ORANG ISRAEL MENYEBERANG LAUT MERAH
Pembacaan Alkitab:
Kel. 14:10-12, 16, 29-31; 15:1-21;
Ibr. 11:29; 1Kor. 10:1-2; 1Ptr. 3:20-21
Keselamatan Allah yang penuh meliputi Paskah, keluar dari Mesir, dan menyeberangi Laut Merah. Melalui Paskah, orang Israel diselamatkan dari penghakiman Allah. Ketika mereka berada di Mesir, mereka seperti orang Mesir; mereka berdosa dan bahkan menyembah berhala (Yeh. 20:7-8). Bersama orang Mesir, mereka ada di bawah penghakiman keadilan Allah. Menurut penghakiman keadilan Allah, mereka berada di bawah hukuman mati. Karenanya orang Israel memerlukan domba Paskah menjadi pengganti mereka. Karena darah domba telah dioleskan pada tiang dan ambang atas pintu rumah-rumah mereka, maka Allah dalam penghakiman keadilan-Nya dapat melewati mereka.
Akan tetapi, orang Israel bukan hanya berada di bawah penghakiman, mereka juga di bawah tirani Firaun. Mereka dijajah oleh Firaun dan dipekerjakan sebagai budak untuk melaksanakan maksud orang Mesir. Karenanya, orang Israel menghadapi dua problem yang serius: penghakiman Allah dan tirani Firaun. Meskipun Paskah cukup untuk menyelamatkan mereka dari penghakiman Allah, namun tidak dapat menolong mereka terlepas dari cengkeraman orang Mesir. Agar tertolong dari kelaliman orang Mesir, orang Israel perlu keluar dan menyeberang Laut Merah.
Andaikata orang Israel hanya keluar tanpa menyeberang Laut Merah, keselamatan mereka belumlah terjamin. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk balik lagi ke Mesir. Kemungkinan baliknya orang Israel ke Mesir sangat Allah perhatikan. Tanpa menyeberang Laut Merah, berarti tidak ada garis pemisah. Dalam Keluaran 13:17 Tuhan menyatakan perhatian-Nya, “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” Selanjutnya, pada Bilangan 14:4, sebagian dari kaum pemberontak berkata seorang kepada yang lain, “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” Karena itu, untuk memiliki kelepasan dari Mesir dengan tuntas lagi mutlak, orang Israel harus mengadakan perjalanan keluar, menyeberangi garis pemisah dengan melintasi Laut Merah.
Dalam penciptaan-Nya, Allah telah menyediakan Laut Merah untuk membaptiskan umat pilihan-Nya. Kemudian selama perjalanan keluar dari Mesir, Ia memimpin bangsa itu ke tempat baptisan ini. Ini bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan menurut rencana Allah. Allah ingin membawa umat-Nya ke dalam suatu situasi di mana mereka tidak mungkin kembali lagi ke Mesir. Dalam berita ini kita perlu memperhatikan makna penyeberangan orang Israel melewati Laut Merah.
I. LAMBANG BAPTISAN
Dalam 1Korintus 10:1-2 Paulus mengatakan, “nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa, mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Ini menunjukkan bahwa menyeberang Laut Merah merupakan lambang baptisan. Awan di sini ditujukan kepada tiang awan, yang adalah diri Tuhan sendiri sebagai Pemimpin umat itu.
Satu Petrus 3:20-21 menunjukkan bahwa selamatnya bahtera Nuh dari air bah juga merupakan lambang baptisan. Oleh bahtera dan melalui air, Nuh dan anggota keluarganya diselamatkan dari penghakiman Allah dan dari dunia yang bobrok, jahat, dan yang telah dikutuk. Air bah yang sama juga menghakimi dunia, dan memisahkan mereka yang ada di dalam bahtera dari dunia. Setelah air bah surut, Nuh dan keluarganya menemukan bahwa diri mereka berada di alam yang lain, di dunia yang baru; di mana mereka dapat melayani Allah. Air bah telah memisahkan mereka dari alam yang lama dan membawa mereka ke dalam alam yang baru. Segera setelah keluar dari bahtera, Nuh mendirikan mezbah dan mempersembahkan kurban bakaran kepada Tuhan (Kej. 8:20).
