HIDUP OLEH ROH MENURUT KAIDAH DASAR, MEMPERHIDUPKAN CIPTAAN BARU DAN ISRAEL MILIK ALLAH
Pembacaan Alkitab: Gal. 5:25; 6:15-16
Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Galatia menyajikan suatu perbandingan antara kedua ekonomi Allah: Ekonomi dalam Perjanjian Lama yang memperhatikan hukum Taurat, dan ekonomi Perjanjian Baru yang berintikan pada Kristus sendiri. Menurut ekonomi Perjanjian Baru, kehendak Allah ialah menyalurkan Kristus ke dalam kita dan membuat Kristus bersatu dengan kita dan sebaliknya. Hal ini sama sekali berlainan dengan konsepsi alamiah kita. Karena alasan inilah saya sangat prihatin, banyak di antara kita yang masih belum sepenuhnya menyadari bahwa sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali oleh Roh Allah dengan hayat dan sifat ilahi, kita sekarang adalah satu roh dengan Allah. Sebelum kita beroleh selamat, kita terpisah dengan Allah, saling berjauhan satu dengan yang lain. Tetapi setelah kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, Allah telah terkandung di dalam kita dan terlahir ke dalam kita. Melalui kelahiran baru inilah kita dengan Allah telah menjadi satu roh. Alangkah menakjubkan!
Mungkin kita membaca Alkitab berulang-ulang, namun tanpa terkesan dengan kehendak Allah seperti yang diwahyukan dalam Alkitab. Sebaliknya, kita mungkin menaruh perhatian pada perkara-perkara seperti perintah Paulus tentang suami harus mengasihi istri, atau istri harus taat kepada suami. Perkara seperti kasih atau ketaatan itu memang cocok dengan konsepsi alamiah kita. Tetapi rahasia tentang Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita untuk membuat kita menjadi esa dengan Dia berlawanan dengan konsepsi alamiah kita. Inilah sebabnya walaupun hal ini telah diwahyukan dalam kitab suci, kita tidak mampu memahaminya. Betapa kita perlu belas kasihan Tuhan, agar kita boleh mengetahui kehendak-Nya!
KEDUA JENIS HIDUP OLEH ROH
Akhir-akhir ini saya mulai menaruh perhatian pada kenyataan digunakannya dua istilah Yunani tentang “hidup” yang berbeda dalam Kitab Galatia. Dalam 5:16 Paulus berkata, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Istilah “hiduplah” di sini bahasa Yunaninya ialah peripateo. Dalam 5:25 Paulus berkata selanjutnya, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Kata “hidup . . . dipimpin” di sini adalah stoicheo, yang berbentuk kata kerja dari kata “unsur” (Tl.) yang dipakai dalam 4:3 dan 4:9, dan Kolose 2:8. Galatia 4:3 membicarakan “unsur-unsur dunia” dan 4:9 membicarakan tentang unsur-unsur yang lemah dan miskin. Kolose 2:8 juga mengacu kepada “unsur-unsur dunia”. (Dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan “rohroh dunia”). Semua unsur itu menunjukkan prinsip awal, yang mendasar. Sebagai contoh, dalam matematika terdapat prinsip-prinsip mendasar pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Demikian pula, ajaran-ajaran filsafat dan etika juga tersusun dari unsur-unsur mendasar. Dalam ekonomi Allah juga terdapat unsur-unsur, prinsip-prinsip dasar, dan kaidah-kaidah dasar.
Seperti telah kita tunjukkan, istilah dasar kata “hidup dipimpin” dalam Galatia 5:25 dalam bahasa Yunaninya adalah kata kerja dari “unsur”. Istilah yang sama itu juga dipakai Paulus dalam 6:16, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Bagi para penerjemah, sulitlah menemukan sebuah istilah yang sepadan dengan kata kerja tersebut. Jika kita menerjemahkannya, “Jika kita hidup oleh Roh itu, baiklah kita juga berunsur oleh Roh itu”, tidak akan ada yang mengerti maksud kita. Jadi para penerjemah terpaksa memakai istilah “hidup dan dipimpin”. Menurut tata bahasa Yunani, memang istilah ini dapat menyatakan maksud kehidupan dan tindakan. Namun, ini bukan berarti hidup dan bertindak secara umum, yaitu bertindak sesuka hati, melainkan secara khusus, menurut kaidah, prinsip, atau jalur tertentu.
