← Daftar isi Galatia · bab 1/22

TIDAK TERPISAH DARI KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Gal. 5:1-6

Keempat pasal pertama Kitab Galatia menampilkan wahyu Injil yang diberitakan oleh rasul Paulus. Jika Anda membandingkan wahyu dalam pasal-pasal ini dengan wahyu yang tercantum dalam keempat kitab Injil, Anda akan nampak pada aspek-aspek tertentu wahyu dalam pasal-pasal ini lebih kaya, lebih dalam, dan lebih tinggi daripada wahyu-wahyu yang tercantum dalam keempat kitab Injil. Sebagai contoh, dalam keempat kitab Injil kita tidak dapat menemukan lukisan jelas tentang hasrat hati Allah. Tetapi, dalam keempat pasal Kitab Galatia telah disajikan lukisan yang jelas tentang hal itu. Seperti telah kita tunjukkan, janji Allah kepada Abraham adalah pengungkapan hasrat hati Allah. Karena kebanyakan orang Kristen hanya memperhatikan keempat kitab Injil, maka mereka tidak dapat mengenal hasrat hati Allah. Selain itu, walau Yohanes 1 membicarakan anugerah, dalam Kitab Galatia kita nampak bahwa anugerah justru adalah penggenapan janji Allah menurut hasrat hati Allah. Kitab-kitab Injil memang juga menampilkan persona Kristus yang hidup yang ditinjau dari empat aspek, namun bila tidak ada keempat pasal pertama Kitab Galatia, kita tidak dapat memahami Kristus sedemikian dalamnya. Demikian pula mengenai Roh itu. Walaupun Injil Yohanes 14 hingga 16 banyak mewahyukan tentang Roh itu, tetapi bila kita tidak memiliki Kitab Galatia, kita tidak mungkin mengenal Roh itu adalah Kristus sebagai keturunan Abraham yang menggenapi janji itu. Dalam hal penggenapan janji, Kristus adalah keturunan itu, tetapi, untuk kenikmatan kita, Dia adalah tanah itu, yang melambangkan Roh almuhit. Jadi, keturunan itu adalah untuk penggenapan, sedang tanah untuk kenikmatan.

Dalam berita ini kita tiba pada 5:1-6, yang memulai bagian besar lain dari Kitab Galatia, yakni membahas kehidupan dan perilaku anak-anak Allah (5:1-6:17). Sesudah menyajikan wahyu yang dalam yang tercantum pada pasal 1 hingga 4, Paulus beralih kepada kehidupan dan perilaku anak-anak Allah menurut Roh itu.

I. JANGAN MAU DIKENAKAN KUK PERHAMBAAN

Dalam 5:1 Paulus berkata, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Pesan pertama yang diberikan Paulus kepada kita tentang kehidupan dan perilaku kita adalah jangan mau dikenakan kuk perhambaan. Pesan ini didasarkan pada wahyu yang dibentangkan dalam pasal 1 hingga pasal 4, di mana ia membicarakan tentang perhambaan di bawah hukum Taurat dan bagaimana Kristus telah melepaskan kita dari perhambaan itu. Kemerdekaan dalam 5:1 menunjukkan kemerdekaan kita melalui kematian penebusan dan kebangkitan Kristus yang menyalurkan hayat sehingga kita dapat menikmati kemerdekaan ini dalam anugerah. Berdiri teguh berarti berdiri teguh dalam kemerdekaan dari perhambaan hukum Taurat, tidak menyimpang dari Kristus, dan tidak hidup di luar anugerah.

Istilah yang diterjemahkan “dikenakan” dalam bahasa Yunani dapat pula diterjemahkan “terperangkap”. Menyimpang dari Kristus kepada hukum Taurat berarti terjerat atau terperangkap. Kuk perhambaan adalah ikatan hukum Taurat yang membuat pemelihara hukum Taurat menjadi hamba di bawah ikatan kuk.