Prinsipnya adalah sama dengan penyeberangan Laut Merah. Di Mesir orang Israel terlibat dengan dunia yang jahat, bobrok, dan yang telah dikutuk, dan berada di bawah penghakiman Allah. Paskah, yang melambangkan Kristus menyelamatkan mereka dari penghakiman Allah. Sama seperti bahtera, juga melambangkan Kristus, menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari penghakiman Allah. Sebagaimana keluarga Nuh perlu diselamatkan melalui air dari dunia ini, orang Israel pun perlu diselamatkan dari Mesir melalui air. Atas orang Israel kita melihat darah juga air. Darah domba Paskah menyelamatkan mereka dari penghakiman Allah, sedang air menyelamatkan mereka dari kelaliman orang Mesir.
Berlawanan dengan orang Israel, mayoritas orang Kristen hari ini diselamatkan hanya oleh darah dan tidak melalui air. Banyak yang dibaptiskan secara upacara keagamaan saja, yang tidak merupakan pengalaman keselamatan air pemisahan. Dalam hal keluarga Nuh dan orang Israel, air berarti keselamatan juga pemisahan. Jika kita hanya mempunyai pengajaran Perjanjian Baru tanpa gambar dalam Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran, kita tak akan memiliki pengertian yang sempurna tentang baptisan. Melalui baptisanlah umat Allah diselamatkan dari perbudakan Mesir dan kelaliman Firaun. Dengan prinsip yang sama, melalui baptisanlah kaum beriman hari ini diselamatkan dari dunia, dan dari kekuasaan kegelapan Iblis (nanti kita akan melihat bahwa baptisan yang dilambangkan oleh penyeberangan Sungai Yordan menunjukkan kelepasan dari manusia usang. Dalam berita ini kita hanya membicarakan aspek baptisan yang dilambangkan oleh penyeberangan Laut Merah).
Baptisan menyebabkan keselamatan kita terjamin. Jika kita hanya mempunyai Paskah dan keluar dari Mesir tanpa menyeberangi Laut Merah, keselamatan kita belumlah terjamin. Baptisan dengan penyeberangan Laut Merah menjadi meterai atas keselamatan kita. Ketika kita membaptiskan orang yang baru percaya, kita harus membantu mereka memahami makna baptisan. Kita harus memberi tahu mereka bahwa setelah mereka diselamatkan melalui Kristus sebagai Paskah, mereka perlu menyeberangi air yang memisahkan mereka dari dunia dan dari kuasa kegelapan.
A. DIBAPTIS UNTUK MENJADI PENGIKUT MUSA
Dalam 1Korintus 10:2 Paulus mengatakan bahwa orang-orang Israel “untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis.” Musa adalah lambang Kristus, juga adalah wakil Kristus. Karena itu, dengan dibaptis untuk menjadi pengikut Musa, orang Israel sebenarnya dibaptis untuk menjadi pengikut Kristus. Kristus, bukan Musa, barulah pemimpin yang sebenarnya. Musa hanyalah gambar Kristus. Hari ini kita yang percaya di dalam Kristus telah dibaptis untuk menjadi pengikut Kristus. Karena alasan inilah Galatia 3:27 mengatakan, “dibaptis dalam Kristus.” Dengan dibaptis dalam Kristus, kita sekarang berada di bawah pimpinan Kristus. Sebelum orang Israel menyeberangi Laut Merah, mereka mengikuti Musa sebagai pemimpin mereka, bukan pemimpin utama. Namun, setelah mereka menyeberangi Laut Merah, “maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu” (Kel. 14:31), karena mereka telah dibaptis untuk menjadi pengikut Musa. Demikian juga kita telah dibaptis bukan untuk menjadi pengikut suatu denominasi, sekta agama, suatu praktek tertentu, suatu kepercayaan, atau suatu doktrin, melainkan untuk menjadi pengikut Kristus, Pemimpin kita, Kepala kita.
B. DI DALAM AWAN
Dalam 1Korintus 10:2 Paulus menyatakan bahwa mereka juga dibaptiskan “dalam awan dan dalam laut”. Awan mengiaskan Roh. Ketika kita dibaptis, kita dibaptis ke dalam Roh. Di dalam satu Roh, kita sekalian dibaptis ke dalam satu Tubuh.
C. DI DALAM LAUT
Berikutnya, umat Allah dibaptiskan ke dalam laut, yang mengiaskan kematian Kristus (Rm. 6:3). Dalam kematian Kristus, yang dinyatakan oleh air baptisan, kita diakhiri dan dikuburkan. Ketika seorang yang baru percaya dibaptis, ia harus menyadari bahwa ia dibaptis ke dalam Roh dan ke dalam kematian Kristus. Roh itu tidak terpisah dari kematian Kristus. Sama seperti awan dan laut adalah satu, demikian juga Roh dan kematian Kristus.
