PASKAH (3)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 12:11-28, 43-51; 13:2-11; 1Kor. 5:7-8; 15:45a, 47b
Penebusan Kristus itu misterius, jauh melampaui pengertian kita. Saya yakin inilah sebabnya Paskah dalam Perjanjian Lama menggambarkan semua unsur, faktor, dan aspek penebusan Kristus yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Jika kita hanya mempunyai kata-kata biasa dalam Perjanjian Baru tanpa gambar dalam Perjanjian Lama, akan sulit bagi kita untuk melihat semua seluk-beluk penebusan Kristus yang ajaib dan misterius itu. Kita bersyukur kepada Tuhan atas gambar penebusan yang disajikan dalam Kitab Keluaran!
Dalam berita-berita terdahulu kita telah membahas sejumlah rincian mengenai Paskah. Kita telah melihat Kristus bukan saja Anak Domba Paskah, bahkan roti tidak beragi, sayur pahit, dan rumah. Darah anak domba disapukan pada ambang atas dan tiang-tiang pintu rumah; keseluruhan dari anak domba termasuk kepala, kaki, dan isi perutnya dimakan. Ketika bani Israel memakan anak domba, mereka harus mengikat pinggang, mengenakan kasut, dan memegang tongkat. Selanjutnya, mereka harus memakan anak domba itu cepat-cepat. Anak domba itu tidak boleh dimakan mentah-mentah atau direbus, tetapi harus dipanggang dalam api. Lagi pula, hisop yang melambangkan iman, dipakai untuk menyapukan darah anak domba Paskah pada ambang atas dan tiang-tiang pintu. Semua seluk-beluk ini harus diperhatikan bani Israel ketika mereka mengambil bagian dalam Paskah. Dalam berita ini kita akan maju selangkah untuk memperhatikan seluk-beluk cara menerapkan anak domba Paskah.
Paskah itu sendiri berlangsung selama satu hari. Diadakan pada hari keempat belas bulan yang pertama, bulan Abib. Berikutnya, ada hari raya lain, hari raya roti tidak beragi, yang berlangsung selama tujuh hari. Dalam Alkitab, tujuh hari menunjukkan jangka waktu yang lengkap, satu periode penuh. Jadi, ketujuh hari ini mengiaskan lamanya masa hidup kita di bumi. Di mata Allah, seluruh masa hidup kita hanyalah tujuh hari.
Hari raya roti tidak beragi dimulai dan diakhiri dengan hari raya. Baik di hari pertama maupun di hari terakhir, mereka tidak diizinkan bekerja. Bani Israel hanya diizinkan makan.
Rincian yang akan kita kemukakan dalam berita ini benar-benar sangat penting. Sejauh ini, yang telah kita bahas hanya bertalian dengan hari raya Paskah yang hanya berlangsung selama sehari. Namun, yang akan kita bahas dalam berita ini bertalian dengan hari raya yang berlangsung selama tujuh hari, suatu periode yang melambangkan masa hidup manusia.
D. TIDAK BOLEH MAKAN YANG BERAGI
ATAU MENYIMPAN RAGI
Mengenai Paskah, Alkitab terutama menekankan hal makan Paskah, bukan hal memelihara Paskah. Misalnya, Lukas 22 mengatakan Tuhan makan Paskah bersama murid-murid-Nya (ayat 11, 15). Jadi, Paskah adalah suatu jamuan untuk kita makan. Keluaran 12 mengatakan makan daging, roti tidak beragi, dan sayur pahit. Makna makan terletak pada fakta bahwa kita hidup berdasarkan apa yang kita makan. Dalam kehidupan manusia, tidak ada yang lebih penting daripada makan.
Bani Israel tidak boleh makan roti yang beragi selama tujuh hari. Keluaran 12:15 mengatakan, “Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu.” Menurut 12:19, tidak boleh ada ragi dalam rumah-rumah dan menurut 13:7, tidak boleh ada ragi yang terlihat pada bani Israel. Selama masa hari raya roti tidak beragi, bani Israel tidak boleh makan roti yang beragi. Ragi harus dibuang dari rumah mereka dan roti yang beragi tidak boleh kelihatan pada mereka.
