DUA JENIS HIDUP OLEH ROH
Pembacaan Alkitab:
Gal. 5:16, 22-23, 25; 6:15-16; 3:2-3, 5, 14; 4:6, 29;
Rm. 6:4; 8:4; 4:12; Flp. 3:16-18
Dalam berita ini kita akan mulai membahas masalah dua jenis hidup oleh Roh itu. Dalam 5:16 Paulus berkata, “Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Galatia 5:25 mengatakan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Dalam kedua ayat di atas, dalam bahasa aslinya kita nampak Paulus menggunakan dua istilah yang berbeda untuk mengungkapkan makna hidup dan hidup dipimpin.
HIDUP OLEH ROH ITU
Bertahun-tahun saya berusaha memahami Galatia 5:25, di mana pada satu pihak Paulus berkata tentang hidup oleh Roh, dan pada pihak lain ia mengatakan hidup dipimpin oleh Roh. Saya tidak mengerti perbedaan antara hidup dan hidup dipimpin. Bagi saya, hidup dipimpin itu mencakup hidup. Akhirnya saya baru nampak bahwa hidup oleh Roh berarti, pertama-tama mendapatkan hayat, kemudian menempuh hidup. Dilahirkan adalah perkara sekali untuk selamanya, tetapi mendapatkan hayat dan menempuh hidup bukan sekali untuk selamanya, melainkan perkara seumur hidup, sebab kita tidak henti-hentinya menerima hayat untuk hidup. Sebagai contoh, untuk tetap hidup kita perlu bernafas dari saat ke saat, tidak cukup hanya bernafas pada saat kita dilahirkan. Demikian pula, kita perlu menerima hayat dari saat ke saat untuk hidup. Jadi, hidup oleh Roh di sini berarti mendapatkan hayat dan kemudian menempuh hidup. Begitu kita mendapatkan hayat dan hidup, kita dapat berjalan, yakni menempuh hidup dengan cara tertentu.
HIDUP SECARA UMUM DAN
HIDUP DALAM BARISAN (PIMPINAN)
Ketika membahas kedua jenis hidup oleh Roh, maka (hiduplah) yang terdapat dalam 5:16 boleh kita sebut jenis pertama dan (hidup ... dipimpin) yang terdapat dalam 5:25 kita sebut jenis kedua. Kata “hidup” dalam ayat 16 dalam bahasa Yunani adalah peripateo, berarti bertingkah laku, mengatur cara hidup, berjalan dengan bebas. Kata ini dipakai sehubungan dengan kehidupan sehari-hari kita yang umum. Jadi ini ditujukan kepada tindakan kita yang umum dan biasa pada setiap hari. Pengertian hidup oleh Roh yang sedemikian dikuatkan oleh ayat 22 dan 23, di mana Paulus mengatakan tentang buah Roh itu. Berbagai aspek dari buah Roh itu yang disebut dalam ayat-ayat ini bukanlah perkara-perkara yang luar biasa, melainkan berbagai aspek dari kehidupan sehari-hari kita yang biasa. Karena itu, hidup dalam ayat 16 adalah kehidupan dan tindakan kita sehari-hari yang biasa dan umum.
Kata “hidup (dipimpin)” dalam ayat 25 dalam bahasa Yunaninya stoicheo mempunyai arti yang sangat berlainan. Istilah ini diambil dari sebuah akar kata yang berarti “diatur menjadi suatu barisan”. Ini dapat diumpamakan seperti gerakan lalu lintas pada jalur yang telah ditunjuk di jalan-jalan raya. Jadi, istilah hidup dalam bahasa Yunani di sini berarti berjalan dalam barisan, berbaris dalam barisan kemiliteran. Hidup dengan cara demikian, seperti halnya tentara berbaris, mengharuskan kita untuk mengatur langkah-langkah yang seirama.
