← Daftar isi Galatia · bab 6/22

TELAH DISALIBKAN BAGI DUNIA AGAMA, UNTUK MEMPERHIDUPKAN CIPTAAN BARU

Pembacaan Alkitab: Gal. 6:11-16

Dalam berita ini kita akan melihat Galatia 6:11-16. Butir utama ayat-ayat ini ialah kita telah disalibkan bagi dunia agama, supaya kita memperhidupkan suatu ciptaan baru.

I. HURUF-HURUF BESAR

DALAM TULISAN PAULUS

Dalam 6:11 Paulus berkata, “Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri.” Mungkin ada dua alasan bagi Paulus mengatakan “besarnya huruf-huruf”. Pertama huruf-huruf besar ini menunjukkan pentingnya tulisan Paulus. Melalui menggunakan huruf-huruf yang besar, mungkin Paulus ingin mengesankan pembacanya akan pentingnya Surat Kiriman ini. Kedua, penggunaan huruf-huruf besar mungkin juga karena penyakit di mata Paulus (4:13-15). Penyakit yang Paulus singgung pada 4:13 boleh jadi ada pada matanya. Ini dapat menyebabkan dia menulis dengan huruf-huruf besar. Penyakit jasmani ini mungkin pula merupakan duri dalam dagingnya, yakni duri yang pernah Paulus doakan supaya meninggalkan dirinya (2 Kor. 12:7-9).

II. KEMEGAHAN PARA PENGANUT

AGAMA YAHUDI

Dalam ayat 12 dan 13 kita nampak kemegahan para penganut agama Yahudi: “Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah.” Ungkapan yang diterjemahkan “menonjolkan diri” dalam ayat 12 dalam bahasa aslinya berarti roman muka yang baik, karena itu, penampilan yang baik untuk menonjolkan diri, memamerkan diri. Ini digunakan di sini dalam arti negatif. Sunat, seperti salib, bukan untuk menonjolkan diri, tetapi sesuatu yang memalukan. Namun, para penganut agama Yahudi membuatnya menjadi sesuatu untuk dipamerkan sebagai kemegahan diri dalam daging.

Ungkapan “secara lahiriah” berarti secara luaran dalam ruang lingkup daging, yang telah dihukum dan ditolak oleh Allah. Sunat mereka berada pada diri alamiah dan lahiriah manusia, tanpa realitas batiniah dan nilai rohani yang berada dalam roh kita yang dilahirkan kembali.

Menurut ayat 13, bahkan mereka yang memaksa orang-orang Galatia untuk menyunatkan diri pun tidak memelihara hukum Taurat. Mereka menghendaki orang-orang Galatia menyunatkan diri, agar mereka dapat memegahkan diri di dalam daging mereka. Di satu pihak, mereka ingin memamerkan daging mereka sendiri; di pihak lain, mereka ingin bermegah di dalam daging orang-orang Galatia.

III. KEMEGAHAN RASUL

A. Hanya dalam Salib Kristus

Dalam ayat 14 hingga 16 kita melihat kemegahan rasul Paulus. Pada ayat 14 Paulus berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” Salib benar-benar merupakan suatu yang memalukan, namun Paulus membuatnya menjadi kemegahannya. Dunia telah disalibkan bagi kita, dan kita bagi dunia. Ini memang tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui Kristus yang tersalib. Penjelasan dalam ayat 15 membuktikan bahwa dunia di sini terutama ditujukan kepada dunia agama, karena dalam kitab ini Paulus menanggulangi para agamis yang bergairah atas hal-hal Allah, tetapi diselewengkan sehingga keagamaan menjadi dunia mereka. Oleh salib Kristus kita dipisahkan dari dunia agama dan bersyarat untuk hidup dalam ciptaan baru. Kata “sebab” pada awal ayat 15 menunjukkan bahwa ayat ini merupakan satu penjelasan dari ayat sebelumnya. Selain itu, sunat sebagai satu masalah agama, menunjukkan bahwa dunia dalam ayat 14 terutama adalah dunia agama.

Dalam ayat 15 Paulus berkata, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Ketika kita merenungkan ayat ini bersama ayat 11-14, kita nampak bahwa perhatian Paulus di sini terutama adalah pada dunia agama, bukan dunia sekuler. Orang-orang yang berusaha memaksa kaum beriman Galatia untuk disunat tidak mencoba memperdaya mereka ke dalam dunia sekuler; mereka ingin membawa orang-orang Galatia ke dalam dunia agama untuk memamerkan daging dan untuk menghindari penganiayaan. Karena itu, berbagai hal yang ditulis Paulus dalam ayat-ayat ini bertalian dengan dunia agama, bukan dengan dunia sekuler. Karena itu, dari konteksnya kita nampak dengan jelas bahwa dunia dalam ayat 14 adalah dunia agama.

