PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PAULUS
(6)
Pembacaan Alkitab: Kis. 14:21b-28
Dalam berita ini kita akan melihat 14:21b-28.
MENGUATKAN MURID-MURID DAN MENUNJUK
PENATUA-PENATUA DI SETIAP GEREJA
Setelah Paulus dan Barnabas membawa kabar baik ke kota Derbe dan memperoleh banyak murid (ay. 20-21a), ”Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia” (ay. 21b). Ini bukanlah Antiokhia yang darinya mereka diutus keluar pada perjalanan ministri ini (13:1); tetapi ini adalah Antiokhia di Pisidia, Antiokhia di Asia Kecil.
Menguatkan Jiwa Murid-murid
Kisah Para Rasul 14:22 mengatakan bahwa Paulus dan Barnabas ”menguatkan jiwa murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Tl.) Di sini perhatian mereka bukanlah pada roh murid-murid, melainkan pada jiwa mereka. Jiwa manusia terdiri atas pikiran, emosi, dan tekad. Menguatkan jiwa murid-murid berarti menguatkan mereka: (1) dalam pikiran mereka, supaya mereka boleh mengetahui serta memahami Tuhan dan hal-hal tentang Tuhan (1 Kor. 2:16; Flp. 3:10); (2) dalam emosi mereka, su-paya mereka mengasihi Tuhan dan memiliki hati untuk kepentingan Tuhan (Mrk. 12:30; Rm. 16:4); (3) dalam tekad mereka, supaya mereka kuat untuk tinggal bersama Tuhan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan Tuhan (11:23; Kol. 1:10; 1 Tes. 4:1). Jadi, menguatkan jiwa murid-murid adalah menguatkan mereka dalam pikiran, emosi, dan tekad mereka.
Menasihati Murid-murid untuk Bertekun di dalam Kepercayaan
Menurut Kisah Para Rasul 14:22, Paulus dan Barnabas menasihati murid-murid untuk bertekun di dalam kepercayaan. Dalam 13:43 mereka menasihati kaum beriman untuk tetap hidup di dalam kasih karunia Allah, tetapi di sini mereka menasihati mereka untuk bertekun di dalam kepercayaan. Bertekun di dalam kepercayaan lebih sulit daripada tetap hidup di dalam kasih karunia Allah.
Seperti dalam 6:7, kepercayaan dalam 14:22 adalah kepercayaan obyektif. Ini mengacu kepada berbagai aspek tentang Kristus yang dipercayai oleh kaum beriman. Seluruh wahyu Perjanjian Baru tentang persona dan pekerjaan penebusan Kristus adalah kepercayaan ekonomi Perjanjian Baru Allah (Rm. 16:26).
Jika kita memahami apakah kepercayaan itu, maka kita akan menyadari bahwa bertekun di dalam kepercayaan adalah satu perkara yang lebih dalam daripada tetap hidup di dalam kasih karunia. Tetap hidup di dalam kasih karunia Allah adalah menikmati Allah Tritunggal. Tetapi untuk bertekun di dalam kepercayaan, kita bukan hanya perlu melatih roh kita untuk menikmati Allah Tritunggal, tetapi juga perlu melatih pikiran kita untuk mempelajari wahyu Perjanjian Baru, semuanya itu tercakup di dalam kepercayaan yang obyektif ini.
Hari ini banyak orang Kristen tidak mengenal apakah seluruh wahyu Perjanjian Baru mengenai ekonomi Allah. Betapa kasihannya situasi ini! Jika kita tidak mengenal apakah ini kepercayaan yang obyektif itu, kita pasti tidak dapat bertekun di dalamnya.
Nasihat rasul dalam 14:22 adalah satu kemajuan atas apa yang terdapat dalam 13:43. Kita telah melihat bahwa dalam 13:43 kaum beriman dihimbau untuk tetap hidup di dalam kasih karunia Allah; yaitu, mereka didorong untuk tetap hidup di dalam kenikmatan akan Allah Tritunggal sebagai kasih karunia. Sekarang dalam 14:22 mereka di-nasihati untuk bertekun di dalam kepercayaan; yaitu, me-reka didorong untuk mengenal dan bertekun di dalam wahyu yang sempurna mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, sebagai satu perkara yang sangat dalam dan tinggi.
