← Daftar isi Roma (3) · bab 7/19

HAYAT DAN MAUT DALAM ROMA LIMA SAMPAI DELAPAN

Dalam Roma 5—8, yang dapat kita sebut sebagai inti dari Alkitab, ada dua kata kunci yang dipakai berulang-ulang. Kata-kata ini adalah “hayat” dan “maut”. Dalam Ke-jadian 2, hayat diwakili oleh pohon hayat (kehidupan), dan maut diwakili oleh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (ayat 9). Hasil dari pohon pengetahuan ten-tang yang baik dan yang jahat sebenarnya adalah maut, bu-kan pengetahuan. Karena itu, kita dapat menyebut pohon-pohon ini sebagai pohon hayat dan pohon maut.

PENGETAHUAN, BAIK, DAN JAHAT

Pohon maut ini sangat licik. Meskipun pohon ini meng-hasilkan maut, tetapi pohon ini tidak disebut pohon maut; sebaliknya disebut pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Ada tiga hal yang terkait dengan pohon ini — penge-tahuan, baik, dan jahat. Kita semua mengapresiasi penge-tahuan dan kebaikan, tetapi kita tidak senang akan keja-hatan. Kita mempertimbangkan baik dan jahat dalam dua kategori yang berbeda, namun Alkitab meletakkan baik dan jahat dalam kategori yang sama. Ini menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan hayat, bukan memperhatikan yang baik atau yang jahat. Menurut Kejadian 2, pengetahu-an dan kebaikan diletakkan bersama-sama dengan kejahat-an. Bila diterapkan pada suatu keluarga, mereka adalah ti-ga “saudari” yang bekerja bersama-sama untuk membawa-kan maut, yang tentunya, berlawanan dengan hayat.

GARIS HAYAT DAN GARIS MAUT

Beberapa orang Kristen mengatakan bahwa kita tidak seharusnya memperhatikan lagi pohon hayat dan pohon pe-ngetahuan yang dibicarakan dalam Kejadian 2. Tetapi ke-banyakan dari butir-butir yang ditemukan dalam Kitab Ke-jadian itu adalah benih-benih kebenaran-kebenaran rohani yang berkembang di semua tempat dalam Alkitab, dan kita tidak boleh mengabaikannya. Dalam Kejadian 2 kita memi-liki benih hayat dan benih maut. Tetapi pada akhir Kitab Wahyu kita melihat perampungan dari benih-benih ini. Ma-ut, musuh yang terakhir, dilemparkan ke dalam lautan api (Why. 20:14). Hayat berlimpah-limpah di dalam Yerusalem Baru, karena di sana kita melihat sungai air hayat dengan pohon hayat yang bertumbuh di dalamnya (Why. 22:1-2). Dari pusat sampai ke sekelilingnya, Yerusalem Baru itu adalah kota hayat. Benih hayat yang ditaburkan dalam per-mulaan Alkitab rampung sempurna dalam panen hayat; sedangkan benih maut rampung sempurna dalam panen maut. Karena benih hayat dan benih maut bertumbuh di sepanjang Alkitab, maka kita dapat melihat garis hayat dan garis maut. Dalam berita ini kita akan melihat dua garis ini, seperti yang terdapat dalam Roma 5—8.

Dalam Kejadian 2, ada suatu situasi segitiga yang me-libatkan Allah, manusia, dan Iblis. Dalam pasal ini, manu-sia menghadapi dua sumber: Allah sebagai sumber hayat dan Iblis sebagai sumber maut. Dalam Roma 5—8, ada ke-lanjutan dari situasi segitiga ini. Akhirnya, situasi segitiga ini akan menghasilkan perampungan ganda. Hal-hal nega-tif, bersama dengan maut, akan disapu bersih ke dalam lautan api; sedangkan hal-hal positif, bersama-sama dengan orang-orang yang telah ditebus, akan mengalir ke dalam kota air hidup. Hari ini kita semua dihadapkan pada pe-rampungan akhir ini, kaum beriman pada Yerusalem Baru, dan orang-orang yang tidak beriman pada lautan api. Da-lam pengalaman setiap hari, banyak orang Kristen yang memiliki satu kaki pada garis hayat dan satunya lagi pada garis maut. Orang-orang Kristen lainnya ragu-ragu di an-tara keduanya. Kemarin mungkin Anda berada pada garis maut, tetapi hari ini oleh rahmat (belas kasihan) dan anu-gerah Tuhan, Anda sekali lagi berada pada garis hayat.

