← Daftar isi Keluaran (2) · bab 16/16

PENGALAMAN ATAS MANNA

Pembacaan Alkitab:

Kel. 16:1-30; Bil. 11:1-10, 18-23, 31-34

Kitab Keluaran ditulis bukan berdasarkan doktrin, tetapi berdasarkan pengalaman. Setelah orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah, Tuhan menuntun mereka ke Mara. Di sana bangsa itu bersungut-sungut sebab airnya sangat pahit; tetapi Tuhan tidak marah, Tuhan menunjukkan kepada Musa sepotong kayu (pohon) yang mengubah air yang pahit itu menjadi manis. Tiga hari sebelumnya, umat Allah telah mengalami pertolongan-Nya di Laut Merah. Tentara Firaun telah dibinasakan dan bangsa itu bersukaria memuji Tuhan. Tetapi sewaktu di Mara, sepertinya mereka telah lupa akan pengalaman mereka di Laut Merah. Namun karena menyadari bahwa umat-Nya itu anak-anak dan ini adalah kali pertama mereka bersungut-sungut, Tuhan tidak menghukum mereka. Sebaliknya, Ia mengubah air pahit itu menjadi air manis.

Dari Mara Tuhan memimpin bangsa itu ke Elim, di sana ada 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh. Pengalaman umat Allah di Elim pasti sangat menyenangkan. Kapan saja kita sampai di Elim, kita juga sangat gembira. Setelah memperoleh pengalaman yang menakjubkan di Elim, orang-orang Israel “berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan Gunung Sinai” (16:1). Seperti yang akan kita lihat, setelah mengalami hayat yang mengalir dan yang bertumbuh di Elim, mereka dibawa ke dalam situasi yang berbeda, situasi yang lebih menyulitkan mereka.

Sesuai dengan pengaturan Allah, ada siang, juga ada malam. Di satu pihak, setelah siang datanglah malam. Di pihak lain, setelah malam datanglah siang yang baru. Dalam pengalaman kita bersama Tuhan, kita memerlukan siang dan malam. Kita memerlukan pengalaman di Laut Merah, juga kepahitan di Mara. Kita memerlukan pengalaman yang menyenangkan di Elim, juga pengalaman di padang gurun Sin.

Umat Allah tiba di padang gurun Sin “pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir” (16:1), kira-kira satu bulan sesudah perayaan Paskah di Mesir. Perayaan Paskah dan pengalaman di Laut Merah serta di Elim tersebut sangat menakjubkan. Tetapi setelah memperoleh pengalaman-pengalaman yang menakjubkan ini, bangsa itu dituntun oleh tiang awan ke padang gurun.

I. DAGING ORANG-ORANG ISRAEL

MASIH TETAP ADA

SETELAH PENGALAMAN DI ELIM

A. BERSUNGUT-SUNGUT

KEPADA MUSA DAN HARUN

Keluaran 16:2 mengatakan, “Di padang gurun itu ber-sungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun.” Di sini kita melihat tiga kelompok orang: orang yang bersungut-sungut, orang yang menerima sungut-sungut itu, dan Tuhan yang mendengarkan sungut-sungut itu. Menurut ayat 8, Musa berkata kepada bangsa itu, “TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.” Musa sangat kecewa terhadap bangsa itu oleh karena sungut-sungut mereka. Ia jauh lebih kecewa daripada Tuhan sendiri. Tuhan memerintahkan Musa supaya ia mengatakan kepada bangsa itu, bahwa mereka akan melihat kemuliaan-Nya pada keesokan paginya (ayat 7). Ia juga berjanji “menurunkan dari langit hujan roti” untuk mereka (ayat 4).

Meskipun berita ini berjudul “Pengalaman atas Manna”, sebenarnya beban saya bukanlah pada manna itu. Beban saya ialah menunjukkan bahwa setelah pengalaman yang menakjubkan di Elim, daging orang-orang Israel masih tetap ada. Hal ini sama dengan pengalaman rohani kita. Setelah memperoleh pengalaman yang menyenangkan di Elim dengan kedua belas mata airnya yang mengalir dan ketujuh puluh pohon kormanya yang bertumbuh, kita masih terganggu oleh daging. Air hidup di Elim tidak dapat mencuci bersih daging. Inilah alasannya bahwa apa yang disebut pengalaman Pentakosta tidak melepaskan kita dari daging. Mungkin orang-orang yang percaya telah mengalami baptisan Roh Kudus atau apa yang disebut berkat kedua, tetapi mereka masih mempunyai problem dengan daging. Bahkan pengalaman yang sejati atas baptisan Roh Kudus pun tak lain hanyalah merupakan pengalaman di Elim, tidak dapat menyelesaikan problem daging kita.

