← Daftar isi Galatia · bab 13/22

MENERIMA DAN MENIKMATI ANUGERAH TUHAN DALAM ROH KITA

Pembacaan Alkitab:

Gal. 6:18, 1; 1:6; 2:21; 5:4; Yoh. 1:14, 16,17; Ibr. 10:29b; 4:16

DAMAI SEJAHTERA DAN ANUGERAH

Paulus mengakhiri Kitab Galatia dengan kalimat: “Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin.” Pada permulaan kitab ini Paulus berkata, “Anugerah menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (1:3). Namun pada akhirnya, Paulus terlebih dulu mengatakan damai sejahtera (6:16), kemudian baru anugerah.

Dalam 6:16 Paulus berkata, “Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.” Patokan di sini adalah yang menabur dalam Roh itu untuk memperhidupkan ciptaan baru. Bila kita dipimpin oleh patokan ini, damai sejahtera akan turun atas kita. Israel milik Allah terdiri atas orang-orang yang dipimpin oleh patokan ini. Dengan perkataan lain, semua orang yang memperhidupkan ciptaan baru dengan menabur kepada Roh itu adalah Israel sejati milik Allah, dan damai sejahtera turun atas mereka. Penggunaan kata depan “atas” oleh Paulus berarti damai sejahtera bagaikan hujan menghujani kita. Damai sejahtera menghujani Israel sejati milik Allah, menghujani orang-orang yang dipimpin oleh patokan memperhidupkan ciptaan baru melalui menabur kepada Roh itu. Allah mengaruniakan damai sejahtera ke atas Israel-Nya yang sejati.

Dalam 6:17 Paulus selanjutnya berkata, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku menikmati damai sejahtera. Sejauh menyangkut perkara-perkara lain, janganlah ada yang menyusahkan aku. Aku hanya ada satu sasaran, dan itu adalah dipimpin oleh patokan ini. Karena aku adalah bagian dari Israel sejati milik Allah, damai sejahtera telah dikaru-niakan ke atas diriku. Aku berada di bawah hujan damai sejahtera. Janganlah berbicara kepadaku tentang hukum Taurat, sunat, atau imamat. Selanjutnya, janganlah ada orang yang menyusahkan aku.”

Mengapa pada permulaan Kitab Galatia Paulus mengatakan anugerah sebelum damai sejahtera dan pada akhirnya berkebalikan? Anugerah adalah Allah menjadi kenikmatan kita, dan damai sejahtera adalah suatu kondisi yang diakibatkan dari anugerah. Karena itu pada mulanya kita terlebih dulu memiliki anugerah, kemudian baru damai sejahtera. Tetapi begitu kita masuk dengan anugerah ke dalam suatu keadaan damai sejahtera baik dengan Allah secara vertikal maupun dengan sesama manusia secara horizontal, kita perlu memiliki anugerah untuk menjaga kita dalam situasi damai sejahtera yang sedemikian.

ANUGERAH MENYERTAI ROH KITA

Menurut 6:18, anugerah yang kita nikmati adalah anugerah Tuhan Yesus Kristus. Lagi pula, Paulus menunjukkan bahwa anugerah ini menyertai roh kita. Dalam Kitab Galatia, Paulus menyebut roh manusia hanya dalam pasal 6. Dalam 6:1 ia berkata, “Saudara-saudara, kalau pun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.” Roh di sini adalah roh manusia yang dilahirkan kembali dan dihuni serta berbaur dengan Roh Kudus. Fakta disebutnya roh manusia oleh Paulus pada awal maupun akhir pasal 6 menunjukkan bahwa pasal ini terutama membicarakan roh kita.

Jika kita tidak mengenal roh manusia (yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus), kita tidak bisa menikmati Kristus sebagai Roh yang almuhit. Kita boleh memakai penggunaan listrik yang praktis sebagai perumpamaan. Walaupun listrik telah terpasang di rumah Anda, Anda tetap perlu memakai saklar atau tombol untuk menyalakannya. Jika Anda tidak mengetahui di mana tombol itu, Anda tidak mungkin mengalami faedah listrik itu. Listrik surgawi pun telah terpasang di dalam kita, dan roh manusia adalah tombol untuk memanfaatkannya. Anugerah Tuhan Yesus Kristus listrik surgawi menyertai roh kita, yakni tombol itu.

