← Daftar isi Keluaran (2) · bab 2/16

PERMINTAAN ALLAH DAN PENOLAKAN FIRAUN (3)

Kitab Keluaran mewahyukan bahwa Allah hendak menyelamatkan umat-Nya dari segala sesuatu yang di luar diri-Nya, dan membebaskan mereka dari segala hal yang bukan Allah. Setelah keluar dari Mesir, umat Allah nampak visi surgawi yang melaluinya mereka mengenal Allah sendiri, juga mengetahui kehidupan yang sesuai dengan Allah. Kemudian mereka dapat dibangun menjadi tempat kediaman Allah di bumi. Inilah konsepsi dasar Kitab Keluaran.

Allah sangat ingin menyelamatkan umat pilihan-Nya dari setiap bentuk cengkeraman dan penjajahan sehingga mereka tidak mempunyai apa-apa selain Allah sendiri. Setelah bani Israel diselamatkan dari Mesir dan telah melalui Laut Merah, mereka tiba di Gunung Horeb, gunung Allah. Pernah sejangka waktu, umat Allah berada di Mesir menempuh kehidupan ala Mesir dan bekerja sebagai pekerja rodi di Mesir di bawah kelaliman Firaun. Meskipun banyak di antara mereka yang tidak pernah memikirkan Allah, namun mereka tetap merupakan umat pilihan Allah, karena mereka memang telah ditentukan oleh Allah untuk disisihkan bagi-Nya. Pasal-pasal pertama dalam Kitab Keluaran memperlihatkan bahwa umat Allah telah dibelenggu oleh Iblis dan diperbudak di bawah tangan Iblis. Saat itu, semua yang berkaitan dengan mereka adalah milik Mesir. Pada diri mereka tidak ada satu pun yang untuk Allah. Itulah sebabnya Allah turun tangan untuk menyelamatkan mereka, menyisihkan mereka, melepaskan mereka dari cengkeraman Iblis dan penjajahan Mesir, serta membawa mereka ke gunung Allah, di mana sama sekali tidak ada yang berbau Mesir. Di gunung Allah itulah umat yang telah Allah pilih dapat sendirian bersama Dia. Sesampainya bani Israel di Gunung Horeb, Allah menjadi pusat mereka, sasaran mereka, usaha mereka, dan kehidupan mereka. Bahkan Dialah rumah mereka. Allah adalah segala sesuatu mereka. Di padang gurun, khususnya di gunung Allah, Gunung Horeb, bani Israel tidak mempunyai apa-apa selain Allah. Banyak orang Kristen hari ini yang membicarakan perihal diselamatkan. Tetapi jarang sekali yang mengetahui bahwa diselamatkan itu adalah dibawa ke tempat yang tidak ada apa-apa kecuali Allah.

Kitab Keluaran lebih banyak menyingkapkan dunia daripada kitab lainnya. Dalam Perjanjian Baru banyak dibahas tentang dunia, bahkan kita diberi tahu bahwa seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1Yoh. 5:19), itu pun tidak memberikan gambaran yang jelas tentang adanya dunia. Karena itu kita harus melihat Kitab Keluaran, yang merupakan kitab gambar. Apabila kita membaca Keluaran 5-12 dengan cara yang betul, niscaya akan nampak serangkaian gambar hidup yang melukiskan hakiki dan arti kehidupan dunia.

Allah menghendaki umat-Nya melihat apa adanya dunia. Jika unsur dunia tetap tinggal di dalam kita, kita pasti akan dirusak dalam hal penggenapan kehendak Allah. Ketika bani Israel di padang gurun, mereka mengenang kembali kenikmatan yang pernah mereka miliki di Mesir. Mereka mengenang kembali bawang prei, bawang merah, dan bawang putih (Bil. 11:5). Karena kenangan inilah mereka bermasalah terhadap tempat kediaman Allah. Sama halnya umat Kristen hari ini. Dikarenakan banyak orang Kristen masih berada di Mesir, mereka tidak berbagian dengan tempat kediaman Allah. Bahkan mereka yang telah disisihkan dari Mesir masih bisa juga teringat akan kesenangan di Mesir. Karena itu, kita perlu melihat gambar yang jelas mengenai hayat dan kehidupan Mesir.

