← Daftar isi Keluaran (2) · bab 5/16

TAWAR-MENAWAR FIRAUN YANG LICIK

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk memperhatikan pertentangan terakhir antara Allah dengan Firaun, kita perlu memperhatikan kelicikan tawar-menawar Firaun. Firaun tidak hanya melambangkan Iblis, juga melambangkan ego dan manusia alamiah. Selain itu, sanak keluarga atau sahabat kita pun dapat menjadi Firaun hari ini terhadap kita. Bahkan, pikiran, tekad, atau emosi alamiah kita mungkin saja menjadi Firaun yang memberontak melawan Allah atau yang tawar-menawar secara licik dengan Allah.

I. PERMINTAAN ALLAH

A. MEMBIARKAN UMAT-NYA PERGI KE PADANG

GURUN TIGA HARI PERJALANAN JAUHNYA

Permintaan Allah terhadap Firaun tercantum dalam Keluaran 5:1. Menurut ayat ini Tuhan berkata kepada Firaun melalui Musa dan Harun, “Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.” Selanjutnya, Tuhan menuntut umat-Nya untuk menempuh perjalanan selama tiga hari ke padang gurun dan mempersembahkan kurban kepada-Nya (5:3). Perjalanan tiga hari ini tidak hanya melambangkan suatu perjalanan yang jauh, juga melambangkan penguburan dan kebangkitan. Dalam Alkitab, hari ketiga melambangkan kebangkitan, dan menurut Kejadian 1, daratan, lambang Kristus dalam kebangkitan, muncul pada hari ketiga. Itulah sebabnya, perjalanan tiga hari di sini melambangkan penguburan dan kebangkitan. Manusia alamiah harus dikuburkan agar umat Allah dapat dibangkitkan dari kematian kepada kebangkitan. Penyeberangan Laut Merah melambangkan proses penguburan dan kebangkitan. Dalam pandangan Allah maupun Iblis, bani Israel sudah melalui penguburan Laut Merah dan memasuki kebangkitan. Sebagai umat pilihan dan panggilan Allah, kita pun harus melalui proses penguburan dan kebangkitan yang sedemikian. Ini berarti kita harus menempuh perjalanan selama tiga hari untuk dikuburkan dan dibangkitkan. Dengan bantuan perjalanan semacam itu, umat Allah tidak saja keluar dari Mesir, juga memasuki suatu lingkungan yang baru dalam kebangkitan.

Ditinjau secara negatif, padang gurun melambangkan tempat pengembaraan, tetapi secara positif, melambangkan suatu wilayah pemisahan. Sewaktu bani Israel memasuki padang gurun, mereka terpisah dari segala yang berbau Mesir, segala yang berbau dunia atau duniawi. Pemisahan ini berhubungan dengan penguburan dan kebangkitan. Pada suatu saat kita berada di Mesir, yakni di dunia. Namun, melalui penguburan dan kebangkitan kita telah melewati dunia dan masuk ke padang gurun di mana kita terpisah bagi Tuhan. Dalam penanggulangan-Nya terhadap Firaun, Allah meminta suatu pemisahan bagi umat-Nya.

B. AGAR UMAT-NYA

MENGADAKAN PERAYAAN BAGI-NYA DAN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN BAGI-NYA

Namun demikian, pemisahan bukanlah sasaran ter-akhir. Allah berkehendak agar bani Israel mengadakan perayaan bagi-Nya. Dia menghendaki mereka bergembira bersama-Nya dalam hadir-Nya. Mengadakan perayaan bagi Allah ialah menikmati Allah bersama-sama Allah. Setiap orang yang benar-benar beroleh selamat pasti pernah berkali-kali mengalami sukacita yang meluap di hadapan Tuhan. Waktu-waktu inilah baru benar-benar perayaan. Jika Anda belum pernah menikmati perayaan yang demikian dengan Tuhan, tetapi hanya bergembira bila tenggelam dalam penghiburan duniawi, mungkin Anda belum diselamatkan. Diselamatkan tidak tergantung pada pengalaman akan kenikmatan yang demikian. Akan tetapi, setiap orang yang beroleh selamat, dalam kehidupan kekristenannya, paling sedikit pasti pernah satu kali mengadakan perayaan bersama Tuhan seraya menikmati Tuhan dalam hadir-Nya. Kadang-kadang saya merasa dikelilingi oleh sukacita sehingga seolah-olah saya menari-nari di hadapan-Nya. Ini bukanlah doktrin atau teori, melainkan suatu kenikmatan yang menakjubkan dari keselamatan kita.

