupakan hukum Taurat, sunat, dan peraturan makan orang Lewi. Tetapi Petrus kurang keberanian untuk melakukannya.
Ketika Tuhan Yesus menyinggung kasus janda di Sarfat dari Sidon dan Naaman orang Siria (Luk. 4:25-27), yang menyiratkan bahwa Injil-Nya berpaling kepada orang Kafir, maka orang-orang di rumah ibadat itu penuh dengan amarah dan ingin membunuh Dia. Berkebalikan dengan Tuhan dalam Lukas 4, Petrus sangat hati-hati, tidak berani menyebutkan penglihatan yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Ini mungkin menunjukkan bahwa ia tidak hanya kekurangan keberanian, tetapi juga menunjukkan bahwa atmosfir Yudaisme di Yerusalem saat itu sangat tebal.
Sebenarnya, ketika bidah mengenai sunat ini timbul di Yerusalem pada mulanya, Petrus seharusnya menggunakan karunia yang Tuhan berikan kepadanya untuk menjernih-kan situasi berawan di Yerusalem mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, menurut wahyu yang Tuhan berikan kepadanya dan kepada rasul-rasul lainnya dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan penglihatan yang ia terima di Yope dalam Kisah Para Rasul 10 mengenai orang Kafir. Jika ia melaku-kan hal ini, bidah Yahudi itu akan diputus pada mulanya di Yerusalem dan tidak akan menyebar ke gereja-gereja di du-nia Kafir. Tetapi ia gagal melakukan hal ini, sehingga Paulus harus bangkit untuk melakukan pembedahan guna memotong kanker rasial yang dapat menghancurkan ekonomi Perjanjian Baru Allah dan membunuh Tubuh Kristus.
PERSEKUTUAN YANG DIBERIKAN
OLEH YAKOBUS
Sewaktu Petrus menyelesaikan kesaksiannya, orang-orang yang menghadiri sidang khusus itu diam. Kemudian ”mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain” (ay. 12). Setelah itu, kita memiliki persekutuan yang diberikan oleh Yakobus (ay. 14-21).
Pemakaiannya atas Perjanjian Lama
Dalam 15:13-14 setelah semuanya diam, Yakobus ber-kata, ”Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya.” Dalam ayat 16-17 Yakobus mengutip dari kitab Amos untuk memperlihatkan bahwa hal mengambil dari orang Kafir suatu umat bagi nama Allah itu sesuai dengan perkataan nabi-nabi: ”Kemudian Aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atas-nya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini.” Pondok Daud mengacu kepada kera-jaan Israel. Membangun kembali pondok Daud berarti memulihkan kerajaan Israel.
Meninggikan Bangsa Israel
Pemakaian dari kutipan Perjanjian Lama oleh Yakobus ini meninggikan bangsa Israel. Dalam Kisah Para Rasul 1:6 para rasul bertanya kepada Tuhan Yesus, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Kerajaan Israel yang diharapkan oleh para rasul dan orang-orang Yahudi yang takwa lainnya, adalah kerajaan material, berbeda dari kerajaan hayat Allah yang disebut dalam Kisah Para Rasul 1:3. Kerajaan hayat ini sedang dibangun oleh Kristus melalui pemberitaan Injil-Nya. Ketika para rasul bertanya kepada Tuhan tentang pemulihan kerajaan Israel, Dia menjawab, ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sam-pai ke ujung bumi” (Kis. 1:7-8). Meskipun Tuhan telah mengatakan firman yang demikian, Yakobus dalam menanggulangi situasi dalam Kisah Para Rasul 15, meninggikan bangsa Israel lagi. Perkataan ”supaya” dalam 15:17 menunjukkan bahwa mula-mula Tuhan akan membangun kembali bangsa Israel dan kemudian bangsa Kafir, sisa dari ras manusia, akan mencari Tuhan.
