← Daftar isi Keluaran (2) · bab 3/16

PERMINTAAN ALLAH DAN PENOLAKAN FIRAUN (4)

Kalau kita ingin memahami wahyu dalam Kitab Keluaran, kita perlu nampak bahwa Allah menghendaki umat-Nya membangun satu tempat kediaman bagi-Nya di bumi. Namun, musuh Allah telah menduduki umat-Nya dan menahan mereka dalam perbudakan di dunia. Maka, dalam keempat belas pasal yang pertama dalam Kitab Keluaran terdapat suatu perselisihan antara Allah dengan Firaun wakil Iblis. Dalam perselisihan ini, penghakiman Allah atas dunia Mesir dinyatakan dalam sepuluh tulah. Tetapi tulah-tulah itu bukanlah sekadar penghukuman, melainkan juga merupakan cara Allah mengungkapkan hakiki, makna, dan akibat (kesudahan) kehidupan dunia, kehidupan yang menguasai umat Allah. Sebab itu, tulah-tulah yang menimpa orang Mesir bukan sekadar penghukuman, melainkan juga merupakan peringatan yang penuh belas kasihan. Kalau orang Mesir telah menerima belas kasihan, mereka akan melihat hakiki, makna, dan kesudahan kehidupan di dunia.

Sangat berarti Allah menurunkan sepuluh tulah, bukan sembilan atau sebelas. Dalam Alkitab, angka sepuluh melambangkan kesempurnaan atau kelengkapan dalam kehidupan manusia. Misalnya, kesepuluh jari kita, baik tangan maupun kaki melambangkan kelengkapan yang sedemikian. Alkitab mewahyukan bahwa pada akhir zaman ini akan muncul sepuluh kerajaan di bawah pemerintahan Antikristus. Kesepuluh kerajaan itu akan menjadi ekspresi puncak dari kejatuhan hayat manusia. Untuk menyingkapkan kehidupan manusia di dunia, Allah memakai sepuluh tulah. Seperti yang telah kita tunjukkan, kesepuluh tulah ini dibagi dalam empat kelompok. Tiga kelompok pertama masing-masing terdiri dari tiga tulah, dan tulah terakhir berada dalam kelompoknya tersendiri.

Kita telah mengungkapkan tulah kelompok pertama adalah tulah darah, tulah katak, dan tulah nyamuk. Tulah darah dan tulah katak berhubungan dengan air, sedangkan tulah nyamuk berhubungan dengan debu tanah. Jadi, dalam tulah kelompok pertama, air dan tanah disingkapkan dan dihakimi. Kita semua tergantung pada air dan tanah bagi kehidupan kita. Jaminan yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia berasal dari kedua sumber itu. Dalam ketiga tulah yang di depan, Allah menyingkapkan hakiki kehidupan manusia yang telah jatuh. Ketika Dia melakukan hal ini, Dia menunjukkan bahwa sumber kehidupan manusia berakibat pada maut, kesusahan, dan gangguan.

Ketiga tulah dalam kelompok kedua terutama menanggulangi udara. Hari ini banyak sekali dibicarakan masalah pencemaran udara. Dalam tulah keempat, kelima, dan keenam, udara di Mesir tercemar. Lalat beterbangan di udara, sampar ditularkan melalui udara, dan abu yang menyebabkan barah dihamburkan ke udara. Sebab itu, dalam tulah kelompok kedua, udara, keperluan lain bagi kehidupan manusia, ditanggulangi.

Saya hendak menekankan fakta bahwa tulah-tulah ini bukanlah sekadar suatu bentuk penghukuman, melainkan juga merupakan satu penyingkapan atas dunia dan kehidupan di dunia. Bila maksud Allah memakai tulah hanya sebagai penghukuman, Ia tidak perlu mengutus Musa dan Harun kepada Firaun berkali-kali. Bahkan, Ia tidak perlu menurunkan tulah-tulah dalam jangka waktu yang panjang selama berhari-hari. Sebaliknya, Allah pasti dapat menghukum dan menghancurkan orang-orang Mesir dengan sekali tiup. Tetapi Allah menanggulangi mereka dengan teliti dan rinci sekali. Mula-mula, Allah mangubah air menjadi darah. Lalu Dia mendatangkan katak-katak yang menyusahkan, dan berikutnya nyamuk-nyamuk yang mengganggu. Tujuan Allah dalam melakukan hal ini tidaklah sekadar menghukum orang-orang Mesir, melainkan untuk mengajar baik mereka maupun umat-Nya bahwa sumber suplai kehidupan manusia sebenarnya telah menjadi darah, katak, dan nyamuk.

