DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI DOSA DAN DUNIA
Dengan berita ini kita akan memulai satu seri berita-berita tentang penyelamatan hayat Kristus. Roma 5:10 me-ngatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diper-damaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Orang-orang Kristen mencurahkan perhatian yang besar pada kematian Kristus, tetapi tidak banyak menaruh perhatian pada hayat Kristus. Kita mungkin tahu istilah hayat Kristus, dan kita mung-kin kenal dengan ayat-ayat dalam Injil Yohanes di mana Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah hayat dan Dia da-tang supaya kita memiliki hayat dalam segala kelimpahan (Yoh. 11:25; 10:10). Meskipun demikian, kita harus menga-kui bahwa kita kekurangan pengalaman yang sejati terha-dap hayat ini.
KEMAJUAN WAHYU TENTANG HAYAT
Wahyu ilahi di dalam firman kudus itu selalu maju. Karena itu, meskipun Injil Yohanes itu menakjubkan, namun tidak mengandung wahyu yang ultima (terakhir). Setelah Injil Yohanes dan Kitab Kisah Para Rasul, kita memiliki Surat-surat Kiriman, yang merupakan perkembangan dari Injil. Benih-benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama bertunas dalam Injil, tetapi benih-benih ini bertumbuh dan berkembang lebih jauh dalam Surat-surat Kiriman. Tuaian semua benih ini, tentunya ada dalam Kitab Wahyu. Benih hayat ditaburkan dalam Kejadian 2, dalam firman menge-nai pohon hayat. Hayat di sana bukan mengacu pada hayat jasmani/fisik (bios), juga bukan mengacu pada hayat jiwa/ psikologis (psuche), melainkan mengacu pada hayat ilahi, hayat Allah (zoe). Jika kita hanya memiliki pasal yang ke-dua dari Kitab Kejadian ini, maka kita akan sulit mema-hami apakah hayat itu. Mazmur 36:10 mewahyukan lebih banyak mengenai hayat: “Sebab pada-Mu ada sumber ha-yat.” Ini menunjukkan bahwa Allah, Allah Tritunggal, ada-lah sumber hayat. Yohanes 1 mewahyukan bahwa hayat ada di dalam Firman, yaitu, di dalam Kristus (Yoh. 1:1, 4). Ke-tika Tuhan Yesus keluar untuk melayani, Dia mengatakan dengan jelas bahwa Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6). Menurut wahyu Injil Yohanes, hayat ini adalah satu per-sona yang hidup, yaitu Kristus, yang benar-benar adalah perwujudan Allah. Jadi, Injil Yohanes merupakan kitab ha-yat. Hayat bertunas di dalam Injil ini.
Kita akan melihat pertumbuhan tunas ini dalam Kitab Roma. Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus memberi tahu kita untuk tinggal di dalam Dia. Namun, seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, jalan untuk tinggal di dalam Kristus tidak ditemukan dalam Yohanes 15, melainkan dalam Roma 8. Roma 8 mewahyukan bahwa hari ini Kristus adalah Roh hayat. Sebagai Roh hayat, Dia ada di dalam kita. Jadi, roh dalam pasal ini adalah roh perbauran, Roh ilahi berbaur dengan roh insani. Untuk tinggal di da-lam Dia, kita perlu meletakkan pikiran kita, yang mewakili seluruh diri kita, di atas roh perbauran ini. Hasilnya ada-lah hayat dan damai sejahtera. Jadi, kita memerlukan Roma 8 agar dapat memahami Yohanes 15 dengan riil. Me-miliki Yohanes 15 tetapi tidak memiliki Roma 8 itu seperti memiliki tunas tanpa adanya pertumbuhan.
Demikian juga, banyak aspek menakjubkan lainnya tentang hayat yang ditemukan dalam Injil yang dikembang-kan dalam Kitab Roma. Dalam Injil Yohanes kita memiliki visi tentang hayat; namun, Injil ini tidak memberikan ja-lan yang tegas untuk mengalami hayat ini. Karena itu, ki-ta perlu Kitab Roma. Dalam Kitab Roma, hayat ini dising-kapkan sedemikian rupa sehingga kita bukan hanya dapat mengenal hayat, tetapi juga mengalaminya.
