← Daftar isi Galatia · bab 16/22

HIDUP OLEH ROH ITU SEBAGAI ESENS HAYAT KITA DAN SEBAGAI JALAN SETAPAK BAGI JALAN KITA

Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16, 18, 22-25

Kitab Kolose dan Galatia adalah dua kitab dalam Perjanjian Baru yang mewahyukan Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu kita. Kolose menanggulangi kebudayaan, sedang Galatia, menanggulangi hukum Taurat yang diberikan melalui Musa dan agama yang dibentuk menurut hukum Taurat. Baik kebudayaan yang diciptakan oleh manusia maupun hukum Taurat yang diberikan oleh Allah telah diperalat oleh Iblis untuk menghalang-halangi umat pilihan Allah dari mengalami Kristus dan menikmati-Nya. Kehendak Allah adalah menyalurkan diri-Nya sebagai Allah Tri-tunggal, Bapa, Putra, dan Roh itu ke dalam diri kita sehingga Dia dan kita menjadi satu secara organik. Jika kita dengan Allah Tritunggal menjadi satu secara organik, Ia akan menjadi hayat kita, dan kita akan menjadi kehidupan-Nya. Jadi, pokok tujuan Allah dalam alam semesta ada-lah menyalurkan diri-Nya ke dalam umat-Nya, sehingga mereka bisa mempunyai satu hayat dan satu kehidupan bersama-Nya. Karena Iblis memperalat kebudayaan dan hukum Taurat untuk menghalang-halangi kita dari mengalami Roh itu sebagai perwujudan terakhir dari Allah Tritunggal, maka Kitab Kolose dan Galatia sangatlah penting.

PUTRA ALLAH BERLAWANAN DENGAN

AGAMA DAN TRADISI

Kitab Galatia disusun dengan cara yang sangat istimewa. Dalam pasal satu kita nampak bahwa Putra Allah berlawanan dengan agama yang dibentuk dan didirikan menurut hukum Taurat yang diberikan oleh Allah. Dalam 1:16 Paulus menunjukkan bahwa Putra Allah telah diwahyukan di dalam kita. Putra Allah tidak saja suatu obyek kepercayaan yang di luar kita, tetapi Ia adalah Persona yang telah diwahyukan kepada kita secara subyektif dan telah menjadi satu dengan kita. Putra Allah yang terkasih yang telah diwahyukan di dalam kita dan yang sekarang esa dengan kita itu berlawanan dengan agama dan segala tradisinya. Maksud Allah ialah agar agama dan tradisi tersingkir sehingga hanya Putra Allahlah yang tertinggal.

Akan tetapi, agama Yahudi serta kekristenan hari ini telah penuh dengan agama dan tradisi. Tidak banyak kadar Putra Allah yang dapat terlihat baik di kalangan Katolik maupun dalam denominasi-denominasi. Kita masih dikelilingi oleh agama dan tradisi. Saya tidak yakin bahwa dalam pemulihan Tuhan, agama dan segala tradisinya telah tersingkir sepenuhnya dari kita. Janganlah mengira karena Anda telah berada di dalam kehidupan gereja sejangka waktu maka Anda tidak lagi mempunyai agama atau tradisi, melainkan hanya Kristus, Putra Allah. Saya tidak dapat menjamin bahwa hanya Kristuslah yang ada di dalam kita dan kita telah terlepas sama sekali dari semua agama dan tradisi.

Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan transfigurasi Tuhan Yesus di atas gunung, Petrus mengajukan saran yang bodoh, yaitu ingin mendirikan tiga kemah, satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia. Tiba-tiba ada suara dari langit menyatakan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” (Mat. 17:5). Dan ketika mereka mengangkat kepala, “Mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri” (ayat 8). Pengalaman mereka di puncak gunung transfigurasi menggambarkan apa yang dikatakan Paulus dalam Galatia 1. Sebagaimana Musa dan Elia harus digantikan oleh Kristus, Putra Allah yang terkasih; maka agama dan tradisi harus dikesampingkan, dan hanya Putra Allah yang harus tetap tinggal.