Dengan ini sekali lagi kita nampak bahwa Kitab Keluaran ditulis bukan berdasarkan doktrin, tetapi ditulis berdasarkan pengalaman rohani. Menurut pengertian yang doktrinal, pengalaman atas 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh di Elim akan menyebabkan kita menjadi kaum saleh yang matang. Namun, dari pengalaman-pengalaman di Elim tidak pernah diperoleh ha-sil yang demikian. Sungut-sungut orang Israel dalam pasal 16 membuktikan hal ini. Mereka telah diselamatkan dan dibebaskan dari Mesir, mereka telah mengalami pengubahan air di Mara, dan mereka juga telah menikmati 12 mata air dan 70 pohon korma di Elim. Tetapi setelah mengalami semua itu, mereka masih memperlihatkan sikap seperti yang ditunjukkan dalam pasal 16. Jika kita memandang hal ini secara doktrinal, kita akan mendapati bahwa hal ini sukar untuk dimengerti. Tetapi jika kita melihat hal ini dari sudut pengalaman kita, kita akan mendapati bahwa pasal 16 mudah untuk dimengerti. Menurut pengalaman rohani kita, kita sadar bahwa waktu-waktu yang menyenangkan di Elim tidak pernah menyebabkan orang-orang yang percaya menjadi kaum saleh yang matang.

Setelah kita memiliki pengalaman di Elim, Tuhan akan menyingkapkan daging manusia alamiah kita. Inilah alasannya mengapa setelah kita memiliki pengalaman yang menyenangkan atas 12 mata air yang mengalir dan 70 pohon korma yang bertumbuh, kita mendapati bahwa kita masih hidup menurut daging. Dua belas mata air itu memuaskan dahaga dalam roh kita, tetapi tidak menyebabkan daging kita mati. Sungguh, semakin kita mengalami mata air yang mengalir itu, semakin pula daging kita akan tersingkap. Jika tujuan Anda adalah menyembunyikan daging Anda, Anda harus menjauhi pengalaman atas mata air dan pohon korma di Elim. Pengalaman atas 12 mata air di Elim, selalu diikuti dengan penyingkapan daging.

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca buku-buku yang menceritakan tentang pengalaman atas pembaptisan Roh Kudus dan pengalaman atas apa yang disebut berkat kedua. Buku-buku itu menyatakan bahwa sekali seseorang yang percaya memperoleh pengalaman sedemikian, semua problemnya akan terpecahkan. Ada buku-buku yang malah menyatakan bahwa dosa pun akan dihapuskan. Tetapi pengalaman kita yang sebenarnya membuktikan bahwa pernyataan ini tidak benar. Setelah kita menikmati air hayat di Elim, daging kita tersingkap. Tiada tempat untuk bersembunyi. Dalam pengalaman kita, terdapat perubahan yang pasti terjadi dari siang ke malam. Kita tidak berdaya untuk memperpanjang siang atau mencegah datangnya malam.

Kita perlu nampak jelas akan kedangkalan kekristenan hari ini. Banyak orang Kristen yang membicarakan tentang pengalaman atas baptisan Roh Kudus. Tetapi bahkan pengalaman-pengalaman yang sejati atas baptisan Roh Kudus itu pun paling jauh merupakan pengalaman di Elim. Saya telah menunjukkan bahwa mungkin saja pengalaman-pengalaman ini memuaskan dahaga kita, tetapi pengalaman ini tidak dapat menanggulangi daging kita. Sebaliknya, pengalaman ini menyebabkan daging lebih tersingkap. Inilah alasannya mengapa setelah pengalaman mereka di Elim, daging orang-orang Israel masih tetap ada dan tersingkap. Sedikit pun daging tersebut belum diubah.