Allah menciptakan langit untuk bumi dan bumi untuk kehidupan manusia. Jadi, baik langit atau bumi adalah bagi kelangsungan hidup manusia. Namun demikian, manusia telah jatuh. Menurut kebenaran-Nya, Allah seharusnya menghukum langit dan bumi segera setelah kejatuhan Adam. Tetapi maksud Allah adalah merampungkan kehendak kekal-Nya melalui manusia. Bukannya menghakimi segala sesuatu, sebaliknya Allah menaruh alam semesta di bawah penebusan Kristus.

Penebusan Kristus adalah perkara yang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang kita pahami. Allah menetapkan Adam menjadi kepala dari seluruh makhluk ciptaan dalam Kejadian 1. Pada prinsipnya, apabila kepalanya memberontak, semua makhluk pun berada di bawah kutuk dan seharusnya langsung dihakimi menurut keadilan Allah. Semua makhluk pastilah sudah bobrok. Allah tidak dapat membiarkan apa pun yang menyinggung keadilan, kekudusan, dan kemuliaan-Nya; namun Dia pun tidak akan mengubah maksud hati-Nya untuk memiliki kediaman kekal di antara manusia. Sebab itu, Allah memutuskan untuk memandang seluruh makhluk di bawah penebusan Kristus, yang dipandang-Nya telah rampung sebelum dunia dijadikan (1Ptr. 1:19-20; Why. 13:8). Karena Allah memandang ciptaan lama di bawah penebusan Kristus, Dia bebas memilih untuk menjaga alam semesta atau menghakiminya dan menghancurkannya. Karena penebusan Kristus, Allah sepenuhnya adil dan benar, baik Dia menjaga maupun menghancurkan alam semesta.

Ketika Allah tidak dapat lagi membiarkan kedosaan Sodom dan Gomora karena mereka berontak melawan-Nya dan menolak penebusan yang telah ditentukan-Nya, tanah di bagian sana berada di bawah penghakiman-Nya yang adil. Pada prinsipnya, hal yang sama terjadi pada zaman Musa. Firaun dan orang-orang Mesir telah menolak penebusan yang telah ditentukan oleh Allah dan dengan demikian membuat mereka telanjang dan tersingkap terhadap penghakiman Allah. Karena bani Israel masih berada di bawah penebusan Allah, penghakiman Allah tidaklah mengusik mereka. Keluaran 8:23 adalah ayat yang penting, “Aku akan mengadakan perbedaan antara umat-Ku dan bangsamu.” Allah melindungi umat-Nya dengan penebusan Kristus, tetapi Firaun dan bangsanya menolak penebusan Allah. Sebab itu, ketika Allah mengirimkan tulah kepada orang-orang Mesir, mereka tidak berada di bawah penebusan Allah, melainkan tersingkap kepada penghakiman-Nya.

Dalam kejatuhannya, manusia telah berdosa melawan keadilan Allah dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Namun demikian, Allah tidak datang membawa penghakiman. Lalu bagaimanakah keadilan Allah terpelihara? Menurut Kejadian 3:21, jawabannya terletak pada penebusan Allah. Kulit binatang yang dipakai Allah untuk menutupi Adam dan Hawa menunjukkan penebusan Kristus. Karena penebusan Kristus, Allah dengan adil dapat memelihara eksis-tensi alam semesta.

