← Daftar isi Keluaran (2) · bab 6/16

PENGERASAN HATI FIRAUN

Dalam berita ini sampailah kita kepada suatu masalah yang sangat sulit: pengerasan hati Firaun. Perdebatan mengenai ini berhubungan dengan apakah Allah yang mengeraskan hati Firaun ataukah Firaun yang mengeraskan hatinya sendiri. Terhadap pengerasan hati Firaun, Musa menggunakan bermacam-macam pernyataan. Dalam 4:21 Allah berfirman, “Aku akan mengeraskan hatinya.” Akan tetapi dalam 8:15 Musa mengatakan bahwa Firaun “tetap berkeras hati”. Selanjutnya dalam 9:7 dikatakan bahwa “Firaun tetap berkeras hati” dan dalam 9:35 dikatakan “berkeras hatilah Firaun”. Di satu pihak, 10:1 mengatakan bahwa Tuhan “membuat hatinya berkeras”, tetapi di pihak lain, dalam 10:20 kita nampak bahwa “Tuhan mengeraskan hati Firaun”. Menurut makna dari kata-kata yang dipakai dalam bahasa Ibrani, hati Firaun bukan saja menjadi keras, tetapi juga degil dan tegar. Adanya fakta Musa menggunakan istilah-istilah yang berbeda untuk menggambarkan kekerasan hati Firaun menyatakan seriusnya masalah ini.

I. KEDAULATAN ALLAH

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun dan Firaun pun mengeraskan hatinya sendiri. Sebagian orang yang tidak mempercayai Alkitab membuktikan bahwa Allah bersalah karena mengeraskan hati Firaun. Pada saat Paulus menulis Kitab Roma, alasan semacam ini selalu muncul. Karena itu, Paulus mengetengahkan kedaulatan Tuhan seraya berkata, “Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya, ‘Mengapa engkau membentuk aku demikian?’” (Rm. 9:20). Dalam ayat berikutnya Paulus meneruskan perkataannya: “Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa?” Di sini Paulus mengatakan bahwa sebagai Pencipta, Allah mempunyai kedaulatan untuk melakukan apa yang Ia sukai. Siapakah kita, maka kita berbantahan dengan-Nya? Kita perlu mengenal bahwa kita adalah tanah liat dan Allah adalah penjunannya. Ia mempunyai kedaulatan untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang tidak mulia (ayat 22); sama seperti benda-benda belas kasihan-Nya (ayat 23).

Anda menganggap diri Anda bejana kemurkaan atau bejana belas kasihan? Di satu pihak, bejana apa jadinya kita ini, secara mutlak tergantung pada kedaulatan Allah; tetapi di pihak lain, tergantung pada apa yang kita katakan atas diri kita sendiri. Seperti pada benda-benda atau hal-hal lain di alam semesta, selalu mempunyai dua pihak, pihak Allah dan pihak manusia. Jika kita mengatakan bahwa kita adalah bejana kemurkaan, begitulah jadinya kita. Tetapi jika kita mengatakan bahwa kita adalah bejana belas kasihan, berharga, dan untuk kemuliaan, maka jadilah kita seperti itu.

Dalam Roma 9:16 Paulus mengatakan, “Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah.” Menjadi bejana belas kasihan, berharga, dan untuk kemuliaan tidak tergantung pada kehendak kita atau usaha kita, melainkan tergantung pada belas kasihan Allah kepada kita. Karena kedaulatan belas kasihan Allah, jadilah kita bejana-bejana belas kasihan. Menjadi bejana-bejana belas kasihan bukanlah kita yang menentukan. Allah telah membuat keputusan ini sebelum kita dilahirkan. Hanya karena kedaulatan Allah, kita bisa mengatakan bahwa kita adalah bejana-bejana belas kasihan. Di dalam diri kita sendiri dan dari kita sendiri, kita tidak mempunyai hak untuk berkata demikian. Sebagai yang berkuasa atas tanah liat, tukang periuk telah memilih kita dan menjadikan kita bejana-bejana belas kasihan. Akan tetapi, pengakuan kita bahwa kita adalah bejana-bejana belas kasihan merupakan suatu bukti bahwa Allah telah menjadikan kita demikian.

II. BELAS KASIHAN ALLAH

A. MENURUT KEHENDAK-NYA SENDIRI

Belas kasihan Allah adalah menurut kehendak-Nya. Dalam Roma 9:18 Paulus menyimpulkan: “Jadi, Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Kita tak dapat menerangkan mengapa Allah menetapkan untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada kita. Satu-satunya yang dapat kita katakan adalah menurut kehendak Allah, belas kasihan Allah telah menimpa kita. Mengenai hal ini, Alkitab sangat tegas. Menurut Roma 9:18, Allah bisa saja menaruh belas kasihan atau mengeraskan. Hal ini dilukiskan dalam kasus Musa dan Firaun. Musa adalah seorang yang kepadanya Allah menaruh belas kasihan-Nya. Sebaliknya, Firaun adalah seorang yang kepadanya Allah mengeraskan hati-nya. Dalam Roma 9:15 Paulus mengutip ucapan Allah kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Ini menunjuk-kan bahwa belas kasihan Allah yang dinyatakan kepada kita benar-benar menurut kehendak Allah sendiri.