Istilah Yunani ini dipakai juga dalam Kisah Para Rasul 21:24 (tetap memelihara) dengan arti bertindak secara teratur sehubungan dengan ajaran-ajaran hukum Taurat. Ungkapan “tetap memelihara” dalam ayat ini adalah terjemahan dari istilah Yunani stoicheo. Ini dipakai untuk menunjukkan kehidupan yang diatur dalam suatu urutan atau jalur. Sebagai contoh, ketika tentara-tentara berbaris, mereka berjalan dalam suatu susunan, teratur dan berjalan dalam barisannya. Ini adalah satu ilustrasi dari apa yang dimaksud dengan hidup secara teratur.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang Kris-ten, kita perlu memiliki kedua jenis kehidupan oleh Roh itu. Yang pertama ialah kehidupan yang umum, sedang yang kedua ialah kehidupan menurut suatu kaidah atau prinsip tertentu untuk penggenapan maksud kekal Allah. Dalam kehidupan jenis pertama kita perlu menyatakan buah Roh itu, yaitu pekerti-pekerti yang tercantum dalam 5:22-23. Akan tetapi, kita tidak hanya memamerkan pekerti-pekerti seperti kasih, sukacita, dan damai sejahtera, kita di sini adalah untuk penggenapan kehendak Allah. Jadi kita perlu hidup menurut kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip tertentu demi menggenapi kehendak tersebut. Bagi kehendak atau tujuan Allah, kita perlu memiliki suatu kehidupan secara teratur, suatu kehidupan yang sesuai dengan kaidah-kaidah mendasar atau prinsip-prinsip dasar. Kasih dan sukacita bukanlah kaidah atau prinsip dasar, semua itu hanya merupakan aspek-aspek dari kehidupan sehari-hari kita sebagai orang Kristen, bukan ciri-ciri kehidupan yang membawa kita kepada penggenapan kehendak Allah. Kehidupan jenis kedua oleh Roh ini mengharuskan kita hidup menurut prinsip-prinsip dasar dan kaidah-kaidah mendasar.
Kehidupan sehari-hari seorang saudari muda yang masih sekolah boleh kita jadikan ilustrasi atas kedua jenis kehidupan oleh Roh itu. Di satu pihak, saudari ini hidup dan tinggal bersama keluarganya di rumah. Jika ia benar-benar memperhidupkan Kristus, ia akan memperlihatkan pekerti-pekerti Kristus kepada anggota-anggota keluarganya. Di pihak lain, ia perlu menjadi seorang pelajar yang wajar di sekolahnya dan memenuhi semua permintaan atau tuntutan yang dapat membawanya ke suatu tahap terakhir, yaitu lulus. Di rumah ia perlu hidup sebagai seorang anak perempuan dan saudari, tetapi di sekolah ia perlu hidup dan bertindak sebagai seorang pelajar atau murid yang normal. Ia perlu memiliki kehidupan umum di rumahnya bersama keluarganya dan ia pun perlu memiliki kehidupan yang lebih khusus di sekolah, yaitu yang sesuai dengan kaidah-kaidah dasar dan prinsip-prinsip mendasar.
