Daftar isi Roma (3) · Berita Keempat Puluh · bab 9/19

Berita Keempat Puluh

DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI DOSA DAN DUNIA

Dengan berita ini kita akan memulai satu seri berita-berita tentang penyelamatan hayat Kristus. Roma 5:10 mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Orang-orang Kristen mencurahkan perhatian yang besar pada kematian Kristus, tetapi tidak banyak menaruh perhatian pada hayat Kristus. Kita mungkin tahu istilah hayat Kristus, dan kita mungkin kenal dengan ayat-ayat dalam Injil Yohanes di mana Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah hayat dan Dia datang supaya kita memiliki hayat dalam segala kelimpahan (Yoh. 11:25; 10:10). Meskipun demikian, kita harus mengakui bahwa kita kekurangan pengalaman yang sejati terhadap hayat ini.

KEMAJUAN WAHYU TENTANG HAYAT

Wahyu ilahi di dalam firman kudus itu selalu maju. Karena itu, meskipun Injil Yohanes itu menakjubkan, namun tidak mengandung wahyu yang ultima (terakhir). Setelah Injil Yohanes dan Kitab Kisah Para Rasul, kita memiliki Surat-surat Kiriman, yang merupakan perkembangan dari Injil. Benih-benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama bertunas dalam Injil, tetapi benih-benih ini bertumbuh dan berkembang lebih jauh dalam Surat-surat Kiriman. Tuaian semua benih ini, tentunya ada dalam Kitab Wahyu. Benih hayat ditaburkan dalam Kejadian 2, dalam firman mengenai pohon hayat. Hayat di sana bukan mengacu pada hayat jasmani/fisik (bios), juga bukan mengacu pada hayat jiwa/ psikologis (psuche), melainkan mengacu pada hayat ilahi, hayat Allah (zoe). Jika kita hanya memiliki pasal yang kedua dari Kitab Kejadian ini, maka kita akan sulit memahami apakah hayat itu. Mazmur 36:10 mewahyukan lebih banyak mengenai hayat: “Sebab pada-Mu ada sumber hayat.” Ini menunjukkan bahwa Allah, Allah Tritunggal, adalah sumber hayat. Yohanes 1 mewahyukan bahwa hayat ada di dalam Firman, yaitu, di dalam Kristus (Yoh. 1:1, 4). Ketika Tuhan Yesus keluar untuk melayani, Dia mengatakan dengan jelas bahwa Dia adalah hayat (Yoh. 11:25; 14:6). Menurut wahyu Injil Yohanes, hayat ini adalah satu persona yang hidup, yaitu Kristus, yang benar-benar adalah perwujudan Allah. Jadi, Injil Yohanes merupakan kitab hayat. Hayat bertunas di dalam Injil ini.

Kita akan melihat pertumbuhan tunas ini dalam Kitab Roma. Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus memberi tahu kita untuk tinggal di dalam Dia. Namun, seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelumnya, jalan untuk tinggal di dalam Kristus tidak ditemukan dalam Yohanes 15, melainkan dalam Roma 8. Roma 8 mewahyukan bahwa hari ini Kristus adalah Roh hayat. Sebagai Roh hayat, Dia ada di dalam kita. Jadi, roh dalam pasal ini adalah roh perbauran, Roh ilahi berbaur dengan roh insani. Untuk tinggal di dalam Dia, kita perlu meletakkan pikiran kita, yang mewakili seluruh diri kita, di atas roh perbauran ini. Hasilnya adalah hayat dan damai sejahtera. Jadi, kita memerlukan Roma 8 agar dapat memahami Yohanes 15 dengan riil. Memiliki Yohanes 15 tetapi tidak memiliki Roma 8 itu seperti memiliki tunas tanpa adanya pertumbuhan.

Demikian juga, banyak aspek menakjubkan lainnya tentang hayat yang ditemukan dalam Injil yang dikembangkan dalam Kitab Roma. Dalam Injil Yohanes kita memiliki visi tentang hayat; namun, Injil ini tidak memberikan jalan yang tegas untuk mengalami hayat ini. Karena itu, kita perlu Kitab Roma. Dalam Kitab Roma, hayat ini disingkapkan sedemikian rupa sehingga kita bukan hanya dapat mengenal hayat, tetapi juga mengalaminya.