PEMBENARAN DAN HAYAT
Dalam Roma 1:16, Paulus mengatakan bahwa Injil ada-lah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Kemudian dalam ayat selanjutnya ia berkata, “Se-bab di dalamnya dinyatakan kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman’” (Tl.). Karunia keselamatan Allah adalah pembenaran oleh iman. Meskipun semua orang Kristen telah mendengar hal ini, tetapi kebanyakan dari mereka tidak memegang butir ak-hir dalam pasal ini. Perkara ini bukanlah keselamatan, pem-benaran, atau iman. Perkara ini adalah “hayat”. Perhatikan bahwa 1:17 mengatakan, “Orang benar akan memiliki ha-yat dan hidup oleh iman” (Tl.). Di sini terkandung makna memiliki hayat.
Allah telah menyelamatkan kita dan membenarkan ki-ta, supaya kita memiliki hayat. Pembenaran menghasilkan hayat. Jadi, dalam Roma 5:18, Paulus membicarakan ten-tang “pembenaran hayat”. Pembenaran Allah terhadap kita di dalam Kristus adalah supaya kita memperoleh hayat. Pembenaran menghasilkan hayat. Tujuan Allah dalam mem-benarkan kita adalah supaya kita dapat menikmati hayat-Nya. Dalam Kejadian 2, Adam tidak memerlukan pembe-naran, karena pada waktu itu dosa belum masuk. Manusia hidup tanpa dosa di hadapan Allah. Karena kejatuhan Adam dan keterlibatannya dengan dosa, maka jalan kepada pohon hayat itu ditutup (Kej. 3:24) sampai Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Kristus adalah kebenaran kita. Ketika kita percaya kepada-Nya, Dia menjadi kebenaran bagi kita, dan kita di-benarkan oleh Allah. Melalui pembenaran ini kita dibawa kembali kepada pohon hayat. Karena itu, pembenaran ada-lah oleh hayat, untuk hayat, dan menghasilkan hayat.
Banyak orang Kristen memusatkan perhatian pada per-kara pembenaran, tetapi mengabaikan perkara hayat. Ka-rena itu, kita perlu menekankan satu frase dalam 5:18 — pembenaran hayat. Di sini kata kuncinya adalah “hayat”. Sudahkah Anda dibenarkan oleh iman dalam Kristus? Jika Anda sudah dibenarkan, Anda harus memproklamirkan de-ngan tegas bahwa pembenaran Anda adalah untuk hayat. Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.
DISELAMATKAN DI DALAM HAYAT-NYA
Dalam Roma 5:10, Paulus mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah me-lalui kematian Anak-Nya.” Kematian Kristus adalah untuk penebusan, pembenaran, dan pendamaian. Tetapi semuanya ini adalah untuk hayat. Selanjutnya Paulus mengatakan, “Lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Kita telah me-nikmati faedah dari kematian Kristus; sekarang kita perlu menikmati hayat-Nya. Dia yang telah mati bagi dosa-dosa kita, sekarang telah menjadi hayat kita, hidup di dalam ki-ta, dan hidup bagi kita. Sebagaimana kita berbagian dalam kematian Kristus, demikian juga kita perlu mengalami ha-yat Kristus. Hayat Kristus adalah Kristus itu sendiri yang hidup di dalam kita.
Hayat ini menyelamatkan kita dari segala macam hal negatif. Namun, bukanlah hayat Kristus yang menyelamat-kan kita dari neraka atau penghakiman Allah, karena kita telah diselamatkan dari hal-hal ini melalui kematian Kristus di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Meskipun kita penuh dosa dan ditentukan untuk dihukum kekal oleh Allah, teta-pi kematian Kristus telah membereskan masalah ini. Kare-na itu, oleh kematian Kristus kita telah diselamatkan dari neraka dan dari penghakiman kekal Allah. Keselamatan ini telah digenapkan sekali untuk selamanya. Meskipun demiki-an, Paulus mengatakan bahwa “kita akan diselamatkan di dalam hayat-Nya,” yang menunjukkan bahwa kita masih perlu mengalami hayat penyelamatan Kristus.