Tidak hanya demikian, bani Israel masih harus mem-persembahkan kurban kepada Tuhan. Menurut pengalaman kita, sewaktu kita mengadakan perayaan bagi Tuhan, menikmati Dia dalam hadir-Nya, hati kita terjamah dalam-dalam oleh Tuhan Yesus. Dia menjadi begitu menawan dan mustika bagi kita, dan kita memiliki kasih yang segar kepada-Nya. Kita benar-benar tak dapat mengatakan betapa manisnya Dia terhadap kita. Dia menjamah batin kita yang terdalam dan kita membalasnya dengan bersyukur kepada Bapa atas Anak-Nya yang manis. Inilah mempersembahkan kurban kepada Allah, mempersembahkan Kristus yang mustika kepada Allah sebagai kurban. Tatkala kita memper-sembahkan kurban kepada Allah, mempersembahkan Kristus yang mustika kepada Bapa, Bapa gembira, senang, dan dipuaskan oleh kita demi persembahan Kristus kita. Sebab itu, permintaan Allah kepada Firaun ialah membiarkan umat-Nya menempuh perjalanan tiga hari jauhnya ke padang gurun agar mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Nya dan mempersembahkan kurban kepada-Nya. Inilah kenikmatan terhadap keselamatan Allah.

II. TAWAR-MENAWAR LICIK FIRAUN

A. MENOLAK PERMINTAAN ALLAH

Mulanya Firaun menolak permintaan Allah dan berkata, “Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi” (5:2). Iblis itu licik. Diri dan manusia alamiah kita atau orang lain juga licik. Bahkan pikiran, tekad, dan emosi kita pun licik. Faktanya, setiap barang yang alamiah itu licik. Melalui hal ini kita nampak bahwa Firaun dapat ditemukan di mana-mana. Firaun menyangkal Allah dan mengabaikan permintaan-Nya untuk membiarkan bani Israel pergi.

Saya tidak percaya bahwa sebenarnya Firaun tidak mengenal adanya Allah Yehova ini. Firaun seharusnya sudah mengetahui adanya Yehova (TUHAN) itu, tetapi dia dengan sengaja menyangkal-Nya. Dia dengan sombong bertanya mengapa dia harus mendengarkan firman Allah. Manusia alamiah berbuat hal yang sama pada hari ini. Contohnya, istri seorang saudara mungkin mengetahui adanya Allah, namun dia mungkin menolak permintaan-Nya. Saudara itu mungkin mengatakan kepada istrinya bahwa dia menerima panggilan Tuhan. Istrinya mungkin menjawab, “Siapa itu Allah? Mengapa aku harus menjawab panggilan-Nya kepadamu?” Pada saat itu, si istri ini adalah seorang Firaun yang menolak Allah dan panggilan-Nya.

Sebenarnya, Iblis yang di dalam Firaunlah yang menyangkal Allah. Iblis tahu benar bahwa ada Allah, karena ada sejangka waktu dia ada dalam hadir Allah. Namun, Iblis bekerja didalam Firaun untuk menyangkal Allah dan menolak untuk mendengarkan Dia. Inilah tahap pertama dari tawar-menawar licik Firaun.

Banyak orang yang beroleh selamat melakukan tawar-menawar dengan Tuhan secara demikian sewaktu mereka mendengarkan Injil untuk kali pertama. Di lubuk mereka yang terdalam, mereka berkata, “Siapakah Allah? Mengapa aku harus mendengarkan Dia? Mengapa bukan Dia yang mendengarkan aku? Mengapa aku membutuhkan-Nya? Dia-lah seharusnya yang membutuhkan aku. Setahuku, langit dan bumi seharusnya untukku.” Banyak yang telah berdalih dengan Tuhan Allah secara demikian.

