← Daftar isi Galatia · bab 17/22

HIDUP OLEH ROH UNTUK MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab:

Gal. 1:13-15a, 16a; 2:19-20; 3:2, 5, 26-27; 4:6, 19, 29; 5:16, 18, 22-23; 6:18

Dalam Kitab Galatia, kedua ekonomi Allah, ekonomi-Nya dalam Perjanjian Lama dan ekonomi-Nya dalam Perjanjian Baru, dibahas dengan sempurna. Mengenai masing-masing ekonomi ini, Alkitab menggunakan istilah yang khusus. Istilah untuk ekonomi Allah dalam Perjanjian Lama adalah hukum Taurat, sedang istilah untuk ekonomi Allah dalam Perjanjian Baru adalah Kristus. Manakah yang lebih Anda sukai, hukum Taurat atau Kristus? Berbeda dengan orang-orang Yahudi, yang menyukai hukum Taurat, kita semua yang percaya kepada Kristus akan berkata bahwa kita lebih menyukai Kristus daripada hukum Taurat. Ya, di satu pihak, kita mengasihi Kristus, tetapi di pihak lain, mungkin kita masih merangkul hukum Taurat. Dalam pengalaman yang riil, boleh jadi kita lebih merangkul hukum Taurat daripada Kristus.

KASIH YANG TERSEMBUNYI

TERHADAP HUKUM TAURAT

Kebanyakkan orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan mempunyai hati untuk menuntut-Nya mempunyai suatu kasih yang tersembunyi terhadap hukum Taurat. Ketika beberapa orang mendengar kata-kata semacam ini, mungkin mereka akan membantah dan berkata, “Kami tidak mau hukum Taurat. Kami mengasihi Kristus dan hanya mau Dia.” Itu hanya keadaan yang di luar, tetapi di dalam lubuk batin, tanpa sadar, kebanyakkan orang Kristen masih mangasihi hukum Taurat. Sekalipun mungkin mereka tidak menyadari hal ini, namun ada beberapa jenis hukum yang tersembunyi dalam batin mereka, ibarat kanker yang tumbuh pada organ-organ vital dalam tubuh seseorang. Orang ini dari luar kelihatannya sehat-sehat, namun sesungguhnya ia mengidap suatu penyakit yang serius di dalam dirinya. Bila dilakukan pembedahan, barulah tingkat penyakit itu diketahui. Boleh jadi kita adalah orang Kristen yang mengasihi Tuhan dan menuntut Dia; akan tetapi, mungkin kita tidak sadar bahwa kita masih memelihara hukum yang tersembunyi di dalam kita.

Tidak banyak orang Kristen yang mempunyai kehidupan dan tindakan sehari-hari yang menurut Kristus. Dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda telah hidup dan bertindak menurut Kristus hari ini? Mungkin sewaktu kita berdoa, kita hidup dan bertindak menurut Kristus, tetapi setelah kita berdoa, mungkin kita hidup dan berperilaku menurut sesuatu yang bukan Kristus. Kapan saja kita tidak hidup menurut Kristus, kita akan hidup menurut hukum Taurat. Inilah alasan saya mengatakan bahwa meskipun kita mengasihi Kristus, kita masih mempertahankan hukum Taurat.

Keadaan kita serupa dengan keadaan Abraham, yang di samping mengasihi Sara, istrinya, juga hidup bersama Hagar, seorang gundik yang melambangkan hukum Taurat. Dalam Galatia 4:24-25 Paulus menyamakan Hagar dengan Gunung Sinai, tempat hukum Taurat itu diberikan. Dalam perlambangan, Hagar, yang adalah hamba perempuan itu menunjukkan hukum Taurat. Sesungguhnya Hagar, hukum Taurat, ada di dalam kita, dan kita mengasihinya. Hukum ini mungkin bukan hukum Taurat Musa, tetapi adalah sejenis hukum buatan kita sendiri.

Sebagai orang-orang Kristen yang menuntut, mungkin kita setiap hari hidup menurut hukum yang tersembunyi di dalam kita, tidak menurut Kristus. Sebagai contoh, misalnya seorang saudari dirundung banyak perkara yang menjengkelkan, namun ia tidak marah-marah. Perilakunya sangat baik. Akan tetapi, kita perlu bertanya mengapa ia tidak marah-marah. Apakah karena ia hidup menurut Kristus, atau karena ia hidup menurut kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tertentu? Contoh lainnya, andaikata seorang saudara, setiap kali ia tergoda untuk berdusta, ia segera melatih dirinya untuk berbicara dengan jujur. Tetapi, mengapa ia berbicara dengan jujur dan tidak berdusta? Apakah ia berbicara dengan jujur itu menurut Kristus, atau menurut semacam kaidah atau peraturan-peraturan? Dengan kata lain, dalam hal berbicara dengan jujur, apakah ia hidup menurut Kristus atau menurut hukum Taurat? Sangat mungkin dalam perkara-perkara seperti ini ia tidak hidup menurut Kristus, melainkan menurut hukum Taurat.