Sama halnya, meskipun mungkin kita memiliki pengalaman yang menyenangkan atas 12 mata air di Elim, kita akan mendapati bahwa kita belum diubah. Memuaskan dahaga dalam roh kita merupakan satu perkara, tetapi menanggulangi daging alamiah manusia kita merupakan perkara lain. Jangan berharap bahwa 12 mata air di Elim itu akan mengubah apa adanya Anda di dalam daging. Saya berbeban membuat Anda mempunyai kesan yang dalam terhadap butir yang penting ini. Jika kita tahu jelas akan hal ini, kita akan terlepas dari pengaruh konsepsi yang keliru yang ada dalam kekristenan hari ini.

Karena daging kita masih tetap ada setelah pengalaman di Elim, kita perlu dituntun oleh Tuhan dari Elim ke padang gurun, seperti yang ditulis dalam Keluaran 16. Padang gurun ini bukanlah suatu tempat yang khusus. Kita hanya diberi tahu bahwa di antara Elim dan Gunung Sinai terdapat padang gurun. Ini menunjukkan bahwa setelah kita minum air hayat di Elim, kita akan dibawa ke dalam situasi yang tak menentu. Dalam tempat yang tidak menentu ini, daging kita akan tersingkap.

B. TERSINGKAP OLEH KARENA

KEKURANGAN SUPLAI HAYAT SURGAWI

Seperti yang akan kita lihat sekarang, daging kita tersingkap oleh karena kekurangan makanan, kekurangan Kristus sebagai suplai hayat surgawi. Inilah alasannya mengapa sebutan manna baik dalam Keluaran 16 maupun dalam Bilangan 11 berkenaan dengan sungut-sungut bangsa itu. Ini menunjukkan bahwa manna surgawi diberikan untuk menanggulangi daging kita. Pekerjaan demikian ini tidak dapat dilakukan oleh mata air-mata air di Elim, tetapi hanya dapat dilakukan oleh manna surgawi.

Bangsa itu bersungut-sungut kepada Musa dan Harun, oleh karena keinginan mereka yang kuat dalam hal makan. Tetapi sungut-sungut mereka itu sebenarnya tertuju kepada Tuhan sendiri. Bangsa itu telah minum banyak air, namun mereka masih lapar, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Rasa lapar mereka tidak dapat dikenyangkan oleh air dari 12 mata air di Elim. Tidak peduli berapa banyaknya air yang kita minum, rasa lapar kita masih tetap. Di satu pihak, dahaga kita perlu dipuaskan, namun di pihak lain, rasa lapar kita perlu juga dikenyangkan. Dua belas mata air tersebut hanya dapat memuaskan dahaga kita, tetapi tidak dapat mengenyangkan kelaparan kita.

Pengalaman orang Kristen mempunyai aspek yang berbeda-beda. Tetapi banyak orang Kristen yang mengira bahwa hanya ada 1 aspek, yaitu aspek baptisan Roh Kudus. Menurut mereka, pengalaman baptisan meliputi dan memenuhi setiap kebutuhan orang yang percaya. Tetapi menurut gambaran dalam Kitab Keluaran, pengalaman semacam ini tidak dapat meliputi segala sesuatu. Ya, di Elim terdapat 12 mata air, tetapi tidak terdapat makanan. Karena alasan inilah, maka bangsa itu masih lapar. Di dalam mereka kekurangan suplai hayat. Kekurangan suplai hayat ini menyebabkan daging mereka tersingkap. Bila kita kekurangan suplai hayat, daging kita tidak mungkin tersembunyi. Jika Anda memeriksa pengalaman Anda, Anda akan nampak bahwa pada hari setelah Anda memperoleh pengalaman yang menyenangkan di Elim, di dalam Anda ada perasaan tidak puas. Ketidakpuasan ini timbul karena kekurangan suplai hayat surgawi, yaitu kekurangan Kristus sebagai manna surgawi. Dalam pengalaman Anda, Anda belum makan Kristus sebagai suplai hayat Anda.

Setiap orang yang percaya mempunyai problem dengan daging dan nafsu daging. Apakah Anda tahu kapan daging ditanggulangi? Daging ditanggulangi hanya bila Kristus benar-benar menjadi suplai hayat kita sehari-hari. Ketika Kristus memenuhi dan mengenyangkan kita, rasa kenyang ini akan menyebabkan daging kita dimatikan. Pada prinsipnya, inilah pengalaman dari setiap orang yang percaya. Setelah kita menikmati Tuhan di Elim, kita mendapati bahwa kita mempunyai problem dengan daging dan nafsu daging. Problem ini disebabkan oleh rasa lapar. Di dalam kita, kita kurang makan. Rasa lapar kita belum dikenyangkan. Dalam pengalaman kekristenan kita, kita belum sampai pada taraf setiap hari mengalami Kristus sebagai suplai hayat kita untuk memenuhi dan mengenyangkan kita. Tetapi bila setiap hari kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat surgawi kita, kita akan dikenyangkan sepenuhnya. Pada waktu itu daging kita akan ditaklukkan, dan nafsu kita akan ditanggulangi. Tetapi daging dan nafsunya itu tidak dapat ditanggulangi sekali untuk selamanya. Bila kita kurang makan dan kekurangan Kristus, kita akan menjadi lapar lagi. Ini menyebabkan daging dan nafsu itu muncul dan aktif kembali.