Kesepuluh tulah bukan hanya suatu peringatan dan penghukuman terhadap orang Mesir, tetapi juga sebagai wahyu, penyingkapan terhadap umat Allah. Melalui tulah-tulah ini, bani Israel sudah seharusnya nampak situasi yang sebenarnya dari kehidupan di Mesir. Sebagai akibat dari tulah-tulah ini bani Israel seharusnya membenci kehidupan mereka di Mesir. Allah ingin kehidupan di Mesir tersingkap sehingga umat-Nya membencinya dan ingin melarikan diri dari hal itu. Maka tujuan Allah dalam menurunkan kesepuluh tulah bukan hanya untuk memperingatkan orang Mesir dan mengganjar mereka, tetapi juga untuk menunjukkan apakah dunia itu kepada umat-Nya.

Hari ini juga perlu menyingkapkan dunia kepada umat Allah. Allah menghendaki umat-Nya menjadi tempat kediaman-Nya di bumi. Namun, maksud ini hanya bisa tercapai bila kita telah dilepaskan dari dunia dan tak mempunyai apa-apa selain Allah sendiri. Hari-hari ini kita sedang menekankan perlunya pembangunan gereja-gereja. Tetapi bila kita ingin melihat gereja-gereja terbangun secara riil, kita harus sepenuhnya keluar dari dunia.

Di pihak negatifnya, Kitab Keluaran menyingkapkan dunia. Di pihak positifnya, kitab ini mewahyukan tempat kediaman Allah. Pertama-tama hakiki, makna, dan akibat (kesudahan) kehidupan di Mesir disingkapkan kepada umat Allah. Maksud Allah dalam memberikan wahyu ini ialah ingin membuat umat-Nya muak dengan Mesir, membelakangi Mesir, dan tersisih bagi Allah, menjadi tempat kediaman-Nya. Prinsip ini berlaku untuk hari ini. Tanpa tersisih dari dunia, mustahil kita menjadi tempat kediaman Allah. Demi pembangunan tempat kediaman-Nya, kita harus mengenal dunia dalam keadaan yang sesungguhnya. Lagi pula, kita harus muak terhadap cara kehidupan dunia dan rela membuangnya.

Jika kita nampak kehendak Allah sebagaimana yang diungkapkan dalam Kitab Keluaran, niscaya kita akan lebih mudah memahami makna tulah-tulah. Tujuan Allah dalam mengirimkan tulah-tulah bukan sekadar menghukum orang Mesir, tetapi juga menyingkapkan kehidupan orang Mesir. Sama seperti orang Mesir dalam Kitab Keluaran, orang dunia hari ini tidak mempunyai pengertian terhadap keadaan sesungguhnya dari kehidupan di dunia. Orang duniawi semuanya telah mabuk. Di bawah pengaruh bius Iblis, mereka merasa bahagia dengan kehidupan mereka di dunia ini. Mereka tak memiliki kesadaran akan apakah itu kehidupan yang tanpa Allah di dalam dunia ini. Mereka perlu meng-alami air dunia diubah menjadi darah, barulah mereka akan tahu hakiki kehidupan di dalam dunia serta akibat dari kehidupan di dunia. Hakikat kehidupan di dunia adalah maut, dan akibat dari kehidupan di dunia juga adalah maut.

