← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 14/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(7)

Pembacaan Alkitab: Kis. 15:1-34

Kisah Para Rasul 15 sangatlah penting dalam hubungannya dengan ekonomi Allah. Sewaktu kita melihat pasal ini, kita tidak akan memperhatikan hal-hal kecil seperti yang dilakukan banyak orang lain. Sebaliknya, kita akan berkonsentrasi pada hal-hal penting mengenai perkaraperkara pengaturan zaman (dispensasional).

Kisah Para Rasul 15:1-33 mencatat kesulitan yang timbul mengenai sunat. Dalam ayat 1-21 kita memiliki catatan tentang persidangan para rasul dan para penatua yang diadakan di Yerusalem. Kemudian dalam ayat 22-23 kita memiliki uraian pemecahannya. Dalam berita ini kita akan mulai melihat 15:1-33.

BIDAH MENGENAI SUNAT

Kisah Para Rasul 15:1 mengatakan, ”Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara seiman di situ: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Kedatangan beberapa orang dari Yudea ini disertai dengan tujuan yang kuat untuk memberi pengaruh agama Yahudi atas kaum beriman bukan Yahudi.

Pernyataan bahwa jika seseorang tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, ia tidak dapat diselamatkan, berarti membatalkan kepercayaan dalam eko-nomi Perjanjian Baru Allah, dan merupakan bidah yang sesungguhnya. Karena itu, ”beberapa orang” tertentu yang mengajarkan bidah ini kepada saudara-saudara Kristen, mungkin adalah saudara-saudara palsu yang Paulus sebut dalam Galatia 2:4.

Sunat adalah satu ketetapan lahiriah yang diwarisi orang Yahudi dari nenek moyang mereka, Abraham (Kej. 17:9-14). Sunat membuat mereka berbeda dan terpisah dari orang-orang Kafir. Sunat menjadi satu formalitas tradisional yang mati, sekadar tanda pada daging tanpa arti rohaniah apa pun, ini justru menjadi penghalang besar bagi perluasan Injil Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya (Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2).

Sunat, pemeliharaan hari Sabat, dan jenis makanan khusus adalah tiga ketetapan terkuat menurut hukum Musa, yang membedakan dan memisahkan orang-orang Yahudi dari orang-orang Kafir, yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Semua ketetapan kitab suci zaman Perjanjian Lama itu menjadi penghalang perluasan Injil kepada orang-orang Kafir menurut zaman Perjanjian Baru Allah (Kol. 2:16). Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, disunat berarti membuat Kristus tidak berarti bagi kaum beriman (Gal. 5:2).

Kisah Para Rasul 15:1 membicarakan tentang adat istiadat yang diwariskan oleh Musa. Memelihara adat isti-adat yang diwariskan oleh Musa, berarti melaksanakan ke-tetapan-ketetapan hukum Taurat yang di luar, ini tidak hanya membatalkan kasih karunia Allah dan membuat ke-matian Kristus sia-sia (Gal. 2:21), tetapi juga membawa kaum beriman, yang telah dibebaskan oleh Kristus, kembali kepada perhambaan hukum Taurat (Gal. 5:1; 2:4).

PAULUS DAN BARNABAS BERJUANG

UNTUK KEPERCAYAAN

Pengajaran bahwa seseorang harus disunat supaya diselamatkan itu meniadakan penebusan Kristus, kasih karunia Allah, dan seluruh ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena itu, Paulus dan Barnabas tidak dapat mentoleransi bidah ini, dan mereka ”dengan keras melawan dan membantah” (15:2) orang-orang yang datang dari Yudea dan meng-ajarkan bidah itu kepada saudara-saudara Kristen. Dalam ayat 2 Paulus dan Barnabas berjuang untuk kepercayaan (Yud. 3) melawan salah satu bidah terbesar supaya kebenaran Injil boleh tetap tinggal dengan kaum beriman (Gal. 2:5).

YERUSALEM, SUMBER MASALAH

Sebenarnya, masalah pengajaran bidah ini harus dipecahkan oleh Petrus dan Yakobus di Yerusalem. Bidah itu seharusnya tidak boleh mencapai Antiokhia. Sebelum guru-guru bidah itu pergi ke Antiokhia, mereka pasti telah menyebarkan pengajaran mereka di Yerusalem. Tetapi tidak ada petunjuk bahwa Petrus dan Yakobus melakukan sesuatu untuk menanggulangi bidah itu.

