HIDUP OLEH ROH, BUKAN OLEH DAGING
Pembacaan Alkitab: Gal. 5:16-23
Dalam Galatia 5:16 Paulus menyuruh kita hidup oleh Roh. Kehidupan dan perilaku orang Kristen adalah mutlak oleh Roh, bukan oleh daging. Berdasarkan konteks pasal 5, Roh di sini pasti adalah Roh Kudus yang tinggal dan berbaur dengan roh kita yang dilahirkan kembali. Hidup oleh Roh berarti membiarkan hidup kita diatur oleh Roh Kudus dari dalam roh kita. Hal ini berlawanan dengan hidup kita yang diatur oleh hukum Taurat dalam daging kita.
Kata “hidup” dalam 5:16, dalam bahasa aslinya berarti menempuh hidup, berjalan dengan langkah yang bebas; karena itu, bertingkah laku, bergerak, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, menyiratkan kebiasaan hidup sehari-hari yang umum (lihat Rm. 6:4; 8:4; Flp. 3:17-18). Dalam ayat ini Paulus menyuruh kita menempuh kehidupan sehari-hari kita hidup, bertindak, dan berperilaku oleh Roh itu.
Dalam menulis ayat 16, Paulus tidak memakai istilah Roh Kudus. Ia bahkan tidak memakai kata sandang tertentu di depan kata Roh. Kita telah menunjukkan bahwa Roh dalam pasal 5 ditujukan kepada Roh yang tinggal dan berbaur di dalam roh kita. Karena itu, Roh di sini adalah Roh yang telah berbaur. Namun, penekanannya ialah pada Roh yang tinggal dalam batin. Ketika Perjanjian Baru menunjuk kepada Roh yang tinggal di batin, hal itu menyiratkan bahwa roh kita dihuni oleh Roh itu, dua roh menjadi satu roh. Seperti dikatakan oleh Paulus dalam 1Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Dengan demikian Roh dalam 5:16 menunjukkan Roh Kudus berbaur dengan roh manusia. Setiap orang yang telah beroleh selamat tentu memiliki roh semacam ini dalam batinnya. Dilahirkan kembali berarti memiliki roh yang berbaur, yakni Roh Kudus berbaur dengan roh kita.
Dalam 3:2 Paulus mengajukan satu pertanyaan kepada orang-orang Galatia, “Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman?” (Tl.). Paulus berusaha mengesankan kaum beriman yang telah diselewengkan itu dengan fakta bahwa mereka telah menerima Roh itu, yang sekarang berbaur dengan roh mereka. Pada ayat berikutnya ia bertanya lebih lanjut, “Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?” Mereka memulai kehidupan kristiani mereka dengan Roh itu, namun mereka telah diselewengkan dari Roh itu kepada hukum Taurat, sunat, dan peraturan-peraturan agama Yahudi. Setelah membahas sekian banyak masalah penting dalam pasal 3 dan 4, sekarang dalam 5:16, Paulus menyuruh mereka hidup oleh Roh. Orang-orang Galatia tidak perlu hidup oleh hukum Taurat, sunat, atau peraturan-peraturan; bagi mereka cukuplah hidup oleh Roh. Jika mereka mau hidup oleh Roh, mereka pasti tidak akan memenuhi hawa nafsu daging.
Dalam pasal 5 Paulus menunjukkan bahwa hanya ada satu pilihan kita: hidup oleh Roh, atau hidup oleh daging. Kita telah nampak bahwa daging adalah ekspresi sepenuhnya dari manusia tripartet yang telah jatuh, Roh itu adalah realisasi akhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Jadi, hidup oleh Roh berarti hidup oleh Allah Tri-tunggal yang telah melalui proses. Karena penebusan Kristus dan pekerjaan melahirkan kembali dari Roh itu, maka kita yang telah menerima penyaluran Allah dapat hidup oleh Roh, bukan oleh daging. Ini berarti kita tidak hidup oleh diri kita yang telah jatuh, tetapi hidup oleh Allah Tri-tunggal yang telah melalui proses. Kita memiliki Allah Tri-tunggal yang telah melalui proses sebagai Roh almuhit di dalam roh kita. Tidak dapat disangkal bahwa kita memiliki realitas yang sedemikian ajaib ini melalui penebusan Kristus dan kelahiran kembali Roh itu, serta penyaluran Allah. Sudah tentu, kita pun harus melawan insan tripartet kita yang telah jatuh. Mengenai hidup dan perilaku kita, kita ada kemungkinan hidup oleh insan yang telah jatuh atau oleh Persona ajaib dalam roh kita.
