ORANG ISRAEL KELUAR DARI MESIR (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 12:14, 37; 13:1-22; Kej. 50:24-25;
Ibr. 11:22; Yos. 24:32; Yeh. 37:1, 10
Dalam berita ini kita akan tetap memperhatikan keluarnya umat Allah dari Mesir. Dalam berita yang lalu kita nampak bahwa Firaun dan orang-orang Mesir ditaklukkan oleh Allah, lalu mereka mengusir orang Israel dari Mesir (12:29-33; 11:1). Orang Israel tidak mempunyai waktu untuk meragikan roti mereka (12:34, 39), tetapi menurut perintah Allah, mereka merampasi perak, emas, dan kain-kain orang Mesir (12:35-36; 3:21-22, 11:2-3). Tidak hanya demikian, kita juga melihat orang Israel keluar dari Mesir beserta anak-anak mereka, kambing domba, dan lembu sapi mereka (12:37-38, 31-32). Lamanya mereka menetap di tanah orang kafir ialah 430 tahun (12:40-41). Malam keluarnya mereka dari Mesir adalah malam berjaga-jaga (12:42). Terakhir, ketika mereka keluar dari Mesir, orang Israel telah menjadi pasukan TUHAN (12:41, 51). Karena itu, dalam 13:18 dikatakan bahwa mereka keluar dari Mesir dalam keadaan siap tempur. Dalam berita ini kita akan membahas empat butir tambahan, yang semuanya terdapat dalam pasal 13. Berlainan dengan materi yang dibahas pada berita yang lalu, butir-butir ini berhubungan dengan perkara rohani.
Mungkin kelihatannya pasal 13 hanya merupakan sisipan di antara pasal 12 dan 14, dan pasal 14 sebenarnya merupakan sambungan langsung dari pasal 12. Di satu pihak, ini mungkin benar. Namun, dari sudut pengalaman rohani, pasal 13 bukanlah sisipan, melainkan sambungan yang jelas dan tegas dari pasal 12. Semua butir dalam pasal 13 berhubungan dengan pengalaman rohani di pihak positif. Contohnya, 13:2 mengatakan pengudusan anak sulung. Jelas ini melambangkan aspek khusus pengalaman rohani umat Allah dalam keluar dari Mesir. Ini membuktikan bahwa tujuan keluarnya kita dari dunia adalah untuk dikuduskan bagi Tuhan.
Dalam 13:3-10 kita dapat membaca suatu hari peringatan yang diadakan pada bulan Abib. Pada saat peringatan ini, orang Israel tidak boleh makan roti yang beragi. Hari keluarnya orang Israel dari Mesir menjadi hari raya roti tidak beragi, suatu hari peringatan. Menurut 13:3, makan roti tidak beragi merupakan peringatan dan kenangan. Cara untuk mengenang keluaran adalah membersihkan semua ragi. Ada tiga hal yang sejalan: hari peringatan, roti yang tidak beragi, dan bulan Abib.
Dalam 13:19 tertulis, Musa membawa tulang-tulang Yusuf karena Yusuf telah berpesan kepada bani Israel dengan berkata, “Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.” Sangatlah bermakna bahwa rincian ini tidak terdapat baik dalam pasal 12 maupun dalam pasal 14, melainkan langsung sesudah sebuah ayat yang memberi tahu kita betapa Allah memimpin orang-orang itu melalui jalan di padang gurun (ayat 18). Seperti yang akan kita lihat, Allah memimpin mereka dengan cara yang berkebalikan dengan yang kita harapkan menurut konsepsi alamiah. Kita tentu mengira Dia membawa mereka menempuh jalan yang singkat, tetapi sebaliknya, Dia mengambil jalan melingkar. Selanjutnya, dalam ayat-ayat sesudah catatan mengenai tulang-tulang Yusuf, kita diberi tahu bahwa Tuhan berjalan di depan orang Israel dengan tiang awan pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari. Apabila kita memperhatikan pasal ini dalam terang pengalaman rohani, kita perlu menjajarkan perkara tulang-tulang Yusuf dengan cara pimpinan Tuhan Allah.
Jika kita melihat pasal ini secara keseluruhan, kita nampak bahwa pasal ini dimulai dengan pengudusan dan diakhiri dengan hadir Tuhan sebagai pembimbing bagi umat-Nya. Betapa ajaibnya! Mari kita lihat pasal yang ajaib ini dengan rinci.