Dari apakah kita diselamatkan? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini sepenuhnya dan secara terperinci, kita perlu menyebutkan ratusan butir, termasuk amarah, wa-tak, kesombongan, dan iri hati. Setiap orang memiliki masa-lah dengan amarah, dengan watak alamiah, atau dengan kesombongan dirinya maupun dengan iri hati. Anda mung-kin merasa iri terhadap seseorang yang memberikan kesak-sian yang baik di dalam sidang. Sungguh kita perlu dise-lamatkan di dalam hayat Kristus! Meskipun kita perlu diselamatkan dari ratusan butir, tetapi dalam Kitab Roma, Rasul Paulus hanya menyinggung beberapa perkara utama yang darinya kita perlu diselamatkan, termasuk dosa, du-nia, alamiah, individualisme, dan perpecahan.
DISELAMATKAN DI DALAM HAYAT DARI
HUKUM DOSA
Pertama-tama marilah kita melihat perkara diselamat-kan di dalam hayat dari hukum dosa. Roma 8:2 mengata-kan, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita di dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Ayat ini bukan hanya membicarakan tentang dosa, melainkan juga tentang hukum dosa. Semua hal negatif seperti amarah dan kesom-bongan berhubungan dengan hukum ini. Penyebab Anda tidak dapat mengatasi amarah Anda adalah karena amarah Anda terlibat dengan hukum dosa. Ada satu hukum yang membuat Anda marah, sombong, dan iri hati. Misalnya, jika saya melemparkan sebuah bola ke udara, maka kita tidak perlu berdoa agar bola itu jatuh ke tanah. Hukum gravitasi otomatis akan membuat bola itu jatuh. Demikian juga, kita tidak perlu bantuan dalam hal amarah kita, karena kita marah dengan spontan menurut pekerjaan hukum dosa di dalam kita. Lagi pula, kita tidak perlu berusaha untuk sombong, atau iri hati, karena hukum dosa ini menghasilkan kesombongan dan iri hati di dalam kita. Berkata dusta juga adalah hasil dari hukum dosa ini. Orang Kristen tahu bahwa mereka tidak boleh berdusta, tetapi dalam satu cara atau berbagai cara lainnya, hampir semua orang Kristen berdusta, sekalipun hanya menyatakan penampilan atau ekspresi yang pura-pura. Dusta, sama seperti dosa lainnya, bukanlah sesuatu yang perlu diajarkan kepada kita untuk kita lakukan; hal ini berasal dari hukum dosa yang ada di dalam kita.
Untuk membuat Anda terkesan dengan fakta ini, saya ingin memakai kata “hukum” sebagai kata kerja. Hukum dosa telah “menghukum” kita; kita semua telah “dihukum” oleh hukum ini. Kita tidak dapat menyelamatkan diri dari “penghukuman” hukum dosa di dalam kita. Menurut Roma 8:2, hukum dosa juga adalah hukum maut. Ketika hukum ini “menghukum” kita, maka kita bukan hanya terlibat dengan dosa, tetapi juga dengan maut. Hanya di dalam hayat Kristuslah kita dapat diselamatkan dari hukum yang mematikan ini.
Banyak ahli filsafat besar, khususnya para pemikir eti-ka China, berusaha menaklukkan hukum ini. Para filsuf China membicarakan tentang peperangan antara prinsip dan hawa nafsu. Ini adalah yang ditunjukkan Paulus dalam Roma 7:23: “tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal bu-diku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Apa yang ditun-jukkan para pemikir etika China sebagai prinsip adalah hukum kebaikan dan apa yang mereka tunjukkan sebagai hawa nafsu adalah hukum dosa yang mendatangkan maut ke dalam kita. Dengan usaha kita, kita tidak akan mampu menaklukkan hukum dosa ini. Satu-satunya jalan untuk di-bebaskan dari hukum ini adalah dengan jalan yang diwah-yukan dalam 8:2: “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita di dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.).