EMPAT JENIS HUKUM

Dalam pengalaman saya, saya telah mempelajari bahwa orang-orang Kristen mudah hidup menurut bermacam-macam hukum, tanpa menurut Kristus. Mungkin kita hidup menurut pengajaran etika yang telah kita serap dari kebudayaan kita, atau menurut prinsip-prinsip Alkitab yang telah kita pelajari melalui pendalaman Alkitab. Selain itu, boleh jadi kita hidup menurut hukum-hukum buatan kita sendiri. Betapa mudahnya kita membuat hukum-hukum untuk diri kita sendiri! Sekalipun gampang sekali kita membuat hukum, tetapi sulitlah kita mengubahnya. Selain hidup menurut pengajaran etika, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum buatan kita sendiri, kita juga mungkin hidup menurut apa yang disebut “hukum taurat hayat batini”. Ketika kita hidup berdasarkan hukum ini, mungkin kita akan berikhtiar menanggulangi daging atau menyangkal diri sendiri tanpa bersandarkan Kristus. Kita mungkin tidak hidup menurut Kristus, tetapi hidup menurut keempat jenis hukum berikut ini: hukum etika sosial, prinsip-prinsip etika Alkitab, hukum-hukum buatan sendiri, dan hukum taurat hayat batini.

Baru-baru ini saya diterangi oleh Tuhan dan juga ditegur oleh-Nya, karena setiap hari sebenarnya saya sangat sedikit memperhidupkan Kristus. Saya harus mengaku kepada Tuhan bahwa hanya sebagian kecil dari waktu saya setiap hari yang saya gunakan untuk memperhidupkan Kristus. Kebanyakan dari waktu-waktu saya, secara tidak sadar dan dengan otomatis saya hidup menurut etika, beberapa jenis hukum, atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang telah saya bina. Dalam kehidupan dan tindakan saya setiap hari saya tidak mengambil Kristus sebagai unsur susunan saya satu-satunya, malah saya mengambil etika, prinsip-prinsip, hukum-hukum buatan sendiri, dan bahkan hukum taurat hayat batini itu sebagai unsur susunan saya. Akibatnya, banyak waktu saya gunakan untuk hidup dengan etika-etika alamiah, etika-etika Alkitab, hukum-hukum buatan sendiri, atau hukum taurat hayat batini, tanpa menurut Kristus.

Untuk hidup oleh keempat jenis hukum itu, kita tidak perlu berdoa, beriman kepada Kristus, atau bersandar kepada-Nya. Sikap kita mungkin: Tuhan boleh duduk di atas takhta di surga, tetapi kita tidak memerlukan Dia untuk menolong kita hidup di bumi. Mungkin kita mengira bahwa diri kita sendiri mampu hidup secara wajar. Tanpa Kristus dan tanpa Roh itu, kita dapat menjadi orang yang berbudi luhur dan menjadi orang yang “rohani”. Bahkan tanpa Kristus, kita berhasil “memikul salib” dan “menyalibkan” diri kita sendiri. Akan tetapi, ketika kita melakukan semua itu, kita tidak hidup menurut Kristus, melainkan menurut hukum-hukum tertentu, seperti yang telah saya sebutkan tadi.

KITA TIDAK MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Sebelum Anda beroleh selamat, mungkin Anda jarang sekali menaruh perhatian terhadap hukum-hukum buatan Anda sendiri. Tetapi setelah Anda beroleh selamat, dan ter-utama setelah Anda mulai menuntut Tuhan dalam kehidup-an gereja, hukum-hukum buatan Anda mulai menimbulkan pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan Anda setiap hari. Anda dapat berkata dengan jujur bahwa Anda mengasihi Tuhan dan menuntut Dia, namun dapatkah Anda dengan jujur mengatakan bahwa Anda setiap hari memperhidupkan Kristus? Anda tidak memperhidupkan Kristus, malahan mungkin memperhidupkan hukum Anda itu. Bila Anda melanggar salah satu hukum buatan Anda sendiri, Anda lalu bertobat dan mengaku dosa kepada Tuhan. Pernahkah Anda bertobat dan mengaku dosa karena tidak memperhidupkan Kristus? Saya tidak yakin ada banyak orang Kristen yang membuat pengakuan semacam ini.

