ORANG ISRAEL KELUAR DARI MESIR (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 12:29-42, 51; 13:1-22
Dalam berita-berita terdahulu, kita telah membahas Paskah. Sekarang mari kita melihat perihal orang Israel keluar dari Mesir, suatu peristiwa yang merupakan kelanjutan Paskah. Seperti telah kita ketahui, kata “keluaran” berarti “pergi ke luar”.
Dalam berita ini, butir yang akan kita bahas adalah mengenai keluar dari Mesir yang semuanya terdapat dalam Perjanjian Baru. Namun demikian, jika kita membaca kalimat-kalimat Perjanjian Baru tanpa memperhatikan gam-baran keluaran yang disajikan dalam Perjanjian Lama, kita tidak akan memiliki kesan yang dalam. Karena itu, kita perlu memperhatikan baik kalimat-kalimat dalam Perjanjian Baru maupun gambaran dalam Perjanjian Lama.
Sering kali kita mampu menyerap hal-hal rohani lebih memadai melalui gambaran daripada melalui kalimat-kalimat. Dalam istilah Perjanjian Baru, keluar dari Mesir berarti keluar dari dunia. Tetapi tanpa gambaran dalam Kitab Keluaran, kita sulit mengatakan bagaimana kita dapat keluar dari dunia. Mengatakan perkara ini tanpa mengikutsertakan gambarnya hanya akan membuat kita bingung. Sebab itulah, kita bersyukur kepada Tuhan atas gambar dalam Perjanjian Lama maupun atas kalimat-kalimat yang jelas dalam Perjanjian Baru.
I. FIRAUN DAN ORANG MESIR
TELAH DITAKLUKKAN OLEH ALLAH
Bani Israel tidak keluar dari Mesir berdasarkan kema-uan dan kekuatan mereka. Jika mereka dibiarkan sendiri, mereka tidak akan dapat keluar dari Mesir. Keluar dari Mesir dilaksanakan oleh Allah penyelamat. Mula-mula, Allah menaklukkan Firaun, orang yang telah menjajah umat Israel, kemudian Dia menaklukkan semua orang Mesir (Kel. 12:29-33). Ketika kita menerapkan prinsip ini pada pengalaman kita, kita nampak bahwa Allah turun tangan menanggulangi Iblis, setiap hal dan setiap orang yang memihak Iblis, serta lingkungan kita. Ketika orang Israel keluar dari Mesir, seluruh lingkungan telah ditaklukkan Allah. Segalanya disiapkan bagi orang Israel untuk meninggalkan Mesir. Bahkan kalaupun mereka ingin menetap di Mesir, lingkungan mereka tidak akan mengizinkan mereka. Mereka tidak ada pilihan lain kecuali keluar.
Menurut gambaran dalam Kitab Keluaran, karunia keselamatan Allah mencakup aspek Paskah dan aspek keluaran. Umat Allah mudah menyelenggarakan Paskah, namun tidak mudah untuk keluar dari Mesir. Kesulitannya terletak pada fakta bahwa keluar dari Mesir membutuhkan lingkungan yang cocok. Seandainya suasana di Mesir tidak mengizinkan umat Allah pergi, bagaimana mereka dapat keluar? Tentu mustahil. Keluar dari Mesir meminta penaklukkan yang tuntas atas suasana lingkungan. Keluarnya Israel merupakan hasil perjuangan yang panjang antara Musa dengan Firaun. Dihasilkan dari dua belas pembicaraan dengan sepuluh tulah. Ini membuktikan tidak mudah bagi Allah untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari tangan penjajah Iblis dan dari dunia. Semua orang Kristen sejati telah mengalami Paskah, tetapi hanya sedikit yang mengalami keluar dari Mesir. Alasannya, karena aspek-aspek tertentu dari lingkungan mereka belum lagi ditaklukkan.