Karena agama mendarah daging dalam diri kita, maka agama sangat sulit dibuang. Mungkin saja kita berada di bawah pengaruh tradisi ketika kita berdoa. Sebagai contoh, boleh jadi kita menganggap bahwa cara yang terbaik untuk berdoa adalah dengan berlutut, bukan duduk di kursi. Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengatakan posisi berdoa yang baik? Adanya perasaan bahwa berdoa dengan berlutut lebih baik daripada duduk mungkin berasal dari tradisi. Di antara orang-orang yang beragama tertentu, ketika mereka sembahyang biasanya mereka bersujud. Sewaktu mengunjungi Yerusalem, saya mengamati orang-orang itu sembahyang secara demikian. Dalam batin saya meragukan: Apakah mereka sungguh-sungguh menyembah Allah, atau hanya melakukan upacara agama mereka secara agamis dan tradisional. Meskipun Tuhan Yesus dan rasul Paulus berdoa sambil berlutut, namun Tuhan tidak mengharuskan kita berlutut ketika berdoa ataupun bersujud di hadapan Allah Bapa ketika kita menyembah-Nya. Tuhan tidak memberikan perintah semacam itu. Tetapi dalam Yohanes 4:24 Ia mengatakan bahwa Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh. Perkataan ini dikatakan-Nya kepada perempuan Samaria di pinggir sebuah sumur. Tuhan Yesus menyuplaikan air hayat kepada perempuan itu, dan ia minum dari air hayat ini. Menurut konteks Yohanes 4, minum air hayat adalah menyembah Allah Bapa.

Sementara Tuhan Yesus berbincang-bincang dengan perempuan Samaria itu, imam-imam di Yerusalem menyembah Allah di Bait Suci. Di manakah penyembahan yang sejati sedang berlangsung di dalam bait atau di pinggir sumur? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat kita perlu memahami bahwa Persona yang berbicara dengan perempuan Samaria di pinggir sumur sebenarnya adalah Allah itu sendiri. Allah ada di sana bersama perempuan Samaria, bukan di dalam Bait di Yerusalem. Penyembahan yang dilakukan oleh imam-imam secara tertib dan teratur itu adalah sia-sia. Jika Anda berada di sana, apakah Anda akan menyembah Allah bersama para imam itu di Bait Suci atau bersama perempuan Samaria di dekat sumur? Jika kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita mungkin akan bersama para imam menyembah menurut tradisi.

Sekalipun bertahun-tahun kita mengatakan bahwa kita harus menyingkirkan tradisi, saya tidak yakin kita telah bebas dari tradisi itu. Dengan licik sekali tradisi merusak pengalaman kita terhadap Kristus dan kenikmatan kita atas Dia. Kita perlu melihat dari Galatia 1 bahwa tradisi harus dikesampingkan dan hanya Putra Allahlah yang harus terwahyukan di dalam kita. Putra Allah yang telah di wahyukan ini berlawanan dengan agama berikut segala tradisinya.

Dalam Galatia 1 kita nampak bahwa Putra Allah menggantikan agama berikut tradisinya. Sekarang dalam Galatia 2 kita nampak bahwa Kristus, Persona yang diurapi Allah ini menggantikan hukum Taurat. Dalam ayat 19 Paulus berkata bahwa ia telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya ia boleh hidup untuk Allah. Kemudian dalam ayat 19-20 ia melanjutkan perkataannya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Karena itu, menurut pasal 1, Putra Allah diwahyukan di dalam kita, dan menurut pasal 2, Kristus hidup di dalam kita.