Kaum beriman di Listra, Ikonium, dan Antiokhia telah menjadi kaum beriman selama kurang dari setahun. Ketika Paulus dan Barnabas mengunjungi kota-kota itu untuk kali pertama, gereja-gereja didirikan. Kemudian Paulus dan Barnabas pergi ke tempat-tempat lainnya dan akhirnya kembali ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia. Seperti yang telah kita lihat, mereka menasihati murid-murid di sana untuk bertekun bukan hanya di dalam kasih karunia, tetapi juga di dalam kepercayaan. Firman tentang tetap hidup di dalam kasih karunia Allah diberikan kepada orang-orang yang baru bertobat dalam pasal 13. Segera setelah mereka diselamatkan, mereka dihimbau oleh rasul-rasul untuk tinggal di dalam kenikmatan akan Allah Tritunggal. Kaum beriman di Listra, Ikonium, dan Antiokhia pasti tetap hidup di dalam kasih karunia Allah untuk sejangka waktu. Menurut apa yang ditunjukkan dalam Kisah Para Rasul 14, mereka pasti telah belajar cukup banyak tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah selama waktu itu. Apa yang mereka pelajari bagi mereka menjadi pengetahuan akan kepercayaan. Berdasarkan hal ini, para rasul menasihati mereka untuk bertekun di dalam kepercayaan.
Masuk ke dalam Kerajaan Allah
Harus Mengalami Banyak Sengsara
Kerajaan Hayat Ilahi
Dalam 14:22 kita melihat bahwa Paulus dan Barnabas memberi tahu murid-murid bahwa ”untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Banyak orang mengira bahwa Kerajaan Allah hanyalah suatu alam di mana Allah dapat memerintah atas orang-orang sebagai Raja. Menurut pemahaman ini, Kerajaan Allah hanya merupakan ruang lingkup di mana Allah memerintah atas umat-Nya. Saya tidak mengatakan bahwa pemahaman ini salah, tetapi ini dangkal dan alamiah.
Kerajaan Allah menjadi topik utama pemberitaan para rasul dalam amanat mereka setelah hari Pentakosta (8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31). Kerajaan Allah bukanlah kerajaan material yang terlihat oleh mata manusia, melainkan kerajaan hayat ilahi. Inilah perkembangluasan Kristus sebagai hayat ke dalam orang-orang beriman-Nya, sehingga membentuk suatu ruang lingkup yang di dalamnya Allah berkuasa dalam hayat-Nya.
Kristus sebagai Benih Hayat Ditaburkan ke dalam Kaum Beriman
Dalam Pelajaran-Hayat Markus kita telah menunjukkan bahwa Kerajaan Allah adalah Penyelamat (Luk. 17:21) sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman yaitu umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam, yakni kerajaan yang di dalamnya Allah dapat memerintah dalam hayat ilahi-Nya. Jalan masuk ke dalam kerajaan Allah adalah kelahiran kembali (Yoh. 3:5), dan perkembangan kerajaan adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat ilahi (2 Ptr. 1:3-11). Kerajaan adalah kehidupan gereja hari ini, yang di dalamnya kaum beriman yang setia hidup (Rm. 14:17), dan akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang sebagai satu pahala untuk diwarisi (Gal. 5:21; Ef. 5:5) oleh kaum salah pemenang dalam kerajaan seribu tahun (Why. 20:4, 6). Akhirnya, kera-jaan akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan Allah yang kekal, suatu alam kekal dari berkat kekal hayat kekal Allah, yang akan dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14).