Jika lingkungan kita belum ditaklukkan, kita mungkin mempunyai Paskah, tetapi tidak keluar dari Mesir. Mungkin istri, suami, atau kenalan Anda perlu ditaklukkan. Ada orang begitu mendengar bahwa lingkungan mereka harus ditaklukkan, mungkin mereka akan kecil hati dan berhenti. Namun demikian, hal berhenti pun tidak tergantung pada kita, semuanya tergantung pada Tuhan. Kita tidak seharusnya berhenti, kita harus bekerja sama dengan Dia. Untuk diselamatkan dari tangan penjajahan Iblis dan dunia, kita perlu tangan Allah menaklukkan lingkungan kita.
Dalam catatan ini kita diberi tahu dua kali bahwa “dengan kekuatan tangan-Nya” Tuhan membawa orang Israel keluar dari Mesir (13:3, 14). Umat Allah tidak saja diselamatkan karena darah domba Paskah, tetapi juga karena tangan Allah. Darah menyelamatkan mereka dari penghakiman keadilan Allah, namun tangan menyelamatkan mereka dari penjajahan Firaun. Sama halnya dengan kita pada hari ini. Melalui Kristus sebagai Paskah kita, kita diselamatkan dari penghakiman Allah; dan melalui tangan penakluk Allah, kita diselamatkan dari Iblis dan dunia.
II. FIRAUN DAN ORANG MESIR
MENGUSIR BANI ISRAEL KELUAR DARI MESIR
Firaun dan orang Mesir ditaklukkan sedemikian rupa hingga mereka nyata-nyata mengusir orang Israel keluar dari Mesir (12:33, 39; 11:1). Orang Mesir tidak dapat membiarkan kehadiran umat Allah lebih lama lagi di tanah mereka. Kali pertama Musa dan Harun meminta kepada Firaun untuk membiarkan umat Israel pergi, Firaun menolak. Tetapi sampai 12:33 “Orang Mesir juga mendesak dengan keras kepada bangsa itu, menyuruh bangsa itu pergi dengan segera dari negeri itu.”
Ini bukanlah sekadar sebuah cerita di dalam Alkitab, melainkan prinsip yang berlaku dalam pengalaman kekristenan kita. Cepat atau lambat, lingkungan kita akan mendorong bahkan mendesak kita keluar dari dunia. Istri, suami, atau kenalan kita bisa jadi mendesak kita pergi; mungkin mereka memberi tahu kita bahwa lebih baik kita meninggalkan dunia daripada berdiam di dalamnya. Artinya dunia akan membuang kita. Bila kita tidak mau pergi, dunia akan mengusir kita. Selama kita menetap di dunia, mereka tidak akan merasa damai. Akhirnya mereka akan menyadari bahwa jika kita meninggalkan dunia, mereka baru memperoleh damai dan kita mempunyai sukacita. Saya dapat bersaksi bahwa inilah pengalaman saya. Jika saya hendak coba-coba kembali ke dunia, dunia akan meminta saya untuk tidak kembali. Bagi dunia, makin jauh saya darinya, makin baik jadinya. Inilah akibat tangan Tuhan sehingga dunia menghendaki kita pergi.
III. ORANG ISRAEL TIDAK PUNYA WAKTU
UNTUK MERAGIKAN ROTI MEREKA
Karena orang Israel diusir dari Mesir, mereka tidak sempat membawa makanan yang beragi (12:34, 39). Kita telah menunjukkan bahwa ragi melambangkan kedosaan dan kerusakan. Fakta tidak ada waktunya orang Israel untuk menyiapkan roti yang beragi membuktikan bahwa Tuhan akan menanggulangi lingkungan kita begitu rupa sehingga tidak ada waktu lagi bagi kita untuk melakukan perkara-perkara kedosaan. Bila kita masih mempunyai waktu untuk perkara-perkara kedosaan, kita akan sulit keluar dari dunia. Setelah Allah menaklukkan lingkungan kita dan membuat kita diusir dari dunia, kita akan menyadari bahwa tidak ada sisa waktu untuk melakukan perkara-perkara kedosaan. Keluaran 12:39 mengatakan, “Adonan yang dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi, sebab adonan itu tidak diragi, karena mereka diusir dari Mesir dan tidak dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya.” Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa orang Mesir tidak memberi kesempatan kepada orang Israel untuk meragikan roti mereka.