Dalam Kitab Keluaran, Firaun dan orang Mesir tidak mempedulikan penebusan Kristus. Mereka sepatutnya dihakimi berdasarkan perlakuan mereka kepada umat Allah. Sebab itu, Allah melaksanakan penghakiman-Nya atas orang-orang Mesir dengan kesepuluh tulah. Pada saat tulah-tulah itu diberikan, orang-orang Mesir tersingkap bagi penanggulangan keadilan Allah. Namun demikian, bani Israel tetap berada di bawah penebusan Kristus, karena Allah telah mengadakan perbedaan antara mereka dengan bangsa Firaun.

Hari ini seluruh dunia masih berada di bawah penebusan Kristus. Kalau tidak, matahari, bulan, dan planet-planet akan kacau. Allah menopang langit dan bumi demi eksistensi manusia. Anda mungkin heran bagaimana Allah yang adil dapat membiarkan kedosaan manusia di dunia pada hari ini. Dia dapat membiarkannya hanya karena Dia memandang dunia melalui penebusan Kristus.

Semua orang di dunia sebenarnya menikmati faedah dari penebusan Kristus, meskipun mereka tidak menyadari hal ini. Surat Kolose memberi tahu kita bahwa Allah telah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya melalui kematian Kristus (1:20). Hanya di bawah penebusan Kristuslah bumi ini menjadi tempat yang cocok untuk didiami manusia. Jika semua makhluk tidak berada di bawah penebusan Kristus, semuanya akan hancur. Tetapi Allah memperluas belas kasihan-Nya dengan memandang orang kafir di bawah penebusan Kristus, sehingga mereka berkesempatan untuk bertobat dan menerima penebusan ini.

Semua makanan yang kita makan dan semua suplai yang kita nikmati berada di bawah penebusan Kristus. Jika tidak, air akan menjadi darah, ikan akan menjadi katak, dan tanah akan menghasilkan nyamuk, bukan gandum, dan dari udara akan bermunculan lalat. Kesepuluh tulah itu menimpa orang Mesir karena mereka menolak penebusan Allah.

Pada saat Firaun menolak Allah, Firaun dan orang-orang Mesir menyingkapkan diri mereka kepada penghakiman Allah yang adil. Tetapi Dia penuh belas kasihan bahkan dalam melaksanakan penghakiman-Nya. Allah tidak memusnahkan orang Mesir dengan satu kali penghakiman, melainkan mengirimkan serangkaian tulah kepada mereka. Maksud-Nya dalam berbuat demikian bukanlah untuk menghukum atau menghakimi semata, melainkan untuk menyingkapkan dan memperingatkan orang-orang Mesir agar mereka berkesempatan untuk berpaling kepada-Nya.

Setiap tulah ada artinya. Dalam tulah pertama, air diubah menjadi darah. Yakinkah Anda bahwa air yang Anda nikmati hari ini sebenarnya bukan darah? Jika air ini berada di bawah penebusan Kristus, itu air. Tetapi jika tidak, sebenarnya itu adalah darah. Sama juga, dalam pengalaman Anda, air yang merupakan sumber suplai itu menghasilkan ikan atau menghasilkan katak? Ini semua tergantung pada apakah sumber suplai itu ada di bawah penebusan Kristus. Saya dapat bersaksi dengan hati nurani yang murni bahwa air yang saya nikmati menghasilkan ikan dan bukannya katak. Selanjutnya, bagi saya tanah menghasilkan jagung, gandum, dan sayur mayur; bukan menghasilkan nyamuk. Bagaimanapun, jika dalam pengalaman Anda tanah tidak berada di bawah penebusan Kristus, debu tanah akan menjadi nyamuk.

VI. PERTENTANGAN KEENAM

Dalam pertentangan keenam antara Tuhan dengan Firaun, Tuhan melepaskan kepada Firaun dan orang-orang Mesir sejumlah besar lalat (8:20-32). Sulit untuk dipastikan lalat jenis apa itu. Strong’s Concordance mengatakan bahwa ada beraneka macam lalat. Dalam terjemahannya, Darby menggunakan kata lalat anjing, sedangkan Amplified Bible mengatakan lalat yang menghisap darah, lalat yang menggigit ternak dan menghisap darahnya.(LAI: lalat pikat. Red.). Apa pun macam lalat itu, sejumlah besar lalat itu mendatangi Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Semua rumah orang Mesir dipenuhi oleh lalat.

