← Daftar isi Keluaran (2) · bab 7/16

PASKAH (1)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 12:1-10, 13, 23, 46b; 13:4;

Luk. 22:7-8, 14-15; Yoh. 19:33, 36; 1Kor. 5:7

Wahyu Allah dalam Alkitab selalu disajikan secara riil, bukan secara pemahaman doktrinal. Karena wahyu ilahi datangnya secara riil, dengan sendirinya dia itu selalu hidup. Namun, jika disajikan secara doktrinal, akibatnya adalah maut. Khususnya hari raya Paskah, bukan disajikan sebagai doktrin, melainkan bertalian dengan keperluan riil. Paskah yang digambarkan dalam Keluaran 12 adalah lambang penebusan Kristus yang jelas, memadai, dan bahkan almuhit. Dalam Alkitab tidak ada tempat lain yang memperlihatkan penebusan Kristus yang selengkap ini.

I. LAMBANG KRISTUS

Semua orang Kristen mengetahui bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah yang merampungkan penebusan bagi kita (Yoh. 1:29). Akan tetapi, tidaklah banyak yang nampak gambaran jelas akan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang melaksanakan penebusan. Gambar ini justru diperlihatkan dalam Keluaran 12.

Mungkin ada beberapa perincian dalam gambar ini yang tidak Anda pahami maknanya. Contohnya, mengapa darah dibubuhkan pada ambang atas dan kedua tiang pintu (12:22) bukannya di atas atap rumah? Mengapa Allah menyuruh bangsa Israel memakai seikat hisop untuk memercikkan darah ke ambang pintu dan tiang-tiang pintu? Apa sebabnya makan sayur pahit dibarengi dengan daging anak domba? Kita menjumpai pertanyaan bertubi-tubi, dan sedikit sekali orang Kristen yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

Kita semua perlu melihat gambar yang jelas tentang penebusan Kristus. Meskipun Perjanjian Baru mewahyukan berbagai aspek penebusan, namun aspek-aspek itu tidak disusun secara doktrinal. Yohanes 1:29 mengatakan bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah, dan dalam 1Korintus 5:7 Paulus mengatakan Kristus adalah Paskah. Di sana sini dalam Perjanjian Baru kita menjumpai aspek-aspek penebusan Kristus. Tetapi dalam Keluaran 12, kita memiliki satu gambar yang lengkap. Kita perlu memperhatikan gambar ini dengan cermat; kemudian untuk menerjemahkannya dengan tepat kita perlu memeriksa bagian-bagian lain dalam firman Tuhan, khususnya Perjanjian Baru.

Paskah adalah sebuah lambang Kristus. Dalam 1Korintus 5:7 Paulus berkata, “Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih”(Tl.). Di sini Paulus tidak menyebut Kristus sebagai anak domba kita; dia mengatakan Kristus adalah Paskah kita. Bagaimanakah Paskah dapat dijadikan kurban persembahan? Jawabnya ialah Kristus bukan sekadar Anak Domba Paskah, tetapi juga merupakan setiap aspek Paskah. Anak domba, roti, dan sayur pahit semuanya berhubungan dengan Kristus. Maka pada prinsipnya, Kristus bukan melulu Anak Domba Paskah, melainkan juga Paskah itu sendiri.

Kata “Paskah” berarti “penghakiman Allah melewatkan kita”. Dalam Keluaran 12:13 Tuhan berkata, “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu.” Akhirnya, paskah menjadi sebuah kata benda yang lazim dalam bahasa Inggris. Kata benda paskah berasal dari kata “lewat” dalam Keluaran 12:13.

Tetapi mengapa Kristus disebut Paskah kita? Menurut Keluaran 12, Allah melampaui orang Israel karena darah anak domba Paskah telah dipercikkan pada ambang pintu dan kedua tiang pintu rumah mereka. Orang Israel telah diperintahkan agar makan daging anak domba di dalam rumah mereka masing-masing. Ini menerangkan bahwa rumah menjadi penudung mereka agar mereka dapat makan daging anak domba Paskah. Rumah yang menudungi mereka, ambang pintu dan kedua tiang pintunya diperciki darah. Ketika Allah melihat darah, lewatlah Ia dari orang-orang Israel. Jadi, hal “lewat” ini tergantung kepada darah yang telah dipercikkan.