Kita tidak seharusnya kembali kepada hukum Taurat. Jika kita mencoba memelihara hukum Taurat, mencoba berbuat bajik untuk menyenangkan Allah, kita akan berada di dalam daging, sebab hukum Taurat bertalian dengan daging. Setiap kali kita ingin memenuhi tuntutan hukum Taurat, berarti kita menggunakan daging kita. Ini berarti daging tidak saja aktif pada saat kita berbuat jahat, ia juga aktif pada saat kita berusaha melakukan hukum Taurat. Setiap kali kita mencoba berbuat bajik di dalam diri kita sendiri, niscaya daging akan aktif. Janganlah mencoba memenuhi hukum Taurat, melainkan hiduplah oleh Allah Tritunggal yang telah melalui proses, yang adalah Roh pemberi hayat almuhit yang berhuni di dalam roh kita. Paulus menulis Kitab Galatia tidak hanya untuk menyelamatkan kaum beriman Galatia yang telah diselewengkan kepada hukum Taurat di aspek negatifnya, tetapi juga untuk membuat mereka sadar bahwa kaum beriman memiliki Roh pemberi hayat yang almuhit di dalam roh mereka, sehingga mereka dapat hidup, berjalan, dan berperilaku oleh Roh ini di pihak positifnya. Adalah mungkin bagi kita untuk hidup dan berperilaku oleh Roh ini. Janganlah percaya kepada kelemahan, kegagalan, atau kekurangan kita. Kita harus melupakan semua perkara semacam itu dan nampak bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses sekarang ini ada di dalam kita; bukan hanya menjadi Penebus dan Penyelamat kita, tetapi juga menjadi Roh yang almuhit itu.
Saya sangat menyukai ungkapan Paulus ini: “Hidup oleh Roh.” Dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus terutama tidak menyuruh kita hidup menurut doktrin, juga tidak hidup menurut ayat-ayat Alkitab tertentu. Tetapi ini tidak berarti hidup kita tidak boleh menurut Alkitab. Di sini pokoknya ialah Paulus menyuruh kita hidup oleh Roh dengan cara yang hidup. Pelajaran yang terpenting bagi kita ialah berperilaku di dalam roh kita. Ini adalah perkara yang mendasar.
Selagi muda, saya membaca buku tentang bagaimana menjadi pemenang, bagaimana menjadi kudus, dan bagaimana berdoa. Pada akhirnya saya baru memahami bahwa cara atau jalan untuk menang dan kudus serta memiliki kehidupan doa yang wajar ialah hidup di dalam roh. Cara yang wajar untuk berbicara kepada suami atau istri Anda ialah berbicara di dalam roh. Kita tidak perlu mencari-cari metode. Kita telah memiliki satu-satunya metode, yaitu: hidup di dalam roh. Cara yang tepat untuk membaca Alkitab juga adalah membacanya di dalam roh. Cara untuk mengatasi dosa, menanggulangi watak, dan mengalahkan Iblis adalah hidup di dalam roh. Hidup oleh Roh berarti menempuh kehidupan sehari-hari kita di dalam roh kita.
Roh kita tidak mungkin dipisahkan dari Roh itu, sebab dua roh telah berbaur dan menjadi satu roh. Kita telah menyinggung perkataan Paulus dalam 1Korintus 6:17: siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Karena roh kita berbaur dengan Roh itu, maka kita perlu belajar menempuh kehidupan sehari-hari kita di dalam Roh. Penekanan kita terhadap pentingnya menempuh kehidupan sehari-hari di dalam roh kita sekali-kali tidaklah berlebihan.
Dalam sehari sering kali kita ingin keluar dari roh kita. Sepanjang hari mungkin kita berkali-kali meninggalkan roh kita dan hidup di dalam daging. Sebagai contoh, jika istri Anda berbicara kepada Anda dengan nada tertentu, Anda mungkin segera meninggalkan roh Anda dan berkata kepada istri Anda menurut daging. Sekalipun sikap Anda sangat baik terhadap istri Anda, asalkan Anda tidak di dalam roh, Anda akan berada di dalam daging. Kita tidak dapat masuk ke dalam roh sekali untuk selama-lamanya. Sebaliknya, kita perlu berlatih hidup di dalam roh secara berkesinambungan.
