PERMINTAAN ALLAH DAN PENOLAKAN FIRAUN (5)
Dari Keluaran 9:13 sampai 10:5 kita sampai pada tulah kelompok ketiga. Seperti dua kelompok yang di depan, kelompok ini juga terdiri atas tiga macam tulah. Kita telah nampak, Allah menggunakan enam tulah yang di depan untuk menyingkapkan keadaan air, tanah, dan udara yang sesungguhnya. Kesemuanya ini adalah keperluan hidup manusia. Kita akan nampak, dalam tulah kelompok ketiga, Allah mengubah beberapa prinsip daya pengatur alam semesta.
Dalam Kejadian 1 dan 2, Allah telah memulihkan alam semesta yang terhukum karena pemberontakan Iblis. Akibat penghukuman Allah adalah gelap gulita, segalanya menjadi kosong dan gersang. Dalam penciptaan pemulihan dan penciptaan yang lebih lanjut Allah menampilkan terang, kemudian mengumpulkan air pada suatu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Dari daratan inilah timbul bermacam-macam hayat rumput, sayur-mayur, dan pohonpohon. Selanjutnya Allah menjadikan matahari, bulan, dan bintang-bintang, untuk menghasilkan hayat yang lebih tinggi di daratan ini. Melalui proses ini, Allah mempersiapkan segala keperluan kehidupan manusia di daratan. Sebab itu, Alkitab mewahyukan bahwa langit untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia yang mempunyai roh untuk Allah.
Karena langit untuk bumi, maka langit menyuplaikan terang matahari, angin, dan hujan, untuk mempertahankan hayat di bumi. Tanpa ketiga hal ini, apa saja tidak mungkin bertumbuh. Kalau manusia mau hidup di bumi untuk merampungkan kehendak Allah, ia harus mempunyai suplai-suplai ini.
IX. PERTENTANGAN YANG KESEMBILAN
Kejadian 2:5 menunjukkan bahwa pertumbuhan segala tumbuh-tumbuhan memerlukan dua hal: langit menurunkan hujan dan manusia mengusahakan tanah. Air hujan adalah syarat utama bagi pertumbuhan makhluk hidup di bumi. Bagi hayat, air hujan adalah kebutuhan yang utama. Hujan bisa menumbuhkan semua makhluk hidup. Air hujan berfungsi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan meleraikan dahaga manusia.
Dalam pertentangan TUHAN dengan Firaun pada kali yang kesembilan, TUHAN mengubah daya guna hujan (9:13-35). Langit bukan menurunkan hujan, sebaliknya menurunkan es yang merusak hasil dari tanah. Dalam tulah kali ini, Allah mengubah salah satu daya alam semesta, yaitu Dia mengubah satu macam hukum alam yang mengatur alam semesta.
Alam semesta bukan hanya diciptakan oleh Allah, juga diatur dan ditetapkan agar sesuai dengan kebutuhan manusia. Sebab itu, Allah menetapkan beberapa prinsip atau hukum untuk mengatur daya guna alam semesta. Dalam tulah ketujuh, Allah mengubah prinsip yang bersangkutan dengan daya guna air hujan. Air hujan tidak lagi mendiris tanah untuk menumbuhkan hayat, sebaliknya malah menjadi es yang merusak hayat di bumi. Air tidak meleraikan dahaga manusia, malah membunuh manusia. Keluaran 9:23 mengatakan bahwa guruh dan hujan es, dan api pun menyambar ke bumi. Bukan hanya demikian, bahkan turunlah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat (ayat 24). Jadi, dua macam hal yang ekstrem bercampur menjadi satu. Ini menyatakan Allah telah mengubah daya guna alam semesta.
Mungkin sekali tulah ini cocok dengan pengalaman rohani kita pribadi. Kalau hubungan kita dengan Allah normal, Dia menurunkan hujan rohani ke atas diri kita, mengairi taman roh kita, dan meleraikan dahaga kita. Tetapi kalau kita sangat keras kepala, tegar, atau memberontak terhadap Tuhan, maka hubungan kita dengan Dia terusak, lalu Dia mengubah daya guna hujan rohani menjadi hujan es, menghujani roh kita, bahkan menurunkan hujan es dan api. Pengubahan daya guna rohani ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar.
X. PERTENTANGAN KESEPULUH
Tulah kedelapan terjadi pada masa pertentangan kesepuluh (10:1-20). Dalam pertentangan ini kita nampak perubahan fungsi alam semesta yang lain. Kali ini Allah mengubah daya guna angin. Dalam keadaan normal, angin menyuplaikan udara yang segar. Kalau tidak ada angin, kita akan mati lemas. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena fungsi angin mempertahankan hayat kita di bumi. Dari segi rohani, Tuhan terhadap kita adalah angin juga. Ada satu nyanyian mengatakan, “Nyaman s’pri angin sepoi, tak henti ku hirup” (kuningKidung No. 142). Untuk kehidupan rohani yang normal, kita perlu mengalami Kristus sebagai angin sepoi-sepoi.
