MEMBERSIHKAN RAGI DAN TIDAK MENGGUNAKAN KEMERDEKAAN SEBAGAI KESEMPATAN BAGI DAGING
Pembacaan Alkitab: Gal. 5:7-15
Pada berita terdahulu kita melihat Paulus berkata kepada kaum beriman Galatia tentang tidak terlepas dari Kristus (5:4). Itulah pesan pertama Paulus yang bertalian dengan perilaku sehari-hari dari ahli-ahli waris janji. Dalam berita ini kita akan membahas pesan kedua dan ketiga secara berturut-turut, yaitu pesan untuk membersihkan ragi dan jangan mengalihkan kemerdekaan menjadi kesempatan untuk daging.
I. MEMBERSIHKAN RAGI
A. Tidak Menerima Bujukan untuk Tidak Menaati Kebenaran
Dalam 5:7-8 Paulus berkata, “Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapa yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia yang memanggil kamu.” Dalam 4:20 Paulus berkata kepada orang-orang Galatia bahwa ia merasa kehabisan akal menghadapi mereka. Di sini, dalam 5:7-8, Paulus berbicara dalam nada yang cukup lunak. Ia memuji mereka dengan berkata bahwa mereka dahulu berlomba dengan baik. Lalu ia bertanya kepada orang-orang Galatia, siapakah yang menghalang-halangi mereka, sehingga mereka tidak menaati kebenaran. Kebenaran di sini bukan doktrin, tetapi realitas di dalam Kristus, seperti yang Paulus beritakan kepada orang-orang Galatia. Dalam ayat-ayat ini sebenarnya sulit dikatakan apakah Paulus bersikap lunak atau keras. Di satu pihak, ia memuji mereka, tetapi di pihak lain ia sepertinya menegur mereka. Dalam berbicara kepada kaum beriman Galatia, Paulus sangat berhati-hati.
Dalam 5:8 Paulus berkata, “Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia yang memanggil kamu.” Ajakan yang Paulus katakan di sini datangnya dari ajaran penganut agama Yahudi, yang telah menyelewengkan orang-orang Galatia dari Kristus kepada adat istiadat hukum Taurat. Ajakan ini bukan datang dari Allah yang memanggil mereka. Jadi, itu pasti berasal dari sumber lain, yakni Iblis. Perkataan Paulus di sini merupakan petunjuk kuat bahwa para penganut agama Yahudi itu bersatu dengan Iblis untuk menentang ekonomi Allah.
Kita boleh menerapkan prinsip ini pada situasi kita hari ini. Pengajaran atau ajakan dari para penentang dan orang-orang yang menyimpang bukan berasal dari Dia yang memanggil kita. Karenanya, sumbernya pasti Iblis. Ini merupakan hal yang sangat serius. Berhati-hatilah bila mendengar pengajaran atau ajakan dari orang yang menyimpang. Jangan hanya mendengarkan perkataan mereka, tetapi periksalah apakah perkataan mereka berasal dari Dia yang memanggil kita. Periksalah apakah perkataan ajakan mereka itu berasal dari Allah. Jangan sampai disesatkan oleh kata-kata manis mereka. Para penipu selalu manis mulut. Mereka memakai kata-kata yang menenangkan, menghibur, dan memikat dalam usaha mereka untuk meyakinkan Anda. Namun yang terkandung di balik kata-kata itu adalah racun. Dengan mengucapkan kata-kata yang berlapis gula, orang-orang yang menyimpang itu mungkin mencoba memikat orang-orang yang lemah, sehingga mereka dijauhkan dari kenikmatan atas Kristus dan kehidupan gereja yang wajar. Perkataan yang sedemikian itu bukan datang dari Dia yang memanggil kita, melainkan berasal dari sumber lain, yakni dari Iblis, seteru Allah. Sasaran ajakan itu tidak lain supaya kita terlepas dari kenikmatan atas Kristus. Waspadalah terhadap kelicikan musuh di balik ajakan semacam itu.