PEMERINTAHAN HAYAT

DAN PEMERINTAHAN MAUT

Sekarang marilah kita melihat dua garis ini melalui Roma 5—8. Roma 5:12 mengatakan, “Sebab itu, sama seper-ti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu te-lah menjalar kepada semua orang, karena semua orang te-lah berbuat dosa.” Di sini kita melihat masuknya dosa dan maut. Ayat 14 mengatakan, “Maut telah berkuasa dari za-man Adam sampai zaman Musa.” Dalam dua ayat ini kita melihat garis maut. Dalam ayat 17 kita menemukan garis hayat: “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang, maut telah berkuasa melalui satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan hidup dan berkuasa karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” Dalam ayat 21, Paulus mengumumkan, “Supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian anugerah akan berkuasa oleh pem-benaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.” Dosa telah mendatangkan maut, tetapi anuge-rah melalui kebenaran mendatangkan hayat. Karena itu, dalam pasal 5 kita melihat pemerintahan maut dan peme-rintahan hayat dengan anugerah.

KEBARUAN HAYAT

Roma 6:4 mengatakan, “. . . demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Kita tidak seharusnya tetap tinggal di bawah kuasa maut, melainkan harus hidup di dalam kebaruan hayat, tinggal di atas garis hayat. Ayat selanjutnya mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi sa-tu (tumbuh bersama Tl.) dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu (tumbuh bersa-ma Tl.) dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ketika kita bertumbuh bersama-sama dengan Dia dalam ke-serupaan dengan kematian-Nya, yaitu dalam baptisan yang disinggung dalam ayat 4, maka kita juga akan bertumbuh bersama-sama dengan Dia dalam keserupaan dengan ke-bangkitan-Nya, yaitu dalam kebaruan hayat seperti yang disinggung dalam ayat 4. Bertumbuh bersama-sama dalam keserupaan dengan kebangkitan Kristus adalah berada da-lam kebaruan hayat. Kemudian ayat 11 memberi tahu kita untuk menghitung diri kita sudah mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa dalam pasal 6, juga ada garis hayat dan garis maut.

“MAUT INI”

Sekarang kita sampai pada pasal 7, satu pasal yang sangat tidak disukai oleh banyak orang Kristen. Di sini, bukannya hayat, kita malah menemukan pembunuhan dan maut. Ayat 11 mengatakan, “Sebab dengan perintah itu, do-sa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan dengan pe-rintah itu ia membunuh aku.” Dosa adalah pembunuh yang memakai hukum Taurat sebagai senjatanya untuk membu-nuh kita. Hal ini seharusnya memperingatkan kita untuk tidak berpaling kepada hukum Taurat. Jika kita berpaling kepada hukum Taurat, dosa akan bangkit, seolah-olah berka-ta, “Sungguh baik kamu berpaling kepada hukum Taurat! Kamu telah memberikan kesempatan yang sempurna bagi-ku memakai hukum Taurat untuk membunuh kamu.” Se-bagai orang yang telah dibunuh dengan cara ini, Paulus berteriak dalam ayat 24, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” “Maut ini” mengacu kepada maut yang dibuat oleh dosa melalui sen-jata hukum Taurat.

