← Daftar isi Galatia · bab 15/22

HIDUP OLEH ROH DALAM KAIDAH DAN JEJAK ILAHI

Pembacaan Alkitab:

Gal. 5:25; 6:15-16; Rm. 4:12; Flp. 3:12-16

Pada berita yang lalu kita sudah menunjukkan bahwa ada dua jenis hidup oleh Roh. Jenis yang pertama ditujukan kepada kehidupan sehari-hari kita yang biasa. Jenis kedua ialah hidup dan perilaku di dalam suatu jalur atau dalam suatu barisan. Dalam berita ini kita akan membahas hidup jenis yang kedua secara lebih rinci, yaitu hidup oleh Roh dalam kaidah dan jejak ilahi.

Sebenarnya setiap orang mempunyai dua jenis “hidup” dalam kehidupan insaninya. Hidup jenis pertama adalah yang umum, yang sesuai dengan kehendak hatinya. Ini mencakup semua perkara biasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Hidup jenis kedua adalah hidup yang mengandung tujuan tertentu dan mengarah kepada suatu sasaran yang pasti. Sebagai contoh, seorang pemuda harus memperhatikan urusan-urusan yang biasa dalam kehidupannya. Ini adalah hidup jenis pertama. Namun, ia pun harus pergi ke sekolah dan belajar dengan harapan agar bisa lulus. Ini adalah hidup jenis kedua, yakni hidup yang mengarah kepada suatu sasaran.

DUA JENIS “HIDUP”

Menurut Alkitab, setiap orang beriman dalam Kristus seharusnya memiliki dua jenis hidup oleh Roh. Pertama ialah hidup dan perilaku sehari-hari kita; kedua ialah “hidup” dalam kaidah dan jejak ilahi. Selaku orang Kristen, kita bukan orang-orang yang hidup secara sembarangan di dunia tanpa suatu tujuan. Kita telah diciptakan Allah, juga diciptakan kembali dan dilahirkan kembali oleh-Nya dengan tujuan yang pasti. Karena itu, kita harus memiliki hidup jenis kedua untuk merampungkan kehendak Allah dan mencapai sasaran kehidupan kita di bumi ini.

Hidup jenis pertama ini diperlukan sebagai penunjang bagi hidup jenis kedua. Sebagai contoh, tidak ada seorang pelajar dapat berhasil di sekolah jika kehidupan sehari-harinya tidak normal. Ia tidak akan lulus kalau kehidupannya ceroboh atau ngawur. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak memiliki hidup jenis pertama sebagai pendukung hidup jenis kedua untuk menuju ke sasaran lulus. Hidup jenis kedua, yang berhubungan dengan terwujudnya tujuan kehidupan kita, haruslah ditunjang dengan hidup jenis pertama. Setiap manusia perlu memiliki dua jenis hidup. Pada jenis pertama, ia hidup dengan sekehendaknya, pada jenis kedua, ia mewujudkan tujuannya di bumi ini. Untuk mencapai tujuan kita di bumi, kita perlu memiliki hidup jenis kedua. Tetapi untuk mewujudkan hidup jenis kedua, kita perlu memiliki hidup jenis pertama. Jadi, yang pertama me-nunjang yang kedua, dan yang kedua adalah hidup yang menuju ke sasaran.

Dalam hidup oleh Roh jenis pertama, kita hidup, bertindak, dan berperilaku oleh Roh. Ini adalah penunjang bagi hidup oleh Roh jenis kedua, yaitu hidup yang mengarah kepada satu sasaran. Sebagai anak-anak Allah, kita bukan orang-orang yang tanpa tujuan. Kehidupan kita mempunyai satu tujuan yang pasti. Kita bukan sembarangan dan tanpa sasaran. Allah memiliki satu tujuan yang kekal, dan kehendak-Nya ialah agar umat-Nya hidup bagi kehendak-Nya. Allah menciptakan kita maupun melahirkan kita kembali adalah untuk mewujudkan kehendak-Nya. Karena Allah memiliki tujuan dan hendak mencapai sasaran-Nya, maka Ia menyuruh kita memiliki dua jenis hidup oleh Roh: jenis pertama adalah yang membina satu kehidupan sehari-hari yang normal, dan jenis kedua adalah yang sesuai dengan kaidah dan prinsip ilahi demi mencapai sasaran yang telah ditetapkan Allah.

