← Daftar isi Galatia · bab 8/22

DILAHIRKAN DARI ROH ITU UNTUK MENERIMA ROH ITU (1)

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:2-3, 5, 14; 4:4-6, 29

Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu. Setelah kita dilahirkan kembali, dilahirkan dari Roh itu, haruslah kita setiap hari menerima Roh itu.

MUJIZAT KELAHIRAN KEMBALI

Walaupun istilah-istilah ini sangat biasa, tetapi maknanya sangatlah besar. Dilahirkan dari Roh itu adalah perkara yang bukan main hebatnya, sebab arti sesungguhnya dari hal ini adalah dilahirkan dari Allah. Karena kita telah diciptakan oleh Allah, kita adalah makhluk ciptaan Allah; dan karena kita telah jatuh, kita adalah orang-orang dosa. Namun demikian, kita, yang adalah makhluk ciptaan dan orang-orang dosa, telah dilahirkan oleh Allah. Alangkah ajaib!

Andaikata, seekor anjing dapat dilahirkan oleh tuannya dan menerima hayat dan sifat tuannya, pastilah hal ini akan menarik perhatian surat kabar. Bukankah suatu mujizat besar jika hayat dan sifat manusia dapat disalurkan kepada seekor anjing dan menjadikan anjing itu “anjing-manusia”? Anjing itu tidak hanya dibasuh bersih, dihias, dan dipercantik, tetapi juga memiliki hayat dan sifat manusia. Ini tentu sangat menakjubkan. Namun, melalui kelahiran kembali, kita menerima hayat dan sifat Allah, bukankah ini sangat menakjubkan?

Pengertian kelahiran kembali ini memecahkan konsepsi alamiah. Dengan perumpamaan seekor anjing menerima hayat manusia, kita melihat bahwa konsepsi alamiah hanya mengira anjing itu dapat dibersihkan dan dipercantik saja. Pada prinsipnya, banyak orang Kristen hanya melakukan pekerjaan membersihkan dan memperindah orang, tanpa membantu orang menerima hayat dan sifat ilahi melalui kelahiran kembali. Jalan Allah tidak sekadar membasuh, memperindah, dan menghias kita dari luar. Kehendak-Nya dalam ekonomi-Nya ialah melahirkan kita kembali, yaitu menjadikan kita anak-anak Allah yang dilahirkan oleh-Nya. Perkara ini tak terkatakan besarnya.

Sudah pasti keselamatan Allah mencakup pembersihan oleh darah penebusan Kristus. Kita yang telah beroleh selamat sesungguhnya telah dibersihkan oleh Allah. Tetapi pembersihan atau pembasuhan bukanlah pokok yang penting dari keselamatan Allah. Pokok yang penting adalah Allah telah melahirkan kita kembali, yaitu Ia benar-benar telah menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya. Kita bukan anak-anak menantu Allah, melainkan anak-anak Allah dalam hayat. Jelas tidak ada keajaiban dalam alam semesta yang lebih besar daripada manusia yang berdosa dapat dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Hari ini banyak orang mencari mujizat dan keajaiban, tetapi mereka tidak menyadari bahwa tidak ada mujizat yang lebih besar daripada kelahiran kembali. Melalui kelahiran kembali, manusia yang telah jatuh dapat menjadi anak-anak Allah. Dalam keselamatan-Nya, Allah telah membuat kita, orang-orang dosa, menjadi anak-anak-Nya yang ilahi.