Daging kita akan tetap ada, sampai kita berada dalam kebangkitan dan memiliki tubuh yang dimuliakan. Meskipun telah bertahun-tahun saya berada di dalam Tuhan, saya harus mengakui bahwa daging masih tetap bersama saya. Jika saya tidak dipenuhi oleh Kristus dan dikenyangkan oleh-Nya, daging saya akan masih tetap aktif. Jangan mengira bahwa seseorang yang telah bertahun-tahun berada di dalam Tuhan, akan mencapai titik di mana ia tidak terganggu lagi oleh daging. Meskipun mungkin daging itu telah berkali-kali ditanggulangi, bahkan beratus-ratus kali, daging itu masih tetap bersama kita. Namun, setiap kali kita dikenyangkan oleh Kristus sebagai suplai hayat surgawi, daging dan nafsu kita itu akan ditaklukkan. Namun, bila kita kekurangan Kristus sebagai makanan kita, daging kita akan tersingkap lagi. Beban saya dalam berita ini, hanya ingin membuat hal ini jelas bagi semua orang beriman.

Jika kita nampak bahwa daging kita selalu tersingkap ketika kita kekurangan Kristus sebagai suplai hayat kita sehari-hari, kita akan diterangi dalam pengalaman kita bersama Tuhan. Mungkin Anda akan bertanya mengapa setelah Anda mempunyai pengalaman yang menyenangkan di dalam Tuhan, Anda mendapati bahwa daging Anda masih sama dengan sebelumnya. Sekarang kita sadar bahwa kita memerlukan baik manna surgawi maupun 12 mata air di Elim. Seandainya rasul Paulus masih hidup, ia pun perlu dikenyangkan oleh Kristus sebagai suplai hayatnya sehari-hari, sebab ia masih terganggu oleh daging. Meskipun kita perlu mengalami 12 mata air di Elim, rasa lapar kita pun perlu dikenyangkan oleh Kristus sebagai manna surgawi. Hari demi hari, kita perlu mengalami Kristus sebagai suplai hayat kita.

Yang paling banyak membantu kita dalam kehidupan sehari-hari kita bersama Tuhan bukanlah minum air dari 12 mata air di Elim, melainkan makan Kristus sebagai manna surgawi. Pengalaman di Elim datangnya secara tidak berkesinambungan (kadang-kadang). Seperti yang ditunjukkan dalam catatan, pengalaman ini bukan pengalaman orang-orang Israel secara berkesinambungan. Tetapi selama 40 tahun bangsa itu setiap hari makan manna. Kecuali hari Sabat, setiap pagi mereka harus mengumpulkan manna. Ini jelas menunjukkan bahwa pengalaman atas manna adalah setiap hari dan berkesinambungan. Jika kita memiliki pengalaman yang cukup atas makan Kristus setiap hari sebagai manna surgawi kita, maka daging dan nafsu kita akan ditanggulangi. Tetapi bila kita kekurangan manna, daging dan nafsu kita itu akan muncul kembali. Inilah alasannya mengapa pengalaman yang positif di Elim dalam Keluaran 15:27 diikuti dengan pengalaman negatif yang dicatat dalam Keluaran 16.

Pengalaman negatif dalam Keluaran 16, diulangi dalam Bilangan 11. Saya telah menunjukkan bahwa ketika bangsa itu bersungut-sungut di Mara, Tuhan tidak marah kepada mereka. Ketika mereka mengeluh kepada Musa dan Harun di padang gurun antara Elim dan Gunung Sinai, Tuhan merasa agak tidak senang. Tetapi dalam Bilangan 11 “Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan” (ayat 1). Ketika bangsa itu mengeluh, Musa tidak perlu mengatakan sepatah kata pun. Dalam kemarahan-Nya, Tuhan datang sebagai api yang menyala. Ayat 2 mengatakan, “Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu” Selanjutnya ayat 3 mengatakan bahwa tempat itu disebut Tabera, “karena telah menyala api TUHAN di antara mereka”.

