PERLAWANAN FIRAUN YANG TERAKHIR
Pembacaan Alkitab: Kel. 14:1-31
Keselamatan Allah yang lengkap untuk umat pilihan-Nya mencakup Paskah, keluar dari Mesir, dan menyeberangi Laut Merah. Paskah melambangkan penebusan; keluar dari Mesir melambangkan keluarnya kita dari dunia; dan menyeberangi Laut Merah melambangkan pembaptisan. Keselamatan penuh dengan semua aspek ini benar-benar merupakan apa yang kita perlukan dan nikmati hari ini.
Allah memerlukan orang macam Firaun untuk menggenapkan ketiga aspek keselamatan ini. Tanpa dia, mungkin tidak ada lingkungan, keadaan sekeliling, dan situasi yang sesuai. Jika kita melihat hal ini, kita akan memuji Tuhan atas kedaulatan-Nya. Perlawanan Firaun menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan Paskah. Kita tidak dapat mengatakan Firaun adalah sumber Paskah. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa tanpa dia tidak ada lingkungan yang cocok bagi kelangsungan Paskah.
Paskah meliputi keperluan bagi penebusan, yang diperlukan orang Israel karena dosa-dosa mereka. Namun, Paskah mencakup lebih banyak daripada penebusan. Orang-orang Kristen mengakui perlunya penebusan, tetapi mungkin mereka tidak melihat perlunya Paskah. Pada malam Paskah, orang Israel diselamatkan, tetapi orang-orang Mesir dan kuasa kegelapan dihakimi. Dalam pengalaman yang normal akan keselamatan, kita tertebus dan kuasa kegelapan di dalam kita dan yang di sekitar kita dihakimi. Namun, banyak orang Kristen yang tidak beroleh selamat secara normal. Mereka mengalami penebusan, tetapi mereka tidak mengalami penghakiman Allah atas kuasa kegelapan. Kita telah melihat bahwa berkali-kali Firaun melawan Allah, menangguhkan permintaan-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi. Tetapi semakin keras perlawanan Firaun, ia semakin membantu terciptanya lingkungan yang diperlukan untuk menggenapkan keselamatan Allah.
Meskipun Firaun terus menangguhkan permintaan Allah, Musa tidak henti-hentinya berbicara dengan dia. Tidak seorang pun di antara kita yang mampu berlaku demikian sabar, seperti yang diperlihatkan oleh Musa. Mungkin kita sudah berhenti setelah beberapa pertentangan awal. Inilah sikap kita bila kita berurusan dengan orang hari ini. Misalnya, mungkin Anda berbeban atas keselamatan seseorang. Mungkin kita mengharapkan agar orang yang dipilih Allah akan berpaling kepada Tuhan setelah kita hubungi beberapa kali. Tetapi jika orang tersebut terus-menerus menolak Tuhan, kita mungkin menyerah dan mengira bahwa jika kita mengontaknya lebih lanjut, itu akan membuang waktu saja. Sebaliknya, Musa sabar dan tekun dalam urusannya dengan Firaun.
Akibat dari kontak Musa dengan Firaun dan perlawanan Firaun terhadap Tuhan, situasi di Mesir menjadi sangat tegang. Akhirnya, Paskah menjadi suatu hal yang diperlukan. Ketika Firaun dan orang-orang Mesir telah terbukti bahwa mereka benar-benar menentang Tuhan, tibalah saatnya bagi Tuhan untuk melaksanakan penghakiman-Nya terhadap kaum pemberontak dan membebaskan umat-Nya. Ketika orang Israel menikmati Paskah, orang Mesir menderita di bawah penghakiman Allah. Namun, orang-orang Mesir tidak berhak menyalahkan Tuhan karena hal ini. Mereka sendirilah yang mendatangkan penghakiman Allah atas mereka. Mereka bertanggung jawab atas terciptanya lingkungan yang diperlukan dalam pelaksanaan Paskah beserta penebusan dan penghakimannya.
