HIDUP OLEH ROH SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab:
Rm. 8:2, 4-6, 9-11, 13-16, 23, 26, 29; Gal. 3:2-3, 5, 11b-14, 26; 4:4-6, 29; 5:16-18
Dalam Perjanjian Baru, Kitab Roma dan Galatia termasuk dalam satu kategori yang istimewa. Kedua kitab ini tidak hanya mewahyukan penebusan Allah, tetapi juga ekonomi penebusan Allah. Penebusan adalah satu perkara dan ekonomi penebusan adalah perkara yang lain. Ketika kebanyakan orang Kristen membaca Kitab Roma dan Galatia, mereka dapat membaca masalah penebusan dengan mudah. Namun, sangat sedikit yang nampak ekonomi penebusan Allah, sebab masalah ini agak tersembunyi dalam kedua kitab ini. Walaupun istilah ekonomi tidak dapat kita jumpai dalam Kitab Roma maupun Galatia, namun fakta ekonomi penebusan itu benar-benar tercantum dalam kitab-kitab ini. Beban kita dalam berita ini ialah membahas tentang ekonomi Allah dalam penebusan-Nya.
SASARAN ALLAH DALAM PENEBUSAN
Meskipun penebusan tercantum dalam Kitab Roma dan Galatia, namun penebusan bukanlah sasaran Allah. Sebaliknya, penebusan adalah satu proses, atau satu langkah yang menuju ke sasaran. Dalam ekonomi Allah, penebusan dipakai untuk melahirkan satu hasil atau akibat tertentu. Apakah sasaran Allah dalam penebusan? Apa pula hasil atau akibat penebusan Allah? Jawaban kedua pertanyaan itu ialah hak keputraan (sonship). Hak keputraan adalah sasaran Allah dalam penebusan dan hasil dari proses penebusan itu. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui bahwa Kitab Roma membahas masalah pembenaran oleh iman. Mereka tidak nampak adanya hak keputraan ilahi dalam Kitab Roma. Bila kita membaca Kitab Roma dengan cermat, kita akan nampak masalah pembenaran oleh iman memang dibahas terutama dalam keempat pasal pertama. Tetapi mulai pasal 5, Paulus bergerak maju menuju sasaran hak keputraan. Menurut wahyu yang terdapat dalam Kitab Roma, Allah sedang mengubah (mentransformasi) orang-orang dosa menjadi anak-anakNya. Karena itu, Kitab Roma menunjukkan bagaimana Allah dalam proses memproduksi anak-anak dari antara orang-orang dosa. Di sini kita nampak ekonomi Allah. Ekonomi Allah tidak sekadar menebus orang-orang dosa yang telah terhilang. Ekonomi-Nya juga menebus orang-orang dosa dengan tujuan menjadikan mereka anak-anakNya. Dalam ekonomi Allah ada dua perkara yang utama, yaitu penebusan dan hak keputraan.
Dalam Alkitab, Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh bukanlah untuk doktrin, teologi, atau ajaran. Tritunggal adalah untuk ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah Bapa adalah Persona yang merancang, yang membuat suatu kehendak yang abadi. Karena Ia mempunyai satu maksud, satu rencana, maka Ia memiliki banyak pengaturan demi menyesuaikan maksud tujuan-Nya itu. Dalam Tri-tunggal itu Allah Bapa adalah sumber, Persona yang me-rencanakan untuk merampungkan ekonomi-Nya. Demi melaksanakan ekonomi ilahi ini, dua perkara yang teramat penting harus dilakukan, yakni penebusan dan hak keputraan. Dalam Galatia 4 kita nampak bahwa Bapa mengutus Putra-Nya untuk merampungkan penebusan (ayat 4-5). Kemudian Ia mengutus Roh Putra-Nya untuk mendatangkan hak keputraan. Karena itu, bagi penggenapan ekonomi-Nya, Bapa mengutus Putra dan kemudian mengutus Roh itu.
Galatia 4:4-5 mengatakan, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Demi penggenapan penebusan, Putra Allah perlu menjadi seorang manusia yang dilahirkan dari seorang perempuan dan lahir di bawah hukum Taurat. Untuk mengenakan sifat insani atau keinsanian, haruslah Ia “datang dari seorang perempuan”. Mengatakan Maria adalah ibu Allah itu adalah bidah. Walaupun Yesus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, Maria bukanlah ibu Allah. Ia adalah ibu dari seorang manusia Yesus. Melalui datang dari seorang perempuan, Yesus, Putra Allah adalah seorang manusia yang berdarah dan daging (Ibr. 2:14). Kalau Dia tidak berdarah dan daging, Putra Allah tidak bisa merampungkan penebusan. Penebusan mengharuskan tertumpahnya darah.
