PENGALAMAN ORANG ISRAEL DI MARA
Pembacaan Alkitab:
Kel. 15:22-26; Rm 6:4; 1Ptr. 2:24;
1Kor. 2:2b; Flp. 3:10; Mzm. 103:3; Mat. 8:17; 9:12
Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Keluaran merupakan sebuah kitab gambar yang menggambarkan karunia keselamatan Allah seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Karunia keselamatan ini adalah rohani, misteri, dan bertalian dengan hayat ilahi. Tanpa gambar dalam Kitab Keluaran, kita akan sulit memahami secara tepat makna karunia keselamatan Allah. Karena itu, karena hikmat-Nya, Allah menggunakan gambaran-gambaran dalam Kitab Keluaran untuk melukiskan karunia keselamatan-Nya.
Menyeberangi Laut Merah menyatakan perampungan tahap pertama atas karunia keselamatan Allah terhadap umat pilihan-Nya. Tahap ini meliputi tiga hal: Paskah, keluar dari Mesir, dan menyeberangi Laut Merah. Paskah bertalian dengan penghakiman Allah. Melalui menikmati domba Paskah, umat-Nya telah diselamatkan dari penghakiman Allah. Keluar dari Mesir bertalian dengan kelaliman (tirani) Firaun dan perbudakan di Mesir. Umat Allah bukan saja berada di bawah penghakiman-Nya, mereka pun berada di bawah kelaliman Firaun. Untuk alasan inilah mereka memerlukan Paskah dan keluar dari Mesir. Melalui keluar dari Mesir, bangsa itu diselamatkan dari kelaliman Firaun dan perbudakan di Mesir. Menyeberangi Laut Merah bertalian dengan kehancuran tentara Mesir, yang binasa di dalam air laut. Melalui ketiga aspek karunia keselamatan Allah ini, bani Israel telah diselamatkan dari penghakiman Allah, kelaliman Firaun, dan tentara Mesir.
Kita telah nampak bahwa menyeberangi Laut Merah melambangkan baptisan. Satu Korintus 10:2 mengatakan bahwa bani Israel: “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” Jadi, menyeberangi Laut Merah benar-benar merupakan lambang baptisan dalam Perjanjian Baru. Menurut Roma 6:4, baptisan mengantarkan kaum beriman ke dalam kebangkitan. Dalam baptisan kita ditempatkan ke dalam kematian Kristus serta dikuburkan bersama-Nya. Dengan demikian kita dibangkitkan pula di dalam dan bersama Kristus. Sebagai akibatnya, kita “berjalan di dalam kebaruan hayat” (Rm. 6:4 Tl), yakni, dalam hayat kebangkitan. Semua orang yang telah dibaptis ke dalam Kristus harus berjalan dalam kebangkitan. Berada dalam kebangkitan berarti berada di ruang lingkup yang lain, yaitu ruang lingkup di luar maut. Sama seperti Laut Merah sebagai garis pemisah antara Mesir dengan padang gurun, begitu juga realisasi kematian Kristus baptisan juga merupakan garis pemisah antara ruang lingkup usang dengan ruang lingkup kebangkitan. Baptisan memisahkan kita dari dunia dan membawa kita ke dalam ruang lingkup kebangkitan.
I. TIGA HARI PERJALANAN DARI LAUT MERAH
DI PADANG GURUN SYUR
Menurut 15:22, “Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau (Merah), lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu.” Dalam tulisan Musa, padang gurun mempunyai makna positif dan negatif. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen mendengar bahwa hanya ada aspek negatif saja. Banyak pembaca Kitab Keluaran sangat terkejut ketika mendengar bahwa padang gurun pada ayat ini mengacu kepada kebangkitan. Agar bisa memahami ini dengan tepat, kita perlu mempunyai pengetahuan yang tepat terhadap Alkitab dengan beberapa pengalaman rohani.