B. Tidak Membiarkan Sedikit Ragi
Mengkhamirkan Seluruh Adonan
Pada ayat 9 Paulus melanjutkan berkata, “Sedikit ragi sudah membuat seluruh adonan mengembang.” Ragi mengacu kepada pengajaran palsu dari penganut agama Yahudi (lihat Mat. 16:12), dan seluruh adonan mengacu kepada semua orang beriman secara kolektif, gereja. Sebenarnya, Paulus tidak menganggap ajaran-ajaran palsu agama Yahudi seperti sedikit ragi saja. Tetapi kaum beriman Galatia tertentu mungkin mengira kata-kata ajakan dari para penganut agama Yahudi itu sebagai sesuatu yang kecil. Karena alasan inilah Paulus menegaskan bahwa sedikit ragi saja, sudah dapat mengkhamirkan seluruh adonan.
Dalam strateginya yang licik itu, Iblis memakai para penentang dan orang yang menyimpang untuk menginjeksikan sedikit ragi melalui kata-kata mereka yang membujuk dan merayu itu. Ragi itu bekerja seperti perangsang selera yang membangkitkan keinginan kita secara negatif. Butir-butir negatif yang dibahas dalam keempat pasal pertama Kitab Galatia tidak hanya merupakan sedikit ragi, tetapi ragi yang banyak sekali. Namun, untuk menghadapi kaum beriman yang telah diselewengkan oleh ajaran para penganut agama Yahudi, Paulus berbicara dengan hati-hati dan mengiaskan ajaran tersebut seperti sedikit ragi. Tetapi ragi tetap ragi, entah banyak atau sedikit. Ragi seperti kuman yang dapat berkembangbiak, dan dapat menyebabkan seluruh adonan khamir. Kita harus belajar dari pengalaman orang-orang Galatia, yakni jangan membuka diri kita kepada ragi sekalipun hanya sedikit. Sebab sedikit ragi itu mampu mengkhamirkan seluruh gereja.
C. Tidak Mempunyai Pendirian Lain
Dalam ayat 10 Paulus berkata, “Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain selain pendirian ini.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki iman yang besar. Namun perhatikanlah, yang Paulus yakini bukanlah orang-orang Galatia, melainkan Tuhan. Paulus tidak berkata, “Aku yakin terhadap kamu”, tetapi ia berkata, “Dalam Tuhan aku yakin.” Karena Paulus senantiasa mendoakan orang-orang Galatia, maka ia dapat yakin dalam Tuhan tentang mereka dan tidak putus asa. Khususnya, Paulus yakin bahwa orang-orang Galatia tidak mempunyai pendirian (angan-angan) lain.
Dalam menyinggung masalah tidak mempunyai pendirian lain, Paulus menjamah sumber yang terpenting dari berbagai kesulitan dalam kehidupan gereja, yakni perbedaan angan-angan. Kita tidak seharusnya berangan-angan lain dalam hal apa pun selama dalam gereja tidak terdapat hal-hal seperti pemujaan berhala, hal-hal yang asusila, atau perpecahan. Sebaliknya, kita harus menjadi satu dengan gereja dan maju ke depan bersama gereja, tak peduli arah mana yang dituntut gereja. Janganlah berangan-angan lain dalam hal doktrin dan praktek. Sebagai contoh, janganlah berkata bahwa Anda setuju dengan cara penataan atau susunan kursi-kursi yang khas, dan tidak setuju dengan cara penataan lain. Kita pun tidak boleh berkata bahwa kita lebih suka bersidang di rumah dibanding di balai sidang. Berangan-angan lain yang sedemikian itu mutlak bukan berasal dari Allah. Sumbernya adalah Iblis, si musuh itu. Tidak ada seorang pun di antara kita yang boleh memberikan kedudukan bagi masuknya perbedaan angan-angan semacam itu ke dalam kehidupan gereja. Kita harus menutup diri kita terhadap serbuan musuh yang sedemikian itu. Kita semua harus bertanggung jawab untuk tidak berangan-angan lain. Kalau gereja mempraktekkan pemujaan berhala, kita harus menentangnya. Tetapi sekalipun dalam hal ini, kita harus memiliki roh yang wajar, agar dapat membantu orang lain.