Reaksi Allah atas tawar-menawar yang licik ini adalah menurunkan tulah. Saya telah nampak hal ini berkali-kali. Contohnya, seorang mahasiswa kedokteran yang pintar, mungkin berbantah dengan Allah sewaktu dia mendengarkan Injil. Dia mungkin berdebat dengan Allah dan mengatakan kepada-Nya bahwa dia tidak bermaksud mendengarkan Allah. Allah tidak berdebat, sebaliknya mendatangkan tulah tertentu, mungkin semacam penyakit yang tidak dapat didiagnosis oleh dokter, untuk membawa pemuda ini bertobat dan beriman dalam Kristus. Dalam mengirimkan tulah itu, Allah menggunakan jari-Nya. Ahli-ahli sihir dari Mesir mengerti bahwa salah satu tulah didatangkan oleh jari Allah (8:19). Firaun berdalih dengan Allah sampai tulah-tulah mulai berdatangan. Namun demikian, begitu setiap tulah berlalu, Firaun mulai berdalih lagi dengan Tuhan. Karena itu, Allah mendatangkan tulah satu demi satu.

Sedikit sekali orang yang menerima Injil tanpa kebimbangan dan pertimbangan. Untuk menanggulangi tawarmenawar semacam ini, Allah menurunkan tulah berulangulang.

B. MENAWARKAN MEMBIARKAN ISRAEL

MEMPERSEMBAHKAN KURBAN

KEPADA ALLAH MEREKA DI MESIR

Tahap kedua dari tawar-menawar Firaun terlihat dalam perkataan-Nya kepada Musa dan Harun, “Pergilah, persembahkanlah kurban kepada Allahmu di negeri ini” (8:25). Di sini Firaun memberi tahu mereka bahwa mereka boleh mempersembahkan kurban kepada Allah mereka asalkan mereka tetap tinggal di tanah Mesir. Tidak perlu pergi ke padang gurun. Firaun mengakui adanya satu Allah dan bahwa umat-Nya dituntut untuk melayani dan mempersembahkan kurban kepada-Nya. Tetapi dia tidak mengizinkan mereka meninggalkan negaranya. Mereka boleh mempersembahkan kurban kepada Allah, asalkan mereka tetap tinggal di Mesir.

Terhadap usul yang licik ini Musa menjawab, “Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab kurban yang akan kami persembahkan kepada TUHAN, Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan kurban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu?” (8:26). Musa tahu bahwa kurban yang dipersembahkan umat Allah kepada Tuhan akan menjadi suatu kekejian bagi orang Mesir. Apa yang diterima Allah akan ditolak oleh orang-orang Mesir. Karena itu, mereka tidak dapat mempersembahkan kurban kepada Allah di tanah Mesir.

Dengan mengeraskan hatinya, Firaun menolak untuk mendengarkan Musa. Kemudian Tuhan mendatangkan tulah yang lain. Sebenarnya Iblis dan manusia alamiah harus melihat kesia-siaan dari perdebatan dengan Allah! Allah itu agung dan Dia mempunyai cara untuk menanggulangi kita. Ketika kita selesai berdalih dengan-Nya, Dia cukup menggunakan sebuah jari-Nya untuk menanggulangi kita dengan tulah yang lain.

C. MENAWARKAN MEMBIARKAN ISRAEL PERGI

TIDAK TERLALU JAUH

UNTUK MEMPERSEMBAHKAN KURBAN

KEPADA ALLAH MEREKA DI PADANG GURUN

Dalam tahap ketiga dari tawar-menawarnya yang licik, Firaun berkata, “Baik, aku akan membiarkan kamu pergi untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allahmu, di padang gurun; hanya janganlah kamu pergi terlalu jauh” (8:28). Jikalau bani Israel menyetujui untuk tidak pergi terlalu jauh, Firaun akan dengan mudah menangkap mereka setiap kali dia menginginkannya. Kadang-kadang, Firaun masa kini mengizinkan kita untuk percaya kepada Tuhan Yesus, asalkan kita tidak melakukan hal-hal yang menurut mereka keterlaluan. Mereka menganjuri kita untuk seimbang dan tidak pergi terlalu jauh. Misalnya, seorang ayah mungkin berkata kepada anak-anaknya, “Sewaktu aku masih muda, aku pun percaya kepada Yesus. Tetapi kalian terlalu ekstrem dalam mengikuti Tuhan. Kalian tidak perlu bersidang selama beberapa kali dalam seminggu. Bukankan cukup satu jam pada hari Minggu pagi? Memang baik percaya kepada Yesus, namun jangan terlalu fanatik.”