Tanggung Jawab Petrus dan Yakobus

Sumber dari masalah yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 15 adalah Yerusalem. Kelompok pertama rasul dan penatua di Yerusalem seharusnya memperhatikan pengajaran bidah ini sebelum sempat menyebar ke gereja-gereja di tanah kafir. Fakta bahwa masalah ini tidak ditanggulangi di Yerusalem menunjukkan bahwa Petrus dan Yakobus memiliki kekurangan-kekurangan tertentu. Mereka harus bertanggung jawab atas situasi ini. Menjelang bidah ini menyebar ke Antiokhia sudah terlambat bagi Paulus dan Barnabas untuk menanggulanginya. Ini membuat mereka perlu pergi ke Yerusalem untuk menjamah sumber masalah ini.

Sewaktu kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita mungkin tidak memiliki konsepsi yang akurat mengenai Petrus dan Yakobus. Kita mungkin menganggap Petrus dan Yakobus itu terlalu tinggi. Kita mungkin meninggikan Petrus terlalu banyak, dan menganggap Yakobus itu sangat ibadah dan saleh. Jika kita memiliki konsepsi yang demikian terhadap Petrus dan Yakobus, kita tidak akan memiliki pandangan yang tepat tentang situasi yang tercatat dalam pasal 15. Dengan kata lain, karena konsepsi dan pemahaman kita yang tidak akurat, kita tidak akan memiliki pandangan yang tepat ke dalam jantung dari masalah dalam Kisah Para Rasul 15 ini. Sebenarnya, jantung masalah ini bukan pada orang-orang Yahudi yang bidah yang pergi ke Antiokhia; melainkan pada Petrus dan Yakobus. Mengatakan demikian sudahlah sepantasnya.

Petrus ada dalam Kisah Para Rasul 1, ketika Tuhan Yesus memberikan persiapan lebih lanjut kepada para rasul untuk ministri mereka. Sebagai bagian persiapan itu, Tuhan berkata kepada mereka, ”Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (1:8). Di sini Tuhan menunjuk mereka menjadi saksi-saksi-Nya bukan hanya untuk orang-orang di Yerusalem dan Yudea dan untuk orang-orang dengan darah campuran di Samaria, melainkan sampai ke ujung bumi, yang menunjukkan seluruh tanah Kafir. Firman Tuhan ini sangat jelas. Kalaupun Yakobus, saudara kandung Tuhan Yesus, tidak hadir pada waktu firman ini dikatakan, ia tentunya tahu benar dengan firman ini. Lukas, penulis kitab Kisah Para Rasul, tahu firman ini. Tentunya Yakobus mengetahui firman ini sebelum Lukas. Petrus dan Yakobus seharusnya mengambil firman Tuhan mengenai menjadi saksi-saksi sampai ke ujung bumi ini sebagai dasar untuk menanggulangi pengajaran bidah, bahwa orang Kafir harus disunat supaya diselamatkan. Karena Tuhan telah mengucapkan perkataan ini, maka tidak perlu ada diskusi atau pendekatan. Petrus dan Yakobus seharusnya melakukan tindakan untuk menyingkirkan pengajaran bidah ini secara tuntas, melenyapkannya pada sumbernya di Yerusalem.

Jika kita memiliki pemikiran yang terang dan pandangan yang tepat sewaktu kita membaca pasal 15, kita akan menyadari bahwa kesulitan itu timbul karena kecerobohan Petrus dan Yakobus. Mereka tidak melakukan tugas mereka; mereka tidak melaksanakan tanggung jawab mereka. Akibatnya, pengajaran bidah ini timbul di Yerusalem dan bahkan hebat di sana. Jika pengajaran itu tidak hebat di Yerusalem, bagaimana mungkin pengajaran itu dapat menyebar ke Antiokhia? Pada zaman dulu komunikasi ke kota yang jauh itu sangat lambat. Maka, bila sesuatu menyebar dari Yerusalem ke Antiokhia, itu adalah perkara besar.

Tidak Menjaga Kebenaran

Orang-orang yang bergairah untuk ajaran Yahudi itu sangat antusias, tanpa mempedulikan kesulitan dalam perjalanan, mereka pergi ke Antiokhia dengan tujuan menyebarkan pengajaran bidah mereka. Mereka dengan berani mengajar orang-orang, dengan berkata, ”Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan” (15:1). Seperti yang telah kita tunjukkan, pengajaran yang demikian ini meniadakan seluruh Perjanjian Baru. Pengajaran ini meniadakan kematian penebusan Kristus, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan segala sesuatu yang Dia ajarkan.

Sulit sekali memahami bagaimana Petrus dan Yakobus dapat mentoleransi bidah yang demikian di Yerusalem. Jika kita membaca Galatia 2 bersamaan dengan Kisah Para Rasul 15, kita akan terbantu untuk memahami situasi pada waktu itu. Petrus dan Yakobus layak ditegur karena masa-lah itu, karena mereka tidak menjaga kebenaran dan tidak berjuang untuknya dengan memadai. Karena kekurangan ini, masalah pengajaran bidah itu timbul di Yerusalem dan kemudian menyebar ke gereja-gereja di tanah kafir.

