← Daftar isi Galatia · bab 7/22

TANDA-TANDA YESUS DAN ANUGERAH KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Gal. 6:17-18

Pada berita terdahulu kita membahas perkataan Paulus dalam 6:15, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Ciptaan baru sama sekali berbeda dengan agama macam apa pun. Agama adalah bagian dari ciptaan lama. Hanya kehidupan dan perilaku oleh Roh barulah bagian dari ciptaan baru. Untuk menjadi ciptaan baru, haruslah kita masuk ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Segala sesuatu yang di luar kesatuan ini, entah yang agamis atau tidak, adalah bagian ciptaan lama.

Dalam berita ini kita akan membahas tanda-tanda Yesus (6:17) dan anugerah Kristus (6:18). Memang agak aneh, pada akhir Surat Kiriman ini, Paulus menyisipkan perkataan tentang tanda-tanda Yesus di antara damai sejahtera dan anugerah. Dalam ayat 16 ia berkata, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Tetapi, Paulus tidak langsung melanjutkan perkataan ini dengan perkataan tentang anugerah, melainkan menyinggung bahwa pada tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus. Kemudian ia berkata, “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin” (ayat 18).

Kita perlu mengetahui alasan Paulus menyisipkan perkataan tentang tanda-tanda Yesus di antara perkataannya tentang damai sejahtera dan anugerah. Ketika kita menulis sebuah surat, kita menyatakan konsepsi, perasaan, atau maksud yang ada dalam batin kita. Demikian pula, ketika Paulus menyurati orang-orang Galatia, ia mengekspresikan konsepsi dan perasaan yang terkandung dalam batinnya. Ketika ia menulis tentang damai sejahtera dan anugerah, dalam batinnya ia menyadari bahwa ia menikmati damai sejahtera karena ia membawa tanda-tanda Yesus. Tanda-tanda Yesuslah yang memelihara dia dalam suatu kondisi yang penuh damai sejahtera. Melalui menikmati anugerah, Paulus dibawa ke dalam suatu keadaan yang penuh damai sejahtera. Ia tetap bertahan di dalam damai sejahtera ini melalui membawa tanda-tanda Yesus tersebut.

Untuk memahami kata penutup Paulus, kita perlu memiliki sejumlah pengalaman rohani. Ketika ia menulis Surat Kiriman ini hingga akhirnya, ia menyalami para pembaca dengan damai sejahtera dan anugerah. Ketika ia menyampaikan salam ini kepada mereka, dengan spontan ia menyadari bahwa ia dapat menikmati damai sejahtera karena ia membawa tanda-tanda Yesus. Seolah-olah Paulus berkata, “Saudara-saudara, aku merasa damai. Aku memelihara keadaan damai sejahtera ini karena aku membawa tanda-tanda Yesus. Jangan ada orang menyusahkan aku.” Jangan menyusahkan seorang berarti jangan mengganggunya dan jangan merampasnya dari damai sejahtera. Kata menyusahkan dalam ayat 17 berlawanan dengan kata damai sejahtera dalam ayat 16. Setelah mengatakan turunlah damai sejahtera atas semua orang yang menuruti patokan ini, Paulus meminta agar tidak ada orang yang menyusahkan dia, sebab ia mengemban tanda-tanda Yesus. Ini menunjukkan bahwa damai sejahtera Paulus dipertahankan oleh tanda-tanda Yesus yang diembannya pada tubuhnya. Karena itu, Paulus berkata, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Paulus tahu bahwa para penganut agama Yahudi dan para penganiaya tidak dapat merebut damai sejahteranya. Bahkan seluruh sistem Iblis pun tidak dapat menyusahkan dia, sebab dia mengemban tanda-tanda Yesus. Akan tetapi, jika dia menanggalkan tanda-tanda ini, tidak mau mengembannya lagi, maka dia akan segera kehilangan damai sejahtera. Kalau begitu dia mungkin akan disusahkan oleh apa atau siapa saja. Namun, karena dia menikmati damai sejahtera melalui mengemban tanda-tanda Yesus, maka dapatlah dia berkata, “Janganlah ada orang yang menyusahkan aku.”

Situasi kita pada prinsipnya sama dengan situasi Paulus. Mengemban tanda-tanda Yesus juga akan memelihara kita dalam damai sejahtera. Tetapi bila kita tidak mau mengemban tanda-tanda tersebut, kita akan disusahkan, dan damai sejahtera kita akan lenyap. Setelah kehilangan damai sejahtera, kita akan sulit untuk senantiasa berada dalam kenikmatan atas anugerah.

