PENGALAMAN ORANG ISRAEL DI ELIM
Pembacaan Alkitab:
Kel. 15:27; Bil. 33:9; Yoh. 7:38-39; Mzm. 92:12a; Im. 23:40;
Neh. 8:15; Yoh. 12:13; Why. 7:9; Kel. 24:4, 1;
Bil. 11:16, 24-25; Luk. 9:1; 10:1
Setelah orang Israel menyeberangi Laut Merah, tiang awan memimpin mereka ke Mara, kemudian ke Elim. Jika kita mempelajari peta, kita akan melihat bahwa mereka menempuh perjalanan itu tidak menurut konsepsi manusia, melainkan menurut konsepsi ilahi. Saya telah menunjukkan bahwa ketika orang Israel keluar dari Mesir, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin (13:17). Sebaliknya, Ia “menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau” (13:18). Allah dengan sengaja menuntun mereka ke selatan supaya mereka dapat dibaptis di Laut Merah, yaitu tempat pembaptisan yang telah Ia sediakan bagi mereka dalam penciptaan-Nya. Setelah menyeberangi Laut Merah, mereka tidak menempuh perjalanan menuju ke tanah Kanaan. Tetapi Allah menuntun mereka ke selatan menuju Mara.
Kita harus ingat bahwa Allah dalam tiang awan sendirilah yang menuntun bangsa itu dalam perjalanan mereka. Ia membawa mereka menempuh jalan yang sama sekali berlainan dengan jalan menurut konsepsi alamiah. Seandainya kita berada di tempat itu, mungkin kita akan bertanya, “Musa, sedang menuju ke manakah kita? Kita sedang menuju ke tanah permai, atau ke Arabia?” Terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sedemikian ini mungkin Musa akan menjawab, “Bukan aku yang memilih jalan untuk kita tempuh. Tiang awan itulah yang menuntun kita. Baru saja tiga hari yang lalu tiang awan ini melindungi kita dari tentara-tentara Firaun, tidakkah kalian merasa bahwa kita harus percaya kepada tiang awan ini dan menuruti pimpinan-Nya? Tentunya, orang-orang Israel mengharapkan dipimpin ke utara, yakni ke tanah permai; tetapi Allah menuntun mereka ke selatan, yaitu ke Mara dan Elim. Dengan ini kita nampak bahwa jalan Allah berlainan dengan jalan kita.
I. PENGALAMAN ATAS KEBANGKITAN
Pengalaman orang Israel di Elim, merupakan suatu gambaran tentang pengalaman atas hayat kebangkitan. Kita semua mengetahui bahwa kematian mengantarkan kita ke dalam kebangkitan. Namun, konsepsi kita ialah: pengalaman atas kebangkitan ini akan berada pada jalan yang mengarah ke atas, bukan pada jalan yang mengarah ke bawah. Menurut opini kita, setiap jalan yang mengarah ke bawah tidak berada dalam kebangkitan. Ya, memang dalam kebangkitan itu sendiri kita dibawa ke atas, namun penerapannya menghendaki kita menempuh jalan yang mengarah ke bawah. Ketika kita berada dalam situasi yang menyenangkan, kita tidak merasakan perlunya kebangkitan. Namun, ketika kita berada dalam situasi yang menyedihkan, kita menjadi sadar akan perlunya hayat kebangkitan. Tatkala kita berada dalam kematian, bahkan tatkala kita berada dalam kubur, kita memerlukan kebangkitan. Karena alasan ini, maka pengalaman atas Elim berada pada arah yang menurun dari Mara.
Sebagaimana kita merasa bahwa makna rohani dari 15:27 itu sesuai dengan pengalaman kita, maka kita perlu ingat, supaya tidak mempelajari firman Allah secara dangkal. Kita harus mempelajari firman itu sesuai dengan jalan hayat, sesuai dengan jalan Perjanjian Lama yang Tuhan Yesus terapkan dalam kitab Injil. Jalan ini amat dalam. Meskipun catatan ini sangat pendek, yaitu hanya satu ayat, namun kita perlu menghabiskan sejangka waktu untuk mempelajari pengalaman orang Israel di Elim ini secara sak-sama. Selanjutnya, kita akan melihat kekayaan-kekayaan yang dinyatakan dalam ayat ini.