Namun karena Paulus, kita nampak bahwa Paskah bukan hanya berkaitan dengan darah, tetapi juga dengan Kristus itu sendiri. Hari ini kita berada di bawah darah atau di dalam Kristus? Secara tegas, mengatakan bahwa kita berada di bawah darah tidaklah alkitabiah. Ungkapan ini tidak terdapat dalam Perjanjian Baru. Malahan Perjanjian Baru berkali-kali menegaskan bahwa kita berada di dalam Kristus. Berhubung kita berada di dalam Kristus, Dia sendiri menjadi Paskah kita. Ini berarti sebelum Kristus menjadi Paskah kita, Dia harus terlebih dahulu menjadi penudung kita. Penudung kita hari ini bukanlah darah, melainkan Kristus. Dalam Keluaran 12, Paskah didasari oleh darah. Tetapi Paskah kita hari ini didasari oleh Kristus. Inilah alasannya Paulus menyebut Kristus sebagai Paskah kita.

Jika Anda diminta untuk mendata butir-butir Paskah dalam Keluaran 12, mungkin Anda akan menyebutkan anak domba, daging, darah, roti yang tak beragi, dan sayur pahit. Tetapi mungkin sekali Anda tidak menyebutkan rumah. Rumah dalam Keluaran 12 merupakan lambang Kristus. Di akhir Kejadian 3, kita nampak Allah mengenakan kulit binatang pada Adam dan Hawa (ayat 21). Dalam Kitab Kejadian 4, Habel “mempersembahkan kurban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya,” kepada Tuhan (ayat 4). Melalui kurban persembahan ini Habel diperkenankan Allah. Kemudian kita membaca bahwa Nuh diperintah untuk membangun sebuah bahtera yang dapat dianggap sebagai rumah terapung. Bahtera ini merupakan sebuah lambang Kristus yang ke dalamnya kita telah ditempatkan oleh Allah. Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera dan di dalamnya mereka diselamatkan dari air bah. Hal-hal ini menunjukkan bahwa wahyu dalam Alkitab selalu maju. Dalam Kejadian 3:21 kita mempunyai jubah kulit binatang; dalam Kejadian 4:4 ada kurban persembahan anak sulung; dan dalam Kejadian 6 dan 7 ada bahtera yang dibuat oleh Nuh.

Dalam kehidupan Abraham, Ishak, dan Yakub, kita tidak memiliki catatan yang jelas mengenai penebusan. Karenanya, kita harus meneropong pengalaman bani Israel yang tercantum dalam Keluaran 12. Di sinilah terdapat perkembangan penuh dari penebusan Allah yang pertama-tama dicatat dalam Kejadian 3. Dalam Kejadian 3, kita menjumpai kulit binatang, dalam Kejadian 6, kita menjumpai bahtera. Sekarang dalam Keluaran 12, terbentang di hadapan kita perkembangan penuh dari penebusan Allah. Di sini bahtera menjadi rumah, sebuah lambang Kristus, yang di dalamnya dan olehnya bani Israel terlindung. Inilah sebabnya dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menerangkan bahwa kita berada di bawah penudungan darah Kristus. Namun banyak ayat, khususnya dalam surat-surat kiriman rasul yang memperlihatkan bahwa kita berada di dalam Kristus. Menurut Galatia 3, Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus, dan kini kita berada di dalam Kristus. Karena Kristus adalah rumah yang menaungi kita, maka Dialah Paskah kita. Dia bukan hanya anak domba, roti yang tak beragi, dan sayur pahit, Dia pun rumah yang ambang atas dan kedua tiang pintunya telah diperciki darah penebusan.