EMPAT GANDA HAYAT

Ketika kita melanjutkan dari pasal 7 sampai pasal 8, kita menemukan bahwa di dalam pasal ini yang diutama-kan adalah hayat, bukan maut. Roma 8:2 mengatakan, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Haleluya, untuk hukum Roh hayat! Ayat 10 melanjutkan, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Menurut ayat 6, jika pikiran kita diletakkan di atas Roh, ma-ka pikiran kita juga akan menjadi hayat. Selain itu, jika Roh pemberi-hayat berhuni di dalam kita, yaitu membuat rumah di dalam kita, maka Dia bahkan akan menyalurkan hayat ilahi ke dalam tubuh fana kita (ayat 11). Karena itu, bukan hanya roh kita dan pikiran kita adalah hayat, bah-kan tubuh fana kita juga dapat dihidupkan. Menurut Roma 8, ketiga bagian diri kita, roh, jiwa, dan tubuh kita, dapat menerima hayat. Pikiran kita dapat menjadi hayat karena Kristus yang berhuni menyebar dari roh kita ke dalam pi-kiran kita. Selanjutnya, penyebaran hayat ilahi ini bahkan akan mencapai tubuh fana kita dan menghidupkannya. Puji Tuhan untuk hayat dalam Roma 8!

Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam pasal ini ada empat ganda hayat: hayat dalam Roh ilahi, hayat dalam roh insani kita, hayat dalam pikiran kita, dan hayat dalam tu-buh fana kita. Tetapi meskipun ada empat ganda hayat yang demikian dalam Roma 8, maut masih tetap ada. Sam-pai Wahyu 20, masih ada hayat dan maut. Pada waktu itu, maut, musuh yang terakhir, akan dilemparkan keluar dari keinsanian ke dalam lautan api. Karena itu, dalam Yerusalem Baru hanya akan ada unsur hayat, tidak ada unsur maut. Namun, hari ini di dalam kita, kita memiliki unsur hayat dan unsur maut.

MEMPERHATIKAN HAYAT

Semua saudara saudari yang telah menikah tahu bah-wa suami-suami harus mengasihi istri mereka dan bahwa istri-istri harus taat kepada suami mereka. Namun, dalam Kejadian 2, kita tidak membaca sesuatu tentang suami me-ngasihi istri atau istri taat kepada suami. Meskipun demikian, hal-hal itu termasuk dalam kata “baik” dalam ayat 17. Mengasihi istri atau taat kepada suami itu adalah berbuat baik. Sebaliknya, membenci istri atau membe-rontak terhadap suami itu adalah berbuat jahat. Pada akhir Alkitab kita menemukan lagi kata “hayat” dan “maut”, bu-kan kata “kasih” dan “taat”. Karena itu, baik pada permu-laan Alkitab maupun pada akhir Alkitab, dalam Kitab Ke-jadian maupun Kitab Wahyu, kita memiliki hayat dan maut. Sama halnya dengan Roma 5—8, dalam pasal-pasal ini Paulus tidak mengatakan tentang suami mengasihi istri atau istri taat kepada suami. Ia membicarakan perkara-perkara ini di tempat lainnya, bukan di sini. Sebaliknya, dalam pasal ini, ia sangat menekankan tentang hayat dan maut dan kelihatannya tidak memperhatikan tentang kasih atau benci, taat atau memberontak.

Seseorang mungkin saja mengasihi dan taat, tetapi ma-ti. Dalam ekonomi-Nya, Allah terutama bukan memperha-tikan apakah kita baik atau jahat, taat atau memberontak; Dia hanya memperhatikan kita hidup atau mati. Setiap is-tri yang sudah mati dan dikubur di dalam sebuah kuburan itu taat; ia tidak akan pernah mengekspresikan opininya. Tetapi Allah tidak menghendaki sikap taat yang mati. Dia ingin kita semua hidup. Inilah sebabnya dalam Roma 5—8, Paulus tidak membicarakan tentang taat atau memberontak, tetapi tentang hayat dan maut. Roma 8:6 tidak mengatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas roh itu taat dan pi-kiran yang diletakkan di atas daging itu memberontak. Ke-tika Paulus menulis bagian dari firman ini, ia sepenuhnya berada di dalam Roh Allah dan di dalam ekonomi Allah; ia tidak memperhatikan baik atau jahat, melainkan hanya memperhatikan hayat dan maut.