Di antara orang-orang Kristen hari ini, kedua jenis hidup oleh Roh telah dirusak. Pertama-tama, kebanyakan orang Kristen tidak menempuh kehidupan kristiani yang normal. Mereka tidak memiliki kehidupan doa, tidak membaca Alkitab secara teratur, dan mereka tidak berkontak dengan Tuhan secara konsisten. Mereka tidak hidup oleh Roh, tetapi hidup oleh etika atau moral mereka. Mungkin mereka tidak mencuri atau berdusta, tetapi sekalipun mereka baik, jujur, dan setia, mereka tidak hidup oleh Roh; sebaliknya, mereka hidup oleh standar mereka sendiri. Ini berarti dalam praktek mereka yang sebenarnya, mereka hidup oleh daging dan ego. Mungkin mereka berhasil dalam menghindarkan diri dari kejahatan, tetapi mereka tidak memperhatikan Roh itu. Mereka memperhatikan cita rasa, pilihan, kesenangan, dan keinginan diri mereka sendiri.

Untuk memiliki satu kehidupan sebagai anak-anak Allah yang normal, perlulah kita memiliki jenis hidup oleh Roh yang pertama. Ini berarti kita tidak boleh hidup oleh perkara apa pun yang menggantikan Roh itu.

BERSERU KEPADA NAMA TUHAN YESUS

Kalau kita ingin memiliki hidup oleh Roh jenis pertama, kita perlu berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Dalam 1Tesalonika 5:17 Paulus menghendaki kita berdoa tanpa henti. Saya menemukan, tidak mungkin kita berdoa tanpa henti jika kita berdoa dengan cara formal, memohon bantuan dari Tuhan. Mungkin kita bisa berdoa demikian untuk waktu yang lama, tetapi tidak dapat tanpa henti. Akan tetapi, kita dapat berdoa tanpa henti hanya dengan berseru: “Tuhan Yesus, O, Tuhan Yesus.” Walaupun saya adalah orang tua, dan telah bertahun-tahun lamanya di dalam Tuhan, saya tetap belajar menyeru nama Tuhan secara terus-menerus. Dari pengalaman saya menemukan bahwa hal ini mudah sekali kita lupakan. Waktu bangun pagi saya mungkin mulai menyeru nama Tuhan, tetapi lewat beberapa menit, saya mungkin diganggu oleh suatu pikiran dan berhenti menyeru. Tiba-tiba, saya sadar bahwa pikiran saya sudah keluar, maka saya sekali lagi mulai berseru: “O, Tuhan Yesus.”

Doa adalah pernafasan rohani. Seperti kita semua ketahui, kita harus bernafas supaya kita tetap hidup. Di mana pun kita berada, kita boleh bernafas secara rohani melalui berseru kepada nama Tuhan. Sehari suntuk, tak peduli kita berbuat apa, kita dapat berkontak dengan Tuhan lewat menghirup nama-Nya. Ketika kita melakukan perkara-perkara rutin pada pagi hari, kita dapat berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kita mungkin menemukan, ketika kita menangani perkara-perkara yang riil, kita masih memiliki tiga puluh menit untuk menyeru nama Tuhan Yesus. Bila kita mempraktekkan hal ini, kita akan membina kebiasaan menyeru nama Tuhan. Ini merupakan bagian dari hidup jenis pertama, yaitu hidup yang di dalamnya kita menempuh kehidupan sehari-hari yang normal oleh Roh.

Jika kita tidak memiliki jenis hidup oleh Roh yang pertama, kita tidak layak untuk memiliki jenis yang kedua. Karena kebanyakan orang Kristen tidak memiliki kehidupan sehari-hari yang normal oleh Roh itu, maka mereka tidak diperlengkapi untuk memiliki hidup jenis kedua bagi penggenapan kehendak Allah. Untuk memiliki hidup jenis kedua ini, kita harus mempraktekkan hidup satu roh dengan Tuhan. Kita tidak boleh kendur, ceroboh, atau malas. Kita harus memiliki kehidupan sehari-hari yang normal melalui hidup dalam keesaan dengan Tuhan. Kita harus berdoa, membaca firman, berkontak dengan Tuhan, dan berperilaku wajar dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita semua perlu memiliki hidup oleh Roh jenis pertama.

