← Daftar isi Galatia · bab 21/22

HIDUP OLEH ROH SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:26; 4:4-6; 5:16; Yoh. 1:12-13

Dalam berita yang lalu telah kita tunjukkan bahwa Kitab Roma dan Galatia tidak hanya mewahyukan penebusan Allah, tetapi juga ekonomi penebusan Allah. Bagi kita, anak-anak Allah, mengetahui keselamatan Allah itu agak mudah, namun mengetahui ekonomi keselamatan Allah tidaklah mudah. Walaupun istilah ekonomi tidak terdapat baik dalam Kitab Roma maupun Galatia, tetapi ekonomi Allah telah terkandung dalam keselamatan-Nya. Dalam pemakaiannya pada zaman dulu atau sekarang, kata ekonomi menunjukkan satu rencana dengan suatu pengaturan, pengelolaan, administrasi, dan bahkan pengelolaan. Jadi ekonomi Allah memiliki pengaturan, pengelolaan, dan kepengurusannya yang bertalian dengan penyaluran diri Allah sendiri di dalam Putra melalui Roh ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya.

HAK KEPUTRAAN —

SASARAN EKONOMI ALLAH

Sekarang kita harus meneruskan melihat sasaran ekonomi Allah. Sasaran Allah dalam ekonomi-Nya ialah hak keputraan. Kehendak Allah ialah menghasilkan banyak anak. Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita akan nampak bahwa Allah mempunyai satu perkenan, satu kedambaan dalam hati-Nya, dan kedambaan hati Allah ialah Ia ingin terekspresi melalui banyak anak. Alkitab mewahyukan bahwa Allah adalah Bapa yang agung yang memiliki satu keluarga yang sangat besar. Dengan istilah Perjanjian Baru, Allah memiliki sebuah rumah tangga. Siapakah yang dapat menghitung berapa banyaknya anak-anak Allah? Karena setiap orang beriman sejati dalam Kristus adalah anak Allah, maka jumlah anak-anak Allah pasti jutaan. Karena Allah mempunyai begitu banyak anak, Ia benar-benar Bapa yang agung. Bahkan para saudari pun terhitung sebagai putra-putra Allah. Tidak pernah dikatakan bahwa Kristus, Putra Sulung Allah, mempunyai saudari. Sebaliknya, Ia hanya mempunyai saudara, dan saudara-saudara Kristus yang sebanyak ini adalah anak-anak Allah yang banyak itu. Karena itu, para saudari perlu menyadari bahwa mereka juga saudara-saudara Kristus dan anak-anak (lelaki) Allah.

Menurut Alkitab, fungsi seorang anak adalah mengekspresikan bapa. Karena itu, Putra Allah adalah ekspresi Allah Bapa. Tuhan Yesus pernah berkata, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Selain itu, Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak (Putra) Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Kitab Perjanjian Baru juga menunjukkan bahwa sebagai Putra Allah, Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15; 2 Kor. 4:4). Gambar adalah ekspresi dari sesuatu atau seseorang. Memiliki jutaan anak bagi Allah berarti Ia, Bapa yang agung, memerlukan satu ekspresi yang besar, universal, dan kekal. Selaku anak-anak Allah, kita mengekspresikan Bapa kita, karena kita telah dilahirkan dari Dia. Ekonomi Allah, pemerintahan-Nya ialah melaksanakan kehendak-Nya untuk memiliki banyak anak yang menjadi ekspresi-Nya yang korporat.

Efesus 1:4-5 mengatakan bahwa Allah di dalam Kristus telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, “telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya.” Sebelum segala sesuatu diciptakan, Allah telah memilih kita dan menakdirkan kita, dan membubuhi tanda di atas diri kita untuk menjadi anak-anak-Nya. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen tidak menaruh perhatian atas pilihan dan penakdiran Allah ini. Menurut konsepsi mereka, kita hanya sebagai orang-orang dosa yang telah jatuh dan yang memerlukan keselamatan Allah. Mereka tidak pernah berangan-angan bahwa Allah telah menetapkan kita untuk menjadi anak-anak-Nya.