B. DALAM KEDAULATAN-NYA

Tidak hanya demikian, belas kasihan Allah juga berada dalam kedaulatan-Nya (Rm. 9:20-23). Satu-satunya hal yang dapat kita katakan untuk menerangkan belas kasihan Allah kepada kita adalah dengan dipilih-Nya kita untuk menerima belas kasihan-Nya dalam kedaulatan-Nya. Ingatlah contoh Esau dan Yakub. Siapakah yang dapat mengatakan mengapa Allah berkehendak memilih Yakub dan bukan Esau? Kita semua dapat mengatakan bahwa dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih yang satu dan bukan yang lain. Pilihan Allah mutlak menurut kedaulatan-Nya.

Sebagai orang-orang yang dikasihi Allah, janganlah kita hanya berterima kasih kepada-Nya atas belas kasihan-Nya, tetapi juga menyembah-Nya untuk kedaulatan-Nya. Dalam kidung kita terdapat banyak pujian untuk belas kasihan Allah, tetapi sangat sulit menemukan kidung bagi kedaulatan Allah. Untuk menulis kidung tentang kedaulatan Allah, tidak banyak yang bisa kita katakan. Bersama Paulus, kita perlu dibawa ke dalam kedaulatan Allah. Bukannya berbantahan dengan Dia, melainkan seharusnya kita berkata, “Oh Allah Bapa, aku menyembah-Mu atas kedaulatan-Mu. Sekalipun aku tidak layak, dalam kedaulatan-Mu, Engkau berkehendak menunjukkan belas kasihan-Mu kepadaku.” Janganlah coba-coba mengusik kuasa kedaulatan Allah. Perhatikanlah peringatan Paulus ketika dia berkata, “Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah?” (Rm. 9:20). Jika kita insyaf bahwa kita bukanlah apa-apa selain tanah liat, kita tak akan berbantahan dengan Allah. Sebaliknya, kita akan menyembah Dia atas kedaulatan-Nya.

III. KEHENDAK BEBAS MANUSIA

Di alam semesta ada tiga perkara yang tak dapat disangkal: kedaulatan Allah, belas kasihan Allah, dan kehendak bebas manusia. Kedaulatan dan belas kasihan Allah, kedua-duanya bersifat ilahi dan kekal, tanpa awal dan tanpa akhir. Sebaliknya, kehendak bebas manusia adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah. Ketika menciptakan manusia, Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia, ini memperlihatkan kebesaran-Nya. Karena Ia itu besar (agung), Ia tidak memaksa kita memilih-Nya. Ia memberikan kebebasan kepada kita untuk menentukan pilihan kita sendiri.

Fakta bahwa Allah memberikan kebebasan memilih kepada manusia juga menyatakan hikmat dan kasih-Nya. Orang yang besar, berhikmat, dan penuh kasih, tidak akan memaksa orang lain melakukan sesuatu. Sebaliknya, orang yang demikian selalu menghormati kebebasan orang lain dan berkata, “Pilihan ada padamu. Jika engkau ingin melakukan hal ini, engkau boleh memilihnya serta mengerjakannya. Engkau harus mengambil keputusan.” Apakah kita menerima Allah atau menolak-Nya adalah perkara pilihan kita sendiri. Kejadian 2 membuktikan bahwa manusia mempunyai kebebasan memilih. Menurut pasal ini, Allah menempatkan manusia yang diciptakan-Nya di depan dua pohon, pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat, dan manusia bebas memilih di antara keduanya. Ketika saya masih muda, saya mengira Allah keliru karena menempatkan pohon kedua di dalam taman. Menurut saya, kalau di sana hanya ada satu pohon saja, pohon hayat, takkan terjadi masalah. Tetapi dalam kebesaran-Nya, hikmat-Nya, dan kasih-Nya, Allah memberikan manusia kesempatan untuk memilih-Nya dengan menempatkan dirinya di depan kedua pohon itu.

Menurut Kejadian 3, Hawa dengan sengaja memilih makan buah pengetahuan. Dalam mengambil keputusan ini, ia menggunakan daya pembeda dan kehendak bebasnya. Dalam prinsip yang sama, kita harus memutuskan apakah kita percaya atau tidak kepada Tuhan Yesus. Selanjutnya, setelah menerima Dia, kita harus memilih apakah kita akan mencari (menuntut) Dia atau tidak. Boleh jadi sebagian orang mengira bahwa situasi di alam semesta ini mestinya menakjubkan kalau saja Iblis tak ada. Akan tetapi, bagaimanapun juga, adalah suatu kenyataan bahwa Allah maupun Iblis, hayat maupun maut itu ada dan kita harus memilih salah satu di antara keduanya.