Pada bulan-bulan belakangan ini, pengakuan dosa saya kepada Tuhan terutama bertalian dengan kegagalan-kegagalan saya dalam memperhidupkan Kristus. Mungkin pada pagi hari saya mempunyai waktu yang baik sekali untuk berdoa dan menikmati Tuhan. Selama berdoa, saya menjadi satu roh dengan Tuhan dan memperhidupkan Dia. Tetapi setelah saya datang ke meja makan dan mulai makan pagi, saya sama sekali melupakan perkara tentang Kristus dan memperhidupkan Dia. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saya menyadari apa yang telah terjadi dan saya kembali lagi kepada Kristus seraya berkata, “Oh, Tuhan, ampunilah aku. Tuhan, aku ingin menjadi satu roh dengan-Mu.” Untuk beberapa menit, kembali saya bersama-sama lagi dengan Tuhan. Akan tetapi, tak lama lagi saya diduduki kembali oleh sesuatu yang lain dan melupakan-Nya lagi. Bukankah pengalaman Anda juga demikian? Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita memperhidupkan Kristus, malahan kita memperhidupkan hukum-hukum, kebudayaan, agama, dan tradisi-tradisi kita.

Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Galatia membahas dua ekonomi Allah. Ekonomi-Nya yang pertama, ekonomi dalam Perjanjian Lama, berhubungan dengan hu-kum Taurat, mencakup aturan atau hukum-hukum etika kita dan hukum Taurat pemberian Allah. Setelah seseorang dilahirkan kembali, ia masih hidup menurut hukum-hukum etika yang telah ia serap dari kebudayaannya. Sungguh sangat sedikit (itu pun kalau ada) orang yang memperhidupkan Kristus. Sekalipun kita menuntut Tuhan, kita masih saja memperhidupkan hukum-hukum kebudayaan kita, dan dengan demikian dalam pengalaman kita yang se-sungguhnya, kita mempertahankan diri kita di dalam ekonomi Allah yang pertama.

PERALIHAN EKONOMI

Ekonomi Allah yang kedua, yakni ekonomi Perjanjian Baru-Nya sepenuhnya berhubungan dengan Kristus. Sebelum Paulus bertobat dan percaya Tuhan, ia sepenuhnya berada di dalam ekonomi Allah yang pertama. Dalam Galatia 1:14 Paulus memberi tahu kita bahwa di dalam agama Yahudi “aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” Ia begitu giat untuk agama Yahudi, sehingga ia memutuskan untuk menganiaya semua orang yang hidup dalam ekonomi Allah yang kedua. Karena alasan inilah, ia “tanpa batas menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya” (1:13). Kita semua hafal dengan fakta kisah ketika Paulus berada dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan turun tangan dan mewahyukan diri-Nya kepada Paulus, membuatnya tersungkur di tanah. Paulus mengalami suatu perubahan sejati, suatu peralihan yang riil dari ekonomi Allah yang lama, dari hukum Taurat, kepada ekonomi-Nya yang baru, Kristus. Dalam Galatia 1:15-16, ia mengisahkan peralihan itu, ia memberi tahu kita bahwa Allah berkenan “menyatakan Anak-Nya di dalam aku.”

Kristus tidak saja diwahyukan kepada Paulus, tetapi juga ke dalam diri Paulus. Sewaktu Paulus sebagai seorang pemimpin agama, “terbaik dan terkenal” dalam agama Yahudi, Anak Allah masuk ke dalamnya. Inilah alasan Paulus dalam 1:16 mengatakan bahwa Anak Allah telah diwahyukan di dalam dia, bukan sekadar kepada dia. Karena Paulus mempunyai wahyu yang demikian atas Kristus, maka ia dapat bersaksi kepada kaum beriman: Kaum beriman yang terkasih, aku ingin memberi tahu kalian bahwa aku memikili Persona Anak Allah yang hidup dalam batinku. Persona ini sama sekali tak dapat dibandingkan dengan hukum Taurat. Taurat memang bagus, tetapi masih berada di bawah Persona yang hidup ini. Selama bertahun-tahun, aku berusaha memelihara hukum Taurat. Tetapi pada suatu hari, Persona Anak Allah yang hidup ini telah diwahyukan ke dalamku. Betapa menakjubkan! Betapa ajaibnya! Bahkan sekarang, sewaktu aku menyurati kalian, Persona yang hidup ini bersatu denganku. Ketika aku menulis, Ia pun menulis, sebab Ia menulis di dalam tulisanku.”