Dalam tulah kedelapan, Allah mengubah daya guna angin sehingga angin tidak lagi menyuplaikan udara yang segar untuk mempertahankan hayat. Sebaliknya, muncullah belalang, memakan habis yang tertinggal oleh tulah hujan es. Hujan es secara kasar merusak sayur-mayur dan pepohonan, tetapi belalang secara mutlak memakan hayat nabati. Seperti yang dikatakan Keluaran 10:15, “Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.” Yang dilakukan belalang sangat tuntas! Dalam hal menghukum orang Mesir dan mendidik orang Israel, Allah melakukan pekerjaan yang teliti dan tuntas. Setelah hujan es, datanglah belalang memakan habis suplai hayat. Ini dikarenakan perubahan salah satu fungsi alam semesta.
Setelah delapan tulah ini, kelihatannya tidak ada penghukuman dan pendidikan yang lebih lanjut lagi. Lihatlah seluruh tanah Mesir telah mengalami kerusakan hebat: Air menjadi darah, debu menjadi nyamuk, dari air bermunculan katak-katak, lalat mencemari udara, penyakit sampar membunuh ternak, di atas diri manusia dan ternak terjadi barah yang melepuh, hujan air menjadi hujan es, angin mendatangkan belalang. Perusakan yang sangat tuntas! Kalau saya berada di sana, saya akan berkata kepada Tuhan bahwa tulah-tulah ini sudah cukup, karena semuanya telah terusak.
XI. PERTENTANGAN KESEBELAS
Tetapi Allah masih tidak berhenti. Dalam tulah kesembilan, Allah mengubah fungsi matahari (10:21-29). Dalam pertentangan kali kesebelas antara Allah dengan Firaun, “Datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari” (10:22). Kegelapan ini begitu pekat sehingga orang dapat meraba gelap itu. Bukan suatu gelap gulita yang kabur, yang abstrak, melainkan suatu gelap gulita yang aktual (betul-betul ada) dan sungguh-sungguh. Keluaran 10:23 mengatakan, “Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari.” Karena kepekatan kegelapan ini, segala aktivitas di Mesir terhenti. Selama tiga hari, semua perkara terhenti. Di sini kita nampak hikmat Allah. Untuk menanggulangi orang Mesir, Allah tidak menggunakan senjata yang dianggap kuat oleh manusia. Sebaliknya, Dia memakai katak, nyamuk, dan lalat. Dia menggunakan kuasa pengaturan-Nya terhadap alam semesta, mengubah prinsip dan hukum alam, di atas diri orang Mesir menurunkan kegelapan yang begitu pekat, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa bergerak.
Tulah kelompok ketiga lebih bermakna daripada dua kelompok sebelumnya, karena dalam tulah-tulah ini, Allah menanggulangi hujan, angin, dan sinar matahari. Ini membuat orang-orang Mesir tidak bisa meneruskan kelangsungan hidup mereka. Tidak heran kalau para pegawai Firaun berkata kepada Firaun, “Berapa lama lagi orang ini akan menjadi jerat kepada kita? Biarkanlah orang-orang itu pergi supaya mereka beribadah kepada TUHAN, Allah mereka. Belumkah tuanku insyaf bahwa Mesir pasti akan binasa?” (10:7). Tetapi Firaun tetap mengeraskan hatinya.
Firaun mempunyai tenaga yang luar biasa untuk menentang Allah. Dia dapat menahan bermacam-macam penderitaan dan tidak takluk. Kalau saya adalah Firaun, pada tulah yang pertama, saya akan takluk kepada Tuhan. Ketika saya melihat air menjadi darah, saya akan menyuruh orang Israel meninggalkan wilayah saya. Tetapi biarpun tanah Mesir telah dipukul oleh tulah demi tulah, daya guna alam semesta yang berhubungan dengan Mesir pun berubah, Firaun tetap mengeraskan hatinya.