IV. PERTENTANGAN KEEMPAT

A. DI PIHAK ALLAH

Dalam pertentangan keempat dengan Firaun, Tuhan menulahi wilayah Mesir dengan katak (Kel. 8:2). Katak-katak bermunculan dari sungai, aliran air, dan kolam, mendatangi Firaun, pegawai-pegawainya, dan semua orang Mesir; katak-katak itu menghancurkan kenikmatan atas kehidupan Mesir yang nyaman. Betapa menjengkelkan (merepotkan) katak-katak itu! Dengan menimpakan tulah katak kepada orang-orang Mesir, Tuhan menghendaki orang-orang Mesir menyadari bahwa sebenarnya kehidupan mereka di Mesir bukanlah yang penuh kenikmatan, melainkan merepotkan. Orang-orang Mesir tidak menyadari bahwa dalam pandangan Allah, semua kenikmatan mereka adalah “katak”. Setiap hal yang mereka kumpulkan dari Sungai Nil, sumber suplai dunia, tidak lain adalah “katak”. Air di Mesir yang tadinya menghasilkan ikan sekarang malahan menghasilkan katak.

Pada prinsipnya, kita bisa mengalami hal yang sama hari ini. Sepanjang hidup saya, saya telah mengumpulkan banyak benda yang ternyata adalah “katak”. Pada mulanya saya menikmati benda-benda itu. Tetapi satu per satu mereka menjadi “katak”. Apa yang saya anggap ikan ternyata katak. Cepat atau lambat, semua hal yang Anda peroleh di dalam dunia ini akan menjadi “katak”. Ini berarti segala hal yang Anda kumpulkan dari Sungai Nil, sumber suplai bagi dunia, akan menjadi penyebab kesusahan terhadap Anda. Barang-barang perolehan dan bahkan orang-orang kesayangan Anda akan menjadi “katak”. Bila benda-benda yang kita mustikakan menjadi “katak”, barulah kita menyadari bahwa kenikmatan dunia bukanlah kenikmatan sejati. Sebalik-nya, malah sangat menyusahkan.

Katak-katak di Mesir tidak membunuh seorang pun, tetapi mereka itu mengganggu siapa saja. Mereka bermunculan di mana-mana: di rumah, di kamar tidur, di ranjang, di dapur, dan di tempat adonan mereka. Benar-benar mengganggu!

Tulah katak ini merupakan penghukuman atau pewahyuan tergantung pada sikap orang-orang yang tertimpa tulah itu. Jika mereka menerima belas kasihan Tuhan, tulah itu akan merupakan wahyu bagi mereka, suatu penyingkapan fakta bahwa Mesir dengan kenikmatannya adalah negeri katak. Inilah makna kehidupan dunia. Setiap aspek dari kenikmatan dunia adalah “katak”. Orang yang menolak belas kasihan Tuhan, tentu menanggung tulah katak ini sebagai suatu hukuman.

B. DI PIHAK FIRAUN

Ahli-ahli sihir Mesir sanggup melakukan tiga hal yang Harun lakukan dengan tongkatnya: mengubah air menjadi darah, mengubah tongkat menjadi ular, dan mendatangkan katak-katak. Dengan cara sihir, ahli-ahli sihir Firaun mendatangkan katak ke tanah Mesir (Kel. 8:7). Akan tetapi, mereka tidak dapat mengusir katak-katak itu.

Seorang penginjil harus mampu mendatangkan “katak-katak”. Maksudnya, dia harus membuat orang-orang menyadari bahwa semua kenikmatan dan penjajahan dunia adalah “katak-katak”. Namun demikian, beberapa guru filsafat juga mampu menyadarkan orang-orang tentang barang-barang dunia menduduki dan merusak mereka. Para penginjil menyingkapkan keadaan yang sesungguhnya dari kehidupan di dunia, tetapi “ahli-ahli sihir” atau para filsuf pun dapat melakukan hal yang sama. Sewaktu kami menginjil di China, tak jarang kami menjumpai “ahli-ahli sihir”, para filsuf dunia yang semacam itu. Kami memberi tahu orang-orang bahwa kehidupan di dunia ini menduduki mereka. Beberapa filsuf mengajarkan hal yang sama; contohnya, mengajarkan kesederhanaan dan mengosongkan ego. Kami memberi tahu orang-orang bahwa kenikmatan dunia ini sebenarnya adalah maut. Beberapa filsuf mengajarkan pula hal ini.