Nubuat mengenai Zaman yang akan Datang
Sebenarnya bagian yang dikutip Yakobus dari Perjanjian Lama itu tidak dapat diterapkan pada situasi dalam Kisah Para Rasul 15. Sebaliknya, itu adalah suatu nubuat yang berhubungan dengan Tuhan membangun kembali bangsa Israel setelah kedatangan-Nya kembali. Pada waktu itu, menurut nubuat ini, semua bangsa akan mencari Tuhan. Nubuat yang sama ditemukan dalam Zakharia 8. Menurut pasal itu, ketika bangsa Israel dipulihkan, ”Banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari TUHAN semesta alam di Yerusalem dan melunakkan hati TUHAN” (Za. 8:22). Jika kita mempelajari kitab Suci dengan teliti, kita akan melihat bahwa bagian dari Firman yang demikian itu tidak berhubungan dengan zaman kasih karunia sekarang ini tetapi dengan zaman setelah kedatangan Tuhan kembali. Pada zaman yang akan datang Tuhan akan mem-bangun kembali pondok Daud yang telah roboh; yaitu, Dia akan memulihkan bangsa Israel. Kemudian bangsa Kafir akan datang kepada Israel untuk mencari Tuhan.
Ketika kita menunjukkan bahwa bagian yang dipakai Yakobus dalam Kisah Para Rasul 15 diterapkan kepada zaman yang akan datang, beberapa orang mungkin berkata, ”Anda tidak dapat menafsirkan ayat-ayat yang dipakai oleh Yakobus dengan cara demikian. Sebaliknya, Anda harus menafsirkannya menurut prinsip. Di sini Yakobus mengatakan bahwa dalam prinsipnya cepat atau lambat Tuhan akan membawa masuk bangsa Kafir.” Tetapi mengenai situasi di dalam Kisah Para Rasul 15, tidaklah tepat bila mengatakan bahwa cepat atau lambat bangsa Kafir itu akan masuk. Dalam pasal ini, Yakobus memakai kutipan dari Perjanjian Lama tanpa membedakannya. Ia mengutip ayat-ayat yang bukan mengacu kepada zaman sekarang, melainkan kepada zaman yang akan datang. Karena itu, sebenarnya Yakobus meminjam satu kutipan dari Perjanjian Lama.
Dibandingkan dengan Pemakaian Perjanjian Lama oleh Tuhan Yesus dan Paulus
Pada butir ini akan sangat membantu bila kita mem-bandingkan pemakaian Perjanjian Lama Yakobus dengan Tuhan Yesus dalam Lukas 4. Dengan mengutip perkara janda dan Naaman, Tuhan menunjukkan bahwa Allah akan mengesampingkan bangsa Israel dan berpaling kepada bangsa Kafir. Dalam menunjukkan perkara-perkara ini Tuhan Yesus berani, dan orang-orang di rumah ibadat itu tersinggung dan ingin membunuh Dia. Bandingkan dengan Yakobus, yang berusaha menyenangkan orang Yahudi dengan tidak memberi tahu mereka bahwa Allah akan mengesampingkan bangsa Israel, tetapi memberi tahu bahwa Dia mula-mula akan membangun kembali bangsa Israel dan kemudian berpaling kepada bangsa Kafir. Jika kita membandingkan pemakaian Perjanjian Lama Yakobus dengan Tuhan, kita akan melihat bahwa Yakobus mengutip kitab Suci itu dengan cara yang sangat lemah.
Seperti Tuhan Yesus, Paulus juga berani dalam pemakaiannya atas Perjanjian Lama. Perhatikan apa yang ia lakukan dalam Kisah Para Rasul 13. Ketika orang-orang Yahudi menolak firman Injil, Paulus dengan berani berkata, ”Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain” (ay. 46). Kemudian Paulus mengutip Yesaya 49:6: ”Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain supaya eng-kau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.” Seperti yang telah kita tunjukkan, kutipan ini mengacu kepada Kristus sebagai Hamba Allah, yang diangkat Allah menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah su-paya Dia membawa keselamatan-Nya sampai ke ujung bumi. Karena Paulus bersatu dengan Kristus ketika melak-sanakan keselamatan Allah di dalam Kristus, maka ia menerapkan perkataan nubuat ini kepada dirinya sendiri dalam ministri pemberitaan Injilnya, karena penolakan orang Yahudi, maka Injil diberitakan kepada orang Kafir. Dalam ministri-Nya di bumi, Tuhan menyatakan hal yang sama kepada orang Yahudi yang keras kepala dalam Lukas 4:24-27. Dalam Kisah Para Rasul 13 Paulus tidak mengatakan bahwa mereka berpaling kepada bangsa Kafir karena Allah telah membangun kembali bangsa Israel. Sebaliknya, ia mengumumkan bahwa mereka berpaling kepada bangsa Kafir karena orang Yahudi menolak firman Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 15 pemakaian kutipan Per-janjian Lama oleh Yakobus itu disambut dengan hangat. Jika Yakobus sekuat Tuhan Yesus dan Paulus, yang mengu-tip bagian yang tepat dari Perjanjian Lama mengenai Allah mengesampingkan Israel dan menghampiri bangsa Kafir, maka orang-orang Yahudi akan dengan tegas menentangnya.