Makan roti tidak beragi menunjukkan bahwa umat Allah tidak seharusnya hidup di dalam dosa, yakni tidak seharusnya menempuh kehidupan kedosaan. Dalam Alkitab, ragi melambangkan kedosaan, kejahatan, yang bobrok dan najis dalam pandangan Allah. Dalam 1Korintus 5:8 Paulus mengatakan, “ragi keburukan dan kejahatan.”
Ragi membuat sesuatu lebih mudah dimakan. Seandainya roti tidak dibuat dengan gis atau jenis ragi yang lain, roti tersebut akan berat dan keras sehingga sukar dikunyah. Namun jika ke dalam adonan roti ditambahkan gis atau ragi, rotinya akan lunak dan mudah dimakan. Fungsi dosa sama dengan fungsi ragi, melunakkan barang yang keras dan membuatnya lebih mudah untuk kita telan. Sebab itu, prinsip ragi adalah menambahkan unsur yang melunakkan barang yang keras. Contohnya, senda gurau bisa saja menjadi semacam ragi yang memudahkan sesuatu yang menyulitkan untuk diterima.
E. MEMELIHARA HARI RAYA ROTI TIDAK BERAGI SEBAGAI KELANJUTAN HARI RAYA PASKAH
1. Selama Tujuh Hari
Bani Israel harus mengadakan hari raya roti tidak beragi sebagai kelanjutan hari raya Paskah (12:15-20; 13:6-7). Keluaran 12:18 mengatakan, “Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.” Saya telah menunjukkan bahwa pada waktu bani Israel makan anak domba Paskah, mereka juga dituntut untuk makan roti tidak beragi. Kita telah melihat bahwa hari raya Paskah berlangsung selama satu hari, sedangkan hari raya roti tidak beragi menyambungnya selama tujuh hari. Sebab itu, hari raya roti tidak beragi merupakan kelanjutan hari raya Paskah.
Daging anak domba Paskah melambangkan hayat Kristus yang tidak berdosa. Kita tidak hanya menerima kematian dan kebangkitan Kristus, juga menerima ketidakberdosaan-Nya, karena hayat-Nya bukan hayat yang tersalib dan bangkit saja, tetapi juga hayat yang tak berdosa. Sebab itu, kita harus makan daging anak domba dan roti tidak beragi. Artinya mulai saat kita menerima Kristus dan beroleh selamat serta mempunyai suatu permulaan baru dalam hayat, kita mulai menempuh hayat tanpa ragi, kehidupan tanpa dosa.
Keluaran 13:7 mengatakan tidak boleh ada ragi yang terlihat pada bani Israel. Dalam kehidupan kekristenan kita tidak boleh ada ragi yang terlihat. Tidak mungkin kita tidak beragi sama sekali, tetapi mungkin saja tidak memperlihatkan ragi. Walaupun tidak mungkin kita tidak berdosa, kita harus menanggulangi setiap dosa yang terungkap dan yang terlihat. Artinya, kita berkewajiban menanggulangi dosa yang kita sadari. Setiap kali kita menemukan suatu dosa dalam kehidupan kita, kita harus menanggulanginya. Namun demikian, tidaklah berarti kita tidak akan berdosa lagi. Mungkin banyak sekali dosa dalam kehidupan dan lingkungan kita di luar kesadaran kita. Namun, begitu kita menyadarinya, kita harus menanggulanginya. Kita harus menanggulangi dosa yang kita sadari. Kita tidak seharusnya membiarkan dosa apa pun.
Dalam 12:19, kepada bani Israel diberikan peringatan tegas, “Setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.” Dilenyapkan dari jemaah Israel berarti dilenyapkan dari persekutuan umat pilihan Allah. Perkataan yang serius ini berhubungan dengan perkataan Paulus dalam 1Korintus 5:13, “Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.” Mengusir seseorang berarti memutuskan dia dari persekutuan gereja.
Jika kita membiarkan dosa yang tersingkap, persekutuan kita akan terputus. Ini menunjukkan bahwa selaku orang-orang Kristen kita seharusnya menempuh kehidupan tanpa dosa, tidak membiarkan dosa apa pun yang sudah tersingkap. Menanggulangi dosa yang tersingkap berarti mengadakan hari raya roti tidak beragi.