Dalam 6:18 Paulus tidak mengatakan anugerah Tuhan Yesus Kristus menyertai pikiran, emosi, atau tekad kita. Dengan jelas dan pasti ia mengatakan bahwa anugerah itu menyertai roh kita. Tahukah Anda di mana tempat roh, pikiran, emosi, dan tekad Anda, serta perbedaan antara bagian-bagian manusia itu? Kita semua mengetahui bahwa kita memiliki semua fungsi tersebut, namun sukar didefinisikan atau ditunjukkan tempatnya. Dari pengalaman, kita telah menemukan berbagai aspek dari diri kita ini. Ketika kita gembira atau marah, kita menggunakan emosi kita. Ketika kita membuat suatu keputusan, kita menggunakan tekad kita. Ketika kita berpikir, jelas berarti kita menggunakan pikiran kita. Bila seorang suami dan istri sedang berdebat, mereka menyatakan emosi mereka yang panas, menggunakan pikiran mereka untuk mengutarakan alasan masing-masing, dan menggunakan tekad mereka untuk membuat keputusan atas situasi itu. Tetapi ketika mereka sedang berdebat, ada sesuatu dalam lubuk batin mereka yang menyuruh mereka tenang, jangan berdebat terus. Itu bukan pikiran, emosi, atau tekad, melainkan roh; dan bagian utama dari roh ialah hati nurani. Bila hati nurani bekerja, itu berarti roh berfungsi. Dengan perkataan lain, roh kita terutama bekerja melalui hati nurani kita. Titik berat di sini ialah: kita memiliki suatu fungsi di dalam batin kita selain pikiran, emosi, dan tekad kita, dan fungsi ini adalah roh.

Menurut Alkitab, fungsi roh ialah untuk berkontak dengan Allah. Tatkala kita mendengar Injil, kita bertobat dari dosa-dosa kita. Pertobatan melibatkan penggunaan hati nurani kita. Ketika kita membiarkan terang kebenaran menyoroti kita melalui pikiran ke dalam hati nurani kita, maka hati nurani kita menyuruh kita bertobat. Karenanya, pertobatan berkaitan dengan penggunaan bagian utama dari roh kita. Walaupun mungkin kita tidak memahaminya ketika kita beroleh selamat tetapi pada waktu itu, kita telah menggunakan roh kita. Selain bertobat, kita pun berdoa kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya. Mungkin kita berkata, “O Tuhan Yesus, Engkau adalah Penebusku. Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mati di atas salib bagi dosa-dosaku. Tuhan aku cinta kepada-Mu, dan aku menerima Engkau sebagai Juruselamatku.” Pada saat kita berdoa demikian, dengan menggunakan iman dalam Tuhan, Roh Allah masuk ke dalam roh kita dan melahirkan kembali roh kita. Pada saat kita beroleh selamat, roh kita telah dimanfaatkan untuk bertobat dan menerima Tuhan. Sejak saat itu dan seterusnya, Roh itu berhuni dalam roh kita. Karenanya, roh itu merupakan tempat di mana kita berkontak dengan Allah, sebab di sinilah Allah Tritunggal yang telah melalui proses itu tinggal sebagai Roh pemberi hayat yang almuhit.

Sering kali ketika kita mulai berdoa, kita masih berada dalam pikiran atau emosi kita. Namun lambat laun doa kita membawa kita masuk ke dalam roh kita. Lalu kita merasa bahwa kita sedang berjumpa dengan Tuhan dan kita bersatu dengan Dia. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan betapa indahnya menjadi satu roh dengan Tuhan. Alangkah nikmatnya hal ini! Kenikmatan ini mendatangkan kepastian atau jaminan bahwa Allah Tritunggal itu riil adanya.