Baik dan jahat adalah milik pohon pengetahuan, yang adalah pohon maut. Benar dan salah juga adalah milik po-hon ini. Jadi, kita tidak boleh memperhatikan tentang benar dan salah, tetapi memperhatikan tentang hayat dan maut. Dalam ekonomi Allah, menjadi baik itu tidak cukup. Kita mungkin baik, namun masih tetap mati. Ekonomi Allah me-nuntut agar kita berada di dalam hayat. Mungkin saja kita benar tetapi mati, atau salah tetapi hidup. Sebuah Taman Kanak-kanak penuh dengan anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan, dan anak-anak ini sangat hidup. Meski-pun anak-anak di Taman Kanak-kanak itu mungkin gaduh dan kadang-kadang nakal, tetapi saya lebih suka situasi itu daripada situasi yang tenang dan teratur di sebuah kubur-an. Semua orang yang dikubur di kuburan itu rapi dan ter-atur, tetapi mereka mati. Anda lebih suka salah tetapi hi-dup atau benar tetapi mati? Saya lebih suka hidup.

HAYAT DI DALAM ROH KITA DAN MAUT

DI DALAM DAGING KITA

Adalah mudah untuk pindah dari maut ke hayat atau dari hayat ke maut. Dengan kata lain, tidaklah sulit untuk pin-dah dari alam yang satu ke alam lainnya. Misalnya, kita dapat menyalakan lampu listrik semudah kita mematikannya. Sama halnya dengan hayat dan maut. Kita dapat menyalakan roh dan menjadi hayat, atau kita dapat mematikannya dan menjadi maut.

Listrik adalah gambaran yang memadai untuk Roh ha-yat. Listrik tidak dapat dilihat dan tidak dapat dipahami secara menyeluruh. Roh hayat juga sama. Agar kita dapat menerapkan listrik, pertama-tama kita harus memasang-nya di dalam rumah kita dan kemudian kita perlu memakai saklar. Puji Tuhan bahwa Roh ilahi sebagai listrik surgawi telah “dipasang” di dalam roh kita. Tidak peduli bagaimana kita merasakannya, Roh itu, yang adalah listrik ilahi, dan saklarnya, ada di dalam roh kita.

Hayat ada di dalam roh kita dan maut ada di dalam daging kita. Ketika Adam di taman itu, pohon hayat dan pohon pengetahuan ada di luar dia. Tetapi hari ini kedua pohon ini ada di dalam kita, pohon hayat di dalam roh kita dan pohon maut di dalam daging kita. Dalam Alkitab isti-lah “daging” bukan hanya mengacu kepada tubuh kita yang bobrok, tetapi juga mengacu kepada seluruh diri kita yang telah jatuh. Karena alasan ini, Alkitab menyebut orang yang telah jatuh itu “daging” (Rm. 3:20 Tl.).

MELETAKKAN PIKIRAN KITA DI ATAS ROH

Roma 8:6 mengatakan, “Karena meletakkan pikiran di atas daging adalah maut, tetapi meletakkan pikiran di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera” (Tl.). Meletakkan pi-kiran kita di atas apa adanya kita berarti meletakkannya di atas daging. Meletakkan pikiran kita di atas daging itu bukan hanya berarti meletakkannya di atas tubuh kita, tetapi juga berarti meletakkannya di atas diri kita, ego kita. Misalnya, seseorang mungkin merasa bahwa dulu ia jahat dan sekarang ia mungkin berusaha menjadi baik. Ini ada-lah meletakkan pikiran di atas daging, di atas ego yang ti-dak memiliki pengharapan. Beberapa orang Kristen mengira jika mereka meletakkan pikiran mereka di atas hiburan-hi-buran duniawi, berarti mereka memikirkan daging. Tentu saja, meletakkan pikiran di atas hal-hal itu adalah meletak-kan pikiran di atas daging. Tetapi ini bukanlah satu-satu-nya cara memikirkan daging. Sekalipun Anda memutuskan untuk mengasihi istri Anda, Anda bisa meletakkan pikiran Anda di atas daging. Ketika kita dicobai untuk bertekad ber-buat baik, kita perlu berdoa, “Tuhan Yesus, belas kasihani-lah aku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa di luar Engkau.” Melalui berdoa dengan cara ini, kita meletakkan pikiran ki-ta di atas roh, bukan di atas ego kita yang kasihan.