Sama halnya, karena bantuan Firaunlah umat Allah keluar dari Mesir. Jika tidak, mungkin orang-orang Israel tidak akan pernah meninggalkan Mesir. Jika Firaun dan orang-orang Mesir berbaik hati kepada mereka, mereka tidak akan berkeinginan meninggalkan Mesir. Tetapi tindasan Firaun atas mereka menciptakan lingkungan bagi keluarnya mereka dari Mesir dan mendesak mereka pergi. Akhirnya Firaun mengusir umat Allah dari Mesir. Jadi, Firaun dipakai Allah untuk mencapai tujuan umat Allah keluar dari Mesir.
Menurut ketetapan Allah dan ekonomi-Nya, dalam keselamatan-Nya perlu ada pembaptisan, yang dilambangkan oleh penyeberangan Laut Merah. Untuk menggenapkan aspek keselamatan ini, Allah tidak langsung memimpin umat-Nya ke tanah Kanaan melalui daerah Filistin. Sebaliknya, seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita terdahulu, Dia memimpin mereka menempuh arah selatan dan berbelok menuju Laut Merah, seolah-olah menuju jalan buntu. Namun, Tuhan tahu apa yang Dia rencanakan. Maksud-Nya ialah menggunakan Laut Merah untuk membaptis umat-Nya, sekaligus mengubur Firaun dan tentaranya. Jika orang-orang Israel langsung menuju tanah Kanaan melalui daerah Filistin, mereka tentunya tidak akan melewati Laut Merah dan tentara Mesir tidak akan terkubur. Jadi, dalam hal penyeberangan Laut Merah, sekali lagi Allah memakai Firaun untuk menciptakan situasi yang mendatangkan pembaptisan bagi umat-Nya. Dengan tiang awan dan tiang api, Allah memimpin mereka menempuh suatu perjalanan memutar. Begitu mereka berbaris di belakang tiang yang memimpin mereka, mereka dipimpin untuk berkemah di pinggir laut (14:2).
Menurut Keluaran 14:3, Tuhan mengetahui bahwa mengenai orang-orang Israel, Firaun akan berkata, “Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka.” Di mata orang Mesir, betapa bodohnya orang-orang Israel menempuh perjalanan yang tidak langsung. Jadi, situasi orang Israel di padang gurun menggoda Firaun untuk mengejar mereka. Sebab itu, perkemahan orang-orang Israel di tepi laut dan pengejaran Firaun beserta keretanya menghasilkan lingkungan yang serasi untuk pembaptisan umat Allah dan penguburan Firaun dan tentaranya.
Menurut pandangan orang-orang dunia, banyak orang di antara kita mengembara tanpa tujuan dalam waktu antara pertobatan kita dengan pembaptisan kita. Sebelum kita beroleh selamat, kita mempunyai suatu tujuan yang pasti, tujuan dalam hidup manusia. Namun, setelah kita beroleh selamat, nampaknya kita tidak bertujuan dan telah mulai mengembara tanpa tujuan. Tentu saja kita mempunyai tujuan rohani. Tetapi dalam pandangan orang-orang dunia, kita tidak mempunyai tujuan hidup dan tidak lagi jelas akan masa depan kita. Pengembaraan tanpa tujuan semacam ini bahkan mendatangkan penganiayaan. Yang lain mungkin menuduh kita sebagai orang yang tidak mengetahui apa yang kita lakukan atau ke mana kita pergi. Beberapa orang bahkan mungkin mengira bahwa kita telah kehilangan akal sehat. Banyak orang di antara kita telah mengalami penganiayaan semacam ini.