Saya telah menunjukkan bahwa sebagai pengganti jalan ke utara yang menuju ke tanah Kanaan, orang Israel menempuh perjalanan ke selatan. Sudah pasti, tanah permai itu lebih tinggi daripada tanah Mesir. Namun, jalan untuk menuju ke tanah tinggi ini ialah menurun, turun ke arah selatan. Ini menunjukkan bahwa untuk mencapai tempat yang tinggi, kita perlu menempuh jalan yang menurun.
II. BERASAL DARI PENGALAMAN DI MARA
Beberapa pembaca Kitab Keluaran mungkin mengira bahwa orang Israel menempuh perjalanan ke selatan, karena mereka tidak mempunyai iman untuk langsung memasuki tanah Kanaan. Meskipun kemudian ketidakpercayaan mereka merupakan suatu fakta, tetapi itu bukanlah merupakan alasan bagi perjalanan mereka ke selatan. Jika mereka tidak pergi ke Laut Merah, mereka tidak akan melewati tempat pembaptisan yang telah Allah sediakan bagi mereka. Mereka harus melalui air, agar diselamatkan dari tirani Firaun dan orang Mesir. Darah Anak Domba Paskah menyelamatkan mereka dari penghakiman Allah, sedangkan air Laut Merah menyelamatkan mereka dari tentara Firaun. Mereka dituntun ke Laut Merah bukan karena iman mereka lemah, melainkan karena mereka perlu dibaptis. Seperti telah ditunjukkan, setelah orang Israel menyeberangi Laut Merah, mereka tidak segera menempuh perjalanan ke utara. Berlawanan dengan dugaan kita, tiang awan itu menuntun mereka dari Syur turun ke Mara. Setelah pengalaman mereka di Mara, tiang awan itu terus memimpin mereka turun ke Elim.
Pengalaman orang-orang Israel di Mara melambangkan pengalaman atas salib. Setelah kita memiliki pengalaman atas salib, mungkin kita berharap menuju ke atas. Namun, sekali lagi kita harus menuju ke bawah, sebab pengalaman atas kebangkitan berada pada arah yang menurun. Jika Anda menuju ke atas dan bukan ke bawah, maka Anda tidak akan mengalami kebangkitan. Beberapa orang Kristen mengira bahwa Allah hanya memimpin umat-Nya ke atas, tidak pernah ke bawah. Tetapi menurut gambaran dalam Kitab Keluaran, tiang awan menuntun orang-orang Israel dari Mara turun ke Elim.
Saya bisa bersaksi, bahwa perjalanan dari Mara ke Elim ini sama dengan pengalaman rohani saya. Setelah saya mengalami hayat yang tersalib, saya sering berharap agar berada pada situasi yang menaik. Namun, sering kali justru sebaliknyalah yang terjadi. Allah memimpin saya ke bawah, yakni ke dalam situasi yang lebih rendah, dan bahkan yang lebih sulit dipikul. Kita wajib tidak takut akan hal ini. Kalau kita mengikuti awan ke arah yang menurun, maka kita akan sampai di Elim, di mana terdapat 12 mata air dan 70 pohon korma. Inilah pengalaman atas kebangkitan yang berasal dari pengalaman atas salib, yaitu pengalaman di Mara.
III. DUA BELAS MATA AIR
DAN TUJUH PULUH POHON KORMA
Elim merupakan kata benda jamak yang berarti orang-orang yang berkuasa atau orang-orang yang kuat. Kata ini berasal dari sebuah akar kata yang artinya berkuasa atau kuat. Menurut sejumlah sarjana, kata ini juga berarti hutan pohon korma. Arti yang pertama mungkin berkenaan dengan 12 mata air, dan arti yang kedua mungkin berkenaan dengan 70 pohon korma. Di Elim terdapat 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh. Alangkah baiknya lukisan tentang hayat kebangkitan ini!
Perhatikan kedua belas mata air dan ketujuh puluh pohon korma yang bertumbuh itu. Mata air-mata air itu terus mengalir, sedangkan pohon-pohon korma itu bertumbuh ke atas. Sudah pasti, pohon-pohon korma di Elim itu bukanlah pohon yang kerdil, melainkan pohon raksasa yang sangat tinggi. Dan tentu saja, air dari mata air-mata air itu mengalir ke bawah. Oleh karena itu, di Elim kita mempunyai air yang mengalir ke bawah dan pohon-pohon yang bertumbuh ke atas. Ini merupakan sebuah gambaran tentang hayat kebangkitan yang mengalir keluar dari Allah masuk ke dalam kita, dan kemudian bertumbuh dari dalam kita. Jadi, pertama-tama hayat kebangkitan mengalir keluar dari Allah masuk ke dalam kita, dan sebagai akibat dari pengaliran ini, sesuatu akan bertumbuh dari dalam kita.
