← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 12/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(5)

Pembacaan Alkitab: Kis. 14:1-28

KITAB TENTANG EKONOMI ALLAH

Dalam Pelajaran-Hayat Kisah Para Rasul ini saya tidak terbeban membahas semua butir kecil yang terkandung dalam kitab yang panjang ini. Misalnya, saya tidak berbeban untuk membicarakan perkara seperti Daud adalah seorang manusia yang berkenan di hati Allah. Sebaliknya, beban saya dalam Pelajaran-Hayat ini adalah membahas semua butir penting mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dengan kata lain, saya memperhatikan semua hal dalam kitab Kisah Para Rasul yang mengandung makna zaman.

Saya tidak memakai kata ”zaman” (dispensasional) untuk menunjukkan suatu zaman atau cara Allah menanggulangi umat-Nya selama satu jangka waktu. Sebaliknya, dalam berita-berita ini kata ”zaman” menekankan pengaturan ilahi dalam ekonomi kekal Allah. Dalam kitab Kisah Para Rasul ada banyak hal yang berhubungan dengan pengaturan ilahi ini. Karena itu, kitab Kisah Para Rasul adalah satu kitab tentang ekonomi Allah. Banyak orang Kristen tidak memiliki pemahaman ini terhadap kitab Kisah Para Rasul. Kitab Kisah Para Rasul bukan hanya berkenaan dengan pergerakan rasul-rasul. Ini adalah satu kitab yang memperlihatkan kepada kita pengaturan zaman Allah, ekonomi Allah, pengaturan Allah dalam ekonomi kekal-Nya. Beban saya dalam berita-berita Pelajaran-Hayat ini adalah membahas perkara tentang ekonomi Allah dalam kitab Kisah Para Rasul.

Sewaktu saya membaca pasal tertentu dalam kitab Kisah Para Rasul, sasaran saya adalah melihat sesuatu mengenai pengaturan ilahi ekonomi Allah dalam pasal itu. Inilah sasaran saya sewaktu saya sampai ke pasal 14. Kelihatannya dalam pasal ini kita tidak melihat sesuatu mengenai pengaturan ilahi dalam ekonomi Allah. Tetapi jika kita mempelajari pasal ini dengan cermat, kita akan dapat melihat beberapa perkara yang berhubungan dengan peng-aturan ilahi ini.

KE IKONIUM

Kisah Para Rasul 14:1 mengatakan, ”Di Ikonium pun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang menjadi percaya, baik orang Yahudi maupun orang Yunani.” Seperti dalam 13:5 dan 14, mereka bukannya pergi menghadiri perkumpulan ibadat orang Yahudi, tetapi menggunakan perkumpulan itu untuk memberitakan firman Allah. Ayat 2 melanjutkan, ”Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, menghasut orang-orang bu-kan Yahudi dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara seiman itu.” Kata ”menghasut” di sini dalam bahasa aslinya adalah menggerakkan dan mencuri jiwa.

Firman Kasih Karunia Allah

Kisah Para Rasul 14:3 mengatakan, ”Jadi Paulus dan Barnabas tinggal agak lama di situ. Mereka berbicara dengan berani untuk Tuhan yang menguatkan berita tentang anugerah-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.” Seperti yang telah kita tunjukkan, anugerah atau kasih karunia Tuhan adalah Allah Tritunggal yang diterima dan dinikmati oleh kaum beriman dan diekspresikan dalam keselamatan mereka, perubahan hayat mereka, dan kehidupan mereka yang kudus.

Sewaktu Tuhan mempersaksikan firman kasih karunia-Nya, Dia mengaruniakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat untuk dilakukan melalui tangan Paulus dan Barnabas. Mujizat-mujizat dan tanda-tanda bukanlah bagian dari kesaksian inti Allah tentang Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga; ataupun bagian dari keselamatan-Nya yang sempurna. Sebaliknya, tanda-tanda dan mujizat-mujizat itu hanya merupakan bukti bahwa apa yang rasul beritakan dan layankan itu benar-benar berasal dari Allah, bukan dari manusia.