Bila kita membandingkan kedua jenis hidup ini, kita tahu bahwa yang kedua lebih teratur daripada yang pertama. Pada pola hidup yang kedua, kita perlu bertindak seperti pasukan yang berbaris dengan langkah-langkah yang seirama, sedangkan pada pola hidup yang pertama, kita bertindak dengan bebas. Namun kedua jenis pola hidup ini, baik yang biasa atau yang teratur dalam sebuah barisan, semua adalah oleh Roh.
Istilah Yunani yang sama yang diterjemahkan “hidup” dalam 5:25 juga dipakai di tempat lain dalam Perjanjian Baru. (Dalam Roma 4:12 diterjemahkan sebagai “mengikuti”; LAI. Red). Dalam Roma 4:12 Paulus membicarakan tentang orang-orang yang “mengikuti jejak iman Abraham, bapak leluhur kita, pada masa ia belum disunat”. Di sini “mengikuti” bukan tindakan yang biasa, melainkan tindakan yang teratur, yakni berjalan dalam barisan yang tertentu. Dalam hal ini, hidup adalah mengikuti jejak “iman bapa kita Abraham”. Karena itu, mengikuti dalam Roma 4:12 bukan tindakan yang umum, dan biasa, melainkan yang tertentu dan khusus, yakni yang mengikuti jejak iman Abraham. Paulus berpendapat bahwa iman Abraham merupakan suatu barisan, dan kita harus berjalan dan mengikuti jejak Abraham.
Di tempat lain dalam Kitab Roma, Paulus menggunakan istilah ini untuk jenis pertama. Istilah ini dipakai Paulus dalam Roma 6:4, di mana Paulus berkata bahwa “Demikian juga kita akan hidup dalam kebaruan hayat” (Tl.). Dalam 8:4 Paulus berkata bahwa kita tidak hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Kata “hidup” dalam ayat-ayat ini adalah perilaku kaum beriman yang biasa dan umum.
Dalam Filipi 3:16 Paulus juga membicarakan “hidup” jenis kedua: “Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan (hidup) menurut jalan yang telah kita tempuh.” Di sini Paulus memakai istilah Yunani stoicheo untuk menunjukkan suatu tindakan yang seperti dalam barisan tentara. Tetapi dalam Filipi 3:17-18 Paulus memakai istilah Yunani untuk hidup dan tindakan jenis pertama yang ditujukan kepada tindakan yang umum dan biasa, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladan bagimu. Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Pemakaian dua istilah Yunani yang berbeda tentang hidup ini menunjukkan dengan jelas bahwa dalam Perjanjian Baru terdapat dua jenis hidup oleh Roh.
ROH MAJEMUK
Untuk memahami dengan lebih memadai tentang kedua jenis hidup oleh Roh ini, kita perlu melihat bahwa Kitab Galatia adalah sejilid kitab yang sangat berkaitan dengan Roh itu. Istilah “Roh itu” yang sederhana ini bermakna sangat dalam. Istilah ini tercantum dalam Yohanes 7:39, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh (itu) yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum Yesus dimuliakan “Roh itu belum ada”. Bertahun-tahun saya selalu sulit memahami hal ini. Saya heran, bagaimana mungkin Roh itu “belum ada”. Berdasarkan Kejadian 1:2, Roh Allah sudah ada, melayang-layang di atas permukaan air. Selain itu, dalam Perjanjian Lama kita pun berulang-ulang menjumpai bahwa Roh TUHAN atau Roh Yehova turun ke atas orang-orang tertentu. Bahkan ketika Tuhan Yesus hampir terkandung dalam rahim Maria, Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus akan turun ke atasnya (Luk. 1:35). Semuanya ini dengan jelas menunjukkan bahwa Roh Allah sudah ada sebelum Yohanes 7:39. Untuk memecahkan problem yang ditimbulkan ayat ini, para penerjemah versi King James menambahkan kata “diberikan” di belakang kata “belum ada”. Menurut pengertian mereka, penulis ayat ini mengatakan bahwa Roh itu belum diberikan. Namun, menurut penulisan Alkitab yang sebenarnya, bukan menurut penulisan yang telah diubah dalam penerjemahan, Yohanes 7:39 mengatakan bahwa Roh itu belum ada, sebab Yesus belum dimuliakan.
Dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus memakai ungkapan “Roh itu” beberapa kali, teristimewa dalam Kitab Galatia. Padahal, dalam Kitab Galatia Paulus tidak pernah sekali pun mengatakan tentang Roh Kudus, walaupun ia beberapa kali menyinggung “Roh itu”. Besar sekali perbedaan antara pemakaian istilah “Roh Kudus” dengan istilah “Roh itu”. Dalam Kejadian 1:2 Roh Allah diungkapkan sehubungan dengan penciptaan. Kemudian Roh TUHAN, atau Roh Yehova dipakai sehubungan dengan persekutuan antara Allah dengan umat-Nya. Istilah Roh Kudus baru dipakai dalam Perjanjian Baru. (Dipakainya istilah ini pada beberapa tempat dalam Perjanjian Lama versi King James dalam bahasa Ibrani seharusnya diterjemahkan “Roh kekudusan-Nya”). Roh Kudus baru ditampilkan sehubungan dengan di kandungnya Tuhan Yesus dalam rahim Maria, sebab kehendak Allah ialah melahirkan satu Persona yang kudus. Jadi, Roh Kudus ingin menghasilkan sesuatu yang kudus dari sifat insani. Ungkapan “Roh itu” dipakai untuk Roh Allah hanya setelah kebangkitan Kristus.
Dalam Perjanjian Lama minyak urapan kudus adalah lambang Roh itu. Minyak urapan ini merupakan sesuatu benda majemuk yang terdiri atas campuran minyak zaitun dengan empat jenis rempah-rempah (Kel. 30:22-33). Rempah-rempah ini melambangkan aspek kematian dan kebangkitan Kristus. Fakta bercampurnya keempat macam rempah-rempah dengan minyak zaitun menunjukkan bahwa sifat insani, kematian, dan kebangkitan Kristus telah berbaur ke dalam Roh Allah, sehingga menjadi Roh majemuk. Roh majemuk ini adalah Roh itu dalam Perjanjian Baru. Sebelum Tuhan Yesus dimuliakan, Roh majemuk semacam ini “belum ada”. Tetapi sesudah kebangkitan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya dibaurkan dengan Roh Allah sehingga menjadi Roh itu; Roh majemuk yang bukan hanya mengandung sifat ilahi, tetapi juga sifat insani, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Karena itu, setelah kebangkitan Tuhan Yesus, Roh Allah, Roh Yehova, Roh Kudus, kini adalah Roh itu, yakni Roh yang almuhit.
Pada masa Kejadian 1, Roh Allah tidak mengandung sifat insani, hanya mengandung sifat ilahi. Sampai kebangkitan Kristus dari antara orang mati, barulah Roh Allah menjadi Roh majemuk. Sekarang Roh itu mencakup sifat ilahi, sifat insani, khasiat kematian Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Alangkah kaya dan almuhitnya Roh itu hari ini!
PERAMPUNGAN SEMPURNA
ALLAH TRITUNGGAL
Roh itu sebagai Roh almuhit yang majemuk adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal. Allah kita itu Tri-tunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Setiap pelajar Alkitab yang cermat menyetujui bahwa ketiga Persona dari Trinitas boleh dianggap berbeda, namun kita tidak dapat mengatakan Mereka itu terpisah. Pernyataan semacam itu adalah bidah. Ketika Putra datang ke bumi, Ia tidak meninggalkan Bapa di surga. Sebaliknya, ketika Putra datang, Bapa juga datang beserta-Nya. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus berkata bahwa Putra datang dari dan beserta Bapa (Yoh. 6:46). Tatkala Ia datang dari Bapa, Ia datang bersama Bapa. Karena alasan inilah, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah sendirian, sebab Bapa selalu menyertai-Nya (Yoh. 8:29). Selain itu, dalam Injil Yohanes juga memberi tahu kita bahwa Putra akan mengutus Roh itu dari dan beserta Bapa (Yoh. 15:26). Kita tidak dapat memisahkan Putra dari Bapa, dan Roh itu dari Bapa dan Putra.