Kawanan lalat ini melambangkan pencemaran di atmosfer dunia hari ini, pencemaran karena keamoralan yang menyelubungi atmosfer. Misalnya, perhatikanlah betapa tercemarnya dunia moral dalam kota seperti Las Vegas. Setiap kali saya mengunjungi kota itu untuk menghubungi umat saleh yang menuntut yang ada di sana, saya merasakan bahwa atmosfer atau udara di sana buruk (kotor). Atmosfer dunia hari ini dipenuhi oleh ‘lalat’. Secara rohani, tidak ada udara segar dalam tempat-tempat duniawi. Karena kejatuhan manusia, udara moral dunia telah tercemar; penuh dengan kawanan serangga yang mencelakakan. Jadi, tulah keempat membuktikan bahwa udara tidaklah dipenuhi oleh hal-hal yang bersih atau positif, melainkan dipenuhi oleh barang-barang yang tidak bersih dan jahat.

Melalui penyingkapan keempat tulah di depan, kita nampak darah, katak, kutu, dan lalat. Gambar yang betapa jelas mengenai kehidupan manusia yang jatuh di dunia! Namun demikian, orang-orang dunia hari ini tidak menyadari keadaan sebenarnya dari kehidupan mereka di dunia. Agar mereka menyadari hal ini, Allah harus menyingkapkannya dengan jelas kepada mereka, sama halnya ketika Dia melakukan sesuatu terhadap orang Mesir melalui tulah.

VII. PERTENTANGAN KETUJUH

Tulah berikutnya adalah sampar yang menimpa ternak orang Mesir (9:1-7). Saya percaya sampar ini diakibatkan oleh kuman-kuman yang disebarkan oleh kawanan lalat. Keluaran 9:3 mengatakan, “Tangan TUHAN (Yehova) akan menimpa ternakmu yang ada di padang, kuda, keledai, unta, lembu sapi, dan kambing domba, yakni kena penyakit sampar yang dahsyat” (Tl.). Menurut Imamat 11, kuda, keledai, dan unta adalah binatang yang najis. Mereka hanya dapat dipakai untuk alat pengangkutan dan bukan untuk dimakan. Tetapi, lembu sapi dan kambing domba dipandang halal dan boleh dimakan oleh orang Israel. Jadi, binatang-binatang yang menjadi sasaran tulah ini terdiri atas dua golongan: yang dipakai untuk pengangkutan dan yang untuk dimakan. Allah menghakimi baik pengangkutan dan makanan di Mesir. Ini menyatakan bahwa alat pengangkutan dan cara makan di dunia hari ini juga akan dihakimi oleh Allah.

Kembali kita nampak bahwa Allah menghakimi orang Mesir dengan cara yang teliti, menghancurkan kehidupan mereka satu demi satu. Orang-orang Mesir tergantung pada Sungai Nil, namun Sungai Nil dihakimi. Mereka tergantung pada tanah dan udara, namun tanah dan udara dihakimi. Selanjutnya, orang-orang Mesir tergantung pada ternak mereka untuk pengangkutan dan makanan, tetapi dalam tulah kelima ternak-ternak pun dihakimi.

Karena ternak-ternak itu tidak bersalah, Anda mungkin heran mengapa mereka dihakimi oleh Allah. Menurut Kejadian 3, bumi terlibat dalam dosa Adam, walaupun bumi itu sendiri tidak berdosa. Setelah Adam berdosa, bumi berada di bawah kutukan (Kej. 3:17-18). Jadi, kejatuhan Adam melibatkan seluruh bumi. Seprinsip dengan itu, ternak-ternak orang Mesir dihakimi bukan karena mereka berdosa, melainkan karena mereka terlibat dalam dosa Firaun dan orang Mesir. Karena ternak itu milik orang-orang Mesir, mereka terlibat dalam dosa orang-orang Mesir. Di sini kita nampak bahwa penghakiman adil Allah juga menanggulangi cakupan keadaan yang berdosa. Karena ternak di Mesir bertalian dengan Firaun dan melayani Firaun, mereka menjadi sasaran penghakiman adil Allah atas diri Firaun.