Apa yang kita nampak dalam Kitab Galatia 1 adalah suatu peralihan ekonomi, suatu perpindahan dari ekonomi yang lama kepada ekonomi yang baru, yaitu ekonomi Perjanjian Lama digantikan oleh ekonomi Perjanjian Baru. Peralihan ini bukanlah satu masalah teori, filsafat, atau kebudayaan, melainkan satu peralihan yang nyata yang berhubungan dengan ekonomi Allah. Dahulu Paulus mutlak hidup untuk ekonomi Perjanjian Lama Allah. Tetapi, setelah Kristus diwahyukan ke dalamnya, ia seluruhnya berada dalam ekonomi Allah yang baru.

MATI TERHADAP HUKUM TAURAT

Dalam Galatia 2:19 Paulus mengatakan, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah.” Paulus ingin agar orang-orang Galatia mengerti bahwa ia telah mati terhadap hukum Taurat. Tidak peduli betapa baiknya hukum Taurat itu, Paulus telah mati terhadapnya, dan tidak mempunyai sangkut paut apa-apa lagi dengannya. Kematian telah memisahkan dia dari hukum Taurat. Hal inilah yang memungkinkan dia hidup bagi Allah.

SATU HAYAT DAN SATU KEHIDUPAN

Dalam 2:19b-20 Paulus berkata lebih lanjut, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Tl.). Di sini kita nampak bahwa Kristus yang telah diwahyukan ke dalam Paulus sekarang hidup di dalamnya. Keduanya, Kristus dan Paulus, mempunyai satu hayat dan satu kehidupan.

Keesaan hayat dan kehidupan ini dapat diilustrasikan dengan okulasi ranting sebuah pohon ke pohon lain. Pohon itu dan ranting yang telah diokulasikan ke pohon itu bersama-sama menikmati satu hayat dan satu kehidupan. Paulus dan Kristus menempuh kehidupan okulasi yang menakjubkan seperti itu. Yang kita bicarakan di sini bukanlah suatu pergantian hayat, pergantian hayat insani dengan hayat ilahi, melainkan suatu hayat okulasi, okulasi hayat insani ke dalam hayat ilahi. Di dalam hayat okulasi ini kita dan Kristus adalah satu. Alangkah menakjubkan! Tidak ada kata-kata yang memadai untuk menggambarkannya. Hayat okulasi ini adalah hayat dan kehidupan yang sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

MENERIMA ROH ITU

Dalam 3:2 Paulus bertanya kepada kaum beriman di Galatia, “Apakah kamu telah menerima Roh karena kelakukan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman?” (Tl.). Dalam pasal 1 Paulus mengatakan perihal Putra Allah diwahyukan ke dalamnya, dan dalam pasal 2, Kristus hidup di dalamnya. Tetapi sekarang ia tiba-tiba mengubah istilahnya dan ditujukan kepada menerima Roh itu. Ini menunjukkan bahwa Putra Allah yang telah diwahyukan di dalam kita dan Kristus yang hidup di dalam kita adalah Roh itu yang telah kita terima melalui mendengarkan tentang iman. Janganlah mempunyai anggapan yang keliru bahwa Anak Allah, Kristus, terpisah dari Roh itu. Menurut teologi Trinitas yang tradisional, Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Persona yang terpisah. Ketika kita mengajarkan menurut Alkitab bahwa Kristus adalah Roh itu, kita telah dipersalahkan dan dituduh sebagai bidah.

Kita tidak bisa menerangkan Tritunggal ini dengan secukupnya secara doktrinal. Tetapi dari pengalaman kita tahu bahwa Putra Allah adalah Kristus dan Kristus adalah Roh itu. Kapan saja kita berseru, “Tuhan Yesus,” maka Persona yang kita terima adalah Roh itu. Fakta bahwa Roh itu datang bila kita menyeru nama Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Kristus dan Roh itu adalah satu. Karena alasan inilah, bila kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita akan menerima Roh itu. Ini membuktikan bahwa Roh itu adalah Persona Yesus Kristus. Sama seperti bila kita menyeru nama seseorang, maka yang menjawab adalah orang itu, bukan namanya. Demikian pula bila kita menyeru nama Tuhan Yesus, Roh itu akan datang. Dari pengalaman kita tahu bahwa ketika kita berseru, “O Tuhan Yesus,” tidak pernah terjadi sekali pun hanya Yesus yang menjawab dan Roh itu tidak memberikan respon. Tanpa kecuali, setiap kali kita menyeru nama Tuhan Yesus, Roh itulah yang akan datang.