Jawaban Tuhan kepada permintaan Filipus tentang menunjukkan Bapa kepada mereka menerangkan hal ini. Filipus berkata kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Tuhan Yesus menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?” (ayat 9). Dalam ayat 16-17 Tuhan selanjutnya berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Perhatikanlah dalam ayat berikutnya Tuhan mengubah kata ganti-Nya, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa ketika Penghibur itu, Roh kebenaran, datang, Tuhan Yesus pun datang. Lagi pula, dalam ayat 23 Tuhan Yesus berkata bahwa Ia dan Bapa akan datang dan tinggal bersama orang-orang yang mengasihi dan menuruti firman-Nya. Dari ayat-ayat ini kita nampak bahwa ketiga Persona ke-Allahan itu senantiasa hidup bersama. Walau Mereka berbeda, Mereka tidak dapat dipisah-pisahkan.
Menurut Alkitab, Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Akhirnya, yang ketiga dari ke-Allahan ini terekspresi sebagai Roh itu. Inilah sebabnya dalam pengalaman kita, bila kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita menerima Roh itu. Ketika kita bertobat, percaya kepada Tuhan, dan berdoa kepada-Nya, kita tidak memohon agar Roh Kudus masuk ke dalam kita. Sebaliknya, kita berdoa agar Tuhan Yesus masuk. Namun, walaupun kita meminta Tuhan masuk, Persona yang masuk ke dalam kita sebenarnya adalah Roh itu. Ini tidak saja terjadi pada saat kita diselamatkan, dalam pengalaman sehari-hari kita akan Tuhan pun demikian. Bila kita berdoa kepada Bapa atau berseru kepada nama Tuhan Yesus, mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, akhirnya Persona yang kita alami menyertai dan berada dalam kita ialah Roh itu. Dari pengalaman kita tahu bahwa Roh ini, Roh almuhit yang majemuk ini adalah perampungan sempurna dari Allah Tritunggal.
ALLAH YANG TELAH MELALUI PROSES
Hari ini Allah kita benar-benar adalah Allah yang telah melalui proses. Dalam Perjanjian Lama tidak ada petunjuk bahwa Allah telah melalui proses. Proses ini dimulai pada saat inkarnasi Kristus dan dilanjutkan dalam sepanjang hidup-Nya sebagai manusia, penyaliban, dan kebangkitan-Nya. Ada sebagian orang Kristen menentang ungkapan “Allah yang telah melalui proses” dengan bantahan bahwa Allah itu kekal dan tidak pernah berubah. Ya, kita sepenuhnya percaya, menurut Alkitab, Allah memang kekal dan mutlak tidak berubah. Namun demikian sesuai dengan Alkitab, kita juga percaya dan mengajarkan bahwa Allah telah mengalami proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Allah tidak pernah berubah, tetapi Ia telah mengalami suatu proses. Sifat dan substansi Allah tidak pernah berubah, namun Ia telah melalui suatu proses. Menurut Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang ada pada mulanya bersama Allah dan yang adalah Allah itu telah menjadi daging. Penggunaan kata “menjadi” dalam Yohanes 1:14 menunjukkan suatu proses. Demikian pula, 1Korintus 15:45 mengatakan bahwa Adam yang terakhir telah menjadi Roh pemberi hayat. Ini merupakan petunjuk lain dari proses Allah.