II. WAKTU PASKAH

Waktu Paskah ada hubungannya dengan tanggal dan bulan tertentu. Orang Ibrani mempunyai dua kalender, yakni kalender kudus dan kalender sipil (umum). Penanggalan sipil itu adalah yang umum, sedangkan penanggalan kudus berhubungan dengan pengalaman atas penyelamatan Allah. Kita yang percaya kepada Kristus mempunyai dua macam kalender, yaitu yang umum dan yang kudus. Orang yang tidak memiliki umur menurut penanggalan kudus seperti halnya dia memiliki umur menurut penanggalan umum, bukanlah orang beriman yang sejati dan tidak dapat ikut menikmati Kristus sebagai Paskah. Sebagai kaum tebusan Allah, kita memiliki dua kali kelahiran, dua permulaan: kelahiran fisik dengan permulaan fisik dan kelahiran rohani dengan permulaan rohani. Saya bisa bersaksi bahwa saya telah memiliki permulaan yang kedua, permulaan dalam hayat ilahi. Di saat kita percaya Tuhan Yesus, umur kita menurut penanggalan kudus telah dimulai. Hari itulah kita memiliki kelahiran baru dan permulaan baru.

A. BULANNYA

Keluaran 12:2 membicarakan bulannya Paskah, “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.” Ayat ini menerangkan bahwa Paskah diselenggarakan pada bulan pertama dalam tahun yang kudus. Tadinya bulan ini adalah bulan ketujuh dari tahun sipil yang umum. Menurut Kejadian 8:4, bahtera Nuh terkandas di Bukit Ararat pada hari ketujuh belas bulan yang ketujuh. Banyak pengajar Alkitab yakin bahwa bulan ketujuh ini adalah bulan pertama dalam Keluaran 12. Paskah diadakan pada hari keempat belas bulan ini. Berarti itu diselenggarakan tiga hari sebelum hari yang menandakan hari terkandasnya bahtera di Bukit Ararat. Terkandasnya bahtera ini merupakan lambang kebangkitan Kristus. Kristus dibunuh pada hari keempat belas, dan Dia dibangkitkan pada hari ketujuh belas.

Keluaran 13:4 mengatakan, “Hari ini kamu keluar, dalam bulan Abib.” Kata abib berarti bersemi, berkuncup, bertunas, dan menghijau. Ini mengacu kepada bulir gandum yang hijau. Setelah tertawan ke Babilon, bulan ini disebut Nisan (Neh. 2:1; Est. 3:7). Bersemi dan berkuncup berarti permulaan kekuatan hayat. Pengalaman kita telah menguatkan hal ini. Kali pertama kita menyeru nama Tuhan, percaya, dan diselamatkan, hayat segera berkuncup dan bersemi dari dalam kita. Orang yang belum mengalami ini bukanlah orang beriman yang sejati. Kita semua dapat bersaksi bahwa setelah kita percaya di dalam Tuhan Yesus, segera sesuatu mulai berkuncup dan bersemi dari dalam kita. Akhirnya, semi ini menghasilkan bulir gandum yang hijau dan lunak, hasil dari hayat batini. Ini membuktikan bahwa hayat ilahi di dalam kita bersifat produktif. Hayat yang berkuncup, bersemi, dan mengeluarkan hasil. Ini dimulai sejak hari kita diselamatkan dan masih tetap berlangsung terus sampai hari ini.

B. TANGGALNYA

Menurut 12:3, dalam hari kesepuluh bulan itu, bani Israel mengambil “masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga”, dan mempersiapkannya untuk jangka waktu empat hari. Kemudian pada hari keempat belas bulan itu, hari perayaan Paskah, anak domba itu dibunuh (ayat 6); Tuhan Yesus dibunuh pada hari yang sama pada bulan itu (Luk. 22:7-8, 14-15; Yoh. 18:28).

Empat belas hari adalah dua minggu. Dalam Alkitab, seminggu berarti satu hayat, dan akhir minggu berarti akhir hayat. Orang-orang Advent Hari Ketujuh memegang hari ketujuh, akhir pekan. Namun, kita menikmati hari kedelapan, hari pertama dalam satu minggu, permulaan minggu yang baru, permulaan baru dalam kebangkitan (Yoh. 20:1). Fakta bahwa Paskah diadakan pada hari keempat belas bulan itu berarti diadakan pada akhir dua pekan. Ini menandakan Paskah mengakhiri penempuhan hayat usang. Ini berarti kematian Kristus menamatkan seluruh sejarah hayat usang kita.