Ketika saya masih kanak-kanak, saya tinggal di China sebelah utara, kami biasa makan banyak roti yang beragi. Saya tahu bahwa membuat roti yang tidak beragi akan lebih cepat daripada roti yang beragi. Sering sebelum tidur pada malam hari, ibu harus menyiapkan adonan dengan ragi dan membiarkannya sampai pagi. Sewaktu kakak perempuan saya menyiapkan adonan, kadang-kadang dia lupa membubuhkan ragi ke dalamnya. Paginya, ketika ibu melihat hal ini, ia merasa tidak senang. Ibu sadar bahwa tidak ada waktu lagi untuk membuat roti yang beragi, dan ia pun menyiapkan makanan lain untuk kami. Gambaran ini menunjukkan kepada kita bahwa untuk menyiapkan roti yang beragi membutuhkan waktu yang lama. Seperti halnya memanggang roti yang beragi memerlukan waktu, untuk berbuat dosa pun membutuhkan waktu.
Tiga puluh tahun yang lalu, banyak di antara kita yang pindah dengan terburu-buru dari daratan China ke Taiwan. Suasana lingkungan pada waktu itu begitu rupa sehingga kami tidak mempunyai waktu luang. Kalau kami berlambatan, kami tidak akan mendapat sarana pengangkutan. Lagi pula, kami terpaksa meninggalkan banyak barang. Sebelumnya, kami yang melayani firman mencoba menolong orang-orang tertentu untuk bebas dari “ragi” dalam kehidupan mereka. Namun, mereka tidak mau mendengarkan, sebaliknya memegang erat perkara-perkara kedosaan, yang merupakan “ragi” di pandangan Allah. Akan tetapi, karena dipaksa meninggalkan daratan, mereka tidak ada pilihan lain, selain meninggalkan semua “ragi”. Ketika kami tiba di Pulau Taiwan, saya gembira karena begitu banyak “ragi” telah tertinggal di belakang.
Kadang-kadang mungkin Allah memakai kelemahan jasmani kita atau penyakit untuk memisahkan kita dari “ragi” kita. Mungkin Anda masih ingin melakukan perkara kedosaan tertentu, namun karena tubuh jasmani Anda lemah, Anda tidak dapat melakukannya lagi. Allah bekerja pada lingkungan Anda untuk memaksa Anda meninggalkan “ragi” Anda.
Bani Israel meninggalkan Mesir dengan murni, yakni tanpa ragi. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa kita pun meninggalkan dunia dengan murni. Karena Allah telah menanggulangi lingkungan kita, tidak mungkin kita mengambil ragi dari dunia dan membawanya keluar. Sebaliknya, lingkungan memaksa kita untuk keluar secara murni. Puji Dia atas disingkirkan-Nya ragi itu!
IV. BANI ISRAEL MERAMPASI PERAK, EMAS, DAN PAKAIAN ORANG MESIR
Keluaran 12:35-36 mengatakan, “Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.” Meskipun orang Israel tidak ada waktu untuk menyiapkan roti yang beragi, mereka sempat merampasi emas, perak, dan kain-kain orang Mesir (3:21-22; 11:2, 3). Ini menunjukkan bahwa dalam karunia keselamatan Allah, Dia menghendaki kita merampasi kekayaan dunia.
Ekonomi Allah berlainan dengan agama manusia. Misalnya, agama tertentu mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengambil apa-apa dari dunia. Sebaliknya, Allah memerintahkan umat-Nya yang terpilih merampasi perak, emas, dan kain-kain orang Mesir. Dalam hal ini, umat-Nya merampasi orang Mesir. Ini bukan perampokan, melainkan pembayaran yang terlambat dari kerja paksa yang lama. Allah dalam keadilan-Nya merencanakan agar orang Mesir membayar orang Israel atas kerja paksa mereka di Mesir.