Laut Merah diciptakan oleh Allah sebagai tempat baptisan yang disediakan bagi bani Israel. Ini berarti dalam penciptaan-Nya Allah telah membuat beberapa persiapan untuk menyatakan karunia keselamatan bagi umat-Nya. Ciri-ciri geografis menunjukkan perkara-perkara rohani. Afrika terletak di sebelah barat Laut Merah, dan Asia di sebelah timur. Kata “Syur” berarti dinding, dan nama “Migdol”, yang disinggung dalam 14:2, berarti kubu atau benteng. Menurut beberapa ahli sejarah, ada jalur dinding pemisah yang melindungi tanah Mesir, mulai dari Laut Tengah dan berakhir pada Syur. Setelah bani Israel menyeberangi Laut Merah, selama tiga hari mereka menempuh perjalanan di padang gurun Syur (15:22). Tiang awan memimpin mereka ke selatan, menuju Mara.
Untuk memahami makna rohani dari fakta geografis ini, kita perlu melihat potongan firman ini seturut wahyu dalam Perjanjian Baru, dan juga pengalaman kita. Kita telah menunjukkan bahwa baptisan mengantar kaum beriman ke dalam kebangkitan. Kita pun telah menunjukkan bahwa Laut Merah merupakan tempat baptisan yang di dalamnya orang-orang Israel telah dibaptiskan. Maka, setelah mereka dibaptis dalam Laut Merah, mereka dibawa ke dalam kebangkitan. Menurut 3:18 dan 5:1, Musa memberi tahu Firaun agar membiarkan orang-orang Israel pergi dan menempuh perjalanan tiga hari di padang gurun dan di sana mereka mempersembahkan kurban bakaran kepada TUHAN Allah mereka dan berhari raya bagi-Nya. Perjalanan tiga hari ini melambangkan kepada kebangkitan. Ini berarti dalam kebangkitan umat Allah terpisah dari Mesir. Jadi, padang gurun merupakan ruang lingkup pemisah.
Sekarang kita melanjutkan peninjauan kita atas padang gurun yang juga melambangkan ruang lingkup kebangkitan. Kita mengatakan ini berdasarkan wahyu Perjanjian Baru mengenai baptisan serta pengalaman kita. Baptisan membawa kita ke dalam kebangkitan. Begitu seorang beriman dibaptis, ia mempunyai perasaan bahwa ia telah dibawa keluar dari ruang lingkup yang usang ke dalam ruang lingkup yang baru, yakni ruang lingkup kebangkitan. Roma 6:4 mencatat bahwa setelah dibaptis ke dalam Kristus, kita harus berjalan dalam kebaruan hayat. Tak usah diragukan bahwa berjalan dalam kebaruan hayat berarti hidup dalam ruang lingkup kebangkitan. Menurut lambang dalam Kitab Keluaran, ruang lingkup ini adalah padang gurun Syur. Jadi, padang gurun Syur adalah suatu lambang dari ruang lingkup kebangkitan. Seperti yang telah kita ketahui, ini pun berarti ruang lingkup pemisah. Sewaktu orang-orang Israel memasuki ini, mereka terpisah dari Mesir oleh Laut Merah maupun oleh jalur dinding.
Dalam 15:22 kita diberi tahu bahwa orang-orang Israel “tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun.” Berhubung angka tiga merupakan angka kebangkitan, ini berarti mereka berjalan dalam kebangkitan, yaitu dalam kebaruan hayat. Perjalanan dari Laut Merah ke Mara memakan waktu persis tiga hari, bukan dua hari, empat hari, atau tiga setengah hari, ini benar-benar berarti. Menurut catatan dalam teks Amplified Version, jarak dari Laut Merah ke Mara adalah 33 mil. Sudah barang tentu orang-orang Israel dapat menempuh jarak ini kurang dari tiga hari. Kita harus yakin bahwa langkah-langkah perjalanan mereka di bawah pimpinan kedaulatan dan kontrol Allah. Fakta bahwa mereka menempuh perjalanan tiga hari merupakan gambaran perihal berjalan dalam kebangkitan. Ketika orang-orang Israel berada di padang gurun, tentunya mereka berjalan dalam cara yang berbeda dengan sewaktu mereka berjalan di Gosyen. Di Gosyen mereka tidak memiliki tiang awan, tetapi di padang gurun mereka berjalan menurut pimpinan tiang ini. Mereka dipimpin oleh hadir Tuhan sehingga berjalan dalam cara yang baru.