PEMBENARAN DAN HAYAT

Dalam Roma 1:16, Paulus mengatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Kemudian dalam ayat selanjutnya ia berkata, “Sebab di dalamnya dinyatakan kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman’” (Tl.). Karunia keselamatan Allah adalah pembenaran oleh iman. Meskipun semua orang Kristen telah mendengar hal ini, tetapi kebanyakan dari mereka tidak memegang butir akhir dalam pasal ini. Perkara ini bukanlah keselamatan, pembenaran, atau iman. Perkara ini adalah “hayat”. Perhatikan bahwa 1:17 mengatakan, “Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman” (Tl.). Di sini terkandung makna memiliki hayat.

Allah telah menyelamatkan kita dan membenarkan kita, supaya kita memiliki hayat. Pembenaran menghasilkan hayat. Jadi, dalam Roma 5:18, Paulus membicarakan tentang “pembenaran hayat”. Pembenaran Allah terhadap kita di dalam Kristus adalah supaya kita memperoleh hayat. Pembenaran menghasilkan hayat. Tujuan Allah dalam membenarkan kita adalah supaya kita dapat menikmati hayat-Nya. Dalam Kejadian 2, Adam tidak memerlukan pembenaran, karena pada waktu itu dosa belum masuk. Manusia hidup tanpa dosa di hadapan Allah. Karena kejatuhan Adam dan keterlibatannya dengan dosa, maka jalan kepada pohon hayat itu ditutup (Kej. 3:24) sampai Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Kristus adalah kebenaran kita. Ketika kita percaya kepada-Nya, Dia menjadi kebenaran bagi kita, dan kita dibenarkan oleh Allah. Melalui pembenaran ini kita dibawa kembali kepada pohon hayat. Karena itu, pembenaran adalah oleh hayat, untuk hayat, dan menghasilkan hayat.

Banyak orang Kristen memusatkan perhatian pada perkara pembenaran, tetapi mengabaikan perkara hayat. Karena itu, kita perlu menekankan satu frase dalam 5:18 — pembenaran hayat. Di sini kata kuncinya adalah “hayat”. Sudahkah Anda dibenarkan oleh iman dalam Kristus? Jika Anda sudah dibenarkan, Anda harus memproklamirkan dengan tegas bahwa pembenaran Anda adalah untuk hayat. Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.

DISELAMATKAN DI DALAM HAYAT-NYA

Dalam Roma 5:10, Paulus mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya.” Kematian Kristus adalah untuk penebusan, pembenaran, dan pendamaian. Tetapi semuanya ini adalah untuk hayat. Selanjutnya Paulus mengatakan, “Lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya!” (Tl.). Kita telah menikmati faedah dari kematian Kristus; sekarang kita perlu menikmati hayat-Nya. Dia yang telah mati bagi dosa-dosa kita, sekarang telah menjadi hayat kita, hidup di dalam kita, dan hidup bagi kita. Sebagaimana kita berbagian dalam kematian Kristus, demikian juga kita perlu mengalami hayat Kristus. Hayat Kristus adalah Kristus itu sendiri yang hidup di dalam kita.

Hayat ini menyelamatkan kita dari segala macam hal negatif. Namun, bukanlah hayat Kristus yang menyelamatkan kita dari neraka atau penghakiman Allah, karena kita telah diselamatkan dari hal-hal ini melalui kematian Kristus di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Meskipun kita penuh dosa dan ditentukan untuk dihukum kekal oleh Allah, tetapi kematian Kristus telah membereskan masalah ini. Karena itu, oleh kematian Kristus kita telah diselamatkan dari neraka dan dari penghakiman kekal Allah. Keselamatan ini telah digenapkan sekali untuk selamanya. Meskipun demikian, Paulus mengatakan bahwa “kita akan diselamatkan di dalam hayat-Nya,” yang menunjukkan bahwa kita masih perlu mengalami hayat penyelamatan Kristus.