Keluaran 12:14 mengatakan, “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.” Ayat ini menerangkan bahwa Paskah harus dipelihara sebagai satu hari raya. Sama halnya dengan hari raya roti tidak beragi (12:17). Hari raya meliputi makan dan kenikmatan. Tiap kali kita makan tanpa kenikmatan sebagai tujuannya, itu hanyalah makan biasa. Tetapi bila kita makan untuk kenikmatan, makan kita menjadilah suatu hari raya. Misalnya, mungkin setiap hari kita makan pagi, makan siang, dan makan malam tanpa kenikmatan yang khusus. Namun, kadang-kadang kita berkumpul bersama mengadakan pesta. Saat itu, makan kita bertujuan untuk memperoleh kenikmatan. Makan Paskah disebut berhari raya Paskah, karena merupakan makan untuk kenikmatan.
Sewaktu kita beroleh selamat, kita menikmati hari raya Paskah. Namun, hari raya ini seharusnya diikuti langsung oleh hari raya roti tidak beragi. Ini menerangkan bahwa kenikmatan orang Kristen tidak seharusnya berhenti. Namun demikian, dalam pengalaman banyak orang Kristen, hari raya Paskah tidak diikuti oleh hari raya roti tidak beragi. Pada saat mereka diselamatkan, mereka sangat gembira. Tetapi kenikmatan ini tidak lama, karena mereka tidak mengadakan hari raya roti tidak beragi. Artinya, mereka tidak menanggulangi kehidupan kedosaan. Sebaliknya, mereka membiarkan ragi yang terungkap itu. Mereka tidak menanggulangi dosa yang telah tersingkap. Banyak orang Kristen yang tidak merayakan hari raya roti tidak beragi.
Setelah kita menerima Tuhan dan beroleh selamat, seharusnya kita memperpanjang kenikmatan kita dengan menanggulangi dosa. Bukan hanya sehari, melainkan tujuh hari. Artinya, seumur hidup kita seharusnya mempertahankan kenikmatan. Seluruh hidup kita setelah beroleh selamat seharusnya merupakan hari raya roti tidak beragi.
Inilah pandangan Paulus dalam 1Korintus 5. Dalam ayat 7 Paulus mengatakan, “Buanglah ragi yang lama itu, su-paya kamu menjadi adonan yang baru, sebagaimana kamu memang tidak beragi. Sebab Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih” (Tl.). Kemudian dalam ayat 8 dia menambahkan, “Marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” Setiap hari kita harus memelihara hari raya roti tidak beragi. Sepatutnyalah kita mengadakan hari raya ini sepanjang kehidupan kekristenan kita, sampai kita berjumpa dengan Tuhan.
Bila kita enggan menanggulangi dosa apa pun yang sudah disingkapkan, kita tidak akan mengalami hari raya roti tidak beragi. Artinya, kita kehilangan kenikmatan hari raya ini. Membiarkan dosa berakibat hilangnya kenikmatan. Sebaliknya, kita semakin menanggulangi dosa yang tersingkap, kita akan semakin memiliki kenikmatan. Inilah arti merayakan hari raya roti tidak beragi.
Saya menghargai cara Paulus menjelaskan Paskah dan hari raya roti tidak beragi. Katanya, Kristus, Paskah kita telah disembelih dan dipersembahkan, sehingga kita harus membuang ragi yang lama agar kita merayakan hari raya roti tidak beragi. Kita merayakan hari raya ini dengan menanggulangi dosa dan menempuh kehidupan tanpa dosa. Setiap kali, begitu hal-hal kedosaan tersingkap, kita segera menanggulanginya. Dengan demikian, tidak akan ada ragi yang terlihat dalam rumah kita. Kristuslah roti yang tidak beragi. Semakin makan Dia, kita akan semakin tidak beragi. Satu-satunya jalan untuk menghentikan dosa adalah makan hayat Kristus yang tersalib, yang bangkit, dan yang tidak berdosa.
