TINGGAL DI DALAM KRISTUS MELALUI MEMIKIRKAN ROH
Roma 8 adalah inti bukan hanya dari Kitab Roma, tetapi juga dari seluruh Alkitab. Karena alasan ini, maka pengalaman dalam bagian dari firman ini harus menjadi kehidupan kita sehari-hari.
ROH DALAM ROMA 8
Dalam pasal ini Roh Allah disebut Roh hayat (Tl.) dan Roh Kristus, istilah yang tidak dipakai dalam Perjanjian Lama, dalam Injil, maupun dalam Kitab Kisah Para Rasul. Istilah Roh Allah sering kali dipakai sebelum Kitab Roma, tetapi Roma 8 mewahyukan bahwa Roh Allah adalah Roh hayat dan Roh Kristus. Dalam ayat 9 dan 10 Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus dipakai secara bergantian. Ini me-nunjukkan bahwa Roh Allah adalah Roh Kristus dan Roh Kristus adalah Kristus itu sendiri. Hari ini Kristus sebagai Roh hayat tinggal di dalam roh kita. Kita akan mengalami hal ini sewaktu kita tidak berjalan menurut daging, mela-inkan menurut roh.
HAYAT DAN MAUT
Ayat 6 mengatakan, “Karena meletakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Di sini kita me-lihat bahwa hasil dari memikirkan daging adalah maut dan hasil dari memikirkan roh adalah hayat dan damai sejahte-ra. Pada permulaan Alkitab, hayat dilambangkan oleh pohon hayat, dan maut dilambangkan oleh pohon pengetahuan ten-tang yang baik dan yang jahat. Dua pohon ini mewakili dua sumber yang berbeda dengan dua hasil yang berlawanan. Pohon hayat mendatangkan hayat ke dalam kita, dan pohon pengetahuan mendatangkan maut ke dalam kita. Selain itu, Alkitab disimpulkan dengan dua perampungan: Lautan api, yang adalah kematian yang kedua, dan Yerusalem Baru, yang adalah kota hayat. Karena itu, Alkitab diawali dan di-akhiri dengan hayat dan maut.
Roma 8 berada pada perjalanan antara permulaan dalam Kitab Kejadian dan perampungan dalam Kitab Wahyu. Di antara kedua sumber ini dan kedua perampungan ini ada dua garis: Garis hayat dan garis maut. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, kadang-kadang kita mungkin memiliki satu kaki pada garis hayat dan satunya lagi pada garis maut. Pada waktu-waktu lainnya, kita mung-kin benar-benar berada pada satu garis atau garis lainnya. Roma 8 berhubungan dengan dua garis ini dari aspek pengalaman kita.
TIGA PERTANYAAN MENGENAI TINGGAL
DI DALAM KRISTUS
Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus mewahyukan bahwa Dia adalah pohon anggur dan kita adalah ranting-ranting-nya. Dia juga mengatakan bahwa kita perlu tinggal di dalam Dia dan jika kita tinggal di dalam Dia, Dia akan tinggal di dalam kita. Sungguh suatu kehidupan yang ajaib dari sa-ling tinggal bersama ini! Meskipun Yohanes 15 menyuruh kita tinggal di dalam Kristus, Yohanes tidak menyajikan ca-ra untuk tinggal di dalam-Nya. Seperti yang akan kita lihat, cara untuk tinggal di dalam Kristus ini ditemukan dalam Roma 8, yang merupakan perkembangan dari Yohanes 15.
Selama lebih dari 50 tahun, saya terus memikirkan ba-gaimana tinggal di dalam Kristus. Kristus begitu jauh di langit tingkat ketiga dan kita berada di bumi. Bagaimana kita dapat tinggal di dalam Dia? Bertahun-tahun yang lalu, para guru Alkitab yang mengajar saya tidak dapat menja-wab pertanyaan ini dengan memadai. Mereka hanya dapat memberi tahu saya bahwa saya bisa tinggal di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Tetapi dalam Yohanes 15, Kristus tidak mengatakan tinggal di dalam Dia melalui Roh Kudus. Seba-gai orang muda yang damba mengenal Alkitab dengan logis, bukan menurut takhayul atau tradisi, saya berpikir bahwa tidaklah logis bila kita mengatakan bahwa kita tinggal di da-lam Kristus melalui Roh itu. Bagaimana Anda dapat ting-gal di dalam seorang persona melalui persona lainnya? Jadi, mengenai tinggal di dalam Kristus, pertama-tama kita perlu mencari jawaban untuk pertanyaan ini: Di manakah Kristus yang di dalam-Nya kita harus tinggal?
