DILAHIRKAN DARI ROH ITU UNTUK MENERIMA ROH ITU (2)
Pembacaan Alkitab:
Gal. 4:29; 3:2, 5, 14; Yoh. 3:6b; 7:39;
14:17; 20:22; 6:63; Rm. 8:15b; Ef. 6:17-18;
1Tes. 5:17-19; 1Kor. 6:17; Mat. 10:19-20
TUJUAN AKHIR ALLAH
Hal yang paling penting dan rahasia yang diwahyukan dalam Alkitab ialah bahwa tujuan akhir Allah adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Kedambaan Allah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita merupakan titik inti dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci. Karena hal ini begitu rahasia, ia tersembunyi di dalam Alkitab; walau tidak seluruhnya tersembunyi. Di satu pihak, ia memang merupakan satu rahasia; tetapi di pihak lain, rahasia ini telah diwahyukan dalam Alkitab.
Orang-orang Kristen sepanjang abad tidak nampak hal ini dengan jelas. Sebagian besar pembaca Alkitab hanya menaruh perhatian mereka pada banyak hal yang di luar butir yang terpenting dan rahasia dalam wahyu ilahi ini.
Kita akui, untuk nampak butir yang sangat penting dalam Alkitab ini tidaklah mudah. Seperti halnya hayat jasmani seseorang itu rahasia dan tersembunyi di dalamnya, begitu pula dengan hal tujuan Allah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Hal ini tersembunyi di dalam firman. Hayat adalah unsur yang paling penting dalam diri seseorang. Tetapi siapa yang mampu menganalisisnya atau menjelaskannya dengan tepat? Seperti halnya diri manusia, banyaklah perkara dalam Alkitab yang berada di luar dan yang mudah dikenali. Namun ada pula unsur-unsur yang tersembunyi, yang boleh kita sebut sebagai faktor hayat dalam Kitab Suci. Kita dapat mengatakan bahwa faktor hayat ini adalah Kristus atau Roh itu. Tetapi faktor hayat ini dalam Alkitab sebenarnya adalah tujuan Allah untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Ini adalah inti Alkitab.
Banyak ahli teologi dan guru Alkitab tidak nampak inti Alkitab. Dalam tulisan mereka, mereka membicarakan banyak hal lainnya, namun mereka tidak menyebutkan faktor hayat yang mendasar ini. Mereka tidak menunjukkan dengan pasti dan khusus bahwa menurut wahyu ilahi dalam Alkitab, tujuan Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Inilah alasannya dalam pemulihan Tuhan kita menyampaikan berita demi berita. Sekalipun sudah ratusan berita mengenai tujuan Allah ini telah kita sampaikan, saya tetap tidak percaya bahwa semua orang saleh telah memiliki pengertian yang memadai terhadap hal ini, atau semuanya telah benar-benar nampak hal ini. Saya dapat bersaksi bahwa visi tujuan kekal Allah ini tidak pernah sejelas yang sekarang ini. Selama tahun-tahun ini, visi ini telah menjadi sangat jelas. Tujuan Allah benar-benar ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam kita.
DUA HADIAH DAN DUA TRAGEDI
Allah telah memberi kita dua hadiah besar yang oleh-nya Ia menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, yaitu Roh itu dan Firman. Kedua hadiah tersebut sebenarnya adalah Allah sendiri. Allah adalah Roh dan Allah juga Firman. Injil Yohanes adalah sejilid kitab yang dengan jelas mewahyukan Allah, Roh, dan Firman. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Menurut Yohanes 1:14, Firman, Allah itu sendiri, telah menjadi daging. Akhirnya, Firman yang berinkarnasi ini telah disalibkan, dan setelah kebangkitan-Nya, Adam yang akhir ini menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45b). Injil Yohanes juga menghubungkan Firman dan Roh. “Rohlah yang menghidupkan” kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:63, dan “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hidup.” Allah adalah hayat, Roh adalah hayat, Firman juga adalah hayat. Menurut Injil Yohanes, ketiganya adalah satu. Allah adalah Firman, Firman adalah Roh, dan Roh adalah Allah.