Sesudah Putra Allah merampungkan penebusan bagi kita, Roh itu diutus untuk melaksanakan hak keputraan dan membuat hal itu menjadi riil bagi kita dalam pengalaman kita. Roh itu diutus guna menjadikan semua orang yang ditebus menjadi anak-anak Allah. Jadi, kedatangan Kristus adalah untuk penebusan, dan kedatangan Roh itu adalah untuk hak keputraan. Kristus menebus kita dan Roh itu menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita, sehingga kita menjadi anak-anak Allah.
ROH ITU
Kitab Roma dan Galatia berulang-ulang membicarakan Roh itu. Ini terutama terlihat dalam Roma 8. Dalam ayat 2 dikatakan tentang Roh hayat, dan dalam ayat 15 dikatakan tentang Roh Anak (keputraan). Karena kita memiliki roh keputraan, maka kita memiliki hayat Putra Allah itu sehingga dengan spontan kita berseru, “Ya, Abba, ya Bapa.” Dalam ayat 9 Paulus berbicara mengenai Roh Allah dan Roh Kristus, dan dalam ayat 11 dan 13, mengenai Roh itu. Ungkapan “Roh itu” juga terdapat dalam ayat 16, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Istilah “Roh itu” sungguh sangat bermakna. Yohanes 7:39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Mengapa ayat ini mengatakan bahwa “Roh itu belum ada”? Walaupun Roh Allah, Roh Yehova (Roh TUHAN), dan Roh Kudus sudah ada sebelum Yesus dimuliakan, tetapi, “Roh itu” belum ada. Dalam Kejadian 1:2 kita nampak Roh Allah melayanglayang (mengeram) di atas permukaan air. Perjanjian Lama juga berkali-kali menyinggung Roh Yehova (Roh TUHAN). Ketika Tuhan Yesus hampir dikandung dalam rahim Maria, di situ disebut tentang Roh Kudus, sebab sesuatu yang biasa, sifat insani, telah dijadikan kudus oleh Roh Allah (Mat. 1:18, 20). Akan tetapi, ketika Yesus berseru, “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum” (Yoh. 7:37), Ia berbicara tentang Roh itu. Namun, “Roh itu belum ada”, sebab Yesus belum dimuliakan. Ketika itu Ia belum disalibkan dan belum dibangkitkan. Tetapi sesudah penyaliban dan kebangkitan-Nya, Roh itu baru datang. Hari ini Roh yang bersaksi bersama dengan roh kita adalah Roh itu. Dua Korintus 3:17 bahkan mengatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh (itu).” Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Tuhan adalah suatu Roh,” melainkan, “Tuhan adalah Roh (itu).”
KEHIDUPAN DAN PERILAKU
ANAK-ANAK ALLAH
Roma 8:14 mengatakan, “Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Ayat ini menunjukkan bahwa Roma 8 tidak membicarakan kelahiran anak-anak Allah, melainkan kehidupan dan perilaku anak-anak Allah. Semua orang yang dipimpin Roh Allah benar-benar adalah anak-anak Allah. Ayat 4 sangat menekankan istilah hidup dan berperilaku, “Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”
Karena pengaruh konsepsi alamiah, maka orang-orang Kristen sering mengira setelah kita diselamatkan, kita harus memiliki kehidupan yang memuliakan Allah. Kita menaruh perhatian terhadap perkataan Paulus tentang kehidupan yang sepadan dengan panggilan kita, namun kita menanggapi nasihat tersebut menurut konsepsi alamiah kita. Setelah seseorang diselamatkan, dengan otomatis ia berusaha untuk berperilaku memuliakan Allah. Pemikiran demikian datang dengan spontan. Memang tidak ada salahnya jika kita mengatakan kita harus memiliki perilaku yang memuliakan Allah. Akan tetapi, dalam hal ini kita mungkin berada di bawah pengaruh konsepsi alamiah. Menurut konsepsi alamiah, hidup sesuai dengan panggilan kita berarti menjadi orang yang jujur, setia, rendah hati, sopan santun, ramah, dan pengasih. Kita mungkin mengira kita dapat memuliakan Allah jika kita memiliki pekerti-pekerti seperti itu, dan orang lain pun akan menghargai kita. Padahal Kitab Roma, sejilid kitab penting yang mencatat wahyu Allah, tidak menyuruh kita hidup sedemikian. Sebaliknya, ia mengajar kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah.