Boleh jadi Anda ragu mengapa Alkitab menggunakan padang gurun untuk menyatakan kebangkitan, karena lazimnya kita tak akan berpikir kebangkitan sebagai padang gurun. Bagi mereka yang telah dibaptis ke dalam Kristus, kebangkitan bukanlah padang gurun. Namun, dalam pandangan orang-orang dunia, ini adalah padang gurun. Setelah kita dibaptis, maka sanak keluarga kita dan teman-teman kita boleh jadi berpikiran bahwa kita telah memasuki semacam padang gurun. Sebelum kita dibaptis, di Mesir kita menikmati “bawang putih”, “bawang prei”, dan “bawang merah” Mesir, dan sanak keluarga serta teman-teman kita senang dengan kita. Tetapi setelah percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptis, kita telah terbawa ke dalam ruang lingkup yang baru, yang oleh sanak keluarga dan kawan-kawan kita dipandang sebagai padang gurun. Tetapi Allah memandang padang gurun ini benar-benar sebagai ruang lingkup kebangkitan. Jika kita mempunyai visi surgawi, kita akan paham bahwa ruang lingkup yang kita masuki melalui baptisan bukanlah padang gurun, melainkan ruang lingkup pemisah dan kebangkitan. Dalam ruang lingkup ini kita berjalan dalam kebangkitan menurut pimpinan Tuhan. Terpujilah Tuhan bahwa dalam penciptaan-Nya Allah telah menyediakan ciri-ciri geografis agar menyajikan gambaran atas karunia keselamatan-Nya!
Menurut 12:37, orang-orang Israel memulai perjalanan dari Raamses ke Sukot. Setelah meninggalkan Sukot, mereka berkemah di antara Migdol dan laut (14:2). Allah tidak memimpin umat-Nya “melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat” (13:17). Walaupun itu adalah jalan yang sudah lazim ditempuh orang-orang dari Mesir ke tanah Kanaan, namun Allah memimpin umat-Nya ke arah selatan, dan kemudian membawa mereka ke Laut Merah sehingga di sana mereka dapat dibaptiskan. Dalam pandangan Firaun, orang-orang Israel mengambil jalan seperti itu adalah bodoh. Ia mengira bahwa mereka bakal terperangkap pada laut dan tak ada jalan lolos. Pandangan manusia menganggap cara Allah itu tolol. Akan tetapi, Allah mempunyai rencana untuk membawa umat-Nya melewati Laut Merah serta masuk ke padang gurun Syur. Lagi pula, setelah Ia memimpin mereka menyeberangi Laut Merah, Ia tidak memimpin mereka ke utara sesuai dengan geografi. Ia malahan sengaja membawa mereka ke selatan dan menempuh perjalanan selama tiga hari ke Mara.
II. TIADA AIR DALAM CARA ALAMIAH
Dalam 15:22 dikatakan bahwa selama perjalanan tiga hari di padang gurun, orang-orang Israel tidak menemukan air barang setetes pun. Ini menandakan bahwa dalam kebangkitan tidak ada air alamiah, tidak ada suplai yang alamiah. Setelah kita dibaptis dan dibawa ke dalam kebangkitan, boleh jadi kita berharap menerima pertolongan tertentu, pertolongan yang berasal dari air alamiah. Sebelum kita diselamatkan dan ketika kita hidup di dunia yang usang, kita mempunyai suplai alamiah yang berlimpah dari Sungai Nil. Tetapi dalam ruang lingkup kebangkitan, tiada air semacam ini.