Jika Anda mengamati sejarah gereja, Anda akan nampak bahwa sepanjang abad telah terjadi dua tragedi, yang pertama berkaitan dengan Firman, dan yang berikutnya berkaitan dengan Roh itu. Tujuan Allah ialah supaya Alkitab dipakai untuk menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam umat pilihan-Nya. Tetapi banyak guru Kristen telah mengabaikan penggunaan Alkitab yang sewajarnya ini dan telah menggunakannya sebagai sejilid kitab pengetahuan belaka, bukan sebagai kitab hayat demi penyaluran ilahi ini. Opini-opini dan penafsiran-penafsiran yang berbeda atas Alkitab telah mengundang perselisihan dan perdebatan. Banyak di antara perdebatan-perdebatan itu berpusat pada soal Kristologi, yakni pengkajian teologis tentang persona Kristus. Dalam argumentasi atas persona Kristus itu ada guru-guru besar, termasuk bapa-bapa gereja tertentu yang mengabaikan persona Kristus yang hidup. Mereka lebih banyak menaruh perhatian terhadap Kristologi daripada Kristus sendiri. Tujuan Allah ialah supaya Alkitab menjadi pohon hayat, namun dalam penggunaan Alkitab mereka, ada guru-guru tertentu beralih kepada pohon pengetahuan. Hal tersebut pertama-tama membawa diri mereka sendiri kepada kematian, kemudian mereka menyebarkan kematian itu ke dalam gereja.
Hari ini masih saja terdapat silang pendapat tentang berbagai masalah dalam Alkitab di kalangan orang-orang Kristen. Ambil saja contoh baptisan. Siapa dapat menghitung berapa banyaknya perpecahan yang telah terjadi akibat opini yang berbeda-beda mengenai baptisan? Di antaranya ada perdebatan tentang jenis air yang dipakai, tentang cara memasukkan orang ke dalam air, dan tentang nama yang ke dalamnya orang dibaptiskan. Betapa menyedihkan, firman telah digunakan sedemikan rupa sehingga menjadi faktor perpecahan! Firman itu telah dipakai untuk menceraiberaikan orang Kristen menjadi ribuan kelompok. Tetapi Alkitab itu sendiri tidak bisa dipersalahkan karenanya. Kesalahannya ada pada orang-orang yang menaruh perhatian pada pengetahuan, tetapi mengabaikan Persona yang hidup itu.
Tragedi kedua yang terjadi dalam sejarah gereja berhubungan dengan Roh itu. Mengenai Alkitab dan penafsirannya, telah terjadi perpecahan, sedangkan mengenai Roh itu telah mengundang kekacauan. Karena kekacauan itu, banyak orang Kristen fundamental enggan mendengarkan tentang Roh itu. Ada beberapa yang benar-benar takut menyebut Roh itu, menganggap Roh itu sesuatu yang terlalu rahasia untuk dibicarakan. Pengabaian sedemikian terhadap Roh benar-benar suatu tragedi!
HUBUNGAN ORGANIK YANG INTIM
Jika kita tidak menerima firman dan Roh itu, dengan cara apakah Allah tergarap ke dalam kita? Jika Allah hanya berada di atas takhta di surga sebagai obyek penyembahan bagi kita, bagaimana Ia dapat menjadi hayat kita dan bagaimana Ia dapat tergarap ke dalam diri kita? Kalau Ia hanya berada di surga, tidak mungkin pula kita dilahirkan dari Dia.
Yohanes 1:12-13 menunjukkan bahwa orang-orang yang menerima Tuhan Yesus dilahirkan dari Allah. Kelahiran mengandung suatu hubungan organik yang intim. Karena kita dilahirkan dari orang tua kita, maka kita memiliki hubungan organik yang intim dengan mereka. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, maka sesungguhnya Allah telah dilahirkan ke dalam kita. Inilah yang menjadikan kita anak-anak Allah. Kalau kita tidak dilahirkan dari Allah, mana mungkin kita menjadi anak-anak Allah? Menurut Alkitab, kita bukanlah anak menantu Allah juga bukan anak angkat-Nya. Sebagai orang-orang yang dilahirkan Allah, kita adalah anak-anak Allah dalam hayat. Dalam Yohanes 3:6 Tuhan Yesus menyatakan, “Yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Tl.). Sekali lagi kita katakan, kita telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu.