Di satu pihak dunia agama telah tersalib bagi Paulus; di pihak lain ia pun telah disalibkan bagi dunia agama. Karena salib Kristus, dunia agama tidak bersangkut paut lagi dengan Paulus, Paulus pun tidak ada hubungan apaapa dengan dunia agama. Hari ini kita pun sama.

Dalam ayat 15 Paulus berkata bahwa bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya. Ciptaan lama adalah manusia lama kita dalam Adam (Ef. 4:22), manusia alamiah kita oleh kelahiran alamiah, tanpa hayat dan sifat Allah. Ciptaan baru adalah manusia baru dalam Kristus (Ef. 4:24), diri kita yang dilahirkan kembali oleh Roh (Yoh. 3:6), memiliki hayat dan sifat Allah tergarap ke dalam diri kita (Yoh. 3:36; 2 Ptr. 1:4), dengan Kristus sebagai unsur pokoknya (Kol. 3:10-11). Justru ciptaan baru inilah yang memenuhi kehendak kekal Allah dengan mengekspresikan Allah dalam keputraan-Nya.

B. Bukan Bersunat atau Tidak Bersunat,

Melainkan Ciptaan Baru

Sunat adalah ketetapan hukum Taurat; ciptaan baru adalah karya agung hayat dengan sifat Allah. Sunat berasal dari huruf-huruf mati, ciptaan baru berasal dari Roh yang hidup. Karena itu, ciptaan baru itu yang berarti. Kitab ini membeberkan ketidakmampuan hukum Taurat dan sunat. Hukum Taurat tidak dapat memberikan hayat (3:21) untuk melahirkan kita kembali, dan sunat tidak dapat memberi kita tenaga (5:6) untuk memperhidupkan ciptaan baru. Tetapi Anak Allah, yang telah diwahyukan di dalam kita (1:16), dapat menghidupkan kita dan menjadikan kita ciptaan baru, dan Kristus, yang hidup di dalam kita (2:20) dapat memberi kita kekayaan hayat-Nya supaya kita dapat memperhidupkan ciptaan baru. Hukum Taurat telah digantikan oleh Kristus (2:19-20), dan sunat telah digenapkan oleh penyaliban Kristus (6:14). Sebab itu, bersunat maupun tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi ciptaan baru, dengan Kristus sebagai hayatnya, baru berarti.

Ciptaan baru yang dibicarakan dalam 6:15 adalah ciptaan lama yang telah ditransformasi oleh hayat ilahi, yaitu oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ciptaan lama bersifat usang karena tidak memiliki unsur Allah, ciptaan baru bersifat baru karena memiliki Allah sebagai unsurnya. Kita yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah sekarang adalah ciptaan baru-Nya. Walaupun dalam daging kita masih ciptaan lama, namun kita mengalami realitas ciptaan baru ketika kita hidup oleh Roh (5:16, 25). Bahasan utama dalam kitab ini adalah: kita adalah ciptaan baru dan kita harus hidup berdasarkan ciptaan baru melalui bersatu secara organik dengan Allah Tritunggal. Bila kita hidup oleh daging, kita berada dalam ciptaan lama, bukan dalam ciptaan baru. Apa pun dalam kehidupan sehari-hari kita yang di dalam-Nya tanpa Allah, itulah ciptaan lama; tetapi apa yang di dalamnya ada Allah, itulah bagian dari ciptaan baru.

Allah menghendaki kita menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru ini tersusun dari anak-anak. Sesungguhnya, keputraan yang korporat itulah ciptaan baru Allah. Orang-orang dalam ciptaan lama adalah anak-anak Adam dalam kejatuhan. Tetapi melalui penebusan Allah dan kelahiran kembali serta melalui penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam kita, kita yang dulunya anak-anak Adam sekarang menjadi anak-anak Allah. Di dalam keputraan ilahi inilah kita menjadi ciptaan baru.

Jika kita ingin berada di dalam ciptaan baru, haruslah kita masuk ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Di luar kesatuan yang sedemikian kita akan tetap berada dalam ciptaan lama. Tetapi sekarang oleh ke-satuan yang organik dengan Allah Tritunggal kita telah berada dalam ciptaan baru. Di sini, di dalam ciptaan baru, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya dan tidak ada gunanya.

