HIDUP OLEH ROH DALAM KENIKMATAN ATAS KRISTUS DI DALAM ROH KITA
Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16, 25; 6:16, 18
Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah pertama-tama Ia menjadikan kita anak-anak-Nya dan kemudian menjadikan kita ciptaan baru serta Israel milik Allah. Hingga akhir Kitab Galatia, Paulus membicarakan ciptaan baru (6:15) dan Israel milik Allah (6:16). Dengan menyinggung kedua hal ini pada penutup kitab ini, ia menunjukkan bahwa kedua hal ini cukup penting. Karena itu, kita perlu memiliki pengertian yang tepat atas ciptaan baru dan Israel milik Allah.
DAMAI SEJAHTERA ATAS ISRAEL MILIK ALLAH
Pada 6:16 Paulus berkata, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Di sini Paulus tidak menyebut damai sejahtera secara umum, melainkan secara khusus. Tambahan pula, ia tidak berkata, “damai sejahtera atas kamu,” tetapi “damai sejahtera atas Israel milik Allah.” Damai sejahtera atas kita berbeda dengan damai sejahtera kepada kita. Yang di depan itu lebih subyektif daripada yang di belakang. Berdasarkan 6:16, damai sejahtera ini bukan di atas kaum beriman pada umumnya, tetapi di atas mereka yang hidup oleh kaidah ini, yakni kaidah dasar ciptaan baru. Damai sejahtera akan tercurah atas orang-orang yang hidup oleh kaidah ciptaan baru. Ini menunjukkan bahwa di sini, di dalam penutup Kitab Galatia, damai sejahtera merupakan sesuatu yang bersyarat. Untuk turunnya damai sejahtera ke atas kita, perlulah kita menjadi orang-orang yang hidup oleh kaidah ciptaan baru, menjadi Israel sejati milik Allah.
Sebelum Paulus membicarakan anugerah (kasih karunia) dalam ayat 18, ia menyisipkan ayat 17, yang mengatakan, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Disisipkannya ayat ini adalah satu petunjuk lebih lanjut, bahwa pada akhir Kitab Galatia damai sejahtera dan anugerah disebut dengan persyaratan tertentu. Kalau kita menginginkan damai sejahtera itu turun ke atas kita, perlulah kita memenuhi persyaratannya. Karena damai sejahtera di sini turun dengan cara yang sangat khusus, maka kita perlu memenuhi persyaratan tertentu, yakni persyaratan hidup oleh kaidah ciptaan baru dan menjadi Israel milik Allah.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Kitab Galatia Paulus membicarakan dua jenis kehidupan oleh Roh itu. Kehidupan dalam 5:16 adalah kehidupan yang lebih umum, sedang kehidupan dalam 5:25 dan 6:16 adalah kehidupan yang khusus, yang menurut suatu kaidah atau prinsip tertentu. Memiliki kehidupan jenis kedua ini merupakan suatu persyaratan bagi turunnya damai sejahtera ke atas Israel milik Allah. Damai sejahtera ini tidak turun ke atas umat Allah pada umumnya, melainkan sejenis damai sejahtera yang khusus diturunkan ke atas orang tertentu, yaitu ke atas mereka yang memiliki kehidupan jenis kedua oleh Roh itu.
ANAK-ANAK ALLAH
DAN ISRAEL MILIK ALLAH
Dalam 3:26 Paulus berkata, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus.” Sebagai anak-anak Allah kita adalah kerabat-kerabat-Nya, anggota keluarga-Nya. Namun, ekonomi Perjanjian Baru Allah bukan hanya menjadikan kita anak-anak-Nya, tetapi juga menjadikan kita Israel milik Allah.