Pengkajian kita terhadap pemakaian Perjanjian Lama oleh Yakobus ini seharusnya membantu kita mempelajari cara yang tepat dalam mempelajari Alkitab. Kita perlu melihat ke dalam lubuk dari firman-firman yang tertulis. Jika kita benar-benar mengenal Alkitab, kita akan dengan benar mengkritik pemakaian Perjanjian Lama oleh Yakobus. Saya benar-benar heran mengapa Yakobus tidak mengutip firman Tuhan yang jelas dan yang ditekankan dalam Kisah Para Rasul 1:8 sebagai pengganti mengutip beberapa firman yang tidak langsung dari Perjanjian Lama. Ini memperlihatkan bahwa ia banyak memakai dari Perjanjian Lama dan tidak banyak dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Yakobus Memberikan Pendapatnya
Dalam 15:19-20 Yakobus melanjutkan persekutuan untuk memberikan pendapatnya: ”Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.” Perkataan ini terlalu rendah bila dibandingkan dengan perintah yang diberikan Paulus kepada kaum beriman dalam pasal 13 dan 14. Misalnya seseorang berkata kepada Anda, ”Orang-orang kudus yang kekasih, kamu tahu bahwa kita hidup di dalam generasi yang bengkok dan bobrok yang penuh dengan penyembahan berhala dan percabulan. Saya memerintahkan kamu untuk menjauhkan diri dari pencemaran berhala-berhala, percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.” Pasti, orang-orang kudus pada hari ini tidak akan senang mendengar nasihat semacam ini. Namun, inilah persekutuan Yakobus dalam Kisah Para Rasul 15.
Dalam ayat 21 Yakobus memberikan alasan untuk pendapatnya mengenai perkara itu: ”Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” Di sini memperlihatkan kepada kita dasar persekutuan Yakobus. Ia memberi tahu kepada kita bahwa dalam membereskan masalah yang disebabkan oleh bidah orang-orang Yahudi, kita perlu memperhatikan fakta bahwa hukum Taurat Musa dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat. Inilah alasan Yakobus memberikan perintah kepada orang-orang Kafir untuk menjauhkan diri dari pencemaran berhala-berhala, percabulan, daging binatang yang mati dicekik, dan dari darah. Pemberesan ini tidak dapat memuaskan Paulus, yang mengatakan dalam Galatia 2:19, ”Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah.” Berkebalikan dengan firman yang demikian, persekutuan Yakobus membuat kaum beriman Perjanjian Baru berpaling untuk memperhatikan hukum Taurat. Ini menunjukkan bahwa kata penutup yang disampaikan oleh Yakobus masih dipengaruhi oleh hukum Musa, karena latar belakang agama Yahudinya yang kental. Pengaruh latar belakang ini masih tetap ada bahkan sampai kali terakhir Paulus mengunjungi Yerusalem (Kis. 21:20-26).
Menurut apa yang Yakobus katakan dalam surat kirim-annya, ia pasti sangat agamis. Mungkin karena hal ini dan praktek kesempurnaan Kristianinya, ia bersama Petrus dan Yohanes dianggap sebagai soko guru, bahkan yang utama, di gereja di Yerusalem (Gal. 2:9). Namun, ia tidak kuat dlam wahyu ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam Kristus, bahkan masih berada di bawah pengaruh latar belakang agama Yahudi kuno menyembah Allah dengan upacara-upacara dan menempuh suatu kehidupan dalam takwa ke-pada Allah. Ini dibuktikan oleh Kisah Para Rasul 21:20-24 dan Yakobus 2:2-11.