Frase ”firman kasih karunia-Nya” menekankan butir zaman tertentu. Di dalam rumah ibadat, orang Yahudi membaca Perjanjian Lama bukan untuk mengenal firman kasih karunia Tuhan. Sebaliknya, mereka membaca Kitab Suci untuk mengenal firman hukum Taurat Allah, firman milik dispensasi yang lama, milik pengaturan ilahi ekonomi Allah yang lampau. Tetapi firman kasih karunia Tuhan menggantikan hukum Taurat. Pikiran-pikiran orang-orang Yahudi di sinagoga itu diduduki dengan hukum Taurat. Tetapi Paulus memberitakan Kristus sebagai kasih karunia kepada mereka. Mereka membina kaum beriman yang baru dengan mempersaksikan firman hayat dan firman kasih karunia Tuhan. Kata ”bersaksi” dalam ayat 3 menunjukkan bahwa firman kasih karunia itu ada dan telah diberitakan. Karena firman kasih karunia telah diberitakan, maka kesaksian dibawa bersamanya.

Firman Kasih Karunia dalam Perjanjian Lama

Para rasul dapat mempersaksikan firman kasih karunia Tuhan sekalipun mereka hanya memiliki Perjanjian Lama. Dapatkah kita menemukan firman kasih karunia dalam Perjanjian Lama? Sebagai pengganti menemukan firman kasih karunia, orang-orang Yahudi memperhatikan firman hukum Taurat dengan semua perintahnya. Apa yang mereka miliki adalah firman hukum Taurat Allah, bukan firman kasih karunia Tuhan. Meskipun demikian, firman kasih karunia Tuhan sudah ada dalam Perjanjian Lama. Ini memungkinkan para rasul untuk bersaksi mengenainya.

Marilah kita mempertimbangkan beberapa contoh firman kasih karunia Tuhan yang ditemukan dalam Perjanjian Lama. Perhatikanlah Kejadian 3:15: ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Di sini kita melihat bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular. Bukankah ini satu firman kasih karunia Tuhan? Sungguh benar. Setelah Adam dan Hawa makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, mereka berusaha untuk menyembunyikan diri dari Allah. Suara Tuhan berbicara kepada Adam dan berkata, ”Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Adam dan Hawa takut, mungkin mengira Allah akan menghukum mati mereka. Tetapi sebagai pengganti dari firman kutukan atau penghakiman, Tuhan mengatakan firman kasih karunia. Dalam Kejadian 3:15 Allah mengutuk ular dan memberikan firman kasih karunia kepada Adam dan Hawa. Adam dan Hawa pasti sangat senang ketika mereka mendengar firman Tuhan dalam Kejadian 3:15. Mereka pasti membenci ular itu, dan sekarang Tuhan memberi tahu mereka bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular. Ini benarbenar satu firman kasih karunia.

Contoh firman kasih karunia lainnya yang ditemukan dalam Perjanjian Lama adalah Kejadian 12:2-3, di mana Allah berkata kepada Abraham, ”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat . . . dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Ini jelas bukan firman hukum Taurat; ini adalah firman kasih karunia. Orang-orang Yahudi di sinagoga itu buta secara rohani dan tidak dapat melihat firman kasih karunia Tuhan dalam Perjanjian Lama.

Contoh lainnya tentang firman kasih karunia Tuhan ditemukan dalam kitab Yesaya. Perhatikanlah Yesaya 7:14: ”Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan me-namakan Dia Immanuel.” Ini adalah firman kasih karunia. Firman kasih karunia lainnya ada dalam Yesaya 9:5: ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai.” Ini juga adalah satu contoh dari banyak firman kasih karunia di dalam Perjanjian Lama.

Pemberitaan Petrus dan Paulus

Kita telah melihat bahwa dalam Kisah Para Rasul pasal 13 Paulus menerapkan ”yang kudus yang dapat dipercayai yang diberikan kepada Daud” kepada Kristus yang bangkit (ay. 33-35). Paulus memahami hal-hal ini sebagai sesuatu yang mengacu kepada Kristus dalam kebangkitan. Siapakah selain Paulus yang dapat memahami bahwa yang kudus yang dapat dipercayai yang diberikan kepada Daud itu mengacu kepada Kristus yang bangkit? Paulus adalah ”pekerja tambang” yang terbaik, orang yang paling mampu menggali kedalaman-kedalaman dari Perjanjian Lama untuk menemukan kekayaan firman kasih karunia Tuhan.

Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus memberikan satu berita yang sangat baik mengenai Kristus yang bangkit. Ketika Anda membaca Kisah Para Rasul pasal 2, Anda mungkin sangat terkesan terhadap berita Petrus. Tetapi dulu, apakah Anda memiliki satu apresiasi yang memadai terhadap pemberitaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 13? Banyak pembaca kitab Kisah Para Rasul yang tidak mengapresiasi berita ini dengan tepat karena mereka tidak melihat apa yang diwahyukan di dalamnya mengenai Kristus di dalam kebangkitan. Memang, pemberitaan Petrus dalam pasal 2 itu sangat baik, tetapi agak dangkal. Namun pemberitaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 13 itu sangat dalam dan menakjubkan.

Dalam pemberitaannya ini Paulus menunjukkan bahwa dalam kebangkitan, Kristus menjadi Putra sulung Allah. Paulus menerapkan Mazmur 2:7 kepada Kristus yang bang-kit untuk menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus adalah suatu kelahiran. Kita mungkin tidak menyadari bahwa kebangkitan Kristus adalah kelahiran-Nya. Pernahkah Anda mendengar hal ini? Menurut Alkitab, dalam kebangkitan, Kristus dalam keinsanian-Nya dilahirkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung-Nya. Putra tunggal Allah adalah untuk perwujudan hayat ilahi, sedangkan Putra sulung Allah adalah untuk perkembangbiakan hayat ilahi. Sebenarnya, kita dilahirkan bersama Kristus di dalam kebangkitan-Nya. Karena itu, dalam hal ini, kebangkitan Kristus adalah suatu kelahiran universal. Butir yang kita tekankan di sini adalah Paulus menggali kebenaran dari Perjanjian Lama bahwa Kristus di dalam kebangkitan-Nya dilahirkan untuk menjadi faktor perkembangbiakan hayat ilahi. Di dalam kebangkitan Dia dilahirkan untuk menjadi Putra sulung Allah bagi reproduksi perkembangbiakan dari hayat ilahi.

Di dalam ”penambangannya” terhadap firman Tuhan, Paulus juga menemukan bahwa Kristus di dalam kebangkitan-Nya menjadi yang kudus, yang dapat dipercayai yakni semua yang setia dan yang pasti, yang diberikan kepada Daud. Paulus menyadari, bahwa ”belas kasihan yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud” (Yes. 55:3, Tl.) mengacu kepada Kristus di dalam kebangkitan-Nya. Hari ini ada beberapa orang yang senang menyanyikan Mazmur 89:2: ”Aku hendak menyanyikan belas kasihan TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulut-ku turun temurun” (Tl.) Namun, orang-orang yang menyanyikan mazmur ini mungkin tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang apakah belas kasihan itu. Mereka mungkin mengira belas kasihan adalah suatu perasaan kasihan yang Allah miliki terhadap kita. Tetapi menurut pemahaman Paulus, belas kasihan Tuhan adalah Kristus di dalam kelahiran-Nya yang kedua, yaitu Kristus di dalam kebangkitan-Nya. Penggalian Paulus ke dalam firman ini menakjubkan dan kita mengagumi pelajarannya akan kitab Suci. Dalam hal menggali ke dalam firman ini, tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengannya. Dalam Kisah Para Rasul 13 Paulus memberitakan Kristus yang almuhit.

Orang-orang Yahudi membaca Perjanjian Lama di rumah-rumah ibadat turun temurun. Tetapi apa yang mereka dengar adalah firman perintah Allah, bukan firman kasih karunia Tuhan. Namun, ketika Tuhan Yesus mem-beritakan yobel Perjanjian Baru dalam Lukas 4, Dia memilih firman kasih karunia dari kitab Yesaya.

Kita perlu melihat makna dari ungkapan ”firman kasih karunia-Nya” dalam Kisah Para Rasul 14:3. Frase ini adalah satu petunjuk yang kuat tentang perubahan zaman, perubahan pengaturan Allah di dalam ekonomi-Nya.

Dalam pasal 13 pemberitaan Paulus kepada orang Yahudi terutama berdasar pada wahyu dalam Perjanjian Lama mengenai Kristus. Tetapi, pemberitaannya dalam pasal 14 adalah kepada orang Kafir. Sewaktu kita melihat pasal ini, kita akan melihat hikmat Paulus dalam memberitakan Injil kepada orang Kafir. Pemberitaan Paulus kepada orang Kafir dalam pasal ini bukan berdasar pada wahyu Perjanjian Lama mengenai Kristus, melainkan ini berdasar pada penciptaan Allah.