Mungkin kita dapat mengerti perbedaan antara anak-anak Allah dan Israel milik Allah kalau kita mengambil perumpamaan bagaimana seorang anak dalam keluarga raja dilatih untuk menjadi raja. Di satu pihak, anak yang demikian bertumbuh besar sebagai salah satu anggota keluarga raja, yakni anak dari raja dan ratu. Di pihak lain, ia juga harus dilatih untuk menjadi raja di kemudian hari. Jadi, ia harus memiliki dua jenis kehidupan: pertama, sebagai anak keluarga raja; kedua, sebagai calon raja. Kalau ia memiliki kehidupan jenis pertama tanpa kehidupan jenis kedua, ia tidak akan memenuhi syarat untuk menjadi raja. Seorang anak kecil tidak mungkin dilatih menjadi raja dalam waktu semalam, ia pun tidak mungkin memenuhi syarat untuk menjadi raja hanya dengan membina pekerti tertentu. Kalau ia periang, pengasih, lemah lembut, setia, dan bisa mengendalikan diri, ia akan menjadi anak yang sangat baik. Tetapi pekerti-pekerti itu sendiri tidak dapat melayakkan dia menjadi seorang raja. Sebagai calon raja, ia harus dilatih untuk hidup dan bertindak tanduk secara rajani. Cara ia duduk atau bertutur kata dengan orang lain harus pula bersifat rajani. Selaku orang yang berstatus ganda anak dalam keluarga raja, dan calon raja ia harus memiliki dua jenis kehidupan.
DUA JENIS KEHIDUPAN
Kita yang percaya kepada Kristus Yesus juga memiliki status ganda. Di satu pihak, kita adalah anak-anak Allah, anggota keluarga ilahi. Di pihak lain, kita adalah calon-calon raja, yang telah ditetapkan menjadi raja-raja. Jabatan Israel berkaitan dengan Israel milik Allah. Kita tidak boleh hanya menjadi anak-anak Allah, tetapi juga menjadi Israel milik Allah. Untuk menjadi anak-anak Allah yang wajar cukuplah kita memiliki buah Roh itu, yaitu pekerti-pekerti yang tercantum dalam 5:22-23. Tetapi untuk menjadi raja-raja, Israel milik Allah, kita perlu suatu kehidupan yang lain, yaitu jenis kehidupan yang khusus oleh Roh itu. Kita perlu kehidupan anak-anak Allah dan kehidupan Israel milik Allah.
Kebanyakan orang Kristen tidak memiliki kehidupan jenis pertama oleh Roh itu, lebih-lebih jenis kedua. Kita bersyukur kepada Tuhan, oleh rahmat-Nya, banyak orang dalam kehidupan gereja hari ini yang memiliki kehidupan oleh Roh yang pertama untuk memperhidupkan Kristus. Namun, Tuhan sekarang sedang memanggil kita untuk maju terus guna memiliki kehidupan oleh Roh jenis yang kedua, yakni kehidupan jenis kedua. Kehidupan ini bukan hanya kehidupan anak-anak dalam keluarga ilahi, tetapi juga kehidupan orang-orang yang akan menjadi raja-raja dalam Kerajaan Allah. Semoga mata kita tercelik dan nampak bahwa kita adalah raja-raja dalam keluarga kerajaan! Nasib kita tidak hanya menjadi anak-anak Allah, tetapi juga menjadi raja-raja yang memerintah dalam Kerajaan Allah kelak.
Apakah Anda hidup dengan pola rajani? Jika Anda hidup dengan pola ini, Anda akan menjadi bersifat rajani sekalipun ketika Anda sedang tertawa. Jika kita nampak bahwa perkataan Paulus tentang Israel milik Allah itu menyiratkan perlunya kita memiliki kehidupan dan perilaku rajani, maka keinginan untuk hidup secara rajani akan bangkit dalam batin kita. Bahkan kita akan berdoa, “O Tuhan, buatlah aku hidup dan berperilaku secara rajani, agar aku layak menjadi bagian dari Israel milik Allah hari ini.”