Namun, penganiayaan semacam ini menolong kita untuk mengalami pembaptisan yang tepat dan tegas. Jika kita tidak dianiaya karena pengembaraan yang seolah-olah tanpa tujuan ini, pembaptisan kita mungkin hanya merupakan tata cara yang sedikit maknanya. Tetapi jika kita dianiaya karena hilangnya tujuan kita, pembaptisan kita akan sangat bermakna. Sebab itu, kita harus bersyukur kepada Tuhan atas penganiayaan ini. Saya dapat bersaksi bahwa pembaptisan terbaik yang saya saksikan adalah pembaptisan mereka yang telah dianiaya oleh sanak keluarga dan sahabat-sahabat. Dalam kasus-kasus ini, orang-orang yang baru bertobat telah menguburkan banyak hal sewaktu mereka dicelup, sebaliknya bila tidak ada penganiayaan, pembaptisan tidaklah begitu berarti; karena ketika orang-orang yang baru bertobat itu dimakamkan, tidak ada apa-apa yang dikuburkan bersama mereka.
Ketika orang-orang Israel dibaptis dalam Laut Merah, mereka membawa serta pasukan Mesir masuk ke dalam air. Pada prinsipnya, hal yang sama akan terjadi ketika seorang yang baru bertobat kemudian dibaptiskan. Pasukan dunia seharusnya dibawa ke dalam pembaptisan dan dikuburkan dalam air pembaptisan.
Kita telah nampak bahwa Firaun merupakan suatu bantuan bagi orang Israel dalam tiga aspek keselamatan Allah. Dia membantu mereka mengadakan perayaan Paskah, melaksanakan keluar dari Mesir, dan mengalami pembaptisan yang tegas. Sebagai lambang, gambar ini sangat bermakna. Jika kita perhatikan lambang ini dan menerapkannya pada keadaan kita hari ini, kita akan dapat membantu orang yang baru percaya untuk dibaptis secara tepat.
Beberapa tahun yang lalu saya sangat aktif dalam pemberitaan Injil, dan banyak yang diselamatkan melalui pemberitaan Injil saya. Saya selalu mengharapkan orang-orang yang baru percaya dan beroleh selamat itu dibaptiskan sesudah pertobatan mereka di hadapan Kristus. Saya pikir mereka akan mengambil jalan pintas dari pertobatan kepada pembaptisan. Tetapi menurut lambang dalam Kitab Keluaran, harapan ini salah. Allah tidak membawa umat-Nya langsung menuju tanah yang dijanjikan. Seperti yang telah kita tunjukkan, Dia memimpin mereka menempuh jalan melingkar. Seprinsip dengan itu, Allah mungkin tidak memimpin seseorang yang sudah beroleh selamat melalui pemberitaan Injil kita, langsung menuju pembaptisan. Sebaliknya, mungkin Dia memimpin mereka menempuh suatu perjalanan. Dalam pandangan dunia, bodoh sekali menempuh cara itu, karena kelihatannya berakhir pada jalan buntu. Namun, inilah pimpinan Allah, dan berakibat pada pembaptisan yang tepat dengan penamatan pasukan dunia.
Jika kita mempelajari lambang dalam Kitab Keluaran, kita tidak akan lagi mengharapkan seorang yang baru bertobat menempuh jalan pintas dari pertobatan menuju pembaptisan. Kita akan menyadari bahwa cara Allah memimpin mereka mungkin mengandung banyak persoalan. Namun demikian, inilah cara Allah untuk membawa orang yang bertobat masuk dalam suatu keadaan yang memaksa mereka mengalami pembaptisan yang tepat dan tegas.
Sekarang mari kita lihat beberapa rincian perlawanan Firaun yang terakhir, perlawanan yang dipakai Allah dengan pasti bagi keselamatan yang penuh untuk umat-Nya.
I. LAMBANG PERLAWANAN IBLIS DAN
DUNIANYA ATAS KAUM BERIMAN YANG HENDAK DIBAPTIS
Perlawanan Firaun yang terakhir merupakan lambang perlawanan Iblis dan dunianya atas kaum beriman yang hendak dibaptis. Ketika Iblis dan dunia mengadakan perlawanan atas orang-orang yang baru bertobat, seharusnya kita tidak kecewa. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa perlawanan ini akan menyiapkan lingkungan bagi orang yang baru bertobat itu untuk mengalami pembaptisan yang tegas.