IX. ORANG ISRAEL
DIKUDUSKAN BAGI TUHAN
Pengudusan adalah berdasarkan penebusan. Keluaran 13:2 mengatakan, “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” Tuhan hanya menuntut anak sulung yang harus dikuduskan karena merekalah yang tertebus. Ini menyatakan bahwa apa saja atau siapa saja yang tertebus, juga harus dikuduskan. Prinsip ini berlaku bagi kita sebagai orang-orang yang percaya di dalam Kristus. Karena kita telah ditebus, kita pun harus dikuduskan. Kalau tidak, kita akan menetap di Mesir, di dalam dunia. Jika kita mau mengalami keluaran yang sejati dari Mesir, kita harus ditebus dan dikuduskan. Tidak seorang pun dapat keluar dari Mesir tanpa dikuduskan bagi Tuhan. Menurut permintaan ilahi, semua yang ditebus juga harus dikuduskan.
Penebusan adalah untuk keamanan kita, sedangkan pengudusan adalah untuk tujuan Allah. Jika kita berpandangan sempit, mungkin kita hanya memandang penebusan bagi kepentingan kita. Tetapi jika kita memiliki daya pembeda yang tepat, kita akan nampak bahwa penebusan harus diikuti oleh pengudusan (Rm. 6:22) bagi penggenapan tujuan Allah.
Karena anak sulung telah ditebus oleh domba Paskah, maka semua anak sulung baik binatang maupun manusia haruslah dikuduskan bagi Tuhan. Untuk pengudusan anak-anak sulung, lembu dan domba tidak memerlukan pengganti dari binatang lain, karena binatang-binatang ini tidak najis, dan dapat diterima oleh Tuhan sebagai kurban. Namun demikian, ayat 13 mengatakan, “Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kautebuslah dengan seekor domba.” Karena keledai najis di mata Allah, keledai tidak dapat Dia terima dan tidak dapat memuaskan Dia. Sebab itu, anak sulung keledai harus ditebus dengan seekor domba.
Pada butir ini, kita perlu mengajukan satu pertanyaan yang sulit dimengerti. Jikalau anak sulung keledai telah ditebus oleh anak domba Paskah, mengapa masih perlu ditebus lagi pada saat pengudusan? Jawabannya ialah, sekalipun keledai itu telah ditebus, ia masih tetap merupakan binatang yang najis. Untuk dikuduskan, dipersembahkan di atas mezbah kepada Tuhan bagi kepuasan-Nya, keledai itu masih perlu ditebus dengan seekor domba. Keledai tidak memenuhi syarat untuk dipersembahkan kepada Tuhan bagi kepuasan-Nya.
Kita dapat menerapkan prinsip ini pada pengalaman rohani kita. Dalam hal pengudusan, kita bukanlah lembu atau domba, kita adalah keledai. Sekalipun kita telah ditebus, manusia alamiah kita masih tetap najis dalam pandangan Allah. Karena itu, untuk dikuduskan bagi Tuhan, kita memerlukan Kristus menjadi pengganti kita. Dalam ayat 13 kita tahu bahwa bukan hanya anak sulung keledai yang perlu ditebus, bahkan semua anak sulung laki-laki orang Israel pun harus ditebus. Ini menjelaskan bahwa mereka harus ditebus dalam pengudusan. Mereka memerlukan penebusan bukan hanya pada saat Paskah saja, tetapi juga bagi kekudusan mereka. Artinya, mereka memerlukan suatu pengganti baik untuk penebusan maupun untuk pengudusan.
Domba Paskah melambangkan Kristus sebagai Penebus kita. Melalui Dia sebagai pengganti kita, kita telah ditebus. Namun, karena kita masih najis dan alamiah, kita tidak bisa menjadi kurban yang hidup bagi kepuasan Allah; kita memerlukan Kristus menjadi pengganti kita dalam pengudusan. Gambar ini membuktikan bahwa baik untuk keselamatan maupun untuk pengudusan, kita memerlukan Kristus sebagai pengganti kita.
Dalam Galatia 2:20 Paulus mengatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kita tidak hanya memerlukan Kristus untuk penebusan kita, lebih-lebih bagi kehidupan kita sebagai persembahan kepada Allah. Meskipun kita telah ditebus, alamiah kita masih belum berubah. Disinggung dari sifat alamiah kita, kita semua adalah “keledai”, najis dalam pandangan Allah, sebab itu tidak dapat Dia terima untuk kepuasan-Nya. Dengan alasan inilah kita memerlukan Kristus untuk pengudusan kita. Hanya dengan memiliki Kristus sebagai pengganti kita, barulah kita dapat menjadi persembahan yang hidup bagi Allah, yang dapat Dia terima dan memuaskan Dia.
Kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui bahwa mereka memerlukan Kristus sebagai pengganti mereka untuk penebusan. Tidak banyak yang menyadari bahwa untuk menjadi suatu persembahan yang hidup bagi kepuasan Allah, mereka pun memerlukan Kristus sebagai pengganti mereka dalam pengudusan. Menurut Keluaran 13:13, jika seekor keledai tidak ditebus, lehernya haruslah dipatahkan. Artinya setiap anak sulung keledai yang tidak ditebus harus dibunuh. Karena banyak orang Kristen tidak mengambil Kristus sebagai pengganti mereka untuk pengudusan, “leher” mereka seolah-olah dipatahkan; mereka mati secara rohani. Mereka tidak mengambil Kristus sebagai pengganti mereka untuk kehidupan mereka bagi Allah. Sebaliknya, mereka mempersembahkan diri mereka sendiri di atas mezbah seolah-olah mereka menjadi persembahan yang diperkenankan Allah. Ini adalah kesalahan yang parah. Allah tidak akan menerima manusia alamiah sebagai kurban. Sebaliknya, leher manusia alamiah harus dipatahkan.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa untuk penebusan, kita memerlukan Kristus sebagai keamanan kita; untuk pengudusan, kita memerlukan Kristus sebagai pengganti kita, agar dapat diterima dan diperkenan oleh Allah. Berdasarkan diri sendiri kita sama sekali tidak memenuhi syarat untuk diterima dan diperkenan Allah. Berdasarkan diri sendiri kita tidak layak ditebus dan diselamatkan. Demikian pula, berdasarkan diri sendiri kita ini tidak layak dikuduskan bagi Allah untuk kepuasan-Nya. Sebab itu, sama seperti Kristus menjadi pengganti kita untuk penebusan, Dia pun harus menjadi pengganti kita untuk pengudusan, sehingga dalam kehidupan kita akan merupakan suatu persembahan yang diperkenan Allah dan menyenangkan Dia.
Bila kita perhatikan gambar dalam Kitab Keluaran, kita nampak bahwa untuk keamanan, keselamatan, dan kepastian kita, kita memerlukan Kristus sebagai pengganti kita sehingga kita dapat ditebus. Kita pun nampak bahwa untuk keluar dari Mesir, melayani Allah, dan menjadi suatu persembahan yang hidup yang menyenangkan Allah, kita juga memerlukan Kristus sebagai pengganti kita. Mengambil Kristus menjadi pengganti kita untuk pengudusan adalah bagian dari penebusan diri kita.
X. PADA HARI PERINGATAN DALAM BULAN
ABIB TIDAK BOLEH MAKAN ROTI
YANG BERAGI
Jika kita hendak disucikan bagi Allah dengan mengambil Kristus sebagai pengganti kita, kita perlu mengalami bulan Abib (13:4), sejangka waktu yang melambangkan seluruh kehidupan kekristenan kita, waktu-waktu kita menikmati hayat yang baru. Telah kita tunjukkan bahwa kata “abib” berarti bertumbuh, bertunas. Jadi, hal ini melukiskan suatu permulaan baru dari hayat. Untuk dikuduskan bagi Tuhan demi kepuasan-Nya, kita memerlukan permulaan baru dari hayat yang sedemikian ini. Kita perlu menjadi butir biji gandum yang hijau yang menumbuhkan hayat baru.
Dalam permulaan baru dari hayat ini tidak seharusnya ada ragi. Kita telah menunjukkan bahwa dalam Alkitab, ragi melambangkan kedosaan atau kerusakan. Kita harus menanggulangi dosa-dosa yang terungkapkan. Kita tidak seharus-nya membiarkan dosa apa pun yang sudah disingkapkan. Makan roti yang tidak beragi secara demikian merupakan suatu kenangan sejati untuk Tuhan. Orang yang telah dikuduskan dengan mengambil Kristus sebagai pengganti mereka dan yang telah mempunyai permulaan baru dari hayat tanpa dosa akan mengalami kehidupan sehari-hari yang patut dikenang. Apabila kita memiliki pengalaman yang tepat akan karunia keselamatan Allah, kita akan memiliki sejarah kerohanian yang menakjubkan. Setelah Paskah, kita akan dikuduskan bagi Tuhan melalui mengambil Kristus sebagai pengganti kita yang hidup di dalam kita. Kemudian kita akan mempunyai permulaan yang baru dari hayat, dan semua dosa yang terungkap akan ditanggulangi. Kehidupan semacam ini akan menjadi suatu peringatan, suatu kenangan. Kalau setiap hari kita menempuh kehidupan semacam ini, setiap hari akan menjadi hari peringatan. Dalam kehidupan kekristenan kita haruslah setiap hari menjadi hari peringatan. Hari apa saja yang bukan hari peringatan merupakan hari kegagalan.