Berdasarkan Alkitab, hak keputraan mencakup menerima hayat dan sifat Bapa untuk mengekspresikan Dia serta mewarisi segala apa ada-Nya, segala milik-Nya, dan segala perbuatan-Nya. Mewarisi apa adanya Bapa, dan segala perbuatan-Nya sebenarnya berarti mewarisi Allah Bapa itu sendiri. Jadi hak keputraan dalam Alkitab berarti memiliki hayat dan sifat Allah untuk mengekspresikan Allah dan mewarisi Allah berikut segala kekayaan-Nya. Tambahan pula, hak keputraan mengisyaratkan kesempurnaan. Sebagai anak-anak Allah, kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Kesempurnaan searti dengan kematangan. Seorang bocah adalah anak sejati dari ayahnya, tetapi bocah itu belum memiliki hak keputraan penuh, sebab ia belum dewasa.

Meskipun kita mempunyai hayat dan sifat Bapa serta memiliki kematangan, kesempurnaan untuk mengekspresikan Dia dan mewarisi Dia, namun hak keputraan baru akan penuh pada saat tubuh kita ditransfigurasi. Dalam Roma 8:23 Paulus berkata, “Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” Pembebasan atau penebusan tubuh kita ditujukan kepada transfigurasi tubuh. Pada suatu hari, tubuh kita akan diubah, tidak hanya di luarnya saja, tetapi juga diubah secara organik dan metabolis melalui digarapkannya unsur ilahi ke dalamnya. Hari ini wajah kita mungkin agak cerah, namun tidak bercahaya. Tetapi ketika tubuh kita ditransfigurasi secara metabolis dan organis melalui suplai hayat ilahi, maka bukan hanya wajah kita, bahkan seluruh tubuh kita akan bercahaya. Itu barulah keputraan yang penuh, sebab setelah itu kita baru dapat sepenuhnya mengekspresikan Allah. Ketika itu kita akan mengekspresikan Dia dalam roh, jiwa, bahkan tubuh. Terang akan berpancar dari wajah kita untuk mengekspresikan Allah. Mengenai hal ini 1Yohanes 3:2 mengatakan, “Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia.” Ketika kita melihat Dia, kita akan memancarkan cahaya kemuliaan Bapa, dan kita akan bercahaya dengan kemuliaan ini pula. Inilah keputraan yang penuh.

Karena itu, dari Perjanjian Baru kita nampak, sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat dan sifat Allah untuk mewarisi Allah beserta segala kekayaan-Nya dan mengekspresikan Dia sampai tingkat yang paling tinggi. Hak keputraan inilah yang menjadi kedambaan hati Allah. Bapa kita yang ajaib dan kekal menginginkan satu ekspresi yang universal dari diri-Nya sendiri melalui anak-anak-Nya yang banyak itu.

MENURUT JENIS ALLAH

Kejadian 1:26 mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya sendiri. Allah menciptakan manusia dengan cara demikian, karena memang Ia menghendaki diri-Nya diekspresikan melalui manusia. Kejadian 1 menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup diciptakan menurut jenisnya masing-masing. Akan tetapi, manusia diciptakan bukan menurut jenisnya sendiri, melainkan menurut jenis Allah. Apakah Anda berani menyatakan bahwa sebagai manusia, Anda adalah menurut jenis Allah? Jika kita memahami bahwa kita diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, tentu kita akan berani mengatakan bahwa kita diciptakan menurut jenis Allah. Namun, mengatakan kita adalah menurut jenis Allah tidaklah berarti kita adalah Allah atau kita akan menjadi Allah. Tetapi menurut Kejadian 1:26-28, kita umat manusia memang menurut jenis Allah.

Dalam Kejadian 1, Adam memiliki rupa dan gambar Allah, tetapi ia belum memiliki hayat dan sifat Allah. Karena itu, berdasarkan Kejadian 2, Allah menempatkan manusia di hadapan pohon hayat. Ini menunjukkan bahwa Adam perlu mengambil bagian dalam hayat dan sifat ilahi Allah. Sekalipun Adam diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, ia tetap masih perlu memakan buah pohon hayat itu agar ia memiliki hayat yang kekal. Dalam kedua pasal pertama Kitab Kejadian kita memiliki catatan lengkap dari penciptaan Allah atas manusia.