Pertanyaan kedua adalah: Apakah “Aku” yang dibicarakan dalam Yohanes 15:4-5? Untuk menjawabnya, kita bukan hanya harus mengenal siapa Kristus, tetapi juga harus mengenal apa Kristus itu. Jika kita ingin tinggal di dalam Kristus sebagai pohon anggur, kita harus dapat menjawab pertanyaan ini. Bagaimana kita dapat tinggal di dalam se-suatu bila kita tidak mengenal apa yang akan kita tinggali itu? Bagaimana Kristus dapat menjadi Dia yang di dalam-Nya kita tinggal? Kita dapat memahami arti dari “ikutlah Aku”, tetapi tidaklah mudah untuk memahami kalimat “tinggallah di dalam Aku”. Mengikuti Tuhan berarti Dia berjalan di depan kita dan kita mengikuti-Nya dari bela-kang. Tetapi apakah arti dari tinggal di dalam Dia? Kita da-pat dengan mudah memahami arti tinggal bersama Kristus, tetapi tidak mudah memahami apakah arti tinggal di da-lam Dia.
Pertanyaan yang ketiga adalah: Bagaimana kita dapat tinggal di dalam Dia? Sekalipun kita tahu di mana Kristus berada dan tahu apakah “Aku” yang di dalam-Nya kita ha-rus tinggal, tetapi kita tetap perlu mengenal bagaimana tetap tinggal di dalam Dia. Kalimat “tinggallah di dalam Aku” itu sungguh misterius dan sulit dipahami. Seperti ba-nyak kata-kata lainnya dalam Injil Yohanes, kata-kata ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Untuk menjawab semua pertanyaan yang telah kita se-butkan mengenai tinggal di dalam Kristus ini, kita perlu datang kembali kepada Roma 8. Wahyu ilahi dalam firman kudus itu terus maju; karena itu, untuk memahami perka-ra tinggal di dalam Kristus ini, kita perlu keluar dari Yohanes 15 dan masuk ke Roma 8. Misalnya, ayah Anda menulis se-pucuk surat yang panjang kepada Anda. Untuk memahami pemikiran ayah Anda seperti yang dituliskan di dalam surat itu, Anda perlu membaca seluruh surat itu, bukan hanya beberapa halaman pertama saja. Pemikiran dalam suratnya akan semakin berkembang. Demikian juga, bila kita maju dari Yohanes 15 ke Roma 8, kita akan melihat kemajuan dalam perkara tinggal di dalam Kristus.
KRISTUS DI DALAM KITA
Pertama-tama, dalam Roma 8 kita menemukan jawab-an untuk pertanyaan mengenai di mana Kristus berada pada hari ini. Pasal ini mewahyukan bahwa Kristus bukan hanya ada di surga, tetapi juga ada di dalam kita. Ayat 34 mengatakan bahwa Kristus ada di sebelah kanan Allah, se-dangkan ayat 10 mewahyukan bahwa Kristus ada di dalam kita. Kristus yang duduk di langit tingkat ketiga sekarang hidup di dalam kita. Sungguh ajaib! Jadi, melalui Roma 8, kita mengenal di mana Kristus berada.
MENGALAMI KRISTUS SEBAGAI ROH PEMBERI-HAYAT
Sekarang kita sampai pada pertanyaan mengenai “Aku” dalam Yohanes 15:5. Hal ini melibatkan perkara apakah Kristus itu. Kebanyakan orang Kristen mengenal Kristus hanya menurut doktrin Trinitas secara obyektif. Kita sung-guh percaya bahwa Allah itu tritunggal. Sebagai Bapa, Putra, dan Roh, Allah itu tiga-dalam-satu. Ini adalah miste-ri yang surgawi, ilahi, dan rohani, yang seorang pun tidak dapat menjelaskannya dengan memadai. Kita bahkan tidak memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang diri kita sendiri, apalagi tentang Allah Tritunggal. Dalam Alkitab, Allah Tritunggal bukanlah untuk dianalisis oleh kita secara doktrinal, melainkan untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita.