Telah kita tunjukkan bahwa bani Israel mengambil anak domba pada hari kesepuluh bulan itu. Setelah anak domba dipilih, lalu diperiksa empat hari lamanya untuk mengetahui apakah cacat atau tidak. Jika Anda dengan teliti membaca keempat kitab Injil, niscaya Anda menemukan bahwa Tuhan Yesus pun telah melalui pengujian (pemeriksaan) selama empat hari. Sama seperti anak domba dalam Keluaran 12, Dia harus tanpa cela. Selama empat hari itu, Tuhan Yesus diuji oleh jemaah Israel, yang diwakili oleh para imam, tua-tua, ahli Taurat, dan orang-orang Farisi. Puji Tuhan, Dia telah lulus dalam ujian itu dan didapati tanpa cacat cela! Sebab itulah, pada akhir hari-hari itu, ketika Paskah tiba, Dia ditaruh dalam kematian (dimatikan).

Tuhan Yesus ditangkap pada hari pertama pesta perayaan roti tidak beragi. Hari ini pun merupakan hari Paskah. Hari raya Paskah terjadi pada hari pertama hari raya roti tidak beragi, yang berlangsung seluruhnya tujuh hari. Ini berarti, ketika hari raya Paskah dimulai, hari raya roti tidak beragi pun dimulai. Akan tetapi, hari raya Paskah berlangsung satu hari saja, sedangkan hari raya roti tidak beragi berlangsung terus selama enam hari lagi. Inilah sebabnya hari raya Paskah dapat juga disebut hari raya roti tidak beragi. Lukas 22:7 mengatakan, “Kemudian tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari ketika orang harus menyembelih domba Paskah.” Tuhan Yesus ditangkap pada malam menjelang hari raya Paskah. (Penanggalan orang Yahudi menghitung dari malam sampai siang, bukan dari siang sampai malam, seperti halnya Kejadian 1). Kemudian Kristus disalibkan tepat pada hari Paskah. Jadi, kematian-Nya benar-benar sebagai penggenapan lambang itu. Selanjutnya, seperti yang telah kita tunjukkan, Dia dibangkitkan pada hari ketujuh belas bulan itu. Penggenapan lambang ini sesuai dengan kandasnya bahtera di Gunung Ararat pada hari ketujuh belas pada bulan yang sama.

III. ANAK DOMBA PASKAH

A. UNTUK SATUAN SATU KELUARGA

Dalam Keluaran 12:3, bani Israel diperintahkan untuk mengambil “masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga”. Butir penting di sini ialah anak domba Paskah bukanlah untuk setiap individu, melainkan untuk setiap rumah. Satuan penyelamatan Allah bukanlah perorangan atau individu; melainkan rumah atau keluarga. Contohnya, dalam Yosua 2 dan 6, Rahab diselamatkan beserta seluruh keluarga ayahnya. Dalam Lukas 19, Tuhan Yesus berkata kepada Zakheus si pemungut cukai, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini” (ayat 9). Menurut Kisah Para Rasul 11:4, janji yang diberikan kepada Kornelius menyatakan bahwa dia dan seisi rumahnya akan diselamatkan (ayat 14). Selain itu, ketika sipir penjara bertanya apa yang harus dilakukan agar dia beroleh selamat, Paulus dan Silas memberi jawaban, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31). Semua ini memperlihatkan bahwa satuan penyelamatan Allah adalah keluarga, bukan perorangan.

Keluaran 12:4 adalah ayat yang sulit dipahami. “Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang”. Ukuran keluarga itu berbeda-beda; jikalau keluarga seseorang terlalu kecil untuk seekor anak domba, maka dia dan tetangganya haruslah mengambil seekor anak domba bersama-sama menurut jumlah jiwa. Ayat 4 menerangkan bahwa anak domba disesuaikan dengan jumlah jiwa maupun takaran makanan tiap orang. Anak dombanya tetap, namun ukuran keluarga yang berbeda-beda. Seekor anak domba tak boleh terlalu kecil bagi sebuah keluarga, sebaliknya satu keluarga ada kemungkinan terlalu kecil bagi seekor anak domba.