PENEBUSAN DAN KELAHIRAN KEMBALI

Dalam Kejadian 1 dan 2, Adam belum memiliki hayat kekal. Sebaliknya, ia hanya memiliki hayat insani sebagai wadah untuk menampung hayat ilahi. Roma 9 menunjukkan dengan jelas bahwa manusia adalah satu wadah untuk menampung hayat ilahi. Tetapi manusia telah jatuh sebelum menerima hayat yang kekal itu. Karena itulah Allah mengutus Putra-Nya menjadi manusia yang berdarah daging untuk merampungkan penebusan dan membawa manusia yang telah jatuh itu kembali kepada tujuan Allah yang semula. Jadi penebusan memulihkan manusia kepada tujuan Allah. Haleluya, melalui darah Kristus yang teralir di atas salib, kita, orang-orang yang telah jatuh, telah ditebus! Roma 3 dan Galatia 3 kedua-duanya membicarakan penebusan Allah yang menakjubkan ini.

Namun, penebusan bukan merupakan tujuan. Penebusan hanya merupakan satu prosedur, bagian dari satu proses, untuk mencapai sasaran keputraan Allah. Karena itulah Kitab Roma dan Galatia menunjukkan bahwa Kristus menebus kita agar hayat ilahi dapat tersalur ke dalam kita untuk melahirkan kita kembali. Kita telah diciptakan oleh Allah, namun kita tetap perlu dilahirkan kembali. Walaupun kita telah diciptakan dengan hayat insani, kita tetap perlu dilahirkan kembali dengan hayat lain, yakni hayat ilahi. Jadi, penebusan menghasilkan penyaluran hayat ilahi. Itulah kelahiran kembali. Dengan kelahiran kembali oleh Roh itulah kita menjadi anak-anak Allah.

MAKHLUK CIPTAAN ALLAH

DAN ANAK-ANAK ALLAH

Dalam Kejadian 1, manusia hanya satu makhluk ciptaan Allah, belum menjadi anak Allah. Menurut Kejadian 1:26, Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, tetapi Ia tidak melahirkan manusia dengan hayat ilahi-Nya pada saat itu. Di situ, dalam Kejadian 1, Allah adalah Pencipta kita, dan kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Akan tetapi setelah Kristus datang merampungkan penebusan, dan kita percaya kepada-Nya, darah-Nya memungkinkan hayat ilahi tersalur ke dalam kita. Dengan cara inilah kita dilahirkan kembali dan Allah menjadi Bapa kita.

Dalam penciptaan, Allah adalah Pencipta kita, tetapi dalam kelahiran kembali, Ia menjadi Bapa kita. Sekarang, setelah dilahirkan kembali, kita bukan hanya makhluk ciptaan Allah, kita pun anak-anak Allah. Haleluya, Allah adalah Pencipta kita dan Bapa kita! Sebagai Pencipta, Ia menciptakan kita, dan sebagai Bapa, Ia melahirkan kita. Sekarang kita dapat menyatakan dengan berani bahwa kita bukan hanya mempunyai rupa dan gambar Allah secara luaran, juga mempunyai hayat dan sifat Allah secara batin. Kita adalah anak-anak Allah yang hidup! Ekonomi Allah ialah menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita untuk menjadikan kita anak-anakNya.

KEHIDUPAN MAKHLUK CIPTAAN

ATAU KEHIDUPAN ANAK?