MENERIMA ALLAH TRITUNGGAL
YANG TELAH MELALUI PROSES
Dalam berita di depan, perkara dilahirkan dari Roh itu telah kita bahas dengan jelas. Namun saya tidak yakin kita semua telah jelas tentang bagaimana menerima Roh itu. Kata “menerima” ini dipakai di banyak tempat dalam Perjanjian Baru (Yoh. 7:39; 20:22; Rm. 8:15; Ef. 6:17). Dalam Kitab Galatia Paulus membicarakan dengan tegas tentang menerima Roh itu (3:2, 14). Roh yang telah kita terima dan yang terus kita terima itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ada orang mungkin menolak pernyataan ini dan menyatakan bahwa Roh itu hanya menunjuk kepada Roh Kudus, yakni yang ketiga dari ke-Allahan, bukan Allah Tritunggal itu sendiri. Namun berdasarkan Perjanjian Baru, teristimewa dalam Surat-surat Kiriman Paulus, Roh yang kita terima adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses.
Ada orang yang mencari-cari kesalahan atas kata “telah melalui proses” dan membantah bahwa Allah mustahil dapat melalui proses, sebab Ia bersifat kekal dan tidak berubah. Walaupun Allah itu kekal dan tidak berubah, namun Ia telah melewati suatu proses. Bukankah inkarnasi itu suatu proses? Dari kekekalan yang lampau hingga sebelum inkarnasi Kristus, Allah tidak memiliki tubuh daging. Namun, ketika Ia dilahirkan di malaf, Ia adalah Allah yang Mahakuasa yang berinkarnasi menjadi seorang bayi. Berdasarkan Yesaya 9:5, anak yang telah dilahirkan bagi kita itu disebut Allah yang Perkasa. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, anak ini, yaitu Allah yang berinkarnasi, hidup dalam keluarga tukang kayu selama bertahun-tahun. Bayangkan, Sang Pencipta alam semesta hidup di rumah tukang kayu di Nazaret! Bukankah ini suatu proses? Demikian pula, bukankah penyaliban dan kebangkitan juga suatu proses? Allah benar-benar telah melalui proses melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan Kristus. Allah kita hari ini bukan lagi Allah yang “mentah”, melainkan Allah yang telah melalui proses. Hari ini Ia adalah Roh pemberi hayat yang almuhit.
Orang-orang yang hanya memperhatikan perdebatan tentang konsepsi yang doktrinal telah mengabaikan Persona hidup dari Allah Tritunggal ini. Alangkah menyedihkan! Roh yang kita terima dan yang terus-menerus kita terima adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses bagi kita. Roh itu adalah Roh almuhit, Roh yang majemuk. Ketika kita menerima Roh itu, kita menerima Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh. Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Jangan beranggapan bahwa ketika kita menerima Roh itu, kita hanya menerima Roh Kudus, tidak menerima Bapa dan Putra. Tidak, ketika kita menerima Roh itu, kita menerima Allah Tritunggal.
Sebuah kata depan (preposisi) yang dipakai dalam Injil Yohanes menunjukkan bahwa Putra tidak saja datang dari Allah, tetapi dari dan bersama Allah (Yoh. 6:46; 7:29; 16:27). Ketika Putra datang, Ia tidak meninggalkan Bapa. Sebaliknya, Ia datang bersama Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak sendirian, sebab Bapa bersama dengan Dia (Yoh. 16:32). Sebagaimana Bapa datang bersama dengan Putra ketika Putra datang dari dan dengan Bapa, demikian pula Roh itu datang bersama Bapa dan Putra. Bapa, Putra, dan Roh itu tidak mungkin dipisah-pisahkan, sebab Mereka adalah satu. Roh itu adalah realisasi Putra, dan Putra adalah perwujudan Bapa. Memiliki salah satu dari Allah Tritunggal berarti memiliki ketiga-tiganya. Ketiganya itu tidak terpisahkan. Puji Tuhan karena ketika kita menerima Roh itu, kita pun menerima Bapa dan Putra!
PERNAFASAN ROHANI
Sekarang kita tiba pada hal yang sangat penting mengenai bagaimana menerima Roh itu. Berdasarkan pengalaman Anda, bagaimana Anda menerima Roh itu? Kehidupan kristiani yang wajar adalah kehidupan yang menerima Roh itu secara terus menerus. Kehidupan jasmani kita adalah satu contoh dari hal ini. Kehidupan jasmani tergantung pada pernafasan. Kehidupan kita adalah kehidupan bernafas. Begitu seseorang berhenti pernafasannya, ia akan segera mati. Hari ini banyak orang Kristen yang pernafasan rohaninya telah berhenti, karena itu kehidupan rohani mereka telah macet. Bernafas secara rohani berarti terus-menerus menerima Roh itu.