Galatia 1 dan 2 mengisahkan wahyu dan membicarakan tentang Putra Allah diwahyukan ke dalam kita serta Kristus hidup di dalam kita. Tetapi bila kita kembali kepada pengalaman, seperti yang terlihat dalam 3:2, kita menyadari bahwa Persona yang kita terima adalah Roh itu. Roh itu adalah Persona Kristus, Putra Allah.

Menerima Roh itu tidaklah terjadi sekali untuk selamanya. Ibarat bernafas, menerima Roh itu adalah perkara seumur hidup. Inilah alasannya dalam 3:5 Paulus menggunakan kala kini (present tense): “Jadi, bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan (menyuplaikan) Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu mendengarkan tentang iman?” (Tl.). Di sini Paulus tidak mengatakan Allah telah menyuplaikan Roh itu atau Ia akan menyuplaikan Roh itu; melainkan Allah sedang menyuplaikan Roh itu. Karena Allah terus-menerus menyuplaikan Roh itu, kita perlu terus-menerus menerima Roh itu.

DIBAPTIS KE DALAM KRISTUS

Galatia 3:27 mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” Betapa menakjubkan! Di satu pihak, Kristus telah diwahyukan ke dalam kita dan sekarang Ia hidup di dalam kita; di pihak lain, Kristus telah dikenakan ke atas diri kita. Kita mempunyai Kristus baik di dalam maupun di luar. Ia adalah inti kita juga keliling kita, bagian dalam dan bagian luar kita. Di dalam, kita mempunyai Kristus; di luar, kita juga mempunyai Kristus. Kristus adalah isi batin kita juga ekspresi luar kita. Kristus yang kita alami sedemikian ini adalah Roh itu.

DILAHIRKAN DARI ROH ITU

UNTUK MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

Dalam pasal 4 kita nampak bahwa Kristus telah menebus kita sehingga kita boleh menerima hak keputraan (ayat 5). Tidak hanya demikian, karena kita adalah anak-anak, “maka Allah telah menyuruh Roh Putra-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Ya Abba, Ya Bapa!” (ayat 6). Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa kita menjadi anak-anak Allah melalui suatu proses keterkandungan dan kelahiran. Roh itu masuk ke dalam kita tidak seperti air yang dituang ke dalam sebuah botol, me-lainkan melalui dikandung dan dilahirkan secara riil. Kita benar-benar telah dilahirkan dari Roh itu. Roh itu masuk ke dalam kita melalui suatu proses pengandungan ilahi yang mendatangkan suatu kelahiran yang menakjubkan. Melalui proses pengandungan dan kelahiran tersebut, Roh itu tergarap ke dalam diri kita secara organik. Perpaduan organik ini terjadi di batin kita sewaktu kita dilahirkan kembali. Sekarang kita benar-benar mendapatkan Roh itu secara organik dan subyektif.

Karena kita telah dipersatukan dengan Roh itu secara organik, maka sekarang kita tidak berdaya memisahkan Roh itu dari roh kita. Sebagai contoh, setelah makanan yang kita makan dicerna dan berasimilasi secara metabolis, maka makanan-makanan itu tidak bisa dipisahkan lagi dari diri kita. Demikian pula, karena sekarang Roh itu telah masuk ke dalam kita secara organik, maka Ia tidak dapat dipisahkan lagi dari kita atau sebaliknya. Puji Tuhan karena Roh keputraan itu telah masuk ke dalam kita dan kita telah dilahirkan dari Roh itu menjadi anak-anak Allah!

KRISTUS TERBENTUK DI DALAM KITA

Sebagai anak-anak Allah, kita sekarang memerlukan Kristus terbentuk di dalam kita (4:19). Supaya Kristus terbentuk di dalam kita, kita perlu melupakan hukum-hukum buatan kita sendiri dan membiarkan Kristus sepenuhnya menduduki kita. Semakin Kristus menduduki batin kita, Dia semakin terbentuk di dalam kita.