Sekarang kita akan melihat satu butir yang sangat penting, juga mengajukan satu pertanyaan penting: Karena kita adalah anak-anak Allah, kita hidup sebagai ciptaan Allah, atau sebagai anak-anak Allah? Dengan kata lain, kehidupan manakah yang Allah kehendaki untuk kita tampak; kehidupan makhluk ciptaan atau kehidupan anak? Sudah pasti kedambaan Allah ialah agar kita menempuh kehidupan sebagai anak-anak, bukan sebagai makhluk ciptaan. Namun bagaimanakah kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah? Pertama-tama, untuk hidup sebagai anak Allah, kita harus menjadi anak Allah. Jalan satu-satunya untuk menjadi anak Allah ialah percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia. Yohanes 1:12 mengatakan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Sebagai anak-anak Allah, kita telah dilahirkan “bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki melainkan dari Allah” (Yoh. 1:13 Tl.). Haleluya, kita telah menjadi anak-anak Allah melalui percaya kepada Tuhan Yesus!

Sekarang karena kita telah menjadi anak-anak Allah, kita perlu memahami bahwa kita lebih daripada makhluk ciptaan. Sebagai orang-orang yang menjadi anak-anak dan tidak hanya menjadi makhluk ciptaan, kita tidak boleh menempuh kehidupan makhluk ciptaan, melainkan kehidupan anak.

Jauh sekali bedanya antara menempuh kehidupan makhluk ciptaan Allah dengan menempuh kehidupan anak-anak Allah. Sebagai contoh, baik Alkitab maupun ajaran etika kedua-duanya mengajar orang untuk taat, namun ajaran etika tentang ketaatan hanya ajaran etis belaka. Alkitab mengajar orang taat berkaitan dengan kehidupan kita sebagai anak-anak Allah. Ajaran tentang ketaatan yang terdapat dalam tulisan-tulisan klasik hanya membantu kita untuk hidup sebagai makhluk ciptaan Allah, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sebagai anak-anak Allah. Tidak peduli sampai tingkat apa orang-orang mempraktekkan ketaatan yang sesuai dengn ajaran etika, mereka tetap hidup sebagai makhluk ciptaan Allah, bukan sebagai anak-anak Allah.

Dalam salah satu karangan yang disebut Pelajaran yang Tertinggi, dikatakan tentang mengembangkan dan membina “pekerti terang”. Menurut pengarangnya, pencapaian tertinggi dalam etika ialah membina pekerti terang tersebut. Namun demikian, tak peduli kita sudah mengembangkan pekerti terang itu setinggi apa menurut ajaran itu, kita tetap makhluk ciptaan Allah.

Apa yang disebut dengan “pekerti terang” itu sebenarnya hati nurani. Jadi, mengembangkan pekerti yang terang berarti mengembangkan hati nurani. Namun, bila seseorang dapat mengembangkan hati nuraninya sampai tingkat yang sangat tinggi sekalipun, ia tetap hanya makhluk ciptaan Allah, sebab ia tidak memiliki hayat Allah. Akan tetapi, kita yang percaya kepada Kristus memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi. Sekarang, karena kita adalah anak-anak Allah, maka sasaran kita tidak seharusnya mengembangkan pekerti terang kita. Berbuat demikian berarti hanya memperbaiki kehidupan kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Alkitab tidak mengajar kita untuk memperbaiki kehidupan kita sebagai makhluk ciptaan, melainkan menyuruh kita hidup sebagai anak-anak Allah.

Berbagai etika berfungsi memperbaiki pekerti insani makhluk ciptaan Allah dari satu segi, dan agama mengembangkan pekerti-pekerti itu dari segi lain. Agama dan etika memiliki prinsip yang sama. Akan tetapi bertentangan dengan agama dan etika, sasaran keselamatan Allah bukanlah mengembangkan pekerti-pekerti makhluk ciptaan Allah. Pertama, sasaran Allah dalam keselamatan-Nya ialah menjadikan kita anak-anak-Nya. Kedua, sasaran-Nya ialah menyuplai kita dengan hayat ilahi agar kita dapat bertumbuh. Ketiga, Allah itu sendiri sebagai Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam kita, hidup, bergerak, dan bekerja di dalam kita. Banyak orang boleh bermegah atas pekerti terang mereka. Mereka mungkin bangga karena mereka membina dan mengembangkan pekerti itu. Namun, kebanggaan kita bukanlah dalam pekerti terang kita, melainkan karena kita memiliki Allah sendiri hidup di dalam kita. Karena dipengaruhi latar belakang dan lingkungan agama, maka kita sebagai orang-orang Kristen, mungkin tidak menyadari betapa kayanya kita. Kekayaan kita ialah Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh itu.