Dalam ayat 4 ini kelihatannya tulisan Musa agak ganjil. Sebenarnya ia menuliskan dengan penuh makna. Kalau ingin memahami ayat ini, kita harus memperhatikan tiga hal: satu keluarga mungkin terlalu kecil bagi seekor anak domba dan perlu bergabung dengan keluarga lain; anak domba diambil menurut jumlah jiwa; dan seekor anak domba dihitung menurut ukuran makan setiap orang. Bila kita menjajarkan ketiga hal ini, kita akan nampak bahwa Kristus selalu mencukupi. Dia tidak mengenal kekurangan. Sampai di mana Dia dapat kita nikmati tergantung pada jumlah orang dan takaran makanan kita terhadap Dia. Bila kapasitas kita besar, Kristus cukup menyuplai kita. Bila kapasitas kita terbatas, Dia pun tetap memenuhi kebutuhan kita. Sebagai Anak Domba Paskah, Kristus itu serba cukup. Kristus yang dilambangkan oleh Anak Domba Paskah ini tidaklah mengenal kekurangan. Dalam segala situasi Dia dapat memenuhi kebutuhan kita. Tak peduli keluarga kita besar atau kecil, bergabung dengan keluarga lain atau tidak, tak peduli berapa banyak jiwa atau berapa besar nafsu makan kita, Kristus cukup memenuhi semua kebutuhan kita.

B. TANPA CACAT CELA

Keluaran 12:5 mengatakan, “Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela.” Tanpa cacat cela ialah sempurna. Ini menyatakan bahwa Kristus itu sempurna, tanpa kesalahan (Yoh. 8:46).

C. YANG JANTAN BERUMUR SETAHUN

Keluaran 12:5 melanjutkan bahwa anak domba itu haruslah yang “jantan, berumur setahun”, “diambil dari domba atau kambing”. Apa artinya domba itu harus jantan dan berumur setahun? Berumur setahun berarti segar dan belum dipakai untuk tujuan lain. Dalam pandangan Allah, ketika Tuhan Yesus dipaku di atas salib, Dia berumur setahun, segar, belum pernah dipakai untuk tujuan lain.

Pada saat kita diselamatkan, kita semua sudah dipakai untuk beberapa tujuan lain. Beberapa di antara kita telah dipakai untuk tujuan yang berbeda-beda. Kita sedikit pun tidak segar. Saya beroleh selamat pada umur sembilan belas tahun setengah. Tetapi dalam pandangan Allah, saya sudah jauh lebih tua, karena saya telah dipakai untuk tujuan-tujuan lain. Sebaliknya, Tuhan Yesus segar dan belum dipakai untuk tujuan lain.

Keluaran 12:5 mengatakan bahwa anak domba itu bisa diambil dari domba atau kambing. Menurut Matius 25, domba mengibaratkan orang-orang yang baik, sedang kambing mengibaratkan orang-orang yang jahat. Ketika Kristus disalibkan, Dia itu baik atau jahat? Sesungguhnya, Dia merangkap kedua-duanya. Saat Dia disalibkan, Dia itu domba pun kambing, tergantung dari sudut mana memandang-Nya. Dalam diri-Nya, Kristus baik sama sekali. Namun demikian, sebagai pengganti kita, Ia itu berdosa. Seperti yang diungkapkan oleh Paulus dalam 2Korintus 5:21, Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat dosa karena kita.

D. DIPERIKSA (DIUJI) SELAMA EMPAT HARI

Sama halnya dengan anak domba Paskah diperiksa selama empat hari (12:3, 6), demikian pula Kristus diperiksa selama waktu yang sama. Setelah Dia ditangkap, Tuhan menjalani enam kali pemeriksaan, tiga kali di tangan imam-imam yang memeriksa Dia menurut Hukum Taurat Allah. dan tiga kali di bawah pemerintah Romawi, yang memeriksa Dia menurut undang-undang Romawi. Akhirnya, Pilatus tak bisa tidak mengumumkan bahwa dia tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya. Sesungguhnya, Pilatus tiga kali mengumumkan bahwa dia tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya (Yoh. 18:38; 19:4, 6). Kristus sebagai anak domba Paskah tak ada salah dan cacat celanya.

