← Daftar isi Galatia · bab 10/22

HIDUP OLEH ROH

Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16-18, 22-25

Dalam Galatia 4:5 Paulus berkata bahwa Allah telah menebus kita supaya kita boleh mendapatkan hak keputraan. Mendapatkan hak keputraan berarti dilahirkan dari Allah dan karenanya kita mendapatkan hayat dan sifat ilahi. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat Allah. Kelahiran kembali yang olehnya kita dilahirkan dari Allah sehingga menjadi anak-anak-Nya dirampungkan oleh Allah sendiri sebagai Roh pemberi hayat. Sudah tentu Tuhan Yesus datang menjadi Penyelamat kita dan mati di atas salib sebagai Penebus kita. Namun sasaran penyelamatan dan penebusan Allah ialah membawa kita ke dalam keputraan. Kita tidak hanya diselamatkan dan ditebus, bahkan kita menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17), dan sebagai akibatnya, kita memiliki hayat dan sifat ilahi. Kita tidak hanya bersatu dengan Allah secara umum, tetapi juga benar-benar adalah satu roh dengan Dia.

Sebagai orang-orang yang beriman dalam Tuhan kita tidak boleh menyepelekan diri kita sendiri. Kita tidak sekadar bersifat alamiah, jasmaniah, dan bendawi, sekarang kita telah menjadi satu roh dengan Allah! Kalau perkataan-perkataan semacam ini tidak tercantum dalam Alkitab, saya akan sulit sekali percaya bagaimana orang-orang yang asalnya hanya makhluk ciptaan Allah dan yang kemudian jatuh menjadi orang dosa, namun kini dapat menjadi satu roh dengan Allah melalui kelahiran kembali. Dapatkah Anda bersaksi dengan yakin yaitu Anda benar-benar percaya bahwa Anda adalah satu roh dengan Allah? Apakah Anda mengetahui hal ini menurut pengalaman atau hanya menurut doktrin? Kita semua harus merendahkan hati di hadapan Tuhan dan berdoa, “Tuhan, tunjukkanlah visi kepada kami bagaimana kami telah menjadi satu roh dangan Engkau. Tuhan, aku tidak puas hanya dengan pengenalan yang doktrinal. Tuhan, bukakanlah surga, biarlah aku nampak bahwa aku sekarang adalah satu roh dengan Engkau.”

Di satu pihak, Tuhan berada di surga; di pihak lain, Ia menyertai roh kita (2Tim. 4:22). Walaupun Tuhan telah masuk ke dalam roh kita dan tinggal dalam roh kita, tetapi sebagian besar dari waktu kita tidaklah berada di dalam roh. Kita sering meninggalkan Tuhan dalam roh kita dan pergi ke luar serta menghabiskan waktu kita di dalam kamar pikiran atau emosi kita. Misalkan kita ingin melakukan suatu perkara yang mungkin tidak menyenangkan Tuhan. Pada saat-saat demikian, sikap kita terhadap Tuhan seolah-olah mengharuskan Dia hanya tinggal dalam roh kita, jangan mengganggu kita, dan membiarkan kita hidup sejenak dalam pikiran dan emosi kita. Sebagai contoh, ada beberapa saudari mungkin ingin cuti beberapa jam dari Tuhan agar mereka boleh mengumbar keinginan mereka untuk pergi berbelanja. Akan tetapi Tuhan tidak pernah mau memberikan cuti semacam itu kepada kita, tak peduli bagaimana kita sudah tawar-menawar dengan-Nya atas hal itu.

Pada waktu kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, roh kita bersatu dengan Tuhan, dan kita menjadi satu dengan Dia. Sekarang, apa pun yang kita lakukan, kita tidak dapat memisahkan diri kita dari bersatunya kita dengan Dia di dalam roh. Sekalipun kita berminat memecahkan kesatuan ini, Tuhan tidak akan menyetujuinya.