MENGALAMI ALLAH TRITUNGGAL

Bagi kebanyakan orang Kristen hari ini, Tritunggal hanya dianggap satu masalah teologi, bukan masalah pengalaman. Akan tetapi, dalam Alkitab, Tritunggal tidak disajikan sebagai satu doktrin. Banyak ayat yang mengajar kita tentang pembenaran oleh iman, tetapi tidak ada satu ayat pun yang mengajarkan kita tentang Tritunggal secara doktrinal. Sebaliknya, Tritunggal disajikan dalam Alkitab dengan penekanan yang berkaitan dengan pengalaman kita. Sebagai contoh, 2Korintus 13:13 mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Apakah yang kita miliki di sini, doktrin Tritunggal atau pengalaman atas Tritunggal? Sudah tentu ayat ini mengatakan tentang pengalaman atas Allah Tritunggal. Lihat contoh lainnya:

“Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, . . . supaya Ia menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu . . .” (Ef. 3:14, 16-17). Dalam ayat ini Paulus menunjuk kepada Bapa, Roh, dan Kristus, sang Putra. Menurut konteksnya, referensi Allah Tritunggal ini sepenuhnya berkaitan dengan pengalaman kita. Demikian pula perkataan Tuhan dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak (Putra) dan Roh Kudus.” Sekali lagi di sini Tritunggal disajikan bukan sebagai doktrin, melainkan sebagai pengalaman. Menurut pengalaman, semua orang beriman dibaptis ke dalam Allah Tritunggal. Alangkah butanya orang yang mengatakan bahwa Tritunggal hanya untuk doktrin belaka, bukan untuk pengalaman!

Dalam Yohanes 14 kita nampak wahyu tentang Allah Tritunggal yang dalam dan rahasia. Ketika menjawab permintaan Filipus untuk menunjukkan Bapa kepada murid-murid, Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (ayat 9). Tuhan selanjutnya bertanya, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (ayat 10). Kemudian dalam pasal ini Tuhan berkata bahwa Ia akan minta kepada Bapa dan Bapa akan memberikan kepada murid-murid Penghibur yang lain, yaitu Roh kebenaran (ayat 16-17). Jika kita mempelajari dengan cermat ayat 17-18, terungkaplah bahwa kedatangan Roh kebenaran itu berarti kedatangan Tuhan Yesus itu sendiri. Jadi, dalam Yohanes 14 kita nampak Bapa terlihat di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Ini adalah untuk pengalaman, bukan untuk doktrin semata. Kita dapat mengalami Bapa melalui melihat Putra, dan kita dapat mengalami Putra melalui merealisasikan Roh itu. Alangkah menakjubkan bahwa kita memiliki Allah Tritunggal di dalam kita! Seperti dikatakan Tuhan dalam Yohanes 14:23, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan me-ngasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Dikasihi oleh Bapa dan memiliki Bapa dan Putra diam bersama kita pasti merupakan masalah pengalaman, bukan masalah doktrin. Karena itu, adalah mutlak benar dan sesuai dengan Alkitab jika kita mengatakan Tritunggal itu berkaitan dengan pengalaman rohani kita.

Para penganut ajaran tertentu boleh bangga dengan pekerti terang mereka, tetapi kita bangga karena Allah Tritunggal diam di dalam kita. Kita mempunyai Bapa, Putra, dan Roh itu. Kita tidak perlu mengembangkan pekerti terang kita, tetapi kita dapat mengalami Allah Tritunggal bertumbuh di batin kita. Dalam Kolose 2:19 dikatakan bahwa kita dapat bertumbuh dengan pertumbuhan Allah. Kita bertumbuh dengan pertumbuhan Allah di batin kita. Kita tidak hanya memiliki sesuatu yang terang, bahkan memiliki Allah Tritunggal yang hidup dan bertumbuh di dalam kita.