Kematian Kristus menanggulangi masalah-masalah di pihak negatif, sedangkan Roh menangani hal-hal di pihak positif. Di satu pihak, sejumlah perkara negatif harus ditanggulangi. Di pihak lain, kaum beriman perlu didorong secara positif untuk maju terus bersama Tuhan. Di pihak negatif, air mengakhiri Firaun dan tentaranya. Di pihak positif, awan merupakan sarana yang memimpin perjalanan orang Israel. Terpujilah Tuhan untuk baptisan di pihak negatif dan di pihak positif itu! Ketika orang yang baru percaya dibaptis, semua perkara negatif diakhiri dan dikuburkan. Kemudian Roh sebagai tiang awan memimpinnya dalam perjalanan bersama Tuhan.
D. KARENA IMAN
Baptisan memerlukan iman. Ibrani 11:29 mengatakan, “Karena iman, mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga.” Dalam Kolose 2:12 baptisan juga dikaitkan dengan iman. Orang Israel perlu beriman untuk menyeberangi Laut Merah. Pada mulanya, mereka sama sekali tak beriman. Melihat banyaknya air di depan mereka serta bala tentara Mesir di belakang mereka, mereka berseru-seru kepada Tuhan dan mengeluh kepada Musa, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?” (14:11). Sekalipun orang-orang itu sama sekali tak beriman, iman itu datang ketika Allah datang dan berfirman. Tuhan tidak marah akan tidak berimannya umat Israel, walaupun mereka di Mesir baru saja mengalami perbuatan-Nya yang mahakuasa dan ajaib. Sebagai seorang manusia, tak dapat disangsikan lagi Musa merasa terganggu menghadapi situasi seperti ini. Tuhan berfirman, “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering” (14:15-16). Ketika Musa menerima firman ini dari Tuhan, orang Israel langsung mempunyai iman untuk menyeberangi Laut Merah.
Menurut 14:21-22: “Terbelahlah air itu” dan “di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.” Selanjutnya 15:8 mengatakan “Segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut.” Di satu pihak, air bertimbun-timbun; di pihak lain, air itu membeku. Air yang bertimbun-timbun berarti air bertumpuk-tumpuk seperti batu. Tetapi air yang membeku berarti air itu berubah dari bentuk cair ke keadaan padat. Sekalipun air itu telah terbelah, bertimbun-timbun dan membeku; tetapi untuk melewatinya masih memerlukan iman orang Israel. Tanpa iman, orang Israel pasti akan menggerutu kepada Musa saat disuruh masuk ke dalam kuburan air itu. Jika kita ada di sana, boleh jadi kita akan takut masuk ke tengah-tengah belahan air itu. Akan tetapi, orang-orang Israel telah menjadi orang-orang yang beriman. Dengan mengikuti Musa, mereka berjalan ke dalam laut dan menyeberanginya.
Dengan menyeberangi Laut Merah, orang-orang Israel diselamatkan dari Mesir dan juga dibawa ke dalam alam bebas. Bukan main kebebasan ini! Dalam prinsipnya, baptisan juga demikian untuk kita hari ini. Baptisan menyelamatkan kita dari perhambaan dan membawa kita ke dalam kebebasan yang mutlak di dalam Kristus. Seperti yang telah dijelaskan Kolose 2:12, ini digenapi “melalui kepercayaanmu (imanmu) kepada kerja kuasa Allah.” Jadi, ketika kita membaptis orang, kita harus menganjuri mereka memakai iman di dalam Allah sebagai Dia yang melakukan kerja kuasa. Tak diragukan lagi bahwa penyeberangan Laut Merah dirampungkan oleh kerja kuasa Allah. Sewaktu kita membaptis orang yang baru percaya, kita sendiri perlu beriman, dan kita perlu membantu mereka yang dibaptis juga beriman. Orang yang baru bertobat perlu memahami apa yang terjadi atas dirinya pada waktu pembaptisan. Untuk masuk ke dalam air baptisan dan melewatinya, orang perlu beriman. Alangkah bedanya bila setiap orang ikut serta di dalam baptisan dengan iman yang penuh.