Ada orang mungkin menentang kita karena memakai istilah “proses”, sebab istilah ini tidak terdapat dalam Alkitab. Akan tetapi, mereka juga seharusnya menentang penggunaan istilah “Tritunggal”, sebab dalam Alkitab juga tidak terdapat istilah Tritunggal. Tetapi Alkitab mewahyukan adanya fakta bahwa Allah itu tritunggal. Seprinsip dengan itu, walaupun dalam Alkitab tidak terdapat istilah “proses”, tetapi Alkitab mewahyukan adanya fakta bahwa Allah telah melalui suatu proses. Allah sendiri telah menjadi seorang manusia melalui inkarnasi dan hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian Ia telah disalibkan, turun ke dalam alam maut, keluar dari antara orang mati, dan masuk ke dalam kebangkitan. Lagi pula, Ia telah naik ke surga dengan tubuh yang berdaging dan bertulang yang telah dimuliakan. Bahkan sekarang Tuhan berada di takhta dengan tubuh yang demikian itu. Sebelum inkarnasi Kristus, apakah Tuhan di takhta di surga memiliki tubuh yang berdaging dan bertulang? Tentu tidak! Tetapi dalam alam kekekalan, Ia akan bertakhta dengan satu tubuh yang demikian. Bukankah fakta ini menunjukkan bahwa di dalam Kristus Allah telah melalui suatu proses? Haleluya, Allah kita hari ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses! Roh pemberi hayat yang almuhit ini adalah ekspresi terakhir dari Allah yang telah melalui proses.
MENERIMA ROH ITU
Dalam Kitab Galatia Paulus bertanya kepada kaum beriman di Galatia, apakah mereka telah menerima Roh itu karena melakukan hukum Taurat, atau karena mendengarkan tentang iman (Gal. 3:2). Dari nada pembicaraan Paulus ini kita tahu bahwa masalah menerima Roh itu adalah perkara yang sangat penting. Menerima Roh itu bukan perkara memiliki pengalaman berbahasa lidah. Menerima Roh itu berarti dilahirkan dari Roh itu (Yoh. 3:6). Keledai Bileam secara mujizat dapat berkata-kata seperti manusia, namun binatang itu tidak dilahirkan dari Roh itu. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa dilahirkan dari Roh itu jauh lebih besar daripada berbahasa lidah. Boleh jadi kita tidak pernah berbahasa lidah, tetapi kita dapat mendeklarasikan kepada alam semesta bahwa kita adalah anak-anak Allah, sebab kita telah dilahirkan dari Roh itu. Tidak hanya demikian, kita pun bukan anak-anak angkat, atau anak menantu; kita adalah anak-anak yang dilahirkan Allah dalam hayat. Kita yang telah dilahirkan dari Allah bersifat ilahi. Kita telah mengalami suatu kelahiran yang ilahi, dan kita memiliki hayat ilahi serta mengambil bagian dalam sifat ilahi (2Ptr. 1:4). Ini sudah tentu merupakan suatu mujizat yang paling besar dalam alam semesta. Sering kali bila saya merenungkan hal kelahiran ilahi ini, saya dipenuhi dengan rasa takjub dan sukacita hingga saya lupa diri. Alangkah ajaibnya bahwa kita adalah anak-anak Allah dan Allah Tritunggal berada di dalam kita sebagai Roh itu!
SATU ROH DENGAN TUHAN
Dalam Surat Kirimannya Paulus berpesan agar kita jangan hidup berdasarkan suatu doktrin atau petunjuk tertentu, melainkan oleh Roh itu. Akhir-akhir ini Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa Ia tidak menghendaki kita hanya hidup dalam penyertaan-Nya, tetapi memperhidupkan Kristus dengan menjadi satu roh dengan Tuhan. Beberapa tahun yang lampau saya beroleh bantuan dari buku terkenal karangan Lawrence yang berjudul, The Practice of the Presence of God (Praktek Penyertaan Allah). Ketika masih muda, saya sangat menyukai buku tersebut. Akan tetapi, lambat laun saya mengerti bahwa praktek beserta dengan Allah itu sebenarnya adalah praktek dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru tidak ada perkataan tentang praktek beserta dengan Allah. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru diwahyukan bahwa kita harus memperhidupkan Kristus melalui menjadi satu roh dengan Dia. Dalam Kejadian 17 tercatat bahwa Abraham hidup di hadapan Allah, yakni dalam penyertaan Allah. Tetapi, dalam Perjanjian Baru, dalam 1Korintus 6:17, Paulus berkata, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini lebih dari sekadar hidup di hadirat Allah, tetapi hidup di dalam kesatuan dengan Dia. Perkataan Paulus tentang bersatunya kita menjadi satu roh dengan Tuhan bukanlah sebuah perumpamaan, melainkan sebuah pernyataan faktual. Lagi pula, Paulus tidak berkata, “Bagiku hidup berarti berada dalam penyertaan Tuhan.” Sebaliknya, ia berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” (Flp. 1:21). Di antara hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah dan memperhidupkan Kristus terdapat suatu perbedaan yang besar sekali!