Banyak orang yang telah beroleh selamat dapat bersaksi bahwa tangan Allah yang kuat telah bekerja dalam lingkungan mereka, memberi mereka kesempatan untuk merampasi kekayaan dunia. Tujuan Allah dalam melakukan hal ini bukanlah sekadar untuk memperkaya orang-orang itu, melainkan bagi pembangunan Kemah Pertemuan, tempat tinggal-Nya di bumi. Orang Israel memerlukan emas, perak, dan kain-kain untuk pembangunan Kemah Pertemuan. Demi tempat kediaman Allah, kita tidak seharusnya meninggalkan dunia seperti orang-orang beragama tertentu itu, kita harus merampasi kekayaan Mesir untuk dipakai dalam pembangunan Kemah Pertemuan.
Di satu pihak, ketika Petrus dan Yohanes dimintai uang oleh pengemis, mereka tidak mempunyai emas atau perak untuk diberikan kepadanya (Kis. 3:6). Namun di pihak lain, mereka berada di antara orang-orang yang telah merampasi kekayaan dunia. Sewaktu kita, umat pilihan Allah, keluar dari dunia di bawah tangan Allah yang berdaulat, kita berkesempatan merampasi orang-orang Mesir. Semua yang dibangkitkan oleh Tuhan adalah orang-orang yang merampasi dunia. Bagi tujuan Allah, mereka membawa kekayaan tertentu dari dunia dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Misalnya, Paulus dapat mengatakan, “Sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu” (2Kor. 6:10). Perkara perampasan kekayaan orang Mesir dapat digambarkan dan dipertegas oleh pengalaman orang-orang Kristen.
Kelihatannya, tidak adil orang Israel merampasi emas, perak, dan kain orang Mesir. Seperti yang telah kita tunjukkan, dengan merampasi kekayaan Mesir, sebenarnya mereka menerima pembayaran yang adil atas kerja paksa mereka. Di satu pihak, pembayaran yang seharusnya mereka terima atas kerja keras mereka telah didepositokan selama bertahun-tahun di dalam “bank” Mesir dan diambil semua pada saat keluar dari Mesir. Lagi pula, umat Allah tidak meng-ambil emas, perak, dan kain untuk kepentingan mereka atau kebutuhan mereka. Sebaliknya, kekayaan Mesir dipakai melalui umat pilihan Allah untuk pembangunan Kemah Pertemuan.
Kemah Pertemuan adalah kesaksian Allah, yang melambangkan Kristus dan gereja. Gereja hari ini adalah Kemah Pertemuan Allah yang terdiri dari Kristus dan umat saleh. Kesaksian semacam ini dibangun dengan persembahan umat Allah. Sebab itu, kekayaan orang Mesir terjadi melalui kerja keras umat Allah dan dipakai untuk kesaksian Allah. Inilah makna merampasi kekayaan dunia.
Kaum beriman dalam pemulihan Tuhan tidak seharusnya malas. Mereka seharusnya mengecap pendidikan yang baik dan kemudian bekerja dengan rajin pada pekerjaan yang halal untuk menempuh hidup yang layak. Namun, uang yang mereka dapatkan tidak sepatutnya hanya dipakai untuk diri mereka sendiri atau kenikmatan mereka, melainkan seharusnya dipakai untuk kesaksian Tuhan. Di satu pihak, kita harus bekerja di dalam dunia dan menerima pembayaran atas pekerjaan kita. Tetapi di pihak lain, apa yang kita dapatkan seharusnya dipakai untuk kesaksian Allah.
Meskipun kita bekerja di dalam dunia, kita bukan bekerja untuk dunia. Sebaliknya, kita bekerja di dalam dunia untuk sesuatu yang bukan berasal dari dunia, sama seperti bangsa Israel bekerja di Mesir untuk sesuatu yang bukan berasal dari Mesir. Firaun memaksa umat Allah bekerja sebagai budak. Akhirnya, mereka menerima upah atas kerja keras mereka berupa kekayaan Mesir yang dipakai untuk pembangunan Kemah Pertemuan, kesaksian Allah, bukan untuk Mesir.