ROH ITU

Dalam pasal 3 Paulus mulai membicarakan perihal Roh itu. Dalam ayat 2 ia bertanya kepada kaum beriman di Galatia, “Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman?” (Tl.). Dalam pasal 1 ada Putra Allah yang terwahyukan di dalam kita dan dalam pasal 2 Kristus hidup di dalam kita. Akan tetapi di sini, dalam pasal 3, Paulus menunjukkan bahwa Persona yang telah kita terima adalah Roh itu. Roh dalam pasal 3 adalah Putra Allah dalam pasal 1 dan Kristus dalam pasal 2. Tatkala Paulus menulis tentang wahyu dalam pasal 1 dan 2, ia membicarakan tentang Kristus. Tetapi ketika ia beralih kepada pengalaman kita dalam pasal 3 dan pasal-pasal berikutnya, ia menekankan Roh. Roh yang telah kita terima ini adalah totalitas dari berkat Injil yang dijanjikan Allah kepada Abraham (3:14).

Dalam 4:6 kita nampak bahwa kita tidak saja menerima Roh itu, bahkan Putra Allah itu telah masuk ke dalam kita. Menurut 4:29, kita adalah orang-orang yang telah dilahirkan menurut Roh. Roh itu telah masuk ke dalam kita, dan kita telah dilahirkan dari Dia. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki hayat-Nya dan sifat-Nya. Hayat dan sifat Allah bukan dituangkan ke dalam kita seperti air dituang ke dalam botol. Tidak, kita menerima hayat dan sifat Bapa melalui suatu proses keterkandungan dan kelahiran. Kita semua telah dilahirkan dari Allah melalui Roh itu. Sekarang karena kita telah menerima hayat dan sifat Allah, dalam pengertian yang sesungguhnya kita bersifat ilahi. Bagaimana mungkin seorang anak tidak memiliki hayat dan sifat ayahnya? Demikian pula, bagaimana mungkin anak-anak Allah tidak memiliki hayat dan sifat Allah? Akan tetapi, mengatakan kita telah menerima hayat dan sifat ilahi tidak berarti bahwa kita menjadi Tuhan atau disembah seperti Allah itu sendiri. Mengatakan kita menjadi Tuhan dan menjadi obyek penyembahan adalah penghujatan. Akan tetapi, bersaksi bahwa kita memiliki hayat dan sifat ilahi sama sekali bukan suatu penghujatan, karena kita telah dilahirkan dari Allah, dan sebagai hasilnya kita bersifat ilahi. Kita adalah anak-anak Allah dengan Roh itu berhuni di dalam kita secara subyektif.

DUA ESENS — DAGING DAN ROH ITU

Dalam pasal 5 kita mempunyai dua jenis hidup oleh Roh. Ayat 16 mengatakan, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Hidup di sini ditujukan kepada kehidupan sehari-hari kita yang umum yakni hidup dan berperilaku menurut Roh. Dalam ayat 25 Paulus membicarakan hidup jenis kedua, yaitu hidup yang menurut kaidah atau prinsip tertentu demi mencapai tujuan bagi perampungan kehendak Allah: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Dalam berita ini kita akan membicarakan kedua jenis hidup ini dan juga tentang hidup oleh Roh itu sebagai jalan setapak bagi jalan kita.

Dalam 5:16 dan 25, Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah Tritunggal telah melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan, menjadi Roh majemuk yang telah melalui proses, yang hidup di dalam kita. Sekarang, karena Roh yang sedemikian ini berhuni di dalam kita, maka kita harus menempuh kehidupan sehari-hari berdasarkan Roh ini. Ini berarti Roh itu harus menjadi esens kehidupan kita.