Betapa besar perbedaan antara hidup sebagai anak-anak Allah dengan hidup sebagai orang-orang dosa yang tertebus yang mengekspresikan pekerti seperti kejujuran, keramahan, dan kasih. Sasaran ekonomi Allah bukan hanya ingin memiliki sekelompok manusia yang setia, ramah, dan pengasih. Sasaran ekonomi-Nya ialah ingin memproduksi anak-anak. Seseorang mungkin jujur, setia, dan pengasih, tetapi mungkin pula ia belum menjadi anak Allah. Allah menghendaki anak-anak, Ia tidak menghendaki orang-orang dosa yang jujur, setia, dan pengasih. Tujuan-Nya bukanlah ingin menjadikan suami-suami yang berdosa menjadi suami-suami yang menyayangi istri, atau istri-istri yang berdosa menjadi istri-istri yang taat kepada suami mereka. Kita ulangi, sasaran Allah dalam ekonomi-Nya ialah ingin memproduksi banyak anak ilahi.
DILAHIRKAN DARI ALLAH,
MENJADI ANAK-ANAKNYA
Untuk menjadi anak-anak Allah, terlebih dulu kita harus dilahirkan dari Dia. Injil Yohanes menitikberatkan hal ini. Yohanes 1:12-13 mengatkan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Tl.). Kemudian dalam 3:6 dikatakan bahwa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Hak keputraan sepenuhnya merupakan perkara hayat dan sifat yang tergantung pada kelahiran. Kita telah dilahirkan dari Allah menjadi anak-anak Allah. Karena itu, kita dapat mengumumkan dengan tegas, bahwa kita bukan anak menantu atau anak angkat Allah, kita adalah anak-anak Allah yang dilahirkan dari Allah dalam hayat-Nya.
Sesuai dengan wahyu ilahi dalam Alkitab, kita menekankan fakta bahwa melalui kelahiran kembali, terjadilah suatu kesatuan organik antara kita dengan Allah. Kita memiliki hubungan yang organik dengan Allah, yakni hubungan dalam hayat. Pertama, karena kita berdosa, Allah mengutus Putra-Nya untuk menebus kita. Akan tetapi, Allah juga telah mengutus Roh-Nya untuk menyalurkan hayat dan sifat ilahi-Nya ke dalam diri kita. Sekarang, karena hayat ilahi telah masuk ke dalam kita, kita memiliki suatu kesatuan organik dengan Allah. Tetapi masalah yang sangat penting ini telah diabaikan oleh orang-orang Kristen yang menekankan ajaran-ajaran dan konsepsi-konsepsi tradisional.
Karena Anda telah dilahirkan dari Allah menjadi anak Allah, apakah Anda berani mengumumkan bahwa Anda bersifat ilahi? Selaku anak-anak Allah yang dilahirkan dari Dia, kita benar-benar ilahi. Ketika kita mengajarkan hal ini, ada orang menuduh kita mengajarkan “meng-Allahkan manusia” (Deification of man). Kita mutlak tidak percaya dan tidak mengajarkan bahwa anak-anak Allah akan menjadi Allah itu sendiri. Namun demikian, kita benar-benar memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi, ini adalah fakta. Jika tidak, tidak mungkin kita menjadi anak-anak Allah. Bukankah seorang anak Jerman yang dilahirkan dari ayah Jerman memiliki hayat dan sifat orang Jerman asli? Demikian pula, karena kita telah dilahirkan dari Allah untuk menjadi anak-anak Allah dengan hayat dan sifat ilahi, maka kita bersifat ilahi. Ada orang yang memutarbalikkan perkataan kita dan menyatakan bahwa kita menyampaikan ajaran bahwa orang dosa dapat mengambil bagian dalam ke-Allahan. Kita memang mengajarkan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita adalah anggota keluarga Allah, tetapi kita benar-benar tidak mengajarkan bahwa kita akan menjadi Allah itu sendiri. Bagaimanapun, fakta adalah fakta, karena Bapa kita ilahi, maka semua anggota keluarga-Nya juga ilahi. Sebagaimana manusia memiliki hayat dan sifat ayahnya, demikian pula kita, anak-anak Allah memiliki hayat dan sifat Bapa kita. Dalam hal ini, kita bersifat ilahi.