IV. FIRAUN MENGERASKAN HATINYA

Dengan ini sebagai latar belakang, sampailah kita kepada masalah pengerasan hati Firaun. Apakah Allah yang lebih dulu mengeraskan hati Firaun ataukah Firaun yang mengambil inisiatif untuk mengeraskan hatinya? Sebagai pertolongan untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikanlah pengalaman Anda ketika beriman di dalam Tuhan Yesus. Apakah itu diprakarsai oleh Anda sendiri atau oleh Allah? Sudah tentu diprakarsai oleh Allah. Akan tetapi, untuk percaya itu Anda sendiri yang harus melakukan. Sebelum saya beroleh selamat, saya tidak pernah berpikir tentang Allah. Kepercayaan saya di dalam Kristus tak pernah saya rencanakan atau saya prakarsai. Saya mempunyai jaminan penuh bahwa sumber kepercayaan ini adalah diri Allah sendiri. Ia yang merencanakan, memprakarsai, dan mengatur. Sebelum saya beroleh selamat, saya tidak mau percaya Kristus. Akan tetapi, suatu hari dengan spontan saya menjadi mau. Menurut pengalaman saya dan juga pengalaman Anda, Allah yang lebih dulu menyebabkan kita percaya di dalam Kristus.

Dalam prinsip yang sama, Allah yang memprakarsai pengerasan hati Firaun. Sebelum Musa mengalami pertentangan yang pertama dengan Firaun, Allah memberi tahu dia bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (4:21). Dalam hal keselamatan kita, Allah memprakarsai percayanya kita kepada Tuhan Yesus, tetapi dalam hal percayanya kita kepada-Nya, Dia tidak mau mengerjakannya. Allah merencanakan supaya kita percaya, tetapi kita sendirilah yang harus percaya. Demikian juga, pertama-tama Allah mengeraskan hati Firaun, kemudian Firaun mewujudkan kekerasan ini melalui kehendak bebasnya.

Di sini kita nampak kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Keduanya tidak bertentangan, melainkan selaras. Firaun dalam hal ini tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ia mempunyai kehendaknya sendiri secara bebas. Di satu pihak, kita harus menyembah Allah atas kedaulatan-Nya, di pihak lain, kita pun harus melakukan tanggung jawab kita. Kedaulatan Allah tidak bertentangan dengan kehendak bebas kita, dan kehendak bebas kita juga tidak bertentangan dengan kedaulatan-Nya. Jika kita nampak hal ini, kita akan dengan rendah hati merendahkan diri kita di bawah kedaulatan Allah dan dengan spontan menerima tanggung jawab kita. Kita akan berkata, “Tuhan, segala sesuatu seturut kedaulatan-Mu. Namun, aku harus menyelesaikan tanggung jawabku.” Semakin kita mau memikul tanggung jawab kita, semakin kuatlah tanda bahwa kita telah ditentukan oleh Allah.

Mula-mula Alkitab mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun. Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya. Ini menyatakan kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Kita harus senantiasa merendahkan diri kita dan berkata, “Tuhan, Engkaulah yang berdaulat. Tetapi aku tetap harus melaksanakan tanggung jawabku.” Sikap seperti ini menunjukkan bahwa kita diperkenan oleh Allah. Akan tetapi, misalnya kita mempunyai pendirian bahwa karena segala sesuatu menurut kedaulatan Allah, maka kita tak perlu bertanggung jawab melakukan apa-apa; ini menunjukkan bahwa kita menyangkal Allah. Firaun tak dapat membebaskan diri dari tanggung jawab, dan Musa pun tak boleh menyombongkan perbuatannya. Dengan jalan ini Allah mengatupkan setiap mulut. Musa tak ada kesempatan untuk menyombong, Firaun pun tidak ada alasan untuk tidak memikul tanggung jawab.

Kedaulatan Allah dan tanggung jawab kita kedua-duanya bertalian dengan penuntutan kerohanian kita. Semua penuntutan yang normal direncanakan dan diatur oleh Allah. Tetapi kita tetap mempunyai tanggung jawab untuk mencari Tuhan. Bila kita mencari Dia, kita tidak seharusnya menjadi sombong. Kita harus merendahkan diri kita sendiri dan mengakui bahwa pencarian kita terhadap diri Tuhan adalah menurut kedaulatan-Nya. Pada saat yang bersamaan, kita menggenapkan tanggung jawab kita. Jika kita acuh tak acuh kepada Tuhan, kita berada dalam bahaya tidak menunaikan tanggung jawab kita. Tetapi jika kita bergairah menuntut Tuhan, kita harus berhati-hati untuk tidak menyombongkan penuntutan rohani kita. Sekali lagi kita nampak bahwa kita perlu merendahkan diri kita di bawah kedaulatan Allah, dan bersamaan dengan ini, melaksanakan tanggung jawab kita. Jika kita tahu akan kedaulatan Allah dan tanggung jawab kita, kita benar-benar diperkenan Allah.