Dalam ketiga pasal pertama Kitab Galatia kita nampak Kristus diwahyukan di dalam kita (1:15-16), Kristus hidup di dalam kita (2:20), dan Kristus dikenakan di atas kita (3:27). Jadi, Kristus adalah isi batin kita dan juga ekspresi lahir kita. Selain itu, kita semua adalah “anak-anak Allah melalui iman di dalam Yesus Kristus” (3:26), dan Roh Anak Allah telah diutus ke dalam hati kita (4:6). Terpujilah Tuhan karena kita sekarang adalah anak-anak Allah! Selaku anak-anak Allah kita perlu suatu kehidupan dan perilaku oleh Roh itu untuk mengekspresikan segala pekerti-Nya. Kita juga perlu kehidupan dan perilaku oleh Roh jenis yang lain, yakni kehidupan menurut kaidah atau prinsip tertentu, yang membawa kita kepada sasaran penggenapan kehendak Allah. Jika kita memiliki kehidupan oleh Roh jenis kedua ini, kita akan tidak hanya menjadi anak-anak Allah, tetapi juga menjadi satu ciptaan baru dan Israel milik Allah. Kita perlu memperhidupkan ciptaan baru dan menjadi Israel milik Allah yang baru. Untuk memperhidupkan suatu ciptaan baru dan hidup sebagai Israel Allah, kita perlu memiliki kehidupan jenis kedua. Kita perlu hidup secara teratur sesuai dengan prinsip-prinsip mendasar dari ekonomi Allah.
Dalam pasal 4 kita nampak bahwa kita adalah anak-anak Allah dengan memiliki Roh Putra Allah di dalam hati kita. Dalam pasal 5 kita nampak bahwa kita memerlukan dua macam kehidupan oleh Roh, yang satu adalah kehidupan umum untuk mengekspresikan Kristus, dan yang lain ialah kehidupan yang bertujuan untuk mencapai sasaran tertentu. Kehidupan jenis kedua ini menyusun kita orang-orang yang memperhidupkan suatu ciptaan baru dan yang menjadi Israel milik Allah. Untuk memperhidupkan suatu ciptaan baru dan hidup sebagai Israel milik Allah, kita perlu hidup secara demikian, yaitu memelihara semua prinsip dasar dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
PRINSIP-PRINSIP CIPTAAN BARU
Menurut 6:15-16, kehidupan oleh Roh jenis kedua sangat erat hubungannya dengan ciptaan baru. Ayat 15 menyatakan, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Ayat 16 selanjutnya membicarakan tentang hidup oleh “patokan ini”. Di sini, patokan adalah kaidah ciptaan baru. Ciptaan baru ini sama dengan Israel milik Allah yang juga disebut dalam ayat 16.
Para penganut agama Yahudi selalu memegahkan diri dalam hal bersunat. Menurut 6:13, mereka menghendaki kaum beriman Galatia bersunat pula, agar mereka dapat bermegah dalam daging orang-orang Galatia. Sebagai satu perbuatan yang dilakukan dalam daging, maka bersunat sepenuhnya berkaitan dengan ciptaan lama. Sekalipun seseorang telah mengenakan tanda sunat pada tubuhnya, ia tetap adalah bagian dari ciptaan lama. Entah seseorang bersunat pada dagingnya atau tidak, ia adalah bagian dari ciptaan lama. Orang Yahudi yang bersunat dan orang kafir yang tidak bersunat, semuanya berada dalam ciptaan lama. Dalam pandangan Allah, bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya. Allah menghendaki satu ciptaan baru. Ciptaan lama adalah manusia lama kita di dalam Adam (Ef. 4:22), manusia alamiah kita sejak lahir, yang tanpa hayat dan sifat ilahi Allah. Ciptaan baru adalah manusia baru kita di dalam Kristus (Ef. 4:24), manusia batiniah kita yang telah dilahirkan kembali oleh Roh itu (Yoh. 3:6), yang memiliki hayat dan sifat ilahi digarapkan ke dalamnya (Yoh. 3:26; 2Ptr. 1:4), dengan Kristus sebagai unsur penyusunnya (Kol. 3:10-11).
Perbedaan antara ciptaan lama dengan ciptaan baru ialah: dalam ciptaan lama Allah tidak ditambahkan ke dalam manusia, tetapi dalam ciptaan baru Allah telah disalurkan ke dalam umat pilihan-Nya. Tidak peduli bagaimana baiknya Adam sebelum kejatuhan, Allah belum ditambahkan ke dalamnya. Memang Adam itu baik, namun ia tidak memiliki unsur ilahi dalam batinnya. Ia hanya ciptaan lama, yaitu ciptaan yang tanpa unsur Allah.