Waktu saya masih muda, saya tidak mengapresiasi perkataan Tuhan tentang berjaga-jaga dan berdoa (Mat. 26:41). Tetapi semakin saya mempraktekkan hal hidup dalam roh dalam kehidupan sehari-hari saya, saya semakin mengakui perlunya saya berjaga-jaga dan berdoa. Kita perlu berjaga-jaga supaya tidak terpisah dari roh; kita pun perlu berdoa untuk kembali ke dalam roh, dan tinggal di situ. Kehidupan kristiani adalah kehidupan yang tinggal di dalam roh. Karena kita begitu mudah ditarik keluar dari roh kita, maka kita perlu berjaga-jaga dan berdoa. Dalam surat Paulus kepada orang-orang Kolose, ia mengatakan bahwa kita perlu “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur” (4:2). Dalam Efesus 6:18 Paulus juga berkata tentang “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang kudus.” Saya ulangi, kita perlu berjaga-jaga untuk melihat apakah kita berada di dalam roh atau tidak, dan berdoa supaya kita terpelihara di dalam roh.
Jika kita menetap di dalam roh kita, segala problem akan terpecahkan, dan kita akan menikmati Roh almuhit yang berhuni di dalam roh kita. Di dalam roh kita makan minum Tuhan dan mengambil bagian dalam berkat Injil. Penting sekali kita memahami bahwa kehidupan kristiani tak lain adalah kehidupan di dalam roh. Inilah sebabnya dalam tulisan Paulus, Roh itu dan roh kita dibicarakan berulang-ulang. Di luar roh, tidak mungkin ada kehidupan kristiani. Bila kita berada di dalam roh, dengan serentak kita akan berada di dalam Roh itu, sebab Roh itu bersatu dengan roh kita. Kali pertama kita mengapresiasi kemustikaan Tuhan Yesus dan berseru kepada nama-Nya, maka suatu kesatuan yang organik terjadi antara Roh itu dengan roh kita yang dilahirkan kembali. Kesatuan yang organik ini dapat dilukiskan dengan istilah perbauran.
Dalam 5:16 Paulus berkeyakinan untuk mengatakan bahwa jika kita hidup oleh Roh, kita akan sama sekali tidak memenuhi keinginan daging. Jalan untuk menjadi kudus, untuk mengatasi dosa, untuk menjadi rohani, dan untuk memiliki kehidupan doa adalah hidup oleh Roh.
I. HIDUP OLEH ROH
Kita telah menunjukkan, kalau kita hidup oleh Roh, kita akan sama sekali tidak memenuhi keinginan atau nafsu daging. Selain itu, kalau kita hidup oleh Roh, kita akan dipimpin oleh Roh. Bila kita hidup oleh Roh, kita akan memiliki pimpinan Tuhan, sampai-sampai dalam masalah yang biasa, seperti dalam cara bicara kita kepada orang lain.
Dalam 5:18 Paulus berkata, “Akan tetapi, jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.” Hukum Taurat berhubungan dengan daging kita (Rm. 7:5), dan daging kita berlawanan dengan Roh (Gal. 5:17). Karena itu, Roh berlawanan dengan hukum Taurat. Ketika kita hidup menurut Roh itu, yang ada di dalam roh kita yang dilahirkan kembali, kita tidak akan memenuhi keinginan daging (ayat 16). Ketika kita dipimpin oleh Roh, kita tidak berada di bawah hukum Taurat. Roh hayat, bukan huruf-huruf hukum Taurat, adalah prinsip yang menuntun, mengatur kehidupan kristiani kita dalam roh kita yang dilahirkan kembali. Jika kita hidup oleh Roh, dengan otomatis kita akan tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, sebab Roh itu akan memimpin kita meninggalkan hukum harfiah itu.
II. PEPERANGAN ANTARA DAGING DAN ROH ITU
Dalam 5:17 Paulus berkata, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Ayat ini menunjukkan bahwa ada peperangan antara daging dengan Roh itu. Daging bertentangan dengan Roh itu. Keinginan daging menentang Roh itu karena keinginannya sendiri, dan Roh itu menentang daging demi kehendak Allah.