Dalam 5:1 Paulus menggunakan ungkapan yang tidak lazim, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.” Gaya tulisan Paulus di sini agak sedikit aneh, bahkan berlebihan. Ia boleh berkata dengan sederhana, “Kristus telah memerdekakan kita.” Memang Alkitab acap kali berlebihan dan berulang-ulang. Lihatlah, betapa seringnya Paulus membicarakan tentang iman dalam Kitab Galatia, dan betapa sering pula Perjanjian Baru menyinggung pembenaran oleh iman. Dalam 5:1 Paulus menulis secara berlebihan untuk mengesankan kita dengan kemustikaan kemerdekaan yang kita peroleh di dalam Kristus. Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Galatia, “Aku harap kalian ingat bahwa Kristus membebaskan kita supaya kita mendapatkan kemerdekaan. Karena Kristus telah membebaskan kita untuk kemerdekaan, maka kita harus berdiri teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Paulus menggunakan istilah yang keras demi mengesankan orang-orang Galatia yang telah diselewengkan itu, agar mereka mau melepaskan kuk perhambaan dan kembali kepada kemerdekaan mereka di dalam Kristus.

II. TIDAK TERPISAH DARI KRISTUS

Dalam 5:4 Paulus selanjutnya kembali menggunakan ungkapan yang tidak lazim: “Kamu lepas (terpisah) dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan pembenaran melalui hukum Taurat; kamu hidup di luar (jauh dari) anugerah.” Beberapa penerjemah menerjemahkan “lepas dari Kristus” dari 5:4 ini dengan cara yang berbeda. Versi King James menerjemahkan: “Kristus telah menjadi tidak berguna bagi kamu.” Versi American Standar menerjemahkan, “Kamu telah terputus dari Kristus.” Versi J.N. Darby menerjemahkan, “Kamu telah kehilangan segala manfaat dari Kristus.” Lepas dari Kristus berarti dikurangi hingga tidak memiliki apa-apa dari Kristus, kehilangan manfaat yang bisa didapat dari Kristus, karena itu dipisahkan dariNya (Terjemahan Baru Darby), sehingga Ia menjadi tidak berguna. Kembali kepada hukum Taurat berarti terlepas dari Kristus, terpisah dari Kristus.

Berbagai terjemahan atas 5:4 ini semuanya terkandung dalam ungkapan Yunani yang satu ini. Ungkapan ini secara harfiah berarti dikurangi hingga tidak memiliki apa-apa dari Kristus. Dean Alford mengatakan bahwa penerjemahan yang tepat, akurat, dan harfiah atas istilah Yunani ini seharusnya adalah “dihapuskan”, yang dalam makna aslinya berarti dinihilkan, tidak berarti apa-apa. Jadi, dalam ayat ini Paulus membicarakan tentang dinihilkannya mereka dari Kristus. Ia seolah-olah berkata kepada orang-orang Galatia, “Hai kaum saleh yang terkasih, kamu yang menuntut pembenaran oleh hukum Taurat, kamu telah dinihilkan dari Kristus. Kamu dahulu telah diokulasikan ke dalam Kristus, dan kamu telah menikmati kekayaan Kristus. Tetapi, dengan kembali kepada hukum Taurat dan sunat, kamu telah dinihilkan, kamu telah dihapuskan dari Kristus.”

Jika sebuah ranting dari pohon yang bermutu rendah diokulasikan ke dalam pohon yang bermutu tinggi, ia akan menikmati segala kebaikan sebagai bagian pohon yang bermutu tinggi itu. Namun, misalkan ranting yang diokulasikan itu kemudian dipisahkan dari pohon itu, dapatlah kita katakan bahwa ia dinihilkan dari pohon yang bermutu tinggi itu, sebab dengan dipisahkannya dari pohon itu, ia melepaskan segala kebaikan dari okulasinya. Karenanya, ia akan dikurangi hingga tidak memiliki apa-apa dari pohon yang bermutu tinggi itu, khususnya dari kenikmatan atas kekayaan pohon itu. Ini melukiskan maksud Paulus dalam

5:4. Dengan percaya ke dalam Kristus dan dibaptis ke dalam Dia, kita telah diokulasikan ke dalam Dia sebagai pohon yang kaya. Sebagai ranting-ranting yang diokulasikan ke dalam Dia, kita dapat menikmati kekayaan-Nya yang tidak terduga. Selama kita tetap terokulasi di dalam Dia, kita boleh menikmati segala kekayaan-Nya. Tetapi, jika kita terlepas dari Kristus, yaitu membiarkan Dia lepas atau meninggalkan kita dalam pengalaman kita secara riil, kita akan dinihilkan dari Kristus yang kaya tak terduga itu.