Saya ulangi, janganlah menyetujui sesuatu yang berkaitan dengan berhala, perbuatan asusila, atau perpecahan. Tetapi, kita tidak boleh berbeda pendapat tentang hal-hal lainnya. Misalkan kita datang ke suatu sidang dan menemukan cara penataan kursi-kursinya sangat tidak lazim. Jika tidak seorang pun dari kaum saleh yang mengkritik cara penataan tersebut, ini menandakan bahwa kehidupan gereja di situ sangat kuat. Itu adalah satu petunjuk jelas bahwa kita hanya memperhatikan Kristus, tidak memperhatikan cara penataan kursi yang khas.
Jika kita telah benar-benar nampak kenikmatan atas Kristus dan keesaan gereja, kita tidak akan berangan-angan lain. Kita tidak akan memperhatikan opini, cara, atau praktek khas macam apa pun. Sebaliknya, kita hanya memperhatikan kenikmatan atas Kristus dan keesaan Tubuh.
Dalam kehidupan gereja, kita tidak boleh melatih angan-angan untuk mengumpulkan informasi yang tidak perlu. Kita tidak boleh menjadi mata-mata untuk berusaha mengumpulkan informasi. Bila hayat kita semakin lemah, kita akan semakin cenderung bertindak seperti mata-mata. Bila orang yang sedemikian ini mengunjungi sebuah gereja lokal, ia mungkin ingin mengamati sesuatu di situ. Ini adalah praktek yang setani. Bila kita mengunjungi gereja lain, kita harus senang menjadi orang buta, yang tidak mencari tahu tentang situasi kaum saleh di situ.
Ketika Paulus mengucapkan kata-kata bahwa ia yakin dalam Tuhan tentang kaum beriman Galatia yang tidak mempunyai pendirian (angan-angan) lain, situasi kaum saleh itu berbeda sekali dengan yang ada pada hari ini. Pada saat Paulus menulis Kitab Galatia, dalam gereja-gereja di tiap lokal masih terdapat penekanan yang wajar tentang keesaan gereja dan kenikmatan atas Kristus. Keyakinan Paulus berdasar pada fakta: di tiap-tiap lokal hanya ada satu gereja; dan dalam ministrinya terdapat penekanan yang kuat dan jelas bahwa Kristus adalah segala sesuatu kaum saleh. Inilah dasar keyakinan Paulus dalam Tuhan bahwa atas segala hal kaum beriman Galatia tidak mempunyai pendirian lain. Paulus banyak berdoa bagi kaum beriman dan yakin bahwa dalam segala hal mereka tidak mempunyai pendirian lain. Ia mempunyai dasar kuat untuk berkeyakinan demikian. Namun, karena adanya pengaruh yang merembes dari ragi yang beracun itu, maka situasi kita menjadi sangat berbeda. Masalah berpendirian lain ini sebenarnya ada di kalangan semua orang Kristen. Namun pada masa Paulus, gereja adalah satu, karena itu Paulus beralasan untuk meyakini kaum saleh di dalam Tuhan
D. Tidak Membiarkan Batu Sandungan Salib Terbuang
Dalam 5:11 Paulus berkata, “Dan lagi aku ini, Saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapa aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi.” Sunat menjadi bayang-bayang yang berhubungan dengan penanggulangan daging manusia, salib adalah realitas penanggulangan itu (Kol. 2:11-12). Penganut agama Yahudi berusaha membawa orang-orang Galatia kembali kepada bayang-bayang, tetapi rasul Paulus berjuang untuk menjaga mereka tetap di dalam realitas.
