← Daftar isi Galatia · bab 11/22

MENABUR KEPADA ROH ITU UNTUK MENUAI HAYAT KEKAL

Pembacaan Alkitab: Gal. 6:7-10

TITIK INTI KITAB GALATIA

Kitab Galatia berinti pada Kristus menggantikan hukum Taurat. Kehendak hati Allah bukanlah menjaga umat-Nya di bawah hukum Taurat, melainkan menyalurkan Kristus ke dalam mereka. Karena itu, Kristus sebagai inti ekonomi Allah harus menggantikan hukum Taurat. Karena para penganut agama Yahudi telah menyalahgunakan hukum Taurat, maka Surat Kiriman kepada orang Galatia ditulis untuk mewahyukan Kristus sebagai pengganti hukum Taurat. Ya, memang hukum Taurat diturunkan demi tujuan dan maksud tertentu, tetapi Allah tidak menghendaki hukum Taurat menjadi permanen. Kristus telah datang untuk menggantikan hukum Taurat dengan diri-Nya sendiri. Inilah titik inti Surat Galatia.

Dalam pasal 1 Paulus memperlihatkan bahwa Allah berkenan mewahyukan Anak-Nya, Yesus Kristus, ke dalam kita (1:15-16). Dalam pasal 2 kita nampak bahwa kita harus memperhidupkan Kristus ini, bukan hukum Taurat (2:19-21). Allah tidak menghendaki kita diduduki oleh masalah memelihara hukum Taurat dan diselewengkan dari Kristus yang hidup. Menurut perkenan hati-Nya, Allah telah mewahyukan anak-Nya ke dalam kita agar kita dapat memperhidupkan Dia. Butir yang sangat penting dalam pasal 1 dan 2 ialah Anak Allah telah diwahyukan ke dalam kita dan kita harus memperhidupkan Dia.

PERBANDINGAN ANTARA DAGING DAN ROH

Dalam pasal 3 dan 4 Paulus memperlihatkan bagaimana kita mengalami dan menikmati Kristus ini. Persona yang diwahyukan sebagai inti ekonomi Allah ialah Kristus. Namun dalam pengalaman kita, Persona ini adalah Roh itu. Itulah sebabnya mulai dari pasal 3 Paulus berulang-ulang membicarakan Roh itu. Dalam 3:2 ia bertanya kepada orang-orang Galatia apakah mereka telah menerima Roh itu oleh pekerjaan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman (Tl.). Kemudian, dengan nada sedikit menegur, ia bertanya lagi dalam ayat berikutnya, “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah kamu sekarang mau mengakhirinya di dalam daging?” Di sini kita nampak perbandingan antara Roh itu dengan daging. Ini sedikit berbeda dengan 2:20 di mana yang diperbandingkan adalah Kristus dan “aku”. Roh dalam pasal 3 adalah realisasi Kristus dalam pasal 2, dan daging adalah “aku” pada aspek pengalamannya. Secara doktrin kita boleh mengatakan bahwa problem kita terletak pada “aku”, yakni ego (diri), tetapi pada pengalamannya, problem kita ialah daging, yaitu totalitas diri kita yang telah jatuh. Mungkin mudah bagi kita untuk bersaksi dalam persidangan gereja bahwa kita tidak lain adalah daging. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah kita mengakui bahwa kita adalah daging. Dalam pandangan Allah, manusia yang telah jatuh tidak lain adalah daging. Mulai dari pasal 3 hingga pasal 6, Paulus terus-menerus membandingkan Roh itu dengan daging.

Galatia 4:29 mengatakan, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan menurut daging, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini” (Tl.). Dalam ayat ini kita melihat dua kategori manusia: yang dilahirkan menurut daging dan yang dilahirkan menurut Roh. Sebagai orang-orang yang telah beroleh selamat, kita berada dalam kedua kategori tersebut. Di satu aspek, kita adalah anak-anak yang dilahirkan menurut daging; di aspek lain, kita juga dilahirkan menurut Roh itu. Di dalam kita terdapat dua unsur, dua sifat, yaitu Roh dan daging. Kedua unsur ini menjadikan kita dua jenis anak-anak.