PERGI KEPADA RASUL-RASUL

DAN PENATUA-PENATUA DI YERUSALEM

Menurut 15:2, ”Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah” orang-orang Yahudi. Kita tidak boleh mengira bahwa Paulus itu terlalu keras dalam perbantahan dan dalam pembicaraan. Situasi itu membuat perlu adanya perbantahan. Bagaimana Paulus dapat menyetujui pengajaran bidah bahwa orang-orang Kafir tidak dapat diselamatkan jika mereka tidak disunat? Ia harus bangun untuk membantah orang-orang yang mengajarkan bidah itu.

Karena perselisihan dengan guru-guru bidah itu, Paulus dan Barnabas dan orang-orang tertentu yang ditunjuk, ”pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan persoalan itu” (15:2). Menurut ayat 26, Paulus dan Barnabas dianggap sebagai orang-orang yang ”telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus.” Gereja di Antiokhia memutuskan untuk mengutus mereka ke Yerusalem.

Paulus, Barnabas, dan beberapa orang lain pergi kepada para rasul dan penatuan di Yerusalem, bukan karena Yerusalem adalah markas besar pergerakan Allah, juga bukan karena gereja di Yerusalem adalah gereja pusat yang menguasai gereja-gereja lain, tetapi karena Yerusalem adalah sumber datangnya ajaran bidah tentang sunat. Untuk menyelesaikan dan mencabut akar masalahnya, mereka perlu pergi kepada sumbernya. Menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, pergerakan Allah di bumi tidak memiliki markas besar, juga tidak ada gereja pusat untuk mengendalikan mereka. Markas besar pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya berada di surga (Why. 4:2-3; 5:1), dan Kristus, Kepala gereja (Kol. 1:18; Why. 2:1) adalah yang berkuasa atas semua gereja.

Kisah Para Rasul 15:3-4 mengatakan, ”Mereka diantar oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan menceriterakan tentang pertobatan orang-orang bukan Yahudi. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara seiman di situ. Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.” Kepergian Paulus, Barnabas, dan beberapa orang lainnya ke Yerusalem adalah pergerakan gereja, bukan pergerakan mereka sendiri sebagai individu-individu. Mereka tidak bertindak secara individu yang terpisah dari gereja, tetapi secara korporat di dalam dan bersama dengan gereja. Ini adalah pergerakan Tubuh Kristus.

Kisah Para Rasul 15:5 mengatakan, ”Tetapi beberapa orang dari aliran Farisi, yang telah menjadi percaya, berdiri dan berkata: Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.” Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama Yahudi yang paling ketat (26:5). Sekte ini dibentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan kehidupan keagamaan, pengabdian kepada Allah, dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi. Seperti yang telah kita tunjukkan, pengajaran orang Farisi dalam 15:5 itu meniadakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Andaikata Anda adalah seorang penatua gereja di Yerusalem pada zaman Kisah Para Rasul 15, apa yang akan Anda lakukan terhadap orang-orang yang mengajarkan bahwa kaum beriman dalam Kristus harus disunat dan memelihara hukum Taurat Musa? Apakah Anda akan bangkit dan dengan berani berkata bahwa pengajaran bidah yang demikian itu tidak diperbolehkan di dalam gereja? Ini adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh para penatua di Yerusalem.

Penatua yang paling berpengaruh di gereja di Yeru-salem adalah Yakobus. Ada satu petunjuk mengenai hal ini dalam 12:17, di mana Petrus berkata, ”Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita.” Ini menunjukkan bahwa Yakobus adalah pemimpin di antara rasul dan penatua di Yerusalem. Selain itu, dalam Galatia 2:12 Paulus membicarakan tentang orang-orang tertentu yang datang dari Yakobus. Sebagai pengganti mengatakan bahwa mereka datang dari Yerusalem, Paulus mengatakan bahwa mereka datang dari Yakobus. Ini memperlihatkan bahwa Yakobus sangat terkemuka di Yerusalem, dan bahwa ia adalah seorang penatua yang memimpin.

TANGGUNG JAWAB PENATUA-PENATUA

TERHADAP BIDAH

Pada butir ini, saya akan mengajukan satu pertanyaan kepada orang-orang yang menjadi penatua-penatua di dalam gereja-gereja pada hari ini. Misalnya orang-orang tertentu di dalam gereja mulai mengajarkan bahwa kaum beriman hari ini harus disunat dan memelihara hukum Taurat Musa. Apakah yang akan Anda lakukan? Dengan tepat kalian harus berkata, ”Kami meminta Anda untuk tidak ber-bicara di dalam sidang-sidang gereja dan tidak menyebarkan pengajaran ini di antara orang-orang kudus. Anda mengajarkan pengajaran bidah. Jika Anda tetap menyebarkan bidah ini, kami tidak akan membiarkan Anda untuk tetap tinggal di dalam gereja.”