Sunat merupakan sebuah lambang salib Kristus. Dalam perlambangan sunat menandakan pengeratan daging. Pengeratan daging sejati dirampungkan oleh salib. Karena itu, salib adalah kegenapan dan realitas lambang sunat. Namun demikian, para penganut agama Yahudi bersikeras mempertahankan praktek sunat, walaupun Kristus telah tersalib. Karena para penganut agama Yahudi itu bersikeras atas masalah sunat dan menentang salib, maka mereka menganiaya orang-orang seperti Paulus, yang memberitakan salib Kristus. Paulus mengajarkan bahwa sunat adalah sebuah lambang, atau sebuah bayangan, yang telah digenapi pada salib Kristus. Karena Kristus sudah tersalib, maka praktek sunat sudah tidak diperlukan lagi.
Menurut 5:11, Paulus tidak mau memberitakan sunat karena hal itu berarti membiarkan batu sandungan salib terbuang. Bahkan pada saat Kitab Galatia ini ditulis, yakni antara tahun 55 dan 58 sesudah Masehi, salib Kristus sudah menjadi batu sandungan. Ada sebagian orang tidak berani percaya kepada salib atau membicarakannya. Ini disebabkan adanya pengaruh agama Yahudi, di mana sunat adalah perkara yang sangat penting. Para penganut agama Yahudi meremehkan salib dan menjunjung tinggi sunat. Bagi mereka, salib Kristus merupakan batu sandungan, dan orang-orang yang memberitakan firman tentang salib patut dianiaya. Jadi, ayat 11 membantu kita memahami situasi pada waktu Paulus menyurati orang-orang Galatia.
E. Membiarkan Orang yang Mengganggu dan
Mengacau Menanggung Hukuman
dan Mengebiri Dirinya
Dalam ayat 10 dan 12 Paulus mengucapkan kata-kata keras terhadap orang-orang yang mengganggu kaum beriman Galatia. Dalam ayat 10 ia berkata, “Tetapi orang yang mengacaukan kamu akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia.” Kata-kata ini sebenarnya sama dengan kutukan. Paulus berkata bahwa orang-orang yang mengganggu kaum saleh Galatia seharusnya terkutuk. Paulus memakai istilah “kutuk” dalam pasal pertama, di mana dia berkata bahwa siapa saja yang memberitakan Injil yang lain daripada yang diterima orang-orang Galatia patut dikutuk (1:9). Di sini Paulus berkata bahwa orang yang menggelisahkan orang Galatia akan menanggung hukumannya sendiri, siapa pun juga dia.
Dalam 5:12 Paulus mengucapkan sebuah kalimat yang sangat keras: “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!” Rasul Paulus berharap agar orang-orang Yahudi yang menghasut orang-orang Galatia dengan memaksa mereka untuk disunat sebaiknya mengerat bukan hanya kulit khatannya, tetapi juga dirinya. Diri mereka yang menghasut dan mengganggu itu perlu dipotong.
Paulus menginginkan orang-orang yang mengganggu kaum beriman Galatia “mengebirikan saja dirinya”, ini adalah fakta yang menunjukkan betapa ia menganggap mereka sebagai daging yang harus dikerat. Maksud Paulus, “Orang-orang yang mengacaukan kamu jangan cuma mengerat sepotong daging dari tubuh mereka, tetapi harus pula mengerat seluruh diri mereka.” Dalam pandangan Allah, seluruh diri orang-orang semacam itu berada di bawah hukuman dan patut dikerat. Para penganut agama Yahudi pasti akan marah karena perkataan ini, dan cukup marah untuk membunuh Paulus. Alangkah beraninya Paulus mengucapkan kata-kata sedemikian mengenai mereka, memperlakukan mereka bagaikan daging! Ketika Paulus berani, ia benar-benar berani. Di sini kita nampak keberaniannya dalam membicarakan para penganut agama Yahudi sebagai daging yang perlu dikerat.