Kadangkala mungkin kaum saleh muda berkata bahwa mereka perlu berlatih dalam hal mengalami penyertaan Tuhan dan tidak pergi ke tempat-tempat tertentu atau melakukan perkara-perkara tertentu, agar tidak kehilangan penyertaan-Nya. Mereka mungkin mengira Tuhan akan menyertai mereka bila mereka pergi ke persidangan gereja, tetapi tidak akan menyertai mereka bila mereka pergi ke bioskop. Menurut konsepsi mereka, penyertaan Tuhan akan hilang kalau mereka pergi ke bioskop. Dari segi doktrinal itu kedengarannya memang baik sekali, tetapi dalam pengalaman kita itu sebenarnya tidak tepat. Jika Anda hendak menonton bioskop, penyertaan Tuhan itu malahan akan lebih nyata bagi Anda daripada ketika Anda berada dalam sidang. Mungkin Anda mengira jika Anda pergi ke bioskop Anda akan meninggalkan Tuhan dan bebas. Tetapi bertentangan dengan harapan Anda, Anda akan menemukan tatkala Anda berada di situ, Tuhan justru menyatakan penyertaan-Nya lebih dari yang pernah Anda rasakan. Semakin Anda meminta Dia memberikan kebebasan untuk berbuat sekehendak Anda, semakin nyatalah penyertaan-Nya kepada Anda. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi tentang pengalaman semacam ini.

Diselamatkan adalah suatu perkara yang serius, sebab hal ini mengakibatkan bersatunya kita dengan Tuhan. Ketika seorang beroleh selamat dan dilahirkan kembali, ia dibawa masuk ke dalam suatu kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Kesatuan ini sangat riil dan vital. Akibat penyelamatan dan penebusan ialah Tuhan menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam roh kita dan menyatukan kita dengan Dia sendiri.

Orang-orang Kristen yang berlatar belakang golongan Pentakosta sering menanyakan orang lain mengenai masalah menerima Roh Kudus. Janganlah kita diresahkan dengan pertanyaan semacam itu. Asalkan seorang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, ia tidak saja telah menerima Roh Kudus, bahkan telah menjadi satu roh dengan Tuhan. Karena itu, kita berkedudukan untuk bersaksi dengan berani bahwa kita sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, sekarang telah menjadi satu roh dengan Allah Tritunggal. Ini adalah wahyu ilahi yang tercantum dalam firman kudus.

Dalam Galatia 3:2 Paulus bertanya kepada kaum beriman Galatia, “Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (mendengarkan tentang iman)” Kemudian dalam 3:5 ia bertanya lagi, “Apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (mendengarkan tentang iman)” Pertanyaan Paulus ini menunjukkan bahwa kaum beriman Galatia telah menerima Roh itu dan Allah terus-menerus menyuplaikan Roh itu kepada mereka. Allah terus menyuplai dan mereka terus menerima. Suatu transmisi yang menakjubkan dan ilahi sedang terus berlangsung.

Jika kita ingin terus-menerus menerima Roh itu, kita perlu menggunakan roh kita untuk berdoa. Dalam doa kita, janganlah kita diduduki oleh perkara-perkara yang sepele, sebaliknya kita harus membuka diri kita kepada transmisi surgawi dan menerima suplai dari Roh itu. Kehidupan kristiani bukanlah kehidupan yang agamis atau etis, melainkan suatu kehidupan yang menjadi satu roh dengan Allah. Setiap kali kita menggunakan roh kita berseru kepada Tuhan, kita akan mengalami transmisi ilahi, yaitu aliran arus surgawi. Karena itu kehidupan kristiani adalah kehidupan penyuplaian dan penerimaan. Allah terus-menerus menyuplai, kita terus-menerus menerima dari Dia.

Banyak orang Kristen hari ini yang mengabaikan perkara menerima Roh yang sangat penting ini. Sebaliknya, mereka berkonsentrasi pada perkara membantu orang menjadi insan yang agamis dan etis. Karena alasan inilah maka ada keperluan yang mendesak bagi Tuhan untuk melakukan pemulihan. Pemulihan Tuhan sama sekali berbeda dengan apa yang disebut agama. Dalam hal Kristus, hayat, Roh itu, dan gereja, pemulihan Tuhan sependirian dengan Alkitab, tetapi ia berdiri di luar agama dan tradisi. Sudah pasti kita dan Tuhan sendiri memerlukan pemulihan itu.