I. TANDA-TANDA YESUS

Kata tanda-tanda dalam ayat 17 mengacu kepada tanda yang dicapkan pada seorang budak untuk menyatakan pemiliknya. Pada Paulus, hamba Kristus (Rm. 1:1), tanda itu adalah goresan lukanya yang diterima dalam pelayanannya yang setia kepada Tuannya (2Kor. 11:23-27). Secara rohani, tanda itu melambangkan ciri kehidupan yang ditempuhnya, kehidupan seperti yang ditempuh oleh Tuhan Yesus di bumi. Kehidupan yang demikian terus-menerus disalibkan (Yoh. 12:24), melakukan kehendak Allah (Yoh. 6:38), tidak mencari kemuliaan pribadi, tetapi kemuliaan Allah (Yoh. 7:18), dan tunduk serta taat kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8). Paulus mengikuti pola teladan Tuhan Yesus, mempunyai tanda, yang menjadi ciri hayat-Nya. Dalam hal ini, ia mutlak berbeda dengan para penganut agama Yahudi.

Paulus menganggap dirinya seorang hamba Kristus. Sebagaimana seorang hamba harus mengenakan tanda yang membuktikan bahwa ia adalah milik seseorang, maka pada tubuh Paulus ada tanda Yesus. Seolah-olah nama Yesus telah dicapkan pada dirinya berulang-ulang sebagai kesaksian dan deklarasi bahwa Paulus adalah milik Tuhan.

Paulus telah beberapa kali terluka karena kesetiaannya dalam melayani Kristus. Dalam 2 Korintus 11:24-25 ia mengatakan pernah disesah lima kali “setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,” pernah tiga kali didera, dan satu kali dilempari dengan batu. Karena itu, banyaklah bilur-bilur pada tubuhnya yang membuktikan ia telah bertahun-tahun melayani Kristus. Bekas-bekas luka itu boleh juga dianggap sebagai tanda-tanda Yesus.

Seperti telah kita tunjukkan, makna rohani dari ungkapan “tanda-tanda Yesus” ialah bahwa Paulus menempuh kehidupan yang tersalib. Tatkala Tuhan Yesus berada di bumi, Dialah yang memelopori menempuh kehidupan tersalib semacam itu. Ketika kita membaca keempat kitab Injil, kita nampak potret Orang yang dengan konstan menempuh kehidupan yang tersalib. Kehidupan semacam itu adalah suatu tanda. Jadi, tatkala Tuhan Yesus berada di bumi, Ia mengemban tanda semacam itu. Ia dianiaya, diolok-olok, dihina, dan ditolak. Akan tetapi, Ia tidak berkata apa-apa untuk membela diri-Nya. Malahan dengan menempuh kehidupan yang tersalib, Ia mengemban sebuah tanda yang memperlihatkan bahwa Ia adalah milik Allah Bapa. Paulus meneladani Tuhan Yesus, menempuh kehidupan semacam ini. Dalam Filipi 3:10 ia menyinggung tentang “persekutuan dalam penderitaan-Nya”. Selaku seorang yang hidup dalam persekutuan penderitaan Yesus, Paulus mengemban tanda-tanda Yesus sebagai tanda bahwa ia menempuh suatu kehidupan yang tersalib. Ketika Paulus memberi salam kepada orang-orang Galatia dengan perkataan damai sejahtera, ia teringat akan fakta bahwa tanda-tanda Yesuslah yang memelihara dia dalam damai sejahtera itu. Karena ia telah dianiaya, dihina, diolok-olok, ditolak, dan dihukum, ia dapat berkata dengan sebenarnya bahwa ia mengemban tanda-tanda Yesus.

Walaupun kita tidak menganggap dapat menggolongkan diri kita sendiri dengan Paulus, tetapi kita pun dapat berkata dengan sebenarnya, dalam tingkat tertentu, kita juga mengemban tanda-tanda Yesus, karena kita diolok-olok, dicemooh, dihina, dikritik, dan dikutuk. Banyak hal yang buruk telah ditulis mengenai kita dan diucapkan terhadap kita. Selama kita berjalan terus pada jalan salib, pasti kita akan ditentang secara demikian. Jika kita dengan setia menempuh kehidupan yang tersalib, penentangan pasti akan bangkit berulang-ulang.