Dari satu segi, memang bangsa Israel adalah Israel milik Allah dan kesaksian Allah, meskipun kebanyakan orang Israel membangkang dan berdosa. Tetapi Israel sejati, Israel rohani, ialah gereja. Hanya saja, karena negara Israel maupun gereja berada dalam kondisi yang rendah, maka Tuhan perlu memulihkan Israel sejati milik Allah. Untuk pemulihan semacam ini kita perlu memiliki kedua jenis kehidupan ini. Dalam kehidupan yang pertama kita akan memiliki pekerti-pekerti seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kelemahlembutan, dan kesabaran; semuanya ini mengekspresikan Kristus yang hidup di dalam kita. Kita pun perlu kehidupan jenis kedua, agar kita dapat menjadi Israel milik Allah yang mengemban jabatan raja Allah, mewakili Allah dengan wewenangNya, dan menjalankan administrasi pemerintahan-Nya.
Kedua jenis kehidupan ini dapat juga diilustrasikan dengan kehidupan kita sebagai warga negara Amerika Serikat. Di satu pihak, kita adalah orang-orang yang hidup secara biasa; di pihak lain, kita adalah warga negara ini. Sebagai orang-orang biasa, kita perlu kasih, damai sejahtera, sukacita, setia, dan lemah lembut. Akan tetapi, untuk membina negara Amerika Serikat agar bisa tetap menjadi negara yang kuat, kita wajib hidup sebagai warga negara yang baik dengan memenuhi permintaan pemerintah. Sebagai warga negara, kita wajib membayar pajak, turut serta dalam wajib militer, dan memenuhi kewajiban-kewajiban lainnya. Dari segi rohani, kita adalah anak-anak Allah dan Israel milik Allah. Selaku anak-anak Allah, kita perlu ka-sih, sukacita, damai sejahtera, setia, dan lemah lembut. Sebagai Israel milik Allah, kita harus hidup menurut kaidah-kaidah dasar dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Kebanyakan orang Kristen yang benar-benar ingin maju bersama Tuhan biasanya hanya memperhatikan kehidupan jenis pertama, mereka hanya damba menjadi orang-orang rohani, kudus, dan menang. Tetapi kita harus juga memperhatikan kehidupan jenis kedua, khususnya kita perlu memperhatikan kehidupan gereja. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen yang “rohani” atau “suci” sema sekali tidak memperhatikan kehidupan gereja. Orang-orang Kristen ini sangat gemar berdoa, mempelajari Alkitab, memberitakan Injil, atau memperbaiki kelakuan mereka. Menurut konsepsi mereka, hal-hal itulah yang paling dibutuhkan. Tetapi, karena mereka tidak hidup menurut prinsip ciptaan baru, maka mustahillah mereka menjadi Israel milik Allah.
SUSUNAN BARU
Ciptaan baru bersinonim dengan gereja. Istilah Israel milik Allah juga bersinonim dengan gereja. Kalau demikian, mengapa Paulus tidak memakai istilah gereja dalam Galatia 6? Jawabannya, karena maksud Paulus ialah menunjukkan gereja adalah ciptaan baru, susunan baru. Hari ini kita sangat perlu menyadari bahwa gereja adalah satu susunan baru. Bila kita memakai istilah “gereja”, banyak orang yang mengira itu adalah suatu bangunan yang beratap lancip atau suatu organisasi agama tertentu. Namun, berdasarkan Alkitab, gereja adalah satu ciptaan baru. Karena manusia batiniah kita telah disusun oleh sifat ilahi, maka kita telah menjadi satu ciptaan baru.
Ciptaan lama maupun ciptaan baru kedua-duanya merupakan satuan yang korporat. Tidak ada dua ciptaan lama, juga tidak ada dua ciptaan baru. Baik ciptaan lama maupun ciptaan baru semuanya merupakan kelompok korporat yang unik. Kita yang percaya kepada Kristus semuanya adalah satu ciptaan baru, seperti halnya kita semuanya adalah satu gereja.