III. PERBUATAN DAGING
Dalam 5:19 Paulus membicarakan tentang “perbuatan daging.” Daging adalah ekspresi Adam yang lama. Hayat Adam lama yang telah jatuh diekspresikan secara riil dalam daging, dan perbuatan daging, seperti yang terbentang dalam ayat 19-21, adalah berbagai aspek dari ekspresi daging. Percabulan, kecemaran, hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, semua berhubungan dengan keinginan tubuh yang telah rusak. Perseteruan, perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, dan kedengkian, semua berhubungan dengan jiwa yang telah jatuh, yang sangat erat hubungannya dengan tubuh yang telah rusak. Penyembahan berhala dan sihir berhubungan dengan roh yang mati. Ini membuktikan bahwa ketiga bagian manusia yang telah jatuh tubuh, jiwa, dan roh semuanya terlibat dalam daging yang rusak dan jahat.
Perbuatan-perbuatan daging itu tersusun dalam berbagai kelompok: percabulan, kecemaran, dan hawa nafsu adalah satu kelompok, berkenaan dengan nafsu jahat. Penyembahan berhala dan sihir adalah satu kelompok, berkenaan dengan penyembahan setan. Perseteruan, perselisihan, iri hati, dan kemarahan adalah satu kelompok, berkenaan dengan suasana hati yang jahat. Kepentingan diri sendiri, percekcokan, perpecahan, dan kedengkian adalah satu kelompok, berkenaan dengan bergolong-golong. Istilah “perpecahan” dalam ayat 20 dalam bahasa Yunaninya sama dengan pengajaran-pengajaran sesat dalam 2Petrus 2:1, mengacu kepada pendapat aliran (Terjemahan Baru Darby), atau sekte. Kemabukan dan pesta pora adalah satu kelompok, berkenaan dengan foya-foya.
Dalam 5:21 Paulus berkata, “Siapa saja yang melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Warisan Kerajaan Allah mengacu kepada kenikmatan kerajaan yang akan datang sebagai pahala bagi kaum beriman pemenang. Berbeda dengan keselamatan kaum beriman, pahala diberikan sebagai tambahan keselamatan. Kaum beriman yang mempraktekkan perbuatan-perbuatan daging yang tercantum dalam ayat-ayat di atas tidak akan mewarisi kerajaan yang akan datang sebagai pahala.
IV. BUAH ROH ITU
Apa yang dilakukan daging adalah perbuatan tanpa hayat (ayat 19), apa yang dihasilkan Roh itu adalah buah yang penuh hayat (ayat 22). Hanya sembilan macam buah Roh, sebagai berbagai ekspresi Roh hayat di dalam kita yang disebutkan dalam ilustrasi di sini. Namun, buah Roh juga mencakup butir-butir tambahan, seperti rendah hati (Ef. 4:2; Flp. 2:3), kasih mesra (Flp. 2:1), beribadah (2 Ptr. 1:6), keadilan, kebenaran (Rm. 14:17; Ef. 5:9), kekudusan (Ef. 1:4; Kol. 1:22), dan kemurnian (Mat. 5:8). Selain lemah lembut, seperti dalam ayat ini, rendah hati juga disebutkan sebagai kebajikan dalam Efesus 4:2 dan Kolose 3:12. Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita (Rm. 14:17) adalah semua aspek Kerajaan Allah hari ini. Tetapi hanya damai sejahtera dan sukacita yang disebut di sini. Ibadah dan kesabaran (2 Ptr. 1:5-7), yang dianggap sebagai pengendalian diri dan kasih, ciri khas pertumbuhan rohani, tidak disebut di sini. Kebenaran, belas kasih, dan kemurnian yang disebut bersama dengan lemah lembut dan damai sejahtera (Mat. 5:5-9) sebagai syarat realitas kerajaan hari ini, ketiganya juga tidak disebut di sini.
Sebagaimana daging adalah ekspresi Adam yang lama, maka Roh itu adalah realisasi Kristus. Kristus sebenarnya diperhidupkan sebagai Roh itu. Butiran buah Roh yang disebut di sini adalah karakteristik Kristus.
Kita telah menunjukkan bahwa buah Roh itu penuh dengan hayat, dan berbeda dengan perbuatan-perbuatan daging, yang tanpa hayat. Tambahan pula, buah di sini berbentuk tunggal, yakni buah hayat yang unik; sedang perbuatan-perbuatan itu jelas berbentuk jamak. Perbuatan-perbuatan itu banyak, tetapi buah hanya satu.