Kita perlu nampak bahwa pengalaman negatif ini berhubungan dengan pengalaman atas manna. Sekali lagi kita nampak bahwa bila kita kekurangan Kristus sebagai suplai hayat kita, daging kita akan tersingkap. Nafsu timbul karena kita kurang makan. Janganlah Anda percaya pada pengalaman Anda yang lampau bersama Tuhan. Jangan mengira bahwa karena Anda telah berada di dalam Tuhan sedemikian lamanya, Anda tidak akan terganggu lagi oleh daging. Saya bisa bersaksi bahwa meskipun saya adalah orang tua dan telah berada di dalam Tuhan selama bertahun-tahun, sekarang ini saya masih memerlukan Tuhan sebagai suplai hayat saya. Ingatlah, bahwa manna diturunkan dan harus di-kumpulkan setiap pagi hari. Ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat menimbun suplai dari Kristus. Kristus yang kita alami kemarin, tidak akan cukup untuk hari ini. Jika Anda mencoba untuk menyimpan manna yang kemarin, Anda akan mendapati bahwa manna itu tidak akan memelihara atau mengenyangkan Anda. Sebaliknya, manna itu akan berulat dan berbau busuk (Kel. 16:20).

Semoga kita terkesan oleh perlunya setiap hari mengalami Kristus sebagai suplai hayat kita. Kita perlu nampak bahwa kekurangan suplai surgawi dari Kristuslah yang menyebabkan daging kita tersingkap. Tidak peduli betapa pun menyenangkannya pengalaman yang telah kita peroleh di dalam Roh, kita masih perlu setiap hari makan Kristus sebagai manna surgawi kita. Jika kita kurang makan, daging kita akan timbul dan nafsu kita akan mengganggu serta menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Hari demi hari, kita perlu dipenuhi oleh Kristus sebagai manna surgawi, dan kita perlu dikenyangkan oleh-Nya.

II. ALLAH MENANGGULANGI

DAGING UMAT-NYA

A. MENDENGAR SUNGUT-SUNGUT MEREKA

DAN MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA KEPADA MEREKA

Mari kita melihat bagaimana Tuhan datang untuk menanggulangi daging umat-Nya (16:4-30). Ia menanggulangi daging mereka melalui menampakkan kemuliaan-Nya kepada mereka (16:7, 10). Menurut pengertian yang doktrinal dari kebanyakan orang Kristen, seseorang yang bersifat daging tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan. Akan tetapi, Tuhan tidak menampakkan kemuliaan-Nya kepada umat-Nya ketika mereka berada di Elim. Justru Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya kepada mereka, ketika mereka bersungut-sungut di padang gurun Sin.

Perhatikan masalah tampilnya kemuliaan Tuhan ini dari sudut pengalaman Anda. Ketika Anda memiliki pengalaman yang menyenangkan dan menakjubkan di Elim, apakah Anda merasakan kemuliaan Tuhan, atau apakah Anda hanya terpesona pada kegembiraan Anda? Tetapi ketika Anda sedang bersungut-sungut dan menggerutu, tidakkah kemuliaan Tuhan tertampak kepada Anda? Saya bisa bersaksi bahwa berkali-kali kemuliaan Tuhan tertampak kepada saya ketika saya bersungut-sungut, dan penampakan ini menyebabkan saya takut. Di Elim terdapat banyak sekali kegembiraan, tetapi sedikit sekali penampakan yang pasti kemuliaan Tuhan. Namun, ketika kita bersungut-sungut kepada Tuhan, pada waktu itulah kemuliaan Tuhan sering tertampak oleh kita.