Menyuruh kaum beriman disunat dan memelihara hukum Taurat Musa itu berarti meniadakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Itu juga berarti meniadakan kemati-an Kristus. Hal itu membuat Kristus dan kematian-Nya menjadi sia-sia. Inilah sebenarnya yang Paulus katakan mengenai pengajaran itu dalam Galatia 2:21. Dalam ayat ini Paulus memberi tahu kita bahwa ia tidak meniadakan kasih karunia Allah.

Siapa pun yang mengajarkan bidah bahwa kaum beriman harus disunat dan memelihara hukum Taurat Musa harus diberi tahu supaya memiliki perubahan dalam pe-mahaman mereka. Kalau tidak, gereja tidak dapat menerima mereka. Gereja hanya dapat menerima orang-orang yang percaya kepada Juruselamat kita Yesus Kristus, di dalam kematian penebusan-Nya, di dalam kebangkitan dan kenaik-an-Nya, dan di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Hukum Taurat Musa telah berlalu.

Kisah Para Rasul 15:6 mengatakan, ”Lalu bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan persoalan itu.” Ayat ini menyebutkan rasul-rasul dan penatua-penatua. Rasul-rasul bersifat universal, dan penatua-penatua bersifat lokal.

Mengapa Paulus dan Barnabas diutus dari Antiokhia ke Yerusalem, padahal masalah yang mereka hadapi ada di Antiokhia? Mereka pergi ke Yerusalem karena sumber masalah itu ada di sana. Kita dapat mengatakan bahwa ”aliran” dari masalah itu mencapai Antiokhia, tetapi sumbernya ada di Yerusalem. Akan tidak benar bila menanggulangi alirannya saja tanpa menanggulangi sumbernya. Bahkan jika aliran itu telah ditanggulangi, sumbernya akan masih tetap ada. Karena itu, mereka pergi ke Yerusalem untuk menanggulangi sumbernya: mereka bukan pergi ke sana karena gereja di Antiokhia menganggap gereja di Yerusalem sebagai gereja pusat.

TIDAK ADA HIERARKI (TINGKATAN JABATAN)

HANYA ADA PIMPINAN ROH KUDUS

Demikian juga, Paulus dan Barnabas tidak menganggap Petrus dan Yakobus seperti pejabat-pejabat tinggi. Jika demikian masalahnya, akan ada hierarki. Tetapi tidak ada hierarki apa pun, khususnya Petrus itu bukanlah seorang ”paus” seperti pernyataan yang salah dari aliran tertentu.

Di sini, dalam Kisah Para Rasul 15, kita memiliki sidang khusus yang diadakan oleh para rasul gereja universal dan para penatua gereja lokal di Yerusalem. Kedua kelompok orang ini adalah pemimpin dalam gerakan Perjanjian Baru Tuhan di bumi. Dalam sidang itu tidak ada ketua, yang memimpin adalah Roh Kudus (ay. 28), Kristus yang pneumatik, Kepala gereja (Kol. 1:18) dan Tuhan dari semua orang (Kis. 10:36). Kisah Para Rasul 15:7 mengatakan, ”Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya.” Ini menunjukkan bahwa di dalam sedang itu setiap orang memiliki kebebasan berbicara. Keputusan diambil berdasarkan (1) kesaksian Petrus (ay. 7-11), (2) fakta-fakta yang diceritakan oleh Barnabas dan Paulus (ay. 12), dan (3) kata penutup oleh Yakobus, pemimpin di antara para rasul dan penatua di Yerusalem (12:17; 21:18; Gal. 1:19; 2:9) karena pengaruhnya atas kaum beriman oleh ketakwaannya.

CATATAN TENTANG PERSEKUTUAN

Ada orang mengira bahwa sidang dalam Kisah Para Rasul 15 itu adalah dewan gereja yang pertama. Itu adalah pemahaman yang salah. Di sini kita tidak memiliki satu dewan, melainkan satu perhimpunan untuk persekutuan, dengan Roh Kudus sebagai Yang memimpin. Kemudian dikatakan, ”Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami . . .” (ay. 28). Tidak ada pemungutan suara dan tidak ada otokrasi atau pun demokrasi. Otokrasi dan demokrasi tidak boleh ada di dalam kehidupan gereja. Sebaliknya, di dalam kehidupan gereja seharusnya hanya ada persekutuan di dalam Roh itu. Kisah Para Rasul 15 adalah satu catatan tentang persekutuan yang demikian.