Beberapa orang mungkin mengira karena kita bekerja keras dan rajin di dunia, itu berarti kita bekerja untuk dunia. Namun, kerja keras kita adalah untuk kesaksian Allah. Apa yang kita terima atas pekerjaan di dunia kita persembahkan kepada Tuhan. Menurut janji dalam Perjanjian Baru, semakin banyak kita memberikan kepada Tuhan, Dia pun akan semakin banyak memberi kepada kita (Luk. 6:38). Tuhan hendak merampas kekayaan dunia melalui kerja keras kita, sehingga kita dapat memberikan kekayaan ini kepada-Nya, untuk pembangunan tempat kediaman-Nya.
Pengalaman seorang saudara di Inggris menggambarkan hal ini. Pada awal kehidupan kekristenannya, dia memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada Tuhan. Karena dia setia dalam hal ini, Tuhan membuatnya makmur dalam hal keuangan. Maka saudara itu menambah persentasi pemberiannya dari sepuluh persen ke lima belas persen. Tuhan membuatnya lebih makmur lagi. Tahun demi tahun berlalu, saudara ini menambah perpuluhannya sedikit demi sedikit. Tetapi tak peduli berapa banyak yang dia berikan kepada Tuhan, Tuhan selalu memberikannya lebih banyak lagi. Saudara ini benar-benar merupakan seorang yang merampas kekayaan dunia dan mempersembahkannya kepada Tuhan untuk kesaksian-Nya.
Gambaran yang lain kita peroleh dari saudara lain dalam Tuhan yang membuka penjahitan dengan maksud untuk menolong umat Allah dan pekerjaan Tuhan. Akhirnya pekerjaan mereka berkembang sedemikian rupa sehingga mereka memiliki ratusan cabang. Semua keuntungan yang mereka peroleh dari usaha ini dipakai untuk menunjang kesaksian Tuhan. Mereka juga merampasi dunia untuk Tuhan.Semua orang yang menyadari apa maksudnya keluar dari dunia akan bekerja dengan rajin bukan untuk kepentingan mereka sendiri, melainkan untuk kepentingan Tuhan. Pembangunan balai sidang di Anaheim juga menggambarkan prinsip ini. Sejumlah besar sukarelawan ikut bekerja dalam pembangunan gedung ini. Ikut bekerjanya mereka, menghemat banyak uang. Mereka yang bekerja membangun balai sidang, merampasi dunia demi kegiatan mereka. Saya percaya bahwa Tuhan telah mencatat kesetiaan mereka.
Selang beberapa tahun, banyak orang beriman yang setia kepada Tuhan telah diperkaya oleh-Nya. Masalah yang penting sekarang ialah penggunaan dari penambahan keka-yaan itu. Bila kekayaan itu dipakai untuk dunia, itu merupakan suatu kegagalan yang besar di mata Tuhan. Tetapi jika dipakai untuk kesaksian Allah, akan menjadi perkara perampasan kekayaan dunia lainnya di bawah kedaulatan Allah. Merampasi dunia bukanlah mengambil sesuatu dari dunia dengan cara ilegal, melainkan giat bekerja di dalam dunia dan memakai apa yang diperoleh atas pekerjaan kita bagi kesaksian Allah.
V. ORANG ISRAEL PERGI MENINGGALKAN
MESIR DENGAN SEMUA ANAK MEREKA,
KAMBING DOMBA, DAN LEMBU SAPI MEREKA
Orang Israel pergi dari Mesir dengan semua anak mereka, kambing domba, dan lembu sapi mereka (12:37-38, 31-32). Menurut 12:38, “Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka.” Apabila hanya sejumlah kecil orang yang keluar dari Mesir, tidak mungkin terjadi suatu khalayak yang bercampur (berbagai-bagai bangsa). Tetapi karena jumlah umat Allah demikian besar, kurang lebih dua juta, suatu khalayak yang bercampur menyertai mereka. Umat Allah sangat unggul, sehingga berbagai bangsa yang bukan bangsa Israel, ikut pergi keluar dari Mesir bersama-sama mereka. Kehadiran khalayak yang bercampur ini merupakan pertanda yang baik. Walaupun menurut Kitab Bilangan, khalayak yang bercampur ini akan menjadi penyebab timbulnya kesulitan, namun kesulitan itu pun mengajar umat Allah mengenai beberapa pelajaran yang berharga. Kita dalam pemulihan Tuhan hari ini juga telah mempelajari sejumlah besar pelajaran melalui khalayak campuran yang ada bersama kita.