Saya telah menunjukkan bahwa dalam penciptaan-Nya, Allah menyediakan Laut Merah untuk dipakai sebagai tempat baptisan umat-Nya. Sekarang kita melihat penanaman Allah di Elim. Allah menciptakan 12 mata air, selain itu Ia juga menanamkan 70 pohon korma. Mata air-mata air berhubungan dengan penciptaan Allah, dan pohon-pohon korma berhubungan dengan penanaman-Nya. Prinsip ini sama dengan hidup gereja hari ini.
Setiap perkara yang berhubungan dengan pengalaman di Elim merupakan kedaulatan Tuhan. Dalam penciptaan-Nya, Allah menyediakan mata air, sedangkan dalam penanaman-Nya, Ia menyediakan pohon korma. Tentu saja bukan secara kebetulan, orang-orang Israel datang ke Elim dan menemukan 12 mata air dan 70 pohon korma di sana. Mengapa bukannya 11 mata air dan 69 pohon korma? Jawabannya ialah: dalam kedaulatan-Nya, Allah menempatkan 12 mata air dan 70 pohon korma itu bagi suatu tujuan khusus. Bila kita mengikuti Tuhan sebagai tiang awan, kita akan sampai pada tempat di mana terdapat 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh.
IV. DUA BELAS DAN TUJUH PULUH
MERUPAKAN ANGKA BAGI UMAT ALLAH
UNTUK MELAKSANAKAN MINISTRI-NYA
Dalam Alkitab, angka 12 dan 70 mempunyai arti rohani. Menurut Alkitab, angka 12 tersusun dari 4 dan 3. Contohnya, Yerusalem Baru mempunyai 12 pintu gerbang, yakni 3 buah pintu gerbang pada tiap-tiap sisi dari keempat sisi kota tersebut. Angka 4 melambangkan makhluk ciptaan, terutama manusia, sedangkan angka 3 melambangkan Allah Tritunggal. Fakta bahwa terdapat 3 buah pintu gerbang pada masing-masing sisi dari Yerusalem Baru, menunjukkan bahwa kita masuk ke dalam kota itu melalui Allah Tritunggal, yaitu melalui Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Matius 28:19 mengatakan bahwa kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena angka 4 melambangkan manusia dan angka 3 melambangkan Allah Tritunggal, maka 4 kali 3 melambangkan perbauran antara Allah dengan manusia. Sebab itu, makna dari angka 12 ialah perbauran antara Tuhan dengan manusia.
Perbauran ini bukannya bersifat sementara, melainkan kekal. Kalau kita memperhatikan gambaran tentang Yerusalem Baru dalam Wahyu 21 dan 22, kita nampak bahwa angka 12 merupakan angka yang kekal, angka yang digunakan dalam kekekalan. Selain itu dalam Yerusalem Baru kita melihat bahwa perbauran antara Tuhan dengan manusia berhubungan dengan pemerintahan Allah, sebab Yerusalem Baru adalah pusat pemerintahan Allah yang kekal dan universal. Angka 12 juga melambangkan kesempurnaan dan kelengkapan yang kekal. Karena itu, angka 12 melambangkan perbauran antara Tuhan dengan manusia, bagi pelaksanaan pemerintahan Allah yang lengkap dan sempurna sampai selama-lamanya.
Jika kita memperhatikan Yerusalem Baru, kita akan nampak arti yang luas dari angka 12, yaitu Allah berbaur dengan manusia untuk melaksanakan pemerintahan-Nya yang kekal dalam cara yang sempurna. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang Israel, bangsa pilihan Allah, terdiri dari 12 suku. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memilih 12 rasul. Dua belas rasul dan 12 suku ini akan berada dalam Yerusalem Baru. Dua belas suku ini akan menjadi 12 pintu gerbang, dan 12 rasul tersebut akan menjadi 12 batu dasar. Ini menunjukkan bahwa 12 suku dan 12 rasul itu adalah bagi pemerintahan Allah yang kekal.