Injil Yohanes mewahyukan bahwa Allah Bapa terwujud di dalam Allah Putra dan dikenal melalui Putra. Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Ketika Filipus me-minta kepada Tuhan Yesus untuk memperlihatkan Bapa kepada murid-murid, Tuhan kelihatannya terkejut atas per-tanyaan itu, dan Dia berkata kepadanya, “Telah sekian la-ma Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (Yoh. 14:9). Tuhan menjawab Filipus dengan cara misterius, dengan memberitahukan kepadanya bahwa selama ia telah melihat Tuhan, maka ia juga telah melihat Bapa. Dalam Yohanes 14:10, Tuhan melanjutkan lebih jauh, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepa-damu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan peker-jaan-pekerjaan-Nya.” Di sini kita melihat bahwa Bapa ter-wujud di dalam Putra dan terlihat di dalam Putra.
Yohanes 14 mewahyukan lebih banyak tentang Allah Tritunggal. Dalam ayat 16 dan 17, Tuhan Yesus membicarakan tentang Penghibur yang lain, yaitu Roh realitas (ke-benaran). Jika kita melihat dengan teliti ayat 17 dan 18, kita akan melihat bahwa Roh realitas itu sebenarnya adalah Tuhan Yesus sendiri. Roh realitas ini benar-benar adalah realisasi dari Putra. Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Karena itu, dalam 1 Korintus 15:45 Paulus dapat berkata, “Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi-hayat” (Tl.). Adam yang akhir, Yesus dalam daging, telah ditransfigurasi melalui kematian dan kebangkitan menjadi Roh pemberi-hayat. Karena alasan ini 2 Korintus 3:17 mengatakan, “Tuhan adalah Roh itu” (Tl.). Dalam mengalami Allah Tritunggal, kita semua perlu mengenal bahwa Allah Bapa terwujud di dalam Allah Putra dan Allah Putra direalisasikan sebagai Roh itu yang mem-beri hayat. Karena alasan ini, Roma 8:2 membicarakan ten-tang Roh hayat, yang adalah Kristus Putra Allah yang direalisasikan sebagai Roh itu.
Karena Roh itu adalah realisasi Putra, maka kita akan mendapatkan Roh itu kapan saja kita berseru kepada nama Tuhan Yesus. Jika saya memanggil nama seorang saudara, maka saudara itu akan menjawab karena ia, personanya, adalah realitas dari namanya. Demikian juga, ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita akan mendapat-kan Roh itu, karena Roh itu adalah realitas dari nama Yesus. Inilah pengalaman kita. Anda dapat berkata, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu, aku menerima Engkau dan aku cinta kepada-Mu.” Kapan kala Anda berdoa dengan ca-ra ini, Anda akan menerima Roh itu. Kita berseru kepada nama Yesus, tetapi kita mengalami Roh itu sebagai realisa-si dari Kristus. Ini menunjukkan bahwa Roh pemberi-hayat adalah realitas Kristus.
Kita telah melihat bahwa Putra adalah perwujudan Bapa dan Roh itu adalah realitas Putra. Hari ini Roh itu ada di dalam roh kita. Karena itu, totalitas dari Allah Tritunggal yang ajaib, Bapa, Putra, dan Roh itu ada di dalam roh kita bagi pengalaman kita. Dia yang ajaib ini adalah semua yang kita perlukan: Hayat kita, makanan kita, air hidup kita, terang kita, kekuatan kita, penghiburan ki-ta, kekudusan kita, kemenangan kita, hikmat kita, damai se-jahtera kita, kerendahhatian kita, ketaatan kita, kasih kita, segala sesuatu kita. Ini bukanlah suatu doktrin; atau suatu metoda maupun sistem. Ini adalah kenikmatan dan peng-alaman terhadap Allah Tritunggal yang berhuni di dalam kita. Setelah menggenapkan penciptaan dan setelah melalui inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, Dia yang hidup ini mencapai kita dan bahkan berhuni di dalam kita, di dalam roh kita. Dia yang hidup ini, yaitu Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit ini, adalah “Aku” yang di dalam-Nya kita akan tinggal.