Beberapa tahun yang silam Tuhan memperlihatkan kepada saya betapa seringnya saya mempraktekkan cara hidup di hadapan Tuhan menurut Perjanjian Lama. Saya dapat bersaksi bahwa bertahun-tahun lamanya saya telah berhasil dalam hidup di hadirat Tuhan dan hidup dalam penyertaan-Nya. Namun sekarang yang saya praktekkan ialah menjadi satu roh dengan Tuhan. Berkali-kali saya mengakui kekurangan saya kepada-Nya tentang hal ini. Biasanya saya berdoa di pagi hari, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu atas satu hari yang baru ini untuk memperhidupkan diri-Mu, satu hari lagi bagiku untuk mempraktekkan menjadi satu roh dengan-Mu. Tuhan, berikanlah sebagian anugerah untuk hari ini, agar aku dapat hidup satu roh dengan-Mu.” Sungguh pun saya dapat berdoa sebaik ini pada pagi hari, tetapi selama siang hari saya mungkin berulang-ulang gagal menjadi satu roh dengan Tuhan. Adakalanya saya bertanya kepada diri sendiri, berapa lama waktu yang telah saya gunakan untuk benar-benar hidup satu roh dengan Tuhan? Saya nampak betapa seringnya saya hidup menurut etika, bukan menurut Roh itu. Namun, menjadi seorang yang etis adalah satu perkara, dan menjadi satu roh dengan Tuhan adalah perkara lain.
Hidup oleh Roh tak lain berarti menjadi satu roh dengan Tuhan. Jenis hidup oleh Roh yang pertama yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:16 adalah hidup di mana kita menjadi satu roh dengan Tuhan. Dari pengalaman saya, saya telah mengerti bahwa hidup dalam penyertaan Tuhan jauh lebih mudah daripada hidup satu roh dengan Dia. Sering kali ketika saya bercakap-cakap dengan orang lain saya berada dalam penyertaan Tuhan, tetapi mungkin saya merasa bahwa saya tidak satu roh dengan Dia. Karena itu, saya perlu berdoa, “Tuhan, ampunilah aku. Percakapanku memang di hadapan-Mu, tetapi tidak oleh-Mu. Itu hanya berarti percakapanku kututurkan dengan maksud baik. Namun akulah yang berbicara, bukan Engkau.”
Dalam meministrikan firman kepada kaum saleh, kedambaan saya pada hari-hari ini ialah menunjukkan bahwa permintaan dalam Perjanjian Baru ialah agar kita hidup satu roh dengan Tuhan. Itulah artinya hidup oleh Roh. Dalam setiap perbuatan dan tutur kata kita, kita perlu berkeyakinan bahwa kita adalah satu roh dengan Tuhan. Saya dapat bersaksi bila saya bertanya kepada diri sendiri berapa lamakah hidup saya benar-benar satu roh dengan Tuhan, ternyata dalam hal ini saya gagal berkali-kali. Bahkan ketika saya menyampaikan berita, saya pun perlu bertanya apakah saya benar-benar satu roh dengan Tuhan atau saya hanya berbicara dengan kuasa dari Tuhan. Saya telah menyampaikan banyak berita tentang hidup menurut Roh. Sekarang saya ingin menekankan suatu fakta, yaitu hidup menurut Roh berarti hidup dan bertindak dalam satu roh dengan Tuhan. Asalkan kita satu roh dengan Tuhan, dengan otomatis kita akan menuruti Dia. Paulus dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus,” sebab ia hidup dan bertindak dalam satu roh dengan Tuhan. Bila kita satu roh dengan Dia, kita akan benar-benar memperhidupkan Dia.