MAKNA KELAHIRAN KEMBALI

Di antara orang-orang Kristen fundamental dewasa ini sangat sedikit yang membicarakan tentang Allah sebagai Roh yang melahirkan. Ketika saya dilahirkan kembali lebih dari lima puluh tahun yang lampau, saya memahami bahwa kelahiran kembali itu sangat ajaib, dan saya berusaha mendapatkan sebuah buku yang dapat memberi saya suatu definisi yang tepat tentang kelahiran kembali. Kemudian saya membeli sebuah buku yang berjudul “Makna Sejati Kelahiran Kembali”; dengan harapan buku itu dapat memberi saya definisi yang saya inginkan. Tetapi saya dikecewakan, sebab buku itu ternyata tidak mengatakan sesuatu tentang Allah sebagai Roh itu, yang masuk ke dalam kita untuk melahirkan kita kembali. Buku itu hanya mengatakan kelahiran kembali berarti kita memiliki satu permulaan yang baru dan segala perkara yang lama telah berlalu. Namun, setelah mengalaminya bertahun-tahun dan mempelajari Alkitab serta tulisan-tulisan orang lain, barulah kita mengetahui bahwa kelahiran kembali tidak lain berarti dilahirkan dari Allah. Dalam kelahiran kembali, Allah sebagai Roh pemberi hayat masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali dengan hayat dan sifat-Nya. Itulah alasan Tuhan Yesus mengatakan, “Yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yoh. 3:6 Tl.). Yang dilahirkan dari Roh Allah adalah roh kita yang telah dilahirkan kembali. Pada saat kelahiran kembali, Roh Allah masuk ke dalam roh kita yang telah mati untuk menghidupkannya dengan hayat dan sifat ilahi, dan karenanya menjadikan kita anak-anak Allah! Kita berkeyakinan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sesungguhnya, sebab dalam roh kita, kita dapat berseru dengan manis, “Ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15; Gal. 4:6).

MENERIMA ROH ALMUHIT

Meskipun kelahiran kembali merupakan realitas yang menakjubkan, tetapi beban saya dalam berita ini bukan pada kelahiran kembali itu sendiri; beban saya adalah pada Roh itu. Hanya melalui menjadi Roh itu barulah Allah dapat melahirkan kita kembali. Jika Anda bertanya kepada orang, “Siapakah Allah?” Ada orang akan berkata bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Lainnya mungkin berkata bahwa Allah adalah Penebus dan Penyelamat kita. Tetapi jarang yang akan berkata bahwa Allah adalah Roh itu.

Sebagai Roh itu, Allah tidak sederhana, sebab Roh itu adalah Roh pemberi hayat yang almuhit. Roh ini mencakup keilahian, keinsanian, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan.

Orang-orang Kristen biasanya menganggap hal-hal rohani memang semestinya demikian. Ada orang yang membicarakan inkarnasi Kristus dan kehidupan insani-Nya, tanpa memahami makna dari hal-hal tersebut. Persona yang dilahirkan di palungan di Betlehem dan yang dibesarkan dalam keluarga tukang kayu di Nazaret itu adalah Allah sendiri dalam bentuk manusia. Bayangkan, Allah yang Mahakuasa, Sang Pencipta, telah menjadi seorang manusia dan telah terbatas dalam keluarga seorang tukang kayu, bahkan bekerja sebagai tukang kayu bertahun-tahun lamanya! Yesus disebut Imanuel, yaitu Allah menyertai kita. Ini berarti ketika Yesus hidup di bumi, Allah tinggal di bumi. Selain itu, dalam kehidupan-Nya, Ia sangat sabar dan tersembunyi. Ia tidak memamerkan diri-Nya sendiri. Ia terbatas di Nazaret selama bertahun-tahun. Ketika Ia keluar untuk menunaikan ministri-Nya, Ia tidak melakukan dalam skala yang besar, melainkan dalam skala yang kecil dan bahkan dengan cara yang rendah. Orang-orang heran terhadap-Nya, dan bertanya-tanya siapakah gerangan Dia; sebab mereka mengenal ibu, saudara-saudara, dan saudari-saudari-Nya. Mereka hanya mengenal Dia sebagai Yesus orang Nazaret.