Kita boleh mengibaratkan ciptaan lama ini seperti segelas air putih dan ciptaan baru seperti segelas air teh. Air teh terbuat dari campuran daun teh dengan air putih. Memang air dalam gelas itu mungkin saja air yang murni, tetapi di dalamnya tidak ada unsur teh. Ini mengilustrasikan fakta bahwa sekalipun ciptaan lama itu murni, di dalamnya tetap tidak ada unsur Allah. Hanya setelah unsur Allah tertambah ke dalam ciptaan-Nya dan berbaur dengannya, barulah ciptaan ini menjadi ciptaan baru. Karena Allah, “teh” surgawi, telah ditambahkan ke dalam kita, maka kita bukan lagi air putih ciptaan lama, melainkan “air teh” ciptaan baru. Boleh dikatakan, kita telah “diubah menjadi teh”. Dengan ungkapan lain, kita boleh mengatakan bahwa kita telah “diubah menjadi Allah”. Allah telah tertambah ke dalam kita untuk berbaur dengan kita dan meresapi kita, dan karenanya menjadikan kita manusia-Allah. Kedambaan Allah bukan hanya memiliki seorang manusia yang baik atau yang murni, kehendak-Nya adalah memiliki seorang manusia-Allah.
Sebagai orang Kristen, jika kita cuma hidup menurut hukum Taurat atau menurut standar etika, kita akan hidup tanpa Allah. Dalam kehidupan kita, Allah tidak akan berbaur dengan kita atau meresapi kita. Kendatipun kita bisa mengasihi orang lain, kasih itu adalah kasih yang berada dalam ciptaan lama. Tetapi, jika kita telah menerima terang, kita akan nampak bahwa sebagai orang Kristen kita harus hidup dan bertindak oleh prinsip dasar ciptaan baru. Prinsip dasar ini adalah berbaurnya Allah dengan kita. Jika kita mengasihi orang lain menurut prinsip ini, bukan hanya menurut etika, maka Allah akan mengasihi dalam kasih kita. Kita akan mengasihi orang lain bersama Allah.
Ketaatan seorang saudari yang dinyatakan terhadap suaminya mungkin berasal dari ciptaan lama dan mungkin juga dari ciptaan baru. Di satu pihak, dalam ketaatannya mungkin sama sekali tidak ada sesuatu yang berbaur dengan Allah. Ketaatan semacam itu mungkin hanya berdasarkan standar kebudayaan tertentu. Dalam suatu kebudayaan, wanita diajar untuk taat. Tetapi ketaatan itu adalah dari ciptaan lama. Dengan ilustrasi air dan teh tadi dapat kita katakan bahwa ketaatan itu tidak lebih dari segelas air putih saja, di dalamnya tidak ada unsur teh sedikit pun. Betapa besar perbedaannya dengan ketaatan seorang saudari yang hidup menurut prinsip dasar ciptaan baru, yakni prinsip perbauran Allah dengan manusia! Kepatuhan semacam ini benar-benar adalah ekspresi Kristus. Ini bukan hanya air putih, melainkan air yang berbaur dengan teh. Dalam kasus ketaatan yang berada dalam ciptaan lama, maka saudari itu hidup menurut prinsip atau kaidah tertentu yang diserap dari kebudayaannya. Tetapi dalam kasus ketaatan dalam ciptaan baru, ia hidup menurut prinsip dasar ciptaan baru. Dengan hidup secara demikian, ia memperhidupkan ciptaan baru. Kehidupannya tidak hanya menurut prinsip etika, tetapi juga menurut prinsip ciptaan baru, yaitu prinsip bahwa manusia harus hidup dengan hayat ilahi. Karena itu, memperhidupkan ciptaan baru berarti hidup oleh hayat dan sifat ilahi sebagai suatu prinsip pengendali.