KE LISTRA DAN DERBE DI LIKAONIA

Reaksi Orang Banyak

Ketika rasul-rasul tahu ”orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu” (ay. 5), mereka ”menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil” (ay 6-7). Paulus melihat seorang lumpuh dan berkata kepadanya, ”Berdirilah tegak! Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian kemari” (ay. 10). Menurut ayat 11-12, “Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia: Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia. Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara.” Kata Latin Zeus, adalah allah pemimpin dalam mitologi Yunani, sama dengan Yupiter dalam mitologi Romawi. Hermes, utusan allah, sama dengan Merkurius dalam mitologi Romawi. Dalam ayat 13 kita diberi tahu ”Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, mem-bawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban besama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.”

Reaksi Rasul-rasul

Ketika Barnabas dan Paulus mendengar hal ini, mereka ”mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: Hai, kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” (ay 14-15). ”Perbuatan sia-sia” di sini mengacu kepada berhala dan penyembahan berhala. Di sini Paulus dan Barnabas berkata, ”Jangan menganggap kami sebagai allah dan menyembah kami! Kami adalah manusia sama seperti kamu. Kamu harus berpaling dari perbuatan sia-sia ini, dari berhala-berhala ini, kepada Allah yang hidup, yang menjadikan langit, bumi, laut, dan segala yang ada di dalamnya.” Di sini kita melihat bahwa pemberitaan Paulus kepada orang Kafir ini berdasar pada penciptaan Allah.

Perbedaan Pemberitaan Injil Paulus terhadap Orang Yahudi dan Orang Kafir

Dalam ayat 16 Paulus dan Barnabas melanjutkan mengatakan bahwa Allah ”Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing.” Kemudian dalam ayat 17 mereka mengucapkan perkataan yang menjamah, perkataan untuk menjamah hati para pendengar: ”namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Ini adalah pemberitaan Injil yang sangat baik. Pemberitaan ini berdasar pada penciptaan Allah, dan akhirnya pemberitaan ini menjamah hati para pendengarnya. Perkataan ini singkat, tetapi menyingkapkan dan menjamah.

Kita semua perlu belajar dari Paulus dalam memberitakan Injil. Dalam pasal ini ia tidak menceritakan kisah-kisah. Sebaliknya, ia memberikan satu berita singkat yang menyingkapkan Allah sebagai Pencipta alam semesta ini. Ia juga mengucapkan perkataan yang penuh ilham yang menjamah hati orang. Paulus seolah-olah berkata, ”Dari zaman ke zaman, Allah membiarkan kamu berjalan menurut jalan mu sendiri. Dia tidak menghukummu, tetapi Dia melakukan banyak kebaikan terhadapmu. Dia memberi hujan dari langit dan musim-musin subur, Dia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Marilah kita semua belajar dari Paulus dan mengikuti caranya memberitakan Injil.

Dalam Kisah Para Rasul 13, Paulus memberitakan menurut Perjanjian Lama yang dikenal oleh orang Yahudi dari satu generasi ke generasi lain. Sebagai pengganti menunjukkan tentang penciptaan Allah dan kebaikan yang dilakukan Allah bagi mereka, Paulus membicarakan Kristus di dalam kebangkitan kepada mereka. Dari hal ini kita melihat bahwa jika kita memberitakan Injil kepada orang-orang yang mengenal Perjanjian Lama, kita tidak perlu memberi tahu mereka bahwa Allah adalah Pencipta. Jika kita mengatakan hal ini, mereka mungkin menjawab, ”Kami sudah tahu bahwa Allah itu Pencipta. Kami dapat mengajari Anda tentang hal ini.”

Sangat penting bagi kita untuk melihat bahwa pemberitaan Injil Paulus dalam pasal 14 berbeda dengan pemberitaannya dalam pasal 13. Dalam pasal 13, ia berbicara kepada orang-orang Yahudi, sedangkan dalam pasal 14, ia berbicara kepada orang-orang Kafir. Ketika memberitakan kepada mereka, Paulus memberi tahu mereka bahwa Allah adalah Pencipta dan bahwa Dia selalu baik kepada mereka, memberi mereka hujan dan panenan, supaya hati mereka penuh dengan sukacita. Di sini kita melihat bahwa Paulus memberitakan Injil dengan sangat berhikmat dan baik.