Tidak hanya demikian, kita tidak seharusnya meletak-kan pikiran kita di atas hal yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Biarlah kita menyerahkan masa yang akan datang kepada Tuhan. Andaikata setelah Abraham di-panggil oleh Allah, ia meminta Tuhan memberi tahu dia ke manakah ia harus pergi pada esok hari. Tuhan mungkin berkata, “Abraham, tenanglah dan nikmatilah Aku. Biar-kan hari esok.” Beristirahat di dalam Tuhan hari ini dan meninggalkan hari esok kepada-Nya; inilah meletakkan pi-kiran di atas roh.

Karena banyak orang Kristen tidak melihat hal ini, maka mereka sering memperingatkan orang lain dan menasihati mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Mendorong orang secara demikian berarti meletakkan pikiran di atas daging, dan akibatnya adalah maut. Pada awal ministri saya, saya bukan hanya menasihati orang lain tetapi juga memperingatkan diri saya sendiri. Akibatnya, saya terbu-nuh, orang lain juga terbunuh.

MEMUPUK KEBIASAAN YANG BARU

Puji Tuhan bahwa Allah Sang hayat ada di dalam roh kita! Meskipun kita mengenal hal ini, tetapi kita masih perlu belajar hidup oleh Roh pemberi-hayat yang berhuni di dalam kita. Hal yang penting bukanlah berapa banyak pe-ngetahuan yang kita miliki, tetapi berapa banyak kita hidup oleh hayat Kristus.

Izinkan saya memberi tahu Anda sebuah kisah yang membantu menggambarkan hal ini. Ketika saya masih ke-cil, banyak orang di kampung halaman saya yang masih memakai lampu minyak; waktu itu belum ada listrik. Saat itu, saya biasa membersihkan lampu-lampu itu, mengisinya dengan minyak, dan menyalakannya. Bahkan setelah listrik dipasang di rumah kami, saya masih tetap memakai lampu minyak itu. Kadang-kadang orang lain menertawakan saya ketika saya mulai menyalakan lampu dan mengingatkan sa-ya supaya memakai lampu saklar. Meskipun sesuatu yang baru, yaitu listrik, telah dipasang, tetapi saya belum biasa memakainya.

Prinsip yang sama terjadi di dalam kehidupan orang Kristen. Kita telah dibina dan dilatih untuk hidup oleh diri kita sendiri. Inilah kebiasaan kita. Bahkan setelah Tuhan Yesus “dipasang” di dalam kita, kita masih tetap terbiasa hi-dup oleh diri kita sendiri. Namun, kita perlu memupuk satu kebiasaan yang baru, kebiasaan untuk hidup oleh Kristus. Karena banyak orang yang telah beroleh selamat tidak memiliki kebiasaan ini, maka diperlukan Roma 7. Kita perlu melihat satu visi bahwa Kristus sebagai hayat hidup di dalam roh kita. Karena Dia hidup di dalam kita, maka kita bukan hanya harus melepaskan hal-hal dosa, te-tapi juga melepaskan cara hidup kita yang lama. Kita per-lu berpaling dari hidup oleh diri kita sendiri kepada hidup oleh Kristus. Hal ini menuntut kita tinggal di dalam roh dan berjalan menurut roh.