Cara yang terutama untuk menerima Roh itu dengan tidak henti-hentinya ialah berdoa. Dalam 1Tesalonika 5:17 Paulus menyuruh kita berdoa dengan tidak henti-hentinya. Tetapi ini bukan berarti kita harus berdoa dengan pikiran kita bagi keperluan-keperluan material, melainkan kita harus menggunakan roh kita untuk berseru kepada Tuhan. Keperluan kita yang terbesar adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Dari saat ke saat kita perlu Roh itu. Karena itu kita perlu terus-menerus menggunakan roh kita untuk berseru kepada Tuhan. Banyak di antara kita dapat bersaksi, ketika kita berseru kepada Tuhan dari lubuk batin kita, mengatakan bahwa kita mengasihi Dia, kita menghirup udara rohani yang segar. Kita menghirup pneuma, yakni Roh itu. Selaku orang Kristen, kita harus menjadi pneumatis (dipenuhi udara), yaitu penuh dengan pneuma, penuh dengan Roh itu. Roh itu adalah udara surgawi untuk kita hirup. Melalui menggunakan roh untuk berseru kepada Tuhan, kita menghirup Roh itu dan karenanya kita menerima Roh itu.
Bertahun-tahun lamanya saya dibingungkan oleh perkataan Paulus dalam 1Tesalonika 5:17 tentang berdoa dengan tidak henti-hentinya. Saya sama sekali tidak mengetahui bagaimana saya dapat berdoa dengan tidak hentihentinya. Akhirnya saya baru mengetahui bahwa berdoa tidak lain adalah bernafas. Sebagaimana pernafasan jasmani kita tidak dapat berhenti, demikian juga pernafasan rohani kita tidak dapat berhenti. Ini berarti kita harus membina kebiasaan menggunakan roh kita untuk berdoa secara terus-menerus. Unsur pokok dalam menerima Roh itu dari saat ke saat adalah kita berseru kepada Tuhan dengan roh kita.
MENGGUNAKAN ALKITAB SECARA TEPAT
Seperti telah kita tunjukkan, kita dapat menerima Roh itu melalui menggunakan Alkitab secara tepat. Namun, sebagian besar orang Kristen ketika membaca Alkitab, lebih banyak menggunakan pikiran mereka daripada roh mereka. Ini merupakan kekeliruan yang serius. Membaca Alkitab tanpa berdoa berarti menjadikan Alkitab sebuah buku pengetahuan dengan huruf-huruf yang mati. Setiap kali kita membaca Alkitab, kita perlu berdoa. Efesus 6:17-18 mengatakan, “Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus” (Tl.). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita harus menerima firman Allah dengan doa. Mari kita mengambil Yohanes 1:1 sebagai contoh. Kita mungkin akan tergoda menggunakan pikiran alamiah kita untuk mengajukan pertanyaan yang doktrinal tentang ayat ini. Kita mungkin bingung apakah artinya pada mulanya, dan bertanya tentang perbedaan antara Firman dan Allah. Kita pun mungkin bertanya lagi bagaimana Firman itu dapat bersama dengan Allah dan juga adalah Allah. Kalau kita hanya mengajukan pertanyaan tentang ayat ini, mustahillah kita menerima Roh itu. Tetapi kalau kita berdoa dengan perkataan Yohanes 1:1 ini, kita akan menerima Roh itu; sebab dalam pengalaman kita, firman itu akan menjadi roh.