II. FIRAUN TERGODA OLEH MEMUTARNYA ORANG-ORANG ISRAEL DI PADANG GURUN
Kita telah nampak bahwa Firaun tergoda oleh perjalanan orang Israel di padang gurun (14:1-3). Firaun mengira orang-orang Israel mengembara tanpa tujuan, sehingga ia tergoda untuk mengejar mereka.
III. HATI FIRAUN DIKERASKAN
OLEH TUHAN DEMI KEMULIAAN-NYA,
HATI FIRAUN DAN PEGAWAI-PEGAWAINYA
BERUBAH TERHADAP ISRAEL
Firaun tergoda untuk mengejar orang-orang Israel, dan Allah mengeraskan hatinya. Karena hatinya telah dikeraskan oleh Allah, maka Firaun mengambil keputusan untuk mengejar umat Allah. Keluaran 14:4 mengatakan, “Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
Ada orang mungkin berpikir Allah tidak akan melakukan hal semacam itu, seperti mengeraskan hati Firaun. Ini sama sekali bertentangan dengan konsepsi mereka. Tetapi jika kita berada dalam kekekalan, kita akan takjub mengetahui betapa Allah telah melakukan banyak pekerjaan yang tidak sesuai dengan konsepsi kita. Khususnya ini berlaku pada cara Allah memakai Iblis. Meskipun kita membenci Iblis, Allah terus-menerus memakainya. Ini terbukti dari fakta bahwa pintu surga masih terbuka bagi Iblis. Kita melihatnya dari bagian firman seperti dalam Wahyu 12 dan Kitab Ayub di mana Iblis hadir di hadapan Allah di surga. Seandainya kita ini Allah, tentunya kita akan memakai kuasa kita untuk membuang Iblis langsung ke dalam lautan api. Paling tidak, kita akan memaksanya tinggal di luar surga. Namun, jalan Allah melampaui jalan kita. Menurut cara-Nya, Dia memakai Iblis untuk menggenapkan tujuan-Nya. Seprinsip dengan itu, Allah memakai Firaun demi kemuliaan-Nya, mengeraskan hatinya dan hati orang-orang Mesir (14:8, 17).
Mengenai Firaun, Keluaran 9:16 mengatakan, “Akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Paulus mengutip ayat ini dalam Roma 9:17. Allah memakai Firaun tidak hanya pada saat tulah, melainkan juga selama keluarnya umat Israel dari Mesir.
Seperti yang dikatakan Keluaran 14:5, “Maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu.” Menurut 14:1 dan 2, Allah memerintahkan orang Israel untuk “balik kembali dan berkemah di depan PiHahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon.” Mereka berkemah di sana dekat laut, di tempat yang benar-benar merupakan jalan buntu. Dalam pandangan Firaun, orang Israel terperangkap di padang gurun dan tidak ada jalan meloloskan diri. Menurut anggapan Firaun, inilah kesempatan terbaik untuk merebut kembali bani Israel ke bawah pengendaliannya. Sebab itulah dia mengejar mereka.
IV. FIRAUN DAN PASUKANNYA MENGEJAR BANI ISRAEL SAMPAI TEPI LAUT MERAH
Keluaran 14:6-9 mewahyukan bahwa Firaun dan pasukannya mengejar bani Israel sampai tepi Laut Merah. Ketika orang Israel melihat ke belakang, mereka melihat pasukan Firaun, dan ketika mereka melihat ke depan, mereka melihat Laut Merah. Segeralah mereka berseru-seru kepada TUHAN dan berkata kepada Musa, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini” (ayat 11-12). Dalam hal mengeluh, bani Israel yang tidak beriman ini sangat cakap. Mereka menyatakan perasaan mereka dengan ucapan yang bagus. Meskipun demikian, kita tidak seharusnya menertawai mereka. Seandainya kita ada di sana, mungkin kita akan melakukan hal yang serupa.