Dari apakah kita diselamatkan? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini sepenuhnya dan secara terperinci, kita perlu menyebutkan ratusan butir, termasuk amarah, watak, kesombongan, dan iri hati. Setiap orang memiliki masalah dengan amarah, dengan watak alamiah, atau dengan kesombongan dirinya maupun dengan iri hati. Anda mungkin merasa iri terhadap seseorang yang memberikan kesaksian yang baik di dalam sidang. Sungguh kita perlu diselamatkan di dalam hayat Kristus! Meskipun kita perlu diselamatkan dari ratusan butir, tetapi dalam Kitab Roma, Rasul Paulus hanya menyinggung beberapa perkara utama yang darinya kita perlu diselamatkan, termasuk dosa, dunia, alamiah, individualisme, dan perpecahan.

DISELAMATKAN DI DALAM HAYAT DARI

HUKUM DOSA

Pertama-tama marilah kita melihat perkara diselamatkan di dalam hayat dari hukum dosa. Roma 8:2 mengatakan, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita di dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Ayat ini bukan hanya membicarakan tentang dosa, melainkan juga tentang hukum dosa. Semua hal negatif seperti amarah dan kesombongan berhubungan dengan hukum ini. Penyebab Anda tidak dapat mengatasi amarah Anda adalah karena amarah Anda terlibat dengan hukum dosa. Ada satu hukum yang membuat Anda marah, sombong, dan iri hati. Misalnya, jika saya melemparkan sebuah bola ke udara, maka kita tidak perlu berdoa agar bola itu jatuh ke tanah. Hukum gravitasi otomatis akan membuat bola itu jatuh. Demikian juga, kita tidak perlu bantuan dalam hal amarah kita, karena kita marah dengan spontan menurut pekerjaan hukum dosa di dalam kita. Lagi pula, kita tidak perlu berusaha untuk sombong, atau iri hati, karena hukum dosa ini menghasilkan kesombongan dan iri hati di dalam kita. Berkata dusta juga adalah hasil dari hukum dosa ini. Orang Kristen tahu bahwa mereka tidak boleh berdusta, tetapi dalam satu cara atau berbagai cara lainnya, hampir semua orang Kristen berdusta, sekalipun hanya menyatakan penampilan atau ekspresi yang pura-pura. Dusta, sama seperti dosa lainnya, bukanlah sesuatu yang perlu diajarkan kepada kita untuk kita lakukan; hal ini berasal dari hukum dosa yang ada di dalam kita.

Untuk membuat Anda terkesan dengan fakta ini, saya ingin memakai kata “hukum” sebagai kata kerja. Hukum dosa telah “menghukum” kita; kita semua telah “dihukum” oleh hukum ini. Kita tidak dapat menyelamatkan diri dari “penghukuman” hukum dosa di dalam kita. Menurut Roma 8:2, hukum dosa juga adalah hukum maut. Ketika hukum ini “menghukum” kita, maka kita bukan hanya terlibat dengan dosa, tetapi juga dengan maut. Hanya di dalam hayat Kristuslah kita dapat diselamatkan dari hukum yang mematikan ini.

Banyak ahli filsafat besar, khususnya para pemikir etika China, berusaha menaklukkan hukum ini. Para filsuf China membicarakan tentang peperangan antara prinsip dan hawa nafsu. Ini adalah yang ditunjukkan Paulus dalam Roma 7:23: “tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Apa yang ditunjukkan para pemikir etika China sebagai prinsip adalah hukum kebaikan dan apa yang mereka tunjukkan sebagai hawa nafsu adalah hukum dosa yang mendatangkan maut ke dalam kita. Dengan usaha kita, kita tidak akan mampu menaklukkan hukum dosa ini. Satu-satunya jalan untuk dibebaskan dari hukum ini adalah dengan jalan yang diwahyukan dalam 8:2: “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kita di dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.).