Saya merasa prihatin karena kebanyakan dari kita bukannya hidup oleh Roh, tidak hidup dalam esens hayat ilahi, malah hidup oleh daging, oleh esens hayat kita yang telah jatuh. Hidup oleh Roh itu berarti kita menerima Roh itu sebagai esens hayat kita. Sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita mempunyai dua esens: daging dan Roh itu. Sebelum kita beroleh selamat, kita melakukan segala sesuatu berdasarkan daging. Karena kita tersusun dari unsur daging, maka daging menjadi unsur kehidupan kita, penyusun kita. Tindakan daging boleh jadi berbeda-beda, tetapi esensnya sama. Sebagai contoh, seseorang mungkin memandang rendah orang tuanya dan orang lain mungkin menghormati orang tua, tetapi kedua tindakan atau perilaku itu adalah oleh daging jika daging menjadi esens kehidupan mereka. Pada suatu hari Roh yang almuhit, dengan esens hayat ilahi, masuk ke dalam kita. Mulai saat itu dan seterusnya kita akan mampu hidup menurut esens daging atau oleh esens Roh itu. Dalam Galatia 5 Paulus meminta kita untuk hidup oleh Roh yaitu menerima Roh itu sebagai esens dan penyusun kita. Kita tidak boleh hidup oleh daging, penyusun kita yang usang, melainkan oleh Roh itu, penyusun kita yang baru. Bila kita mengasihi, kita harus mengasihi oleh Roh itu, oleh esens yang baru. Demikian pula, ketika kita membenci sekalipun, kita harus melakukannya oleh Roh itu sebagai esens kita. Orang-orang Kristen tidak saja harus mengasihi, tetapi juga membenci. Kita tentu harus membenci Iblis, dosa, dan dunia. Tidak peduli kita mengasihi atau membenci, kita perlu hidup oleh Roh yang almuhit sebagai esens kita. Yang terpenting bukanlah perkara kita mengasihi atau membenci, atau kita congkak atau rendah hati, melainkan oleh esens apa kita mengasihi atau membenci, congkak atau rendah hati. Jika kita hidup oleh Roh sebagai esens kita, maka membenci perkara-perkara tertentu pun benar. Tetapi jika kita mengasihi dengan daging sebagai esens kita, Allah akan sangat tidak berkenan. Allah sama sekali tidak membenarkan daging. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak seharusnya kembali hidup oleh daging sebagai esens kita. Sebagai gantinya, kita harus menerima Roh itu sebagai esens kita dan melakukan segala sesuatu oleh Roh itu.

Dalam hidup oleh Roh jenis pertama, kita menerima Roh itu sebagai esens hayat kita. Kemudian, apa pun adanya kita, apa pun yang kita perbuat, dan apa pun yang kita punyai akan memiliki Roh itu sebagai esens kita. Ini berarti esens kita adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi unsur penyusun kita. Dengan demikian, secara riil daging akan disalibkan. Dalam kata-kata 5:24, mereka yang berasal dari Kristus Yesus telah menyalibkan daging dengan segala keinginan dan hawa nafsunya. Jika kita menerima Roh itu sebagai esens kita serta menyalibkan daging, segala aspek dalam kehidupan kita sehari-hari akan berdasarkan Roh itu.

ESENS DAN JALAN SETAPAK

Jenis hidup oleh Roh yang pertama adalah untuk jenis kedua, yaitu menerima Roh itu sebagai jalan setapak bagi jalan kita. Kita semua harus berjalan menurut jalan tertentu. Jalan setapak dari jalan ini haruslah Roh itu sendiri. Untuk hidup jenis pertama, Roh itu adalah esens kita; sedang untuk jenis kedua, Roh itu adalah jalan kita.