Sekarang kita dapat memahami arti dari 12 mata air di Elim. Mata air-mata air ini ialah untuk perbauran antara Tuhan dengan manusia. Mata air-mata air ini menunjukkan bahwa Allah sebagai air hayat sedang mengalir ke dalam umat pilihan-Nya agar berbaur dengan mereka, untuk menggenapkan tujuan pemerintahan-Nya.
Kedua belas rasul dalam Perjanjian Baru merupakan mata air-mata air yang penuh dengan air hayat. Allah mengalir keluar dari para rasul masuk ke dalam orang-orang yang percaya. Tetapi aliran air hayat ini tidak hanya terbatas pada para rasul tersebut. Semua orang yang percaya kepada Kristus boleh menjadi mata air. Yohanes 7:38 mengatakan tentang air hayat yang mengalir keluar dari dalam hati kita. Aliran-aliran air hayat dalam Yohanes 7 itu ialah mata air dalam Keluaran 15. Baik aliran-aliran air hayat maupun mata air-mata air itu, keduanya melambangkan hayat ilahi dalam kebangkitan. Yohanes 7:39 menunjukkan bahwa aliran-aliran air hayat tersebut berhubungan dengan Roh: “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya, sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan”(Tl.). Yesus dimuliakan dalam kebangkitan-Nya (Luk. 24:26). Segera setelah pemuliaan Kristus dalam kebangkitan, murid-murid-Nya menerima Roh Kudus (Yoh. 20:22). Roh itu ialah hayat ilahi dalam kebangkitan, yang digambarkan dengan 12 mata air dalam Keluaran 15 dan aliran-aliran air hayat dalam Yohanes 7. Hayat ilahi dalam kebangkitan itu mengalir keluar dari Allah dan masuk ke dalam umat-Nya, bagi perbauran antara Tuhan dengan manusia. Perbauran inilah yang akan menyelenggarakan pemerintahan Allah yang kekal.
Dalam Alkitab, angka 70 terdiri dari 7 kali 10. Seperti angka 12, angka 7 juga melambangkan kesempurnaan dan kelengkapan. Tetapi berlawanan dengan angka 12, angka 7 ini melambangkan kesempurnaan dan kelengkapan dalam waktu yang bersifat penyaluran, bukan dalam waktu yang kekal. Kitab Wahyu mengatakan tentang 7 gereja, 7 kaki pelita emas, 7 Roh, 7 obor, 7 mata, 7 meterai, 7 sangkakala, dan 7 cawan. Semua angka 7 ini berhubungan dengan penyaluran Allah dalam waktu. Dalam kekekalan, angka 7 ini akan digantikan oleh angka 12.
Dalam Alkitab, angka 7 juga terdiri dari 6 ditambah 1, atau 4 ditambah 3. Dalam Kejadian 2, kita melihat angka 7 yang terdiri atas 6 ditambah 1: yakni 6 hari Allah bekerja ditambah 1 hari Allah beristirahat. Demikian juga dalam Kitab Wahyu, di mana 7 meterai, 7 sangkakala, dan 7 cawan, disusun dalam kelompok 6 ditambah 1. Dalam Kitab Wahyu kita juga melihat angka 7 yang terdiri dari 4 ditambah 3.
Angka 6 menggambarkan manusia yang diciptakan pada hari keenam. Tatkala Allah, Sang Pencipta yang unik (yang dilambangkan dengan angka 1) ditambahkan ke dalam manusia, hasilnya ialah kesempurnaan, kepuasan, dan perhentian. Pencipta yang unik ialah Allah Tritunggal (yang dilambangkan dengan angka 3), sedangkan manusia ialah makhluk ciptaan (yang dilambangkan dengan angka 4). Di satu pihak, Pencipta ditambahkan ke dalam manusia untuk menghasilkan angka 7. Di pihak lain, Allah Tritunggal ditambahkan ke dalam makhluk ciptaan-Nya, yaitu manusia, untuk menghasilkan angka 7. Dalam setiap perkara, angka 7 melambangkan tertambahnya Allah ke dalam manusia, bukan perbauran antara Allah dengan manusia.