HUKUM ROH HAYAT

Roma 8:2 membicarakan tentang hukum Roh hayat. Allah itu bukan hanya Roh, tetapi juga hayat. Allah yang adalah Roh itu adalah hayat di dalam kita. Karena hayat ini adalah Roh itu, maka Roh itu disebut Roh hayat. Setiap hayat memiliki satu hukum, dan Roh hayat ini juga memiliki hukumnya. Hukum hayat burung adalah terbang, hukum hayat anjing adalah menggonggong, hukum hayat kucing adalah menangkap tikus, dan hukum hayat ayam adalah bertelur, dan hukum hayat pohon apel adalah menghasilkan buah apel. Pohon apel tidak perlu diajar untuk menghasilkan buah apel, karena di dalam hayat pohon apel ada satu hukum yang “menghukum” pohon itu untuk menghasilkan buah dari dirinya sendiri. Hayat kita yang telah jatuh juga memiliki satu hukum, yaitu hukum dosa dan maut. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita memiliki hayat yang kekal, hayat ilahi, hayat yang sebenarnya adalah Allah itu sendiri. Karena hayat ini adalah hayat yang paling tinggi, maka hukumnya juga adalah hukum yang paling tinggi. Hukum Roh hayat adalah fungsi spontanitas hayat ilahi. Karena itu, kita memiliki hayat yang paling tinggi dengan hukum dan fungsi yang paling tinggi.

Injil Yohanes membicarakan tentang Roh juga tentang hayat, tetapi Yohanes tidak mengatakan sesuatu tentang hukum Roh hayat. Dalam hal ini, Roma 8 adalah satu perkembangan dari Injil Yohanes. Dalam Roma 8, konsepsi hukum, yaitu fungsi spontanitas hayat, ditambahkan kepada Roh dan hayat. Karena Injil Yohanes tidak membicarakan tentang fungsi hayat, maka kitab ini tidak memberikan jalan untuk menerapkan hayat itu kepada kita. Tetapi dengan hukum Roh hayat yang dibicarakan dalam Roma 8:2, kita memiliki jalan untuk menerapkan hayat ilahi ini.

Hukum Roh hayat membebaskan kita dari hukum dosa dan maut. Jalan untuk bekerja sama dengan hukum ilahi ini adalah meletakkan pikiran di atas roh. Ketika amarah Anda atau hal negatif lainnya bangkit di dalam Anda, janganlah berusaha menekannya. Sebaliknya, palingkan pikiran Anda, diri Anda, kepada roh perbauran dan serulah nama Tuhan Yesus. Pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat. Hayat ini memiliki satu hukum, satu fungsi spontan-tas, yang membebaskan kita dari hukum dosa dan maut. Dengan meletakkan seluruh diri kita di atas roh, kita dengan spontan akan menerapkan hayat ilahi di dalam kita kepada situasi kita, dan kita akan dibebaskan. Bila kita dibebaskan dari hukum dosa dengan cara ini, maka kita akan merasakan bahwa kita berada di surga dan bahwa dosa ada di bawah kaki kita.

Namun, secara alamiah kita cenderung ingin menanggulangi unsur-unsur negatif ini berdasarkan diri kita sendiri. Kadang-kadang bahkan anak kecil pun begitu keras kepala hingga mereka menolak bantuan ibunya dan berusaha memecahkan masalah mereka sendiri. Adalah jauh lebih baik bagi seorang anak untuk menikmati saja apa yang dilakukan ibunya baginya. Demikian juga, jalan untuk dibebaskan dari hukum dosa adalah meletakkan diri kita di atas roh dan menikmati pekerjaan spontan hayat ilahi.

Para filsuf telah menghabiskan waktu mereka dalam usaha mereka untuk menanggulangi dosa, tetapi mereka tidak menemukan jalan ini. Seperti yang telah kita lihat, jalannya ditemukan dalam Roma 8. Puji Tuhan untuk hayat ilahi di dalam kita! Hari ini roh kita berbaur dengan dan dihuni oleh Roh ilahi, dan kita dapat meletakkan pikiran kita pada roh perbauran ini. Dengan melakukan ini, kita akan memiliki jalan untuk dibebaskan dari hukum dosa dan maut. Kewajiban kita hanyalah bekerja sama dengan meletakkan pikiran kita di atas roh. Kapan saja kita meletakkan pikiran kita di atas roh ini, maka hukum dosa dan maut dapat diatasi.

PENGUDUSAN DALAM HAYAT

Kita diselamatkan di dalam hayat Kristus bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari dunia. Roma 6:22 mengatakan, “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Dalam ayat ini kita memiliki perkara pengudusan. Tidak ada satu pun dari buku-buku yang telah saya baca tentang pengudusan yang berhubungan dengan pengudusan hayat. Sebaliknya, kebanyakan dari buku-buku itu hanyalah mengatakan bahwa pengudusan adalah satu perubahan posisi melalui darah Kristus. Namun, Roma 6:22 memperlihatkan bahwa pengudusan ini berhubungan dengan hayat dan adalah perkara hayat.