ROH ANUGERAH

Untuk memahami apa yang dimaksud Paulus dengan anugerah dalam 6:18, kita perlu kembali kepada Injil Yohanes. Dalam kitab Injil ini tercatat bahwa Firman yang ada pada mulanya, yang bersama dengan Allah, dan yang adalah Allah, telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran (1:1, 14). Menurut Yohanes 1:16, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah.” Selain itu, Yohanes 1:17 memberi tahu kita “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Fakta hukum Taurat itu “diberikan” dan anugerah itu “datang” menunjukkan bahwa anugerah adalah suatu persona. Anugerah bukan diberikan, melainkan datang bersama Yesus Kristus. Anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh yang disebut di bagian lain dalam Injil Yohanes. Tatkala Kristus datang, datanglah pula bersama-Nya sesuatu yang ajaib, yang disebut anugerah. Sebenarnya, anugerah ini adalah Persona yang ajaib, Kristus Yesus itu sendiri. Menurut Yohanes 1:16, dari kepenuhan Kristus kita telah menerima anugerah demi anugerah. Tetapi dalam Yohanes 7:39 dan 20:22, kita nampak bahwa kita benar-benar menerima Roh itu, yakni hembusan kudus itu. Bila ayat-ayat ini kita jajarkan, kita nampak bahwa anugerah dalam Yohanes 1 adalah Roh itu, yakni hembusan kudus dalam Yohanes 7 dan 20. Dalam Ibrani 10:29 Roh itu bahkan disebut Roh anugerah.

Mengatakan Roh itu adalah Roh anugerah tidak berarti Roh itu adalah satu hal dan anugerah adalah hal lain, sebagaimana ungkapan “Roh hayat” tidak berarti Roh itu dan hayat merupakan dua hal yang berbeda. Sebaliknya, sebagaimana Roh dan hayat adalah satu, maka Roh dan anugerah juga satu. Demikian pula, membicarakan terang Allah tidak berarti terang adalah sesuatu yang di luar Allah itu sendiri, tetapi berarti bahwa Allah itulah terang itu. Seprinsip dengan itu, ketika Alkitab mengatakan Roh anugerah, itu berarti Roh itu juga adalah anugerah.

Kita telah menekankan fakta anugerah adalah Allah menjadi kenikmatan kita, dan anugerah adalah Kristus yang kita nikmati. Sekarang kita perlu memberikan penekanan yang sama bahwa anugerah sebenarnya adalah Roh itu. Anugerah adalah Allah Bapa yang terwujud di dalam Anak dan Anak telah direalisasikan sebagai Roh itu. Karenanya, pada akhirnya Roh itu adalah anugerah.

Dari pengalaman kita dapat mengetahui, ketika kita menikmati anugerah, kita menikmati Roh itu. Bila kita kekurangan pengalaman atas Roh yang bergerak di dalam kita dan mengurapi kita, kita tidak memiliki kenikmatan atas anugerah. Anugerah adalah Roh itu yang bergerak, beraksi, dan mengurapi dalam batin kita. Semakin kita memiliki gerakan Roh itu, semakin banyak pula anugerah yang kita nikmati.

Sekali lagi kita boleh memakai listrik untuk perumpamaan. Boleh jadi kita mengira listrik adalah satu hal dan arus listrik adalah hal lain. Tetapi, sebenarnya arus listrik adalah listrik yang sedang bergerak. Kalau listrik tidak bergerak, ia tetap sebagai listrik saja. Tetapi begitu ia mulai bergerak, ia segera menjadi arus listrik. Namun arus listrik bukan satu hal yang berbeda dengan listrik itu. Arus listrik tak lain adalah listrik yang bergerak.

Perumpamaan arus listrik ini membantu kita memahami bahwa Roh anugerah sebenarnya adalah Roh yang sedang bergerak, beraksi, dan mengurapi di batin kita. Hal ini sangatlah subyektif. Ketika kita nampak anugerah sedemikian, kita sudah mencapai sasaran dalam mengenal makna anugerah. Sudah tentu anugerah merupakan satu realitas yang ada di luar kita. Namun, bila anugerah masuk ke dalam kita, dalam pengalaman kita ia adalah Roh itu. Anugerah yang masuk ke dalam kita dan menjadi kenikmatan kita tidak lain dan tidak bukan adalah Roh itu sendiri.