2. Tidak Boleh Bekerja
pada Hari Pertama dan Hari Ketujuh,
tetapi Harus Makan
Keluaran 12:16 mengatakan, “Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apa pun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.” Ayat ini mengatakan pada hari pertama dan terakhir dari hari raya roti tidak beragi tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun. Ini mengiaskan bahwa dalam kenikmatan keselamatan Allah, tidak ada tempat bagi pekerjaan kita. Kita harus menghentikan segala macam pekerjaan. Jangan mencoba menjadi suami yang mengasihi, istri yang taat, atau anak-anak yang menghormati orang tua. Semua adalah pekerjaan manusia. Satu-satunya yang diperbolehkan adalah makan. Ini menerangkan, begitu kita mengambil bagian dalam keselamatan Allah, hanya ada ruang untuk kenikmatan, bukan untuk bekerja. Jangan mencoba melakukan apa pun hanya makan dan nikmatilah.
Keadaan kekristenan hari ini justru berkebalikan. Bukannya makan, melainkan bekerja. Khotbah demi khotbah disampaikan untuk menasihati orang agar terlibat atau menceburkan diri dalam macam-macam pekerjaan. Ini berlawanan dengan prinsip keselamatan Allah. Keselamatan Allah tidak mengizinkan kita melakukan apa pun.
Menurut alamiah kita, segera sesudah kita diselamatkan atau dibangunkan, kita berpikir hendak mengerjakan sesuatu. Beberapa orang berusaha tidak marah, yang lain bertekad untuk merendahkan diri. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan pekerjaan semacam ini. Dalam keselamatan Allah, kita hanya diizinkan makan.
Berlawanan dengan tulisan para agamawan, Alkitab menganjuri umat Allah untuk tidak melakukan apa-apa pada hari pertama dan hari ketujuh, kecuali makan. Jika bani Israel bekerja pada hari-hari itu, tentu mereka akan merusak prinsip keselamatan Allah. Keselamatan itu untuk kenikmatan kita, tidak menuntut pekerjaan atau perbuatan kita. Namun demikian, banyak orang Kristen yang bergairah justru terputus dari persekutuan rohani hanya dikarenakan mereka terbenam dalam begitu banyak pekerjaan. Menambahkan pekerjaan manusia pada keselamatan Allah sama dengan menolak Allah dan memisahkan diri kita dari persekutuan.
Kita menemukan bahwa sulit untuk berhenti bekerja dan hanya makan terus. Kebiasaan kita bukanlah makan tanpa kerja, melainkan bekerja tanpa makan. Beberapa orang mungkin mengeluh terlalu banyak makanan rohani. Bahkan mungkin mereka bosan dengan makanan yang demikian. Perkataan ini beredar di antara kita beberapa saat yang lalu. Perkataan ini berasal dari Iblis, musuh Allah. Begitu timbul perkataan yang menentang makan Tuhan, langsung diikuti oleh saran agar kita bekerja atau terjun dalam suatu kegiatan. Ini merupakan penentangan yang sangat jahat terhadap prinsip keselamatan Allah! Saya ulangi, keselamatan Allah menuntut agar kita berhenti bekerja dan tidak berbuat apa-apa, kecuali makan.
Bahkan mungkin saja doa menjadi suatu pekerjaan yang dilarang Allah. Beberapa orang beriman mungkin menetapkan untuk lebih banyak berdoa. Saat ini, doa mereka bisa menjadi suatu pekerjaan yang menghancurkan prinsip keselamatan Allah. Bagi orang yang coba-coba berdoa semacam ini, saya berkata, “Jangan membuat doa menjadi suatu pekerjaan. Daripada berdoa secara alamiah, lebih baik makan roti yang tidak beragi.”
Semasa muda, saya terjun dalam banyak pekerjaan untuk Tuhan. Saya membaca buku-buku mengenai menjadi kudus, berdoa, dan mengatasi dosa. Buku-buku itu mendorong saya bekerja dan melakukan beberapa hal. Lalu pada suatu hari, saya melihat terang bahwa Allah tidak menghendaki kita bekerja Dia menghendaki kita makan. Jika kita mengadakan pesta bagi-Nya, kita harus berhenti bekerja.