Setelah kita menjadi anak-anak Allah, kini kita perlu hidup sebagai anak-anak Allah. Allah tidak menginginkan sekelompok orang yang hanya ramah, jujur, atau pengasih saja, Ia menginginkan suatu keluarga. Dalam Galatia 6:10, keluarga ini disebut “keluarga iman”. Untuk hidup sebagai anak-anak Allah, kita perlu menjadi ilahi. Hanya menjadi orang yang berbudi atau yang agamis saja tidaklah cukup. Untuk menjadi seorang yang rendah hati atau ramah tidak perlu menjadi anak-anak Allah. Seseorang mungkin rendah hati atau ramah secara alamiah atau secara etis. Akan tetapi, untuk hidup sebagai anak-anak Allah, kita benar-benar harus ilahi. Kita harus memiliki hayat Allah dan Roh Allah.
Pada akhir Alkitab tercatat adanya Roh dan pengatin perempuan (Why. 22:17). Roh itu adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal, dan pengantin perempuan adalah hasil terakhir dari manusia yang tertebus. Fakta Roh dan pengantin perempuan berkata-kata seperti satu orang membuktikan bahwa mereka adalah satu. Roh dan pengantin perempuan bersama-sama berkata, “Marilah!”
Alkitab mewahyukan kesatuan organik antara kaum beriman dengan Allah Tritunggal, tetapi agama menekankan pekerti-pekerti dan perilaku-perilaku. Menurut konsepsi agama, sebagai kaum beriman, kita wajib jujur, setia, penuh kasih, dan patuh. Tetapi yang dituntut ekonomi Allah bukan hanya pekerti-pekerti itu, tetapi harus pula hidup menurut Roh. Seseorang boleh jadi rendah hati secara alamiah, sedangkan seorang lainnya mungkin rendah hati karena ia hidup oleh hayat dan sifat Allah. Kelihatannya kedua macam kerendahan hati itu sama, padahal sangat berlainan. Yang satu mungkin dapat diumpamakan seperti kuningan yang telah dipoles, dan yang satunya lagi seperti emas. Jika kita hidup menurut Roh, kita tidak akan seperti kuningan yang dipoles, melainkan kita akan mepunyai penampilan emas, yakni penampilan sifat Allah itu sendiri.
Allah tidak hanya ingin memiliki sekelompok orang yang baik, tetapi Ia menghendaki banyak anak yang bersatu dengan Dia secara organik dan yang memiliki hayat dan sifat-Nya sendiri. Hanya anak-anak semacam inilah yang dapat menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus. Tubuh Kristus adalah satu organisme, bukan organisasi. Orang-orang yang baik mungkin dapat diorganisir menjadi suatu masyarakat, tetapi tidak dapat menjadi organisme yang dikenal sebagai Tubuh Kristus. Karena Tubuh itu bersifat organik, maka semua anggota Tubuh pun harus memiliki unsur organik di dalam mereka. Kita menerima unsur ini melalui kelahiran baru, melalui kelahiran kembali.
HIDUP MENURUT ROH
Setelah kita dilahirkan dari Allah menjadi anak-anak Allah, kita wajib hidup sebagai anak-anak Allah menurut Roh. Dalam Roma 8 Paulus tidak mengatakan perkara-perkara seperti kerendahan hati, kesetiaan, atau kejujuran. Di sini ia tidak memperhatikan masalah pekerti-pekerti insani. Sebaliknya, ia menyuruh kita hidup menurut Roh. Semua yang dipimpin oleh Roh itu adalah anak-anak Allah. Hidup sebagai anak-anak Allah bukanlah perkara memiliki pekerti-pekerti tertentu, tetapi sepenuhnya merupakan masalah hidup menurut Roh. Tentu saja, kalau kita hidup menurut Roh, pasti akan ada hasil atau akibat tertentu yang timbul dalam kehidupan kita. Namun demikian, titik berat dalam Roma 8 bukan pada akibatnya, melainkan pada sifat anak-anak Allah. Selaku orang-orang yang telah dilahirkan dari Allah, janganlah hendaknya kita berupaya membina atau memupuk pekerti-pekerti tertentu. Sebaliknya, kita wajib berupaya untuk hidup oleh Roh.