Dalam ayat 22 Paulus menasihati kaum beriman yang bertekun di dalam kepercayaan untuk menyadari bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Apakah Anda mengira bahwa Paulus menganggap Kerajaan Allah hanya sebagai suatu alam di mana umat Allah berada di bawah pemerintahan-Nya, dan bahwa untuk masuk ke dalam alam ini kita harus mengalami banyak sengsara? Paulus mungkin telah memiliki pemikiran bahwa Kerajaan Allah adalah suatu alam yang di dalamnya Allah memerintah atas umat-Nya, tetapi ini jelas bukan pikiran utamanya mengenai Kerajaan Allah. Kita perlu ingat bahwa Paulus menasihati murid-murid yang agak matang. Mereka bukan hanya bertekun di dalam kasih karunia Allah, tetapi juga di dalam kepercayaan. Pesan untuk bertekun di dalam kepercayaan itu lebih dalam dan lebih tinggi daripada tetap hidup di dalam kasih karunia. Karena itu, orang-orang yang dinasihati Paulus dalam 14:22 adalah orang-orang yang telah sedikit belajar dalam hayat ilahi. Dalam memberi tahu mereka bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah mereka harus mengalami banyak sengsara, Paulus menganggap kerajaan itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar alam obyektif yang di dalamnya Allah memerintah sebagai Raja.
Lalu, apakah pikiran utama Paulus mengenai Kerajaan Allah ini? Jika kita ingin mengenal hal ini, kita perlu sadar bahwa menurut Perjanjian Baru, Kerajaan Allah bukanlah suatu alam materi, yang dapat dilihat. Sebenarnya, Kerajaan Allah adalah satu Persona, Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Ketika Dia ditanya oleh orang-orang Farisi tentang kerajaan, ”Yesus menjawab: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20-21). Konteks itu membuktikan, Kerajaan Allah adalah Penyelamat sendiri, yang ada di antara orang-orang Farisi ketika Dia ditanya oleh mereka. Di mana Penyelamat berada, di situ Kerajaan Allah berada. Inilah sebabnya Dia dapat mengatakan bahwa kerajaan itu ada di antara orang Farisi. Seperti yang ditunjukkan oleh perkataan Tuhan dalam Lukas 17:20, kerajaan ini tidak datang dengan tanda-tanda lahiriah, tetapi, kerajaan ini bersifat rohani, bukan kerajaan materi dan yang dapat dilihat.
Dalam empat kitab Injil Tuhan Yesus menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih kerajaan ke dalam murid-murid-Nya. Pengembangan benih kerajaan ini dimulai dari kitab Kisah Para Rasul dan berlanjut dalam semua surat kiriman. Pengembangan ini mencapai perampungannya penuaiannya dalam kitab Wahyu. Menurut perkataan Tuhan dan pemahaman Paulus, Kerajaan Allah bukanlah suatu alam materi. Sebaliknya, kerajaan ini bersifat rohani, ilahi, dan bahkan berpribadi. Kerajaan ini adalah Kristus sebagai benih yang ditaburkan ke dalam hati umat pilihan-Nya. Hati kita adalah tanah yang ke dalamnya benih kerajaan ini ditaburkan dan di dalamnya benih ini berkembang. Seperti yang telah kita tunjukkan, benih kerajaan ini ditaburkan dalam kitab Injil, kemudian benih ini berkembang dalam kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat kiriman, dan benih ini rampung dengan penuaiannya dalam kitab Wahyu. Inilah definisi yang tepat mengenai Kerajaan Allah.
Masuk ke dalam Kenikmatan yang Penuh akan Kristus yang Bangkit sebagai Kerajaan Allah
Setelah kita melihat bahwa Kerajaan Allah adalah Kristus sebagai benih yang ditaburkan ke dalam kita, yang berkembang, dan rampung di dalam suatu penuaian, kita perlu bertanya apakah arti masuk ke dalam kerajaan itu. Masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus sebagai kerajaan itu. Namun, kita mungkin tidak memahami apakah arti menikmati Kristus sebagai kerajaan. Seluruh dunia menentang umat Allah untuk masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus sebagai kerajaan. Agama Yahudi, misalnya, telah direbut dan dimanfaatkan oleh Iblis untuk menghalangi kaum beriman memasuki kenikmatan ini. Sepanjang abad, beberapa agama lainnya juga telah dipakai oleh musuh Allah untuk menghambat umat Allah masuk ke dalam kenikmat-an yang penuh akan Kristus yang almuhit sebagai Kerajaan Allah.