III. AIR DARI MARA
Allah memimpin bangsa itu ke Mara, yang artinya pahit. Keluaran 15:23 mengatakan, “Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.” Adanya fakta bahwa Allah memim-pin umat-Nya ke Mara menunjukkan bahwa selama kita berjalan dalam kebangkitan, Allah akan memimpin kita ke tempat yang pahit, ke Mara. Tiang awan memimpin mereka ke tempat di mana ada air, namun air ini pahit rasanya. Begitu umat ini tahu air itu pahit, maka “bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka, ‘Apakah yang akan kami minum?’” (ayat 24). Seperti orang-orang Israel, kita juga sering mengeluh dan menggerutu atas situasi kita yang pahit. Sering kali kita berkata dengan nada keluh kesah, “Apa yang akan kita perbuat? Apa yang akan kita minum? Pertolongan macam apa ini?” Jika saya ini Musa, saya pasti akan berkata kepada mereka, jangan mengeluh kepada saya. Akan saya ingatkan kepada mereka bahwa mereka dipimpin ke tempat ini oleh awan yang sama, yang telah melindungi mereka dari Firaun dan tentaranya tiga hari yang lalu. Tetapi sebagai pelayan Allah yang sejati, Musa tidak bertengkar dengan umat yang menggerutu dan mengomel, sebaliknya, Musa berseru-seru kepada Tuhan (ayat 25).
Dalam menjawab seruannya, Tuhan menunjukkan kepadanya sepotong kayu (ayat 25). Musa melemparkan kayu itu ke dalam air, lalu air itu menjadi manis. Satu Petrus 2:24 menyiratkan bahwa kayu ini mengacu kepada salib Kristus. Jadi, kayu yang telah menyembuhkan air yang pahit itu mengacu kepada salib yang di atasnya Kristus tersalib. Salib Kristus, salib yang unik, adalah salib penyembuhan.
Gambaran ini sesuai dengan pengalaman rohani kita. Yakni, setelah kita dibaptis dan mulai berjalan dalam kebaruan hayat, kita menjumpai kesulitan karena tidak ada air alamiah. Di satu pihak, kita seperti orang-orang yang mengeluh dan menggerutu itu. Di pihak lain, kita seperti Musa yang berseru kepada Tuhan. Tatkala kita berseru kepada Tuhan di dalam doa, Ia menunjukkan kepada kita visi akan Kristus yang tersalib. Kita perlu nampak visi ini. Setelah nampak visi ini, kita terapkan salib Kristus ke atas situasi kita, dan air yang pahit itu segera menjadi manis. Saya yakin sepenuhnya bahwa setiap orang yang benar-benar telah dibaptis ke dalam Kristus mempunyai pengalaman seperti ini. Pengalaman kita boleh berbeda tingkatan, namun prinsip dan sifatnya adalah sama.
Menurut Roma 6:4 setelah dibaptis, kita berjalan di dalam ruang lingkup kebangkitan, dalam kebaruan hayat. Ruang lingkup ini benar-benar padang gurun Syur yang sejati, tempat di mana kita terpisah dari dunia oleh jalur dinding dan oleh laut. Tatkala kita berjalan dalam ruang lingkup ini, kita tak punya sumber-sumber alamiah, dan kita berhadapan dengan banyak kepahitan. Tetapi dalam kebangkitan kita bisa mengalami salib Kristus serta menempuh hidup tersalib. Bila kita melakukan ini, situasi kita yang pahit berubah menjadi manis.
Tahun yang lalu istri saya dan saya telah benar-benar tiba di Mara, situasi yang sangat pahit. Namun, karena kami hidup dalam kebangkitan, kami dapat mengalami salib Tuhan Yesus seraya menempuh hidup tersalib. Kami menikmati dengan limpahnya pohon penyembuhan yang dilemparkan ke dalam situasi yang pahit getir itu. Pohon ini menyebabkan air yang pahit menjadi manis. Atas alasan inilah, maka saya menyampaikan sejumlah berita pada tahun yang lalu mengenai hidup tersalib. Ya, istri saya dan saya telah menderita kepahitan atas situasi kami. Namun, akhirnya, kami menikmati kemanisan karena pohon penyembuhan dengan hayat tersalib telah diterapkan kepada sekeliling kami. Inilah cara mengalami dan menikmati Kristus dalam kebangkitan.
Apa pun yang kita alami dalam ruang lingkup kebangkitan adalah pengalaman dalam kebangkitan. Di padang gurun Syur, orang-orang Israel mengalami salib Kristus dalam kebangkitan. Dalam ruang lingkup padang gurun, air pahit di Mara telah diubah menjadi air manis. Dalam prinsip yang sama, dalam ruang lingkup kebangkitan, kita mengalami kematian Kristus mengubah kepahitan kita menjadi manis. Kiranya Tuhan memberikan lebih banyak pengalaman ini kepada kita.