DISEMBUHKAN MELALUI SUPLAI ROH ITU
Saya tahu akhir-akhir ini ada seorang saudara menasihati saudara lain, dengan berkata bahwa ia dapat mengatasi perasaan teraniaya sewaktu ia menjadi penatua kalau ia mengakui seluruh pengalaman yang menimpa dirinya terjadi sesuai dengan kedaulatan Tuhan. Kelihatannya itu adalah nasihat yang baik, suatu ajaran sehat yang sesuai dengan Roma 8:28. Nampaknya tidak ada salahnya menasihati seorang saudara untuk mengatasi perasaan teraniaya dengan mengakui setiap perkara yang menimpa adalah sesuai dengan kedaulatan Allah. Akan tetapi nasihat semacam itu boleh jadi mendorong orang menjadi agamis, dan tidak membantu mereka dalam hayat. Kalau saudara yang telah dianiaya itu menerima nasihat itu dari seorang yang nampaknya begitu berpengetahuan dan yang nampaknya sangat mengenal kedaulatan Allah, ia mungkin bisa menjadi seorang pahlawan yang agamis, tetapi bukan seorang yang menerima Roh itu. Ia mungkin dapat bermegah bahwa sekalipun ia dianiaya, ia tetap mengakui bahwa hal itu menimpa dirinya karena kedaulatan Tuhan, dan karenanya ia tidak menyalahkan siapa pun. Dalam kasus ini saudara itu dibantu secara doktrinal sehingga menjadi seorang yang agamis, tetapi ia tidak dibantu untuk menerima Roh itu. Sebenarnya, dalam menerapkan doktrin tentang kedaulatan Allah semacam ini saudara itu telah mempraktekkan pertapaan (rialat). Cara yang wajar untuk membantu orang yang menderita aniaya ialah menganjurinya membuka diri kepada Tuhan dan berkontak dengan-Nya. Ia tidak perlu memperhatikan aniaya, tetapi haruslah berkonsentrasi pada Tuhan sendiri. Bahkan jangan sampai ajaran-ajaran tentang kedaulatan Allah itu menyimpangkannya dari Tuhan. Bila ia terbuka kepada Tuhan dan mengontak Dia, ia akan menerima Roh itu lebih banyak. Akibatnya, kesulitannya tentang aniaya yang lampau itu akan usai. Kita tidak perlu doktrin untuk membina kita menjadi pahlawan yang agamis. Kita perlu Roh pemberi hayat mengalir ke dalam kita untuk membunuh hal-hal yang negatif, yaitu “kuman-kuman”, dan menyuplai kita dengan hayat. Hanya Roh pemberi hayatlah yang dapat membunuh kuman-kuman di dalam kita dan membuat kita sehat secara rohani. Melalui suplai dari Roh itu, segala penyakit rohani kita akan disembuhkan. Karena itu, dari hari ke hari kita perlu lebih banyak menerima Roh itu.
BUKAN AJARAN-AJARAN AGAMA, MELAINKAN
MENERIMA ROH ITU
Contoh lainnya dari cara yang tepat untuk menerima Roh itu berkaitan dengan kehidupan pernikahan. Dalam sebuah upacara pernikahan, seorang pendeta biasanya memberi pesan kepada mempelai perempuan agar menaati suaminya dan mempelai laki-laki agar mengasihi istrinya sesuai dengan Efesus 5. Walaupun kedua mempelai itu dapat berjanji kepada sang pendeta bahwa mereka akan melaksanakan pesan itu, namun mereka dapati bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Bagaimanapun mereka mencoba, akhirnya sang istri tidak dapat taat, sang suami juga tidak dapat mengasihi. Bila ajaran tentang taat kepada suami dan mengasihi istri ini terpisahkan dari konteks Efesus 5, yaitu tentang dipenuhi dalam roh, maka pelaksanaannya tidak akan terjadi. Namun, suami dan istri sebenarnya tidak usah berusaha mengasihi atau menaati, mereka cukup mengontak Tuhan secara langsung, dan menggunakan roh menyeru nama Tuhan. Jika mereka berbuat demikian, mereka akan menerima Roh itu, dan Roh itu akan menjadi suplai mereka. Lalu dengan spontan istri akan taat kepada suaminya, dan suami akan mengasihi istrinya. Mereka tidak akan dipersulit oleh ajaran-ajaran agama, sebaliknya akan tersuplai dengan hayat melalui menerima Roh itu. Ini adalah contoh lain dari fakta bahwa yang kita perlukan bukan doktrin yang membuat kita agamis, melainkan menerima Roh itu agar kita dapat memiliki hayat.