BUAH ROH ITU

Dalam pasal 5 Paulus meminta kita untuk hidup oleh Roh. Dalam ayat 16 ia berkata, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Hidup oleh Roh di sini sebenarnya berarti memperhidupkan Kristus, bergerak, bertindak, serta berperilaku menurut Roh yang berhuni dalam batin itu. Alasan kita untuk tidak marah-marah atau tidak melampiaskan nafsu dalam hiburan-hiburan duniawi seharusnya adalah karena kita hidup menurut Roh itu. Demikian juga, ketika kita tenang atau gembira, maka alasan ketenangan atau kegembiraan kita haruslah karena kita hidup menurut Roh itu.

Jika kita memperhidupkan Kristus sedemikian, dengan spontan, kita akan mempunyai suatu kehidupan yang menghasilkan buah Roh itu (5:22-23). Setelah menyebutkan bermacam-macam aspek buah Roh itu, Paulus berkata bahwa tidak ada hukum yang menentang “hal-hal itu”. Penggunaan ungkapan “hal-hal itu” oleh Paulus menunjukkan bahwa buah Roh itu tidak terbatas pada butir-butir yang disebutkan dalam ayat 22-23 saja. Semua butir yang disebutkan oleh Paulus merupakan pekerti-pekerti Kristus yang terekspresi dalam berbagai aspek. Pekerti-pekerti itu bukan pekerjaan, semuanya itu adalah buah. Kebencian adalah perbuatan daging, sedangkan kasih adalah buah Roh, yang merupakan hasil spontan dari memperhidupkan Kristus. Sebuah pohon menghasilkan buah bukan karena perbuatan. Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon adalah hasil dari hayat yang ada dalam pohon itu. Demikian juga, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, dan semua aspek lain buah Roh itu bukan hasil dari perbuatan atau pekerjaan kita; semua itu adalah berbagai aspek dari buah rohani yang unik yang diproduksi dari Kristus yang berhuni di batin kita dan yang kita perhidupkan keluar.

HIDUP MENURUT ROH ITU UNTUK

MENGEKSPRESIKAN KRISTUS

Atas setiap perkara kecil dalam kehidupan kita seharihari, kita perlu hidup oleh Roh. Sebagai contoh, jika seorang saudara ingin memotong rambutnya, tidak seharusnyalah ia memotongnya menurut model atau standar tertentu, melainkan harus menurut Roh itu. Dalam hal memotong rambut sekalipun, ia harus mempunyai persekutuan dengan Roh itu. Demikian pula, para saudari perlu berpakaian menurut Roh itu, tidak menurut cara tertentu yang dipraktekkan dalam gereja-gereja lokal. Menyerupai pola berpakaian yang lazim dipakai oleh orang-orang dalam gereja-gereja lokal boleh jadi merupakan suatu kebiasaan atau praktek yang baik, namun itu bukan hayat. Jika para saudari berpakaian menurut kebiasaan tertentu, hasilnya bukanlah hayat. Tetapi jika mereka berpakaian oleh dan menurut Roh itu, akibatnya pastilah hayat.

Hidup oleh Roh membuat setiap aspek dalam kehidupan dan perilaku kita setiap hari bersesuaian dengan Roh itu, mutlak adalah perkara hayat. Ini bukan masalah kebiasaan, adat istiadat, atau penyesuaian terhadap peraturan tertentu. Dari sudut pandang manusia, menyesuaikan diri dengan standar atau praktek tertentu adalah hal yang baik, sebab hal itu akan memperbaiki tingkah laku seseorang. Hal itu akan menjadikan orang yang kasar dan tegar menjadi ramah dan taat. Meskipun perubahan-perubahan lahir-iah semacam itu kelihatan baik, namun itu tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus atau Roh itu. Yang Allah inginkan bukanlah kita sesuai dengan adat atau kebiasaan-kebiasaan tertentu, sekalipun penyesuaian itu sangat baik di mata manusia. Allah menghendaki kita memperhidupkan Kristus, Kristus yang telah diwujudkan sebagai Roh itu. Ekonomi Perjanjian Baru Allah sepenuhnya adalah perkara hidup oleh Roh demi memperhidupkan Kristus. Kehidupan dan perilaku oleh Roh jenis yang pertama yang diwahyukan dalam Kitab Galatia adalah suatu kehidupan dan perilaku memperhidupkan Kristus, mengekspresikan pelbagai aspek dari buah Roh itu. Kehidupan sehari-hari kita sebagai orang-orang Kristen seharusnya adalah suatu kehidupan yang hidup oleh Roh, untuk memperhidupkan Kristus melalui mengekspresikan Dia berikut segala pekerti-Nya yang unggul.