Roh yang kita terima dari Allah adalah berkat keseluruhan dari Injil. Dalam Galatia 3:13-14 Paulus berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, supaya “berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Di dalam Injil, yang kita terima bukan hanya berkat pengampunan, penyucian, dan pembersihan, bahkan lebih dari itu kita telah menerima berkat Allah Tritunggal sebagai Roh pemberi hayat almuhit yang telah melalui proses. Persona yang hidup dan almuhit inilah berkat kita. Dari hari ke hari, Allah menyuplaikan berkat ini kepada kita, dan kita menerima berkat Allah ini. Oh, betapa bahagianya kita! Alangkah menakjubkan berkat yang sedang kita nikmati ini! Berkat yang unik ini adalah Persona Allah Tritunggal yang almuhit, yakni Bapa, Putra, dan Roh itu, yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat dan tinggal di dalam kita secara subyektif bagi kenikmatan kita.

Ada sebuah kidung terkenal yang mengatakan bagaimana kita harus menghitunghitung berkat Tuhan satu per satu. Padahal kita tidak mempunyai berkat sebanyak itu untuk kita hitung. Kita hanya mempunyai satu berkat yang limpah lengkap, yakni Roh itu. Pada akhir tahun, sebagian orang akan menghitung-hitung semua berkat material yang mereka peroleh dalam setahun itu. Namun kita hanya memuji Tuhan karena berkat unik dari Allah Tri-tunggal yang tak terduga, yang limpah lengkap, yang almuhit, dan yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat dan tinggal di dalam kita.

Saya telah mengalami berkat Roh itu ketika saya dipenjarakan oleh tentara penjajah Jepang pada masa Perang Dunia II. Selama tiga puluh hari, setiap hari saya diperiksa dan dipukul. Namun dalam penderitaan itu saya menikmati Tuhan dengan manis sekali. Betapa nikmatnya berkat Roh itu bagi saya! Tuhan begitu riil dan dekat! Seolah-olah saya dapat meraba-Nya. Saya masih ingat pada suatu malam kenikmatan Roh itu begitu riil, intim, dan manisnya, sehingga saya menangis sambil berkata, “Tuhan, aku memuji-Mu karena aku di sini tidak saja untuk-Mu, tetapi juga bersama-Mu.” Ketika saya menuturkan kata-kata itu, saya merasa dengan pasti bahwa Tuhan pun dipenjarakan bersama saya. Oh, kenikmatan Roh itu sungguh tak terlukiskan! Karena Tuhan begitu dekat dan begitu nikmat, penjara itu menjadi tempat maha kudus. Roh itu, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses benar-benar adalah berkat kita.

Setelah menunjukkan Roh almuhit ini Paulus selanjutnya berkata, “Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (5:16). Pada

5:25 ia melanjutkan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Banyak orang Kristen tidak mempunyai pengertian yang sesuai dengan pengalaman terhadap apa yang dimaksud hidup (bertindak) oleh Roh. Hidup (bertindak) berarti kehidupan dan keberadaan kita. Tetapi dalam ayat 25 nampaknya Paulus membedakan antara hidup oleh Roh dengan dipimpin oleh Roh. Hidup oleh Roh adalah satu perkara, dan dipimpin oleh Roh adalah perkara lain. Dalam ayat 25 Kata yang diterjemahkan “jikalau” dalam bahasa Yunani sebenarnya adalah “karena”. Jadi pernyataan Paulus di sini bukan suatu pengandaian, melainkan suatu kenyataan. Karena kita hidup oleh Roh, maka kita harus maju terus untuk dipimpin oleh Roh.

Kita perlu nampak perbedaan antara hidup oleh Roh itu dan dipimpin oleh Roh. Istilah yang diterjemahkan “hidup” dalam 5:25 dalam bahasa Yunani sebenarnya berarti memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Di tempat lain Paulus berkata bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Rm. 1:17). Maksud Paulus yang sesungguhnya ialah orang yang benar akan memperoleh hayat dan akan menempuh kehidupan oleh iman.