Musa tidak berdebat atau melawan mereka. Sebaliknya, dia berkata kepada mereka, “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (ayat 13-14). Begitu Musa selesai mengatakan hal ini, TUHAN berfirman kepada Musa agar mereka tidak berseru-seru kepada-Nya, melainkan menyuruh orang-orang Israel berangkat. Kemudian TUHAN berkata kepada Musa, “Angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering” (ayat 16). Pada saat ini, Firaun dan pasukannya pastilah sudah sangat dekat dengan perkemahan orang Israel. Jika kita berada di sana, kita pasti akan ngeri, seperti halnya orang Israel. Orang-orang Mesir memiliki enam ratus kereta perang, yang dimiliki Musa hanyalah sebatang tongkat di tangannya.
V. MALAIKAT ALLAH MELINDUNGI BANI ISRAEL
DARI PASUKAN ORANG MESIR DENGAN TIANG AWAN
Ayat 19 mengatakan, “Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka.” Malaikat Allah dalam ayat ini adalah Malaikat TUHAN yang memanggil Musa dalam pasal 3 (ayat 1, 4). Allah memanggil Musa dalam persona Malaikat TUHAN. Malaikat TUHAN adalah TUHAN sendiri. Tercantum dalam 3:6, Malaikat TUHAN menyatakan diri-Nya seraya berkata, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Ini menerangkan bahwa Dialah Allah Tritunggal Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Malaikat TUHAN, yang adalah Allah Tritunggal itu sendiri, adalah Kristus sebagai Yang diutus Allah. Fakta bahwa Yang diutus Allah berjalan di depan kemah orang Israel menerangkan bahwa Kristus sebagai Yang diutus Allah adalah Orang yang memimpin umat itu. Tetapi menurut Keluaran 14:19, Malaikat Allah pindah dari depan umat itu ke belakang. Kemudian ayat ini melanjutkan, “. . . dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka.” Ketika Malaikat Allah bergerak, tiang itu pun bergerak. Ini menunjukkan bahwa Dia dan tiang itu adalah satu.
Ayat 20 melanjutkan, “Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.” Tiang itu adalah tembok pemisah di antara kedua perkemahan ini. Di tembok bagian yang sebelah orang Mesir ada kegelapan, tetapi di bagian yang menghadap umat Allah ada terang. Tiang terang ini melindungi umat Allah dari orang-orang Mesir.
Kita dapat menerapkan hal ini dalam pengalaman kita dalam Tuhan hari ini. Begitu kita mulai mengikuti Tuhan, pimpinan Tuhan menjadi tiang terang bagi kita. Sejak kali pertama kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita telah mempunyai terang itu di dalam kita. Terang ini adalah terang yang memimpin. Tetapi ketika pihak penentang bangkit melawan kita, terang yang memimpin itu dengan sendirinya menjadi terang yang melindungi. Terang yang semula berada di depan kita bergerak ke belakang kita untuk melindungi kita dari penentangan dan serangan. Namun, bagi pihak penentang, terang yang melindungi ini menjadi kegelapan.
Saya dapat bersaksi dari pengalaman saya bahwa kapan saja saya ditentang, terang yang memimpin telah berpindah ke belakang untuk menjadi terang yang melindungi. Jika tidak, karena menghadapi tentangan, mungkin saya sudah tergoda untuk mundur. Mungkin saya meragukan kebenaran yang telah saya lihat. Tetapi karena terang yang memimpin menjadi terang yang melindungi, saya tidak mempunyai jalan untuk mundur. Terang yang di belakang saya begitu cerah sehingga tidaklah mungkin untuk mundur. Lagi pula, terang yang melindungi ini menjadi kegelapan bagi pihak penentang. Di satu pihak, saya dilindungi oleh terang; di pihak lain, pihak penentang benar-benar di dalam kegelapan. Inilah prinsip yang terlihat dalam Keluaran 14:19 dan 20.