Kita mengalami air yang pahit di Mara bukan sekali saja sudah cukup. Selama kita masih hidup di bumi, kita akan berjalan dalam ruang lingkup kebangkitan dan datang ke Mara berkali-kali. Pengalaman orang-orang Israel di Mara menggambarkan suatu prinsip, bukan sekadar kebetulan. Prinsip ini akan mendasari kehidupan kekristenan kita. Sewaktu kita berjalan dalam ruang lingkup kebangkitan, kita akan merasa haus, dan kita akan menemukan bahwa tidak ada air alamiah yang mampu menyuplai kebutuhan kita. Hanya air pahit saja yang tersedia. Bila kita berada dalam situasi seperti ini, kita perlu nampak visi tentang pohon ini dan kemudian menerapkan pohon ini ke atas suasana sekeliling kita. Pohon ini pasti akan menyembuhkan situasi kita dan mengubah air yang pahit menjadi manis.
IV. TUHAN (YEHOVA) SANG PENYEMBUH
Segera setelah air itu menjadi manis, TUHAN memberikan ketetapan dan perintah kepada umat itu, “dan di sanalah TUHAN mencoba (menguji) mereka” (ayat 25). Kemudian Ia berfirman, “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau” (ayat 26). Ketika saya membaca janji ini untuk kali pertama, saya tak mengerti mengapa ini disebutkan segera setelah penyembuhan air yang pahit itu. Jika kita mencamkan hal ini dari segi pengalaman kita, kita pasti menyadari bahwa salib Kristus bukan hanya menyembuhkan situasi kita yang pahit, tetapi juga menyembuhkan diri kita. Bukan hanya air suasana keliling kita yang pahit, bahkan diri kita ini sendiri juga pahit dan memerlukan penyembuhan. Diri kita ini pahit. Dengan kata lain, diri kita ini sedang sakit. Jasmani maupun jiwa kita ini sakit, begitu pula rohani kita. Rasa pahit itu terdapat di dalam tubuh, jiwa, dan roh kita.
Bila saya berada dalam keadaan yang pahit, sering kali Tuhan mengunjukkan salib Kristus kepada saya. Sehingga saya sadar bahwa saya perlu menerima salib sambil menempuh hidup yang tersalib. Ini menyelamatkan saya dari situasi yang pahit, dan suasana sekeliling saya yang pahit serentak disembuhkan. Tetapi, pada saat yang sama Tuhan pun sering menunjukkan kepada saya bahwa di dalam diri saya terdapat kepahitan. Saya nampak bahwa kepahitan itu terdapat di dalam diri saya seperti juga di dalam suasana keliling saya. Saya pun nampak bahwa kepahitan ini bercokol pada seluruh diri saya, di dalam roh saya, jiwa saya, dan tubuh saya, sehingga saya perlu menerapkan salib Kristus ke atas setiap aspek diri saya. Secara rohani, psikologis, dan fisik, saya memerlukan penerapan salib Kristus. Sekali dan sekali lagi saya mengalami penyembuhan Tuhan secara demikian. Setelah situasi saya disembuhkan, batin saya pun telah disembuhkan. Baik dalam keadaan sekeliling maupun dalam diri saya, kepahitan sudah diubah menjadi kemanisan.
Boleh jadi Anda mengira bahwa Anda tak memerlukan kesembuhan atas pikiran, emosi, atau tekad Anda, lebih-lebih tak perlu atas roh Anda. Izinkanlah saya berterus-terang bahwa kita semua sedang menghadapi problem-problem atas bagian-bagian kita itu. Yang tua atau yang muda, laki-laki atau perempuan, kita semua sakit dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Bahkan roh kita pun telah sakit. Sebelum saya diselamatkan, tekad saya tidak berfungsi pada tempatnya. Walau sudah mengambil keputusan tertentu, namun tetap gagal melakukannya. Tetapi bila tidak perlu mengambil keputusan secara khusus, ia malah mengambil keputusan itu. Tidakkah Anda mengalami seperti ini? Lagi pula, emosi kita pun mungkin tak seimbang. Ketika bergembira, kita lalu kehilangan batas; ketika menangis, kita lalu menangis tanpa kendali. Karena itu, kita memerlukan banyak penyembuhan. Kita menyadari hal ini setiap kali pohon penyembuhan dilemparkan ke dalam suasana sekeliling kita yang pahit getir.
