BAGAIMANA MEMULIHKAN ORANG YANG JATUH, BAGAIMANA MEMENUHI HUKUM KRISTUS, DAN BAGAIMANA
MENABUR
Pembacaan Alkitab: Gal. 6:1-10
Galatia 6:1-10 merupakan kelanjutan perkataan Paulus pada akhir pasal 5. Dalam 5:25 Paulus berpesan kepada kita agar kita hidup dan dipimpin oleh Roh. Dalam 6:1-10 Paulus lebih mengembangkan masalah hidup oleh Roh. Dia membahas tiga hal: bagaimana memulihkan orang yang jatuh, bagaimana memenuhi hukum Kristus, dan bagaimana menabur bagi Roh itu. Untuk mencapai ketiga hal ini, kita perlu berpaling ke dalam roh kita dan hidup oleh Roh.
I. BAGAIMANA MEMULIHKAN
ORANG YANG JATUH
Dalam 6:1 mengatakan, “Saudara-saudara, kalau pun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Orang yang rohani adalah orang yang hidup oleh Roh, dan juga berperilaku oleh Roh. Inilah satu-satunya jalan untuk menjadi rohani yang sejati. Orang yang rohani harus dengan roh yang lemah lembut memulihkan orang yang jatuh. Roh yang lemah lembut mengacu kepada kita yang dilahirkan kembali, yang dihuni dan berbaur dengan Roh Kudus. Roh lemah lembut adalah hasil hidup dan dipimpin oleh Roh, seperti disebutkan dalam Galatia 5:16, 25. Perhatikan, di sini Paulus mengatakan roh yang lemah lembut. Kelemah lembutan yang kita butuhkan haruslah berada dalam roh kita. Sumber dari apa yang kita lakukan seharusnya adalah roh kita, bukan hanya kebaikan hati kita. Karena itu, ayat ini menunjukkan bahwa setiap hal yang kita lakukan dalam hidup dan perilaku sehari-hari kita seharus-nya dilakukan di dalam roh kita dan dari roh kita.
II. BAGAIMANA MEMENUHI HUKUM KRISTUS
Dalam 6:2 Paulus melanjutkan, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Beberapa penafsir Alkitab mengatakan bahwa hukum Kristus di sini mengacu kepada perintah Tuhan agar kita saling mengasihi. Menurut mereka hukum Kristus adalah hukum kasih. Itu memang benar. Namun kita harus maju ke depan melihat bahwa hukum Kristus adalah hukum hayat yang lebih tinggi dan lebih baik, yang bekerja melalui kasih (Rm. 8:2; Yoh. 13:34). Hukum kasih, yakni hukum Kristus, adalah hukum hayat. Kasih adalah ekspresi, tetapi hayat adalah hakiki. Kasih sejati adalah yang berasal dari hayat ilahi. Kasih yang dilukiskan Paulus dalam 1Korintus 13 adalah ekspresi hayat ilahi. Selain itu, fakta kasih adalah satu buah dari Roh itu menunjukkan bahwa hakiki kasih seharusnya adalah Roh itu (Gal. 5:22). Sebenarnya, semua pekerti rohani harus memiliki Roh itu dan hayat ilahi sebagai hakikinya. Hukum Kristus, yakni hukum kasih, seharusnya direalisasikan oleh hayat ilahi. Inilah alasan kita mengatakan bahwa “hukum Kristus” dalam 6:2 menunjukkan “hukum hayat”. Diekspresikannya hukum hayat oleh hukum kasih memungkinkan kita bertolong-tolongan menanggung beban. Dengan cara demikianlah baru kita dapat memenuhi hukum Kristus.