Pengudusan yang diwahyukan dalam pasal-pasal dari Kitab Roma ini bukanlah pengudusan posisi yang di luar, melainkan pengudusan watak (sifat) yang di dalam. Dikuduskan adalah diselamatkan dari keadaan yang umum atau duniawi. Berdasarkan sifatnya, kita semua umum dan duniawi. Bukan hanya tingkah laku dan tindak tanduk lahiriah kita harus dipisahkan dari dunia, bahkan watak kita, diri kita, juga harus dipisahkan. Dalam hal membeli sepasang sepatu, Anda mungkin hati-hati untuk tidak membeli sepasang sepatu dengan model yang duniawi. Namun, jika Anda hanya melihat modelnya saja, Anda mungkin dikuduskan dalam hal membeli sepatu saja, tetapi ini bukanlah pengudusan yang batiniah oleh hayat. Untuk dikuduskan secara batiniah oleh hayat dalam hal membeli sepatu, Anda harus meletakkan pikiran Anda di atas roh, berdoa kepada Tuhan, bertanya kepada-Nya, sepatu yang bagaimanakah yang Dia inginkan Anda pakai. Jika Anda mengontaki Tuhan dengan cara ini, maka pengurapan di dalam Anda akan mengajar Anda sepatu mana yang harus dibeli. Kemudian Anda akan membeli sepatu itu bukan menurut petunjuk atau konsepsi agama, melainkan menurut hayat batiniah. Jika kehidupan sehari-hari Anda menurut hayat batiniah, bukan menurut pengajaran atau peraturan, maka Anda tidak akan menjadi umum atau duniawi dalam membeli sepasang sepatu. Tetapi butir utamanya bukanlah membeli sepatu yang tepat; bahkan dalam proses membeli sepasang sepatu itu Anda dikuduskan oleh hayat secara batiniah. Maka sepatu Anda dan diri Anda sendiri tidak akan menjadi umum lagi. Pengudusan ini bukan hanya tingkah laku yang lahiriah saja; melainkan perkara batiniah kita, yang dikendalikan oleh hukum Roh hayat.

Pengudusan yang batiniah ini juga akan mempengaruhi cara kita menata rambut kita. Mengenai model rambut kita, kita harus berdoa, “Tuhan Yesus, bagaimana dengan rambutku? Tuhan, aku memperhatikan Engkau dan hukum Roh hayat-Mu. Tuhan, Engkau hidup di dalamku. Dalam perkara rambutku, aku ingin bekerja sama dengan hukum Roh hayat ini.” Jika Anda berdoa demikian, Anda akan dikuduskan secara watak (sifat) dan Anda akan tahu bagaimana Anda seharusnya memotong rambut Anda. Jangan memperhatikan pujian orang lain atau kritikan mereka. Sebaliknya, perhatikan saja hukum Roh hayat yang ada di dalam Anda.

JALAN YANG TERBAIK UNTUK BERTUMBUH DALAM HAYAT

Pengudusan watak itu bukan hanya perkara hayat, tetapi juga membawa lebih banyak hayat kepada kita. Jalan yang terbaik untuk bertumbuh dalam hayat adalah dikuduskan secara watak oleh hayat. Semakin kita dikuduskan oleh hayat di dalam kita, hayat makin banyak disalurkan kepada kita. Semakin Anda bekerja sama dengan proses pengudusan batiniah ini, semakin Anda akan menikmati hayat. Karena alasan ini, maka Roma 6:22 membicarakan tentang “buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Pengudusan ini dibawa oleh hayat dan juga mendatangkan hayat. Ini sepenuhnya adalah perkara oleh hayat dan bagi hayat. Semakin kita meletakkan diri kita di atas roh, kita akan makin dipisahkan dari dunia dan semua yang umum. Pengudusan demikian ini akan menghasilkan lebih banyak hayat bagi pertumbuhan kita dalam hayat.