Orang-orang Galatia telah diselewengkan kepada hukum Taurat dan kepada sunat. Dengan beralih kepada hukum Taurat sedemikian ini, mereka telah terpisah dari Kristus. Kata Darby, mereka telah kehilangan segala manfaat dari Kristus, dan karenanya mereka terpisah dari Dia.

Hari ini sulit bagi kita untuk menemukan orang-orang Kristen yang tidak terpisah dari Kristus atas satu atau beberapa hal. Orang-orang Kristen manakah yang senantiasa diokulasikan pada Kristus secara riil untuk menikmati segala kekayaan-Nya? Kita mengakui bahwa dalam kalangan kekristenan tertentu ada banyak orang Kristen. Tetapi, kekristenan tertentu itu telah menihilkan mereka dari Kristus. Demikian pula orang-orang Kristen di banyak denominasi. Berbagai ritual, corak, dan praktek telah menyebabkan mereka dinihilkan dari Kristus. Semua perkara itu telah membuat kaum beriman kehilangan segala manfaat dari Kristus. Hal ini juga terjadi di antara orang-orang dalam suatu perhimpunan Kristen lainnya, di mana penekanan mereka tertumpu pada doktrin yang benar. Banyak anggota dari perhimpunan ini yang lebih memperhatikan doktrin daripada tinggal di dalam Kristus dan kenikmatan atas Kristus. Pada hakekatnya, mungkin mereka tidak pernah menggunakan ungkapan “kenikmatan atas Kristus”. Mereka sebelumnya telah diduduki oleh doktrin; tidak memperhatikan bagaimana berkontak dengan Tuhan, tinggal di dalam roh, berhuni di dalam Tuhan, dan menikmati kekayaan Kristus. Semuanya itu bagi mereka mungkin seperti bahasa asing. Walaupun mereka menganggap diri sendiri sebagai orang-orang Kristen yang paling alkitabiah, tetapi, pada tahap tertentu, mereka juga telah dinihilkan dari Kristus. Orang-orang yang berada dalam banyak aktivitas Pentakosta dan Kharismatik hari ini juga telah dinihilkan dari Kristus pada tahap tertentu. Ada beberapa yang memperhatikan mujizat-mujizat seperti memperpanjang kaki dan berbahasa lidah, namun tidak memperhatikan tetap terokulasi ke dalam Kristus demi menikmati kekayaan-Nya.

Berbagai macam orang Kristen sedikit atau banyak telah terpisah dari Kristus. Saya bertanya sekali lagi, “Di manakah orang-orang Kristen yang setiap saat tinggal di dalam Kristus untuk menikmati kekayaan-Nya? Di manakah kaum beriman yang tidak terpisah dari Kristus, dan di manakah orang-orang beriman yang tidak kehilangan segala manfaat mereka di dalam Kristus?” Orang-orang Kristen di mana-mana telah terpisah dari Kristus, ini adalah satu fakta yang menyedihkan. Kita harus berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah kami dan berilah kami anugerah, agar kami tidak terpisah dari-Mu. Kami mau tinggal di dalam-Mu sebagai persona almuhit untuk menikmati kekayaan-Mu.” Kita bersyukur kepada Tuhan, karena belas kasihan dan anugerah-Nya, Ia telah melindungi kita dalam diri-Nya sendiri untuk menikmati kekayaan-Nya.

Betapa kasihannya situasi di tengah-tengah orang-orang Kristen hari ini! Banyak yang memperhatikan macam-macam tata cara dan doktrin, cara tertentu dalam pembaptisan, atau karunia-karunia rohani. Tetapi nyaris tidak ada orang beriman yang memperhatikan kenikmatan atas Kristus sebagai Roh almuhit di dalam roh kita. Betapa berkatnya kita dapat bersaksi bahwa setiap hari kita menikmati kekayaan Roh pemberi hayat yang almuhit ini! Oleh belas kasihan Tuhan saya dapat bersaksi bahwa dari hari ke hari saya selalu menikmati Dia.