HIDUP MENUJU SASARAN

Banyak orang Kristen yang memiliki kehidupan dan tindakan sehari-hari yang normal, namun mereka tidak memiliki hidup jenis kedua. Sasaran hidup kristiani mereka seolah-olah hanya ingin menjadi orang yang baik, ramah, dan wajar. Jika Anda bertanya kepada mereka, apa sasaran hidup kristiani mereka, mereka mungkin mengatakan bahwa sasaran mereka adalah menjadi orang Kristen yang baik untuk memuliakan Allah dan suatu hari pergi ke surga bertemu dengan Tuhan tanpa merasa malu. Kalau Anda bertanya kepada saya di tahun-tahun yang lampau tentang sasaran hidup Kristiani saya, saya pun akan menjawab bahwa sasaran saya ialah menjadi orang Kristen yang baik dan berperilaku wajar bagi kemuliaan Allah. Sekarang saya sadar, bahwa menurut Alkitab, Allah memiliki satu tujuan tertentu, dan Ia telah meletakkan satu sasaran tertentu di hadapan kita, yang harus kita capai. Selain ke-hendak dan sasaran-Nya, Ia pun telah menyediakan satu jalan. Jalan ini boleh kita ibaratkan seperti sebuah jalan raya yang membawa kita ke tujuan tertentu. Jalan Allah itulah jalur, kaidah, dan prinsip yang harus kita tempuh untuk mencapai sasaran. Terpujilah Allah, karena Ia memiliki tujuan! Ia mempunyai satu tujuan untuk dicapai dan satu sasaran untuk dipenuhi. Ia pun telah menentukan satu jalan yang akan membawa kita ke sasaran ini. Jalan ini adalah kaidah, prinsip, jalur yang harus kita tempuh. Sudah tentu, ini bukan hidup oleh Roh jenis pertama, melainkan jenis kedua, yakni hidup dalam jalur untuk mencapai sasaran Allah.

Istilah hidup jenis kedua ini dalam bahasa Yunani ialah stoicheo. Kata ini dipakai empat kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Galatia 5:25 Paulus berkata, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh itu.” Paulus juga memakai istilah ini dalam 6:16, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Di sini kita melihat Paulus menghubungkan hidup jenis kedua dengan “patokan ini”, yakni patokan (kaidah) untuk menjadi ciptaan baru. Dalam Filipi 3:16 Paulus juga menghubungkan hidup jenis kedua dengan masalah kaidah atau jalan “Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai, kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Kalimat “kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh” dalam bahasa aslinya adalah “hidup menurut kaidah yang sama”. Dalam Roma 4:12 Paulus mengaitkan hidup jenis ini dengan jejak: “Dan juga menjadi bapak orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapak leluhur kita, pada masa ia belum disunat.” Penggunaan istilah jejak oleh Paulus ini jelas menyiratkan sebuah jalan. Mengikuti jejak Abraham berarti hidup menurut jalan tertentu.

HIDUP OLEH ROH SEBAGAI KAIDAH

Jika kita melihat Galatia 5:25 dalam terang ayat-ayat lain di mana istilah Yunani stoicheo itu dipakai untuk “hidup”, kita akan nampak bahwa hidup oleh Roh adalah hidup oleh roh sebagai kaidah (patokan). Roh itu sendiri adalah jalan, kaidah, jalur, prinsip, yang membawa kita kepada sasaran Allah. Roh itu sendiri seharusnya menjadi kaidah kita. Jika kita ingin memiliki jenis kedua, kita harus menerima Roh itu sebagai kaidah kita, jalan kita. Ini boleh dii-baratkan seperti mengendarai kendaraan di jalan raya untuk mencapai suatu tujuan; hal ini berbeda dengan hanya berputar-putar di jalan, tanpa tujuan. Bila kita mengenda-rai kendaraan di jalan raya, maka jalur-jalur pada jalan itu adalah kaidah. Jika kita mengendarai kendaraan menurut kaidah ini, pasti akan mencapai tujuan kita.

Dalam kehidupan dan tindakan kristiani kita, hidup oleh Roh jenis kedua ini adalah satu kehidupan yang memi-liki Roh itu sebagai kaidah. Kaidah kita tidak seharusnya suatu doktrin atau teologi, juga tidak seharusnya hukum Taurat. Maksud Paulus dalam menulis surat kepada orang-orang Galatia ialah menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak seharusnya menerima hukum Taurat sebagai kaidah mereka lagi. Kaum beriman Galatia telah diselewengkan dari Roh itu kepada hukum Taurat dan menerima hukum Taurat sebagai kaidah. Paulus memberi tahu mereka bahwa mereka bodoh dan mereka harus beralih kepada Roh itu sebagai kaidah mereka. Karena mereka memiliki hayat dan hidup oleh Roh, maka mereka harus hidup oleh Roh sebagai kaidah mereka. Jika kita ingin memiliki hidup jenis kedua bagi penggenapan kehendak Allah, pertama-tama kita harus belajar hidup oleh Roh sebagai jalan, kaidah, prinsip, dan jalur kita.