Kisah Para Rasul 1:3 memberi tahu kita bahwa selama empat puluh hari, Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada rasul-rasul dan berbicara kepada mereka ”tentang Kerajaan Allah.” Petrus dan seratus dua puluh orang itu telah dibawa kepada Tuhan, dan mereka telah menerima Roh esensial untuk hayat, kehidupan, dan keberadaan mereka. Mereka benar-benar pengikut-pengikut Yesus Kristus. Meskipun demikian, dalam Kisah Para Rasul 1 mereka belum masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus sebagai Kerajaan Allah, sebagai alam pemerintahan Allah. Mereka masih perlu masuk ke dalam alam kenikmatan yang penuh akan Kristus yang bangkit sebagai Kerajaan Allah. Pada hari Pentakosta, Petrus dan semua orang itu benarbenar masuk ke dalam alam inialam kenikmatan yang penuh akan Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebagai ruang lingkup yang di dalamnya Allah memerintah atas umat-Nya. Sewaktu Petrus memberitakan Injil dalam Kisah Para Rasul 2, pada dirinya dan rasul-rasul lain kita melihat gambaran Kerajaan Allah. Dalam Kisah Para Rasul 2 ada seratus dua puluh orang yang berada di dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebagai alam pemerintahan Allah. Alam yang demikian ini adalah Kerajaan Allah.
Segera setelah kaum beriman masuk ke dalam kenikmatan yang penuh akan Kristus sebagai Kerajaan Allah, agama Yahudi masuk untuk merusak kenikmatan ini. Jika dalam pasal 3-5, Petrus, Yohanes, dan kaum beriman lain-nya kelihatan lemah, mereka akan kehilangan kenikmatan yang penuh akan Kristus yang bangkit, dan akibatnya me-reka akan kehilangan Kerajaan Allah.
Dalam terang dari apa yang telah kita lihat mengenai Kerajaan Allah, sekarang marilah kita kembali kepada Kisah Para Rasul 14 dan bertanya, apakah murid-murid yang dinasihati Paulus telah masuk ke dalam alam kenik-matan yang penuh akan Kristus sebagai Kerajaan Allah. Tidak, kaum beriman itu belum masuk ke dalam kenik-matan itu; mereka masih berada dalam perjalanan. Karena itu, Paulus berpesan kepada mereka untuk masuk ke dalam alam kenikmatan yang penuh akan Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebagai kerajaan Allah. Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Aku telah memberitakan kepadamu Kristus yang bangkit sebagai kudus yang dapat dipercayai, sebagai kasih karunia Allah, sebagai hayat yang kekal, dan bahkan sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit. Kenik-matan yang penuh akan kasih karunia, hayat yang kekal, dan Roh itu adalah suatu alam, dan alam ini adalah Kerajaan Allah. Kamu belum masuk ke dalam alam ini kamu masih berada dalam perjalanan. Karena itu, aku menasihati, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kamu harus mengalami banyak sengsara. Kamu akan menerima penentangan dan bersiaplah untuk hal itu. Kamu akan menghadapi banyak sengsara. Tetapi melalui sengsara ini, kamu harus berusaha untuk masuk ke dalam alam kenik-matan yang penuh akan Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebagai Kerajaan Allah. Bila kamu memiliki kenik-matan akan Kristus yang demikian, kamu akan berada di bawah pemerintahan ilahi. Kemudian kamu akan menjadi Kerajaan Allah, yang adalah kehidupan gereja yang tepat.”