Dalam ayat di mana Paulus membicarakan tentang terpisah dari Kristus, Paulus juga membicarakan tentang “jatuh dari anugerah”. Terpisah dari Kristus berarti jatuh dari anugerah. Ini menyiratkan Kristus sendiri adalah anugerah yang di dalamnya kita berada. Dalam 5:2 Paulus berkata, “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” Para penganut agama Yahudi membuat sunat menjadi suatu syarat keselamatan (2:3-5; Kis. 15:1). Jika kaum beriman Galatia menerima sunat dan membuatnya menjadi syarat keselamatan, Kristus tidak akan berguna bagi mereka. Karena dengan kembali kepada hukum Taurat, mereka dengan spontan melepaskan Kristus. Untuk memahami pemikiran Paulus dalam 5:2-4, kita perlu mengetahui latar belakang ditulisnya ayat-ayat ini. Latar belakangnya berhubungan dengan janji yang Allah buat dengan Abraham tentang diberkatinya segala bangsa. Kira-kira dua ribu tahun sesudah janji ini diberikan, Kristus datang sebagai penggenapannya. Selaku keturunan itu, Ia menggenapkan janji, supaya Ia menjadi anugerah bagi kenikmatan kita. Setelah menggenapi janji itu, Kristus menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, dan Dialah berkat yang dijanjikan itu. Seperti yang ditunjukkan dalam 3:14, kita telah menerima janji Roh itu sebagai berkat Injil. Dengan menikmati Roh pemberi hayat inilah kita menjadi anak-anak menurut Roh itu, yakni ahli-ahli waris dari berkat yang dijanjikan. Inilah status kita, kedudukan kita, dan kenikmatan kita. Karena alasan inilah, dalam 5:1 Paulus menasihati kita untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan dan kenikmatan yang kita miliki di dalam Kristus. Namun, jika kita kembali lagi kepada hukum Taurat dan bersunat, kita akan terpisah dari Kristus, kehilangan segala manfaat dari Kristus. Selanjutnya Kristus akan tidak berguna apa-apa bagi kita dalam pengalaman kita. Terpisah dari Kristus sedemikian ini berarti jatuh dari anugerah.

Pengalaman yang Paulus tunjukkan dalam pasal 3 dan 4 sebenarnya berkaitan dengan perihal kita diokulasikan ke dalam Kristus. Kita telah diokulasikan ke dalam persona yang di satu aspek adalah keturunan yang menggenapkan janji itu, dan di aspek lain adalah Roh pemberi hayat sebagai berkat tanah permai itu. Karena posisi kita adalah ranting-ranting yang diokulasikan ke dalam Kristus, maka kita dapat menikmati segala kekayaan-Nya. Namun, jika kita kembali lagi kepada hukum Taurat, kita akan melepaskan diri kita sendiri dari Kristus sebagai pohon yang bermutu tinggi, dan akan terpisah dari Dia. Kita akan dinihilkan dari kenikmatan atas Kristus. Demikian, Kristus pun akan tidak berfaedah sama sekali bagi kita, karena kita jatuh dari anugerah. Bila kita melihat situasi dewasa ini, sedikit sekali orang Kristen yang berdiri di dalam kemerdekaan dan tinggal dalam status mereka sebagai ranting-ranting yang diokulasikan untuk menikmati kelimpahan kekayaan Kristus. Sebaliknya, hampir semua orang Kristen telah terpisah dari Kristus. Pernahkah Anda terpisah dari Kristus? Pernahkah Anda dinihilkan dari Dia, kehilangan segala manfaat yang seharusnya untuk Anda dalam Kristus? Saya harap kita semua yang berada dalam pemulihan Tuhan dapat mendeklarasikan dengan perkasa: “Tidak, kita tidak terpisah dari Kristus! Kita tinggal di dalam Dia untuk menikmati segala apa ada-Nya bagi kita.”