HUKUM ROH HAYAT
Roma 8:2 membicarakan tentang hukum Roh hayat. Allah itu bukan hanya Roh, tetapi juga hayat. Allah yang adalah Roh itu adalah hayat di dalam kita. Karena hayat ini adalah Roh itu, maka Roh itu disebut Roh hayat. Setiap hayat memiliki satu hukum, dan Roh hayat ini juga me-miliki hukumnya. Hukum hayat burung adalah terbang, hukum hayat anjing adalah menggonggong, hukum hayat kucing adalah menangkap tikus, dan hukum hayat ayam adalah bertelur, dan hukum hayat pohon apel adalah meng-hasilkan buah apel. Pohon apel tidak perlu diajar untuk menghasilkan buah apel, karena di dalam hayat pohon apel ada satu hukum yang “menghukum” pohon itu untuk meng-hasilkan buah dari dirinya sendiri. Hayat kita yang telah jatuh juga memiliki satu hukum, yaitu hukum dosa dan ma-ut. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita memiliki ha-yat yang kekal, hayat ilahi, hayat yang sebenarnya adalah Allah itu sendiri. Karena hayat ini adalah hayat yang paling tinggi, maka hukumnya juga adalah hukum yang paling tinggi. Hukum Roh hayat adalah fungsi spontanitas hayat ilahi. Karena itu, kita memiliki hayat yang paling tinggi dengan hukum dan fungsi yang paling tinggi.
Injil Yohanes membicarakan tentang Roh juga tentang hayat, tetapi Yohanes tidak mengatakan sesuatu tentang hukum Roh hayat. Dalam hal ini, Roma 8 adalah satu perkembangan dari Injil Yohanes. Dalam Roma 8, konsepsi hukum, yaitu fungsi spontanitas hayat, ditambahkan kepada Roh dan hayat. Karena Injil Yohanes tidak membicarakan ten-tang fungsi hayat, maka kitab ini tidak memberikan jalan untuk menerapkan hayat itu kepada kita. Tetapi dengan hukum Roh hayat yang dibicarakan dalam Roma 8:2, kita memiliki jalan untuk menerapkan hayat ilahi ini.
Hukum Roh hayat membebaskan kita dari hukum dosa dan maut. Jalan untuk bekerja sama dengan hukum ilahi ini adalah meletakkan pikiran di atas roh. Ketika amarah Anda atau hal negatif lainnya bangkit di dalam Anda, jangan-lah berusaha menekannya. Sebaliknya, palingkan pikiran Anda, diri Anda, kepada roh perbauran dan serulah nama Tuhan Yesus. Pikiran yang diletakkan di atas roh adalah ha-yat. Hayat ini memiliki satu hukum, satu fungsi spontani-tas, yang membebaskan kita dari hukum dosa dan maut. Dengan meletakkan seluruh diri kita di atas roh, kita dengan spontan akan menerapkan hayat ilahi di dalam kita kepada situasi kita, dan kita akan dibebaskan. Bila kita dibebaskan dari hukum dosa dengan cara ini, maka kita akan merasa-kan bahwa kita berada di surga dan bahwa dosa ada di ba-wah kaki kita.
Namun, secara alamiah kita cenderung ingin menang-gulangi unsur-unsur negatif ini berdasarkan diri kita sen-diri. Kadang-kadang bahkan anak kecil pun begitu keras kepala hingga mereka menolak bantuan ibunya dan ber-usaha memecahkan masalah mereka sendiri. Adalah jauh lebih baik bagi seorang anak untuk menikmati saja apa yang dilakukan ibunya baginya. Demikian juga, jalan untuk dibebaskan dari hukum dosa adalah meletakkan diri kita di atas roh dan menikmati pekerjaan spontan hayat ilahi.
Para filsuf telah menghabiskan waktu mereka dalam usaha mereka untuk menanggulangi dosa, tetapi mereka tidak menemukan jalan ini. Seperti yang telah kita lihat, ja-lannya ditemukan dalam Roma 8. Puji Tuhan untuk hayat ilahi di dalam kita! Hari ini roh kita berbaur dengan dan dihuni oleh Roh ilahi, dan kita dapat meletakkan pikiran kita pada roh perbauran ini. Dengan melakukan ini, kita akan memiliki jalan untuk dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Kewajiban kita hanyalah bekerja sama dengan mele-takkan pikiran kita di atas roh. Kapan saja kita meletak-kan pikiran kita di atas roh ini, maka hukum dosa dan ma-ut dapat diatasi.
PENGUDUSAN DALAM HAYAT
Kita diselamatkan di dalam hayat Kristus bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari dunia. Roma 6:22 mengatakan, “Te-tapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan se-telah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudah-annya ialah hidup yang kekal.” Dalam ayat ini kita memiliki perkara pengudusan. Tidak ada satu pun dari buku-buku yang telah saya baca tentang pengudusan yang berhubung-an dengan pengudusan hayat. Sebaliknya, kebanyakan dari buku-buku itu hanyalah mengatakan bahwa pengudusan adalah satu perubahan posisi melalui darah Kristus. Namun, Roma 6:22 memperlihatkan bahwa pengudusan ini berhu-bungan dengan hayat dan adalah perkara hayat.