Firaun dengan Musa dan Harun tawar-menawar beberapa kali. Dalam Keluaran 10:8, Firaun berkata kepada mereka, “Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu. Siapa-siapa sebenarnya yang akan pergi itu?” Musa mengerti taktik Firaun, lalu menjawab, “Kami hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-anak lelaki kami dan perempuan; dengan kambing domba kami dan lembu sapi kami, sebab kami harus mengadakan perayaan untuk TUHAN” (ayat 9). Mendengar perkataan ini, Firaun berkata bahwa jahatlah maksud mereka, artinya, anak-anak mereka akan terancam bahaya sehingga mereka terluka atau terbunuh. Kemudian Firaun menyuruh anak-anak tetap tinggal, dan memperbolehkan laki-laki dewasa pergi beribadah kepada TUHAN. Di sini kita nampak kelicikan Firaun. Yang menjadi ibu bapa semuanya tahu, meninggalkan anak-anak, bagi mereka adalah satu hal yang sangat sulit, karena hati mereka ada pada diri anak-anak. Firaun sangat jelas akan hal ini. Dengan menahan anak-anak, Firaun mencoba tawar-menawar dengan Musa, Harun. Tetapi mereka tidak setuju akan tawaran Firaun. Sebalik-nya, Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir, maka tulah kedelapan, yaitu tulah belalang datang ke atas diri Firaun dan orang Mesir.
Dalam masa gelap, Firaun sekali lagi melakukan tawar-menawar dengan Musa dan Harun. Kali ini dia berkata, “Pergilah, beribadah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu” (10:24). Meskipun Allah dengan hebat memukul Firaun, tetapi dia tetap tidak mau mendengarkan permintaan Allah. Sebaliknya, terus tawar-menawar. Terhadap tawar-menawar ini Musa menjawab, “Bahkan kurban sembelihan dan kurban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami. Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kakipun tidak akan tinggal” (10:25-26).
Menurut 9:15-16, TUHAN Allah berkata kepada Firaun, “Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Ayat 16 mengatakan Allahlah yang membiarkan Firaun tetap hidup. Dari sudut yang tertentu boleh dikatakan Allah yang menunjang dia. Allah perlu orang yang demikian keras tetap hidup. Bersandar diri sendiri Firaun tidak bisa tetap hidup; sebab itu, Allah yang membuat dia tetap hidup. Untuk memperlihatkan kekuatan-Nya, dan memasyhurkan nama-Nya di seluruh bumi, Allah memerlukan Firaun yang keras kepala.
Kita telah menunjukkan, tulah yang menimpa Mesir bukan hanya untuk penghukuman, tetapi juga untuk mendidik orang Mesir dan orang Israel. Kalau kita tidak mempunyai 14 pasal pertama dari Kitab Keluaran, saya tidak percaya kita bisa dengan jelas mengenal dunia, atau dengan jelas melihat sikap Allah terhadap dunia. Firaun tidak takluk itu adalah satu hal yang mengherankan. Bahkan sampai anak sulungnya terbunuh, dia masih tidak takluk. Ini dapat dibuktikan dari fakta, yaitu kemudian dia mengejar orang Israel. Allah memakai Firaun untuk mendidik orang Mesir, orang Israel, dan umat-Nya dari zaman ke zaman. Hari ini orang-orang dalam gereja harus belajar memahami dari ayat-ayat dalam Kitab Keluaran ini mengenai hakiki, makna, dan kesudahan kehidupan dunia, serta sikap Allah terhadap kehidupan semacam ini. Hanya setelah mendapatkan wahyu sedemikian ini, kita baru bisa sungguh-sungguh membenci kehidupan dunia.
Hari ini banyak orang Kristen membenci dosa, tetapi sedikit yang membenci dunia. Tetapi Yakobus 4:4 mengatakan: “Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, siapa saja yang hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Mungkin kita sangat hati-hati, tidak mau marah-marah, tetapi kita terlalu acuh tak acuh dalam menjaga hati kita agar jangan mengasihi dunia. Marah-marah itu dosa, tetapi mengasihi dunia itu bermusuhan dengan Allah. Bagi Allah, dunia lebih celaka daripada dosa. Dosa melanggar keadilan Allah, tetapi dunia melanggar kekudusan Allah, dan kekudusan Allah lebih tinggi daripada keadilan Allah. Kita sangat membutuhkan pendidikan yang diberikan oleh Kitab Keluaran kepada kita. Melalui beberapa pasal yang awal, kita nampak betapa bencinya Allah kepada dunia. Kalau kita mendapat pelajaran dari pasal-pasal ini, maka kita bukan hanya membenci dosa, juga membenci dunia.
Beberapa pengajar dari aliran modernis memberikan sanggahan. Mereka berkata bahwa dalam hal Allah mencampuri Firaun, Allah berlaku tidak adil. Firaun tidak ada salahnya bertindak dalam wilayah kekuasaannya. Mereka tidak nampak bahwa Allah memakai Firaun untuk mendidik umat pilihan-Nya. Untuk merampungkan kehendak-Nya, Allah membuat Firaun tetap ada. Allah memerlukan dia, dan memakai dia untuk mendidik umat-Nya, supaya mereka mendapat banyak pelajaran.