Setelah Perang Dunia II, keinginan saya ialah menetap di China Utara. Tetapi saya perlu pindah ke selatan terlebih dulu dan kemudian ke Taiwan. Walaupun keinginan saya ialah pergi ke utara, tetapi Tuhan memimpin saya ke selatan. Akhirnya saya dipimpin Roh itu datang ke Amerika Serikat dan tinggal di sini. Bagi saya hidup oleh Roh yang sedemikian ini adalah satu pengalaman yang riil dari hidup jenis kedua, yakni hidup untuk mencapai sasaran Allah. Untuk menggenapkan kehendak Allah dan mencapai sasaran-Nya, kita perlu menerima Roh itu sebagai jalan raya kita. Karena saya yakin bahwa saya menerima Roh itu sebagai jalan raya saya, maka saya dapat menjadi perkasa dan berani.

Saya menganjuri semua orang saleh untuk memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua. Anda perlu berdoa, “Tuhan, aku ingin mengikuti Engkau untuk memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua bagi penggenapan kehendak-Mu. Aku tidak mau hidup oleh doktrin, teologi, organisasi, atau konsepsi alamiah. Aku ingin hidup oleh Roh sebagai satu-satunya jalan rayaku.”

Menurut Galatia 5:25, karena kita telah mendapatkan hayat dan hidup oleh Roh, maka kita sekarang harus memiliki hidup oleh Roh jenis yang kedua sebagai kaidah kita. Kita telah mendapatkan hayat oleh Roh agar kita hidup oleh Roh, untuk merampungkan kehendak Allah. Betapa mulianya sasaran yang ada di hadapan kita! Jalan raya yang membawa kita ke sasaran ini adalah Roh itu, ekspresi terakhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Ketika kita berjalan di atas jalan raya yang unik ini, kita tidak boleh keluar dari rel atau berubah haluan, melainkan harus maju langsung sasaran.

HIDUP OLEH CIPTAAN BARU

Dalam 6:16 Paulus berkata, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka, dan atas Israel milik Allah.” Patokan di sini adalah ciptaan baru yang disebut dalam ayat sebelumnya: “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya.” Dalam hidup oleh Roh jenis yang kedua, kita harus hidup oleh ciptaan baru. Ciptaan baru mengacu kepada manusia yang diciptakan kembali oleh Allah. Ciptaan pertama adalah untuk ciptaan baru, yakni ciptaan kembali Allah. Puji Tuhan, ketika kita dilahirkan kembali, kita pun diciptakan kembali! Dalam kelahiran kembali Allah ditambahkan kepada kita. Pada waktu kita dilahirkan kembali, kita menerima Allah Tritunggal ke dalam diri kita. Saya dapat bersaksi bahwa adanya Allah Tritunggal di dalam saya bukan hanya suatu doktrin atau agama, melainkan suatu realitas yang mulia. Haleluya, Allah Tri-tunggal telah tergarap ke dalam kita! Sebagai akibatnya, kita adalah ciptaan baru Allah.

Walaupun Allah telah menjadikan kita suatu ciptaan baru, kita masih mungkin hidup dan bertindak dalam ciptaan lama. Orang-orang Galatia justru hidup dan bertindak dalam ciptaan lama dalam hal berusaha memelihara hukum Taurat oleh daging. Paulus mencoba mengembalikan mereka kepada Kristus dan Roh itu. Dia menyuruh mereka untuk tidak lagi hidup dan bertindak dalam ciptaan lama, tetapi hidup dan bertindak dalam roh mereka. Hidup dan bertindak dalam Roh adalah hidup dan bertindak dalam ciptaan baru. Jika kita ingin memiliki hidup jenis kedua, kita harus hidup oleh Roh, oleh ciptaan baru.

Ketika saya melayani, sering saya takut dan gentar kalau-kalau saya telah bertindak dalam diri sendiri. Jika saya bertindak menurut diri sendiri atau melakukan sesuatu oleh daging, pastilah saya berada di dalam ciptaan lama. Bahkan ketika saya berbicara bagi Tuhan, saya pun takut kalau-kalau saya mengatakan sesuatu dari diri sendiri atau oleh diri sendiri. Kedambaan saya ialah perkataan saya berasal dari Roh itu. Berbicara dari Roh itu berarti berada di dalam ciptaan baru.