Dalam Galatia 4:29 Paulus berkata, “Tetapi sebagaimana dahulu, dia yang dilahirkan menurut daging, menganiaya yang dilahirkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini” (Tl.). Perkataan ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang-orang yang menurut daging akan menganiaya orang-orang yang menurut Roh. Sebagaimana Tuhan Yesus dan Paulus dianiaya karena mereka menempuh kehidupan yang tersalib, maka hal yang sama akan terjadi pada kita bila kita, oleh rahmat dan anugerah Tuhan, mengikuti jejak mereka untuk menempuh kehidupan yang sedemikian. Tatkala kita dihina, ditolak, dihukum, diolok-olok, dan dicemooh, itu berarti kita mengemban tanda-tanda Yesus. Akan tetapi, karena kita mengemban tanda-tanda itu, kita menik-mati damai sejahtera, dan kita tidak akan disusahkan oleh situasi atau keadaan apa pun.

Saya percaya ketika Paulus menulis tentang damai sejahtera, ia memiliki perasaan yang mendalam bahwa ia terpelihara dalam damai sejahtera karena ia mengemban tanda-tanda Yesus itu. Pada prinsipnya, pengalaman kita hari ini pun sama. Saya kira orang-orang yang mengkritik, menganiaya, dan mengolok-olok kita tidak memiliki damai sejahtera dalam lubuk batin mereka. Namun, Tuhan dapat bersaksi bagi kita, walaupun ada penentangan dan olok-olok, kita menikmati suatu damai sejahtera batini yang dalam, yaitu damai sejahtera yang dibarengi dengan kepastian bahwa kita menempuh jalan salib. Aniaya semacam ini adalah satu petunjuk bahwa kita adalah orang-orang yang dilahirkan dari Roh, bukan dari daging. Orang-orang yang menganiaya orang lain dan yang mencemooh mereka pasti adalah anak-anak menurut daging. Kita harus memiliki suatu pandangan yang positif tentang aniaya yang menimpa kita karena kita menempuh jalan salib. Bila kita dianiaya, kita harus memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. Kita bukan Ismael yang menertawai Ishak, kita adalah Ishak yang ditertawai oleh Ismael. Kita dituduh sebagai sekte sesat dan menyebarkan bidah. Banyak tuduhan palsu yang telah dibuat dalam media cetak untuk menentang kita. Namun, saya dapat bersaksi bahwa di tengah-tengah semuanya itu saya berada dalam damai sejahtera dan setiap malam tidur dengan nyenyak. Mengemban tanda-tanda Yesus akan memelihara kita dalam kondisi yang penuh damai sejahtera. Selain itu, penentangan dan aniaya ini menunjukkan bahwa kita berada di atas jalur yang benar bersama Tuhan.

Jika Anda mengecek pengalaman Anda, Anda akan nampak semakin Anda dianiaya karena mengikuti Tuhan Yesus, batin Anda akan semakin bersukacita. Menurut Kisah Para Rasul 5:40-41, para murid bersukacita karena merasa terbilang layak menderita bagi nama Yesus. Aniaya memberi kita kepastian bahwa kita menempuh jalan yang benar. Karena itu, seperti yang dikatakan Paulus dalam 6:16, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas orang yang menuruti patokan ini. Bagaimana kita tahu bahwa kita menuruti patokan ini? Kita mengetahuinya melalui fakta bahwa kita telah dianiaya. Jika kita tidak menuruti patokan ini, tiadalah alasan bagi datangnya penganiayaan. Sekalipun Paulus tidak menyalahi siapa pun, ia tetap dianiaya. Aniaya datang tak lain hanya karena Kristus dan salib. Aniaya yang dihadapi Paulus merupakan satu tanda bahwa ia berada dalam inti ekonomi Allah dan ia bersatu dengan Tuhan, Persona yang teraniaya itu. Karena itu, ia memiliki keyakinan yang mantap dan menikmati damai sejahtera.

II. ANUGERAH KRISTUS

Setelah menyinggung tanda-tanda Yesus, Paulus berkata, “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin.” Anugerah (kasih karunia) Yesus Kristus adalah suplai limpah lengkap dari Allah Tri-tunggal (yang diwujudkan dalam Putra dan dinyatakan sebagai Roh pemberi hayat) dinikmati oleh kita melalui melatih roh insani kita. Di satu pihak, kita mengemban tanda-tanda Yesus, dianiaya, dan menempuh kehidupan yang tersalib; di pihak lain, kita menikmati anugerah Kristus dan mengalami suplai yang kaya dan limpah lengkap dari Roh itu. Oh, suplai yang limpah lengkap dari Roh almuhit itu menyertai roh kita!