Saya prihatin bahwa banyak orang Kristen yang akan memiliki sedikit kenangan pada saat mereka berada di dalam Yerusalem Baru. Tetapi jika kita hidup dengan Kristus sebagai pengganti kita, mempunyai permulaan baru dari hayat dan menanggulangi semua dosa yang tersingkap, kita akan mempunyai sejumlah besar hari untuk dikenang pada kekekalan. Bila setiap hari kita hidup demikian, kita akan mempunyai hari yang layak dikenang. Bisa saja kita membuat setiap hari dalam kehidupan kekristenan kita menjadi hari-hari kenangan. Kiranya Tuhan menyelamatkan kita dari penyesalan atas hari-hari yang terlalu banyak kita hamburkan, yaitu hari-hari tanpa permulaan baru dari hayat dan penanggulangan menyeluruh atas ragi. Setelah kita beroleh selamat melalui Kristus sebagai Anak Domba Paskah kita, kita perlu menerima Dia sebagai pengganti kita bagi permulaan baru dari hayat dan tanpa dosa. Dengan demikian kita akan memiliki banyak hari yang patut dikenang.
XI. TULANG-TULANG YUSUF DIBAWA
KELUAR DARI MESIR
BERSAMA ORANG ISRAEL
Keluaran 13:19 menerangkan bahwa tulang-tulang Yusuf dibawa keluar dari Mesir bersama orang Israel. Kelihatannya mungkin agak aneh bahwa tulang-tulang ini disebutkan dalam pasal yang sama yang menceritakan bulan Abib. Kelihatannya tidak ada hubungan antara kedua hal tersebut. Bulir gandum yang hijau, dilambangkan oleh bulan Abib, penuh dengan hayat. Tetapi tulang yang mati tidak memiliki hayat. Namun demikian, kita harus ingat bahwa dalam Alkitab, tulang melambangkan hayat yang tidak dapat dipatahkan, hayat kebangkitan (Yoh. 19:36). Sebab itulah tulang dalam Keluaran 13:19 ada sangkutpautnya dengan hayat kebangkitan.
Ibrani 11:22 mengatakan, “Karena iman, menjelang kematiannya, Yusuf menyebut tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.” Yusuf yakin bahwa pada suatu hari Tuhan Allah akan melawat umat-Nya dan membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan masuk ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Kemudian, Yusuf “menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: ‘Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini” (Kej. 50:24-25). Dibawanya tulang-tulang Yusuf dari tanah Mesir melambangkan kebangkitan. Satu-satunya jalan bagi tulang yang kering dan mati untuk memasuki tanah Kanaan adalah dengan kebangkitan. Menurut gambar ini, tulang-tulang itu dikeluarkan dari kubur dan dibawa ke tanah permai yang melambangkan hayat kebangkitan.
Dalam 1Korintus 15:50 Paulus berkata, “Daging dan darah tidak mewarisi Kerajaan Allah.” Menurut Alkitab, daging dan darah melambangkan manusia alamiah (Mat. 16:17; Gal. 1:16). Dalam kebangkitan, Kristus mempunyai tulang dan daging, tetapi tidak ada darah (Luk. 24:39). Fakta bahwa tulang-tulang Yusuf dibawa masuk ke dalam tanah permai menggambarkan bahwa kaum beriman yang telah mati akan memasuki kerajaan dalam kebangkitan (kaum beriman yang masih hidup akan terangkat dan masuk dalam kerajaan). Orang yang mengambil bagian dalam kerajaan tidak lagi hidup dalam hayat alamiah yang dilambangkan oleh daging dan darah, melainkan dalam kebangkitan yang dilambangkan oleh tulang-tulang Yusuf. Sebagai umat Allah hari ini, kita perlu berada dalam kebangkitan, kita perlu menjadi tulang-tulang yang bergerak dalam hayat kebangkitan.
Dalam pandangan Allah, semua orang Israel telah mati dan dikubur dalam kuburan di Mesir. Itulah keadaan mereka sebelum hari Paskah. Tanah Mesir merupakan kubur-an besar yang di dalamnya dikuburkan orang-orang Israel. Jadi, dari sudut pandang Allah, umat-Nya di Mesir merupakan tulang-tulang yang kering. Gambar tulang-tulang yang kering dalam Yehezkiel 37 menggambarkan keadaan orang Israel di Mesir. Mereka adalah tulang-tulang kering yang perlu dibangkitkan dan dibentuk menjadi pasukan (Yeh. 37:1, 10). Keluar dari Mesir sebenarnya merupakan kebangkitan. Ini khususnya terlihat dalam hal menyeberangi Laut Merah.
Prinsip kebangkitan berlaku pada perkara penggantian bagi pengudusan. Menurut Galatia 2:20, kita telah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi kita yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Kristus menggantikan kita untuk menguduskan kita dalam kebangkitan.