Prinsip keterlibatan ini berlaku juga hari ini. Jika kita mengasihi Tuhan dan melayani-Nya di bawah berkat-Nya, segala hal yang bertalian dengan kita akan diberkati juga. Bahkan benda-benda seperti binatang dan harta milik akan diberkati juga. Jika kita mengasihi Tuhan, lingkungan kita pun akan diberkati. Kenalan, sahabat, dan tetangga kita akan terlibat secara positif dalam berkat yang menimpa kita. Di bawah keadilan Allah, kita yang mengasihi Tuhan akan menjadi faktor berkat bagi orang lain, bahkan bagi masyarakat keseluruhannya. Mereka yang tidak mengenal Tuhan boleh menikmati keuntungan dari keterlibatan yang positif ini.

Pengalaman saya bepergian di pedalaman China selama Perang Dunia II menunjukkan hal ini. Sering kali mereka yang bepergian dengan saya, meskipun mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus, mengatakan kepada saya bahwa mereka beruntung karena saya. Selama masa perang, sulit sekali untuk bepergian. Namun, sewaktu kesulitan menimpa saya, saya berdoa dan Tuhan melindungi saya. Ini membuat teman seperjalanan saya menyadari bahwa mereka diberkati karena Allah telah memberkati saya.

Dalam kasus Firaun dan orang-orang Mesir, kita nampak bahwa ternak-ternak terlibat secara negatif. Karena kedegilan dan kekerasan hati Firaun, ternak itu menjadi sasaran tulah sampar. Hal ini seharusnya mengajar kita untuk tidak terlibat dengan mereka yang berdosa, tetapi menyingkir dari mereka. Kalau tidak, kita bisa saja terlibat secara negatif dalam situasi mereka.

Karena umat-Nya, Allah mungkin menahan penghakiman-Nya atas dunia. Bahkan sekalipun Dia turun tangan menghakimi dunia menurut keadilan-Nya, Dia masih memperhatikan umat-Nya agar dapat menggenapi keinginan-Nya untuk memiliki tempat kediaman di bumi. Kita telah nampak bahwa dalam tulah lalat, Allah mengadakan perbedaan antara umat-Nya dengan rakyat Firaun. Demikian pula dalam tulah sampar yang dahsyat atas ternak. Keluaran 9:4 mengatakan, “Dan TUHAN akan membuat perbedaan antara ternak orang Israel dan ternak orang Mesir, sehingga tidak ada yang akan mati seekor pun dari segala ternak orang Israel.” Menurut ayat 6, dari ternak orang Israel tidak ada seekor pun yang mati. Utusan yang diutus oleh Firaun melihat bahwa dari ternak orang Israel tidak ada seekorpun yang mati (ayat 7).

Karena orang dunia menghalangi umat Allah dalam menggenapkan kehendak-Nya, maka Allah turun tangan menghakimi cara hidup di Mesir. Bahkan orang Israel pun tidak memahami keadaan sesungguhnya dari kehidupan Mesir. Mereka juga memerlukan wahyu mengenai hakiki, penempuhan hidup, dan akibat kehidupan di Mesir. Semakin lama orang-orang Mesir dihakimi, bani Israel semakin jelas akan kehidupan di Mesir. Sebab itu, Allah memakai tulah-tulah untuk merampungkan dua hal: menghukum orang-orang Mesir agar mereka membebaskan umat-Nya, dan membuka mata bani Israel terhadap sifat dasar kehidupan yang dijajah di Mesir. Sorotan terang yang mereka dapatkan melalui tulah membuat mereka rela meninggalkan atau keluar dari Mesir dan pergi ke padang gurun, di sana, di gunung Allah, mereka dapat menerima wahyu Allah mengenai tempat kediaman-Nya.