Kali pertama angka 7 disebutkan dalam Kejadian 2:2, di mana dikatakan bahwa Allah “berhenti . . . pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya.” Penggunaan angka 7 ini berkenaan dengan waktu yang tertentu, bukan kekekalan. Daniel 9:24 mengatakan tentang 70 kali 7 masa yang telah ditetapkan bagi orang Israel. Masa-masa ini juga berkenaan dengan ekonomi Allah yang sementara, bukan kekekalan. Selanjutnya, gereja-gereja lokal dilambangkan dengan angka 7, sebab gereja-gereja hari ini adalah bagi penyaluran Allah dalam waktu. Semua contoh ini menunjukkan bahwa angka 7 melambangkan kesempurnaan dan kelengkapan yang bersifat penyaluran dan bersifat sementara.
Angka 10 melambangkan kepenuhan. Bila kita memperhatikan kesepuluh jari tangan dan kesepuluh jari kaki kita, kita akan mempunyai kesan kepenuhan. Karena angka 7 melambangkan kelengkapan dan kesempurnaan dalam waktu, sedangkan angka 10 melambangkan kepenuhan, maka 70, yang terdiri dari 7 kali 10, melambangkan kelengkapan dan kesempurnaan dalam waktu bagi penyaluran Allah sepenuhnya. Fakta bahwa terdapat 70 pohon korma di Elim dan bukan 7 pohon, menunjukkan kepenuhan penyaluran Allah dalam waktu.
Dua belas mata air dan 70 pohon korma tersebut semuanya berada dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan kita mempunyai aliran dari 12 mata air sampai kekal. Dalam kebangkitan, kita juga mempunyai 70 pohon korma yang bertumbuh bagi penyaluran Allah.
Dalam Alkitab terdapat dua perkara yang penting, di mana angka 12 dan 70 digunakan bersama-sama. Dalam Keluaran 24:1 dan 4, kita membaca tentang 70 tua-tua Israel dan 12 suku Israel. Ketika Musa hendak berhubungan dengan Allah bagi pelaksanaan pemerintahan-Nya di bumi, Tuhan menyuruh Musa mengajak 70 tua-tua Israel tersebut. Dua belas suku Israel boleh disamakan dengan 12 mata air, dan 70 tua-tua Israel boleh disamakan dengan 70 pohon korma. Kita lihat perkara lain dalam Perjanjian Baru. Dalam Lukas 9:1, Tuhan “memanggil kedua belas murid-Nya” dan dalam Lukas 10:1 “Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain.” Dalam setiap perkara, penggunaan angka-angka tersebut sangat bermakna. Tatkala digunakan bersama-sama, angka 12 dan 70 menunjukkan bahwa tugas umat Allah adalah untuk melaksanakan ministri-Nya. Prinsip dari Keluaran 24 dengan 12 suku Israel dan 70 para tua-tua Israel ini, sama dengan Injil Lukas dengan 12 para rasul dan 70 murid lainnya. Dalam setiap hal, umat Tuhan adalah untuk melaksanakan ministri-Nya. Allah mempunyai satu ministri yang harus dilaksanakan oleh hayat yang mengalir yang dilambangkan dengan 12 mata air, dan oleh hayat yang bertumbuh yang dilambangkan dengan 70 pohon korma. Hanya hayat yang mengalir dan yang bertumbuhlah yang dapat menggenapkan ministri Allah.
Mungkin kita dulu telah banyak berbicara tentang hayat kebangkitan tanpa memperoleh penjelasan. Sekarang, melalui bantuan gambaran tentang orang-orang Israel di Elim, kita nampak bahwa hayat kebangkitan meliputi 12 mata air dan 70 pohon korma. Hayat kebangkitan itu meliputi hayat yang mengalir secara sempurna dan lengkap, untuk melaksanakan pemerintahan Allah dalam kekekalan. Hayat kebangkitan itu juga meliputi hayat yang bertumbuh untuk melaksanakan pemerintahan Allah, hingga mengekpresikan hayat yang bertunas (Mzm. 92:13), hayat yang bersukaria dalam kepuasan (Im. 23:40; Neh. 8:15), dan hayat yang menang atas kesengsaraan (Yoh. 12:13; Why. 7:9). Dalam Alkitab, pohon korma melambangkan hayat yang bertunas. Pohon ini juga melambangkan kegembiraan dalam kepuasan hayat dan kemenangan atas kesengsaraan. Akhirnya, hayat kebangkitan ini akan melaksanakan ministri Allah, baik yang dalam waktu, maupun yang dalam kekekalan.