Sewaktu kita berjalan dalam ruang lingkup kebangkitan, niscaya kita akan sekali demi sekali digiring ke Mara. Setiap kali kita mengalami pohon penyembuhan dilemparkan ke dalam keadaan sekeliling kita, kita akan secara spontan menyadari bahwa ada sesuatu di dalam diri kita ini yang perlu disembuhkan. Kita bisa merasakan perlu kesembuhan dalam pikiran, atau menyadari bahwa tekad kita perlu ditepatkan, atau pula nampak bahwa emosi kita perlu diseimbangkan. Pada saat-saat yang lain, mungkin kita menyadari bahwa roh kita terasa pahit terhadap orang lain, sehingga perlu disembuhkan.
Sama seperti Tuhan menguji orang-orang Israel di Mara, Ia menggunakan pengalaman kita terhadap salib-Nya di dalam keadaan sekeliling yang pahit untuk menguji dan memeriksa kita. Melalui pengujian ini, Ia memperlihatkan kepada kita, di mana dan macam apa kita ini. Ia menyingkapkan motivasi, niat, dan kecenderungan kita. Tidak ada pengujian yang melebihi pengalaman terhadap salib. Pengalaman terhadap salib dalam keadaan sekeliling yang pahit akan menguji kita serta menyingkapkan setiap aspek adanya kita. Tatkala kita disingkapkan sedemikian rupa, kita harus berdoa, “Tuhan, aku memerlukan Engkau, dan aku perlu lebih banyak pengalaman salib. Aku tak hanya perlu melemparkan kayu ke dalam keadaan sekelilingku, tetapi juga ke dalam diriku ini. Aku perlu menerapkan kayu ini ke atas pikiranku, emosiku, dan tekadku. Aku perlu menerapkan ini ke atas rohku dan ke atas sikapku terhadap orang lain.” Melalui penerapan salib seperti ini, Tuhan akan menyembuhkan kita.
Penyembuhan ini sangatlah berbeda dengan jenis penyembuhan yang disebut-sebut sebagai gerakan penyembuhan. Saya pernah menghadiri gerakan seperti itu, dan tak pernah sekali pun nampak penyembuhan yang sejati. Penyembuhan yang sejati akan terjadi bila kita menerima penanggulangan salib. Kita akan disembuhkan saat kita patuh dan mendengarkan suara Allah, menuruti perintah-Nya serta taat kepada ketetapan-Nya. Kemudian hayat kebangkitan Kristus menjadilah kuasa penyembuhan kita, dan Tuhan menjadi penyembuh kita.
Melalui pekerjaan penebusan-Nya, Kristus menjadi Penyembuh kita. Membicarakan tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, Matius 8:17 mengatakan, “Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.’” Semua penyembuhan yang terjadi atas umat manusia yang telah jatuh digenapi melalui penebusan Tuhan. Melalui penebusan-Nya, Tuhan menjadi Penyembuh kita. Dalam Matius 9:12, Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah Tabib kita, “Yesus mendengarnya dan berkata, ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.’” Sebagai dokter, Ia bukan hanya menyembuhkan fisik kita saja, lebih-lebih kejiwaan dan kerohanian kita. Ia sanggup menyembuhkan seluruh diri kita ini.
Satu Petrus 2:24 mengatakan, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Ayat ini mengatakan bahwa salib itu adalah kayu (pohon) itu dan Dia yang telah mati di atas salib adalah Penyembuh kita. Ia telah terpentang untuk menyembuhkan kita. Jika kita ingin mengalami penyembuhan-Nya, kita perlu disatukan dengan penyaliban-Nya. Misalnya, Anda menderita sakit lambung. Untuk menyembuhkan penyakit ini, perlu lambung Anda disatukan dengan salib Kristus. Bila lambung Anda disatukan dengan penyaliban Kristus, niscaya Kristus yang tersalib akan menjadi Penyembuh Anda. Sakit lambung Anda boleh jadi dikarenakan Anda hidup menurut diri sendiri. Dalam hal makanan Anda perlu penanggulangan salib. Salib harus membereskan diri Anda dalam hal makanan. Dalam prinsip yang sama, boleh jadi pikiran Anda sakit karena tidak pernah ditanggulangi oleh salib, tidak pernah disatukan dengan penyaliban Kristus.