Tanpa kebangkitan, tidak mungkin umat Allah keluar dari dunia. Baik tulang-tulang Yusuf dan menyeberangi Laut Merah menunjukkan kebangkitan. Dalam hayat alamiah kita, kita tidak dapat keluar dari dunia. Untuk melaksanakan keluaran semacam ini, kita harus menjadi umat yang dibangkitkan. Meskipun kita adalah tulang-tulang yang kering, kita adalah tulang-tulang yang bergerak. Seperti halnya tulang-tulang dalam Yehezkiel 37, kita akan dihidupkan dan menjadi suatu pasukan.
Sama halnya dengan bani Israel yang merupakan tulang-tulang kering dalam Yehezkiel 37, pada zaman Musa, mereka juga adalah tulang-tulang kering. Namun, mereka telah dibangkitkan menjadi pasukan Allah. Ini seharusnya menjadi pengalaman kita hari ini. Alasan tulang-tulang Yusuf disebutkan dalam Keluaran 13:19 adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa keluar dari Mesir hanya dapat digenapkan dalam kebangkitan. Kita dikuduskan bagi Tuhan dan dapat diterima serta memuaskan Dia dalam kebangkitan. Hanya dalam kebangkitan kita dapat mempunyai permulaan yang baru dari hayat tanpa dosa, sehingga kita mempunyai hari peringatan (kenangan). Setiap aspek keluaran dari Mesir berhubungan dengan kebangkitan.
Menurut pengalaman kita, kita dapat bersaksi bahwa tanpa hayat kebangkitan tidak dapat keluar dari dunia. Keluar dari Mesir hanya dapat digenapkan dalam kebangkitan. Banyak khotbah yang diberitakan menganjuri orang Kristen untuk tidak mengasihi dunia dan agar mereka keluar dari dunia. Khotbah-khotbah semacam itu penuh dengan kata-kata hampa. Tak seorang pun dapat meninggalkan dunia selain dia dihidupkan dulu oleh hayat kebangkitan. Jika kita hendak keluar dari Mesir, kita harus menjadi tulang-tulang kering yang telah dikubur di dalam dunia. Tetapi meskipun kita telah dikubur, kita telah dipilih Allah dan kita akan muncul dalam kebangkitan.
Mungkin kita adalah tulang-tulang yang mati, namun tulang-tulang ini melambangkan hayat yang tidak terpatahkan dan ilahi. Hanya pada saat hayat ini muncul dalam kebangkitanlah kita baru dapat keluar dari dunia. Sebab itu, kita keluar dari Mesir, bukan bersandarkan tenaga atau hayat alamiah kita, melainkan oleh hayat kebangkitan. Meskipun Yusuf telah Allah pilih, tetapi ia dikuburkan di Mesir. Namun, dalam kebangkitan, tulang-tulangnya dibawa keluar dari Mesir. Prinsipnya sama pada hari ini. Meskipun kita telah Allah pilih, kita dikuburkan di dunia. Tetapi di dalam kebangkitan, tulang-tulang yang mati dapat bergerak keluar dari dunia. Inilah hayat yang keluar dari maut. Haleluya atas hayat kebangkitan yang membawa kita keluar dari dunia!
XII. CARA PIMPINAN ALLAH
A. DALAM KEBANGKITAN
Segera sesudah kata-kata mengenai tulang-tulang Yusuf, kita memiliki catatan mengenai pimpinan dan bimbingan Tuhan (13:20-21; lihat juga 13:17-18; 12:37). Bagian yang ajaib ini menerangkan bahwa Allah tidak dapat memimpin umat itu di luar hayat kebangkitan. Pimpinan-Nya hanya berguna terhadap tulang-tulang yang bergerak dalam kebangkitan. Saat tulang-tulang kering mulai hidup dan berjalan keluar dari Mesir, pimpinan Allah menimpa mereka.
Selama bertahun-tahun saya heran mengapa tulang-tulang Yusuf disebutkan dalam kaitannya dengan tiang awan dan tiang api (13:19-22), yang keduanya melambangkan Allah sendiri. Fakta tiang awan dan tiang api disebutkan berhubungan dengan tulang-tulang Yusuf menyatakan bahwa pimpinan dan bimbingan-Nya yang hidup berhubungan dengan hayat kebangkitan. Saat tulang-tulang mati itu bergerak, muncullah pimpinan Allah. Ketika kita bergerak dalam hayat kebangkitan, kita segera memiliki pimpinan Allah.