Ada beberapa orang mungkin mengira perkataan Paulus tentang hidup oleh Roh hanya menunjuk kepada pengalaman kita pada saat-saat kelahiran kembali. Menurut pengertian itu, ketika kita dilahirkan kembali, kita menerima hayat dan mulai menempuh kehidupan. Namun, tidak ada satu perkara yang bertalian dengan hayat yang dapat terjadi sekali untuk selamanya. Sebagai contoh, kalau Anda belajar suatu perkara khusus, misalnya cara menambah atau cara mengurangi, belajar sekali saja sudah cukup. Tetapi Anda tidak dapat bernafas, makan, atau minum sekali untuk selamanya. Anda boleh tamat atau lulus dari sekolah, namun Anda tak dapat lulus dari perihal bernafas, makan, atau minum dan Anda dapat tetap hidup. Anda tidak boleh berkata karena Anda telah makan berkali-kali, maka Anda tidak perlu makan lagi. Dalam masalah hayat tidak ada lulusnya. Lulus dari masalah hayat berarti mati. Semua masalah hayat harus berlangsung terus-menerus, dan harus dialami berulang-ulang. Karena itu, perkataan Paulus tentang kehidupan dalam 5:25 tidak terbatas pada pengalaman pertama kita pada saat kita dilahirkan kembali, melainkan harus diterapkan terus dalam kehidupan sehari-hari kita. Setiap hari kita harus memperoleh hayat dan menempuh kehidupan.

Ditinjau dari segi pengalaman, hidup oleh Roh berarti menerima Roh itu melalui menghirup Roh itu ke dalam kita. Jadi kata “karena kita hidup oleh Roh” berarti “karena kita menerima Roh”. Dalam kidung karangan A.B. Simpson (Kidung: 210) mengenai menghirup Roh itu, ada satu bait yang berbunyi:

Saat ke saat kuhirup, Dikau jadi hayatku;

Hembus, hirup, tergantung-Mu, nyatakanlah atasku.

A.B. Simpson menyadari perlunya menghirup Roh itu terus-menerus. Menghirup Roh itu berarti menerima Roh itu. Itulah artinya memperoleh hayat dan menempuh kehidupan.

Jika kita ingin menerima Roh itu secara demikian, perlulah kita membuka diri kita, menggunakan roh kita, dan berseru kepada Tuhan. Ini menuntut kita berdoa dengan tidak henti-hentinya. Kalau kita menerima Roh itu, kita pasti memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menerima Roh itu terus-menerus. Namun, tidak banyak orang yang memiliki hayat dan menempuh hidup dengan menerima Roh itu secara terus-menerus. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan, sebab dalam pemulihan-Nya kita selalu belajar menerima Roh itu. Saya anjurkan kalian untuk berkontak dengan Tuhan dari saat ke saat demi menerima Roh itu. Semakin kita menerima Roh itu, kita akan semakin memperoleh hayat dan menempuh kehidupan oleh Roh itu. Saya dapat bersaksi dari pengalaman pribadi bahwa kenikmatan saya atas Roh itu terus bertambah-tambah dan semakin maju. Hari demi hari saya selalu menerima Roh, memperoleh hayat dan menempuh kehidupan oleh Roh itu.

Sebuah contoh yang riil untuk apa yang dimaksud dengan hidup oleh Roh terdapat dalam kehidupan pernikahan. Sepasang suami istri mudah sekali bercekcok dikarenakan masing-masing sangat mengenal pasangannya. Sang suami akan menunjukkan kelemahan-kelemahan istri, dan sang istri akan menanggapi dengan mendongkel kelemahan suaminya juga. Ketika seorang suami dan istri bersilat lidah semacam itu, mereka pasti tidak hidup oleh Roh itu. Pagi hari mungkin mereka menggunakan roh untuk berkontak dengan Tuhan dan menerima Roh itu melalui menghirup Dia. Tetapi, ketika masing-masing berbicara, mereka tidak lagi menerima Roh itu. Karena mereka berhenti menerima hayat, maka mereka tidak lagi hidup oleh Roh itu. Sebaliknya, mereka hidup menurut daging. Cara terbaik bagi seorang suami atau seorang istri untuk diselamatkan dari perbantahan ialah menggunakan roh. Sang suami harus berkata, “Tuhan, sekarang aku menggunakan rohku untuk bertengkar dengan istriku. Tuhan, aku berseru kepada-Mu dan mohon Engkau menjadi satu roh denganku sehingga aku dapat berdebat dengannya.” Coba Anda pikir, apakah saudara itu jadi bertengkar dengan istrinya jika ia berdoa demikian? Sudah pasti tidak. Ia tidak akan bertengkar, malahan akan menerima hayat, dan keinginannya untuk bertengkar dengan istrinya itu akan dimatikan. Karena kita hidup oleh Roh, maka kita harus bertindak oleh Roh. Karena suami dan istri telah menggunakan roh mereka untuk menerima Roh itu, maka se-harusnyalah mereka pun hidup oleh Roh itu dalam menempuh kehidupan pernikahan mereka. Jika demikian niscaya pertengkaran akan diganti dengan puji-pujian.