Kehidupan Gereja Pada Hari Ini
Roma 14 menunjukkan bahwa kehidupan gereja pada hari ini adalah Kerajaan Allah. Dalam pasal ini Paulus membicarakan mengenai kehidupan gereja. Kemudian dalam ayat 17 ia berkata, ”Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.” Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita semuanya adalah hasil dari kenikmatan akan Kristus yang almuhit sebagai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kehidupan gereja, dan kehidupan gereja adalah suatu alam kenikmatan akan Kristus yang bangkit dan naik ke surga.
Menetapkan Penatua-penatua di Setiap Gereja
Kisah Para Rasul 14:23 mengatakan, ”Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang kepada-Nya mereka percaya.” Frase ”di tiap-tiap jemaat” dalam 14:23 sama dengan ”di setiap kota” dalam Titus 1:5. Perbandingan dua frase ini tidak hanya menunjukkan bahwa batas wilayah suatu gereja lokal adalah kota tempat gereja itu berada, tetapi juga menunjukkan bahwa di dalam sebuah kota seharusnya hanya ada satu gereja. Kepenatuaan dari sebuah gereja lokal seharusnya meliputi seluruh kota tempat gereja itu berada. Kepenatuaan yang unik seperti ini dalam sebuah kota akan menjaga keesaan unik Tubuh Kristus dari pe-rusakan. Satu kota seharusnya hanya memiliki satu gereja dengan satu badan kepenatuaan. Tak diragukan lagi, pelaksanaan ini diilustrasikan dengan contoh yang jelas dalam Perjanjian Baru (Kis. 8:1; 13:1; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; Why. 1:11), dan merupakan satu syarat mutlak untuk memelihara tata tertib yang tepat dalam gereja lokal.
Tiap-tiap gereja di mana para penatuanya ditetapkan oleh para rasul dalam Kisah Para Rasul 14:23 itu, semuanya baru berdiri kurang dari satu tahun. Karena itu, para penatua yang ditetapkan dalam gereja-gereja ini belum begitu matang. Mereka dipandang sebagai penatua karena mereklah yang paling matang dibandingkan dengan lainnya. Mereka tidak dipilih melalui pemungutan suara, tetapi dipilih dan ditetapkan oleh rasul sesuai dengan kematangan hayat mereka dalam Kristus. Mereka dipesan oleh para rasul untuk memimpin dan menggembalakan dalam masing-masing gereja.
KEMBALI KE ANTIOKHIA,
MENGAKHIRI PERJALANAN KALI PERTAMA
Telah Diserahkan kepada Kasih Karunia Allah
Menurut 14:26, dari Atalia, Paulus dan Barnabas ”berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada anugerah (kasih karunia) Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan.” Kita telah menunjukkan bahwa kasih karunia ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45), untuk membawa Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam kebangkitan ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita, agar kita dapat hidup di dalam kebangkitan. Karena itu, kasih karunia adalah Allah Tritunggal menjadi hayat dan segala-gala bagi kita. Karena kasih karunia inilah, Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa (1 Tim. 1:15-16), telah menjadi rasul di antara segala rasul, bekerja lebih keras daripada semua rasul (1 Kor. 15:10). Ministri dan hidupnya yang bersandarkan kasih karunia ini merupakan kesaksian yang tidak dapat disangkal atas kebangkitan Kristus. Kasih karunia yang mendorong rasul dan yang bekerja di dalam-nya bukan suatu perkara atau benda. Melainkan satu pribadi yang hidup, yaitu Kristus yang bangkit, perwujudan Allah Bapa yang menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit, yang berhuni di dalam rasul dan menjadi segala sesuatu bagi rasul.
Perhimpunan untuk Persekutuan
Kisah Para Rasul 14:27 dan 28 menyimpulkan, ”Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu.” Dalam ayat 27 kita memiliki akhir dari perjalanan ministri Paulus kali pertama, yang dimulai dari 13:4.
Ketika Paulus dan Barnabas tiba di Antiokhia, mereka mengumpulkan gereja bersama-sama dan menceritakan segala sesuatu yang telah Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Perhimpunan ini adalah untuk bersekutu tentang pergerakan Allah dalam penyebaran Injil-Nya; bukan untuk memberi laporan tentang misi mereka.