Tetapi, seperti halnya ahli-ahli sihir Mesir tidak dapat mengusir katak-katak, begitu pula “ahli-ahli sihir” hari ini tidak sanggup mengusir katak-katak yang menyusahkan orang-orang pada zaman ini. Para filsuf di China itu bisa saja mendatangkan katak-katak, tetapi mereka tidak dapat melenyapkan mereka. Tatkala Musa berseru kepada Tuhan mengenai katak-katak tersebut, Tuhan lalu berbuat sesuai dengan kata-kata Musa (Kel. 8:12-13), sehingga katak-katak itu mati. Dengan prinsip yang sama, seorang penginjil yang tepat bukan hanya mendatangkan “katak-katak”, bahkan juga bisa menyingkirkan mereka.

Kadang-kadang ketika kami menginjil kepada orang-orang kaya tertentu di China, kami membuat katak-katak bermunculan di hadapan mereka. Ini meyakinkan mereka bahwa kenikmatan dunia sebetulnya adalah suatu gangguan yang tak henti-hentinya menimbulkan kesusahan. Atas permohonan mereka, kami mendoakan mereka sehingga katak-katak itu dienyahkan. Ketika Firaun melihat bahwa ada kelonggaran (kelegaan), dia tetap mengeraskan hatinya dan tak mau menghiraukan Musa dan Harun (Kel. 8:15). Sama dengan orang-orang kaya itu, begitu melihat katak-katak itu sudah disingkirkan dan situasi mereka menjadi longgar, mereka menolak bertobat dan percaya kepada Tuhan.

V. PERTENTANGAN KELIMA

A. DI PIHAK ALLAH

Pada pertentangan kelima, Yehova berfirman kepada Musa, “Katakanlah kepada Harun: Ulurkanlah tongkatmu dan pukulkanlah itu ke debu tanah, maka debu itu akan menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir” (Kel. 8:16). Sewaktu Harun mengulurkan lengannya dengan tongkatnya dan memukul debu tanah, debu itu menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir (Kel. 8:17). Dahulu, debu Mesir menghasilkan gandum yang dapat dimakan. Tetapi pada tulah kali ini debu itu menjadi nyamuk yang amat menggelisahkan orang-orang Mesir. Nyamuk itu sangat mengganggu. Na-mun, tulah nyamuk ini bukan sekadar hukuman, melainkan juga mewahyukan bahwa pada akhirnya debu tanah Mesir menghasilkan nyamuk, bukan gandum untuk dimakan.

Dalam tulah-tulah ini, Allah itu penuh hikmat dan penuh belas kasihan. Dia bukan memakai senjata yang ampuh untuk mengajar orang-orang Mesir suatu pelajaran satu kali untuk selamanya. Sebaliknya, Dia menggunakan sesuatu yang sangat kecil. Seandainya Allah dalam sekejap membinasakan semua orang Mesir, tentu tak akan ada peringatan, penyadaran, dan pewahyuan. Dalam hikmat dan belas kasihan-Nya, Allah memakai nyamuk untuk memperlihatkan situasi kehidupan di Mesir serta mendorong umat-Nya untuk keluar dari Mesir.

Allah melakukan hal yang seprinsip hari ini. Sekali demi sekali Dia menunjukkan kepada kita bahwa Mesir tidaklah patut disayangi, dan Dia mengingatkan kita untuk tidak menetap di Mesir. Dia membuat kita nampak bahwa kehidupan di Mesir itu membencikan. Air mendatangkan katak-katak dan debu menghasilkan nyamuk. Dia tahu jika umat-Nya jelas akan situasi di Mesir, tentu mereka mau meninggalkan Mesir. Melalui tulah-tulah, umat Allah menyadari bahwa kehidupan mereka tak sepatutnya berupa kehidupan dunia, melainkan kehidupan terhadap Allah di padang gurun.