Jika kita setia kepada Tuhan, maka setiap saat kita menghadapi tantangan, terang-Nya yang memimpin akan menjadi terang perlindungan. Sebaliknya, terang ini segera akan menjadi kegelapan bagi orang-orang yang menentang kita. Karena pihak penentang berada di dalam kegelapan dan kita berada dalam terang, maka terlindunglah kita. Fakta bahwa terang ini adalah Kristus sebagai Malaikat TUHAN menjelaskan bahwa Kristus ini sendiri yang menjadi terang kita, serentak menimbulkan kegelapan bagi pihak penentang. Bagi mereka yang mengikuti kehendak Allah, terang yang memimpin akan menjadi terang yang melindungi. Namun, bagi mereka yang menentang umat Allah, terang itu akan menjadi kegelapan. Setiap kali Anda diserang oleh penentang-penentang sedemikian, Anda harus yakin bahwa orang-orang yang menentang itu akan penuh kegelapan. Demikianlah Tuhan melindungi umat-Nya.
Tiang awan berdiri di antara orang Israel dengan orang Mesir sebagai tembok pemisah. Di pihak umat Allah ada terang, tetapi di pihak orang Mesir ada kegelapan. Kita di dalam terang atau kegelapan tergantung pada apakah kita mengikuti Tuhan atau menentang umat-Nya. Jika kita ada di antara para penentang, tiang itu akan menjadi kegelapan bagi kita. Tetapi jika kita mengikuti Tuhan, tiang itu akan menjadi terang bagi kita.
Telah kita tunjukkan bahwa terang yang kita terima dari Tuhan mula-mula memimpin kita. Kemudian ketika tiba penentangan, terang itu melindungi kita. Jika kita tidak mempunyai terang yang memimpin, kita tidak akan memiliki terang yang melindungi. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa setelah kita menerima terang, kita dilindungi oleh terang ini, tak peduli betapa gencarnya penentangan itu. Ketika kita diserang, mungkin kita tergoda oleh musuh untuk meragukan jalan atau kedudukan kita. Tetapi selama saat ragu-ragu tadi, terang yang kita terima menjadi keteguhan kita. Inilah terang perlindungan.
Sering kali terang ini menjadi lebih cerah pada saat-saat penentangan dan penganiayaan. Begitu terang ini menjadi makin cerah, pihak penentang akan tenggelam, makin lama makin terjerumus dalam kegelapan. Akhirnya, pihak penentang akan berada dalam kegelapan yang pekat sehingga mereka sendiri tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Karena mereka menyerang orang-orang yang mengikuti Tuhan, mereka benar-benar berada dalam kegelapan. Akibatnya, mungkin mereka mengalami kematian dalam segala bidang. Saya telah melihat hal ini terjadi berkali-kali. Mula-mula para penentang berada dalam kegelapan, tetapi akhirnya mereka mengalami kematian.
Semakin penentang menyerang umat Allah, mereka akan semakin di dalam kegelapan. Bukan hanya mereka dalam kebodohan dan kebutaan, mereka pun mungkin menjadi tidak logis dan tidak berakal. Mereka mungkin berada dalam kegelapan yang demikian pekat sehingga mereka kehilangan akal mereka. Andaikata seorang kawan atau famili menentang Anda karena Anda mengikuti Tuhan, semakin keras dia menentang, dia akan semakin berada dalam kegelapan. Akhirnya mungkin dia akan kehilangan akal sehatnya dan mulai bertindak sembarangan. Kata-kata dan tindakannya mungkin tidak hanya berlawanan dengan terang dan kebenaran Allah, mungkin pula berlawanan dengan akal sehat. Namun, selagi para penentang berada dalam kegelapan yang pekat itu, Anda menikmati bersinarnya terang perlindungan.