Setelah Firaun berdalih dengan Allah demikian, Tuhan menurunkan tulah yang lain. Dia pun melakukan hal yang sama terhadap Firaun masa kini. Sewaktu manusia alamiah berontak melawan Allah, Allah menurunkan tulah ke atasnya.

D. MENAWARKAN MEMBIARKAN LAKI-LAKI SAJA

YANG BOLEH PERGI MELAYANI ALLAH MEREKA

Karena tidak sanggup menahan tulah-tulah itu, Firaun setuju membiarkan orang laki-laki bani Israel pergi melayani Allah mereka, namun tanpa anak-anak dan orang tua (10:8-11). Ketika Firaun bertanya siapa yang hendak pergi melayani Tuhan, Musa berkata, “Kami hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-anak lelaki kami dan perempuan, dengan kambing domba kami dan lembu sapi kami” (10:9). Kemudian Firaun mulai berdalih lagi, dengan mengatakan mereka adalah jahat (ayat 10). Lalu Firaun berkata, “Bukan demikian, kamu boleh pergi, tetapi hanya laki-laki, dan beribadahlah kepada TUHAN” (ayat 11). Firaun berpura-pura mengasihi mereka dengan mempedulikan mereka dan tidak menginginkan sesuatu yang jahat menimpa mereka. Betapa liciknya!

Banyak orang yang seperti ini pada hari ini. Orang tua dari anak-anak muda mungkin berkata kepada mereka, “Sebagai orang yang lebih tua aku mengetahui cobaan dalam kehidupan manusia. Kamu tidak tahu hal-hal yang jahat yang akan kamu hadapi dalam masa depanmu. Karena itu, aku menganjurkan kamu untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikuti-Nya, namun bukan dengan sepenuhnya. Jika kamu hendak mengikuti Dia dengan sepenuh hati, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi padamu.” Di sini Firaun memakai kasih untuk menghalangi umat itu dari Tuhan. Selama Firaun masih menahan para istri, anak-anak, dan orang-orang tua, laki-laki dewasa tidak akan benar-benar meninggalkan Mesir, karena hati mereka masih berada di Mesir. Karena Firaun tidak mau membiarkan bani Israel pergi seluruhnya, maka tulah yang lebih keras menimpa orang-orang Mesir, yaitu tulah belalang.

E. MENAWARKAN MEMBIARKAN BANI ISRAEL

PERGI MELAYANI ALLAH MEREKA TANPA

KAMBING DOMBA DAN LEMBU SAPI MEREKA

Tulah belalang memaksa Firaun untuk tawar-menawar lagi dengan Allah. Saat ini dia berkata, “Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu” (10:24). Saran ini pun licik. Musa menjawab Firaun dengan baik sekali, “Bahkan kurban sembelihan dan kurban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami. Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kaki pun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil untuk beribadah kepada TUHAN, Allah kami”

(10:25-26). Musa tidak mengatakan bahwa bangsa itu memerlukan ternak untuk kehidupan mereka; ternak itu diperlukan sebagai sesuatu yang disediakan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa Musa tidak menitik beratkan kehidupan bangsa itu. Dia hanya memberatkan hal penyediaan sesuatu untuk dipersembahkan kepada Allah. Mereka memperhatikan keperluan Allah, bukan keperluan mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak setuju kambing domba dan lembu sapi mereka tinggal di Mesir. Karena marah atas jawaban Musa, Firaun melarang mereka untuk kembali lagi.