Persona yang hidup dan tumbuh di dalam kita adalah Roh itu, perampungan sempurna Allah Tritunggal. Allah itu Roh (Yoh. 4:24), dan Tuhan itu Roh (2Kor. 3:17). Sekarang kita memiliki Roh itu di dalam kita. Walaupun Allah Tritunggal diam di dalam kita, kita tidak merasakan adanya tiga Persona yang diam di dalam kita, melainkan satu Persona. Allah kita adalah Tritunggal; Dia itu tiga-satu. Bagaimana Allah dapat menjadi tiga dan satu, hal itu jauh di luar jangkauan pengertian kita. Namun sekalipun Tritunggal itu tak dapat kita mengerti, kita dapat menikmati Allah Tritunggal yang hidup dan bertumbuh di dalam kita ini. Di satu pihak, Ia adalah Tuhan yang ada di surga, tetapi, di pihak lain, Ia adalah Roh yang tinggal di dalam kita.

HIDUP OLEH ALLAH TRITUNGGAL

Dalam terang yang kita peroleh terdahulu, baiklah sekarang kita membahas perkataan Paulus, “Hiduplah oleh Roh” (Gal. 5:16). Roh yang olehnya kita hidup adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Jadi, hidup oleh Roh tak lain berarti hidup oleh Allah Tritunggal. Kita bisa hidup oleh Allah Tritunggal, karena kita telah dilahirkan dari Dia menjadi anak-anak-Nya dengan memiliki hayat dan sifat-Nya. Pada faktanya, kita memiliki Allah Tritunggal itu sendiri. Orang-orang yang tidak percaya, termasuk pengikut-pengikut ajaran tertentu yang terpelajar tidak dapat hidup oleh Roh, karena mereka tidak memiliki Roh itu di dalam mereka. Mereka mungkin memiliki pekerti terang untuk dikembangkan, namun mereka tidak memiliki Roh itu untuk hidup. Berlawanan dengan mereka yang mengikuti ajaran-ajaran etika tersebut, kita tidak seharusnya berusaha mengembangkan pekerti terang kita, melainkan harus berusaha hidup oleh Roh. Orang-orang yang tetap berusaha mengembangkan pekerti terang mereka, yaitu hati nurani mereka, harus sadar bahwa mereka hanya hidup sebagai makhluk ciptaan Allah, bukan sebagai anak-anak Allah. Tetapi kita yang telah dilahirkan kembali dari Roh Allah, bukan hanya makhluk ciptaan Allah, kita pun telah menjadi anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita tidak mengembangkan pekerti terang kita, tetapi kita hidup menurut Allah kita, yakni menurut Bapa, Putra, dan Roh.

TIGA JENIS AJARAN

Ada tiga jenis ajaran utama mengenai kehidupan kita sebagai umat manusia. Pertama ialah berbagai ajaran etika. Orang-orang dari setiap bangsa dan budaya pasti diajarkan untuk memperbaiki perilaku mereka. Mereka dilatih secara etis untuk menjadi manusia yang baik, ramah, sopan, rendah hati, dan pengasih. Dari jenis ini ada beberapa yang bahkan menasihati kita untuk berdoa kepada Allah dan mohon bantuan-Nya demi menempuh hidup yang wajar.

Ajaran jenis kedua menyatakan, untuk menempuh hidup dengan wajar, kita perlu dipimpin, diilhami, dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Jenis ajaran ini terkenal di kalangan orang-orang Kristen pada hari ini. Berdasarkan ajaran ini, melalui Roh Kudus barulah kita dapat rendah hati dan mengasihi orang. Walaupun ajarannya itu sendiri tidak ada salahnya, tetapi mungkin saja ajaran demikian hanya dipakai untuk membantu kaum beriman hidup seba-gai makhluk ciptaan Allah dengan bantuan Roh Allah. Sudah tentu tidak salah jika kita menasihati orang lain untuk percaya dan bersandar kepada Roh Kudus dan menerima bantuan dari Roh Kudus. Namun, setiap perkara tergantung pada kedudukan apa yang kita miliki untuk percaya dan bersandar kepada Roh Kudus itu. Jika kita percaya dan bersandar kepada Roh Kudus di atas kedudukan makhluk ciptaan Allah, itu sebenarnya berarti kita merampas bantuan Roh itu. Tetapi jika kita ingin bersandar kepada Roh itu, kita harus berdiri pada kedudukan anak-anak Allah. Kalau demikian, kita akan menikmati Roh Bapa.