Seandainya seorang saudara mengundang Anda ke rumahnya untuk berpesta. Tetapi setelah Anda tiba di rumahnya, Anda menggunakan banyak waktu untuk bekerja baginya. Anda memotong rumput, merapikan pohon-pohon, dan membersihkan jendela. Ketahuilah, tindakan Anda berlawanan dengan maksud saudara tadi. Yang ia kehendaki adalah Anda duduk dekat meja dan berpesta bersama dia. Semakin Anda berpesta, dia akan semakin senang.
Kita semua harus belajar membuang semua perbuatan alamiah kita. Memang ini sulit kita kerjakan. Begitu kita membuang perbuatan kita, kita perlu tetap makan. Tetapi jika kita tidak makan, kita tidak seharusnya bekerja. Kebanyakan orang Kristen bekerja dan tidak makan. Tetapi kita harus belajar makan dan tidak bekerja. Buanglah pekerjaan kita, tetapi teruslah makan.
F. TIDAK DIMAKAN OLEH ORANG ASING
ATAU ORANG UPAHAN
Keluaran 12:43 mengatakan, “Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorang pun dari bangsa asing boleh memakannya.” Ayat 45 menambahkan, “Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya.” Ayat ini menjelaskan bahwa orang asing dan orang upahan tidak boleh makan Paskah. Dalam Perjanjian Lama, orang asing melambangkan dua kelompok orang: Orang yang tidak percaya (kafir) dan orang (manusia) alamiah. Mungkin kita langsung menyetujui bahwa orang yang tidak percaya adalah orang asing, namun tidak menyetujui bahwa manusia alamiah kita juga adalah orang asing, yang tidak boleh mengambil bagian dalam Paskah. Sebenarnya, manusia alamiah kita pun tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, karena manusia alamiah kita selalu bertindak menurut cara orang yang tidak percaya. Jadi, manusia alamiah dan orang yang tidak percaya berasal dari keluarga yang sama.
Perhatikan, dalam Keluaran 12 manusia alamiah adalah orang asing yang dikaitkan dengan orang upahan. Seorang upahan adalah orang yang bekerja untuk upah, melayani untuk balas jasa. Manusia alamiah selalu bekerja bagi Allah untuk menerima balas jasa. Inilah keadaan yang umum dalam kekristenan hari ini. Karena kebanyakan kekristenan telah menjadi suatu agama yang di dalamnya orang asing disewa untuk bekerja demi upah. Meskipun seorang upahan boleh menerima upah, tetapi padanya tidak ada anugerah, iman, atau kenikmatan. Jika kita berusaha untuk menikmati Paskah menurut prinsip orang upahan, kita akan menemukan bahwa kita tidak layak mengambil bagian dalam Paskah.
Mereka yang bekerja sebagai orang upahan bersikap demikian: mereka berjerih lelah dan Allah memberi upah kepada mereka. Tetapi dalam Kitab Roma, Paulus menerangkan bahwa kita bukanlah bekerja bagi keselamatan kita. Roma 4:4 dan 5 mengatakan, “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan sebagai kebenaran.” Berbicara mengenai pemilihan anugerah, Paulus mengumumkan dalam Roma 11:6, “Jika hal itu terjadi berdasarkan anugerah, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka anugerah bukan lagi anugerah.”
Galatia 4:7 mengatakan bahwa kita yang percaya kepada Kristus bukan lagi hamba, kita adalah anak-anak. Anakanak hanyalah menikmati kehidupan keluarga. Mereka tidak bekerja sebagai orang upahan untuk mengambil bagian dalam kenikmatan ini. Kenikmatan kita atas keselamatan Allah menurut prinsip anugerah adalah cuma-cuma, bukan menurut prinsip orang upahan yang bekerja demi bayaran atau ganjaran. Dalam hal karunia keselamatan, jerih lelah kita tidaklah berarti apa-apa. Allah memperbolehkan kita menikmati Paskah bukan sebagai upah, melainkan hanya sebagai pemberian anugerah, cuma-cuma.
Jelaslah bahwa manusia alamiah tidak dapat menikmati Kristus sebagai Paskah. Bila seseorang masih berada dalam manusia alamiahnya, dia belum sampai ke bulan Abib yang berarti bertunas atau bertumbuh. Artinya, dia belum mengalami suatu permulaan baru di dalam Kristus. Orang yang demikian tidak memiliki pertumbuhan hayat ilahi melalui kelahiran kembali. Memiliki permulaan baru berarti tidak lagi menjadi orang asing, tidak lagi menjadi manusia alamiah; sebaliknya, dilahirkan kembali dan menjadi suatu ciptaan baru di dalam Kristus (2Kor. 5:17).