Ketika beberapa orang Kristen mengatakan bahwa Yesus orang Nazaret adalah Anak Allah, mereka menganggap Anak Allah itu berbeda dengan Allah. Mereka tidak memahami bahwa Anak Allah ini adalah Allah itu sendiri. Yohanes 1:1 tidak mengatakan, “Pada mulanya ada firman . . . dan firman itu adalah Anak Allah.” Ayat itu sebaliknya mengatakan kepada kita bahwa Firman itu pada mulanya adalah Allah. Firman itu telah menjadi daging (Yoh. 1:14). Firman menjadi daging berarti Allah itu sendiri menjadi daging. Allah yang di dalam daginglah yang bekerja di bumi, yang membasuh kaki murid-murid, yang ditangkap di taman, yang dihakimi di hadapan Imam Besar, Pilatus, dan Herodes, dan yang dijatuhi hukuman mati serta disalibkan. Ya, Persona yang disalibkan itu adalah Allah itu sendiri. Mungkin ada yang bertanya: Mungkinkah Allah itu disalibkan? Jawabnya ialah Allah telah disalibkan di dalam keinsanian Yesus. Mengakui hal ini, maka Charles Wesley berkata dalam sebuah kidungnya: Kasih ajaib! Betapa Tuhan, Allah mati bagi aku?” (Kidung No. 234). Dan pada bait berikutnya dalam kidung yang sama itu berawal dengan kata, “Dia Sang Hidup, rela mati! Mengherankan, tak terpaham!” Persona yang mati bagi kita tidak saja Yesus orang Nazaret, tetapi juga Allah, Sang Pencipta kita. Tetapi, ketika Allah mati di atas salib, Ia berseru kepada Allah, “Allahku, Allahku . . .” (Mat. 27:46). Orang-orang yang bergumul dalam otak doktrinal sulit menjelaskan hal ini. Bagaimana mungkin Allah berkata kepada Allah, “Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Jawabnya ialah Allah telah mati di atas salib dalam bentuk seorang manusia. Karena itu, selaku manusia Ia dapat berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Setelah disalibkan, Ia dikuburkan. Kemudian, pada hari ketiga, Ia di-bangkitkan. Satu Korintus 15:45 mengatakan bahwa sebagai Adam yang terakhir telah menjadi Roh pemberi hayat. Karena itu, dalam 2Korintus 3:17 Paulus berkata lebih lanjut, “Kini Tuhan adalah Roh itu.”

Hari ini Allah adalah Roh itu, yang mencakup unsur-unsur inkarnasi, keinsanian, penyaliban, dan kebangkitan. Khasiat kematian Kristus yang ajaib, kuasa kebangkitan-Nya, dan realitas hayat kebangkitan-Nya, semuanya terkandung dalam Roh itu. Roh ini tidak lagi hanya Roh Allah atau Roh Yehova, tetapi juga Roh Yesus Kristus.

Sebagai Roh Yesus Kristus, Roh itu mencakup unsurunsur inkarnasi, keinsanian, penyaliban, dan kebangkitan. Bila kita berseru kepada nama Tuhan Yesus dan diselamatkan, maka Roh itu masuk ke dalam diri kita untuk melahirkan kembali roh kita yang telah mati dan menjadikan kita anak-anak Allah. Roh yang masuk ke dalam kita pada saat kelahiran kembali kita adalah perampungan terakhir Allah Tritunggal, yakni realisasi dan ekspresi Bapa, Putra, dan Roh. Roh itu telah masuk ke dalam kita untuk menyalurkan hayat dan sifat Allah kepada kita. Karena kita telah dilahirkan kembali oleh Roh itu dalam roh kita, maka kita telah menjadi anak-anak Allah.

Tidak banyak orang Kristen yang memahami bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan Allah menghendaki mereka menempuh kehidupan anak-anak Allah. Setelah mereka beroleh selamat, sebagian besar orang Kristen berusaha memperbaiki diri mereka atau melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah. Dengan berusaha memperbaiki manusia alamiah atau melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati Allah, mayoritas umat Tuhan telah meleset dari sasaran ekonomi Allah. Keselamatan Allah adalah untuk ekonomi-Nya, dan ekonomi-Nya bukanlah suatu perkara etika. Sebaliknya, oleh keselamatan-Nya yang sesuai dengan ekonomi-Nya, Allah telah melahirkan kita kembali oleh hayat ilahi, agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya dan hidup sebagai anak-anak Allah. Sasaran Allah bukan hanya menghendaki kita memperbaiki perilaku kita dan karenanya melakukan sesuatu yang baik, bukan yang jahat. Tujuan Allah bukan hanya memiliki sejumlah manusia yang baik. Kedambaan Allah ialah agar kita hidup sebagai anak-anak Allah. Allah tidak saja menghendaki kita dibasuh hingga bersih, tetapi juga menghendaki kita hidup sebagai anak-anak Allah. Kalau kita ingin demikian, perlulah kita menerima Roh Allah. Kita telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu.