Perbandingan antara Roh itu dan daging berlanjut dalam pasal 5 dengan perbandingan antara perbuatan-perbuatan daging dan buah Roh itu (5:19-23). Dalam 5:17 diungkapkan, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehen-daki.” Roh dan daging sama sekali tidak dapat bekerja sa-ma atau sejalan satu dengan yang lain.

DUA MACAM PENABURAN

Terakhir, dalam pasal 6 kita nampak perbandingan antara dua macam penaburan yang berbeda: menabur kepada daging dan menabur kepada Roh (6:7-8 Tl.). Di satu aspek, mungkin kita menabur kepada daging demi memenuhi kehendak daging. Di pihak lain, mungkin kita menabur kepada Roh dengan Roh itu sebagai sasaran kita. Dalam pasal 3, Roh itu terutama adalah agar kita memperoleh hayat ilahi; dalam pasal 4 Roh itu adalah agar kita dilahirkan dari Allah; dalam pasal 5, Roh itu adalah agar kita hidup dan dipimpin; dan dalam pasal 6 ini, Roh itu adalah untuk sasaran kita, tujuan kita. Dalam kedua pasal pertama Surat Galatia kita nampak wahyu Kristus sebagai titik inti ekonomi Allah, tetapi dalam keempat pasal terakhir kita nampak Roh itu dalam pengalaman kita. Kita telah mempersekutukan sedikit tentang aspek Roh bagi hayat, kelahiran, dan perilaku. Dalam berita ini kita perlu membahas Roh itu sebagai sasaran kita. Hal ini sangat erat kaitannya dengan menabur kepada Roh itu.

Dalam 6:8 Paulus berkata, “Sebab siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Kata “dalam” di ayat ini dalam bahasa aslinya adalah “mengarah kepada” atau “bagi”. Memahami arti menabur yang dikatakan Paulus di sini sangatlah penting. Karena pengalamannya sebagai manusia dan apa yang telah ia pelajari, serta karena wahyu yang ia terima dari Allah, maka ia memiliki pengertian yang menyeluruh atas hidup manusia. Kata menabur yang ia pakai dalam 6:8 menunjukkan makna yang sebenarnya dari hidup manusia. Menurut pandangan Paulus, hidup manusia adalah suatu proses penaburan. Dari hari ke hari kita menabur. Kita menabur dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan serta dengan apa adanya kita.

Menabur berarti meyebarkan sesuatu yang dapat bertumbuh dan yang akhirnya akan dituai. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menyebarkan sesuatu yang akan bertumbuh dan menghasilkan tuaian. Sampai-sampai sebuah perkataan yang kita tuturkan juga mengandung benih-benih yang jatuh ke tanah atau lahan khusus, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang akan kita tuai. Jangan mengira tutur kata dan perilaku kita tidak bisa mendatangkan hasil atau akibat. Sebaliknya, semua yang kita katakan dan lakukan berkaitan dengan menabur benih.

Apakah Anda menyadari bahwa sepanjang hari Anda terus menabur? Anda menabur ketika Anda sedang gembira dan ketika Anda sedang sedih; ketika Anda sedang tenang atau ketika Anda sedang marah, ketika Anda sedang memuji Tuhan atau ketika Anda sedang mengeluh. Bila Anda bergosip atau mengkritik seseorang, saat itu Anda sedang menabur. Ketika Anda menyanyi atau ketika Anda mengomeli anak-anak Anda, Anda pun sedang menabur. Kehidupan manusia adalah kehidupan menabur, yaitu menyebarkan sesuatu yang dapat bertumbuh dan menghasilkan suatu tuaian.

Manusia menabur entah mereka sadar atau tidak, entah sengaja atau tidak. Anda mungkin tidak menginginkan suatu perkara negatif tertentu bertumbuh dan menghasilkan tuaian yang mencelakakan. Tetapi asalkan Anda sudah menabur, pasti akan ada akibatnya. Orang-orang yang belum beroleh selamat tidak menyadari bahwa kehidupan mereka yang menabur itu pada akhirnya akan menuai maut dan lautan api. Tidak peduli apa maksud Anda, asalkan Anda menabur, pasti Anda akan menuai, dan Anda akan menuai apa yang telah Anda tabur. Jangan heran kalau kita menuai perkara tertentu, sebab penuaian itu berasal dari penaburan tertentu. Seseorang tidak boleh heran kalau ia menanam kedelai dan kemudian menuai kedelai, bukan menuai jagung. Asalkan ia menanam kedelai, ia tidak sepatutnya berharap menuai jagung atau yang lainnya selain kedelai. Kita harus terkesan dengan fakta yang serius ini, yaitu apa yang kita tabur akan kita tuai kembali.