MEMIKIRKAN ROH
Bagaimana kita dapat tinggal di dalam Dia? Roma 8:6 menunjukkan caranya: “Karena meletakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Karena Roh ilahi telah berbaur dengan roh kita, maka sulit untuk mengata-kan roh di dalam ayat ini mengacu kepada roh kita atau kepada Roh ilahi. Roh di sini adalah roh perbauran. Seperti yang dikatakan dalam ayat 16, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita.”
Lawan dari roh perbauran yang ajaib ini adalah daging, tubuh kita yang bobrok. Di dalam tubuh yang sebermula di-ciptakan oleh Allah tidak ada unsur dosa; sebaliknya, tubuh insani ini murni dan tanpa dosa. Namun, melalui kejatuh-an, Iblis, si jahat, menginjeksikan dirinya sendiri sebagai dosa ke dalam tubuh manusia. Hal ini terjadi ketika ma-nusia memakan buah pohon pengetahuan ke dalamnya. Setelah Iblis masuk ke dalam tubuh manusia, tubuh ini tercemar dan terpolusi sehingga menjadi daging. Karena itu, roh kita berbaur dengan Allah Tritunggal, dan tubuh kita, yang telah menjadi daging, bercampur dengan unsur dosa Iblis.
Hal ini membuat orang Kristen menjadi miniatur dari Taman Eden. Di dalam taman itu, di satu pihak manusia dihadapkan pada pohon hayat, di pihak lain dihadapkan pada pohon pengetahuan. Sekarang, sebagai orang-orang yang diwakili oleh Adam dalam Kejadian 2, kita memiliki pohon hayat di dalam roh kita dan pohon pengetahuan di dalam daging kita. Kita perlu menentukan apakah kita akan meletakkan pikiran kita di atas daging dan mengalami ma-ut atau meletakkan pikiran kita di atas roh dan menikmati hayat dan damai sejahtera. Dengan meletakkan pikiran di atas roh, kita akan tinggal di dalam Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam roh kita.
Tidak ada doktrin, metoda, atau sistem yang dapat me-naklukkan unsur setani yang ada di dalam daging kita. Di alam semesta ini hanya Allah saja yang lebih berkuasa da-ripada Iblis; tidak ada doktrin yang dapat menang terhadap-nya. Apakah Anda kira Anda dapat mengalahkan Iblis dengan memperdengarkan pengajaran-pengajaran, dengan mengoreksi metoda, atau dengan pengetahuan Kitab Suci secara harfiah? Sungguh mustahil! Puji Tuhan bahwa Allah Tritunggal yang sekarang ada di dalam kita telah menak-lukkan Iblis. Kita tidak seharusnya memelihara metoda ter-tentu, kita hanya harus terus bersandar kepada Tuhan. Firman Tuhan dalam Yohanes 15:5 diterapkan di sini: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kita hanya perlu tinggal di dalam Dia dengan meletakkan pikiran kita di atas roh.
Sekarang kita memiliki jawaban untuk tiga pertanyaan yang kita sebutkan mengenai tinggal di dalam Kristus. Di manakah Kristus? Dia ada di dalam roh kita. Apakah Kristus? Dia adalah Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita. Bagaimana kita dapat tinggal di dalam Dia? Kita tinggal di dalam Dia dengan meletakkan pikiran kita di atas roh. Meletakkan pikiran di atas roh itu sebenarnya adalah tinggal. Hari demi hari bahkan saat demi saat, kita perlu meletakkan pikiran kita, yang mewakili seluruh diri kita, di atas roh perbauran. Hasilnya akan selalu hayat dan damai sejahtera.