E. FIRAUN DAN PASUKAN MESIR
TERKUBUR DI DALAM LAUT
Orang Mesir bermaksud mengikuti orang Israel masuk ke dalam laut. Keluaran 14:23 mengatakan, “Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda sampai ke tengah-tengah laut.” Akan tetapi, Tuhan mengacaukan bala tentara Mesir dan membuat roda-roda kereta mereka berjalan miring (ayat 24-25). Kemudian Allah menyuruh Musa mengulurkan tangannya ke atas laut supaya air berbalik meliputi orang-orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda (ayat 26). Ketika Musa melakukan hal ini, “berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka” (ayat 28). Firaun dan pasukan Mesir terkubur di dalam laut. Inilah suatu lukisan yang jelas bahwa dalam baptisan, Iblis dan kuasa dunia dikuburkan. Juga suatu fakta bahwa orang Mesir diakhiri di dalam Laut Merah. Tetapi makna dari fakta ini adalah ketika kita dibaptis, Iblis dan dunia dengan segala kelalimannya diakhiri. Bila kita membaptis orang lain, kita harus memberi tahu mereka bahwa ketika mereka dikuburkan dalam baptisan, Iblis dan dunia juga dikuburkan. Betapa mengagumkan penyeberangan Laut Merah ini sebagai suatu gambar baptisan! Bila kita memperhatikan gambar ini dalam terang Perjanjian Baru, kita akan mempunyai visi yang jelas tentang makna baptisan ini.
II. DISELAMATKAN MELALUI AIR
Berkenaan dengan air baptisan yang dilambangkan dengan air bah dalam Kitab Kejadian, 1Petrus 3:20 mengatakan tentang “diselamatkan melalui air bah itu”. Kita telah menunjukkan bahwa keluarga Nuh maupun orang-orang Israel diselamatkan melalui air. Melalui air, umat Allah diselamatkan dari Mesir serta perbudakannya, yaitu dari dunia dan cengkeramannya (13:3, 14). Selanjutnya, mereka diselamatkan ke padang gurun yang terpisah, yaitu ke suatu tempat untuk menggenapkan kehendak Allah (3:18). Di padang gurun, umat mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah. Ini adalah untuk menggenapkan kehendak Allah. Air yang melaluinya mereka diselamatkan dan terpisah dari Mesir membawa mereka ke suatu tempat di mana tidak ada belenggu atau perbudakan. Di alam ini, mereka memiliki kebebasan untuk menggenapkan kehendak Allah dengan jalan mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah di bumi. Ini menunjukkan bahwa melalui air kita diselamatkan dari dunia ke tempat di mana kita dapat menggenapkan kehendak Allah.
III. PUJIAN ORANG-ORANG YANG SELAMAT
A. NYANYIAN MUSA
Segera setelah menyeberangi Laut Merah, Musa dan orang Israel menyanyikan nyanyian bagi TUHAN (15:1-8). Nyanyian ini mestinya digubah oleh Musa. Dalam Wahyu 15:2-4, nyanyian ini dimaksudkan sebagai nyanyian Musa. Dalam Keluaran 15, orang-orang Israel menyanyikan nyanyian ini di tepi Laut Merah. Mereka memuji Allah untuk kemenangan-Nya atas kekerasan Firaun demi pelepasan-Nya yang jaya lewat penghakiman air Laut Merah. Dalam Wahyu 15, sejumlah pemenang menyanyikan nyanyian ini juga di tepi lautan kaca sebagai tanda bahwa mereka telah menang atas kuasa Antikristus, yang dihakimi oleh Allah dengan api lautan kaca (Why. 19:20). Dalam kedua kasus ini prinsipnya sama: umat Allah diselamatkan lewat laut, sekarang mereka menyanyikan pujian bagi Allah.
1. Memuji Karunia Keselamatan dan Kemenangan Allah
Dalam Keluaran 15:1-12, orang-orang Israel memuji karunia keselamatan dan kemenangan Allah. Karunia keselamatan bertalian dengan umat Allah, dan kemenangan bertalian dengan musuh Allah. Pada saat yang sama Allah mengalahkan musuh, Ia pun menyelamatkan umat-Nya. Betapa indahnya ekspresi pujian yang puitis mengenai ini!
2. Dipimpin ke Tempat Kediaman Allah dan Kerajaan Allah
Dengan menggunakan kata kerja kala purna ayat 13 mengatakan, “Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.” Perhatikan, ayat ini membicarakan perihal tempat kediaman Allah, walaupun bait sebagai tempat kediaman Allah baru dibangun pada abad-abad berikutnya.