Saya sungguh prihatin karena banyak orang beriman tidak menyadari bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan menabur. Apa adanya kita, ke mana saja kita pergi, dan apa yang kita katakan dan lakukan, semuanya adalah menabur. Teristimewa kita menabur dengan tutur kata kita. Akhirnya, kita akan menjadi orang pertama yang menuai perkara-perkara negatif yang telah kita tabur itu. Bahkan dalam hal ingin tahu urusan orang lain pun mungkin kita menabur benih maut. Sebagai akibat dari menabur benih itu, maka maut akan masuk ke dalam kehidupan kita sendiri, juga masuk ke dalam kehidupan gereja. Tetapi kitalah yang menjadi korban pertama dari maut itu. Kemudian maut itu akan tersebar ke atas diri orang lain. Lebih baik kita tidak mengetahui urusan orang lain. Semakin tahu, semakin banyak benih yang kita tabur. Walaupun mengumpulkan informasi tentang orang lain adalah perkara yang berbahaya, namun ada sebagian orang saleh dalam gereja boleh kita sebut sebagai pusat informasi. Mereka dapat memberikan informasi tentang banyak orang dan tempat. Memiliki informasi semacam itu akan membuka jalan bagi penaburan benih maut. Dari pengalaman saya telah belajar, lebih baik tidak banyak tahu. Walaupun saya berada di gereja di Anaheim, saya dapat bersaksi dengan tulus, saya tidak mengetahui banyak urusan gereja di situ, dan saya pun tidak mau mengetahuinya. Lebih sedikit informasi yang saya ketahui, lebih sedikit pula benih yang dapat saya taburkan. Benih-benih informasi tentang kaum saleh dan gereja-gereja bukanlah benih-benih hayat, melainkan benih-benih maut. Jika Anda menabur benih semacam itu, niscaya Anda akan menuai maut yang Anda tabur.

Kata menuai sebenarnya sama dengan kehidupan. Berhati-hati dalam menabur berarti berjaga-jaga dalam kehidupan kita. Saya ulangi, penaburan menghasilkan akibat tertentu. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menabur.

Jika kita menabur kepada daging, kita akan menuai kebinasaan dari daging, tetapi jika kita menabur kepada Roh itu, kita akan menuai hayat kekal dari Roh itu. Dalam 6:8 daging berlawanan dengan Roh itu, dan kebinasaan berlawanan dengan hayat kekal. Hanya ada dua macam penaburan dan dua macam penuaian. Tidak ada yang netral, tidak ada penuaian jenis ketiga. Sudah pasti, kebinasaan mencakup maut. Menabur kepada daging selalu menghasilkan tuaian kebinasaan, sedang menabur kepada Roh itu selalu menghasilkan tuaian hayat yang kekal.

MENJADIKAN ROH ITU SEBAGAI SASARAN KITA

Perkataan Paulus dengan kuat menyiratkan bahwa kita harus mengambil keputusan mengenai sasaran, tujuan kita. Sasaran kita daging atau Roh itu? Dalam 6:8 Paulus berbicara tentang menabur kepada daging atau kepada Roh itu. Kata penghubung yang diterjemahkan “dalam” tepatnya ialah “kepada”, yang berarti “dengan tujuan” atau “berakibat”. Menabur kepada daging berati menabur dengan tujuan memenuhi keinginan daging. Ini berarti menjadikan daging sebagai sasaran. Tetapi menabur kepada Roh itu berarti menabur dengan tujuan memenuhi kehendak Roh itu. Ini berarti menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Roh itu tidak saja harus menjadi hayat dan hidup perilaku kita, tetapi juga sasaran kehidupan kita. Tidak ada tempat netral antara daging dan Roh itu. Sasaran kita kalau bukan yang ini, tentu yang itu. Tidak mungkin ada sasaran yang lain.