KEHIDUPAN YANG RAHASIA
Hidup dengan prinsip ciptaan baru adalah satu perkara yang rahasia, dan tidak banyak orang Kristen yang sudah melihatnya; sebab hal ini merupakan suatu perkara organik yang mutlak berkaitan dengan hayat. Hayat itu rahasia dan abstrak. Kita dapat melihat kulit seseorang, tetapi tidak dapat melihat hayatnya.
Dalam hidup dengan prinsip ciptaan baru, kita mengalami Kristus jauh lebih banyak daripada dalam kehidupan jenis pertama. Ketika kita memiliki kehidupan ini, kita tidak saja sebagai ciptaan baru dalam posisi dan sifatnya, tetapi juga dalam praktek sehari-harinya. Ciptaan baru akan menjadi sangat riil dalam kehidupan sehari-hari kita.
Seperti telah kita tunjukkan, prinsip dasar ciptaan baru ialah seorang manusia yang menempuh kehidupan ilahi. Kehidupan dan perilaku kita sehari-hari wajib diatur oleh prinsip ini, yakni prinsip hidup dengan hayat ilahi. Semakin kita hidup dengan prinsip ini, kita akan semakin menjadi ciptaan baru secara riil. Kemudian orang lain akan menyadari bahwa dalam kehidupan kita ada sesuatu yang lebih luhur daripada etika. Mereka sukar merumuskan unsur yang rahasia itu, sebab sebenarnya itu adalah Persona Kristus yang ajaib, yang hidup di dalam kita. Semua orang yang mengasihi Tuhan Yesus haruslah menjadi rahasia dalam pandangan orang lain. Orang tua yang belum beroleh selamat harus dapat berkata tentang anak perempuan mereka demikian: “Betapa ajaibnya dia! Tetapi kami tidak dapat menggambarkan dengan tepat orang macam apakah dia. Ia dapat menanggung apa yang tidak dapat kami tanggung, dan menempuh kehidupan yang tidak dapat kami tempuh.” Itulah ciptaan baru. Orang-orang yang tidak percaya tidak memiliki konsepsi ciptaan baru, tetapi sebagai kaum beriman, kita perlu memperhidupkan ciptaan baru ini.
ISRAEL MILIK ALLAH MEWAKILI ALLAH
Jika kita memperhidupkan ciptaan baru, kita akan menjadi Israel milik Allah. Menurut Kitab Kejadian, Yakub, si pemegang tumit, si pemeras, telah diubah menjadi Israel, pangeran Allah dan pemenang. Selaku pangeran dan pemenang, ia dapat mengalahkan semua perkara yang negatif. Hari ini kita perlu menjadi Israel semacam ini, yakni pangeran yang menjalankan pemerintahan Allah di bumi. Jika kita memiliki kehidupan jenis kedua oleh Roh itu, satu kehidupan yang teratur menurut maksud kekal Allah, kita akan menjadi satu ciptaan baru secara riil, dan kita juga akan menjadi Israel milik Allah yang mewakili Allah, yang melaksanakan kekuasaan-Nya, dan melaksanakan pemerintahan-Nya di bumi bagi penggenapan kehendak-Nya. Akhirnya, Israel milik Allah ini akan menjadi Yerusalem Baru.
Israel baru milik Allah harus menjadi satu ciptaan baru. Untuk ini kita perlu diri Allah sendiri tergarap ke dalam kita, meresapi kita, dan memanunggalkan kita dengan Dia. Kemudian kita perlu menempuh suatu kehidupan yang berbaur. Dengan menempuh kehidupan ciptaan baru yang berbaur ini, kita akan menjadi Israel milik Allah di bumi hari ini, menjadi pangeran-pangeran-Nya dan pemenang-pemenang yang menjalankan wewenang-Nya dan mewakili pemerintahan-Nya. Israel milik Allah hari ini adalah miniatur Yerusalem Baru yang akan datang, yang menjadi kesempurnaan terakhir dari ciptaan baru dan Israel milik Allah. Semoga kita semua nampak hal ini dan hidup menurut hal ini!