Begitu kita kehilangan kontak dengan roh, kita terpi-sah dari hayat dan seketika itu juga berada di dalam maut, tidak perlu menunggu maut itu masuk. Misalnya, begitu kita mematikan lampu di satu ruangan, kita berada di da-lam kegelapan. Tidak perlu menunggu kegelapan itu masuk. Mematikan lampu itu berarti memasukkan kita ke dalam kegelapan, demikian juga terpisah dari roh akan membawa kita ke dalam maut. Bahkan satu penyekat yang tipis pun dapat memutus aliran listrik. Demikian juga, sesuatu yang kecil dapat memutuskan kita dari hayat di dalam roh kita. Karena kita berada di dalam situasi segitiga yang melibat-kan Allah sebagai hayat di dalam roh kita dan Iblis sebagai maut di dalam daging kita, maka kita perlu memupuk ke-biasaan tinggal di dalam roh. Kita tidak seharusnya memu-tuskan untuk berbuat baik, kita hanya harus berpaling ke dalam roh kita dan tinggal di sana bersama Dia yang hidup itu. Kebiasaan ini tidak mudah dibina, tetapi dapat dilaksa-nakan.

MATI TERHADAP DOSA DAN HIDUP TERHADAP ALLAH

Roma 6:11 memberi tahu kita untuk menghitung diri kita sendiri sudah mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah. Namun, pengalaman ini berada di dalam roh kita da-lam Roma 8. Ketika kita berada di dalam roh kita bersama dengan Tuhan, maka secara otomatis kita sudah mati ter-hadap dosa dan hidup terhadap Allah. Jika Anda berusaha menghitung demikian tanpa berada di dalam roh, Anda akan menemukan bahwa semakin Anda menghitungnya, Anda makin berada di dalam maut.

Kita telah melihat bahwa terputus dari roh itu berarti berada dalam maut. Misalnya, penyebab Anda marah-ma-rah adalah karena ada sekatan tertentu antara Anda de-ngan roh Anda. Ini bukan berarti Anda marah-marah lalu terputus dari roh Anda, melainkan karena Anda terputus dari roh Anda, maka Anda marah-marah. Jika tidak ada sekatan di sekitar roh Anda, maka tidak akan ada hal ne-gatif yang dapat mengalahkan Anda. Sebaliknya, hayat ilahi di dalam roh Anda akan menelan semua maut. Pengalaman kita menegaskan hal ini. Bila kita berada di dalam roh, maka hayat ilahi di dalam kita akan menelan setiap hal ne-gatif. Tetapi bila kita tersekat dan terputus dari roh kita, kita akan berada di dalam maut dan bahkan tidak dapat menangani masalah yang paling kecil sekalipun.

PEPERANGAN UNIVERSAL

Ekonomi Allah bukanlah perkara baik atau jahat, benar atau salah. Tidak hanya demikian, ekonomi Allah bukanlah perkara etika. Menurut standar etika, kita harus berbuat baik dan bukan berbuat jahat. Namun, ekonomi Allah itu mutlak adalah perkara yang berkenaan dengan hayat atau maut. Berada di dalam hayat adalah memperhidupkan Allah; berada di dalam maut adalah memperhidupkan Iblis. Kita adalah sebuah medan perang, dan peperangan univer-sal antara Allah dengan Iblis sedang berkecamuk di dalam kita. Hasil dari peperangan ini, ditentukan oleh di mana ki-ta meletakkan pikiran kita. Bila kita meletakkan pikiran kita di atas ego hingga terputus dari roh, maka Iblis akan menang. Tetapi bila kita tinggal di dalam roh dan meletak-kan pikiran kita di atas roh, maka Allah akan memperoleh kemenangan.

Inilah sesungguhnya yang digambarkan dalam Roma 8:13, di mana Paulus berkata, “Sebab, jika kamu hidup me-nurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hi-dup.” Oleh Roh yang berhuni ini kita harus mematikan per-buatan-perbuatan manusia lama kita. Melakukan hal ini berarti hidup. Marilah kita berdoa mengenai hal ini, mem-praktekkannya, dan memupuk kebiasaan untuk tinggal di dalam roh. Semakin kita memupuk kebiasaan ini, kita akan makin hidup dan semakin jauh dari maut.