Daging maupun Roh itu kedua-duanya mencakup segalanya, namun dalam hal yang berlainan. Daging mencakup setiap perkara yang di luar Roh itu. Bergosip, mengkritik, berbelanja secara duniawi, membaca surat kabar di luar kendali Roh itu, semua itu merupakan aspek daging. Apakah Anda ingin menjadikan daging sebagai sasaran Anda? Apakah sasaran kehidupan Anda di bumi ini? Saya harap Anda dapat berkata bahwa sasaran Anda adalah Roh yang almuhit. Menabur kepada Roh itu mencakup berseru kepada Tuhan, berdoa, menyuplaikan Kristus kepada orang lain, dan bersekutu dalam hayat agar orang lain terbina. Kita pun dapat menabur kepada Roh itu ketika kita menggunakan uang kita untuk kehendak Tuhan. Jika kita menabur kepada Roh itu, menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita, kita tidak akan berbelanja secara duniawi, sebaliknya belanja kita akan dikendalikan oleh satu fakta bahwa kita telah memilih Roh itu sebagai sasaran kita. Jika Roh itu menjadi sasaran kita, setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita akan mengarah kepada sasaran ini.

Beban Paulus dalam Kitab Galatia ialah mewahyukan Kristus sedemikian rupa sehingga Ia tidak saja menjadi titik inti ekonomi Allah, tetapi juga menjadi titik inti hidup dan perilaku sehari-hari kita. Allah telah mewahyukan Kristus ke dalam kita, sekarang kita perlu memperhidupkan Dia. Inilah wahyu yang disajikan dalam kedua pasal pertama. Seperti telah kita nampak, Paulus selanjutnya menunjukkan betapa kita dapat mengalami Kristus yang demikian. Jika kita ingin mengalami Dia, haruslah kita memiliki Roh itu sebagai hayat kita. Ini mengharuskan kita memiliki kelahiran ilahi. Setelah itu kita harus hidup oleh Roh dan menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Kita bukan manusia yang tanpa tujuan, yang mengembara tanpa suatu sasaran. Kita mempunyai satu sasaran yang jelas dan tegas, yakni Roh itu. Jika Roh itu adalah sasaran kita, setiap perkara dalam kehidupan sehari-hari kita akan bermakna. Cara kita berbusana, bagaimana kita menata kamar kita, ke mana kita pergi, bahkan apa yang kita makan, semuanya akan berarti menabur kepada Roh itu. Bila Roh itu menjadi sasaran kita, hidup kita di bumi ini hanya akan mengarah kepada sasaran ini. Akan tetapi, jika kita membiarkan daging menjadi sasaran kita, akhirnya kita akan menuai kebinasaan. Kebinasaan ini tidak saja mempengaruhi kita sendiri, tetapi juga mempengaruhi keluarga kita, bahkan keturunan kita. Dalam anugerah-Nya, Tuhan ingin membantu kita untuk menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Cara kita berbicara kepada orang lain, cara kita menggunakan uang kita, dan setiap aspek kehidupan kita, seyogianyalah mengarah kepada sasaran ini.

Kaum muda, saya menganjuri kalian untuk bertekad menjadikan Roh itu sebagai sasaran kalian. Saya bahkan mengusulkan kalian bernazar kepada Tuhan untuk hal ini. Anda boleh berkata, “Tuhan, aku bernazar dengan langit dan bumi sebagai saksiku bahwa aku akan menjadikan Roh pemberi-hayat yang almuhit sebagai sasaranku. Aku ingin agar apa pun yang kukatakan dan lakukan tertuju pada sasaran ini belaka. Tuhan, aku tidak ingin menabur apa pun yang akan mengakibatkan kebinasaan bagi diriku atau orang lain. Aku ingin menabur kepada Roh itu dan menuai hayat yang kekal. Setiap perkara yang aku lakukan, aku ingin melakukannya dengan tujuan atau sasaran Roh itu.”