Galatia 5:25 mengatakan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Di sini Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Galatia, “Kalian tidak saja telah hidup oleh hukum Taurat, mengambilnya sebagai esens hayat kalian, bahkan tujuan kalian pun ditetapkan menurut hukum Taurat. Hukum Taurat telah menjadi jalan setapak bagi jalan kalian. Sekarang kalian tidak saja hidup di bawah hukum Taurat, tetapi kalian juga berjalan menurut hukum Taurat. Orang-orang Galatia yang terkasih, kalian harus kembali kepada Roh itu dan meninggalkan hukum Taurat di atas salib. Ambillah Roh itu sebagai esens kehidupan sehari-hari untuk menggantikan hukum Taurat. Jika kalian hidup oleh Roh itu sebagai esens kalian, kalian seharusnya juga mengambil Roh itu sebagai jalan setapak kalian untuk mencapai tujuan Allah. Menerima Roh itu sebagai esens dan jalan setapak kalian akan menyingkirkan hukum Taurat, doktrin, agama, tradisi, dan peraturan-peraturan. Tak satu pun dari perkara-perkara itu yang boleh menjadi jalan kalian untuk mencapai tujuan Allah. Jalan satu-satunya adalah Allah Tri-tunggal sebagai Roh pemberi hayat. Ia sendirilah yang harus menjadi prinsip, kaidah, jalan setapak, dan kalian harus hidup menurut-Nya.”

Pokok pikiran dalam 5:25 sangat dalam. Dengan mengutarakan perihal hidup oleh Roh itu sebagai kaidah atau prinsip, Paulus menyingkirkan hukum Taurat, agama, tradisi, doktrin, dan peraturan-peraturan sebagai kaidah. Prinsip pengendali, kaidah penuntun kehidupan kita haruslah Roh itu. Kita harus mengerjakan perkara-perkara tertentu dan tidak mengerjakan perkara-perkara lain bukan karena peraturan-peraturan, melainkan karena kita mengambil Roh itu sebagai esens kehidupan kita, yaitu esens insan baru kita. Jika Anda bertanya kepada saya mengapa saya tidak melakukan hal-hal tertentu, maka jawabannya adalah karena saya sedang hidup dengan mengambil Roh itu sebagai esens diri saya. Akan tetapi, bila saya menjawab bahwa saya tidak melakukan perkara tertentu karena hal itu memboroskan waktu atau karena hal itu merusak kesaksian Tuhan, maka jawaban saya itu akan terlalu agamis dan tradisional. Satu-satunya alasan kita dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah karena kita mengambil Roh itu sebagai esens kita dan dengan demikian kita memperhidupkan Kristus.

Ketika kita mempunyai hidup jenis pertama, yang mengambil Roh itu sebagai esens kita, kita akan bisa memiliki hidup jenis kedua untuk menuju ke sasaran Allah. Hari demi hari, Roh itu akan menjadi jalan setapak kita. Kemudian kita akan hidup menurut Roh itu, tidak lagi menurut doktrin, teologi, agama, tradisi, atau organisasi. Allah Tritunggal ajaib yang telah melalui proses itu akan menjadi jalan setapak kita, dan kita akan hidup di dalam Dia. Dengan hidup oleh Roh sebagai jalan kita, kita akan bisa mencapai sasaran serta memperoleh pahala, yakni Kristus itu sendiri.

Jika kita bersatu dengan Roh yang almuhit, sudah tentu Ia akan memimpin kita hidup di dalam diri-Nya sendiri sebagai jalan kita. Akibatnya, Roh itu akan menjadi kaidah, prinsip yang menuntun kepada sasaran Allah. Dengan spontan Roh itu menjadi jalan setapak, peraturan di atas jalan yang menuju sasaran Allah. Jadi, Roh yang almuhit itu menjadi jalan setapak bagi jalan kita. Jika kita berjalan sepanjang jalan setapak ini, pastilah kita akan mencapai sasaran Allah, dan kehendak-Nya akan bisa dirampungkan.

Kitab Galatia menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya hidup menurut hukum Taurat, agama, tradisi, organisasi, doktrin-doktrin, atau peraturan-peraturan. Sebagai gantinya, Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang hidup di dalam kita seharusnya menjadi esens insan baru kita dan sebagai jalan setapak bagi jalan kita. Kita harus hidup oleh Dia dan bertindak di dalam Dia, yakni memiliki kedua jenis hidup oleh Roh itu.