Saya telah menunjukkan bahwa beberapa ayat mengatakan Allah mengeraskan hati Firaun, sedang ayat-ayat lainnya mengatakan bahwa Allah membuat hati Firaun menjadi keras. Dalam prinsip yang sama, dalam tempat yang sama, kita diberi tahu bahwa Firaun mengeraskan hatinya (8:15, 19), tetapi di tempat lain dikatakan bahwa hati Firaun menjadi keras (7:13). Di sini ada perbedaan antara mengeraskan hati dan hati menjadi keras. Dalam Kitab Keluaran dikatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya dan hatinya menjadi keras. Ini menunjukkan bahwa Firaunlah yang mula-mula mengeraskan hatinya. Hasilnya adalah hatinya menjadi keras. Jadi, hati yang menjadi keras adalah akibat dari mengeraskan hati. Sebelum Firaun mengeraskan hatinya, masih ada kemungkinan hatinya menjadi lunak. Tetapi bukannya melunakkan hatinya, Firaun malah mengeraskan hatinya. Hal yang sama juga terjadi pada hari ini. Sebelum seseorang mengeraskan hatinya, hatinya tidaklah keras. Sekurang-kurangnya sampai suatu tingkat, hati itu lunak. Tetapi begitu ia memutuskan untuk mengeraskan hatinya, hatinya pun menjadilah keras.

Dari kejadian ini, kita dapat mempelajari suatu pelajaran yang penting: Janganlah membiarkan segala sesuatu yang negatif berkembang ke arah Tuhan. Sebelum segala yang negatif muncul, Anda masih mempunyai dua pilihan untuk Allah atau menentang Allah. Tetapi begitu sesuatu yang negatif muncul dan hati Anda dikeraskan, Anda akan hanya mempunyai satu pilihan, yaitu menolak Allah.

Dari cara Firaun memperlakukan hatinya kita dapat melihat bagaimana Allah memperlakukan hati Firaun. Pertama-tama Allah mengeraskan hati Firaun, dan kemudian Ia membuat hatinya menjadi keras. Setelah Allah mengeraskan hati Firaun, Ia dapat melunakkannya. Akan tetapi, Ia tidak melakukan hal tersebut, melainkan tetap membiarkan hati Firaun dalam kondisi yang keras. Ini berarti, Allah membuat hati Firaun menjadi keras. Mula-mula, Allah mengeraskan hati Firaun, kemudian Ia membuat hati Firaun menjadi keras. Dengan kata lain, Allah tidak campur tangan untuk mengubah apa yang telah diperbuat-Nya terhadap hati Firaun.

Jika kita membiarkan segala sesuatu yang negatif berkembang ke arah Tuhan, maka akan timbul suatu persoalan yang serius. Allah tidak akan mengubah akibatnya; sebaliknya, Ia akan membiarkan hal itu berlangsung terus, sama seperti Ia tidak menunjukkan belas kasihan-Nya kepada Firaun, malah membiarkannya pada pendiriannya sendiri, supaya Allah memperlihatkan kuasa-Nya atas dia (Rm. 9:17). Sekali Anda mengeraskan hati Anda, hati Anda akan menjadi keras dan tetap keras. Inilah di pihak Anda. Di pihak Allah, pertama-tama Ia akan mengeraskan hati Anda dan kemudian Ia akan menolak untuk mengubah apa yang telah diperbuat-Nya. Pertama-tama, Ia mengeraskan hati dan kemudian Ia membiarkannya tetap keras. Keadaan seperti ini memperingatkan kita untuk berhati-hati agar tidak ada hal negatif apa pun muncul di dalam kita. Begitu perkara negatif mengeluarkan suatu hasil, hasil tersebut akan tetap ada. Dan boleh jadi Allah pun tidak akan mengubahnya. Mungkin Ia akan membiarkan hal itu tetap ada.

Saya yakin Musa menggunakan bermacam-macam ungkapan untuk menggambarkan pengerasan hati Firaun, agar kita bisa belajar merendahkan diri kita di hadapan kedaulatan Allah, melaksanakan tanggung jawab kita, dan menjaga diri kita, tidak membiarkan perkara-perkara negatif berkembang ke arah Allah. Begitu hal-hal itu berkembang, sangatlah sulit mengubah akibat-akibat dari hal-hal itu. Malahan kondisi tersebut tetap ada dan bahkan memburuk. Baiklah kita belajar dari contoh Firaun. Ia mengizinkan (membolehkan) sesuatu yang jahat muncul dan akibatnya tetap ada selamanya. Betapa seriusnya peringatan-peringatan ini!

Dari tahun ke tahun, saya menemukan banyak kasus dari orang-orang yang membiarkan perkara-perkara negatif berkembang. Mula-mula, ada dua pilihan di depan mereka, dan mereka masih ada kemungkinan untuk memilih arah mereka. Tetapi begitu mereka membuat pilihan yang negatif, maka tak ada lagi kesempatan untuk kembali ke keadaan semula. Sejak saat itu, tidak ada perubahan dalam kondisi atau akibat akhir dari pilihan mereka.