Buah Roh itu mencakup berbagai ekspresi Roh yang berhuni di batin. Setelah membentangkan kesembilan aspek dari buah Roh itu, Paulus mendeklarasikan bahwa “Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (ayat 23). Perhatikanlah bahwa Paulus mengatakan “hal-hal itu”, bukan “hal-hal ini”. Kalau ia mengatakan, “hal-hal ini”, berarti buah Roh itu mungkin terbatas pada kesembilan hal yang terdaftar dalam ayat tersebut. Tetapi Paulus mengatakan “hal-hal itu”, menunjukkan fakta adanya lebih banyak aspek daripada kesembilan hal yang dipakainya sebagai ilustrasi.
Kata Paulus, tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Ini dikarenakan hukum Taurat menghukum segala yang jahat. Karena tidak satu pun dari aspek buah Roh itu yang jahat, maka tidak ada hukum yang menentang buah hayat tersebut.
Kita perlu membedakan pekerti-pekerti alamiah kita dengan pekerti-pekerti yang adalah buah Roh itu. Salah satu aspek buah Roh itu adalah kasih. Sebelum kita menerima hayat ilahi dan beroleh selamat, kita memiliki kapasitas untuk mengasihi. Kita pun mengenal sedikit tentang sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan kemurahan, se-perti juga pekerti-pekerti lainnya yang terdaftar di sini. Ketika kita masuk ke dalam kehidupan gereja, kita membawa pekerti-pekerti alamiah kita ke dalam gereja bersama kita. Ini berarti kita membawa kasih, kemurahan, kesetiaan, dan kelemahlembutan alamiah kita ke dalam kehidupan gereja. Misalnya seorang beriman menggunakan penguasaan dirinya yang alamiah untuk menanggulangi suatu situasi. Ya, memang ia berhasil menguasai dirinya sendiri, tetapi hal itu membutuhkan upaya yang sangat besar. Penguasaan dirinya itu dilakukan dengan menggertak gigi. Penguasaan diri yang semacam ini jauh berbeda dengan yang berasal dari buah Roh itu.
Sifat-sifat alamiah tidak dapat menampung apa-apa yang berasal dari Allah, sedangkan buah Roh itu dipenuhi dengan hakiki rohani, yang ilahi. Kita harus ingat bahwa itulah buah Roh itu. Hakiki, unsur dari buah itu adalah Roh itu. Yang kita butuhkan dalam kehidupan gereja adalah kasih yang penuh dengan hakiki Roh itu. Unsur Roh itu juga seharusnya terdapat di dalam sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri kita. Semua pekerti tersebut harus menjadi ekspresi Roh itu.
Karena Roh itu adalah perwujudan Kristus, maka pekerti-pekerti yang merupakan berbagai aspek buah Roh itu sebenarnya adalah ciri-ciri dan ekspresi Kristus. Ini berarti memperhidupkan pekerti-pekerti tersebut adalah memperhidupkan Kristus sendiri.
Perbedaan antara sifat-sifat alamiah dan buah Roh itu ialah: sifat alamiah tidak memiliki sesuatu yang dari Roh itu, sedang buah Roh itu penuh dengan hakiki dan unsur Roh itu. Ketika seseorang hidup menurut sifat-sifat atau pekerti-pekerti alamiahnya, ia tidak perlu kembali ke rohnya. Ia mungkin mengasihi orang lain atau menyatakan penguasaan dirinya melalui dan di dalam dirinya sendiri. Tetapi, jika kita ingin memiliki berbagai aspek dari buah Roh itu, haruslah kita berada di dalam roh kita. Untuk ini, diri kita sama sekali tidak berguna. Bila kita hidup di dalam Roh yang telah berbaur, kita akan memperhidupkan Kristus dalam berbagai aspek, dan dalam segala corak sifat dan pekerti rohani. Saya harap gereja-gereja akan diperkaya dengan kehidupan semacam ini dan ditinggikan melalui kehidupan kita dalam roh yang berbaur tersebut. Kemudian dalam kehidupan gereja akan muncul berbagai ekspresi Kristus. Inilah harapan Paulus ketika menyuruh kita hidup oleh Roh.
Jika kita hidup oleh Roh, dengan otomatis kita akan mengalahkan daging dan Iblis yang bercokol di balik daging. Bila kita menang perang melawan daging dengan cara demikian, kehendak Allah untuk mengekspresikan Kristus akan terlaksana. Allah menghendaki kita hidup oleh Roh demi mengekspresikan Kristus. Yang kita butuhkan dalam pemulihan Tuhan hari ini ialah hidup oleh Roh untuk mengekspresikan Kristus dalam berbagai pekerti.