Bertahun-tahun lamanya saya berusaha memahami perkataan Paulus dalam 5:25 tentang hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. Tetapi dengan meninjau pengalaman saya dalam terang firman, sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa kita perlu menggunakan roh kita secara terus-menerus untuk menerima Roh itu dan perlu dari saat ke saat berseru kepada Tuhan dan berdoa, agar kita dapat memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Perkara utama yang kita perlukan ialah memperoleh hayat dan menempuh kehidupan. Seperti telah kita tunjukkan, kita menerima Roh itu melalui pernafasan. Kapan kala kita memperoleh hayat melalui menerima Roh itu, barulah kita dapat dipimpin oleh Roh itu. Kita boleh berbuat segala perkara dan bertutur kata oleh Roh itu.

Dipimpin oleh Roh itu akan menghasilkan transformasi, suatu perubahan metabolik dalam insan kita. Transformasi semacam ini bukan hasil koreksi atau pengaturan yang di luar. Jika Anda sengaja menyatakan perilaku seperti anak-anak Allah, Anda akan bertindak secara agamis. Mungkin Anda berkata kepada diri Anda, “Aku harus mempertahankan statusku sebagai anak Allah. Ini berarti aku tidak boleh bertengkar dengan pasanganku.” Itu adalah yang agamis. Keperluan kita ialah hidup oleh Roh dan kemudian dipimpin oleh Roh. Ini bukan masalah pengaturan atau perbaikan secara lahir, melainkan transformasi yang metabolik dalam batin. Lebih dari itu, ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama, sebab ini sama sekali merupakan masalah perubahan organik di dalam insan kita. Ketika kita hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh, dengan spontan Allah akan kita perhidupkan dari diri kita dan kita ekspresikan melalui diri kita. Dengan demikian dalam realitas dan prakteknya, kita adalah anak-anak Allah yang hidup dan dipimpin oleh hayat Allah.

Saat demi saat kita perlu menghirup hayat ilahi ke dalam kita. Kalau demikian, kita tidak akan hidup dalam diri kita sendiri atau oleh daging, tetapi kita akan melakukan setiap perkara oleh Roh yang telah kita terima melalui pernafasan itu. Keperluan kita hari ini ialah berlatih menerima Roh dan hidup oleh Roh. Ini bukanlah agama atau etika, melainkan pengalaman atas Roh yang hidup itu.

Jika kita hidup oleh Roh melalui menerima Roh itu, dengan otomatis daging akan disalibkan (5:24). Daging akan kehilangan kedudukannya dalam diri kita, sebab kita menerima Roh itu secara terus-menerus. Tatkala kita hidup oleh Roh, Kristus akan diperbesar dalam kehidupan sehari-hari kita. Beban Paulus dalam menyurati kaum beriman Galatia yang telah diselewengkan itu ialah mengembalikan mereka kepada kehidupan yang hidup oleh Roh. Ini bukan masalah agama atau etika, melainkan kehidupan dan perilaku oleh Kristus, sebagai Roh pemberi hayat yang tinggal dalam roh kita. Ketika kita menghirup Dia, kita akan menerima Roh itu lalu kita dapat hidup oleh Roh.

Hasil dari hidup oleh Roh ialah buah dari Roh. Paulus mengetengahkan sembilan aspek dari buah Roh itu dalam ayat 22-23, tetapi dari penggunaan ungkapan, “hal-hal itu” menunjukkan sebenarnya tidak hanya sembilan aspek yang disebutnya itu. Paulus hanya menyajikan kesembilan aspek itu sebagai contoh belaka.