Selama orang-orang Israel mengikuti Tuhan di padang gurun dan mencari-Nya, daging dan nafsu mereka masih aktif. Telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa penyebab dari semuanya ini karena mereka kurang makan. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan karena mereka kekurangan suplai hayat yang memadai. Tatkala mereka bersungut-sungut, kemuliaan Allah tertampak oleh mereka. Pada prinsipnya, kita mengalami hal yang sama. Selama kita mengikuti Tuhan dan mencari-Nya, kadang-kadang sikap kita menjadi negatif, dan kita mulai mengeluh serta bersungut-sungut kepada gereja atau kepada orang yang memimpin dalam gereja. Sering kali ketika kita sedang menggerutu, kita nampak kemuliaan Tuhan. Tampilnya kemuliaan Tuhan pada waktu-waktu demikian ini sangat menakutkan. Saat-saat yang paling menakutkan, yaitu ketika Tuhan menam-pakkan diri kepada saya di tengah-tengah sungut-sungut dan gerutuan saya. Saya menggerutu, sebab saya kekurangan Kristus sebagai makanan saya.

Dalam sungut-sungut mereka kepada Tuhan, orang-orang Israel berkata, “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan” (16:3). Dalam gerutuan kita, mungkin kita akan berkata seperti ini, “Mengapa kita masuk ke dalam pemulihan Tuhan? Bagaimana caranya maju di dalam pemulihan ini? Andaikan kita mati dalam denominasi!” Sering di tengah-tengah gerutuan kita yang demikian ini kemuliaan Tuhan tertampak, dan kita merasa takut.

Dalam Keluaran 16, berkali-kali dikatakan bahwa Tuhan mendengar sungut-sungut bangsa itu (ayat 7b, 8b, 9b). Menurut ayat 12, Tuhan berkata kepada Musa “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel.” Ketahuilah dengan pasti, Tuhan mendengar sungut-sungut Anda. Tidak hanya demikian, ketika Anda menggerutu, Ia melihat Anda; Ia memperhatikan segala sesuatu yang terjadi.

Dalam 16:7 Tuhan berkata bahwa keesokan harinya bangsa itu akan melihat kemuliaan-Nya. Ayat 10 mengatakan, “Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan”. Ketika kemuliaan Tuhan tertampak pada bangsa itu, kemuliaan itu menyebabkan mereka berhenti bersungut-sungut. Pada prinsipnya, kita mengalami hal yang sama. Selama menuntut Tuhan, pada waktu-waktu tertentu jika kita kurang makan, sikap kita akan menjadi negatif. Kurangnya Kristus sebagai suplai hayat ini menyebabkan kita bersungut-sungut dan menggerutu. Pada saat-saat demikian, kita nampak kemuliaan Tuhan dalam batin dan kita penuh dengan ketakutan. Seperti orang-orang Israel, sering kita fasih dalam bersungut-sungut dan menggerutu, jauh lebih fasih daripada ketika kita bersaksi bagi Tuhan di dalam sidang. Tetapi kemuliaan Tuhan tertampak untuk menghentikan sungut-sungut dan gerutu kita.

Apakah yang akan Anda katakan, kemuliaan Tuhan tertampak untuk menolong bangsa itu, ataukah untuk menghukum mereka? Jawabannya adalah: Kemuliaan Allah tertampak untuk menolong bangsa itu dengan jalan menghukum mereka. Pengertian ini dapat pula diperkuat oleh pengalaman kita. Sering Tuhan datang untuk menolong kita dengan jalan menghukum kita. Bila kita kurang makan dan sikap kita menjadi negatif, mungkin kita akan merasa takut bahwa Tuhan akan datang untuk membunuh kita. Meskipun mungkin kita bersungut-sungut kepada Tuhan, tetapi kita juga tidak berhenti menuntut-Nya. Dalam prinsip yang sama, mungkin kita mengeluh tentang gereja atau tentang para penatua; tetapi kita tidak mau melepaskan hidup gereja atau meninggalkan pemulihan Tuhan. Beberapa kali kaum saleh datang kepada saya dengan disertai keluhan-keluhan tentang gereja. Ketika saya bertanya kepada mereka mengapa mereka tidak meninggalkan gereja dan pergi ke tempat lain, mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat menemukan tempat yang lebih baik. Namun, ketika saya menganjuri mereka supaya mereka berhenti mengeluh dan hanya puas dengan hidup gereja, mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan hal itu juga. Di satu pihak, mereka tidak puas akan hidup gereja, tetapi di pihak lain, mereka tidak mau melepaskannya. Sering mereka yang mengeluh tentang gereja secara demikian ini, mempunyai perasaan batiniah yang dalam terhadap tampilnya kemuliaan Tuhan dan merasa takut bahwa mungkin Dia akan membunuh mereka. Inilah tampilnya kemuliaan Tuhan untuk menolong kita dengan jalan menghukum kita.