BERALIH KEPADA ROH, MENGGUNAKAN ROH,

DAN MENOBATKAN TUHAN

Kalau begitu bagaimanakah kita menerima anugerah dan menikmatinya? Jika kita ingin menerima anugerah dan menikmatinya, kita perlu menyadari bahwa roh kita adalah satu-satunya tempat untuk dapat mengalami anugerah. Sebagaimana listrik hanya dapat dimanfaatkan dengan menekan tombolnya, kita pun hanya dapat berkontak dengan Roh yang bergerak dan mengurapi di dalam roh kita. Jika Anda ingin menerima anugerah dan menikmatinya, jangan menggunakan pikiran, emosi atau tekad Anda. Sebagai gantinya, kembalilah ke roh Anda dan gunakanlah roh Anda. Para saudara biasanya sangat aktif dalam pikiran, dan para saudari biasanya sangat kuat dalam emosi. Kita perlu beralih dari pikiran dan emosi kita kepada roh kita, tempat kita akan berjumpa dengan Tuhan.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia mewahyukan kepada kita di mana Dia berada hari ini. Di satu pihak, tidak dapat diragukan bahwa Ia berada di atas takhta di surga. Tetapi di pihak lain, bagi pengalaman kita, Ia berada di dalam roh kita. Ibrani 4:16 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Takhta anugerah tidak saja berada di surga, juga di dalam roh kita. Jika ia bukan di dalam roh kita seperti di surga, mana mungkin kita dapat menghampirinya? Ada sebagian orang yang membantah dengan menganggap roh kita tidak cukup luas untuk menampung takhta anugerah. Ditinjau dari segi ukuran, memang bantahan tersebut seolah-olah masuk akal, namun fakta dapatnya kita menghampiri takhta anugerah menunjukkan bahwa takhta ini ada di dalam roh kita, ini sesuai dengan pengalaman. Dari pengalamanlah saya mengetahui, ketika saya beralih kepada roh dan menyeru “Tuhan Yesus”, saya segera merasakan bahwa takhta anugerah itu sesungguhnya ada dalam roh saya.

Setiap kali kita menghampiri takhta anugerah dengan beralih kepada roh kita dan berseru kepada nama Tuhan, haruslah kita menobatkan Tuhan. Kita wajib memberikan jabatan Kepala, jabatan Raja, dan jabatan Tuan kepada-Nya di dalam kita. Betapa besar perbedaan yang akan terjadi karena hal ini! Kadangkala sewaktu kita berdoa, kita merasa Tuhan berada dalam batin kita, namun kita enggan memberikan takhta kepada-Nya. Kita tidak mengakui jabatan-Nya sebagai Raja, malah meninggikan diri melampaui Dia dan meletakkan diri kita sendiri di takhta. Pada prakteknya, kita telah menurunkan Tuhan dari takhta. Bila kita tidak menobatkan Tuhan, aliran anugerah akan berhenti. Bahkan ketika kita sedang berdoa pun kita perlu membiarkan Tuhan duduk di atas takhta dalam batin kita, menghormati-Nya sebagai Kepala, Tuhan, dan Raja. Dengan demikian anugerah akan mengalir seperti sebuah sungai dalam batin kita.

Dalam Wahyu 22:1-2 kita nampak bahwa sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Takhta Allah adalah sumber pengaliran anugerah. Menurunkan Dia dari takhta, atau merampas takhta itu dari Dia berarti meremehkan sumber anugerah. Hal ini mengakibatkan terhentinya pengaliran anugerah. Ini bukan suatu doktrin belaka, melainkan yang sangat cocok dengan pengalaman kita. Banyak di antara kita dapat bersaksi, bila kita tidak menobatkan Tuhan, kita tidak dapat menerima anugerah pada saat kita berdoa.

Kalau kita ingin menerima anugerah dan menikmati anugerah, hal pertama yang harus kita lakukan ialah beralih kepada roh kita dan melupakan pikiran, emosi, dan tekad kita. Tetapi Iblis menimbulkan satu perkara demi satu perkara untuk menjauhkan kita dari roh. Ia mungkin menghasut suatu perdebatan antara suami dan istri. Ketika mereka bersilat lidah, mereka akan merasa sukar untuk beralih kepada roh, sebab pikiran (akal) dan emosi mereka telah digejolakkan. Bila pikiran (akal) dan emosi kita kuat, kita sulit sekali beralih kepada roh kita.