Selaku umat pilihan Allah, kita adalah anak-anak Allah, dan Allah Tritunggal yang telah melalui proses sudah tergarap ke dalam diri kita. Karena kita adalah anak-anak Allah dengan Allah Tritunggal tergarap ke dalam kita, maka kita dihina dan dianiaya. Bahkan ada beberapa yang menganggap kita sekte sesat. Paulus mendapat serangan yang serupa itu. Kisah Para Rasul 24:5 mengatakan, “Kami dapati bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari aliran Nasrani.” Terhadap tuduhan itu Paulus menjawab, “Tetapi aku mengakui kepadamu bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut aliran. Aku percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi” (ayat 14). Paulus dituduh sebagai tokoh aliran, suatu bidah, namun ia tahu bahwa ia justru memperhidupkan suatu ciptaan baru dan menikmati suplai limpah lengkap dari Roh yang almuhit dalam rohnya. Seperti yang ditunjukkan Kitab Galatia, jika kita mengemban tanda-tanda Yesus dan menempuh kehidupan tersalib, kita akan menikmati suplai limpah lengkap dari Roh pemberi hayat di dalam kita.

Roh dalam Galatia 6:18 adalah roh kita yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh itu, adalah titik pusat berkat yang Allah janjikan. Ini sangat ditekankan dalam seluruh Kitab Galatia. Di dalam roh kita inilah kita mengalami dan menikmati Roh itu sebagai berkat utama Perjanjian Baru. Karena itu, kita perlu anugerah Tuhan, yaitu suplai limpah lengkap dari Roh yang almuhit menyertai roh kita.

Kristus, Roh itu, ciptaan baru, dan roh kita adalah empat butir dasar dalam kitab ini yang menggarisbawahi pemikiran ekonomi Allah. Kristus adalah pusat ekonomi Allah, dan Roh itu adalah realitas Kristus. Ketika Kristus dinyatakan melalui Roh itu dalam roh kita, kita menjadi ciptaan baru. Karena itu, roh kita sangat penting bagi kita untuk memperhidupkan hayat ciptaan baru bagi penggenapan tujuan Allah.

Kitab Galatia menekankan salib dan pengalaman salib untuk menanggulangi hal-hal negatif, seperti hukum Taurat, daging, “aku”, dunia agama, perhambaan, dan kutukan, di samping itu, mendatangkan hal-hal positif yang diwahyukan dalam kitab ini Kristus, Roh itu, anak-anak Allah, pewaris janji, keluarga iman, ciptaan baru, dan Israel milik Allah. Akan tetapi, ketiga pokok utama dari hal-hal negatif yang ditanggulangi dalam Kitab Galatia adalah hukum Taurat, daging, dan agama. Ketiga hal tersebut berjalan seiring. Ketika kita berada di bawah hukum Taurat, kita akan terlibat dalam daging dan agama. Agama dalam Kitab Galatia adalah agama tertinggi, yaitu agama Yahudi yang dibentuk menurut sabda Allah. Namun, agama yang demikian pun berkaitan dengan hukum Taurat dan daging. Oleh salib kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, daging dan agama, dan kita memiliki Kristus, Roh itu, ciptaan baru, dan roh kelahiran kembali kita. Jika kita nampak visi ini, kita akan memuji Tuhan karena salib. Karena salib Kristus itulah maka hukum Taurat, daging, dan agama semua telah diakhiri. Tetapi melalui salib Kristus, kita memiliki Roh itu, ciptaan baru dan roh kita. Kini oleh Roh itu, yang merupakan realisasi Kristus dalam roh kita, kita dapat memperhidupkan ciptaan baru. Dengan memperhidupkan ciptaan baru ini maka kita mengemban tanda-tanda Yesus dan menikmati anugerah Tuhan Yesus dalam roh kita. Bersama Paulus kita dapat berkata, “Janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Dengan demikian maka kita akan mengetahui bahwa anugerah Kristus itu menyertai roh kita. Demikian cara Paulus menarik kesimpulan atas Kitab Galatia.

Pada akhir ayat 18 Paulus menggunakan istilah Saudara-saudara. Walaupun Paulus telah menegur orang-orang Galatia dan mengatakan mereka bodoh (3:1), namun ia pernah beberapa kali menggunakan istilah intim ini untuk menyebut mereka (1:11; 3:15; 4:12, 28, 31; 5:11, 13; 6:1). Pada penutupan Surat Kiriman yang demikian serius, menegur, dan memperingatkan, rasul kembali menggunakan kata-kata yang penuh kasih, khusus menaruhnya di akhir kalimat, untuk mengekspresikan kasihnya yang tidak berubah terhadap mereka, meyakinkan mereka bahwa mereka masih tetap saudaranya dalam keluarga iman (6:10).