B. MENGIRIM BURUNG PUYUH KEPADA MEREKA

Setelah kemuliaan Tuhan tertampak pada bangsa itu, Ia mengirimkan daging yang mereka inginkan. Ia mengirim burung puyuh (16:13; Bil. 11:31) untuk memuaskan nafsu mereka dalam hal makan (16:12; Bil. 11:18, 32), menyatakan kelimpahan-Nya dan mendisiplin mereka dengan murka-Nya (Bil. 11:19-20, 33-34).

Dalam Keluaran 16, Tuhan tidak menanggulangi bangsa itu dengan hebat. Tetapi ketika mereka bersungut-sungut dan menggerutu lagi dalam Bilangan 11, Tuhan berkata kepada Musa, “Bukan hanya satu hari kamu memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan sepuluh hari, bukan dua puluh hari, tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari hidungmu dan sampai kamu muak karena kamu menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?” (ayat 19-20). Menurut ayat 33, “TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.” Kemudian Ia menamai tempat itu Kibrot Taawa, yang artinya ialah kuburan hawa nafsu (ayat 34).

Banyak orang Kristen yang telah mengalami perkara demikian dalam hal rohani. Tuhan memuaskan nafsu mereka dengan memberikan apa yang mereka inginkan. Kemudian secara rohani Ia datang memukul mereka, dan mereka menderita kematian rohani. Semakin orang-orang ini menikmati burung-burung puyuh itu, semakinlah mereka dipukul. Dalam jangka waktu yang lama, mungkin selama bertahun-tahun, secara rohani mereka tetap mati.

Hanya setelah cukup banyak perkara yang menimpa orang-orang Israel, barulah Tuhan mengirimkan manna kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa manna tidak diberikan dalam cara yang sederhana. Akan tetapi, banyak orang Kristen yang berpegang pada konsepsi yang keliru, yaitu konsepsi bahwa manna datang dengan mudah. Sebenarnya, kita dapat menikmati manna hanya bila syarat-syarat tertentu dipenuhi. Inilah alasannya, mengapa hanya satu ayat dipakai untuk mengisahkan pengalaman di Elim, tetapi dua pasal mencakup pengalaman atas manna.

Pengalaman atas Kristus sebagai manna surgawi tidaklah sesederhana seperti yang disangka oleh kebanyakan orang Kristen. Orang-orang Israel tidak menikmati manna segera sesudah mereka menyeberangi Laut Merah. Sebaliknya, mereka harus memiliki pengalaman di Mara dan di Elim. Kemudian apabila daging mereka tersingkap, mereka dihukum oleh Tuhan; setelah itu datanglah manna itu. Hal ini sama dengan pengalaman kita bersama Tuhan. Kristus sebagai manna surgawi datang kepada kita secara demikian.

Banyak orang beriman yang pagi-pagi benar melewatkan waktu mereka bersama Tuhan. Tetapi kadang-kadang tidak ada manna yang mereka kumpulkan. Penyebab dari kekurangan manna tersebut ialah bahwa syarat-syarat bagi pemberian manna itu tidak dipenuhi. Keluaran 16 dan Bilangan 11 mewahyukan bahwa manna diberikan hanya apabila beberapa syarat telah dipenuhi. Ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan kekristenan kita, kita perlu mencapai titik-titik tertentu sebelum manna dapat dikirim kepada kita. Ini merupakan prinsip utama. Manna diberikan hanya setelah daging tersingkap karena kekurangan suplai hayat batiniah. Manna diberikan apabila kita menyadari keperluan kita atas beberapa hal yang melebihi 12 mata air di Elim. Kita memerlukan manna, kita memerlukan Kristus sebagai suplai hayat surgawi kita.

Ketika orang-orang Israel bersungut-sungut di Mara dan Tuhan menunjukkan kepada Musa sebatang kayu penyembuh, Tuhan tidak menanggulangi bangsa itu. Sebaliknya, kayu itu dilemparkan ke dalam air, lalu air pahit itu menjadi manis. Tetapi dalam Keluaran 16, Tuhan memerintah Musa supaya ia mengatakan kepada bangsa itu bahwa Ia mendengar sungut-sungut mereka dan Ia akan menampakkan kemuliaan-Nya kepada mereka. Tuhan agak tidak senang terhadap mereka, dan Ia menghukum mereka. Setelah penghukuman ini dilaksanakan, barulah manna diberikan.