Yakobus 2:8-11 menunjukkan bahwa kaum beriman Yahudi pada zaman Yakobus masih mempraktekkan dan memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama. Ini berhubungan dengan perkataan dalam Kisah Para Rasul 21:20 yang diucapkan oleh Yakobus dan para penatua di Yerusalem kepada Paulus. Yakobus, para penatua di Yerusalem, dan ribuan kaum beriman Yahudi tetap berada di dalam percampuran iman Kristen dan hukum Taurat Musa. Mereka bahkan menganjuri Paulus untuk mempraktekkan semi percampuran Yahudi yang demikian (Kis. 21:17-26). Mereka tidak sadar bahwa zaman hukum Taurat telah berlalu dan bahwa zaman kasih karunia harus ditinggikan sepenuhnya. Mereka juga tidak sadar bahwa sikap acuh tak acuh terhadap perbedaan antara dua zaman ini akan bertentangan dengan administrasi zaman oleh Allah dan akan menjadi satu bahaya yang besar terhadap rencana ekonomi Allah bagi pembangunan gereja sebagai ekspresi Kristus.
Saya sangat menyayangkan karena pendapat Yakobus itu sepenuhnya berdasar pada kesalehannya, kehidupan ibadahnya, seperti yang ditandai dengan butir-butir penyembahan berhala, percabulan, binatang yang mati dicekik, dan dari darah yang ia sebutkan; tetapi sama sekali tidak berdasar pada administrasi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini memperlihatkan bahwa ia benar-benar berada di bawah atmosfir yang berawan dari latar belakang Yahudinya, bukan berada di bawah langit yang cerah dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kisah Para Rasul 15:22-33 menggambarkan pengambilan keputusan terhadap masalah itu. Sebenarnya, pengambilan keputusan ini adalah suatu kompromi, tetapi ini lebih baik daripada tidak ada apa-apa.
Ayat 23-29 memberitakan satu catatan tentang surat yang ditulis oleh orang-orang di Yerusalem dan dikirimkan bersama dengan Paulus dan Barnabas ke Antiokhia. Dalam ayat 26 dikatakan bahwa Barnabas dan Saulus adalah ”orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus.” Perkataan ini tidak hanya mengacu kepada hidup mereka, tetapi juga seluruh diri mereka, yang telah mereka serahkan bagi nama Tuhan.
Ayat 30-31 mengatakan, ”Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang memberi penghiburan.” Di satu pihak, kaum beriman di Antiokhia bersukacita karena mereka tidak perlu disunat. Di pihak lain, mereka masih harus memelihara tuntutan-tuntutan tertentu dari hukum Taurat. ”Rubah” hukum Taurat telah dikubur, tetapi ”ekornya” masih tetap kelihatan. Karena itu, pengambilan keputusan ini sebenarnya adalah satu kompromi.
Menurut Kisah Para Rasul 18, bahkan Paulus juga tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh Yahudi. Ayat 18 mengatakan, ”Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara seiman di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia.” Ini adalah nazar pribadi untuk ucapan syukur yang dilakukan di mana saja oleh orang-orang Yahudi dengan menggunting rambut mereka. Ini berbeda dengan nazar seorang Nazir, yang harus dilaksanakan di Yerusalem dengan mencukur rambut kepala. Paulus adalah orang Yahudi dan memelihara nazar, tetapi dia tidak pernah dan tidak mau mengenakan cara ini kepada orang Kafir. Menurut prinsip pengajarannya tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah, Paulus seharusnya telah meninggalkan semua praktek Yahudi milik zaman Perjanjian Lama; tetapi secara pribadi dia masih melakukan nazar ini. Saya sulit mempercayai bahwa Paulus, penulis kitab Roma dan Galatia, masih dapat memelihara nazar ini. Pada prinsipnya, Paulus salah dalam perkara ini. Tentu, ia tidak salah sehebat Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21. Seperti yang akan kita lihat, Tuhan tidak mentoleransi Paulus bergabung dengan orang-orang yang telah membuat nazar orang Nazir.
Butir yang kita tekankan di sini adalah bahwa pem-beresan masalah dalam Kisah Para Rasul 15 itu adalah satu kompromi. Masalah itu telah dibereskan, dan badainya telah reda. Namun, akar racunnya belum dicabut. Karena akarnya dibiarkan tetap tinggal, maka akar itu muncul lagi dalam pasal 21. Percampuran yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul 21 itu sebelumnya ada dalam Kisah Para Rasul 15. Itu adalah percampuran agama, percampuran antara ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan agama Yahudi zaman lama. Percampuran itu adalah hasil dari kompromi. Karena kompromi itu, maka masalah dalam Kisah Para Rasul 15 tidak dibereskan sepenuhnya. Meskipun demikian, pemberesan ini lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali.