Hal yang sama mungkin berlaku juga pada roh Anda. Mungkin roh Anda tidak lurus atau murni. Alasan ketidakmurnian atau ketidaklurusan dikarenakan roh Anda belum terjamah oleh salib Kristus.
Sebagian saudara tidak mau mengizinkan sikap mereka terhadap istri mereka ditanggulangi oleh salib. Inilah sebabnya hubungan mereka dengan istri mereka mengidap penyakit. Karena itu, perlu adanya penyembuhan atas kehidupan pernikahan mereka. Penyembuhan ini semata-mata melalui penerapan salib Kristus. Prinsip ini harus diterapkan ke tiap bagian diri kita.
Firman Tuhan dalam Keluaran 15:26 menyatakan bahwa dalam pandangan-Nya, orang-orang Israel jatuh sakit dan memerlukan penyembuhan. Jika bukan demikian, Tuhan tak akan menggunakan sebutan “Yehova yang menyembuhkan engkau.” Seperti yang telah difirmankan oleh Tuhan Yesus, hanya orang-orang yang sakit yang memerlukan dokter. Fakta bahwa bani Israel memerlukan TUHAN sebagai Penyembuh mereka menunjukkan bahwa mereka itu sedang sakit.
Peristiwa yang sama terjadi atas diri kita hari ini. Bagian-bagian tertentu dari batin kita masih menderita sakit dan memerlukan penyembuhan Tuhan. Seperti yang telah kita tunjukkan, proses penyembuhan akan terjadi bila kita dijamah oleh salib Kristus. Satu-satunya jalan untuk dijamah oleh salib adalah nampak visi tentang pohon (kayu) dan melemparkan pohon ini ke tempat yang memerlukan penyembuhan. Jika pikiran Anda yang pahit, lemparkanlah pohon ini ke dalam pikiran Anda. Jika sikap Anda terhadap seseorang atau sesuatu yang pahit, lemparkanlah pohon ini ke dalam sikap Anda. Lakukanlah ini terhadap setiap bagian Anda, pasti Anda akan disembuhkan sedikit demi sedikit. Setiap kali kita mengalami salib Kristus, kita akan mempunyai kesadaran yang lebih dalam terhadap kebutuhan kita akan penyembuhan melalui jamahan salib. Kita perlu disatukan dengan penyaliban Kristus demi menerapkan salib-Nya ke setiap bagian kita yang pahit dan sakit. Kemudian bagian-bagian itu pasti disembuhkan. Dengan cara ini dan bahkan setiap jam Tuhan Yesus akan menjadi Penyembuh kita.
Semakin kita disembuhkan oleh Tuhan, semakinlah kita mau mendengarkan suara Tuhan, menaruh hati kepada ketetapan-ketetapan-Nya, dan patuh kepada-Nya dengan sukarela. Tanpa disembuhkan, setiap aspek pada diri kita ini akan tetap tinggal pembangkang. Diri kita yang alamiah merupakan suatu susunan yang suka melawan, karena unsur suka melawan bercokol di setiap bagian batin kita. Betapa kita perlu disembuhkan melalui nampak salib dan melalui penerapan salib di atas diri kita! Kita perlu melihat pohon (kayu) di mana Kristus disalibkan dan kemudian menerapkan salib ini ke setiap bagian diri kita. Kita harus membiarkan salib Kristus menguji bagian-bagian batin kita. Bila salib ini diterapkan atas diri kita, bagian-bagian batin kita akan disembuhkan dan ditaklukkan. Kemudian bagian-bagian itu akan mendengar suara Tuhan, patuh kepada firman-Nya, dan melakukan ketetapan-ketetapan-Nya. Hasilnya, bagian-bagian itu akan secara riil menjadi satu dengan Tuhan. Kiranya kita semua mengalami penyembuhan ini dari hari ke hari.