Dalam ayat 3 Paulus berkata, “Sebab kalau seseorang menyangka bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.” Kelihatannya antara ayat 3 dan ayat 2 tidak ada kaitannya; tetapi sebenarnya di antara kedua ayat itu terdapat hubungan yang sangat riil dan bermakna. Orang yang menganggap dirinya berarti tidak akan mau menanggung beban orang lain. Hanya orang yang tidak menganggap dirinya berarti, baru mau menanggung beban orang lain. Mungkin Anda ingin berkata bahwa ada beberapa orang yang menyangka diri mereka berarti tampaknya dapat menanggung beban orang lain. Tetapi, itu hanya suatu pertunjukan luaran dan pameran diri belaka, bukan benar-benar menanggung beban orang lain. Dalam pandangan Tuhan, orang semacam itu tidak benar-benar menanggung beban orang lain. Sebaliknya, karena menyangka dirinya sendiri berarti maka ia mengambil keuntungan dari suatu kesempatan memamerkan dirinya sendiri.
Sudah pasti Paulus menulis ayat-ayat ini menurut pengalamannya. Dari pengalamannya ia memahami bahwa tatkala kita menganggap diri kita tidak berarti, maka dengan spontan, bahkan tanpa kita sadari, kita sudah menanggung beban orang lain. Kita tidak melebih-lebihkan apa yang kita lakukan. Kita hanya melakukan hal itu karena kita hidup di dalam Roh dan oleh Roh itu. Karena hidup oleh Roh, maka kita akan dipimpin Roh itu untuk melakukan perkara tertentu. Hasilnya, tanpa kita sadari kita akan menanggung beban seseorang. Perkataan Paulus sangat sederhana dan singkat, tetapi penuh dengan pengalaman.
Dalam 6:6 Paulus berkata, “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam firman, berbagi segala sesuatu yang baik dengan orang yang memberikan pengajaran itu.” Kata “segala sesuatu yang baik” dalam ayat ini mengacu kepada sesuatu atau barang yang baik untuk hidup ini, yaitu kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan dalam hal membagikan benda-benda semacam ini pun kita dapat me-menuhi hukum Kristus, yaitu memenuhi hukum kasih menurut hukum hayat.
III. BAGAIMANA MENABUR
Dalam 6:7-10 Paulus menyinggung masalah bagaimana menabur. Dalam ayat 7 ia memperingatkan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Nasihat tentang jangan sesat ini dikatakan berkenaan dengan ajaran-ajaran palsu para penganut agama Yahudi, yang menyebabkan orang-orang Galatia menyimpang dari Roh yang ada dalam roh mereka kepada pemeliharaan hukum Taurat oleh daging mereka.
Masalah menabur memang sangat misterius. Apakah yang kita tabur, dan untuk tujuan apakah kita menabur? Ada orang menganggap perkataan Paulus tentang menabur ini mengacu kepada apa yang ia katakan sebelumnya tentang menanggung beban orang lain dan membagikan keperluan hidup kepada orang-orang yang membutuhkan. Menurut pengertian ini, jika seseorang menyumbangkan keperluan sehari-hari kepada orang yang melayankan firman, berarti ia menabur dalam Roh itu. Saya setuju bahwa hal ini adalah satu penerapan yang tepat dari perkataan Paulus tentang penaburan. Tetapi, pengertian kita tentang penaburan tidak boleh terbatas pada masalah ini. Seperti yang akan kita tunjukkan, penaburan meliputi seluruh kehidupan kristiani kita.
Ayat 8 mengatakan, “Sebab siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Menabur dalam daging berarti menabur mengarah kepada atau bagi daging. Menabur kepada dagingnya berarti menabur bagi dagingnya sendiri, dengan mempertimbangkan kehendak dan tujuan daging untuk memenuhi apa yang didambakan oleh daging. Menabur kepada Roh berarti menabur bagi Roh, dengan mempertimbangkan kehendak dan sasaran Roh, untuk menggenapkan apa yang menjadi kehendak Roh. Menabur untuk memenuhi tujuan daging menghasilkan kebinasaan, menabur untuk penggenapan tujuan Roh menghasilkan hayat, yaitu hayat kekal. Kebinasaan berasal dari daging, menunjukkan bahwa daging dapat binasa; hayat kekal berasal dari Roh itu dan adalah Roh itu sendiri.