Roma 8 sungguh merupakan satu kemajuan dari Yoha-nes 15 mengenai tinggal di dalam Kristus. Bila kita tidak memiliki Roma 8, kita tetap akan meraba-raba untuk me-nemukan jalan yang riil untuk tinggal di dalam Kristus. Puji Tuhan bahwa kita sekarang tidak lagi meraba-raba da-lam kegelapan mencari jalan itu! Sebaliknya, kita telah bel-ajar dari Roma 8 bahwa semua yang kita perlu lakukan adalah berpaling dari diri kita kepada Dia yang hidup, yang menghuni roh kita, dan tinggal bersama dengan-Nya. Bila kita berpaling kepada-Nya dan meletakkan pikiran kita di atas-Nya, kita akan memiliki hayat, damai sejahtera, te-rang, penghiburan, kekuatan, dan semua yang kita perlu-kan. Dahaga kita akan dileraikan dan lapar kita akan dipuaskan.
MELETAKKAN PIKIRAN DI ATAS ROH MELALUI BERDOA
Untuk meletakkan diri kita di atas roh perbauran, kita perlu berdoa. Betapa mudahnya kita dialihkan dari Roh ila-hi di dalam roh kita! Pikiran kita mudah sekali tertarik ke-pada hal-hal lain. Karena itu, kita perlu berdoa, terutama bukan meminta Tuhan melakukan sesuatu bagi kita, tetapi supaya Dia menjaga pikiran kita senantiasa diletakkan di atas roh. Yakinlah, Tuhan akan merawat Anda dan akan melakukan segala sesuatu bagi Anda. Jadi, dalam berdoa Anda tidak perlu diduduki oleh kebutuhan-kebutuhan Anda. Sebaliknya, berdoalah untuk berhubungan dengan Dia yang hidup di dalam roh Anda. Semakin Anda berkontak dengan-Nya, Anda akan semakin menikmati Dia. Jangan berdoa tentang keperluan Anda akan kasih atau kesabaran. Peng-alaman kita membuktikan bahwa semakin kita berdoa ten-tang hal-hal itu, kita akan makin dialihkan dari roh perba-uran dan semakin kurang tinggal di dalam Kristus. Kita seharusnya hanya memuji Tuhan bahwa Dia itu adalah kasih kita, kesabaran kita, dan segala sesuatu kita. Bila ki-ta memuji Dia dengan cara ini, mengumumkan betapa ba-iknya Tuhan itu, sadar atau tidak, dengan spontan, kasih dan kesabaran akan mengalir keluar dari kita. Orang lain akan terkejut melihat perubahan di dalam kita. Mereka tidak akan melihat hasil usaha kita yang sementara, tetapi akan melihat Kristus sebagai Roh pemberi-hayat diperhi-dupkan dari diri kita. Semakin kita meletakkan pikiran di atas Dia yang hidup di dalam roh kita, Dia akan makin memperhidupkan diri-Nya sendiri dari diri kita. Inilah ke-hidupan orang Kristen. Inilah jalan kepada kehidupan yang kudus dan menang. Marilah kita melupakan sistem dan metoda dan sebaliknya berpaling kepada Persona yang hidup di dalam kita dan meletakkan pikiran kita di atas-Nya. Dia sedang menunggu kita melakukan hal ini. Inilah jalan untuk tinggal di dalam Dia.
IBLIS SEBAGAI DOSA BERHUNI
DI DALAM DAGING KITA
Supaya terkesan dengan perlunya kita tinggal di dalam Kristus melalui memikirkan roh, kita perlu melihat dengan lebih jelas apa yang berhuni di dalam daging kita dan yang berhuni di dalam roh kita. Kata “ada” atau “tinggal” dipa-kai dalam Roma 7:17, 18, dan 20. Dalam ayat 17 dan 20, Paulus mengatakan bahwa dosa tinggal di dalamnya. Da-lam ayat 18, ia mengatakan bahwa di dalam dia, yaitu di dalam dagingnya, tidak ada sesuatu yang baik. Dalam Roma 5—8, dosa diwahyukan sebagai personifikasi dari Iblis (Sa-tan). Dalam satu hal, dosa yang tinggal di dalam daging ki-ta, tubuh yang telah jatuh yang telah diracuni oleh sifat si jahat ini, adalah Iblis yang berinkarnasi. Iblis sebagai dosa ada di dalam daging kita. Dalam 7:21, Paulus berkata, “Demikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin mela-kukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Kata “ja-hat” dalam ayat ini menunjukkan sifat jahat Iblis. Karena itu, Roma 7 mewahyukan bahwa Iblis sebagai dosa tinggal di dalam daging kita.