Pengudusan yang diwahyukan dalam pasal-pasal dari Kitab Roma ini bukanlah pengudusan posisi yang di luar, melainkan pengudusan watak (sifat) yang di dalam. Diku-duskan adalah diselamatkan dari keadaan yang umum atau duniawi. Berdasarkan sifatnya, kita semua umum dan duniawi. Bukan hanya tingkah laku dan tindak tan-duk lahiriah kita harus dipisahkan dari dunia, bahkan watak kita, diri kita, juga harus dipisahkan. Dalam hal membeli sepasang sepatu, Anda mungkin hati-hati untuk tidak membeli sepasang sepatu dengan model yang du-niawi. Namun, jika Anda hanya melihat modelnya saja, Anda mungkin dikuduskan dalam hal membeli sepatu sa-ja, tetapi ini bukanlah pengudusan yang batiniah oleh ha-yat. Untuk dikuduskan secara batiniah oleh hayat dalam hal membeli sepatu, Anda harus meletakkan pikiran Anda di atas roh, berdoa kepada Tuhan, bertanya kepada-Nya, sepatu yang bagaimanakah yang Dia inginkan Anda pa-kai. Jika Anda mengontaki Tuhan dengan cara ini, maka pengurapan di dalam Anda akan mengajar Anda sepatu mana yang harus dibeli. Kemudian Anda akan membeli sepatu itu bukan menurut petunjuk atau konsepsi agama, melainkan menurut hayat batiniah. Jika kehidupan sehari-hari Anda menurut hayat batiniah, bukan menurut peng-ajaran atau peraturan, maka Anda tidak akan menjadi umum atau duniawi dalam membeli sepasang sepatu. Te-tapi butir utamanya bukanlah membeli sepatu yang tepat; bahkan dalam proses membeli sepasang sepatu itu Anda dikuduskan oleh hayat secara batiniah. Maka sepatu Anda dan diri Anda sendiri tidak akan menjadi umum lagi. Pengudusan ini bukan hanya tingkah laku yang lahiriah saja; melainkan perkara batiniah kita, yang dikendalikan oleh hukum Roh hayat.
Pengudusan yang batiniah ini juga akan mempenga-ruhi cara kita menata rambut kita. Mengenai model ram-but kita, kita harus berdoa, “Tuhan Yesus, bagaimana de-ngan rambutku? Tuhan, aku memperhatikan Engkau dan hukum Roh hayat-Mu. Tuhan, Engkau hidup di dalamku. Dalam perkara rambutku, aku ingin bekerja sama dengan hukum Roh hayat ini.” Jika Anda berdoa demikian, Anda akan dikuduskan secara watak (sifat) dan Anda akan tahu bagaimana Anda seharusnya memotong rambut Anda. Ja-ngan memperhatikan pujian orang lain atau kritikan me-reka. Sebaliknya, perhatikan saja hukum Roh hayat yang ada di dalam Anda.
JALAN YANG TERBAIK UNTUK BERTUMBUH DALAM HAYAT
Pengudusan watak itu bukan hanya perkara hayat, te-tapi juga membawa lebih banyak hayat kepada kita. Jalan yang terbaik untuk bertumbuh dalam hayat adalah diku-duskan secara watak oleh hayat. Semakin kita dikuduskan oleh hayat di dalam kita, hayat makin banyak disalurkan kepada kita. Semakin Anda bekerja sama dengan proses pe-ngudusan batiniah ini, semakin Anda akan menikmati ha-yat. Karena alasan ini, maka Roma 6:22 membicarakan ten-tang “buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Pengudus-an ini dibawa oleh hayat dan juga mendatangkan hayat. Ini sepenuhnya adalah perkara oleh hayat dan bagi hayat. Se-makin kita meletakkan diri kita di atas roh, kita akan makin dipisahkan dari dunia dan semua yang umum. Pengudusan demikian ini akan menghasilkan lebih banyak hayat bagi pertumbuhan kita dalam hayat.