Banyak orang di antara kita telah mengalami kelima tahap tawar-menawar dengan Tuhan. Mula-mula kita menyangkal Tuhan, kemudian kita percaya namun ingin tetap tinggal di Mesir. Lalu kita mau meninggalkan Mesir tetapi tidak pergi terlalu jauh. Setelah itu menyusul perundingan mengenai apa yang harus ditinggalkan di Mesir. Firaun tahu di mana harta seseorang, di sanalah hatinya (Mat. 6:21). Jika Firaun dapat menahan kekayaan kita, hati kita akan ada di tangannya.

Banyak orang Kristen percaya kepada Tuhan Yesus, namun mereka tidak mengubah kedudukan mereka. Mereka masih tinggal di Mesir, di dunia. Namun, jika kita tetap tinggal di Mesir setelah kita percaya kepada Tuhan, dosa kita boleh diampuni, tetapi kita tidak dilepaskan dari kekuasaan lalim Iblis. Menetap di Mesir ialah menetap di bawah kekuasaan lalim Iblis.

Yang lain mau pergi tidak jauh dari Mesir. Dengan berbuat ini mereka mungkin bangga akan kepandaian mereka, mengira bahwa mereka itu bijak dan seimbang. Mereka suka menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang ekstrem.

Orang yang lain berada dalam tahap ketiga, keempat, kelima dari tawar-menawar dengan Allah. Iblis mengizinkan mereka pergi, namun tanpa anak-anak mereka. Sejumlah besar orang Kristen masih memiliki kekayaan dan harta benda mereka di dunia. Ini membuktikan bahwa mereka belum lagi keluar dari Mesir. Pembaptisan mereka mungkin adalah penyeberangan Laut Merah, tetapi itu hanyalah sekadar tata cara bagi mereka untuk menjadi seorang pemeluk agama. Kita bersyukur kepada Tuhan karena sebagian besar orang yang berada dalam pemulihan Tuhan telah keluar dari Mesir.

Kelima tahap tawar-menawar ini terulang setiap kali kita mengabarkan Injil. Jarang sekali seseorang beroleh selamat dengan jelas pada kali pertama dia mendengar Injil. Kebanyakan orang meronta, meragukan, dan melakukan tawar-menawar. Pada akhirnya jari Allah digerakkan terhadap mereka. Kita mungkin memakai pikiran kita untuk tawar-menawar dengan Tuhan dan berdalih dengan Dia. Tetapi Allah tidak mempedulikan dalih kita. Ketika tawar-menawar kita berlalu, kembali Dia menunjukkan kuasa-Nya atas keadaan kita.

III. KETEGUHAN ALLAH

A. TEGUH PADA PERMINTAAN-NYA YANG MUTLAK

Tak peduli bagaimana Firaun tawar-menawar dengan Allah, Allah tetap teguh. Tidak ada apa pun yang dapat mengubah-Nya. Sekali Dia meminta sesuatu dari kita, Dia tidak akan diam. Sebaliknya, Dia akan menanti sampai permintaan-Nya kita penuhi. Tidak ada gunanya kita berbantah dengan Dia. Dia sabar, kadang-kadang menunggu selama bertahun-tahun sampai kita menaati tuntutan-Nya. Kita mungkin berpikir sesudah sejangka waktu, Tuhan akan mengubah maksud hati-Nya. Tetapi kita malah menemukan bahwa Dia lebih sabar daripada sebelumnya. Langit dan bumi boleh berlalu, tetapi kehendak-Nya akan tetap selama-lamanya. Firaun seharusnya menyadari bahwa Allah itu teguh dan tidak akan mengubah permintaan-Nya yang mutlak.

B. MEMAKAI TULAH TERAKHIR UNTUK

MEMAKSA FIRAUN MENGUSIR BANI ISRAEL

KELUAR DARI MESIR

Dalam keteguhanNya agar permintaan-Nya dilaksanakan, Tuhan memakai tulah terakhir pembunuhan anak-anak sulung, untuk memaksa Firaun mengusir seluruh orang Israel keluar dari Mesir (12:29-33). Tak peduli betapa degilnya Firaun, dia tidak dapat melawan tulah ini. Firaun berkata kepada Musa dan Harun, “Bangunlah, keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel; pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, seperti katamu itu” (12:31). Selanjutnya, Firaun berkata kepada mereka. “Bawalah juga kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu, tetapi pergilah” (ayat 32).