Ungkapan “ciptaan baru” menunjukkan sifat, susunan organik yang batini di dalam gereja. Gereja merupakan suatu organisme yang memiliki susunan batini. Susunan ini ialah ciptaan baru. Paulus berkata, bahwa bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, agamis atau tidak agamis tidak ada artinya, hanya ciptaan barulah yang ada artinya. Dengan ini ia mengartikan bahwa di alam semesta, satu-satunya yang berarti adalah susunan organik dan batini yang mengandung perbauran Allah dengan manusia. Kita tidak saja harus hidup dan berperilaku dengan pekerti-pekerti tertentu yang mengekspresikan Kristus, kita pun harus hidup dan berperilaku menurut prinsip, kaidah dan ciptaan baru yang demikian.
“HIDUP” YANG BERPENGARUH
Hidup menurut prinsip dasar ciptaan baru berarti hidup dalam suatu pola yang teratur seperti halnya dengan pasukan yang berbaris dengan seirama. Kehidupan yang demikianlah yang membuat gereja memiliki pengaruh. Gereja dikatakan “lemah”, tidak lain karena kaum beriman tidak memiliki kehidupan jenis kedua oleh Roh itu. Mereka tidak mempunyai perhatian yang sesungguhnya bagi pelaksanaan kehidupan gereja. Namun, bila dalam gereja lokal ada sedikit saja orang saleh yang mempunyai kehidupan yang kedua dan berbaris bersama dalam satu barisan dengan langkah-langkah yang seirama, pasti gereja akan mempunyai pengaruh. Kaum saleh itu bukan hanya menjadi anak-anak Allah, mereka pun menjadi Israel milik Allah.
Tahukah Anda siapa yang mengalahkan suku-suku Kanaan, yang memperoleh tanah permai bagi pembangunan Bait Suci, dan yang mendatangkan Kerajaan Allah ke bumi? Itulah Israel milik Allah. Israel dalam Perjanjian Lama merupakan lambang gereja dalam Perjanjian Baru. Jadi, hari ini gereja seharusnya menjadi realitas Israel milik Allah. Puji Tuhan bahwa di dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah kita telah dijadikan anak-anak Allah merangkap Israel milik Allah!
ANUGERAH MENYERTAI ROHMU
Pada akhir Kitab Galatia Paulus berkata, “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu” (6:18). Anugerah Kristus menyertai roh kita. Namun demikian, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui Roh Kudus, mereka tidak mengetahui apa-apa tentang roh manusia. Karena alasan inilah, bila mereka melihat istilah roh dalam Perjanjian Baru, mereka anggap istilah itu ditujukan kepada Roh Kudus. Mereka tidak mengenal fakta bahwa selain Roh Allah, Alkitab pun mengatakan tentang adanya roh manusia. Ada tiga ayat dalam Perjanjian Baru yang menyebut kedua macam roh itu. Yohanes 3:6 mengatakan, “Yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Tl.). Yohanes 4:24 mengatakan, “Allah itu Roh, siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh.” Dan Roma 8:16 mengatakan, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita.”
Baik Roh Allah maupun roh kita sangat penting bagi ekonomi Allah hari ini. Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah mengalami proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, lalu menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45). Sekarang, Roh pemberi hayat ini berada di dalam roh kita dan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Satu Korintus 6:17 memberi tahu kita bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia. Ini merupakan satu petunjuk yang jelas bahwa kedua roh itu telah menjadi satu roh.
Menurut perkataan Paulus dalam 6:18, anugerah Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kita. Anugerah di sini adalah Kristus sendiri sebagai kenikmatan kita. Hari ini Kristus sebagai Roh itu ada di dalam roh kita bagi pengalaman dan kenikmatan kita. Kenikmatan atas Kristus itu adalah anugerah yang menyertai roh kita. Dalam kenikmatan ini dan dengan kenikmatan ini kita dapat hidup oleh Roh untuk memperhidupkan Kristus, memperhidupkan ciptaan baru, dan memperhidupkan Israel milik Allah. Kedua jenis kehidupan oleh Roh ini berada di dalam kenikmatan atas Tuhan Yesus Kristus di dalam roh kita.