E. DIBUNUH OLEH SELURUH JEMAAH ISRAEL

Berbicara mengenai anak domba Paskah, Keluaran 12:6 mengatakan, “Lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.” Tahukah Anda siapa yang membunuh Tuhan Yesus? Dia dibunuh oleh umat Allah. Ini berarti kita semua mempunyai bagian dalam pembunuhan terhadap Dia.

Bertahun-tahun yang lalu, saya pernah membaca sebuah artikel yang mengisahkan betapa bangsa Israel menyembelih anak domba di waktu Paskah. Menurut artikel tersebut, anak domba itu dipentangkan pada kayu bersilang. Bani Israel mengambil dua batang kayu dan dijadikan bentuk salib. Kedua kaki belakang domba itu diikat pada kaki salib sedang kedua kaki lainnya dipisah dan diikatkan pada batang yang bersilang. Kemudian mereka menyembelih anak domba itu sehingga semua darahnya tercurah keluar, karena mereka memerlukan semua darah itu untuk dipercikkan pada ambang pintu. Kita semua tahu bahwa Kaisar Romawi menggunakan hukuman mati dengan penyaliban terhadap narapidana, tetapi bani Israel sudah memakai cara ini untuk menyembelih anak domba pada hari Paskah mereka jauh sebelum Kaisar Romawi. Cara anak domba disembelih menyajikan gambar penyaliban Kristus. Jadi, lambang Paskah telah memperlihatkan sebelumnya baik hari maupun cara Kristus dimatikan bagi penebusan kita.

F. DARAH DIBUBUHKAN PADA AMBANG ATAS

DAN KEDUA TIANG PINTU RUMAH BAGI

PENEBUSAN

Keluaran 12:7 mengatakan, “Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya”. Darah yang dibubuhkan pada ambang atas dan kedua tiang pintu adalah untuk penebusan. Darah ini melambangkan darah penebusan Kristus (Mat. 26:28; Yoh. 19:34; 1Ptr. 1:18-19). Ketika orang Israel menerapkan domba Paskah, mereka berada di dalam rumah-rumah yang telah diperciki darah anak domba. Ini menunjukkan bahwa penebusan adalah berdasarkan kesatuan. Darah Kristus tidak dapat menebus kita kecuali kita bersatu dengan Kristus. Hanya melalui berada di dalam Kristus, kita dapat ditebus karena darah Kristus. Bila kita di luar Kristus, darah-Nya tidak dapat menebus kita. Tetapi begitu kita berada di dalam Kristus sebagai rumah, niscayalah kita tertebus karena darah yang telah dipercikkan pada ambang atas dan kedua tiang pintu rumah tersebut. Karena penebusan berdasarkan kesatuan, maka kita harus bersatu dengan Kristus, bersama dengan Kristus. Kemudian, karena menjadi satu dengan Dia, kita dapat ditebus karena darah-Nya.

Bahtera yang dibangun oleh Nuh juga menggambarkan kesatuan ini. Nuh dan keluarganya memasuki bahtera. Dengan demikian mereka bersatu dengan bahtera, bersama-sama dengan bahtera. Melalui kesatuan dan kebersamaan ini, mereka diselamatkan dan ditebus karena bahtera. Seprinsip dengan itu, agar dapat ditebus demi darah anak domba Paskah, bani Israel harus berada di dalam rumah yang telah diperciki darah. Selanjutnya orang yang mau menikmati penebusan Kristus, haruslah menjadi satu dengan Dia.