Kata Yunani yang diterjemahkan “ada” di dalam ayat ini bukanlah kata “tinggal” yang diterjemahkan di tempat lainnya, melainkan sebuah kata yang akarnya berarti “rumah”. Kata yang sama ini dipakai dalam Efesus 3:17 mengenai Kristus “membuat rumah”-Nya di dalam hati ki-ta. Jadi, di sini artinya adalah dosa sedang membuat ru-mahnya di dalam daging kita. Namun, kita mungkin buta terhadap fakta ini. Melalui pengalaman, Paulus menemu-kan bahwa ada sesuatu yang jahat, yaitu sifat jahat Iblis, yang hidup dan tinggal di dalam dagingnya. Jika fakta dosa yang tinggal ini disingkapkan kepada kita, maka kita akan melihat bahwa kita memiliki hal yang demikian mengeri-kan, yaitu personifikasi Iblis sebagai dosa, membuat rumah-nya di dalam daging kita. Sungguh kita memuji Tuhan untuk penyingkapan hal ini kepada kita!
ROH KITA ADALAH HAYAT
Berkebalikan dengan Roma 7 yang menyingkapkan do-sa yang tinggal di dalam daging kita, Roma 8 mewahyukan sesuatu yang ajaib yang tinggal di dalam roh kita. Ayat 10 dan 11 mengatakan, “Tetapi jika Kristus ada di dalam ka-mu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh ada-lah kehidupan oleh karena pembenaran. (Tetapi Tl.) jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membang-kitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Jika Kristus ada di dalam kita, maka roh itu adalah hayat oleh karena kebenaran, se-kalipun tubuh yang telah jatuh ini tetap mati karena dosa. Jadi, dalam ayat 10 kita memiliki dua fakta: Pertama, tu-buh kita tetap mati, dan kedua, roh kita adalah hayat. Se-lama Kristus ada di dalam kita, roh kita adalah hayat. Ti-dak ada syarat atau prasyarat lainnya. Meskipun demikian, tubuh kita tetap mati karena dosa yang tinggal di dalamnya.
ROH YANG BERHUNI MEMBERIKAN HAYAT KEPADA TUBUH FANA KITA
Kata “tetapi” (Tl.) pada permulaan ayat 11 ini sangat bermakna; ini menunjukkan bahwa sesuatu yang lebih baik akan datang. Ayat ini membicarakan tentang Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, yang tinggal di dalam kita. Pertama-tama, Kristus ada di dalam kita. Ini adalah tahap awal, tahap permulaan. Tetapi bagi berhuninya Kristus di dalam kita, yaitu membuat rumah-Nya di dalam kita, itu adalah kelanjutannya. Karena Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat, meskipun tubuh kita tetap mati. Tetapi jika Kristus yang ada di dalam kita juga membuat rumah-Nya di dalam kita, maka Roh yang menghuni ini akan memberikan hayat kepada tubuh fana kita.