Ayat 14 dan 15 mengatakan bahwa bangsa-bangsa akan menggigil, penduduk tanah Filistin akan gentar, para kepala Edom akan gempar, kedahsyatan menghinggapi orang-orang berkuasa di Moab, dan semua penduduk tanah Kanaan gemetar. Dalam bentuk puitis, ini merupakan nubuat bahwa orang-orang Israel akan mengalahkan orang-orang Filistin, keturunan Esau dan Moab, dan seluruh penduduk tanah Kanaan, dan akan memiliki tanah permai.
Dalam ayat 17 dikatakan bahwa Tuhan akan menanam umat-Nya di gunung milik-Nya sendiri, di tempat Dia mendirikan tempat kediaman. Tempat ini adalah tempat kudus, yang dibuat dengan tangan-Nya sendiri. Perhatikanlah ungkapan “gunung milik-Mu sendiri”. Sekalipun kita menganggap tanah permai sebagai milik pusaka orang-orang Israel, namun di sini Musa mengucapkannya sebagai milik Allah. Orang-orang Israel ditanam sebagai suatu organisme yang hidup di gunung milik Allah. Saya yakin bahwa gunung di sini ditujukan kepada Gunung Sion. Berkenaan dengan kekudusan Allah, ayat ini dalam bahasa Inggris juga menggunakan bentuk kata purna: “Di tempat kudus, yang (telah) didirikan tangan-Mu, ya TUHAN”.
Ayat 18 menyinggung kerajaan, “TUHAN memerintah kekal selama-lamanya”. Tempat kediaman Allah, rumah Allah, mendatangkan Kerajaan Allah. Ketika Allah mendapatkan tempat kediaman, mendapatkan rumah di bumi, kerajaan-Nya akan didirikan melalui rumah-Nya. Hari ini gereja pertama-tama adalah rumah Allah, kemudian adalah kerajaan-Nya. Gereja akan mendatangkan kerajaan-Nya ke bumi ini (Ef. 2:19-20; Rm. 14:17; Mat. 16:18-19).
Sewaktu kita membaca Keluaran 15:1-18, kita menyadari bahwa tujuan karunia keselamatan Allah adalah membangun tempat kediaman-Nya untuk membentuk kerajaan-Nya. Sekalipun Musa tidak masuk ke dalam tanah permai, lebih-lebih tidak nampak pembangunan bait, ia masih dapat memuji Tuhan untuk tempat kudus-Nya, tempat kediaman-Nya.
Sebutan tempat kediaman Allah di sini menunjukkan bahwa baptisan membawa kepada hidup gereja (church life). Baptisan menyelamatkan orang keluar dari dunia dan masuk ke tempat lain untuk kehendak Allah. Kehendak yang ingin Allah genapkan di tempat ini adalah pembangunan tempat kediaman-Nya, yang digambarkan mula-mula oleh Kemah Pertemuan dan kemudian oleh Bait Suci. Kemah Pertemuan dibangun dekat Gunung Sinai. Beberapa abad kemudian, Bait Suci dibangun dekat Gunung Sion. Akan tetapi, sebagai tempat kediaman Allah, Kemah Pertemuan maupun Bait Suci adalah satu. Kemah Pertemuan didirikan setahun setelah keluar dari Mesir, dan Kemah Pertemuan ini tetap ada hingga Bait Suci dibangun. Isi Kemah Pertemuan kemudian dipindahkan ke dalam Bait Suci. Ini menunjukkan perpaduan antara Kemah Pertemuan dengan Bait Suci, yang kedua-duanya melambangkan gereja.
Allah membawa orang Israel melewati Laut Merah karena Allah ingin memiliki tempat kediaman. Sebelum Kemah Pertemuan didirikan, Allah tidak mempunyai tempat kediaman di bumi. Ia bisa mempunyai tempat kediaman semacam ini hanya setelah Ia bisa mempunyai kemantapan terhadap orang-orang yang telah dimerdekakan, yang telah melewati Laut Merah, dan yang telah memasuki suatu tempat yang terpisah di mana mereka bebas dari segala perhambaan.
Keluaran 40:2 mengatakan, “Pada hari yang pertama dari bulan yang pertama haruslah engkau mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu.” Ini menunjukkan bahwa pada hari pertama pada tahun yang kedua, menurut penanggalan baru, tempat kediaman Allah di antara orang-orang Israel didirikan. Kita tak dapat menegaskan secukupnya bahwa memiliki tempat kediaman semacam ini merupakan sasaran karunia keselamatan Allah. Musa tahu bahwa sasaran Allah bukan hanya menyelamatkan umat-Nya dari kelaliman; ia tahu bahwa sasaran Allah adalah mendapatkan sekelompok orang yang bebas dari dunia dan dibawa ke alam bebas untuk membangun tempat kediaman-Nya. Karena Musa mengenal maksud hati Allah, kehendak Allah, dan sasaran Allah, maka ia sungguh-sungguh dapat disebut manusia Allah.