TIDAK HENTI-HENTINYA MENERIMA ROH ITU

Galatia 3:5 mengatakan, “Jadi, bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?” “Percaya kepada pemberitaan Injil” dalam ayat ini, dalam bahasa aslinya adalah “mendengarkan tentang kepercayaan (iman)”. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak henti-hentinya menyuplai kita dengan Roh itu. Kita boleh memakai listrik sebagai contoh. Setelah listrik dipasang ke dalam sebuah bangunan, maka listrik itu tidak henti-hentinya disuplaikan ke dalam bangunan tersebut. Demikian pula, setelah Allah melahirkan kita kembali oleh Roh-Nya, dan menjadikan kita anak-anak Allah, Ia tidak henti-hentinya menyuplai kita dengan Roh itu. Tidak ada perkara yang lebih penting daripada tidak henti-hentinya menerima Roh itu. Orang-orang Galatia telah beroleh selamat dan menerima Roh itu melalui mendengarkan tentang iman. Akan tetapi, mereka telah diselewengkan dan disesatkan serta telah beralih lagi kepada hukum Taurat. Mereka tidak menerima Roh itu sebagai sumber, malahan menerima hukum Taurat sebagai sumber mereka. Banyak orang Kristen hari ini juga disesatkan dari Roh itu. Kita semua perlu dikembalikan kepada Roh itu sebagai sumber kita. Kita harus kembali kepada Allah itu sendiri sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit. Saudari-saudari tidak boleh hanya berusaha menjadi istri atau ibu yang baik. Sebaliknya, mereka harus membuka diri mereka kepada Roh itu sebagai sumber surgawi mereka dan menerima transmisi dari Allah Tritunggal, yaitu arus listrik surgawi ke dalam diri mereka. Jika mereka menerima transmisi semacam itu, dengan spontan mereka akan menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang baik. Saya anjurkan Anda berdoa, “Tuhan Yesus, aku membuka diriku kepadaMu. Aku bersyukur kepadaMu karena aku telah dilahirkan dari Allah, dilahirkan dari Roh yang almuhit. Tuhan, Roh ini tetap mentransmisikan sesuatu dari diri-Mu ke dalam diriku. Aku bersyukur kepadaMu, Tuhan, karena adanya transmisi yang menakjubkan ini!”

Tidak perlu berdoa bagi kelemahan atau watak Anda. Tidak perlu Anda mohon kepada Tuhan agar Ia membuat Anda sabar, atau menjadikan Anda seorang istri, atau ibu, atau suami, atau ayah yang baik. Doa-doa seperti itu tidak efektif. Tuhan sedang menantikan Anda membuka diri Anda kepada-Nya dan membiarkan-Nya menjenuhi, meresapi, dan memiliki Anda. Ia sedang menantikan kesempatan untuk menduduki seluruh manusia batiniah Anda. Jika Anda memberi Tuhan kesempatan ini, menerima transmisi dari Roh itu, maka dengan otomatis Anda akan menjadi istri atau suami yang baik. Anda telah dilahirkan dari Roh itu. Sekarang Anda perlu selalu siap sedia terbuka kepada Roh itu dan menerima Dia secara terus-menerus. Janganlah menutup diri Anda terhadap Roh itu. Bila Anda selalu terbuka kepada Roh itu secara konstan, Anda akan kagum melihat hal itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari Anda. Apa yang bertahun-tahun Anda doakan tanpa menerima, kini akan menjadi pengalaman Anda.

Ketika Anda perlu terang di rumah Anda, jangan berdoa bagi terang itu, pergi saja menekan tombol dan menyalakan lampu. Demikian pula, bila kita ingin menerima suplai listrik surgawi, maka yang kita perlukan ialah menuju ke “tombol” itu, yakni roh kita yang dilahirkan kembali, dan “menyalakannya”. Namun demikian, sangat sedikit orang Kristen hari ini yang mempraktekkan hal ini. Sebaliknya, banyak yang berdoa untuk menjadi orang yang lemah lembut, sabar, rendah hati, atau pengasih. Dari pengalaman saya bertahun-tahun, saya dapat bersaksi bahwa doa-doa semacam itu tidak akan manjur. Anda boleh saja berdoa berkali-kali kepada Tuhan, untuk membuat Anda sabar atau pengasih, tetapi tidak menerima apa-apa dari Roh itu. Orang-orang Kristen mungkin berdoa untuk berbagai hal, tetapi mereka tidak mau “menekan tombol” untuk menerima transmisi ilahi itu. Kadangkala sekalipun setelah saya mengetahui rahasia “tekan tombol”, saya tetap masih berdoa dengan cara yang tidak efektif itu. Saya yakin banyak di antara kalian yang memiliki pengalaman serupa. Keperluan kita ialah beralih kepada Tuhan, terbuka kepada-Nya, dan menerima suplai Roh dari Dia.