Ketika kita menempuh perjalanan di atas jalan raya Roh itu, harus berhati-hati agar tidak melakukan apa-apa berdasarkan diri kita sendiri. Janganlah kita mengendarai “mobil” kita dengan ciptaan lama, tetapi dengan roh yang telah dilahirkan kembali. Ini berarti kita harus mengendarai “mobil” dengan ciptaan baru. Bergairah terhadap agama atau tidak, itu tidaklah berarti, hanya satu yang berarti, yakni ciptaan baru.

Dalam pemulihan Tuhan kita tidak ingin melakukan apa pun oleh ciptaan lama. Keinginan kita ialah melakukan segala perkara dengan rahmat dan anugerah Tuhan dalam ciptaan baru. Ini berarti kita tidak melakukan sesuatu dengan manusia lama, melainkan dengan manusia baru.

Akhir-akhir ini, dalam beberapa sidang kita telah membahas kesulitan yang disebabkan oleh opini. Bila kita meninggalkan Tuhan, kita hanya menjadi suatu susunan opini belaka. Kalau kita hidup oleh Roh sebagai jalan raya, tetapi tetap mempertahankan opini-opini kita, itu menunjukkan bahwa kita mengendarai “mobil” dengan diri kita sendiri. Opini kita itu licik, terselubung, dan tersembunyi. Kita sering tergoda untuk menyatakan opini kita mengenai gereja. Tetapi jika kita mempertahankan opini kita, kita akan menimbulkan kesulitan. Jika kita belajar mengendarai “mobil” dalam ciptaan baru, niscaya kita akan takut mengutarakan opini-opini kita itu.

Mengatakan bahwa ciptaan baru adalah kaidah yang olehnya kita harus hidup tidaklah berarti bahwa hal itu merupakan sebuah jalan raya yang berlainan dengan Roh itu sebagai kaidah kita. Sebaliknya, justru itu berarti hidup dan bertindak di atas jalan raya yang unik dengan cara yang lebih khusus, terbatas, dan terikat. Roh itu merupakan jalan raya secara umum, sedang ciptaan baru adalah jalur dalam cara yang lebih khusus.

MENUNTUT KRISTUS

DAN MENDAPATKAN KRISTUS

Dalam Filipi 3:16 Paulus berkata, “Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Menurut konteks pasal ini, jalan (kaidah) dalam ayat 16 adalah menuntut Kristus yang disebutkan dalam ayat 12. Karena Paulus ingin memperoleh Kristus lebih banyak, maka ia menuntut Kristus. Jadi hidup menurut jalan yang telah kita tempuh (hidup menurut kaidah yang sama) berarti hidup menurut kaidah menuntut Kristus. Kaidah ini bahkan lebih sempit daripada Roh itu dan ciptaan baru. Paulus tidak menuntut keberhasilan dalam pekerjaannya, melainkan menuntut Kristus. Jika kita hanya menuntut keberhasilan dalam pekerjaan kita, kita akan menyimpang dari jalan raya.

Kita tahu bahwa Paulus menulis Kitab Filipi dari sebuah penjara di Roma. Selaku tahanan, walaupun Paulus telah kehilangan banyak perkara, namun tidak seorang pun dapat merampas Kristus dari dia. Pada waktu ia berada dalam penjara, ia tetap menuntut Kristus agar dapat memperoleh Dia lebih banyak. Dalam Filipi 3:14 ia berkata, “aku berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Ia adalah seorang yang melupakan segala perkara yang di belakang dan meregangkan diri kepada perkara-perkara yang di depan (ayat 13). Kerinduan Paulus adalah mencapai sasaran dan meraih pahala. Karenanya, kaidah dalam Filipi 3:16 adalah kaidah menuntut Kristus demi memperoleh Dia. Untuk memiliki hidup jenis kedua, kita tidak saja perlu hidup oleh Roh dan oleh ciptaan baru, tetapi juga oleh kaidah menuntut Kristus dan memperoleh Dia. Itulah kaidah, prinsip, dan jalur yang harus kita tempuh. Itulah hidup jenis kedua untuk mencapai sasaran sehingga kita dapat meraih pahala.