Berhati-hatilah terhadap hal-hal negatif yang timbul. Janganlah memandang hal semacam itu sebagai sesuatu yang tak berarti. Janganlah berkata kepada diri Anda sendiri bahwa Anda melakukan sesuatu dan mengubahnya kemudian. Anda mungkin mau mengubahnya, tetapi akibat dari pilihan Anda boleh jadi tidak membiarkan Anda berubah. Lagi pula, Allah mungkin tidak bermaksud mengubah situasi negatif semacam itu.

Kita perlu menyembah Allah untuk kedaulatan-Nya, berterima kasih kepada-Nya untuk belas kasihan-Nya, melaksanakan tanggung jawab kita, dan menjaga diri dari hal-hal negatif yang mungkin timbulatan-Nya dan memasyhurkan nama-Nya di seluruh bumi.

Saya yakin dalam sejarah, Firaun merupakan satusatunya orang yang menolak untuk mematuhi permintaan Allah. Bahkan Nebukadnezar pun tidak melawan Allah seperti Firaun. Meskipun Musa, wakil Allah, berkali-kali datang kepada Firaun, Firaun tidak tunduk.

Dalam Roma 9, Paulus terlibat dalam perdebatan sehubungan dengan pemilihan Allah. Dalam perdebatan ini, dia mengutarakan kedaulatan Allah. Dengan memakai Firaun sebagai contoh, Paulus menunjukkan bahwa Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sebaliknya Ia mengeraskan hati siapa yang dikehendaki-Nya (ayat 18). Semuanya tergantung pada kehendak Allah yang berdaulat. Paulus juga mengutip firman Tuhan kepada Musa, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku mau bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (ayat 15). Di sini Paulus berbicara dengan sangat berani. Menurut kehendak Allah yang berdaulat, Allah menetapkan membelaskasihani Musa dan mengeraskan Firaun.

Dua belas kali Musa, orang yang tua, berurusan dengan Firaun demi kepentingan Tuhan. Firaun, orang yang diganggu, tak dapat berbuat apa-apa terhadap Musa, orang yang mengganggu, karena Musa didukung oleh Yehova yang berdaulat atas segala sesuatu. Sebab itu, Musa merupakan contoh orang yang mendapat belas kasihan Allah, sedangkan Firaun adalah contoh orang yang dikesampingkan oleh Allah. Meskipun Allah mengesampingkan Firaun, Dia masih memakainya. Tidak hanya Musa yang berguna bagi Tuhan, Firaun pun berguna. Percayakah Anda bahwa Firaun berguna bagi Tuhan? Mungkin dalam hati, Anda percaya hanya Musalah yang berguna bagi Dia. Sesungguhnya, mereka berdua dibutuhkan dan dipakai. Jika Firaun mendadak mati setelah pertentangan pertama atau kedua, tugas Musa akan terputus, dan Allah akan kehilangan kesempatan untuk memperlihatkan kekuatan-Nya dan memasyhurkan nama-Nya. Jadi, Allah membutuhkan Firaun dan Dia membutuhkannya untuk bertahan sampai selama dua belas pertentangan. Allah menguatkan Firaun untuk bertahan menghadapi pertentangan-pertentangan ini agar kehendak-Nya tergenapi.

Kalau kita tidak memiliki Kitab Keluaran dengan kedua belas pertentangan antara Allah dengan Firaun, kita tidak akan benar-benar mengenal Allah dan menghargai kedaulatan-Nya. Mengenal kasih Allah itu mudah, tetapi mengenal kedaulatan-Nya itu sulit. Melalui kedua belas pertentangan dan kesepuluh tulah yang berlangsung selama sejangka waktu, kedaulatan Allah ternyata. Semasa perundingan (pembicaraan) Musa dengan Firaun, Allah datang untuk mengekspresikan kedaulatan-Nya.

Kedaulatan menyatakan hak mutlak, kekuasaan, dan kekuatan. Sebagai Sang berdaulat, Allah berhak melakukan apa saja dan memutuskan perkara apa pun. Kedaulatan adalah salah satu atribut Allah.

Dalam kedaulatan-Nya, Allah memakai Firaun sebagai tambahan untuk memakai Musa. Tanpa Musa, Firaun tidaklah berguna dalam hal ini. Demikian pula, tanpa Firaun, Musa tidaklah berguna. Firaun dan Musa merupakan suatu pasangan. Yang satu mengajukan permintaan, yang lain menolaknya, dan tidak ada yang mengalah sedikit pun. Tiap kali Musa menemui Firaun, Musa lebih banyak meminta dan Firaun lebih keras kepala. Firaun tidak pernah takluk dan tidak mau mengabulkan. Dalam perselisihan kedua orang ini, kita nampak satu gambaran kedaulatan Allah.