Hari ini banyak orang Kristen yang mencari kehendak Tuhan. Mereka dengan gairah mencari pimpinan dan bimbingan-Nya. Namun, semakin mencari, mereka semakin tidak jelas. Penyebabnya ialah orang-orang ini bukanlah tulang-tulang yang telah dikubur dan dibangkitkan; mereka bukanlah tulang yang bergerak dalam kuasa hayat kebangkitan. Untuk memiliki pimpinan dan bimbingan Tuhan, tulang-tulang yang telah dikubur harus dibangkitkan dari kuburnya dan mulai bergerak.
B. MEMATUHI PERINTAH TUHAN
Pasal 12 mengatakan tentang keluarnya umat Israel dari Mesir, tetapi tidak mengatakan tentang pimpinan Tuhan. Ini ditemukan dalam pasal 13. Jika orang Israel keluar dari Mesir berdasarkan mereka sendiri, mereka pasti membuat kesalahan yang fatal. Untuk keluar dengan tepat, mereka harus mempunyai pimpinan dan bimbingan Tuhan.
Dalam Keluaran 12 kita memiliki perintah Tuhan, dan dalam Keluaran 13 kita memiliki pimpinan Tuhan. Dalam hal rohani, tidaklah cukup hanya mempunyai perintah Tuhan tanpa pimpinan-Nya. Memiliki perintah-Nya tanpa pimpinan-Nya adalah tragis. Perintah-Nya harus disertai dengan pimpinan-Nya.
Memang tepat bagi orang Israel mengadakan perayaan Paskah. Lingkungan mereka telah ditaklukkan oleh Tuhan, dan mereka siap untuk berbaris keluar dari Mesir. Namun, seperti yang dijelaskan oleh kesimpulan ayat-ayat dalam Keluaran 13, umat Allah harus memilih dua jalan: jalan pintas atau jalan melingkar. Menurut pengertian alamiah, mereka pasti akan memilih jalan pintas, bukan jalan melingkar yang menempuh jarak yang panjang. Namun, jalan yang dipilih umat Israel tidak tergantung pada mereka, juga tidak tergantung pada Musa atau Harun. Tetapi sepenuhnya tergantung pada pimpinan Tuhan melalui tiang api dan tiang awan. Di luar pimpinan Tuhan, umat Allah tidak dibenarkan untuk bergerak. Jika umat Israel bergerak tanpa pimpinan Tuhan dalam tiang api atau tiang awan, mereka tentu bergerak berdasarkan diri mereka atau cara mereka sendiri. Ini merupakan tindakan yang tidak dibenarkan dalam perkara rohani. Bersama perintah Allah kita harus memiliki pimpinan dan bimbingan-Nya. Jika Dia meminta kita melakukan sesuatu, kita harus melakukannya bukan berdasarkan diri kita. Sebaliknya, kita harus berdoa, “Tuhan karena Engkau menyuruhku melakukan hal ini, Engkau harus memimpinku. Pimpinlah aku dengan tiang api atau dengan tiang awan.”
Meskipun Keluaran 13 kelihatannya merupakan sisipan antara pasal 12 dan 14, sebenarnya ini bukanlah sisipan. Sebaliknya, pasal ini diperlukan. Pasal ini mewahyukan bahwa kita memerlukan pimpinan Tuhan sebagaimana juga perintah-Nya.
C. MENURUT SYARAT TERTENTU
Selanjutnya, pasal ini mewahyukan bahwa pimpinan dan bimbingan Tuhan hanya muncul pada saat-saat menurut syarat tertentu. Pimpinan dan bimbingan-Nya bukanlah sembarangan. Syarat pertama adalah pengudusan. Jika kita tidak dikuduskan, kita tidak dapat memiliki pimpinan Tuhan. Kita juga perlu mengalami permulaan baru dari hayat tanpa ragi. Dikuduskan dan mengalami permulaan baru dari hayat tanpa ragi adalah dua syarat pertama untuk dapat mengalami pimpinan Tuhan.
Syarat lainnya adalah kebangkitan. Agar dipimpin oleh Tuhan, kita harus tidak berada dalam manusia alamiah. Tulang kita harus dibangkitkan dan bergerak. Ketika kita tidak lagi di dalam manusia alamiah, kita akan memiliki pimpinan dan bimbingan Tuhan.
Telah kita tunjukkan bahwa Alkitab menyatakan manusia alamiah sebagai darah dan daging. Ketika Petrus menerima wahyu bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Tuhan menjawab, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia (darah dan daging) yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16:17). Selanjutnya, setelah Kristus diwahyukan kepada Paulus, Paulus tidak lagi berunding dengan daging dan darah, ia tidak minta pertimbangan kepada manusia alamiah (Gal. 1:16). Seperti yang telah kita tunjukkan, tulang-tulang Yusuf yang bergerak menunjukkan kebangkitan. Meskipun tulang-tulang ini kering, namun masih sanggup bergerak. Ini-lah gambaran manusia dalam kebangkitan. Orang yang seperti ini dapat dipimpin oleh Tuhan dan dibimbing oleh-Nya. Bila kita berada di dalam kebangkitan, kita telah memenuhi syarat untuk menerima pimpinan dan bimbingan Tuhan.