C. MEMBUAT ORANG MESIR RELA

MEMBERIKAN PAKAIAN

DAN PERHIASAN KEPADA ORANG ISRAEL

Keluaran 12:35 dan 36 mengatakan, “Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.” Allah membuat orang Mesir rela memberikan barang-barang perhiasan dan kain-kain kepada orang Israel. Demikianlah bangsa Israel merampasi orang Mesir itu. Itulah sebabnya, ketika tiba saatnya membangun Kemah Pertemuan, mereka memiliki bahan yang cukup.

Beberapa orang mungkin mengira bahwa Allah tidaklah adil membiarkan bangsa Israel merampasi orang Mesir sedemikian rupa. Ingatlah, Firaun telah memaksa bangsa Israel membangun kota-kota perbekalan baginya. Dalam kerja paksa ini, dia tidak membayar mereka sedikit pun. Maka, perampasan terhadap orang Mesir sebenarnya merupakan perhitungan bayaran itu. Dalam keadilan dan kebenaran-Nya, Tuhan telah mengadakan perhitungan mengenai jumlah yang harus dibayarkan. Betapa menakjubkannya, tulah terakhir tidak hanya memaksa Firaun dan orang Mesir mengusir orang Israel keluar dari negerinya, tetapi juga membuat mereka rela memberikan apa saja yang diminta orang Israel dari mereka.

Bahkan perkara perampasan terhadap orang Mesir memiliki suatu penerapan pada hari ini. Saya mengenal beberapa orang yang mula-mula tawar-menawar dengan Tuhan, namun pada akhirnya diselamatkan sepenuhnya oleh Dia. Setelah mereka diselamatkan, mereka merampasi dunia dengan tuntas dan membawa sejumlah barang-barang yang baik untuk Tuhan dari dunia. Banyak yang dapat bersaksi bahwa setelah mereka terpanggil dan diselamatkan, mereka tidak meninggalkan apa-apa di dunia. Sebaliknya, semua yang mereka punyai mereka ambil dari dunia bagi tujuan Allah.

Telah kita tunjukkan bahwa benda-benda yang diberikan orang Mesir kepada orang Israel digunakan untuk pembangunan Kemah Pertemuan. Perak dipakai membuat alas dan emas dipakai untuk melapisi papan dan menyalut barang lain dalam Kemah Pertemuan. Dalam pandangan orang Mesir, penggunaan emas dan perak mereka secara demikian merupakan pemborosan. Tetapi dalam pandangan Allah, ini bukanlah pemborosan. Kekayaan Mesir telah dirampas untuk kehendak Allah.

Selama berabad-abad, banyak orang yang telah dipanggil oleh Tuhan dan dilepaskan-Nya dari dunia telah membawa sejumlah besar barang kepada-Nya untuk diboroskan bagi kepentingan-Nya dan bagi kehendak-Nya. Misalnya, ketika Maria mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak narwastu yang mahal, Yudas menganggap hal ini sebagai suatu pemborosan. Dia berkata bahwa minyak itu dapat dijual, kemudian uangnya diberikan kepada orang-orang miskin (Yoh. 12:3-5). Dia heran mengapa begitu banyak yang diboroskan atas diri Tuhan Yesus. Tetapi semua yang dirampas dari dunia seharusnyalah dibawa kepada Tuhan Yesus dan diboroskan pada diri-Nya. Melakukan hal ini adalah diselamatkan pada puncak yang tertinggi. Inilah tanda kasih kita yang dalam terhadap Tuhan, tanda bahwa kita benar-benar diselamatkan. Akhirnya, apa yang kita rampas dari dunia dibawa untuk digunakan bagi tempat kediaman Allah.

Inilah pengalaman kita pada hari ini. Bukan hanya diri kita telah meninggalkan Mesir, tetapi kita pun tidak meng-izinkan segala yang berhubungan dengan kita tertinggal di dunia. Sebaliknya, kita merampas kekayaan dunia dan memboroskannya pada diri Tuhan sebagai bukti kasih kita kepada-Nya. Harta rampasan ini kemudian dipakai dalam pembangunan tempat kediaman Allah di bumi.