Kelihatannya, Paulus menulis Kitab Galatia untuk menanggulangi hukum Taurat. Sebenarnya kitab ini menanggulangi ciptaan lama. Walaupun Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan oleh iman, tetapi butir utamanya bukan pembenaran, melainkan ciptaan baru. Ketika kita berada di dalam daging, kita sangat terlibat dengan hukum Taurat dan sudah tentu kita berada di dalam ciptaan lama.

Tetapi bila kita berada di dalam Roh itu, kita tidak berada di bawah hukum Taurat, melainkan berada di dalam ciptaan baru. Jadi, dalam Kitab Galatia Paulus tidak hanya memperhatikan doktrin tentang hukum Taurat dan pembenaran oleh iman, melainkan memperhatikan wahyu beradanya kita di dalam ciptaan baru Allah. Di sini kita tidak lagi terlibat dalam memelihara hukum Taurat, bersunat, dan praktek-praktek agama. Dalam ciptaan baru hanya ada satu hal yang vital dan penting bagi kita, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat sehingga Ia dapat menjadi hayat, sifat, dan segala sesuatu kita melalui kesatuan yang organik antara kita dengan Dia. Alangkah ajaibnya, dalam kesatuan organik ini kita menjadi ciptaan baru!

Kebanyakan pembaca Kitab Galatia telah mengabaikan butir yang sangat penting ini. Mereka telah nampak bahwa Surat Kiriman ini mengesampingkan hukum Taurat dan menekankan perihal pembenaran oleh iman. Tetapi beban Paulus dalam kitab ini tidak hanya mengenai pembenaran oleh iman, melainkan menyingkapkan kepada pembacanya masalah keputraan oleh hayat ilahi, yakni oleh Allah Tri-tunggal menjadi segala sesuatu kita dalam pengalaman kita. Bila direnungkan secara korporat, maka anak-anak Allah itulah ciptaan baru. Persoalan utama dalam Kitab Galatia bukan bersunat atau tidak bersunat, agama atau bukan agama, melainkan persoalan apakah kita menjadi ciptaan baru melalui kesatuan organik dengan Allah Tritunggal atau tidak.

Jika kita ingin memperhidupkan ciptaan baru, kita perlu mengalami salib. Menurut 6:14-15, salib menanggulangi dunia agama. Sayangnya banyak orang Kristen menganggap dunia dalam 6:14 hanya sebagai dunia sekuler. Tetapi sebagaimana telah kita tunjukkan, konteksnya telah membuatnya jelas bahwa dunia dalam ayat ini terutama adalah dunia agama. Pengertian ini sesuai dengan konsepsi dasar seluruh Kitab Galatia. Kitab ini ditulis tidak untuk menanggulangi dunia sekuler, melainkan agama, yakni agama Yahudi. Dalam kitab ini Paulus menanggulangi para agamis, yaitu mereka yang memperhatikan hal-hal Allah, tetapi yang mengekspresikan perhatian mereka secara keliru. Bagi mereka, agama telah menjadi suatu dunia. Jadi, ada dunia sekuler dan dunia agama.

Hari ini jutaan orang Kristen lebih banyak diduduki oleh dunia agama dibanding dunia sekuler. Ambil saja Natal sebagai contoh. Perayaan hari Natal jelas berkaitan dengan dunia agama. Jika Anda tetap merayakan hari Natal, belum tentu Anda hidup di dalam ciptaan baru. Perayaan hari Natal tidak ada sangkut pautnya dengan ciptaan baru Allah.

Oleh salib itu kita telah dipisahkan dari dunia agama. Jika kita tetap terlibat dalam dunia agama, tidak mungkinlah kita memperhidupkan ciptaan baru. Kita harus dapat berkata bahwa dunia agama telah disalibkan bagi kita dan kita sudah disalibkan bagi dunia agama. Kita harus dapat bersaksi bahwa sekalipun kita mencoba kembali lagi ke dunia itu, kita akan ditolak olehnya, sebab kita telah disalibkan baginya. Sekalipun Paulus ingin kembali kepada agama Yahudi, kaum agamawan itu pasti tidak mau menerima dia lagi. Sebaliknya, mereka akan menyuruh dia pergi, sebab dia berada di dalam dunia yang lain. Bagi agama Yahudi, Paulus telah disalibkan, dan agama Yahudi pun telah disalibkan baginya, Di antara Paulus dengan dunia agama terdapat pemisahan salib. Pemisahan inilah yang melayakkan kita memperhidupkan ciptaan baru. Setiap hal yang dipraktekkan dalam dunia agama adalah bagian dari ciptaan lama. Tetapi melalui salib Kristus, kita tamat terhadap agama dan kini kita berada di dalam dunia lain, alam yang lain. Dalam alam ini kita memperhidupkan ciptaan baru oleh Roh itu, bukan ciptaan lama oleh daging.