Orang Israel keluar dengan mutlak dari Mesir. Segala sesuatu yang mereka miliki dibawa serta. Inilah keluar dari Mesir atau meninggalkan dunia yang ditetapkan oleh Allah. Keluarnya kita dari Mesir harus mutlak sehingga membuat orang lain rela mengikuti kita dan bergabung dengan kita.
VI. LAMANYA ORANG ISRAEL DIAM
DI TANAH ORANG KAFIR TELAH GENAP
Keluaran 12:40-41 mengatakan, “Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.” Waktu 430 tahun ini dimulai dari Kejadian 12, ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Abraham bahwa Dia akan memberikan tanah permai kepada keturunan Abraham. Sejak hari itu hingga malam keluar dari Mesir, genap berjumlah 430 tahun. Jadi, keluar dari Mesir menandakan pengakhiran sejangka waktu ini. Selama waktu-waktu ini, umat pilihan Allah yang telah menerima janji untuk beroleh tanah permai belum lagi tinggal di tanah perjanjian. Sebaliknya, mereka terus menetap di tanah orang kafir yang diwakili oleh Mesir.
Menurut Kejadian 15:13-14 dan Kisah Para Rasul 7:6, orang Israel di bawah penganiayaan dan penindasan selama 400 tahun. Empat ratus tahun ini dimulai dari pengejekan Ismael terhadap Ishak dalam Kejadian 21. Artinya, mulai dari Kejadian 12 sampai G:\Isilo File's Alkitab VP\01-kejadian.htm#k01p15a13 Kejadian 21 berselang waktu 30 tahun, dan dari Kejadian 21G:\Isilo File's Alkitab VP\01-kejadian.htm#k01p21a01 sampai Keluaran 12 berselang waktu 400 tahun. Sebab itu, selama 430 tahun umat Allah berada di tanah asing, dan selama 400 tahun mereka menderita penindasan.
Anda mungkin bertanya-tanya apa hubungannya hal itu dengan kita hari ini. Jika kita belum keluar dari dunia, ber-arti kita masih menetap di tanah kafir. Kita tidak tinggal di dalam Kristus, tanah permai kita. Menurut perjanjian dan ketetapan Allah, kita seharusnya hidup di dalam Kristus sebagai tanah permai dan menikmati Dia sebagai tanah. Tetapi ini menuntut keluar dari Mesir yang mutlak. Sebagai umat pilihan Allah, kita seharusnya tinggal di dalam Kristus. Keluarnya kita dari dunia menandakan akhir dan kesudahan menetapnya kita di tanah kafir.
Meskipun Allah telah memilih dan menentukan kita untuk hidup dan tinggal di dalam Kristus, tetapi banyak umat-Nya yang tidak tinggal di dalam Kristus. Sebaliknya, mereka masih tinggal di Mesir. Ini menyatakan bahwa sekalipun kita telah diselamatkan, kita mungkin masih menetap di dunia. Hanya ketika kita meninggalkan dunia dengan mutlak, kita mengakhiri masa menetapnya kita di tanah kafir. Jadi, keluarnya kita dari Mesir adalah kesudahan 430 tahun kita.
Banyak orang Kristen belum mengalami pengakhiran sedemikian karena mereka belum keluar dari Mesir. Mereka telah diselamatkan dan ditentukan oleh Allah untuk tinggal di dalam Kristus. Namun, sejak kelahiran kembali mereka, mereka terus menetap di dunia. Hanya ketika mereka mutlak keluar dari Mesir, barulah mereka mengakhiri masa menetapnya mereka di Mesir.