II. TIDAK MENGGUNAKAN KEMERDEKAAN SEBAGAI KESEMPATAN UNTUK DAGING
Dalam 5:13 Paulus berkata, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa (daging), melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Surat Kiriman Paulus tidak seperti roti yang tidak dibalik (Hos. 7:8). Sebaliknya, ia seimbang, pertama-tama ia membahas satu aspek dari satu perkara, lalu aspek lainnya. Namun kita cenderung menjadi roti yang tidak dibalik; yakni mentah pada satu sisi, dan hangus pada sisi lainnya. Dalam menyampaikan berita-berita, kita dengan mudah menghasilkan roti-roti yang tidak dibalik. Tetapi, sewaktu Paulus menulis Kitab Galatia, ia membalik-balik roti itu. Ia bisa bersikap keras, lalu penuh kasih sayang; adakalanya mengecam, tetapi kemudian sangat lunak.
Dalam masalah kemerdekaan kita nampak keseimbangan Paulus. Di satu aspek, Paulus mengatakan bahwa kita telah dipanggil untuk merdeka; di pihak lain, ia mengingatkan kita, jangan menggunakan kemerdekaan ini untuk kehidupan dalam dosa atau menjadi suatu kesempatan bagi daging. Sementara Paulus mendorong kaum beriman menikmati kemerdekaan mereka di dalam Kristus, ia juga prihatin kalau-kalau mereka telah menyalahgunakan atau melecehkan kemerdekaan tersebut. Jika kita terlalu mengumbar diri kita dalam kemerdekaan kita, kita akan menggunakannya sebagai kesempatan bagi daging. Kendatipun kita merdeka, kita tetap harus terbatas dalam menggunakan kemerdekaan kita itu. Kemerdekaan tanpa batas selalu mengakibatkan pelampiasan daging. Karena itu, kita perlu seimbang. Bebas tetapi perlu dibatasi. Kemerdekaan dengan batasan membawa kita mengasihi orang lain dan oleh kasih melayani mereka sebagai hamba.
Ketika Paulus menulis Kitab Galatia, dalam benaknya terkandung banyak pikiran. Ia menyadari bahwa kaum beriman Galatia yang telah diselewengkan mungkin kembali kepada kemerdekaan mereka dan kemudian mulai menyalahgunakannya. Mungkin mereka memiliki sikap: mumpung tidak lagi berada di bawah kuk apa pun, maka bolehlah melakukan apa saja sesuka mereka. Sikap semacam itu akan merusak kehidupan gereja. Karena itu, Paulus berpesan kepada orang-orang Galatia agar tidak menyalahgunakan kemerdekaan mereka. Memang benar mereka telah dipanggil untuk merdeka, tetapi mereka tidak seharusnya menggunakannya untuk mengumbar hawa nafsu. Di satu aspek, mereka telah bebas dari kuk perhambaan, dari hukum Taurat, tetapi di aspek lain, mereka harus tetap memperhatikan orang lain dan melayani mereka di dalam kasih. Ketika beberapa orang saleh mendengar berita tentang kemerdekaan ini, khususnya kaum beriman muda, mereka cenderung membuang setiap kekangan. Mereka mungkin bersikap bahwa mereka tidak perlu lagi mendengarkan perkataan penatua, sebab mereka sudah merdeka. Inilah artinya menggunakan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk daging. Kita tidak seharusnya berbuat demikian, hendaklah kita terbatas dalam menggunakan kemerdekaan dan rela menjadi hamba untuk melayani orang lain. Seperti yang dikatakan Paulus dalam 5:14, “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
Dalam ayat-ayat yang telah kita bahas dalam berita ini, Paulus menasihati kita untuk memiliki hidup dan perilaku yang wajar dalam kehidupan gereja. Ia menunjukkan bahwa kita perlu seimbang dan tidak menjadi roti yang tidak dibalik. Dalam menyampaikan berita, kita harus membahas kedua sisi dari satu perkara. Kita harus memperhatikan diri kita sendiri, juga orang lain. Kita boleh menikmati kemerdekaan yang kita miliki, tetapi tetap terbatas di dalam kasih demi kebaikan orang lain, agar kehidupan gereja dapat maju ke depan dengan baik. Selain itu, kita harus belajar untuk tidak berangan-angan lain. Dengan demikian kita akan memiliki hidup dan perilaku yang wajar dalam kehidupan gereja.