Tubuh kita dihidupkan oleh Roh yang menghuni ini. Apakah tubuh fana kita dihidupkan atau tidak itu tergan-tung pada apakah kita membiarkan Roh itu membuat ru-mah-Nya di dalam kita atau tidak. Memang, Kristus seba-gai Roh itu ada di dalam Anda; hal ini membuat roh Anda menjadi hayat. Tetapi dapat atau tidaknya Roh itu mem-buat rumah-Nya di dalam roh Anda, itu tergantung pada sikap Anda. Apakah Anda rela membiarkan Dia membuat rumah-Nya di dalam Anda, atau apakah Anda akan mem-batasi Dia pada satu sudut dari diri Anda? Misalnya, saya diundang ke rumah seorang saudara atau saudari. Namun, setelah saya masuk ke dalam rumah mereka, mereka membatasi saya pada satu sudut yang kecil dari rumah itu; mereka tidak membiarkan saya bergerak dengan leluasa seperti di rumah saya sendiri. Ini berarti saya tidak memi-liki kebebasan untuk melakukan sesuatu di rumah mereka. Demikian juga, Kristus memang ada di dalam roh kita, tetapi kita mungkin tidak memberikan kebebasan kepada-Nya untuk bergerak di seluruh diri kita. Akibatnya, ling-karan dalam kita, yaitu roh kita adalah hayat, tetapi ling-karan luar, yaitu tubuh kita, tetap mati. Supaya tubuh fana kita dihidupkan, Kristus yang berhuni ini harus me-miliki jalan yang leluasa untuk menyebarkan diri-Nya sen-diri ke seluruh diri kita. Dia harus memiliki kebebasan un-tuk menempatkan diri-Nya di dalam semua bagian dalam kita hingga membuat rumah-Nya di dalam kita. Jika kita membiarkan Dia melakukan hal ini, maka hayat akan di-salurkan bukan hanya kepada roh kita, tetapi juga kepada tubuh kita.
TEMPAT PIKIRAN
Dalam Roma 7 dan 8, kita melihat dua hal yang meng-huni kaum beriman. Dalam pasal 7, kita memiliki dosa yang berhuni, yaitu sifat jahat Iblis, dan dalam pasal 8, ki-ta memiliki Roh yang berhuni yang adalah Kristus itu sen-diri. Dosa adalah personifikasi sifat Iblis yang menghuni da-ging kita, dan Roh itu adalah Kristus yang menghuni roh kita. Di antara dosa yang berhuni dan Roh yang berhuni ini ada pikiran kita, yang mewakili diri kita. Roma 7:26 mengatakan, “Jadi, dengan akal budiku aku melayani hu-kum Allah.” Perhatikanlah kata “dengan akal budiku (pikir-anku)”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa pikiran adalah wakil kita; ini adalah ego kita. Ketika Paulus mengatakan bahwa dengan pikiran ia melayani hukum Allah, maksud-nya adalah ia sendiri berusaha memelihara hukum Taurat, berusaha menyenangkan Allah dengan mentaati hukum Taurat. Dalam usahanya memenuhi tuntutan-tuntutan hu-kum Taurat, pikiran akan melakukan sesuatu yang baik, tetapi ia bertindak dengan merdeka.
Roma 8:6 memberikan pandangan lain tentang pikiran kepada kita: “Karena meletakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera.” (Tl.). Kita telah melihat dengan jelas bahwa Iblis sebagai dosa berhuni di dalam daging kita dan bahwa Kristus sebagai Roh pemberi-hayat berhuni di dalam roh kita. Bila kita berkehendak untuk berbuat baik, maka dosa yang berhuni di dalam daging kita ini akan men-jadi aktif dan akan mengalahkan kita. Hukum dosa akan berperang melawan hukum akal budi kita dan membuatnya tertawan dalam hukum dosa di dalam anggota-anggota tu-buh kita (7:23). Jadi, kita perlu wahyu tentang dosa di dalam daging kita dan tentang Kristus di dalam roh kita. Kemudi-an kita perlu melihat bahwa sebagai orang-orang yang mer-deka, kita tidak berdaya menanggulangi dosa di dalam da-ging kita. Untuk menanggulangi hal ini, kita perlu berseru kepada Tuhan Yesus yang berhuni di dalam roh kita dan senantiasa meletakkan pikiran kita di atas roh. Ini bukan-lah perkara mengikuti satu metoda, melainkan perkara menjamah Persona yang hidup. Dari waktu ke waktu kita perlu berkata, “Amin, Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Bila kita melakukan hal ini, dosa yang berhuni itu akan takluk, dan Kristus akan menjadi segala sesuatu bagi kita.
Kemudian Tuhan Yesus akan digarapkan ke dalam diri kita untuk meresapi dan menjenuhi kita dengan diri-Nya sendiri. Inilah yang dimaksud dengan dikuduskan, diubah, dan diserupakan dengan gambar Kristus. Inilah pengalaman tinggal di dalam Kristus melalui memikirkan roh perbauran, seperti yang diwahyukan dalam Roma 8.