C. Hidup oleh Patokan Ini

Dalam 6:16 Paulus berkata selanjutnya, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Patokan yang Paulus katakan di sini adalah patokan menjadi ciptaan baru, patokan hidup oleh Roh melalui iman, bukan dari memelihara hukum Taurat dengan melakukan ketetapan-ketetapannya. Patokan ini, patokan ciptaan baru, adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi hayat dan kehidupan kita. Di satu pihak, kita mengatakan dalam kehidupan gereja kita tidak mempunyai peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan. Meskipun ini benar, tetapi tidak semua aspek demikian, sebab kita jelas memiliki patokan yang dikatakan dalam 6:16 ini. Kita perlu dipimpin oleh patokan yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi hayat dan kehidupan kita. Hidup secara demikian, oleh ciptaan baru, adalah patokan kita.

Dalam 5:25 Paulus menyuruh kita hidup oleh Roh, dan dalam 6:16 Paulus menyuruh kita dipimpin oleh “patokan ini”. Ini menunjukkan bahwa hidup dan dipimpin dengan patokan ini berarti hidup oleh Roh. Dengan kata lain, patokan itu sama dengan Roh itu. Bila kita hidup oleh Roh itu, kita hidup oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai hayat dan kehidupan kita. Karena itu, hidup oleh Roh itu berarti hidup oleh patokan ini.

1. Damai Sejahtera dan Rahmat

Mengenai orang-orang yang hidup dan dipimpin oleh patokan ini Paulus berkata, “Damai sejahtera dan rahmat atas mereka.” Paulus membuka Surat Kirimannya dengan perkataan tentang anugerah dan damai sejahtera. Ini cocok bagi orang-orang Galatia (1:3). Tetapi pada akhir Kitab Galatia, Paulus menyebut damai sejahtera (ayat 16) di depan rahmat dan anugerah (ayat 18). Anugerah adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita, dan damai sejahtera adalah hasil dari kenikmatan ini. Bila kita menikmati Allah Tritunggal sebagai anugerah, kita pun memiliki damai sejahtera. Jadi damai sejahtera adalah keadaan yang dihasilkan dari anugerah. Tetapi, sekalipun kita memiliki damai sejahtera, kita tetap memerlukan lebih banyak anugerah. Pertama-tama kita menerima anugerah, dan anugerah mendatangkan keadaan damai sejahtera. Kemudian ketika kita tinggal di dalam keadaan penuh damai sejahtera, kita perlu menerima rahmat dan anugerah lebih lanjut. Sebagai tambahan anugerah, kita perlu menerima rahmat. Karena itu, Paulus berkata bahwa atas orang-orang yang hidup oleh patokan ini, yaitu yang hidup oleh Roh, ada damai sejahtera dan rahmat.

2. Israel Milik Allah

Paulus menyimpulkan ayat 16 dengan perkataan, “Dan atas Israel milik Allah.” Kata “dan” yang diterjemahkan dari kata Yunani “kai” di sini bukan kata penghubung, melainkan kata penjelasan, menunjukkan bahwa rasul menganggap banyak individu orang beriman di dalam Kristus secara korporat adalah Israel milik Allah. Israel milik Allah adalah Israel sejati (Rm. 9:6; 2:28-29; Flp. 3:3), termasuk semua orang beriman kafir dan Yahudi di dalam Kristus. Itulah anak-anak Abraham yang sejati (Gal. 3:7, 29), keluarga iman (6:10).

Orang-orang yang hidup dan bertindak oleh “patokan ini” adalah Israel sejati, Israel milik Allah. Di satu aspek tidak ada perbedaan antara bangsa Israel dengan dunia sekuler atau dunia agama. Dalam pandangan Allah, bangsa Israel bukanlah Israel yang sejati. Kita, anak-anak Allah, barulah Israel sejati, sebab kita adalah keluarga Allah, umat pilihan-Nya hari ini. Kita mungkin bukan Israel secara lahiriah, tetapi kita adalah Israel secara batiniah. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa kita, orang-orang yang percaya Kristus, adalah Israel yang sejati. Bangsa Israel yang lahiriah sedikit sekali memperhatikan Allah. Namun, kita memiliki perhatian yang benar-benar bagi Allah dan membicarakan-Nya terus-menerus. Kitalah yang sebe-narnya menjadi Israel milik Allah itu.