Buah Roh itu ialah hasil dari perilaku oleh Roh. Kita tidak perlu meronta-ronta untuk mengasihi orang, memelihara damai sejahtera, atau bersukacita. Sesungguhnya untuk memiliki pekerti-pekerti kristiani yang mana pun tidak perlu meronta-ronta. Sebaliknya, kita hanya perlu hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. Dengan demikian, buah Roh itu akan tumbuh dengan otomatis. Tatkala kita hidup oleh Roh itu, buah-buah Roh itu akan tumbuh dengan berbagai aspek, antara lain ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri, dan lain-lain. Para suami tidak akan kekurangan kasih untuk mengasihi istri mereka, dan para istri tidak akan kekurangan ketaatan untuk menaati suami mereka. Pekerti yang mana pun tidak akan kurang.

Pekerti-pekerti kristiani bukanlah suatu perbuatan, melainkan berbagai aspek dari ekspresi buah unik yang hidup yang dihasilkan melalui hidup oleh Roh. Dalam pemulihan-Nya, Tuhan ingin melihat ekspresi buah hidup semacam ini. Inilah sebabnya kita tidak berkeyakinan pada peraturan-peraturan yang di luar. Jika kita berusaha mengatur diri kita sendiri tetapi tidak hidup oleh Roh, kita akan menjadikan kehidupan gereja suatu agama. Namun gereja bukanlah suatu organisasi, melainkan suatu organisme yang hidup dan bertumbuh. Suatu organisme tidak perlu peraturan dari luar. Perlukah Anda memerintahkan mata Anda untuk melihat atau telinga Anda untuk mendengar? Pasti tidak! Sebab tubuh jasmani merupakan suatu organisme, mata dan telinga berfungsi secara otomatis. Demikian pula, gereja adalah sautu organisme yang berfungsi secara spontan di dalam hayat. Jika kita masih memerlukan peraturan, pastilah kita kekurangan hayat dan kekurangan Roh itu.

Kita bersyukur kepada Tuhan, karena oleh rahmat dan anugerah-Nya kita selalu menerima lebih banyak Roh itu. Saya yakin bahwa sejumlah orang saleh sedang belajar hidup oleh Roh. Dalam berbagai keadaan, para suami dan istri belajar beralih ke dalam roh tatkala mereka tergoda untuk berdebat. Mereka tidak jadi berdebat, tetapi menggunakan roh mereka untuk memuji Tuhan. Beberapa lainnya tahu apa artinya menerima pembatasan oleh Roh dalam hal berbelanja. Adakalanya ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju Pusat Perbelanjaan, mereka menerima perasaan dari Roh itu untuk kembali ke rumah. Sungguh betapa rahmat Tuhan sehingga kita dapat hidup oleh Roh sedemikian! Yang lain dapat bersaksi, yaitu karena mereka dipimpin oleh Roh, mereka dapat mengesampingkan pilihan mereka terhadap perkara-perkara tertentu. Ya, memang mereka telah meninggalkan kesenangan mereka, tetapi justru dalam hal itu mereka telah beroleh sukacita Tuhan.

Sering kali walau saya telah siap melakukan suatu hal, tetapi saya terbatas oleh Roh itu. Bila saya taat dan mengikuti Roh itu, saya akan beroleh sukacita. Selain itu, ketika saya membaca Alkitab, saya dipenuhi oleh terang. Tetapi saya pun dapat bersaksi, ketika saya mencoba membaca Alkitab setelah saya meremehkan pimpinan Roh, maka Alkitab itu menjadi buram bagi saya. Karena kita telah menerima Roh itu, memperoleh hayat dan menempuh kehidupan, maka haruslah kita hidup oleh Roh.

Hidup oleh Roh adalah cara untuk bertumbuh, menikmati Tuhan, dan mengembangkan fungsi kita yang wajar demi pembangunan Tubuh. Pemulihan Tuhan hari ini seharusnya mengandung ciri-ciri hidup dan dipimpin oleh Roh. Hal ini akan membedakan pemulihan Tuhan dari agama yang mana pun. Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai Roh yang almuhit kini tinggal di dalam kita. Karena itu, marilah kita hidup oleh Dia dan dipimpin oleh Dia!