KELUARGA IMAN

Dalam 6:10 Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.” Paulus menyebut saudara seiman segera setelah mengatakan tentang penaburan, ini menunjukkan bahwa penaburan kita sangat mempengaruhi saudara seiman, yang mencakup seluruh kaum beriman di bumi. Apa yang Anda tabur atau tanam hari ini akan mendatangkan pengaruh atas keluarga iman. Sebagai contoh, jangan mengira cara Anda mencukur rambut adalah soal sepele yang tidak berarti. Dalam hal mencukur rambut itu Anda akan menabur kepada daging dan menuai kebinasaan atau menabur kepada Roh itu dan menuai hayat kekal. Lagi pula, penaburan Anda itu berpengaruh atas kaum saleh bahkan atas gereja. Jika Anda menabur kepada Roh itu, hasilnya adalah suplai hayat bagi gereja. Kalau kita nampak hal ini, pasti kita akan damba menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita dan hidup bagi sasaran ini. Saya yakin bahwa bila kita hidup kepada Roh itu dengan menabur kepada Roh itu, kita akan menuai tuaian hayat yang kekal. Ini akan menjadi manfaat besar bagi kita sendiri, keluarga kita, kaum saleh di sekitar kita, bahkan semua gereja di bumi.

Jika kita menerima anugerah dari Tuhan untuk memperhidupkan Kristus, kita akan menabur kepada Roh itu dan menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita. Akibatnya ialah hayat yang kekal. Kita tidak mendatangkan kebinasaan, sebaliknya kita akan meministrikan suplai hayat kepada orang-orang yang telah berkontak langsung dengan kita. Tambahan pula, karena kita menabur kepada Roh itu, sampai-sampai orang yang berkontak secara tidak langsung dengan kita pun akan menerima suplai hayat itu. Kita tidak perlu dengan sengaja melakukan suatu pekerjaan bagi Tuhan. Jika kita hidup kepada daging, pekerjaan Kristen apa pun yang kita lakukan tidak akan bermanfaat. Yang terhitung bukanlah pekerjaan kita, melainkan penaburan kita.

Setiap rinci kehidupan kita sangat penting, karena semuanya itu merupakan penaburan kita. Kalau kita menabur kepada Roh itu dalam setiap bagian kecil dari kehidupan sehari-hari kita, kita akan memiliki suatu kehidupan kepada Roh itu. Hasil dari kehidupan semacam ini ialah hayat yang kekal. Jika Roh itu menjadi sasaran kita, kita akan menjadi suplai hayat bagi orang lain.

SUATU SASARAN YANG MULIA

Saya mengatakan sekali lagi, sebagai kaum beriman, kita bukan tanpa sasaran. Kita mempunyai sasaran, suatu sasaran yang mengontrol dan menuntun kita. Apa saja yang kita lakukan, kita lakukan dengan tujuan yang mengarah ke sasaran ini. Dalam menyimpulkan suratnya kepada orang-orang Galatia ini, Paulus menyuruh kita untuk menabur kepada Roh itu, hidup kepada Roh itu, berbicara dan melakukan setiap perkara dengan tujuan yang mengarah kepada Roh itu. Sebagai anak-anak Allah, kita perlu menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita yang unik dan kekal. Saya menganjuri kalian untuk menjadikan Roh itu sebagai sasaran kehidupan kalian, agar kalian boleh menjadi orang-orang yang menyuplaikan hayat kepada orang lain. Berkatalah kepada Tuhan, “Tuhan, sejak saat ini dan seterusnya, sasaranku adalah Roh itu dan Roh itu semata. Aku sungguh gembira bahwa aku mempunyai sasaran yang sedemikian. Kehidupanku penuh makna, sebab aku memiliki satu sasaran yang menuntun dan mengontrol aku dalam setiap perkara.” Tuhan sedang menyerukan panggilan-Nya dalam pemulihan-Nya, yakni menyuruh kita untuk menjadikan Roh itu sebagai sasaran kita dan hidup kepada-Nya dalam setiap perkara, agar kita menuai tuaian hayat kekal itu. Alangkah ajaibnya kita boleh memiliki sasaran yang demikian mulianya dalam seumur hidup kita!