Kedaulatan Allah juga ternyata dalam tulah-tulah yang menimbulkan kerusakan pada lingkungan kehidupan manusia di Mesir. Darah merusakkan air, dan katak-katak mengusik kedamaian dan kenyamanan orang-orang Mesir. Dalam tulah nyamuk dan lalat, debu dan udara dirusakkan. Setelah lalat datanglah bala sampar, lalu tulah barah yang pecah dengan melepuh. Tulah hujan es menghancurkan lingkungan dan belalang melahap semua yang tersisa setelah kerusakan berat yang ditimbulkan oleh hujan es. Terakhir tulah kegelapan membuat segala sesuatu sulit bergerak. Tetapi bahkan setelah kesembilan tulah ini berlalu, Firaun tetap tidak mau tunduk walaupun seluruh lingkungan kehidupan manusia di Mesir telah hancur. Allah mengeraskan hati Firaun dan menguatkan dia agar tetap hidup.

Kesemuanya ini bukanlah masalah kasih Allah, melainkan masalah kedaulatan Allah. Dalam Roma 9, Paulus tidak berurusan dengan belas kasihan Allah, melainkan dengan kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah khususnya terlihat pada Firaun dan belas kasihan-Nya, khususnya terlihat pada Musa. Itulah sebabnya dalam pertentangan Musa dengan Firaun, di satu pihak, kita nampak ekspresi kedaulatan Allah, di pihak lain kita nampak ekspresi belas kasihan-Nya.

Ketika malaikat sedang membunuh anak-anak sulung orang Mesir, Allah melindungi bani Israel dan ternak mereka dalam kedamaian dan ketenangan, bahkan menenankan gonggongan anjing. Setelah Firaun ditaklukkan oleh pembunuhan anak-anak sulung, Allah masih menyuruh orang-orang Israel merampasi emas perak dan pakaian orang-orang Mesir. Ini semua di bawah kedaulatan Allah.

B. DI PIHAK FIRAUN

Kedegilan Firaun memaksa Allah membunuh anak-anak sulung. Khususnya di zaman dahulu, anak sulung mewakili orang yang kuat dan yang paling dikasihi. Bahkan para orang tua hari ini merawat anak sulung mereka dengan istimewa. Dalam tulah kesepuluh dan yang terakhir, anak-anak sulung orang-orang Mesir dan juga anak-anak sulung ternak mereka dibunuh.

Semasa muda, saya tidak setuju atas tindakan Allah berkenaan dengan pembunuhan anak-anak sulung. Kini saya dapat memahami bahwa Allah melakukan ini menurut kedaulatan-Nya. Dia tidak perlu minta izin manusia sebelum bertindak. Dia cukup memerintahkan malaikat-Nya, dan malaikat-Nya pun melaksanakannya. Jangan mencela bahwa dalam hal ini Allah tidak mempunyai kasih. Ingatlah, menurut Alkitab, Allah tidak hanya mengasihi, tetapi juga berdaulat. Di banyak tempat dalam Alkitab kita nampak bahwa Allah itu penuh kasih dan kaya dalam kebaikan dan pengampunan. Perjanjian Baru dengan jelas menyatakan Allah itu kasih. Tetapi Allah yang adalah kasih itu datang dan menurut kedaulatan-Nya membunuh anak sulung.

Dalam Keluaran 12:30 dikatakan bahwa di antara orang-orang Mesir “tidak ada rumah yang tidak kematian”. Pembunuhan ini terjadi pada tengah malam (12:29). Saat orang-orang biasanya menikmati tidur yang paling nyenyak, saat itulah malaikat datang untuk membunuh anak-anak sulung, yang paling kuat dan paling disayang dalam semua keluarga di Mesir. Melalui tulah yang terakhir ini, Firaun takluk (11:1; 12:21-30, 33). Dia dan pegawai-pegawainya bangun pada malam hari, memanggil Musa dan Harun, menyuruh mereka dan bani Israel pergi dari Mesir untuk melayani Yehova. Firaun ditaklukkan sedemikian rupa sehingga dia rela membiarkan semua orang Israel pergi, tidak hanya bersama anak mereka, tetapi juga bersama kambing domba dan lembu sapi mereka (12:31-32). Bahkan dia meminta Musa dan Harun memberkati dia. Dia dan semua orang Mesir benar-benar mengusir orang Israel keluar dari Mesir (ayat 33). Bahkan orang-orang Mesir rela memberikan apa saja yang diminta orang-orang Israel. Seluruh bangsa itu rela dirampasi oleh orang Israel (ayat 36).

Ketika pembunuhan anak-anak sulung orang Mesir berlangsung, bani Israel terlindung dari segala macam gangguan dan mengalami perhentian, menikmati keselamatan Allah. Keluaran 11:7 mengatakan, “Tetapi kepada siapa juga dari orang Israel, seekor anjing pun tidak akan berani menggonggong, baik kepada manusia maupun kepada binatang, supaya kamu mengetahui bahwa TUHAN membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel”. Di mana pun umat Allah berada, di sana tidak ada gangguan. Di bawah kedaulatan Allah, anjing-anjing pun tidak dibiarkan menggonggong. Ketika orang-orang Mesir sedang menangis dan meratap, orang-orang Israel menikmati saat-saat yang paling menyenangkan. Ini pun menyatakan kedaulatan Allah.