Sebenarnya, pimpinan dan bimbingan Tuhan tak lain adalah diri Tuhan sendiri dalam tiang api di malam hari dan dalam tiang awan di siang hari. Ketika orang-orang Israel berjalan keluar dari Mesir dengan susunan kesatuan perang, mereka dipimpin oleh tiang api atau tiang awan. Orang-orang Mesir mestinya merasa ngeri melihat pemandangan seperti itu.
Gambaran orang-orang Israel berjalan keluar dari Mesir menurut pimpinan Tuhan menunjukkan bahwa pimpinan Tuhan diberikan hanya bila kita telah memenuhi syarat-syarat-Nya. Kita perlu dikuduskan, kita perlu mempunyai permulaan yang baru dari hayat tanpa dosa, dan kita pun perlu berada dalam kebangkitan. Kemudian kita akan dipimpin oleh Tuhan dan dibimbing oleh-Nya.
D. BUKAN MELALUI JALAN PINTAS,
MELAINKAN MELALUI JALAN MEMUTAR
Sewaktu Tuhan memimpin orang-orang Israel, Ia bukan memimpin mereka dengan mengambil jalan pintas, melainkan dengan mengambil jalan memutar, jalan yang kelihatannya seperti putaran. Kita boleh jadi menyangka bahwa orang-orang Israel akan mengambil jalan lurus dari tanah Filistin ke tanah permai. Akan tetapi, 13:17 mengatakan, “Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab Firman Allah: ‘Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.’” Karena adanya kemungkinan berperang dengan orang-orang Filistin, Allah tidak memimpin orang-orang Israel melewati jalan itu. Seperti yang dinyatakan 13:20, “Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun.”
Menurut pemikiran manusia, pimpinan Tuhan terhadap umat-Nya sangatlah aneh dan bahkan bodoh. Jika kita yang menjadi Allah, sudah tentu kita akan memimpin umat itu dengan mengambil jalan lain untuk menghindari kemungkinan pengejaran Firaun. Akan tetapi, Allah justru memimpin umat-Nya melalui jalan yang panjang. Seperti yang akan kita lihat dalam berita-berita selanjutnya, dengan mengambil jalan yang panjang telah membuat Firaun tergoda untuk mengejar mereka. Kelihatannya dalam memimpin umat-Nya, Allah telah mengambil jalan yang keliru. Sesungguhnya, pimpinan Allah tak akan pernah salah. Jalan apa saja yang Allah ambil selalu benar. Allah tidak pernah salah.
Keluaran 13:18 mengatakan, “Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau.” Dalam bahasa Ibraninya di sini menunjukkan bahwa Allah membawa umat itu berputar. Melalui tiang api dan tiang awan, Ia memimpin mereka dengan mengambil jalan memutar.
Berkali-kali dalam kehidupan kekristenan saya, Allah memimpin saya dalam jalan yang saya anggap salah. Tetapi pada akhirnya saya menyembah Tuhan atas pimpinan-Nya. Pimpinan-Nya selalu benar. Dari sudut pandangan insani kita, kita boleh jadi mengira bahwa Ia akan membawa kita melewati jalan tertentu. Tetapi, jika Dia memimpin kita demikian, kita tak akan mempunyai pelajaran untuk kita pelajari. Bahkan sebaliknya, mungkin kita akan berada dalam bahaya dengan kembali lagi ke Mesir. Karena itu, Allah memimpin kita dengan mengambil jalan secara tak langsung, mengambil jalan memutar yang panjang. Karena orang-orang Israel dipimpin lewat jalan ini, akhirnya me-reka harus mengembara di padang gurun selama 38 tahun. Kebanyakan dari waktu-waktu itu mereka habiskan dengan berkeliling-keliling memutari lingkaran itu berulang-ulang. Ini juga merupakan pengalaman kebanyakan orang Kristen hari ini. Mereka berputar berulang-ulang, tanpa terlihat adanya kemajuan. Akan tetapi, melalui perjalanan seperti ini, kita mempelajari pelajaran-pelajaran yang penting, sebagaimana dijelaskan Kitab Bilangan dan Ulangan. Kita mungkin mengharap dipimpin pada jalan pintas, sebaliknya Allah justru memimpin kita mengambil jalan memutar. Bahkan Dia menyebabkan kita menyeberangi Laut Merah dan kemudian menempuh jalan melalui padang gurun yang luas dan menakutkan.