Perhatikanlah situasi di kalangan agamawan ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Bagi murid-murid-Nya, Tuhan merupakan terang. Tetapi bagi agamawan, Dia merupakan penyebab kegelapan. Karena agamawan itu berada dalam kegelapan, mereka menyiarkan kabar angin yang jahat tentang Tuhan dan bahkan memutarbalikkan perkataan-Nya. Contohnya, mereka memutarbalikkan perkataan-Nya mengenai hancurnya Bait Allah dan pembangunannya dalam tiga hari (Mat. 26:61). Di pihak agamawan, ada kegelapan. Tetapi di pihak Tuhan dan murid-murid-Nya, ada terang. Karena itu, Tuhan Yesus mengatakan kepada para agamawan itu bahwa mereka itu buta (Mat. 23:16).
Selanjutnya, ketika Saulus dari Tarsus bertobat, Tuhan menyuruhnya memalingkan orang dari kegelapan kepada terang (Kis. 26:18). Kegelapan yang dikatakan Tuhan di sini khususnya kegelapan agama Yahudi. Pada zaman Paulus, agama Yahudi sepenuhnya berada dalam kegelapan. Semakin mereka yang ada dalam kelompok ini menentang kebenaran, mereka akan semakin berada di dalam kegelapan. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia sendiri adalah batu penguji. Kemudian dalam Kitab Kisah Para Rasul, rasul-rasul dan gereja menjadi batu penguji. Hari ini dalam pemulihan Tuhan kita pun telah menjadi batu penguji.
Kita telah menunjukkan bahwa orang-orang Israel dipimpin oleh Malaikat Allah. Dialah yang memegang pim-pinan membawa mereka keluar dari Mesir dan membimbing mereka melalui padang gurun masuk ke tanah permai. Sebelum pasal 14, walaupun dia hadir di tengah-tengah umat-Nya, tetapi nama-Nya tidak disebutkan. Seperti yang akan kita lihat, dalam 23:20 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” Selanjutnya dalam Kitab Zakharia kita kembali melihat Malaikat Allah (3:5). Malaikat ini, yang diutus Allah, yang menuntun orang Israel dan melindungi mereka dari orang Mesir, masih tetap memelihara umat Allah. Ketika Malaikat Allah bergerak dari depan umat itu ke belakang, tiang itu juga bergerak, karena Malaikat dan tiang adalah satu. Ini sama dengan pengalaman kita hari ini. Dalam pengalaman kita hari ini kita tidak dapat memisahkan Tuhan dari Roh yang memimpin.
Setelah Firaun bermanfaat bagi ketetapan kehendak Allah, jadilah dia benda korban. Saya sering mengeluarkan peringatan agar kita tidak menjadi korban karena penentangan terhadap gereja. Namun, ada orang tidak memperhatikan peringatan ini dan menjadi korban. Semakin mereka menentang gereja, mereka semakin tidak logis dan tidak berakal. Tingkah laku mereka yang tidak berakal merupakan satu tanda bahwa mereka berada dalam kegelapan.
Semakin kita diserang dan ditentang ketika kita meng-ikuti Tuhan, semakin cerahlah terang pimpinan dan perlindungan itu. Namun, mungkin para penentang akan meneruskan serangan walaupun kegelapan melingkupi mereka. Sebenarnya Firaun pasti telah melihat tiang yang memisahkan orang Israel dari orang Mesir. Tetapi dia tidak menyuruh mundur pasukan dan kereta perangnya. Sebaliknya, karena kehilangan akal, dia meneruskan pengejarannya terhadap umat Allah sehingga menjadi benda korban.
VI. FIRAUN DAN TENTARANYA MENGEJAR
ORANG ISRAEL SAMPAI
KE TENGAH-TENGAH LAUT MERAH
Ketika Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, terbelahlah air itu (ayat 21). Kemudian “orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka” (ayat 22). Bukannya jalan buntu, kini ada jalan melalui laut. Sebab itu, dengan Malaikat di belakang mereka, orang Israel menyeberangi laut di tanah kering. Kemudian, karena Firaun dan orang-orang Mesir telah dikeraskan hatinya oleh Allah untuk mengejar umat-Nya, “Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka segala kuda Firaun, keretanya dan orang-nya yang berkuda sampai ke tengah-tengah laut” (ayat 23). Firaun dan tentaranya mengejar orang Israel ke tengah Laut Merah karena Tuhan telah mengeraskan hati orang Mesir. Allah melakukan hal ini dengan tujuan untuk memuliakan diri-Nya melalui Firaun dan tentaranya, kereta perangnya dan orang-orangnya yang berkuda (ayat 17-18).