Meskipun Firaun takluk oleh tulah terakhir, dia hanya takluk sementara. Setelah orang-orang Israel meninggalkan Mesir, Firaun menyesali apa yang telah dilakukannya dan mengejar mereka dengan kereta perang. Kembali hati Firaun mengeras. Ini pun menurut kedaulatan Allah, agar orang-orang Mesir mengetahui bahwa Dialah Yehova (14:4). Hanya setelah pasukan orang Mesir terkubur di Laut Merah, barulah selesai perhitungan Tuhan dengan Firaun. Allah tidak lagi memakainya. Jangan berkata bahwa dalam penanggulangan-Nya terhadap Firaun, Allah tidak mengasihi. Kembali saya harus menekankan bahwa persoalannya di sini bukanlah kasih, tetapi kedaulatan.

Puji Tuhan bahwa dalam pasal-pasal Kitab Keluaran ini kita melihat kedaulatan Allah! Kita perlu menyembah Allah atas kedaulatan-Nya. Kita seharusnya berkata, “Tuhan, aku menyembah-Mu atas kedaulatan-Mu karena kedaulatan-Mu memantulkan kasih-Mu. Tuhan aku lemah dan berdosa. Kadang-kadang aku bahkan memberontak. Tetapi aku berterima kasih kepada-Mu, Tuhan, karena hatiku diperlunak dan selalu mau bertobat. Tuhan aku, berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memberikan hati yang demikian lunak.” Jika Anda tidak tahu bahwa Anda seharusnya menyembah Allah atas kedaulatan-Nya, Anda mungkin masih belum mengenal belas kasihan-Nya kepada Anda. Tetapi jika Anda mengenal kedaulatan Allah, Anda akan bersyukur kepada-Nya atas belas kasihan-Nya. Anda akan menyadari, bahkan begitu Anda mengikuti sidang-sidang gereja, Anda juga berada di bawah belas kasihan Tuhan yang berdaulat. Perhatikanlah betapa banyaknya orang yang terlibat dalam kedosaan atau keduniawian. Tetapi kita mau datang bersama-sama dalam hadirat Tuhan, mendengarkan firman-Nya, mencari maksud hati-Nya, dan melaksanakan berbaur esa dengan Dia. Ini sesuai dengan belas kasihan Allah yang berdaulat. Puji Dia karena kita ada di bawah belas kasihan-Nya yang berdaulat!

Demi belas kasihan Tuhanlah kita dapat menghadiri sidang-sidang gereja. Banyak orang di antara kita bersaksi bahwa malam yang paling menggembirakan dalam tiap minggu adalah malam persidangan. Jika tidak ada sidang-sidang untuk kita hadiri, bagaimana kita menggunakan waktu-waktu kita? Waktu-waktu senggang kita mungkin saja menyedihkan. Puji Tuhan, menurut belas kasihan-Nya yang berdaulat, kita dapat bersidang bersama-sama!

Semakin kita mengenal kedaulatan Allah, kita akan semakin berterima kasih atas belas kasihan-Nya. Haleluya, belas kasihan Allah telah dicurahkan kepada kita dengan kedaulatan-Nya! Karena belas kasihan-Nya kita tidak tegar seperti Firaun. Kadang-kadang mungkin kita tegar, tetapi dalam anugerah Tuhan yang berdaulat, kita hanya tegar sejenak. Kemudian kita bertobat, entah kepada Tuhan atau kepada orang yang kita salahi. Keinginan untuk bertobat ini adalah belas kasihan Tuhan kepada kita.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik bagi kita untuk bertobat dan mengaku kepada Tuhan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena setiap pagi kita dapat mempunyai suatu permulaan yang baru. Begitu kita melewatkan waktu kita bersama-Nya, kita mungkin menyadari bahwa kita telah membuat banyak kesalahan. Lalu kita bertobat, mengaku dosa, dan mengalami pembersihan rohani yang sejati. Betapa besar belas kasihan-Nya sehingga kita mau bertobat, mengaku dosa, dan dibersihkan oleh Tuhan! Ini menunjukkan bahwa kita bukan ditentukan menjadi Firaun, melainkan menjadi anak-anak Allah, anak-anak belas kasihan.