Pada waktu-waktu yang lampau saya membaca sebuah buku yang berjudul “Jalan Lurus bagi Anak-anak Allah”. Akan tetapi, seringkali tidak ada jalan lurus bagi umat Allah. Bila kita sangat berharap bahwa Allah akan membawa kita pada jalan yang lurus, Ia malah membawa kita pada jalan memutar. Dalam beberapa tahun kita mungkin mempunyai beberapa putaran. Akan tetapi, melalui putaran ini kita ditolong, diperlengkapi, dididik, dilatih, dan disiplin. Inilah alasannya mengapa Allah tidak memimpin kita pada jalan yang lurus.
Semasa muda, saya sangat menghargai buku yang berjudul “Jalan Lurus bagi Anak-anak Allah” itu. Namun, kini saya tidak menghargainya lagi, karena dalam pengalaman kekristenan saya, saya memahami bahwa Tuhan sering memimpin kita melewati jalan yang memutar. Perhatikanlah perjalanan orang-orang Israel di padang gurun. Apakah mereka menempuh jalan yang lurus? Tidak, jalan mereka penuh dengan putaran-putaran. Akan tetapi, jalan yang berputar-putar ini bukan pilihan mereka. Mereka dipimpin oleh hadir Allah di dalam tiang api dan tiang awan.
E. OLEH DIRI-NYA SENDIRI DALAM TIANG AWAN
PADA SIANG HARI DAN DALAM TIANG API
PADA MALAM HARI
Keluaran 13:21-22 mengatakan, “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.” Kedua tiang itu sebenarnya satu. Bila malam tiba, awan menjadi api. Tetapi ketika siang datang, api menjadi awan. Bagaimanapun juga, api maupun awan adalah satu.
Dalam perlambangan, awan menyatakan Roh. Ketika Ia mencapai kita, Roh Allah seperti awan. Api di sini menunjukkan firman Allah, yang merupakan terang bagi kita. Jadi, pimpinan yang hidup yang Allah berikan kepada kita itu datang baik melalui Roh maupun melalui firman. Ketika langit cerah, Ia adalah awan. Tetapi bila langit gelap, Ia adalah api. Ketika Tuhan memimpin sebagai tiang api pada malam hari, terang dari tiang ini menyebabkan malam menjadi siang. Dengan cara ini orang-orang Israel dapat menempuh perjalanan baik siang maupun malam.
Dalam kehidupan orang Kristen, tidak seharusnya ada perbedaan siang atau malam. Sebenarnya, sebagai orang-orang Kristen, tidak seharusnya ada kegelapan malam dalam kehidupan kita bersama dengan Tuhan. Sebaliknya, malam kita seharusnya berubah menjadi siang. Jika kita memiliki malam yang tak dapat berubah menjadi siang, berarti kita telah kalah. Kapankala kita berada dalam kegelapan dan dalam keadaan tertidur, kita mengalami malam dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Tetapi bila kita menyeru nama Tuhan, kita segera diterangi, dan malam kita pun berubah menjadi siang.
Baik awan maupun api adalah tanda Allah, karena Ia adalah Roh juga firman. Selanjutnya, firman juga adalah Roh (Yoh. 6:63; Ef. 6:17). Tuhan, Roh itu, dan firman adalah satu yang memimpin kita dan membimbing kita terus-menerus. Ketika kita cerah, Allah memimpin kita melalui Roh itu. Tetapi ketika kita tidak cerah, Allah memimpin kita melalui firman. Ketika firman itu ternyata jelas terhadap kita, firman itu menjadi Roh itu dalam pengalaman kita. Baik awan atau api, pimpinan Allah selalu adalah sebuah tiang. Dalam Alkitab, tiang menunjukkan kekuatan. Jadi, pimpinan Allah itu kuat, berdiri dengan tegak lurus menunjang semua beban berat. Dengan pimpinan yang mantap seperti ini, Allah memimpin orang Israel.
Kita perlu berterima kasih kepada Tuhan untuk semua catatan yang disajikan dalam Keluaran 13. Di sini kita nampak penggantian untuk pengudusan, hari peringatan, dan permulaan baru di dalam hayat tanpa dosa. Di sini kita juga nampak hayat kebangkitan yang di dalamnya kita bisa menikmati hadir Allah yang memimpin kita sebagai tiang awan dan tiang api. Marilah kita menyembah Tuhan untuk pimpinan-Nya, walaupun bukan pada jalan yang lurus, melainkan pada jalan yang memutar. Terpujilah Dia untuk semua putaran ini!