G. DAGINGNYA DIMAKAN BAGI SUPLAI HAYAT

Daging anak domba Paskah dimakan untuk suplai hayat (12:8-10). Sama halnya dengan Tuhan Yesus sebagai penggenapan lambang ini. Setiap kitab Injil membicarakan darah Kristus. Namun, Injil Yohanes melanjutkan dengan kata-kata bahwa daging Kristus dapat dimakan. Dalam Yohanes 6:53 Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus makan daging Anak Manusia, dan dalam ayat 55 Dia mengumumkan, “Daging-Ku benar-benar makanan.” Daging di sini berarti hayat Tuhan. Hayat Kristus boleh dimakan; itulah suplai hayat kita. Ini disebut dalam Injil Yohanes karena Injil ini kontras dengan yang lain, berfokus pada hayat. Jadi, Injil ini mewahyukan bahwa darah Kristus itu menebus, dan hayat Kristus untuk menyuplai. Haleluya, kita mempunyai darah Anak Domba untuk penebusan dan daging Anak Domba untuk suplai hayat!

1. Dipanggang Dengan Api

Dalam 12:8, bani Israel telah diberi cara yang tepat untuk makan daging anak domba Paskah: dipanggang dengan api. Api di sini mewakili murka kudus Allah dalam pelak-sanaan penghakiman. Sewaktu Kristus tergantung di kayu salib, api suci Allah menghakimi Dia dan membakar Dia. Mazmur 22:15-16, “Hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku.” Lalu teriak-Nya, “Aku haus!” (Yoh. 19:28) karena Dia dibakar oleh api kudus penghakiman Allah.

2. Tidak Dimakan Mentah-mentah

Dalam 12:9 orang Israel dipesan untuk tidak makan daging anak domba mentah-mentah. Hari ini, mereka yang tidak percaya kepada penebusan Kristus mencoba makan Dia “mentah-mentah”. Ini berarti mereka menganggap Kristus sebagai model atau contoh kehidupan insani untuk mereka tiru. Sebenarnya, dalam melakukan hal ini berarti makan mentah anak domba Paskah.

3. Tidak Dimasak dengan Air (Direbus)

Selanjutnya, orang-orang Israel tidak makan anak domba yang direbus (12:9). Makan Kristus yang “direbus” berarti memandang kematian-Nya di atas salib bukan untuk penebusan, melainkan untuk mati martir. Hari ini banyak orang yang tidak percaya kalau Kristus mati sebagai Penebus. Menurut konsepsi mereka, Dia itu dianiaya oleh manusia dan mati sebagai seorang martir, yang telah mengorbankan diri-Nya bagi pengajaran-Nya. Menanggapi kematian Kristus seperti ini berarti makan anak domba yang direbus. Direbus berarti mengalami penderitaan, tetapi bukan penderitaan oleh api kudus. Penderitaan ini semata-mata akibat penganiayaan belaka.

Hari ini, orang-orang berusaha menerima Kristus dengan tiga cara. Selaku orang-orang Kristen fundamental, kita percaya bahwa di atas salib Kristus menderita bagi kita di bawah penghakiman Allah. Dia telah dibakar dan dipanggang dengan api kudus murka Allah. Sebagai Penebus kita, Dia telah dihakimi bagi kita. Inilah menerima Kristus yang “dipanggang” dengan api. Inilah cara yang tepat yang ditetapkan oleh Allah. Cara kedua, yang dipertahankan oleh kaum modernis adalah menerima Kristus “mentah-mentah”, yaitu mencontoh dan meniru perilaku Kristus. Cara ketiga ialah menerima Kristus yang “direbus”. Yang ini menganggap kematian Kristus di atas salib sebagai akibat penganiayaan dan kemartiran, bukan sebagai kematian yang menebus kita. Bagaimana Anda menerima Kristus dipanggang, mentah, ataukah direbus? Jika Anda percaya Kristus mati disalib sebagai seorang martir, yang mati akibat penganiayaan manusia, itu berarti Anda sedang makan anak domba Paskah yang direbus. Sebaliknya, jika Anda percaya bahwa Dia mati sebagai Penebus kita, yang dipanggang dengan api kudus Allah, berarti Anda makan Dia sebagai anak domba Paskah yang dipanggang dalam api.