Saya prihatin kalau-kalau perihal hidup oleh Roh sebagai anak-anak Allah hanya menjadi satu doktrin bagi kita. Mungkin kita memiliki pengetahuan bahwa kita hanya perlu hidup oleh Roh, akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita hidup secara alamiah atau etika. Andaikata ada seseorang mengganggu kita, boleh jadi kita akan marah kalau tidak berusaha mengekang diri kita sendiri. Tetapi kita tidak berpaling ke roh, menggunakan roh, dan bertindak oleh roh.
Sering kali setelah kita nampak sesuatu tentang Tuhan, Iblis lalu datang menguji kita. Misalkan Tuhan telah menjelaskan kepada kita bahwa sebagai anak-anak Allah kita hanya perlu hidup oleh Roh. Tak lama kemudian, mungkin suami atau istri Anda menyinggung Anda. Pada saat-saat demikian, mungkin Anda sudah lupa hidup oleh Roh. Anda bukan hidup oleh Roh, sebaliknya mungkin Anda tersinggung atau berusaha mengekang amarah Anda. Mungkin pula Anda berdoa agar Tuhan membantu Anda. Tetapi sekalipun Anda berdoa demikian, itu bukan berarti hidup oleh Roh.
Agama mengajar orang bagaimana berperilaku, tidak mengajarkan bagaimana hidup oleh Roh. Menurut Alkitab, kita tidak seharusnya berusaha memperbaiki perilaku, melainkan harus hidup oleh Roh. Kita telah dilahirkan dari Roh. Sekarang kita wajib menerima anugerah untuk hidup oleh Roh. Andaikata suami atau istri Anda menyinggung Anda, hiduplah oleh Roh. Jangan berusaha menekan temperamen Anda, atau memaksa diri Anda untuk bersabar. Itu semua hanya perilaku luaran. Pada saat itu Anda hanya perlu menggunakan roh Anda untuk hidup menurut Roh. Jangan berkata kepada diri sendiri, “Aku harus hidup dan berperilaku dengan pola yang sesuai dengan kehidupan gereja. Kalau aku melampiaskan amarahku, aku akan dipermalukan, karena itu aku harus menekan amarahku dan berperilaku secara wajar.” Ini bukan ekonomi Allah, ini tidak lain adalah agama dan etika. Ekonomi Allah ialah menjadikan kita anak-anakNya secara sejati dan riil. Untuk ini, kita harus hidup menurut Roh.
DISERUPAKAN DENGAN
GAMBAR PUTRA SULUNG ALLAH
Banyak orang Kristen membaca Roma 8 tanpa memperlihatkan masalah hak keputraan yang tercantum dalam pasal tersebut. Ayat 14 mengatakan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah, dan ayat 15 mengatakan tentang roh keputraan. Selain itu, ayat 29 mengatakan bahwa Allah telah menentukan kita dari semula untuk “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”. Banyak saudara Kristus ini adalah anak-anak Allah yang banyak itu (Ibr. 2:10). Tambahan pula, keputraan dalam Roma 8 bukanlah pada aspek kelahirannya, melainkan pada aspek kehidupan dan perilakunya. Kita perlu hidup dan berperilaku sebagai anak-anak Allah, agar kita boleh menjadi serupa dengan gambaran Putra-Nya. Kelahiran terjadi sekali untuk selamanya, namun diserupakan dengan gambar Putra Allah merupakan proses seumur hidup. Dari hari ke hari kita diproses sehingga kita menjadi serupa dengan gambar Putra sulung Allah. Proses penyerupaan ini terjadi ketika kita hidup oleh Roh. Perkara utama yang Tuhan ingin kita praktekkan dalam pemulihan Tuhan ialah hidup oleh Roh dan menurut Roh.