VIII. PERTENTANGAN KEDELAPAN

Dalam tulah keenam, yang berlangsung selama pertentangan kedelapan (9:8-12), barah melepuh pada manusia dan binatang. Yehova menyuruh Musa dan Harun mengambil serangkup penuh abu dari tempat peleburan dan menghamburkannya ke angkasa di hadapan Firaun. Abu itu menjadi debu yang menimbulkan barah yang melepuh pada manusia dan binatang di seluruh tanah Mesir (9:8-9).

Abu adalah barang yang tersisa setelah sesuatu dibakar. Pada akhir tulah kelima, semua sumber Mesir telah dihakimi. Air, tanah, udara, dan ternak, semuanya telah dihakimi oleh Allah. Namun demikian, abu sisa dari pembakaran benda-benda itu, masih harus ditanggulangi. Ini menerangkan bahwa apa pun yang tersisa dari hayat manusia kita yang telah jatuh harus ditanggulangi oleh Allah. Mungkin Anda berpikir bahwa suatu perkara telah ditanggulangi dengan tuntas. Memang, itu telah ditanggulangi, namun masih ada abu yang tertinggal, masih ada sisanya. Di satu pihak, barang sisa itu lebih buruk daripada barang asalnya, dapat menimbulkan barah. Sisa dari apa yang telah Anda lakukan atau miliki dapat menimbulkan kehancuran yang parah. Sebab itulah, Allah tidak hanya menanggulangi benda-bendanya, melainkan juga sisa dari benda-benda itu. Dengan menghamburkan abu dari dapur peleburan ke udara, abu itu tersingkap.

Setelah Allah menghakimi air, tanah, udara, kelihatannya tidak ada yang ketinggalan dari sumber penghidupan orang Mesir. Bahkan binatang yang dipakai untuk pengangkutan sudah dibunuh. Namun, masih ada abu yang tertinggal dari barang-barang yang telah ditanggulangi dan dibakar. Walaupun abu itu barang sisa, Allah tidak dapat membiarkannya. Ini menunjukkan betapa teliti dan tuntasnya penyingkapan dan penghakiman Allah, juga menyatakan dengan teliti Allah mengajar umat-Nya untuk mengenal sifat sesungguhnya dari kehidupan di dunia ini yang bertentangan dengan ekonomi-Nya. Aspek pendidikan dari penghakiman Allah atas Mesir sungguh unggul.

Abu semestinya tidak mengandung kuman penyakit, karena semua kuman-kuman telah dibakar. Tetapi abu yang dihamburkan ke udara oleh Musa dan Harun pasti mengandung kuman penyakit karena menjadi debu yang menimbulkan barah. Mungkin Anda mengira bahwa kebiasaan kedosaan Anda di masa lampau telah Anda tanggulangi dengan tuntas dan yang tersisa hanyalah abu yang bersih, yang tidak mengandung kuman penyakit. Namun, Allah tidak senang dengan sisa yang semacam itu. Sebab itu, Dia turun tangan menghakimi sisa-sisa dari semua perkara kedosaan. Jangan mengira dalam kehidupan pribadi Anda, tidak ada yang tersisa yang harus ditanggulangi setelah dosa Anda dihakimi. Sebaliknya, masih ada yang tersisa di dalam Anda, sisa dari yang telah dihakimi dan ditanggulangi. Ini menerangkan bahwa dalam pandangan Allah, segala hal dari kehidupan Mesir air, tanah, udara, dan abu harus dihakimi dan disingkapkan. Tak sedikit pun kehidupan dunia yang boleh disisakan.

Jangan berbangga hati akan penanggulangan Anda atas dosa-dosa atau kelakuan duniawi Anda di masa lampau. Dalam lubuk batin Anda, mungkin Anda masih memiliki sedikit abu. Misalnya, seorang saudara mungkin pernah menjadi seorang atlet yang ternama sebelum dia menjadi orang Kristen. Mungkin dia berpikir bahwa cintanya terhadap olahraga telah ditanggulangi. Mungkin itu telah ditanggulangi, tetapi abunya belum. Saudari-saudari muda mungkin mempunyai berkotak-kotak abu, sisa perkara-perkara yang sangat mereka sukai. Puji Tuhan atas penanggulangan yang telah Anda alami di bawah pimpinan-Nya! Tetapi bagaimana abunya? Allah menuntut agar abu itu juga disingkapkan dan dihakimi.