Jangan mengambil bagian dalam Paskah sebagai manusia alamiah atau sebagai orang upahan, dan jangan bersikap seakan-akan Anda bekerja bagi Allah dan Dia membalas jasa Anda. Kita tidak menerima keselamatan Allah karena jerih lelah kita. Jika kita tetap di dalam manusia alamiah atau menganggap diri kita sebagai orang upahan yang bekerja demi upah, kita tidak berhak mengambil bagian dalam Paskah.
G. BUDAK-BUDAK YANG DIBELI
DAN DISUNAT BERHAK MAKAN
Meskipun orang asing dan orang upahan tidak dapat menikmati Paskah, tetapi budak belian dan yang disunat boleh memakannya (12:44, 48). Dibeli berarti ditebus. Kita bukanlah budak upahan, melainkan telah dibeli Tuhan menjadi budak-Nya. Kita telah hilang dan Tuhan membayar harga untuk membeli kita. Berarti kita telah ditebus, dibeli, dan dimiliki lagi. Jadi, kita bukan lagi orang asing kita adalah orang-orang yang telah ditebus. Kita bukan lagi manusia alamiah kita adalah orang-orang yang telah dibeli.
Penebusan Kristus tidak meliputi hayat alamiah. Sebaliknya, penebusan-Nya menanggulangi manusia alamiah dengan memakunya di atas salib. Kristus hanya menebus mereka yang telah ditanggulangi oleh salib-Nya. Penanggulangan semacam ini dilambangkan oleh penyunatan.
Anda menganggap diri Anda sebagai orang upahan atau sebagai orang belian? Sedikitlah yang mau menganggap bahwa diri mereka adalah orang yang dibeli. Seorang yang dibeli sebenarnya adalah seorang budak. Inilah sebabnya dalam diri kita, kita lebih senang menjadi orang upahan. Jika kita diupah oleh seseorang untuk bekerja baginya, kita rela bekerja baginya selama kita senang dengan majikan kita. Jika kita tidak senang, kita akan meletakkan jabatan dan bekerja bagi orang lain. Tetapi seorang budak yang sudah dibeli, tidak berhak berhenti.
Kembali kita melihat bahwa jalan manusia alamiah berlawanan dengan prinsip Allah. Dalam penebusan Allah, kita bukanlah orang upahan; kita adalah orang belian. Orang yang menganggap dirinya orang upahan, tidak ada bagian dalam penebusan Allah. Jika kita mau menikmati penebusan Allah, kita harus mengambil kedudukan sebagai orang yang sudah dibeli oleh Dia.
Tidak sulit mengatakan secara doktrinal bahwa kita adalah orang yang dibeli. Tetapi dalam pelaksanaan realitas sehari-hari, kita mungkin seperti orang upahan. Rasul Paulus mengetahui bahwa dia adalah budak Yesus Kristus (Rm. 1:1). Dia tidak menganggap dirinya sebagai orang yang diupah untuk bekerja bagi Tuhan. Berlawanan dengan banyak “hamba” atau “pelayan” Tuhan, Paulus mengetahui bahwa dia tidak berhak untuk berhenti melayani Tuhan.
Menjadi orang upahan secara rohani adalah bekerja dalam manusia alamiah dengan tujuan menerima upah. Tetapi menurut prinsip rohani, menjadi orang yang dibeli adalah melayani Tuhan dalam penebusan. Orang yang dibeli adalah orang yang telah hilang yang kemudian dibeli kembali, dan yang telah ditanggulangi oleh salib. Inilah macam orang yang telah ditebus oleh Allah. Orang yang demikianlah yang bersyarat mengambil bagian dalam Paskah.