Tulah katak menyingkapkan hakiki air di Mesir, sedangkan tulah nyamuk menyingkapkan hakiki debu di Mesir. Debu menjadi nyamuk menandakan bahwa sumber suplai kehidupan kita di dunia akhirnya akan menjadi gangguan. Orang-orang di seluruh dunia hari ini menggantungkan kehidupan mereka pada air dan debu. Tanpa ini semua, mustahil mendapatkan suplai kehidupan. Walaupun air dan debu diciptakan oleh Allah untuk kita, namun itu sudah diambil alih oleh Iblis dan digunakan untuk tujuannya yang jahat. Sebab itu, dalam penghakiman-Nya, Allah menyingkapkan keadaan sesungguhnya dari air dan debu dalam situasinya yang telah jatuh. Dia mengubah air menjadi darah dan debu menjadi nyamuk.

Ketiga tulah yang pertama darah, katak, dan nyamuk menyingkapkan kepada kita hakiki, makna, dan kesudahan kehidupan di dunia. Mereka yang tetap menempuh hidup di dunia akan menemui kematian, kesusahan, dan gangguan. Kita semua perlu menerima wahyu yang sedemikian tentang kehidupan di dunia hari ini. Semoga visi ini mengesankan kita dalam-dalam sehingga kita tak bisa melupakannya.

B. DI PIHAK FIRAUN

Ahli-ahli sihir Firaun berusaha mendatangkan nyamuk, tetapi mereka gagal. Mereka mengakui di hadapan Firaun bahwa jari Allahlah yang menyebabkan debu di Mesir menjadi nyamuk (Tl.). Mereka tidak mengatakan tangan Allah melainkan jari Allah. Ini menunjukkan bahwa Yehova, Allah orang Ibrani adalah Mahakuasa. Menurut pemahaman mereka, Allah hanya memakai jari-Nya sudah bisa melakukan sesuatu yang tak mampu mereka lakukan. Walaupun demikian, hati Firaun tetap keras, degil, dan tidak mau mendengarkan Musa dan Harun seperti yang telah dikatakan oleh Yehova.

Beban saya dalam berita ini bukanlah mengajar kaum beriman bahwa mereka tidak seharusnya mengasihi dunia. Beban saya hanya membentangkan gambar yang terlukis dalam Kitab Keluaran. Coba renungkan, betapa tulah darah, katak, nyamuk menyingkapkan dunia masa kini. Masih inginkah Anda menetap di dunia? Masihkah Anda menganggapnya tempat yang terbaik untuk Anda diami? Kalau kita terkesan oleh gambar yang disajikan dalam Kitab Keluaran, serta merta kita akan keluar dari Mesir masa kini. Karena belas kasihan-Nya, Allah telah memperlihatkan kepada kita suatu gambar yang tegas yang memperlihatkan hakiki, makna, dan kesudahan dari kehidupan di dunia. Dia ingin menyelamatkan kita dari dunia dan membawa kita kepada diri-Nya di Gunung Horeb, gunung Allah. Di gunung ini, tidak ada tulah darah, tulah katak, dan tulah nyamuk. Sebaliknya, ada terang, ada wahyu, ada sasaran, ada penyertaan Allah, dan ada masa depan yang dipenuhi suplai Allah. Alangkah kontrasnya kehidupan di Mesir dengan kehidupan di Gunung Horeb! Anda ingin berada di Mesir dengan darah, katak, dan nyamuk, atau ingin bersama Allah di Gunung Horeb? Tak perlu orang menasihati kita untuk meninggalkan dunia. Begitu kita melihat gambar yang terlukis dalam Kitab Keluaran, kita akan dengan spontan merasa jijik terhadap dunia, lari menjauh, dan berhimpun bersama Tuhan di gunung Allah.