VII. TUHAN MENGALAHKAN FIRAUN
DAN TENTARANYA
Ayat 24 mengatakan bahwa Tuhan memandang tentara orang Mesir dari tiang api dan tiang awan dan mengacaukan tentara orang Mesir itu. Menurut ayat 25, TUHAN “membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat.” Beberapa versi mengatakan bahwa Tuhan mengikat roda-roda itu sehingga tidak dapat bergerak. Karena kacau dan tidak dapat menggerakkan keretanya, orang Mesir itu berkata, “Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab TUHANlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir” (ayat 25). Tetapi, sudah terlambat untuk melarikan diri. Menurut firman Tuhan, Musa mengulurkan tangannya ke atas laut dan “berbaliklah air laut ke tempatnya” (ayat 27). Air itu berbalik ke tempatnya semula dan orang-orang Mesir pun binasa.
VIII. FIRAUN DAN TENTARANYA TERBENAM
DAN TERKUBUR DALAM LAUT
Meskipun orang Mesir berusaha melarikan diri, tetapi TUHAN mencampakkan mereka ke tengah laut (ayat 27, Ibrani). Ayat 28 melanjutkan, “Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka.” Firaun dan pasukannya terbenam dan terkubur dalam laut. Ini melambangkan bahwa Iblis dan dunia telah terkubur dalam pembaptisan (ayat 26-28; 15:4-5, 10, 19).
Setelah dikubur dalam laut, Firaun berakhir. Tidak mungkin dia melawan lagi, karena kegunaannya di tangan Allah sudah berakhir. Setelah dibebaskan dari tangan penjajah Firaun dengan menyeberangi Laut Merah, orang-orang Israel memasuki wilayah yang baru. Tetapi Firaun, karena dia sudah tidak berguna lagi bagi Allah, diakhiri dan dikubur.
Menurut pengalaman kita, kita dapat bersaksi bahwa beberapa hal mungkin bangkit melawan kita. Meskipun kita tidak senang dengan serangan dan tentangan, namun semua penyerang dan penentang berguna di tangan Allah. Allah memakai mereka untuk kebaikan kita, dengan tujuan untuk menyempurnakan kita. Begitu tujuan ini tercapai dan penentang-penentang tidak lagi berguna, penentangan akan berakhir. Firaun tidak hanya mengusir orang Israel keluar dari Mesir; dia juga menemani mereka ke Laut Merah. Kemudian setelah umat Allah menyeberangi Laut Merah dan Firaun terkubur di laut, mereka terpisah selamanya. Jika ada tantangan atau serangan tertentu dibiarkan terjadi, itu pasti menunjukkan bahwa Allah masih memerlukannya. Pastilah itu perlu untuk kebaikan kita. Tetapi pada satu hari, penentangan ini akan diakhiri dan dikubur.
Dalam berita ini, kita telah nampak bahwa Firaun dipakai Allah untuk menggenapkan keselamatan yang tuntas, lengkap, dan sempurna bagi umat-Nya yang terpilih. Firaun dipakai untuk menyiapkan lingkungan Paskah, keluar dari Mesir, dan pembaptisan. Tidak ada yang tertinggal untuk dikerjakan oleh umat Allah selain memuji Dia. Perlawanan Firaun yang terakhir telah berlalu. Kini setelah dia berbaring untuk beristirahat, tidak ada lagi perlawanan atau perontaan. Puji Tuhan, karena perlawanan Firaun pun membantu rampungnya keselamatan yang penuh bagi umat pilihan Allah!