III. CARA MANNA DIKIRIMKAN

A. PADA PAGI HARI

Marilah kita memperhatikan cara manna dikirimkan (16:13-14; Bil. 11:9). Manna selalu dikirimkan pada pagi hari. Bagaimanapun, ini berarti burung-burung puyuh yang memuaskan nafsu bangsa itu datang pada malam hari. Manna datang untuk menyegarkan kita pada permulaan hari. Karena manna diberikan pada pagi hari, manna ini akan menyebabkan kita mempunyai suatu permulaan yang baru.

B. BERSAMA EMBUN

Yang kedua, manna datang bersama embun. Bilangan 11:9 mengatakan, “Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.” Dalam Keluaran 15 dan 16, kita melihat tiga macam air: air di Mara, 12 mata air di Elim, dan embun di padang gurun. Kita perlu mengalami ketiga macam air ini. Kita memerlukan air yang telah diubah dari pahit menjadi manis, kita memerlukan air yang mengalir dari mata air di Elim, dan kita memerlukan air yang datang sebagai embun. Sebenarnya, saya lebih menghargai embun daripada air yang mengalir dari mata air-mata air tersebut.

Ada orang mendengar tentang hal ini, mungkin mereka akan mengingatkan saya bahwa tidak akan ada embun di Yerusalem Baru, yang ada hanyalah mengalirnya sungai air hayat (Why. 22:1). Di Yerusalem Baru tidak ada embun, karena embun datang pada malam hari yang sejuk, sedangkan di Yerusalem Baru tidak akan ada malam. Sebagaimana telah saya tunjukkan bahwa dalam pengalaman kita bersama Tuhan sekarang ini, kita memiliki siang dan malam. Setelah malam berlalu, kita memerlukan embun, yaitu Tuhan sendiri, untuk mendiris kita dengan lembut. Karena kita masih harus melewati banyak malam dan situasi yang penuh dengan kegelapan, kita memerlukan embun yang menyegarkan untuk mendiris kita. Pagi demi pagi, karunia Tuhan turun ke atas kita sebagai embun yang segar.

Jika kita menikmati manna sewaktu kita bersama Tuhan pada pagi hari, kita pasti mengalami-Nya sebagai embun. Manna tidak datang sendirian, tetapi selalu bersama embun. Memang, embun datang lebih dulu dan bertindak sebagai dasar turunnya manna. Manna tidak datang bersama air yang telah diubah dari pahit menjadi manis, maupun bersama air yang mengalir dari 12 mata air di Elim. Manna datang bersama embun. Bila kita memiliki embun, kita juga memiliki karunia Tuhan yang mendiris dan menyegarkan, dan kita juga menerima-Nya sebagai suplai hayat surgawi.

Janganlah Anda menerima berita tentang embun ini sebagai doktrin, tetapi terimalah sebagai berita yang sesuai dengan pengalaman Anda. Bahkan orang-orang yang lebih muda di antara kita pun dapat bersaksi bahwa berita demikian ini sesuai dengan pengalaman mereka. Di Elim kita mengalami air yang mengalir dari 12 mata air, tetapi kita tidak mengalami embun. Segera setelah kita meninggalkan Elim, di dalam kita terasa kering. Ini menunjukkan bahwa kita perlu mengalami embun pagi, yaitu embun yang menjadi dasar bagi pemberian manna.

C. DI SEKITAR PERKEMAHAN

Bilangan 11:9 juga menunjukkan bahwa manna turun di sekitar perkemahan. Perkemahan itu menunjukkan pengaturan umat Allah sebagai suatu bala tentara. Ini menunjukkan bahwa perawatan manna adalah untuk umat Allah agar menjadi suatu bala tentara, untuk berperang bagi kepentingan Allah di bumi.

Dalam berita yang akan datang, kita akan lebih banyak mengatakan tentang manna. Butir yang penting dalam berita ini, ialah bahwa setelah kita memperoleh pengalaman yang menakjubkan dan menyenangkan di Elim, kita mendapati bahwa daging masih ada bersama kita. Tersingkapnya daging merupakan akibat dari kurang makan. Ini menunjukkan bahwa hari demi hari, rasa lapar kita perlu dikenyangkan dengan jalan dipenuhi oleh Kristus. Kapankala kita tidak dipenuhi oleh-Nya, daging kita dan nafsu kita akan timbul kembali.

?