Baik sebagai gereja secara korporat maupun sebagai orang-orang yang percaya secara individu, kita perlu mengalami hayat kebangkitan di Elim itu. Oh, hayat kebangkitan ini mengalir dan bertumbuh! Hayat ini mengalir keluar dari Allah masuk ke dalam kita, dan melalui pengaliran tersebut, hayat ini bertumbuh dewasa hingga mengekspresikan kekayaan dan kemenangan hayat ilahi.
Saya telah menunjukkan bahwa dalam Alkitab, pohon korma menandakan hayat yang bertunas, bersukaria dalam kepuasan, dan kemenangan. Pertumbuhan hayat yang mengalir ini mengekspresikan kekayaan hayat ilahi dan kemenangannya dalam segala hal. Kumpulan orang yang tidak terhitung banyaknya dalam Wahyu 7 sedang memegang daun-daun palem dan telah keluar dari kesengsaraan. Daun-daun palem ini melambangkan kekayaan dalam hayat dan kemenangan hayat.
Jika kita memperhatikan gambaran tentang orang-orang Israel di Elim, kita akan menyadari bahwa gambaran itu merupakan lukisan yang menakjubkan tentang hayat kebangkitan. Sesuatu sedang mengalir keluar dari Allah dan masuk ke dalam kita, dan melalui pengaliran ini, sesuatu sedang bertumbuh untuk mengekspresikan kekayaan dan kemenangan hayat ilahi. Saya percaya, Tuhan akan lebih banyak berbicara kepada kita tentang hayat kebangkitan.
V. BERKEMAH SEBAGAI BALA TENTARA
Pada akhir dari 15:27 dikatakan bahwa orang-orang Israel “berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.” Kata kemah menunjukkan bahwa umat Allah telah dibentuk menjadi suatu bala tentara. Hayat yang mengalir dan bertumbuh itu menyuplai umat Allah sebagai bala tentara-Nya. Ketika kita sampai pada pasal 17, kita akan melihat umat Allah ikut serta dalam peperangan sebagai tentara. Di Elim, mereka penuh dengan kenikmatan hayat yang membuat mereka memenuhi syarat untuk berperang. Ini memungkinkan mereka berperang untuk melaksanakan tujuan Allah, yaitu membangun tempat kediaman-Nya.
Di Gunung Sinai, umat Allah menerima wahyu ilahi yang berkenaan dengan pembangunan Kemah Pertemuan. Perjalanan yang jauh dari Mesir ke Sinai, tidak dapat ditempuh tanpa berperang. Mula-mula orang Israel tidak berperang sendiri, tetapi Allahlah yang berperang bagi mereka serta mengalahkan Firaun dan bala tentaranya dengan membinasakan Firaun dan kereta-kereta perangnya ke dalam Laut Merah. Namun, setelah umat Allah menyeberangi Laut Merah dan memiliki pengalaman di Mara dan Elim, mereka dikuatkan sebagai tentara Allah dan memenuhi syarat untuk berperang bagi kehendak Allah. Inilah alasannya mengapa dalam pasal 17 Allah tidak berperang bagi mereka. Sebab dengan hayat yang mengalir dan bertumbuh itu mereka sendiri dapat berperang.
Jika kita ingin dikuatkan sebagai tentara Allah hari ini, pertama-tama kita harus mengalami 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh itu. Kita memerlukan hayat yang mengalir dengan lengkap dan sempurna, serta hayat yang bertumbuh. Barulah kita akan memenuhi syarat dan diperlengkapi sebagai tentara untuk berperang bagi kehendak Allah. Dalam pemulihan Tuhan, kita sadar bahwa kita sedang melakukan peperangan rohani. Kita tidak hanya menetap di lokal kita, kita bahkan berkemah di dalamnya. Untuk berperang, kita tidak cukup hanya makan anak domba Paskah dan roti yang tidak beragi. Kita juga perlu mengalami salib dan kebangkitan; yaitu kita harus melewati Mara dan sampai di Elim.