Tanpa gambaran dalam Kitab Keluaran, kita tidak dapat dengan jelas memahami kata-kata dalam Perjanjian Baru mengenai terpisah dari dunia. Catatan Kitab Keluaran menjelaskan bahwa keluarnya kita seharusnya menjadi kesudahan masa menetapnya kita. Tanpa keluar semacam ini, tidak mungkin kita tinggal di dalam Kristus sebagai tanah permai. Tidak hanya demikian, selama kita dalam masa menetap di Mesir, kita berada di bawah semacam penindasan yang membuat kita tidak mengalami perhentian, kepuasan, atau kenikmatan yang sejati. Karena banyak orang Kristen yang masih berada di Mesir, maka mereka tidak mengalami perhentian, kepuasan, atau kepenuhan sukacita di dalam Kristus. Tetapi ketika mereka keluar dari Mesir dengan mutlak, tidak saja mereka telah mengakhiri masa menetapnya mereka di dunia, juga mengakhiri tahun-tahun ketidakpuasan dan ketiadaan perhentian mereka. Meskipun hanya sebagian kecil orang Kristen sejati yang telah keluar dari Mesir, tetapi dalam pemulihan Tuhan banyak orang beriman yang telah keluar.
Merayakan Paskah adalah suatu hal, tetapi mengalami keluar dari Mesir itu hal lain. Seperti yang akan kita lihat, menyeberangi Laut Merah juga adalah hal yang penting lainnya. Ini menandakan penggenapan tahap pertama dalam karunia keselamatan Allah. Tahap karunia keselamatan Allah ini meliputi Paskah, keluar dari Mesir, dan menyeberangi Laut Merah. Hanya ketika orang Israel telah menyeberangi Laut Merah, mereka baru sepenuhnya dilepaskan dari Mesir dan dibebaskan untuk memuji Tuhan. Namun, karunia keselamatan Allah mencakup lebih banyak daripada ini. Bahkan pembangunan Bait Suci adalah bagian dari karunia keselamatan Allah yang penuh ini.
VII. MALAM BERJAGA-JAGA BAGI TUHAN
Keluaran 12:42 mengatakan, “Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun.” Selama malam Paskah, orang Israel mempunyai kepuasan, perhentian, dan sukacita, tetapi mereka tidak tidur. Seperti yang dikatakan ayat ini, itulah malam berjaga-jaga, malam berwaspada. Ini menyiratkan Allah mengawasi, mengamati situasi. Sebenarnya, seperti yang dijelaskan Alkitab Versi Berkeley, baik Allah maupun orang Israel sama-sama berjaga-jaga. Ketika Allah berjaga-jaga dan waspada, umat-Nya juga berjaga-jaga dan waspada. Jadi, malam itu merupakan malam berjaga-jaga.
Keluaran 12:42 mengatakan bahwa malam itu adalah malam berjaga-jaga bagi TUHAN. Orang Israel berjaga-jaga bagi Tuhan. Ini berarti mereka bekerja sama dengan Dia. Allah telah melakukan apa saja yang perlu untuk menyelamatkan mereka dari Mesir. Dia berjaga-jaga, dan umat-Nya juga berjaga-jaga bagi-Nya.
Bila kita menerapkan hal ini pada pengalaman kita, kita nampak bahwa keluarnya kita dari Mesir juga merupakan malam berjaga-jaga. Inilah sebabnya dalam Perjanjian Baru kita diperingatkan untuk tidak tertidur. Roma 13:11 mengatakan, “Kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur.” Dan lagi, dalam 1Tesalonika 5:6-7 Paulus mengatakan, “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam.” Seperti Paulus mengatakan dalam pasal yang sama, kita adalah “anak-anak terang, dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan” (ayat 5). Jika kita tidak berjaga-jaga di dalam roh, siang pun akan berubah menjadi malam; tetapi jika kita berjaga-jaga dan waspada, sekalipun malam, akan berubah menjadi siang.