MENIKMATI TUHAN MELALUI
MENYERU NAMA TUHAN
Kita dapat menikmati Tuhan di dalam roh kita melalui menyeru nama Tuhan. Tahukah Anda mengapa kita menikmati Tuhan ketika kita menyeru nama-Nya? Kita menikmati Dia secara demikian karena dengan berseru kepada Tuhan dengan otomatis kita menggunakan roh kita. Sebagai contoh, walaupun saya tidak berniat memakai kaki saya, tetapi saya memakainya dengan spontan ketika saya berjalan. Demikian pula, bilamana kita berseru kepada Tuhan dari lubuk batin kita, dengan otomatis kita menggunakan roh kita. Kapan dan di mana saja kita dapat menikmati kekayaan Kristus melalui berseru kepada nama Tuhan. Melalui menyeru nama Tuhan demikian ini, kita akan hidup oleh Roh. Menyeru nama Tuhan juga dapat mengalahkan perkara-perkara yang negatif dalam batin kita.
Misalkan seorang saudari muda yang sudah menikah sering marah-marah, padahal ia benar-benar damba menjadi seorang istri dan ibu yang baik; ia pun sangat benci akan temperamennya itu. Meskipun demikian, ia tidak berdaya mengalahkan temperamennya. Pada tahun-tahun yang lampau, saya tidak tahu bagaimana menasihati orang yang dipersulit oleh temperamennya. Sekarang saya tahu bahwa penyembuhan yang paling baik untuk masalah ini ialah menyeru nama Tuhan dengan menggunakan roh. Melalui menyeru nama Tuhan dengan cara demikian, kita akan menghirup unsur rohani yang dapat menaklukkan temperamen kita. Setelah memiliki pengalaman lebih dari lima puluh tahun dan setelah menghubungi banyak aspek dari kekristenan yang terorganisir, maka saya dapat menarik kesimpulan bahwa cara yang terbaik untuk menikmati Tuhan ialah melalui menyeru nama-Nya.
Sebagai orang Kristen, haruslah kita dikenal orang melalui fakta bahwa kita menyeru nama Tuhan Yesus. Kita tahu bahwa hal ini adalah tanda dari kaum beriman di abad pertama. Ketika itu Saulus dari Tarsus menerima wewenang dari imam kepala untuk menangkapi semua orang yang menyeru nama Tuhan. Menyeru nama Tuhan Yesus harus pula menjadi tanda kaum beriman hari ini. Umat gereja teristimewa haruslah terkenal sebagai orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan.
Ibarat bernafas, maka menyeru nama Tuhan adalah perkara yang sederhana. Tetapi seperti kita tidak dapat hidup jika kita “lulus” dari bernafas, demikian pula kita tidak dapat hidup secara rohani jika kita berhenti menyeru nama Tuhan. Perkara-perkara yang sangat penting dalam kehidupan sering kali adalah perkara-perkara yang paling sederhana. Apakah yang lebih dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan selain bernafas? Tetapi, bernafas adalah perkara yang sangat sederhana. Berbeda dengan memasak, bernafas tidak memerlukan banyak jerih payah. Demikian pula, betapa sederhananya berseru kepada nama Tuhan Yesus! Namun demikian, banyak orang yang terpelajar mengabaikan praktek yang sederhana ini, malah lebih suka melakukan perkara-perkara yang jauh lebih sulit. Ada sebagian malah mengkritik kita dan memfitnah kita karena kita menyeru nama Tuhan Yesus. Bagi mereka, prektek ini dianggap seperti mengucap jampi. Menyeru nama Tuhan sama sekali bukan mengucap jampi, sebab menyeru adalah satu prektek yang sepenuhnya sesuai dengan Alkitab. Oh, betapa perlunya kita menyeru nama Tuhan Yesus, agar kita dapat menikmati Dia sebagai anugerah kita dan memi-liki kedua jenis kehidupan oleh Roh! Saya menganjuri kalian untuk bernafas secara rohani melalui menyeru nama Tuhan Yesus. Melalui menyeru nama Tuhan, kita menikmati Dia. Karena itu, marilah kita hidup oleh Roh dalam kenikmatan atas Krsitus di dalam roh kita.