Keluaran 12:44 mengatakan, “Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia.” Ayat 48 juga mengatakan, “Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya.” Semua orang yang ditebus wajiblah disunat. Secara rohani, disunat adalah membiarkan hayat alamiah ditanggulangi oleh salib. Di luar penyunatan, tidak ada penebusan. Karena alasan inilah, maka orang-orang yang ditebus bersangkut-paut dengan penyunatan. Yang telah ditebus, telah ditanggulangi oleh salib. Dalam perkataannya, Paulus mengatakan merekalah orang-orang bersunat yang sejati (Flp. 3:3). Orang asing adalah orang upahan, sedangkan orang belian adalah orang yang disunat. Yang disunat tidak memakai hayat alamiah untuk bekerja bagi Allah. Allah tidak menghendaki kita bekerja bagi-Nya; Dia menghendaki kita disunat. Pekerjaan berdasarkan hayat alamiah kita hanya dapat menghasilkan Ismael. Kekuatan kita untuk menghasilkan Ismael harus dikerat melalui penyunatan.
Jika kita mau menerima keselamatan Allah dengan cara yang tepat, kita perlu dibeli dan disunat. Pada saat pertobatan, seorang dosa seharusnya bertobat, mengaku dosa, dan percaya kepada Tuhan Yesus. Bersamaan dengan itu, dia harus mulai membenci hayat alamiahnya dan mengetahui bahwa hayat ini perlu dikuburkan. Inilah sebabnya begitu seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, dia harus dibaptis. Dibaptis berarti mengenal bahwa hayat alamiah tidak berguna untuk apa pun kecuali dikubur. Ketika seorang beriman baru sudah mempunyai kesadaran sedemikian ini, dia mengenal fakta bahwa dia telah dibeli dan disunat. Namun demikian, banyak orang Kristen hari ini yang menerima keselamatan Allah secara buta, tanpa menyadari bahwa mereka perlu dibeli dan disunat.
Semua rincian yang berhubungan dengan Paskah ini menunjukkan cara yang tepat dan memadai untuk menerapkan Paskah. Jika rincian ini tidak perlu, tentu Alkitab tidak akan memuatnya. Meskipun rincian ini juga terdapat dalam Perjanjian Baru, kita agak susah menemukannya. Namun demikian, rincian ini dengan jelas digambarkan dalam gambar mengenai Paskah dalam Kitab Keluaran. Syukur kepada Tuhan karena kita adalah yang telah dibeli dan disunat dan kita makan Paskah menurut prinsip Allah.
H. MELANJUTKAN KENIKMATAN
ATAS DOMBA PASKAH MELALUI KELUAR
DARI MESIR SEBAGAI PASUKAN ALLAH
Keluaran 12:51 menyimpulkan, “Dan tepat pada hari itu juga Tuhan membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, menurut pasukan mereka.” Ayat ini menerangkan bahwa penebusan Allah yang lengkap menghasilkan satu pasukan. Setelah memakan Paskah sesuai dengan prinsip yang diberikan oleh Allah, kita perlu melanjutkan kenikmatan kita atas Paskah melalui keluar dari Mesir sebagai pasukan Allah untuk berperang bagi kepuasan-Nya di bumi. Kita perlu melanjutkan kenikmatan keselamatan kita dengan keluar dari dunia dan menjadi bagian dari pasukan Allah. Inilah makna istilah keluaran. Betapa lengkapnya gambar keselamatan Allah yang diberikan dalam Kitab Keluaran! Ketika kita menerapkan Kristus sebagai Paskah kita hari ini, kita memerlukan semua prinsip yang berhubungan dengan Paskah dalam Kitab Keluaran.
V. PENGHAKIMAN ALLAH ATAS
SEMUA ANAK SULUNG
Keluaran 12:12 mengatakan, “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh.” Mungkin beberapa orang merasa heran mengapa Allah hanya membunuh anak sulung. Semasa muda, saya dibingungkan oleh hal ini. Saya bingung kalau-kalau yang dimaksudkan yang sulung jahat dan yang lainnya baik. Pada saat itu, saya tidak mengenal prinsip-prinsip rohani. Sejangka waktu kemudian, saya tahu bahwa anak sulung meliputi semua orang di dalam Adam. Adam, manusia pertama sebenarnya memang anak sulung (1Kor. 15:45a). Karena Adam adalah manusia pertama, anak sulung meliputi semua yang ada di dalam Adam. Sebaliknya, yang kedua merupakan semua yang ada di dalam Kristus, karena Kristus adalah manusia kedua (1Kor. 15:47b). Dalam arti yang sesungguhnya, kita yang percaya kepada Kristus adalah yang lahir kedua. Namun demikian, di dalam kita masih terdapat unsur anak sulung. Meskipun kita berada di bawah darah Kristus, darah tidak menebus hal-hal anak sulung. Karena itu, kita harus menyalahkan segala hal di dalam kita yang berhubungan dengan anak sulung, yaitu Adam. Sekali lagi, ini berarti kita harus menghakimi hayat alamiah kita.