Segala sesuatu yang kita lakukan adalah menabur, baik kepada daging maupun kepada Roh. Di mana saja kita berada dan apa yang kita lakukan, kita menabur benih. Anda menabur ketika bekerja juga ketika bersekolah. Para penatua menabur pada saat mereka mengasuh gereja, dan orang-orang yang meministrikan firman menabur ketika mereka melayani. Suami dan istri senantiasa menabur dalam kehidupan pernikahan mereka, dan para orang tua menabur dalam kehidupan rumah tanga. Apa saja yang dikatakan dan dilakukan orang tua kepada anak-anak mereka adalah satu benih yang ditaburkan ke dalam mereka. Hari demi hari kita semua menabur. Kehidupan kristiani adalah kehidupan menabur. Selain itu, tempat kita tinggal atau bekerja adalah ladang kita. Anda menabur bahkan dengan cara Anda berpakaian atau gaya Anda merias rambut. Pada hakekatnya, setiap perkara yang Anda lakukan adalah suatu perbuatan menabur. Sangat penting sekali kita memahami bahwa hidup dan perilaku orang Kristen seharusnya suatu hidup dan perilaku oleh Roh itu dan merupakan suatu kehidupan menabur dalam Roh itu.
Dalam menulis Galatia 6:1-10, Paulus memperlihatkan hikmat yang menakjubkan dan menyinggung sejumlah butir yang penting dan menentukan. Seperti telah kita ketahui, ia mengatakan hal-hal seperti memulihkan orang yang jatuh dengan roh lemah lembut dan tentang memenuhi hukum Kristus dengan memberikan sesuatu untuk mencukupi keperluan orang lain. Lalu ia mengatakan agar kita jangan sesat, karena Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Kita tidak perlu jauh-jauh mengatakan tentang disesatkan, sebab kita mungkin disesatkan di dalam pikiran kita. Tetapi Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan, dan kita tidak dapat menipu Dia. Dia tahu apa adanya kita, juga tahu apa yang kita lakukan. Jadi, Paulus menasihati kita untuk memperhatikan penaburan kita. Jangan menabur dalam daging, melainkan harus menabur dalam Roh, dan menyadari bahwa setiap hal yang kita katakan atau lakukan adalah bagian dari penaburan kita tiap hari.
Dalam pengalaman kita, daging seharusnya disalibkan. Seperti yang Paulus katakan dalam 5:24, “Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Kita tidak boleh terus-menerus hidup menurut daging. Kita tidak boleh berada di dalam daging ketika menyatakan sikap kita. Ketika berbicara kepada anak, para orang tua harus berada di dalam Roh dan menuruti Roh. Jika tidak demikian, apa yang mereka katakan akan berarti menabur dalam daging. Kita pun harus berhati-hati dalam cara kita mengekspresikan sikap kita. Bahkan dalam menampilkan suatu sikap mungkin kita menabur menurut daging. Di pihak lain, kita mungkin mengekspresikan sikap kita dengan menabur dalam Roh. Kita juga harus hati-hati dalam menyatakan opini. Dapatkah Anda menjamin bahwa penuturan opini Anda itu menurut Roh? Kalau tidak, berhati-hatilah, jangan-jangan Anda menabur dalam daging. Jika kita dari hari ke hari menabur dalam Roh, banyak problem akan lenyap. Persoalan dalam kehidupan gereja atau keluarga akan berkurang. Sebagian besar problem dan persoalan berasal dari menabur dalam daging.
Benih itu kecil. Pernahkah Anda melihat seorang petani menabur benih yang diameternya satu meter? Tidak, benih-benih yang ditabur petani berukuran kecil. Demikian pula halnya dengan penaburan kita. Mungkin kita menganggap hal-hal tertentu sangat kecil sebuah gunjingan atau kritik yang kecil tetapi semua itu adalah benih yang tertabur ke dalam orang lain. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak benih yang sudah Anda tabur ke dalam orang lain, yaitu benih-benih yang bukan menurut Roh, melainkan menurut daging? Dalam kehidupan gereja, kita tidak henti-hentinya menabur benih-benih kecil. Bahkan cara seorang saudara memandang orang lain itu pun sebutir benih. Kita pasti menabur dalam daging bila kita mengkritik, berdebat, atau menghakimi. Pada prinsipnya, segala yang kita katakan atau lakukan adalah sebutir benih yang ditabur dalam daging atau dalam Roh.