MENDOA-BACAKAN FIRMAN DALAM ROH
Kita semua perlu membaca Alkitab, tetapi kita harus menggunakan roh kita ketika kita membacanya. Ini berarti ketika kita membaca Alkitab kita harus berdoa. Kalau kita membaca Alkitab tanpa berdoa, kita akan menyalahguna-kannya. Membaca firman Tuhan dengan berdoa itulah mendoabacakannya. Praktek ini bukan penemuan kita. Sepanjang abad banyak orang saleh yang mempraktekkan berdoa dengan firman Alkitab. Menurut Efesus 6:17-18, kita seharusnya menerima firman Allah dengan berdoa.
Selain itu, kita wajib berdoa setiap waktu di dalam roh. Kalau kita menerima firman secara demikian, kita akan menerima Roh itu, sebab firman adalah roh. Jangan menerima Alkitab hanya sebagai kitab doktrin dan ajaran. Kebutuhan kita yang mendesak dewasa ini bulanlah menerima lebih banyak doktrin, melainkan lebih banyak berkontak langsung dengan Allah Tritunggal. Janganlah kita memisahkan Alkitab dari Roh itu. Dalam pengalaman Anda, kedua hal ini seharusnya adalah satu. Jika Anda menganggap firman dan Roh itu satu dan menerima firman dengan berdoa melalui menggunakan roh Anda, niscayalah Anda akan menerima suplai Roh itu.
Saya ingin menekankan fakta ini, yakni ketika kita berdoa haruslah kita menggunakan roh kita. Jika kita berjalan, kita menggunakan kaki kita; jika kita melihat, kita menggunakan mata kita. Seprinsip dengan itu, jika kita berdoa, kita perlu menggunakan roh kita. Jangan berdoa hanya menurut angan-angan kita. Kalau kita berdoa dengan menggunakan roh kita tatkala kita membaca firman, kita pasti menerima Roh itu.
TUJUAN ALLAH DALAM KELAHIRAN KEMBALI
Sebelum kita dilahirkan kembali, roh kita hampa. Tetapi sekarang karena kita telah dilahirkan dari Roh itu, kita dapat menerima Roh itu. Tujuan Allah dalam melahirkan kita kembali ialah agar roh kita dapat berfungsi, tidak henti-hentinya menerima Roh itu. Hidup dan perilaku orang Kristen yang wajar bukanlah menurut doktrin yang telah dipelajari, melainkan menurut Roh itu dan melalui suplai Roh yang limpah lengkap (Flp. 1:19). Hari demi hari bahkan saat demi saat, kita harus terbuka untuk menerima Roh itu dan menggunakan roh kita melalui berseru kepada Tuhan untuk menerima Roh itu. Saya menjamin Anda, kalau Anda beralih dari sekadar mempelajari doktrin saja kepada menerima Roh itu, Anda akan nampak suatu perubahan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Banyak hal negatif akan tertelan, dan Anda akan disembuhkan serta ditransformasi.
BERALIH DARI DOKTRIN KE ROH ITU
Orang-orang yang telah bertahun-tahun dalam pemulihan Tuhan telah mempelajari banyak doktrin dan ajaran tentang pemulihan. Mereka telah memperoleh banyak pengetahuan. Namun yang kita butuhkan bukanlah lebih banyak doktrin atau pengetahuan, melainkan lebih banyak menerima Roh itu.
Kita memuji Tuhan karena Ia riil, hidup, dekat, dan praktis. Betapa subyektifnya Allah Tritunggal bagi kita! Sebagai Roh pemberi hayat, Ia tinggal dalam roh kita. Menerima Roh itu secara terus-menerus berarti memberi-Nya kemerdekaan untuk berkembang di batin kita. Ketika kita menggunakan roh kita untuk berdoa, menyeru nama Tuhan, dan mendoabacakan firman Tuhan, kita akan memiliki pernafasan rohani dan menerima Roh itu. Demikian, esens Allah Tritunggal, unsur surgawi, dan hakiki ilahi akan ditambahkan ke dalam diri kita. Ketika unsur ini meluas di batin kita, kita akan bertumbuh dan ditransformasi, dan hal-hal negatif dalam diri kita akan disingkirkan. Semakin kita bertumbuh oleh unsur Allah Tritunggal yang ditambahkan ke dalam kita, kita akan semakin berfungsi di dalam gereja dan terbangun bersama orang lain di tempat kita sebagai ekspresi Tubuh Kristus. Semoga semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan beralih dari sekadar menerima doktrin dan pengetahuan kepada menerima Roh itu.