Istilah “anak sulung” dan “orang asing” sebenarnya meng-acu kepada hal yang sama. Keduanya sinonim, menggambarkan manusia lama dan hayat alamiah. Kita boleh mengatakan bahwa manusia lama adalah anak sulung sedangkan manusia alamiah dan hayat alamiah kita adalah orang asing. Namun, keduanya sebenarnya adalah satu. Ketika kita menerapkan Kristus sebagai Paskah, kita harus menghakimi manusia lama dan manusia alamiah kita. Kita harus menolak baik anak sulung atau orang asing. Dalam hari raya Paskah, pada Allah tidak ada tempat bagi manusia lama atau hayat alamiah.
Kita perlu menerima ini tidak hanya secara doktrinal, melainkan menerimanya dalam pelaksanaan dan pengalaman. Jika kita menerapkan secara pengalaman dan pelaksanaan, kita akan menemukan bahwa di dalam kita masih ada sejumlah kadar tertentu manusia lama dan hayat alamiah. Inilah yang menghalangi kita untuk menerapkan Paskah dengan menyeluruh dan memadai. Kita masih mempertahankan manusia lama dan hayat alamiah. Berarti anak sulung dan orang asing masih berada di dalam kita. Sebab itu, kita tidak dapat menikmati Paskah dengan sempurna, karena Allah tidak mengizinkan manusia lama dan hayat alamiah kita untuk ikut serta dalam Paskah-Nya. Inilah prinsip mengenai penghakiman Allah atas semua anak sulung.
VI. PENGHAKIMAN ALLAH ATAS
SEMUA ALLAH MESIR
Dalam 12:12 Tuhan juga mengatakan “dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman.” Perkataan ini sangat berarti. Tanpa bagian 12:12 ini, kita tidak akan tahu bahwa pada malam Paskah, Iblis dan semua setan juga telah dihakimi. Anak sulung adalah unsur pokok di Mesir, sedang allah-allah adalah unsur kerajaan Iblis. Pada waktu Paskah, keduanya telah dihakimi.
Kita boleh membuat daftar hal-hal yang tidak termasuk dalam Paskah sebagai berikut: Tidak boleh ada ragi, tidak boleh bekerja, tidak ada orang asing, tidak ada orang upahan, tidak ada anak sulung, dan tidak ada allah-allah Mesir. Berarti tidak ada tempat bagi dosa, pekerjaan manusia, hayat alamiah, manusia lama, dunia, atau Iblis. Hal-hal ini tidak hanya digambarkan dalam gambar Paskah da-lam Kitab Keluaran, juga dengan jelas digambarkan dalam wahyu Perjanjian Baru. Ketika kita memelihara Paskah menurut prinsip yang terperinci yang ditetapkan oleh Allah, dapatlah kita menerapkan Paskah dengan tepat. Puji Tuhan, atas gambar yang penuh mengenai Paskah penebusan lengkap Allah.
Sebagai tambahan untuk daftar hal-hal negatif ini kita dapat membuat daftar hal-hal yang positif yang tercakup dalam Paskah: anak domba, rumah, roti tidak beragi, sayur pahit, hisop, ikat pinggang, tongkat, dan kasut. Ini semua merupakan unsur Paskah. Hasil dari hal-hal positif ini adalah pasukan Allah. Kita yang menikmati Kristus sebagai Paskah, akhirnya akan menjadi satu pasukan yang berperang bagi Kerajaan Allah di bumi. Seperti yang telah saya tunjukkan, Paskah pada akhirnya menghasilkan satu pasukan yang berperang demi kepentingan Allah.