Kita akan menuai apa yang kita tabur. Jika kita menabur dalam daging, kita akan menuai kebinasaan daging. Jika kita menabur dalam Roh, kita akan menuai hayat yang kekal dari Roh. Saya tahu kasus di mana para sekerja dan para penatua menuai kebinasaan sebab mereka menabur dalam daging. Lebih lama mereka tinggal di suatu tempat, lebih banyak kesulitan di tempat itu. Kesulitan itu adalah akibat dari menabur dalam daging. Pada akhirnya, setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun menabur dalam daging, para sekerja dan para penatua tersebut harus meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat lain.
Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan pernikahan juga ditimbulkan dari penaburan dalam daging. Pada mulanya, suami dan istri mungkin saling mencintai. Tetapi setelah beberapa tahun menabur dalam daging, mereka mungkin menginginkan perpisahan atau bahkan perceraian. Mereka menuai kebinasaan karena menabur dalam daging. Tahun demi tahun berlalu, mereka menabur benih-benih kecil dari perkataan, sikap, atau perasaan, pada akhirnya, akibatnya ialah menuai kebinasaan dari daging.
Menurut ketentuan Allah, baik kehidupan pernikahan maupun kehidupan gereja harus bersifat permanen. Jika seorang saudara tak dapat tetap menjadi seorang penatua secara permanen di tempat tertentu, tak dapatlah ia menjadi seorang penatua yang wajar; sebagaimana seorang laki-laki tidak dapat menjadi suami yang wajar jika pernikahannya hanya bersifat sementara. Alangkah mengerikan jika mempunyai kehidupan pernikahan atau kehidupan keluarga yang bersifat sementara! Hubungan kita dengan pasangan atau anak-anak kita harus bersifat permanen. Seprinsip dengan itu, pengabdian kita atau tanggung jawab kita kepada kehidupan gereja seharusnya juga bersifat permanen. Namun, banyak di antara mereka yang menabur dalam daging mengambil bagian dalam kehidupan gereja hanya bersifat sementara.
Marilah kita merenungkan diri sendiri dengan jujur, setia, dan tulus. Apakah kita menabur dalam daging atau dalam Roh? Jika menabur dalam daging dengan bermain politik, pada akhirnya kita akan menuai kebinasaan. Tetapi jika kita menabur dalam Roh, kita akan menuai hayat yang kekal. Kalau seorang penatua menabur menurut Roh, semakin lama ia tinggal di gereja lokal tertentu, ia akan semakin menuai hayat yang kekal. Ia tidak perlu meninggalkan tempat itu, sebaliknya, baginya menetap terus di tempat itu akan sangat berfaedah.
Jika mereka yang meministrikan firman kepada umat Tuhan meministrikan menurut daging, menabur benih-benih daging, akhirnya mereka akan menuai kebinasaan dari daging. Hal ini akan membuat mereka tidak mungkin tinggal terus di tempat tertentu. Tetapi kalau mereka meministrikan menurut Roh, menabur benih-benih Roh, mereka akan menuai hayat kekal dari tahun ke tahun.
Apa yang berlaku pada para penatua dan para sekerja, berlaku pula pada setiap anggota dalam gereja. Bahkan dalam persekutuan kita pun kita harus waspada, agar kita menabur dalam Roh dan tidak dalam daging. Janganlah mengasihi orang lain dalam daging, tetapi kasihilah mereka dalam Roh. Kalau kita mengasihi orang lain menurut daging, kita akan menuai kebinasaan, itulah akibat dari kasih daging kita. Namun jika kita mengasihi orang lain dalam Roh, kita akan menuai hayat yang kekal.
Dalam 5:25 Paulus membicarakan tentang hidup oleh Roh dan dalam 6:8 tentang menabur dalam Roh. Sebenarnya, hidup oleh Roh adalah menabur dalam Roh. Bila kita hidup oleh Roh, kita sudah menabur dalam Roh. Menabur dalam Roh pasti akhirnya kita akan menuai hayat yang kekal.