Kalau kita memperhatikan maksud dari 15:27, kita akan menyadari bahwa kita juga perlu datang ke Elim. Saya yakin, setidak-tidaknya pada tingkat yang tertentu, gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan sedang berkemah di Elim, menikmati 12 mata air dan 70 pohon korma. Betapa kita berterima kasih kepada Tuhan atas gambaran tentang hayat kebangkitan ini! Sudahkah Anda nampak bahwa hasil dari hayat yang mengalir dan bertumbuh itu ialah bala tentara yang dikuatkan untuk berperang bagi kehendak Allah? Puji Allah, kita adalah tentara-Nya yang berkemah dekat dengan hayat yang mengalir dan bertumbuh itu!
VI. DARI MARA KE ELIM
Dalam pengalaman kita, kita tidak hanya memerlukan air manis, tetapi juga memerlukan air yang mengalir. Ini berarti, kita memerlukan air yang telah diubah dari pahit menjadi manis, dan juga air yang mengalir dari 12 mata air di Elim. Untuk dapat memiliki air yang mengalir itu, kita harus berjalan terus dari Mara, yakni pengalaman atas salib, menuju ke Elim, yakni pengalaman atas kebangkitan.
Dari masa Madame Guyon dengan kaum seangkatannya sampai pada masa Penn Lewis, kebanyakan umat Tuhan masih berada di Mara. Melalui ministri Penn Lewis, pengalaman yang subyektif atas salib telah sepenuhnya dipulihkan. Pada tahun-tahun itu, menurut Penn Lewis, Tuhan telah pergi dari Mara ke Elim. Di Elim Ia memelihara tanaman-Nya dengan 12 mata air dan 70 pohon korma. Tetapi banyak orang yang menuntut Tuhan yang masih sangat menghargai Mara dan ingin tetap tinggal di sana. Mereka belum melewati tulisan-tulisan Nyonya Penn Lewis mengenai salib. Sebaliknya, mereka masih mengutamakan pengalaman atas salib. Mereka sama sekali tidak memperhatikan mata air yang mengalir dan pohon korma yang bertumbuh itu. Mereka hanya memberikan kesaksian tentang bagaimana melalui penerapan salib yang pahit telah diubah menjadi manis bagi mereka. Memang mereka yang masih tinggal di Mara memiliki pohon penyembuhan, tetapi itu bukanlah pohon korma yang bertumbuh untuk mengekspresikan kekayaan dan kemenangan hayat ilahi. Di Mara tidak ada penanaman. Di sana hanya ada sebuah pohon yang telah tertebang dan dilemparkan ke dalam air pahit.
Tujuan saya di sini bukannya meremehkan mereka yang telah mendahului kita dalam pemulihan Tuhan. Tujuan saya ialah menunjukkan betapa perlunya kita terus maju dari Mara ke Elim. Kita perlu terus maju dari pohon penyembuhan ke pohon korma yang bertumbuh dan bertunas. Dalam pemulihan-Nya hari ini, Allah tidak menghen-daki kita tetap tinggal di Mara. Ia menghendaki kita terus maju ke Elim dan dikuatkan di sana sebagai tentara-Nya.
Baru-baru ini, saya menerima surat dari seseorang yang menanyakan tentang buku-buku yang ditulis oleh penganut mistik pada tiga abad yang lalu, terutama tulisan-tulisan Madame Guyon dan Saudara Lawrence. Sebenarnya, otobiografi Madame Guyon tersebut merupakan sejarah pengalaman di Mara. Ini sama dengan The Imitation of Christ. Mereka yang mengutamakan pengalaman di Mara tiga abad yang lalu tidak menekankan 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh. Hari ini, Tuhan meng-hendaki kita mengalami mata air-mata air yang menyirami tanaman Allah, sehingga pohon-pohon korma itu dapat bertumbuh untuk mengekspresikan kekayaan hayat-Nya dan kemenangan-Nya.
Karena di Mara tidak ada penanaman, yang ada hanyalah perubahan dari kepahitan menjadi kemanisan, maka di sana tidak ada pertumbuhan. Tetapi di Elim kita menikmati ladang Allah dan hutan pohon korma, untuk mengekspresikan kekayaan hayat ilahi dan kemenangan yang sempurna dari pemerintahan Allah. Dalam pengalaman kita, air pahit yang telah diubah menjadi air manis itu pasti menjadi air yang mengalir, yang di dalamnya, olehnya, dan dengannya, kita bertumbuh seperti pohon korma untuk mengekspresikan kekayaan hayat Allah dan kemenangan Allah yang sempurna.