Tulah barah menimpa orang Mesir, tetapi tidak menimpa bani Israel. Mungkin ada beberapa orang saleh merasa bahwa mereka telah mengalami penghamburan abu pengalaman lampau mereka dan itu menimbulkan kerugian pada orang saleh lainnya. Orang beriman harus berhati-hati agar tidak berperilaku sebagai orang kafir. Dalam memberikan kesaksian tentang bagaimana kita menanggulangi perkara-perkara kedosaan, mungkin saja kita menghamburkan abu ke udara. Kita perlu berdoa agar Tuhan menudungi kita dengan darah-Nya yang menang. Doa semacam itu akan menaruh kita di bawah penebusan Kristus, dan pengurapan akan mencegah kita dari menghamburkan abu. Arti sesungguhnya dari tulah ini adalah betapa teliti dan tuntasnya penghakiman Allah, bahkan menanggulangi sisa dari barang-barang yang telah dibakar; dan juga betapa luasnya pendidikan Allah atas umat-Nya.

Kita perlu terkesan dalamdalam dengan fakta bahwa sisa dari perkara kedosaan pun harus dihakimi. Dalam pandangan Allah tak ada sedikit pun yang baik dari Mesir. Semua yang berhubungan dengan kehidupan Mesir, kehidupan duniawi, harus disingkapkan dan dihakimi dengan tuntas. Kiranya Allah menyingkapkan segala aspek kehidupan duniawi kepada kita.

Dalam kelompok tulah yang kedua ada dua hal yang sangat penting. Yang pertama adalah tulah-tulah itu tidak menimpa tanah Gosyen, karena bani Israel berada di bawah penebusan Tuhan. Kedua, dalam tulah-tulah itu para ahli sihir Mesir tidak mampu melakukan apa-apa. Kita telah menunjukkan bahwa beberapa ahli filsafat dunia mungkin mengajarkan hal yang mirip dengan yang kita sampaikan pada pemberitaan Injil. Namun demikian, akhirnya para “ahli sihir” masa kini itu tidak mampu berbuat apa-apa. Para ahli filsafat dunia tidak dapat menyelamatkan dunia dari lalat, sampar, dan barah. Mereka tidak dapat menyelamatkan siapa pun dari pencemaran moral dan pencemaran rohani. Hanya keselamatan Allahlah yang dapat melepaskan orang-orang dari hal-hal itu. Cepat atau lambat, para “ahli sihir” sekali pun, tidak akan berdaya di hadapan Allah.

Melalui semua gambar ini dengan semua tulahnya kita dapat melihat keadaan yang sesungguhnya dari kehidupan manusia kita yang telah jatuh. Tidak ada bagian lain dalam Alkitab yang menunjukkan kepada kita gambar yang demikian terperinci dari kehidupan duniawi yang berlawanan dengan pembangunan Allah. Dunia bertentangan dengan pembangunan Allah, dan pembangunan Allah bertentangan dengan dunia. Umat pilihan Allah adalah faktor penting di antara kedua kekuatan yang bertentangan ini. Jika umat Allah tetap di dalam dunia, Allah tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi jika mereka mau diselamatkan dari dunia kepada Allah, Allah dapat menggenapkan kehendak-Nya di bumi untuk memiliki tempat kediaman-Nya. Sebab itu, Allah perlu turun tangan untuk menanggulangi dunia penjajah, dan mendidik umat-Nya untuk mengenal apa adanya dunia, sehingga mereka membuang dunia dan tidak lagi menetap di dalamnya. Kesepuluh tulah mengajar bani Israel akan keadaan sesungguhnya dari Mesir, yang mencengkeram mereka, menjajah mereka, dan menduduki mereka.