Ketika Anda bersandar kepada Roh Kudus, di atas kedudukan apakah Anda berdiri? Apakah Anda berdiri di atas kedudukan makhluk ciptaan Allah? Apakah Anda hanya ingin menjadi orang yang baik? Karena Anda tahu diri Anda lemah dan Allah penuh rahmat, apakah Anda meminta Dia mengutus Roh Kudus untuk menguatkan Anda supaya Anda hidup sebagai makhluk ciptaan-Nya dengan wajar? Jika demikian, itu berarti Anda berdiri di atas kedudukan makhluk ciptaan untuk minta bantuan Roh Kudus. Bersandar kepada Roh itu memang benar, tetapi kedudukan makhluk ciptaan bukanlah kedudukan yang wajar untuk bersandar kepada-Nya. Kedudukan yang wajar untuk minta kepenuhan suplai Roh Yesus Kristus yang limpah lengkap adalah kedudukan anak-anak Allah.

Menurut ajaran jenis ketiga, kita telah dilahirkan dari Allah menjadi anak-anak Allah dengan hayat dan sifat ilahi. Karena kita adalah anak-anak Allah, Ia tidak hanya memberi kita Roh itu, tetapi Ia sendiri sekarang adalah Roh dalam batin kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya secara penuh. Ia tidak hanya membantu kita menjadi orang yang lebih pengasih, lebih rendah hati, atau lebih kuat. Setelah mengalami inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, sekarang Allah Tritunggal ada di dalam kita sebagai Roh pemberi hayat almuhit yang menjadi hayat dan suplai hayat kita. Sasaran-Nya ialah merampungkan keputraan dan menjadikan kita anak-anak Allah sepenuhnya. Sementara itu, kita harus hidup menurut Dia saja.

Banyak orang Kristen meminjam Galatia 5:16, mencabutnya dari konteksnya, lalu menggunakannya untuk menyuruh kaum beriman hidup oleh Roh. Namun mereka tidak nampak ayat ini dalam konteks seluruh Kitab Galatia. Kitab ini mewahyukan bahwa kita dahulu adalah orang-orang dosa yang dijatuhi hukuman oleh Allah menurut hukum-Nya yang adil. Akan tetapi, Allah telah mengutus Putra-Nya untuk merampungkan penebusan bagi kita, sehingga kita dapat menjadi anak-anak Allah. Sekarang, sebagai anak-anak Allah yang sejati, kita memiliki hayat dan sifat Allah, bahkan memiliki Allah Tritunggal sendiri sebagai Roh almuhit yang berhuni, bekerja, bergerak, bertindak, dan mengurapi kita, menjadikan kita anak-anak Allah sepenuhnya. Karena kita adalah anak-anak Allah dan karena Allah Tritunggal sedang bekarja dalam kita menuju ke sasaran keputraan yang penuh, maka kita harus hidup oleh Roh. Memahami 5:16 sedemikian berarti memahaminya sesuai dengan konteks seluruh Kitab Galatia.

Dalam pemulihan Tuhan dewasa ini, kita tidak hanya menasihati kaum saleh untuk hidup menurut Roh, sasaran kita justru membantu kaum beriman mengetahui bahwa mereka adalah anak-anak Allah yang dihuni oleh Roh almuhit. Kita harus hidup menurut Roh, yakni menurut Allah Tritunggal yang tinggal di batin kita. Jika pengalaman kita demikian, pasti kita tidak lagi hidup dengan ajaran jenis pertama dan jenis kedua, melainkan dengan jenis yang ketiga, yakni ajaran yang sesuai dengan ekonomi Allah dalam keselamatan-Nya.