Dalam kehidupan gereja ada sejumlah saudara dan saudari dewasa yang telah bertahun-tahun menabur dalam Roh. Sekarang mereka menuai hayat kekal. Tetapi ada sebagian lain telah mendatangkan kebinasaan bagi diri mereka sendiri dan orang lain karena telah menabur dalam daging. Ketika mereka mengambil bagian dalam kehidupan gereja, mereka menabur dalam daging. Penaburan semacam itu merusak kehidupan gereja mereka. Sebagai akibatnya, beberapa di antara mereka telah beralih meninggalkan kenikmatan atas Tuhan dalam gereja dan kembali ke dunia. Mereka menyatakan diri telah dibebaskan. Ya, memang mereka telah dibebaskan dari kekangan atau pembatasan Roh itu untuk mengumbar hawa nafsu daging. Ini berarti menuai kebinasaan.
Dari fakta kemungkinan kita menabur dalam daging atau dalam Roh dan karenanya menuai kebinasaan atau hayat kekal seharusnya mendorong kita untuk berhati-hati dalam tutur kata dan perilaku kita. Kita harus nampak, setiap hal dalam kehidupan sehari-hari kita adalah suatu penaburan, dalam daging atau dalam Roh itu.
Dalam 6:9 Paulus selanjutnya berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Menurut konteksnya, “berbuat baik” dalam ayat 9 adalah menabur dalam Roh. Penggunaan kata menuai dalam ayat ini oleh Paulus dikaitkan dengan menabur pada ayat terdahulu. Kita tidak boleh tawar hati (jemu-jemu) dalam berbuat baik, yaitu dalam menabur dalam Roh. Menabur dalam daging biasanya mendatangkan hasil lebih cepat daripada menabur dalam Roh. Suatu hayat yang lebih tinggi sering kali bertumbuh lebih lambat daripada hayat yang rendah. Seprinsip dengan itu, apa yang kita tabur dalam Roh biasanya akan bertumbuh lebih lambat daripada apa yang kita tabur dalam daging. Inilah alasan Paulus menganjuri kita untuk tidak tawar hati dalam menabur dalam Roh. Seorang penatua tidak seharusnya berkata, “Aku telah bertahun-tahun menabur dalam Roh di kota ini. Hasil apa yang diperlihatkan oleh jerih lelahku? Aku tidak melihat hasil apa-apa.” Camkanlah perkataan Paulus bahwa apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Dalam bekerja bagi Tuhan, dalam melayankan firman kepada anak-anak Allah, dan dalam mengasuh gereja, janganlah kita berharap apa yang kita tabur dalam Roh akan bertumbuh dengan cepat. Seperti seorang petani, kita harus sabar. Pada akhirnya, apabila waktunya sudah datang, kita akan menuai. Semakin mustika barang yang kita taburkan, semakin lama pertumbuhannya. Sementara semuanya itu bertumbuh, hendaklah kita sabar dan tidak tawar hati.
Dalam 6:10 Paulus berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita.” Berbuat baik dalam ayat ini terutama mengacu kepada pelayanan hal-hal material kepada orang-orang yang memerlukan (2Kor.9:6-9). Keluarga iman (saudara-saudari seiman) mengacu kepada anak-anak janji (4:28), semua anak Allah oleh iman dalam Kristus (3:26). Seluruh orang beriman dalam Kristus bersama-sama membentuk rumah tangga universal, keluarga besar Allah. Ini terjadi melalui iman dalam Kristus, bukan oleh perbuatan hukum Taurat. Keluarga ini adalah manusia baru (Kol. 3:10-11), tersusun dari semua anggota Kristus, bersama Kristus sebagai unsur pokok mereka. Karena itu, kita harus berbuat baik, terutama terhadap mereka yang berasal dari keluarga atau rumah tangga iman, tanpa memandang ras dan tingkat sosial mereka (3:28).