Cara terbaik untuk praktek beralih kepada roh dan menetap dalam roh ialah memiliki waktu-waktu tertentu untuk berdoa. Misalnya Anda meluangkan waktu sepuluh menit pada pagi hari untuk berkontak dengan Tuhan dalam doa. Selama saat itu, satu-satunya perkara yang harus Anda lakukan ialah melatih diri Anda untuk beralih kepada roh dan menetap di dalam roh. Jangan memperhatikan semua perkara yang harus Anda kerjakan hari itu. Tolaklah pikiran, emosi, dan tekad alamiah Anda, dan latihlah roh Anda untuk berkontak dengan Tuhan.

Penyebab begitu banyak orang Kristen tidak memiliki pengalaman atas Tuhan ialah karena mereka tidak menggunakan roh mereka. Banyak orang yang justru enggan berada di dalam roh. Selain itu, dengan liciknya Iblis berusaha menghasut pikiran, emosi, dan tekad kita. Karena itu, kita perlu belajar menetap di dalam roh dan tidak terhasut atau terseret keluar oleh musuh. Kita perlu menggunakan roh kita untuk menjaga pikiran, tekad, dan emosi kita berada pada tempatnya yang wajar. Tetapi jika kita membiarkan pikiran kita dikacaukan dan membiarkan emosi kita dihasut, kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk melayani orang lain dengan hayat dari roh kita. Sebagai ganti menggunakan pikiran kita secara alamiah dan membiarkan emosi kita dihasut, kita harus menggunakan roh kita dan berdoa, “Tuhan, apa yang Kau kehendaki aku lakukan, dan apa yang Kaukehendaki aku katakan? Tuhan, mengalirlah keluar dari rohku melalui perkataan-perkataanku untuk menyuplaikan hayat kepada orang-orang yang membutuhkan.” Hal ini jauh lebih baik daripada menggunakan pikiran dan emosi alamiah kita untuk menanggulangi berbagai situasi! Betapa besarnya perbedaan yang terjadi karena hal tersebut! Saya ingin berulang-ulang menekankan fakta bahwa kebutuhan kita ialah belajar menetap di dalam roh kita dan menggunakan roh kita.

Ketika kita beralih ke roh dan menetap di situ, kita perlu mengakui Tuhan sebagai Kepala dan Raja dan menobatkan Dia. Kita harus menghormati kedudukan dan wewenang-Nya, dan mengakui bahwa kita tidak berhak mengatakan atau melakukan apa pun berdasarkan diri kita. Semua kedudukan dalam kita harus kita serahkan kepada Sang Raja. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, sungai air hayat akan mengalir keluar dari takhta untuk menyuplai kita. Dengan cara demikianlah kita akan menerima anugerah dan menikmatinya.

Anugerah tidak lain dan tidak bukan adalah Allah Tritunggal menjadi kenikmatan kita. Bapa terwujud di dalam Anak, dan Anak direalisasi sebagai Roh itu. Roh itu, yakni perampungan sempurna dari Allah Tritunggal, sekarang tinggal dalam roh kita. Kebutuhan kita hari ini ialah beralih ke Roh itu dan menetap di situ, serta menobatkan Tuhan. Lalu secara riil roh kita akan bersatu dengan surga tingkat tiga. Kita akan memahami dalam pengalaman bahwa di satu pihak, tempat yang maha kudus memang berada di surga; tetapi di pihak lain, ia pun ada di dalam roh kita. Ini menunjukkan bahwa tatkala kita menetap di dalam roh kita, kita sebenarnya telah menjamah surga. Jika kita menobatkan Tuhan dalam batin kita, maka Roh sebagai air hayat itu akan mengalir dari takhta untuk menyuplai kita. Inilah anugerah, dan inilah cara untuk menerima dan menikmati anugerah.

Tatkala kita menerima Allah Tritunggal sebagai anugerah dan menikmati Dia sebagai anugerah, kita akan tersusun oleh-Nya. Sedikit demi sedikit, kita akan menjadi satu secara organik dengan Dia. Dia akan menjadi unsur penyusun kita, dan kita akan menjadi ekspresi-Nya.