Saya ulangi, kehendak Allah bukanlah ingin menjadikan Anda seorang yang baik, melainkan ingin menjadikan Anda anak-Nya. Efesus 1:5 mengatakan bahwa Allah telah menakdirkan kita untuk keputraan. Dalam Galatia 4:5 Paulus berkata dengan jelas bahwa Kristus telah menebus kita, supaya kita boleh menerima keputraan. Ayat 6 mengatakan, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” Roh Anak Allah adalah realitas keputraan. Mula-mula, Allah mengutus Anak-Nya menjadi Penebus kita. Kemudian Allah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita. Sekarang, kedambaan Allah ialah menyuplai kita dengan Roh itu secara berkesinambungan.

DUA EKSTREM

Menurut 3:13-14, Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, sehingga “Di dalam Dia, berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Kita telah menerima Roh itu sebagai berkat Abraham. Berkat Allah yang unik yang diberikan kepada kita adalah Roh almuhit itu. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen fundamental bahkan enggan membicarakan Roh itu. Ada beberapa orang yang takut menyebut Roh itu, ini adalah satu ekstrem. Ekstrem lainnya terdapat pada orang-orang golongan Pentakosta tertentu, yang menekankan Roh secara tidak tepat dan tidak sejalan dengan ekonomi Allah. Roh dalam Kitab Galatia adalah ekspresi akhir dari Allah Tritunggal, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Dalam Kitab Galatia, Roh itu tidak dihubungkan dengan hal-hal yang aneh-aneh atau yang tidak lazim. Sebaliknya, Roh itu berkaitan dengan Kristus yang hidup di dalam kita. Karenanya, Roh itu penuh dengan realitas yang ilahi dan surgawi. Yang dibutuhkan dalam pemulihan Tuhan dewasa ini ialah sejumlah orang saleh yang menerima terang dan membuka diri bagi suplai surgawi yang disalurkan ke dalam mereka.

PRAKTEK DAN KENIKMATAN

Kita semua perlu menyadari bahwa kita telah dilahirkan dari Roh itu. Karena kita telah dilahirkan dari Roh itu, maka keadaan kita berbeda dengan keadaan sebelumnya. Setelah dilahirkan dari Roh itu, perlulah kita berlatih membuka diri kita kepada Tuhan dan menerima suplai-Nya. Kita harus berkata, “Tuhan, suplailah aku dengan diri-Mu sebagai Roh pemberi hayat. Tuhan, aku memuji-Mu karena Engkau begitu riil. Engkau berada di atas takhta di surga, tetapi Engkau pun hidup di dalamku. Tuhan, aku mohon Engkau menjagaku agar setiap saat aku terbuka kepada-Mu.” Untuk selalu terbuka kepada Tuhan, sangatlah membantu bila kita menyeru nama-Nya, mendoabaca firman, memuji Tuhan, dan berkidung kepada Tuhan. Ketika kita melakukan hal-hal ini, kita menerima Roh itu. Bila kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu dan aku persembahkan diriku seluruhnya kepada-Mu,” maka kita akan tersuplai dengan Roh itu. Menyadari bahwa kita telah dilahirkan dari Roh itu maka sekarang kita harus selalu terbuka untuk menerima Roh itu dari saat ke saat.

Saya benar-benar dapat bersaksi betapa nikmatnya bila kita tidak henti-hentinya menerima Roh itu. Tidak ada sukacita yang dapat melampaui sukacita ini. Kita dapat menerima Roh itu di mana saja, di rumah, di kantor, atau di sekolah. Karena Roh itu demikian mudah dan praktis, maka kita dapat menerima-Nya kapan saja.

Alangkah ajaibnya bahwa kita telah dilahirkan dari Roh itu untuk menerima Roh itu! Marilah kita senantiasa datang ke “tombol” roh kita yang dilahirkan kembali dan “menyalakan”nya demi menerima listrik surgawi.