4. Bersama Kepala, Betis, dan Isi Perutnya

Orang-orang Israel harus makan anak domba berikut kepalanya, betisnya (kakinya), dan isi perutnya (12:9). Kepala mewakili hikmat, betis mewakili kegiatan dan pergerakan, dan isi perut mewakili setiap bagian batiniah Kristus. Makan anak domba Paskah berikut kepala, kaki, dan isi perutnya berarti menikmati Kristus seluruhnya dalam keadaan utuh. Begitu kita makan Dia, kita menikmati hikmat, kegiatan, pergerakan, dan setiap bagian batiniah-Nya.

5. Dimakan dengan Roti Tidak Beragi dan Sayur Pahit

Menurut Keluaran 12:8, bani Israel diharuskan makan daging anak domba dengan roti tidak beragi dan sayur pahit. Makan roti tidak beragi berarti menyingkirkan hal-hal dosa. Sewaktu kita menikmati Kristus sebagai Paskah kita, kita harus menyingkirkan semua hal kedosaan. Pada saat yang sama, kita perlu makan sayur pahit. Ini berarti kita perlu menyesal dan bertobat, mengalami rasa getir yang ada hubungannya dengan hal-hal kedosaan. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, banyak di antara kita yang menerima Dia sebagai suplai hayat kita serta menghentikan setiap hal kedosaan. Bersamaan dengan itu, kita pun mengalami penyesalan dan bertobat. Ini membuktikan bahwa kita telah makan Kristus dengan sayur pahit.

Kita tak boleh makan anak domba tanpa roti tidak beragi dan sayur pahit. Kapan saja Anda menerima Kristus sebagai suplai Anda, maka Anda menerima hayat yang tidak berdosa, tidak beragi, yang memberikan Anda perasaan pahit di saat Anda berdosa, dan bertobat bila Anda melakukan kesalahan. Hayat ini peka sekali terhadap dosa, terhadap setiap perbuatan yang salah dan terhadap setiap hal ego. Untuk menjaga Anda agar tidak beragi, Anda harus bertobat.

6. Tak Ada yang Ditinggalkan Hingga Pagi

Keluaran 12:10 mengatakan, “Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.” Tiada suatu pun dari domba Paskah yang boleh ditinggalkan hingga pagi. Ini menyatakan bahwa kita harus menerima Kristus secara keseluruhan, bukan sebagian. Tidak ada apa pun dari Kristus yang dibiarkan tertinggal. Harus menerima Dia sepenuhnya.

H. TULANGNYA TIDAK BOLEH DIPATAHKAN

Keluaran 12:46 mengatakan bahwa bani Israel tak boleh mematahkan tulang manapun dari anak domba Paskah. Ketika Kristus disalibkan sebagai anak domba Paskah kita, kaki-Nya tidak dipatahkan (Yoh. 19:33, 36). Fakta bahwa kaki Kristus tidak dipatahkan menyatakan bahwa dalam Kristus, anak domba Paskah, ada sesuatu yang tidak bisa dipatahkan dan tidak bisa dibinasakan. Unsur yang tidak terpatahkan dan tidak bisa dibinasakan ini adalah hayat kekal-Nya. Para prajurit Romawi dan orang-orang Yahudi bisa saja bersekongkol menggantung Kristus di kayu salib, tetapi mereka tidak bisa mematahkan hayat kekal-Nya.

Dari Kitab Suci dapat kita buktikan bahwa tulang melambangkan hayat. Menurut Kejadian 2:21, Tuhan mengambil sebilah tulang rusuk dari Adam dan membangunnya menjadi seorang perempuan. Perempuan itu, Hawa, dihasilkan dari tulang yang diambil dari Adam. Karena itu, tulang melambangkan hayat yang menyalurkan hayat. Tulang yang diambil dari Adam menyalurkan hayat Adam kepada Hawa. Seprinsip dengan itu, tulang Kristus yang melambangkan hayat kekal-Nya yang tidak bisa dipatahkan dan tidak bisa dibinasakan itu, menyalurkan hayat-Nya kepada kita. Dalam Kristus Sang Anak Domba Paskah kita, terdapat hayat yang tidak bisa dipatahkan dan tidak bisa dibinasakan, yang dapat menyalurkan hayat ke dalam kita.