Hidup dan bertindak dalam penyertaan Allah sangat sesuai dengan konsepsi alamiah kita. Akan tetapi, kaum beriman dapat menjadi satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah manusia. Memang mudah memahami perkataan dalam Kitab Keluaran tentang penyertaan Tuhan mengiringi bani Israel. Mungkin kita juga menerapkan perkataan ini atas diri kita dan menyadari ketika kita pergi ke suatu tempat, penyertaan Tuhan akan pergi bersama kita. Namun, mengira bahwa kita harus hidup satu roh dengan Tuhan itu bukanlah menurut konsepsi alamiah kita. Ada orang Kristen bahkan mengatakan pernyataan dapatnya kita menjadi satu roh dengan Tuhan adalah suatu hujat. Menurut pendapat mereka, orang-orang yang berdosa sama sekali tidak mungkin menjadi satu roh dengan Tuhan. Namun, Alkitab mengatakan dengan jelas, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Walaupun kita pernah membaca kata-kata ini, tetapi mungkin kita tidak mempunyai respon sama sekali terhadapnya, sebab kita telah diselubungi oleh konsepsi yang agamis, alamiah, dan tradisional. Kita boleh jadi sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap perkara yang demikian penting ini. Namun, akhir-akhir ini Tuhan telah membawa kita kepada butir di mana justru kita harus memperhatikan tuntutan Perjanjian Baru ini, yakni kita harus menjadi satu roh dengan Dia. Menurut praktek Perjanjian Lama, Abraham memang dapat hidup dalam penyertaan Allah. Tetapi kita berada dalam Perjanjian Baru. Menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, Tuhan damba masuk ke dalam kita dan bersatu dengan kita, dan menyatukan kita dengan Dia sendiri. Ia menghendaki kita menjadi satu roh dengan Dia. Ekonomi-Nya hari ini ialah agar kita hidup dalam satu roh dengan Tuhan.
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia hidup dan bertindak dalam satu roh dengan Bapa. Ketika Ia berbicara, Bapa berbicara di dalam pembicaraan-Nya. Ia bersatu dengan Bapa, dan Bapa bersatu dengan Dia. Tuhan hidup oleh Bapa-Nya, Ia pun menghendaki orang-orang yang percaya kepada-Nya hidup dengan cara yang sama. Karenanya, Ia berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57). Tuhan ingin kita tidak saja hidup dalam penyertaan-Nya, tetapi juga hidup oleh-Nya. Hidup oleh-Nya sebenarnya berarti hidup satu roh dengan Persona yang hidup itu. Inilah permintaan Perjanjian Baru, dan inilah hidup oleh Roh jenis pertama yang dikatakan Paulus dalam Kitab Galatia.
Saya harap banyak orang akan terkesan dengan perkataan tentang hidup dalam satu roh dengan Tuhan ini dan mau berdoa, “Tuhan, mulai sekarang aku tidak lagi puas hanya dengan penyertaan-Mu. Sekalipun aku dapat berhasil mempraktekkan hidup dalam penyertaan Allah seperti yang dipraktekkan Saudara Lawrence, aku tidak merasa puas, sebab aku tahu, Tuhan, Engkau pun tidak akan merasa puas. Engkau ingin menjadi satu roh denganku. Tuhan, berikanlah anugerah kepadaku, agar aku menjadi satu roh dengan-Mu.” Dalam setiap hal yang kita katakan atau lakukan, kita perlu berlatih menjadi satu dengan Tuhan. Semakin kita menjadi satu roh dengan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari kita, kita akan semakin menikmati keselamatan, pengudusan, dan transformasi.