Ketika kita membaca Perjanjian Lama, haruslah kita memusatkan perhatian kita kepada tujuan ini. Dalam pasal 15, Musa menggunakan tiga ungkapan yang bertalian dengan sasaran Allah: tempat tinggal, tempat kediaman, dan tempat kudus. Ungkapan-ungkapan ini menggambarkan hal yang sama. Tempat tinggal Allah adalah tempat di mana Ia berdiam, dan tempat ini adalah tempat kudus-Nya. Hari ini gereja adalah tempat tinggal Allah, tempat kediaman-Nya, dan tempat kudus-Nya.
Setelah Kemah Pertemuan didirikan, pecahlah perang. Musuh-musuh Allah bangkit melawan dan berusaha menghalangi pembangunan Bait Suci. Musuh-musuh ini termasuk orang-orang Edom, orang-orang Moab, orang-orang Filistin, dan penduduk tanah Kanaan. Orang-orang ini mengiaskan orang-orang yang tidak percaya, orang-orang kafir. Keturunan Esau, orang-orang Edom, melambangkan orang-orang yang alamiah, yang tidak dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah. Keturunan Lot, orang-orang Moab, melambangkan orang-orang yang bersifat daging, karena sumber mereka adalah perbuatan sumbang, dosa yang rendah, dan perbuatan daging. Orang-orang Filistin melambangkan orang-orang Kristen duniawi, orang-orang yang hidup di antara Mesir dan tanah permai. Hari ini, banyak sekali orang beriman duniawi semacam itu. Terakhir, orang-orang Kanaan berkaitan dengan kuasa jahat di udara.
Sama seperti orang-orang Israel diganggu oleh semua musuh, demikian juga kita dalam pemulihan Tuhan juga diserang oleh kuasa-kuasa jahat dan kegelapan. Maksud dari semua serangan, perlawanan, perkataan-perkataan jahat itu adalah untuk merintangi pembangunan tempat kediaman Allah bagi penggenapan kehendak-Nya. Kehendak Allah adalah pembangunan. Inilah sasaran Allah dan ini pun sasaran kita. Tetapi tujuan musuh dalam serangannya adalah mena-han umat Allah dari mencapai sasaran ini. Namun, dalam pandangan Allah, sasaran ini sudah tercapai. Inilah alasannya Musa menyebut rumah Allah dalam bentuk kala purna (perfect tense). Dalam prinsip yang sama, Rasul Yohanes menggunakan bentuk kala lampau (past tense) untuk menggambarkan Yerusalem Baru, yang menyatakan bahwa dari sudut Allah, kehendak-Nya untuk memperoleh pembangunan sudah digenapkan. Semua serangan dan penentangan sebenarnya adalah tanda-tanda positif, yang menunjukkan bahwa pembangunan Bait Allah telah pasti.
Sewaktu kita membaptis seseorang yang baru bertobat, kita perlu beriman dan dengan penuh keberanian mengatakan kepada mereka sasaran baptisan. Kita harus memberi tahu mereka bahwa baptisan bermaksud membawa mereka ke tempat tinggal Allah, ke gunung milik Allah, di mana umat-Nya ditanam. Ketika kita telah dibawa melalui baptisan ke tempat milik Allah, Allah akan bisa mendirikan tempat kediaman sebagai tempat kudus-Nya.
B. NYANYIAN MIRYAM
Dalam Keluaran 15:20 dan 21, kita nampak bahwa Miryam mengikuti pimpinan Musa memuji kemenangan TUHAN. Urutannya di sini sangat bagus dan tepat: kaum pria memelopori, dan kaum wanita mengikuti. Nyanyian Miryam sebenarnya merupakan ulangan bagian nyanyian Musa. Sekalipun ia memuji Tuhan atas kemenangan-Nya yang mulia, ia tidak membicarakan perihal tempat tinggal Allah. Ini menunjukkan bahwa sekalipun saudari boleh jadi sangat bergairah dan penuh inspirasi, tetapi mereka mungkin sama sekali tidak jelas akan sasaran Allah. Bagaimanapun juga, puji-pujian mereka cukup bagus. Tetapi seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat ini, saudari-saudari haruslah mengikuti saudara-saudara, bukannya mendahului mereka.