Saya sangat menghargai pelajaran yang diberikan oleh tulah-tulah ini, terutama pelajaran mengenai dunia. Saya jadi orang Kristen lima puluh tahun lebih, tetapi belum pernah demikian sungguh-sungguh mengenal dunia, seperti yang saya peroleh belakangan ini dalam pembacaan mengenai sepuluh tulah. Tulah-tulah ini, mendidik saya memahami banyak pelajaran mengenai hakiki, makna, dan kesudahan dunia.
Kalau kita nampak darah, katak, kutu, sampar, barah, hujan es, belalang, dan gelap gulita, tidak perlu orang lain menganjuri kita jangan mengasihi dunia lagi. Dengan sendirinya kita nampak bahwa hal-hal dunia tidak patut dikasihi, serta dengan sendirinya kita tidak mengasihi dunia. Apakah Anda mengasihi katak, kutu, sampar, lalat, belalang, dan kegelapan? Tentu tidak. Kalau Anda sampai mengasihi hal-hal itu, itu karena Anda tidak mengenal mereka, karena Anda tidak nampak keadaan mereka yang sebenarnya. Misalnya, Anda mungkin mengira darah itu air, atau nyamuk itu debu. Jika Anda telah melihat keadaan hal-hal dunia yang sebenarnya, barulah Anda bisa tidak mengasihi hal-hal itu.
Karena Firaun dan ketegarannya, kita bersyukur kepada Tuhan. Dalam Roma 9, Paulus mengambil perkara Firaun sebagai contoh. Karena Firaun tidak takluk, maka Allah berkali-kali menurunkan tulah ke atas diri orang Mesir. Setiap tulah, selalu memberi kita satu pelajaran. Kalau kita mempunyai kesan yang dalam terhadap makna tulah-tulah ini, kita akan terpisah dari dunia, dan membenci kehidupan dunia.
Dalam tulah yang pertama ada darah, dalam tulah yang kesembilan ada kegelapan. Darah dan kegelapan sama-sama melambangkan kematian. Sebab itu tulah-tulah ini berasal dari kematian, dan kepada kematian. Kehidupan dunia seluruhnya adalah satu perkara kematian. Tetapi menurut Kejadian 1 dan 2, penetapan penciptaan Allah adalah dari hayat kepada hayat. Karena manusia yang jatuh mencintai dunia, maka Allah melalui tulah-tulah menyingkapkan bahwa dunia bukan dari hayat kepada hayat, melainkan dari darah kepada kegelapan, dari kematian kepada kematian. Di antara darah dan kegelapan ada katak, nyamuk, lalat, sampar, hujan es, dan belalang. Dalam tulah ketujuh, kedelapan, dan kesembilan, daya guna alam semesta yang berhubungan dengan Mesir berubah. Ini menunjukkan bahwa suasana Mesir tidak cocok untuk kehidupan manusia, bahkan hanya mengarahkan manusia kepada kematian.
Kita telah menunjukkan bahwa Mesir melambangkan dunia. Kalau terhadap dunia kita mempunyai satu visi yang jelas, kita akan mengetahui sikap Allah terhadap dunia, dan dengan sendirinya kita tidak akan mengasihi dunia lagi. Kalau kita mau menjadi tempat kediaman Allah di bumi, kita harus mengenal dunia dengan sejelas-jelasnya, serta membersihkan segala unsur dunia dari dalam kita. Hanya melalui tersisih dari dunia, kita baru dapat menjadi tempat kediaman Allah. Dalam penebusan Allah, kita tidak hanya diselamatkan dari dosa dan penghukuman Allah, juga tersisih dari dunia. Menurut Galatia 1:4, Kristus menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini. Sebab itu, penebusan yang sempurna meliputi hari raya Paskah dan penyeberangan Laut Merah. Setelah orang Israel tertebus keluar dari Mesir, Allah membawa mereka ke Gunung Horeb, di sana mereka menerima visi mengenai tempat kediaman Allah. Jadi, Kitab Keluaran ini membawa kita nampak lebih jelas tentang dunia dan tempat kediaman Allah.
Saya sangat berbeban terhadap kaum muda. Hari depan mereka penuh pengharapan. Tetapi mereka perlu mempunyai pengenalan bahwa setiap perkara yang berhubungan dengan dunia berasal dari kematian dan menuju kepada kematian, di antaranya ada berbagai macam tulah. Kalau kita mengasihi dunia, setiap daya guna alam semesta kita akan berubah, semua sumber kehidupan kita akan rusak. Inilah penghukuman Allah terhadap dunia yang disingkapkan dalam Kitab Keluaran.