Kita tidak seharusnya membaca pasal-pasal dalam Kitab Keluaran ini sebagai suatu cerita belaka. Pasal-pasal ini adalah gambar yang berharga yang mewahyukan kedaulatan Allah. Syukur kepada Tuhan karena dalam Alkitab ada satu bagian yang disediakan untuk menunjukkan kedaulatan Allah. Kita perlu merenungkan pasal-pasal ini berulang-ulang, sampai kita melihat kedaulatan Allah dan menyembah-Nya. Bertahun-tahun mungkin Anda telah menyembah Allah karena belas kasihan-Nya, tetapi bukan karena kedaulatan-Nya. Kini kita harus menyembah-Nya sebagai Yang berdaulat. Kita seharusnya berkata, “Tuhan Engkaulah Allah Yang berdaulat. Karena belas kasihan Yang berdaulat, jadilah aku salah seorang dari anak-anak-Mu. Haleluya, Engkau telah menetapkan aku menjadi salah satu dari anak-anak-Mu dan bukan menjadi Firaun.” Tatkala banyak orang sedang tenggelam dalam hiburan-hiburan dunia-wi, kita malah mencari Tuhan, dan bersidang bersama-sama dalam hadirat-Nya. Dalam belas kasihan-Nya Yang berdaulat, hati kita condong kepada-Nya. Karena belas kasihan-Nya kepada kita, kita mencari-Nya hari demi hari. Puji Allah, karena kita bukanlah Firaun hari ini, melainkan Musa hari ini!

Dalam pertentangan antara Allah dengan Firaun, kita juga dapat mempelajari cara yang tepat untuk bekerja bagi Allah. Cara yang tepat bukanlah berjerih lelah atau berusaha, tetapi mewakili Dia. Sama seperti Musa diutus oleh Allah, kita pun harus diutus oleh Dia.

Keluaran 11:3 mengatakan, “Musa adalah seorang yang sangat terpandang di tanah Mesir, di mata pegawai-pegawai Firaun dan di mata rakyat.” Musa tidaklah berperang atau bekerja keras. Sebagai wakil Allah, dia hanya menemui Firaun sekali demi sekali. Musa tidak bertindak semaunya sendiri. Setiap kali dia datang, dia datang sebagai seorang utusan Allah. Bahkan dia pun tidak berbicara semaunya kepada Firaun. Dia selalu mengatakan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk dikatakan, agar Firaun tahu apa yang Allah tuntut dari dia. Sebab itulah, Firaun sebenarnya bukan mendengarkan Musa dan berurusan dengan Musa; melainkan mendengarkan Allah dan berurusan dengan Allah. Musa adalah duta Allah, yang diutus oleh Allah. Cara untuk bekerja bagi Tuhan adalah menjadi wakil Allah yang sedemikian.

Saya ingin mengingatkan para sekerja untuk tidak bekerja begitu keras. Ini tidak berarti menyuruh kita bermalas-malasan atau santai. Maksud saya adalah agar kita menggunakan lebih banyak waktu untuk berhubungan dengan Tuhan. Dalam doa kita, kita tidak seharusnya berdoa terlalu banyak untuk pekerjaan kita. Sebaliknya, kita harus berdoa untuk menjamah Tuhan, mengenal isi hati-Nya dan mengetahui perasaan-Nya. Kita perlu tinggal dalam hadirat-Nya sampai Dia meresapi seluruh diri kita. Lalu kita akan mewakili Dia dan Dia akan mengutus kita. Ingat, hal ini tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, melainkan kepada belas kasihan Allah (Rm. 9:16). Tak perlu berusaha atau berkehendak. Kita hanya perlu mewakili Allah dan menjadi utusan-Nya.

Seorang rasul adalah seorang utusan. Dia diutus oleh orang yang diwakilinya. Sebagai utusan Allah, kita perlu memiliki kepastian bahwa di mana pun kita berada, kita ada di sana sebagai wakil Allah. Kita tidaklah berarti dan sangat lemah. Sebenarnya kita bukanlah apa-apa. Tetapi kita mewakili Allah. Selaku wakil Allah, kita tidak mengucapkan perkataan kita sendiri atau melakukan pekerjaan kita sendiri. Kita adalah semak belukar dan Tuhan adalah api yang menyala di tengah-tengah semak belukar itu. Api dan semak itu satu. Bila kita berada dalam realitas ini, sulitlah membedakan semak duri dengan api. Ini mengingatkan kita kepada perkataan Paulus dalam 1Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Cara yang tepat untuk bekerja bagi Allah adalah dengan memiliki kepastian bahwa kita mewakili orang yang kita kasihi dan layani. Ke mana pun kita pergi, kita tidak pergi berdasarkan diri sendiri, melainkan bersama Dia dan di dalam Dia.

Dalam pasal-pasal Kitab Keluaran ini, kita nampak Firaun yang degil dan Musa, wakil Allah. Melalui Firaun, Allah menampilkan diri-Nya sebagai Allah yang berdaulat, tetapi melalui Musa, Allah mempunyai seorang yang mewakili Dia dan melaksanakan kehendak-Nya. Puji Tuhan karena di antara kita tidak ada seorang pun yang menjadi Firaun, tetapi kita semua adalah Musa, yang bersatu dengan Tuhan! Dalam kedaulatan dan belas kasihan-Nya, ke mana pun kita pergi, kita pergi bersama Tuhan, mewakili Dia, dan melaksanakan kehendak-Nya. Kiranya kita semua menyembah Tuhan atas kedaulatan-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas belas kasihan-Nya!