MEMPRAKTEKKAN KEHIDUPAN GEREJA

Jika kita membaca tulisan-tulisan Paulus dengan teliti, kita masih akan menemukan satu kaidah lain yang harus kita tempuh. Kaidah ini ialah kehidupan gereja, kehidupan Tubuh, seperti diwahyukan dalam Roma 12:1-5 dan Efesus 4:1-16. Jadi, hidup jenis kedua ialah oleh Roh itu, dengan ciptaan baru, dengan menuntut dan mendapatkan Kristus dan dengan mempraktekkan satu jalur yang harus kita tempuh. Ini adalah satu kaidah, satu prinsip, yang memimpin kita kepada sasaran Allah.

Hari ini banyak orang Kristen yang sekalipun telah memiliki hidup oleh Roh jenis pertama, namun tidak menempuh kehidupan gereja. Karena mereka tidak memiliki hidup oleh Roh jenis kedua, maka mereka tidak mampu merampungkan kehendak Allah atau mencapai sasaran-Nya.

Kita semua perlu memiliki hidup oleh Roh jenis pertama. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus ada pekertipekerti, buah-buah Roh seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:22-23: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Suatu kehidupan dan tindakan sehari-hari yang oleh Roh itu akan melayakkan kita dan memperlengkapi kita untuk hidup oleh Roh jenis kedua, yang dapat merampungkan tujuan Allah. Hidup jenis kedua ini mengandung empat kaidah atau prinsip: Roh itu, ciptaan baru, mendapatkan Kristus, dan kehidupan gereja. Untuk memiliki hidup jenis kedua dan bukan hanya jenis pertama, kita perlu berada di bawah pengaturan roh, hidup oleh ciptaan baru, menuntut Kristus agar bisa mendapatkan Dia, serta mempraktekkan kehidupan gereja. Jika kita hanya memiliki hidup oleh Roh jenis pertama namun tidak memiliki jenis kedua, boleh jadi kita dianggap orang sebagai manusia yang “suci”, “rohani”, atau “pemenang”. Akan tetapi, sebenarnya kita adalah orang yang tidak bertujuan. Sekalipun kita mungkin memiliki apa yang disebut kekudusan, kerohanian, atau kemenangan, kita tetap tidak memiliki tujuan, sebab kita tidak memiliki hidup oleh Roh jenis kedua untuk mencapai sasaran. Kita perlu memiliki hidup jenis pertama untuk memperlengkapi kita, juga dengan jenis kedua untuk merampungkan tujuan Allah, sehingga kita boleh mencapai sasaran dan meraih pahala, yakni dengan penuh limpah menikmati Kristus dan mengalami Kristus.

BERJALAN MENURUT

JEJAK ABRAHAM DAN PAULUS

Di atas jalan raya Allah tidak saja terdapat jalur-jalur atau kaidah-kaidah, juga ada jejak-jejak. Kita telah melihat bahwa dalam Roma 4:12 Paulus mengatakan tentang hidup menurut (mengikuti) jejak iman Abraham. Untuk keselamatan, kita harus hidup menurut jejak Abraham. Tetapi untuk penggenapan tujuan kekal Allah, kita harus hidup menurut jejak Paulus. Paulus berkata bahwa dirinya telah dijadikan Allah sebagai satu contoh (1Tim. 1:16). Paulus adalah contoh untuk semua orang yang berlomba-lomba dalam perlombaan Perjanjian Baru. Karena itu kita perlu mengikuti jejaknya.

Saya ingin menekankan berulang-ulang bahwa hidup menurut kaidah dan jejak ini tidaklah berkaitan dengan kehidupan dan tindakan sehari-hari kita yang umum dan biasa, melainkan berkaitan dengan “hidup” kita yang spesifik dan khusus bagi perampungan tujuan Allah dan pencapaian sasaran-Nya. Sebagai orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus dan yang menuntut Dia, kita perlu memiliki kedua jenis hidup oleh Roh ini. Kita perlu memiliki kehidupan sehari-hari yang wajar untuk melayakkan, memperlengkapi, dan memperkuat kita bagi hidup jenis kedua demi mencapai sasaran Allah. Kedua jenis hidup ini adalah oleh Roh. Hanya oleh Rohlah baru kita dapat memiliki suatu kehidupan sehari-hari yang normal, dan hanya oleh Roh pula lah baru kita dapat menuju ke sasaran Allah. Tetapi, ketika kita mempratekkan hidup oleh Roh jenis kedua, kita perlu memperhatikan pula perihal ciptaan baru, mendapatkan Kristus, dan kehidupan gereja. Kemudian kita akan mencapai sasaran Allah dan mendapatkan pahala yang mulia, yakni dengan penuh limpah menikmati Kristus dan mengalami Kristus.