Keluar dari dunia bukanlah perkara yang remeh. Keluaran semacam ini terjadi pada malam berjaga-jaga. Allah mengawasi kita, dan kita harus berjaga-jaga dengan Allah dan bagi Allah. Pada malam keluaran kita haruslah berjaga-jaga dan waspada. Tanpa berjaga-jaga sedemikian, tidak ada seorang pun dapat keluar dari dunia. Orang Kristen yang malas dan yang tidur tidak dapat melakukan keluaran. Hanya mereka yang berjaga-jaga, waspada, dan siap siaga baru dapat keluar dari dunia. Allah dengan waspada melaksanakan kedaulatan-Nya atas situasi kita, dan Dia memerintahkan kita untuk berjaga-jaga bagi-Nya, sehingga malam kita akan ber-ubah menjadi siang dan kita akan diselamatkan dari Mesir.
Dalam Perjanjian Baru kita dinasihati untuk tidak mengasihi dunia (1Yoh. 2:15). Namun, mungkin saja kita menerima perkataan ini dengan cara yang sangat dangkal. Gambaran dalam Perjanjian Lama menerangkan bahwa ke-luar dari Mesir tidak seharusnya dianggap remeh. Pada malam keluar dari Mesir, bahkan Allah sendiri mengawasi dan berjaga-jaga. Menurut versi King James, Keluaran 12:42 mengatakan bahwa itulah “malam yang penuh kewaspadaan bagi TUHAN.” Ini tidak berarti bahwa itulah malam untuk upacara. Sebaliknya, itulah malam berjaga-jaga, malam waspada. Allah berjaga-jaga dan waspada untuk membawa umat-Nya keluar dari dunia. Umat-Nya harus bekerja sama dengan Dia dengan berjaga-jaga bagi-Nya. Mereka harus berjaga-jaga karena mereka tidak tahu pada saat apa mereka keluar dari Mesir. Melalui hal ini kita nampak bahwa tidak ada orang yang tidur atau orang yang lengah yang dapat melakukan keluaran dengan baik. Jika Anda ingin keluar dari dunia, Anda perlu berjaga-jaga, waspada, dan siap siaga, kemudian Anda akan mengetahui saat yang tepat untuk keluar dari dunia.
VIII. ORANG ISRAEL MENJADI
PASUKAN TUHAN
Dalam Keluaran 12:41 dikatakan bahwa “keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir” dan dalam Keluaran 12:51 dikatakan bahwa “TUHAN membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir menurut pasukan mereka.” Dan lagi, Keluaran 13:18 mengatakan, “Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.” Dalam bahasa Ibrani, pasal 13:18 menunjukkan bahwa orang Israel berbaris jajar lima (lima orang tiap baris). Mereka tidak keluar dari Mesir dengan sikap yang kendur santai, mereka berbaris seperti tentara.
Setelah penyerahan tentara Jepang pada tahun 1945, saya memperhatikan barisan tentara Amerika dalam jajar empat melintasi jalan-jalan di kota China Tsingtao. Betapa kagumnya saya melihat orang-orang muda Amerika yang dalam keadaan siap tempur itu! Sebaliknya, saya sangat kecewa melihat kekenduran sebagian para pemuda di Amerika Serikat hari ini. Jika kita hendak keluar dari dunia, kita tidak dapat kendur. Secara rohani, kita harus berbaris keluar dari dunia dalam keadaan siap tempur. Setiap hal yang berhubungan dengan kita harus ketat, tepat, dan siaga, lagi tertib. Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan Iblis dan dunia. Bagi peperangan semacam itu, kita perlu dalam keadaan siap tempur, siap untuk berperang melawan musuh.
Hari demi hari orang-orang Kristen yang menempuh hidup gereja perlu berada dalam keadaan siap tempur. Dalam segala hal kita seharusnya selalu ketat, tepat, dan korporat. Hanya dengan menjadi tentara secara korporatlah kita baru dapat berada dalam keadaan siap tempur. Fakta kita harus berbaris keluar dari dunia sebagai pasukan Allah membuktikan bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk keluar dari Mesir. Puji Tuhan, atas gambaran yang jelas dalam Kitab Keluaran ini! Semoga gambaran ini memberi kesan yang dalam pada kita semua.