III. OLEH ROH ITU, KARENA IMAN, MENANTIKAN KEBENARAN YANG KITA HARAPKAN

Dalam 5:5 Paulus mengatakan, “Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan pembenaran (kebenaran) yang kita harapkan.” Oleh Roh itu (Roh Kudus) berlawanan dengan dalam daging (3:3). Tambahan pula, karena iman berlawanan dengan karena melakukan hukum Taurat (3:2). Kebenaran yang kita harapkan adalah diri Kristus sendiri (1Kor. 1:30). Kebenaran ini bukan kebenaran dalam daging dari pekerjaan hukum Taurat, tetapi dalam Roh karena iman. Kristus adalah kebenaran yang kita harapkan. Dia adalah kebenaran kita pada hari ini, dan pengharapan kita pada masa yang akan datang. Kita bukan mencari keberhasilan bumiah. Oleh Roh itu dan karena iman kita menantikan Kristus sebagai kebenaran yang kita harapkan.

Dalam 5:5 Paulus menjajarkan Roh itu dengan iman. Kita telah menunjukkan bahwa Roh itu dilambangkan dengan tanah permai. Kita juga telah nampak bahwa iman bagaikan kamera yang memotret pemandangan anugerah. Untuk memiliki kenikmatan yang wajar, kita perlu memiliki Roh itu sebagai tanah permai yang almuhit dan iman sebagai sarana untuk menikmati tanah permai ini. Ketika kita menikmati Roh itu demi iman, kita akan dengan damba menantikan kebenaran yang akan datang yang kita harapkan.

Dalam 5:6 Paulus melanjutkan, “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Di luar Roh itu dan iman, tidak ada hal lain yang berfaedah. Di dalam Kristus Yesus, baik bersunat maupun tidak bersunat tidak ada artinya sama sekali. Yang berfaedah adalah Roh itu, di pihak Allah; dan iman, di pihak kita. Roh itu adalah tanah permai almuhit bagi kenikmatan kita, dan iman adalah organ kita untuk mengambil bagian dalam tanah kaya tersebut dan menikmatinya. Karena Roh itu dan iman berfaedah, maka kita harus memustikakannya.

Dalam 5:6 Paulus juga mengatakan bahwa iman bekerja melalui kasih. Iman yang hidup itu aktif; bekerja oleh kasih untuk menggenapkan hukum Taurat (5:14). Sunat hanyalah ketentuan di luar, tidak memiliki kuasa hayat. Karena itu, sunat tidak mempunyai arti, tidak memiliki tenaga, tidak memiliki kekuatan yang riil. Namun, iman menerima Roh hayat (3:2), karena itu, penuh dengan kuasa. Iman bekerja melalui kasih, tidak hanya untuk menggenapkan hukum Taurat, tetapi juga untuk tujuan Allah, yaitu untuk melengkapi keputraan Allah bagi ekspresi korporat-Nya Tubuh Kristus.

Kasih berhubungan dengan penghargaan kita terhadap Kristus. Tanpa penghargaan yang sedemikian, iman tidak dapat bekerja. Ketika kita memiliki pendengaran tentang iman, pendengaran tentang iman ini menggugah penghargaan kasih kita, dan penghargaan ini menyebabkan iman itu bekerja. Iman bekerja karena ia mengambil bagian dalam kekayaan-kekayaan Roh pemberi hayat. Semakin kita memiliki pendengaran tentang iman, kita akan semakin memiliki penghargaan dan kasih. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin banyak iman bekerja untuk membawa kita ke dalam kekayaan, faedah dari Roh yang almuhit. Dengan demikian, kita tidak kehilangan faedah dalam Kristus, sebaliknya diperkaya secara berkelimpahan. Kita tidak akan terpisah dari Kristus, melainkan diperkuat dengan suplai yang limpah lengkap dari Roh yang almuhit.

Iman menerima Roh hayat (3:2) dan bekerja melalui kasih untuk memenuhui hukum Taurat (5:13). Iman bekerja melalui kasih sehingga melengkapi keputraan Allah bagi ekspresi-Nya yang korporat. Iman ini merupakan kamera yang memotret pemandangan anugerah, yakni anugerah yang adalah Kristus yang almuhit sebagai Roh pemberi hayat bagi kenikmatan kita.