Jika kita hidup oleh Roh, Allah akan dapat memiliki banyak anak yang dewasa. Anak-anak ini juga akan menjadi ahli-ahli waris untuk mewarisi segala kekayaan Allah. Bila kita ingin menjadi ahli-ahli waris, haruslah kita menjadi anak-anak yang dewasa penuh. Kita ingin menekankan fakta bahwa kita sedang diserupakan dengan gambar Putra Allah, bukan dengan praktek-praktek tertentu yang mungkin terdapat di antara kaum saleh dalam kehidupan gereja. Saya agak prihatin kalau-kalau kaum saleh menjadi serupa dengan kehidupan gereja bukan menjadi serupa dengan gambar Putra Allah. Ada beberapa orang saleh mungkin telah mengalami banyak perubahan, tetapi perubahan-perubahan itu mungkin bukan suatu perubahan yang riil, yaitu suatu perubahan hayat yang metabolis. Mungkin itu hanya perubahan lahir yang merupakan penyerupaan dengan cara hidup tertentu, yang biasa ditampilkan di antara kaum saleh dalam kehidupan gereja. Allah tidak menghendaki perubahan semacam itu. Ia menghendaki suatu perubahan riil yang terjadi dalam batin kita, sehingga kita boleh menjadi serupa dengan gambar yang hidup dari Putra Allah. Untuk terjadinya perubahan yang demikian, kita perlu hidup di dalam Roh itu, oleh Roh, dan menurut Roh.
PENEBUSAN ADALAH UNTUK HAK KEPUTRAAN
Kita sudah nampak bahwa dalam Kitab Roma penebusan adalah untuk hak keputraan. Demikian pula dalam Kitab Galatia. Galatia 3:13-14 mengatakan bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, dengan menjadi suatu kutuk bagi kita, agar kita dapat menerima janji Roh itu oleh iman. Jadi, Kristus telah merampungkan penebusan supaya kita dapat menerima Roh itu. Galatia 4:5 mengatakan bahwa Kristus telah menebus kita supaya kita dapat menerima hak keputraan. Setelah Kristus merampungkan penebusan bagi kita, Allah lalu mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, “Ya, Abba, ya, Bapa!” Seruan ini tercantum dalam Kitab Roma maupun Kitab Galatia. Ini merupakan bukti lebih lanjut bahwa dalam kitab-kitab ini penebusan adalah untuk keputraan.
YANG ALLAH INGINKAN HARI INI
Baik Kitab Roma maupun Kitab Galatia sama-sama membicarakan masalah hidup oleh Roh. Kedua kitab ini tidak menyuruh kita hidup menurut doktrin-doktrin, ajaran, atau nasihat-nasihat tertentu, tetapi menurut Roh. Tak peduli batapa baiknya perilaku kita, kita tidak akan hidup seperti anak-anak Allah kecuali kita hidup menurut Roh. Misalkan ada orang bertanya kepada Anda, mengapa Anda tidak mengikuti acara hiburan duniawi. Jawaban yang tepat ialah karena Roh itu tidak memimpin Anda berbuat demikian. Begitu pula, jika orang bertanya kepada Anda mengapa Anda melakukan hal tertentu dalam kehidupan keluarga Anda atau tidak melakukannya, Anda seharusnya menjawab, karena Anda hidup menurut Roh.
Sedikit atau banyak kita masih terpengaruh oleh konsepsi agama. Karena itu, ketika kita membaca Alkitab, kita mudah memperhatikan masihat-nasihat seperti istri wajib taat kepada suami atau suami wajib mengasihi istri. Kita pun dapat mengerti perintah-perintah tentang kerendahan hati, keramahan, dan kesabaran. Akan tetapi, perintah-perintah seperti itu bukanlah faktor utama dalam ekonomi Allah. Faktor utamanya ialah, kita telah dilahirkan dari Allah dan sekarang menjadi anak-anak ilahi Allah yang memiliki hayat dan sifat-Nya. Karena kita adalah anak-anak-Nya, maka Allah menghendaki kita hidup menurut Roh seperti anak-anakNya. Akibat atau hasil dari hidup oleh Roh sebagai anak-anak Allah adalah tanggung jawab Roh itu sendiri, bukan tanggung jawab kita. Tanggung jawab kita hanya hidup menurut Roh.
Puncak Perjanjian Baru ialah Roh itu. Kehidupan, perilaku, dan tindak tanduk kita semuanya harus menurut Roh. Apabila kita hidup menurut Roh, baru kita benar-benar sebagai anak-anak Allah, dan dari hari ke hari kita akan diserupakan dengan gambar Putra-Nya. Inilah yang diinginkan Allah pada hari ini.