BELAJAR UNTUK MENGHADAPI SITUASI
KOMPROMI PADA HARI INI
Pada prinsipnya, situasi pada hari ini sama seperti dalam kitab Kisah Para Rasul, masih banyak tindakan kompromi. Karena itu, kita mempelajari Alkitab bukan hanya untuk mempelajari doktrin saja, tetapi juga untuk diper-ingatkan dan dilatih guna menghadapi situasi dewasa ini.
Pada tahun 1964 saya menulis beberapa kidung tentang Kristus adalah Roh itu. Pada suatu hari seorang teman saya, yang adalah seorang sekerja, berkata kepada saya, ”Ya, Perjanjian Baru memang mengatakan bahwa Kristus adalah Roh itu. Tetapi, jika kita mengajarkan hal ini, orang-orang Kristen tidak akan menerimanya. Lebih baik kita tidak mengajarkan bahwa Kristus adalah Roh itu.” Saya berkata kepada saudara ini, ”Pembenaran oleh iman telah dipulihkan oleh Martin Luther, namun itu ditentang Katolik. Jika Luther memutuskan untuk tidak mengajarkan pembenaran oleh iman karena gereja Katolik tidak menerimanya, bagaimana mungkin akan ada pemulihan?”
Ada beberapa orang yang pernah berada di antara kita dalam pemulihan Tuhan mengkompromikan pengajaran-pengajaran Saudara Watchman Nee. Mereka tahu apa yang ia ajarkan, tetapi karena mereka takut kepada kekristenan yang tradisional, mereka tidak berani mengajarkan hal yang sama. Sebaliknya, mereka berkompromi. Dalam menerje-mahkan buku-buku tertentu dari Saudara Watchman Nee, para penerjemahnya mengubah beberapa perkataan agar tidak dikecam.
Pada tahun 1964 saya diundang untuk berbicara, untuk kali keempat atau kali kelima, kepada kelompok kekristenan tertentu di Dallas. Tuan rumah mengingatkan saya dengan berkata, ”Saudara Lee, jangan membicarakan tentang gereja. Orang-orang di sini tidak akan menerima pengajaran Anda mengenai gereja. Tetapi, kita menyambut Anda untuk meministrikan tentang Kristus sebagai hayat. Kita menyukai hal ini, dan kita terbantu olehnya.” Tanpa menjawab ya atau tidak kepada permintaan saudara ini, saya menjawab, ”Saudara, asalkan saya meministrikan Kristus sebagai hayat, hasilnya adalah gereja. Bagaimana Anda dapat meminta saya untuk meministrikan Kristus dan mengharapkan bah-wa hal ini tidak akan menghasilkan gereja?” Saya melanjutkan memberi tahu dia bahwa ministri saya adalah ministri Kristus, dan hasil dari ministri ini selalu gereja.
Saya meluangkan waktu seminggu untuk meministrikan firman kepada kelompok kekristenan itu di Dallas. Saya baru membicarakan tentang gereja pada malam yang terakhir dari sidang khusus itu. Roh pembicaraan saya tidak tahan lagi untuk diam mengenai gereja. Saya tidak peduli apakah saya dapat diundang lagi atau tidak. Saya tahu saya harus mengucapkan perkataan tentang gereja. Ketika saya meminta orang-orang yang menghadiri sidang itu untuk membuka Roma 12, tuan rumah saya tahu bahwa saya bermaksud untuk membicarakan mengenai Tubuh Kristus, gereja. Orang-orang yang mengundang saya itu kecewa. Meskipun demikian, saya melanjutkan memberikan perkata-an yang tegas mengenai gereja, dan melalui berita itu, ada orang yang didapatkan bagi pemulihan Tuhan.
Semua perkara ini mengajar kita untuk waspada terhadap kompromi. Kiranya kita semua belajar dari pelajaran kita akan kitab Kisah Para Rasul bagaimana menghadapi situasi kompromi pada hari ini.