← Daftar isi Roma (3) · bab 6/19

HUKUM DALAM ROMA TUJUH DAN DELAPAN

Tiga kata penting dalam Roma 7 dan 8 adalah hukum, hayat, dan maut. Sulit sekali bahkan bagi para ilmuwan untuk mendefinisikan hayat dan maut. Dalam Alkitab, ma-ut dibicarakan dengan sangat pasti. 1Korintus 15:26 mengatakan bahwa maut adalah musuh yang terakhir, dan Wahyu 20:14 mengatakan bahwa maut akan dilemparkan ke dalam lautan api. Agar maut dapat dilemparkan ke dalam lautan api, maka maut itu harus konkret dan dapat di-nyatakan (diwujudkan). Dalam Wahyu 20, maut di satu pi-hak berhubungan dengan Satan (Iblis) di pihak lain berhu-bungan dengan alam maut; keduanya akan dilemparkan ke dalam lautan api. Ini membuktikan bahwa Satan (Iblis) adalah personanya dan alam maut adalah tempatnya. Kare-na itu, maut juga adalah sesuatu yang konkret. Meskipun demikian, tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan dengan memadai apakah maut itu.

EMPAT HUKUM

Perkara hukum ini sangat dalam. Banyak pelajar Alkitab yang merasa kesulitan dengan pemakaian kata “hukum” oleh Paulus dalam Roma 7. Kata ini pertama-tama mengacu kepada hukum Allah, yaitu sepuluh perintah (7:22). Kemudian dalam 7:23 Paulus membicarakan tentang “hu-kum akal budi (pikiran)”, dan dalam 8:2, tentang “hukum dosa dan maut” (Tl.) dan tentang “hukum Roh hayat”(Tl.). Sulit untuk memahami kata “hukum” dan “hayat”, dan bah-kan lebih sulit lagi untuk memahami istilah “hukum Roh hayat”. Karena itu, dalam Roma 7 dan 8, kata “hukum” di-pakai dengan cara yang berbeda-beda; hukum Allah, hukum akal budi, hukum dosa dan maut, dan hukum Roh hayat.

HUKUM LAINNYA

Namun, dalam Roma 7 masih ada hukum lainnya: “De-mikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melaku-kan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (ayat 21). Sebelum kita dapat mengenal hukum yang dikatakan dalam ayat ini, kita perlu memahami hukum Allah, hukum akal budi, hukum dosa dan maut (yang adalah hukum dosa di dalam anggota-anggota tubuh kita), dan hukum Roh ha-yat. Mempelajari empat hukum ini bagaikan mempelajari prinsip dasar matematika. Hukum dalam ayat 21 ini bukan-lah hukum akal budi maupun hukum dosa di dalam ang-gota-anggota tubuh kita. Kita boleh menyebutnya “hukum itu”. Ada satu hukum, satu prinsip, yaitu bilamana kita ingin berbuat baik, yang jahat itu ada pada kita. Hukum dalam 7:21 mengacu kepada prinsip ini.

Paulus menemukan prinsip ini bahwa kapan saja ia ingin (berkehendak) berbuat baik, yang jahat itu ada pada-nya. Sadarkah Anda bahwa ada satu hukum yang demikian? Jika kita tidak ingin berbuat baik, kelihatannya yang jahat itu tidak ada. Tetapi ini adalah satu hukum: Bilamana kita ingin berbuat baik, maka yang jahat itu ada. Misalnya, jika Anda tidak ingin menjadi rendah hati, maka kesombongan itu kelihatannya tidak ada. Demikian juga, jika Anda tidak ingin menahan amarah, amarah Anda itu tidak ada. Tetapi kapan saja Anda ingin untuk tidak marah lagi, amarah An-da akan segera muncul. Inilah “hukum itu”. Hukum ini ti-dak memiliki perintah, hanya ada satu prinsip saja yaitu kapan saja kita ingin berbuat baik, maka yang jahat itu muncullah.

Tidak banyak orang Kristen, termasuk orang-orang Kristen yang menuntut, tahu bahwa ada hukum yang de-mikian. Namun, kita semua kesulitan dengan fakta bahwa kapan saja kita hendak menjadi sabar, kita akan gagal. Bu-kannya sabar, kita malah menjadi marah-marah. Demikian juga, kapan saja kita berkehendak untuk menjadi rendah hati, pada akhirnya kita malah sombong. Sebelum kita diselamatkan atau ketika kita malas mencari Tuhan, ke-lihatannya kita berbuat agak baik. Kemudian, kita tahu bahwa kita harus menjadi orang yang baru. Saya diajar se-cara demikian. Tetapi semakin saya berusaha hidup seperti orang yang baru, orang yang lama itu makin nyata pada saya. Kemudian saya diajar untuk menghitung diri saya su-dah mati, dan saya pun mempraktekkan pengajaran ini. Namun, semakin saya menghitung diri saya sudah mati, saya semakin hidup. Semakin berusaha berbuat baik, saya semakin buruk.

Saya percaya kita semua telah mengalami hal ini. Ketika kita tidak memperhatikannya, kita semua kelihatannya baik. Tetapi ketika kita berharap berbuat baik untuk me-nyenangkan Tuhan, tingkah laku kita sepertinya malah se-makin buruk. Misalnya, seorang saudara mungkin berkata, “Sebagai seorang Kristen yang mengasihi Tuhan, aku seha-rusnya tidak marah-marah kepada istriku atau berlaku buruk terhadapnya. Aku mohon Tuhan membantuku dalam hal ini.” Namun, tidak lama setelah itu, saudara ini ma-rah-marah kepada istrinya.

Saya terganggu dengan perkara-perkara seperti ini se-lama delapan tahun, dari tahun 1925 sampai tahun 1933. Selama tahun-tahun itu, sering kali saya tidak dapat ma-kan dan tidur dengan enak karena saya terganggu dengan kehidupan kekristenan saya. Ada beberapa orang karena masalah ini bahkan berhenti menjadi orang Kristen dan ber-kata kepada dirinya sendiri, “Aku tidak mau lagi menjadi orang Kristen. Aku diberi tahu bahwa jika aku menjadi orang Kristen, aku akan gembira. Tetapi sekarang aku terganggu setiap hari. Aku ingin menjadi rendah hati, tetapi sebalik-nya aku malah menjadi sombong.” Melalui pengalaman se-macam ini saya disingkapkan, tidak bisa percaya betapa ja-hatnya diri saya ini. Melalui membaca Alkitab dan melalui pengalaman saya dalam kehidupan kekristenan, saya mene-mukan ada satu hukum yang bekerja di dalam kita, yaitu ketika kita ingin berbuat baik, yang jahat itu muncul. Ke-tika saya menemukan hukum ini, saya sadar bahwa saya tidak seharusnya begitu bodoh dengan terus-menerus berke-hendak berbuat baik. Berkehendak berbuat baik itu bagai-kan “menekan tombol” sehingga membuat yang jahat itu muncul. Jika Anda tidak menekan tombol ini, yang jahat itu tidak akan muncul di sini. Tetapi, jika Anda menekannya, yang jahat itu segera muncul, ingin sekali bekerja. Tahun 1933 adalah kali pertama saya berhenti menekan tombol ini. Namun, saya merasa sulit untuk tidak menekannya, karena saya telah menekannya sepanjang hidup saya. Mes-kipun saya tahu yang lebih baik daripada menekan tombol ini, tetapi saya harus mengakui bahwa saya lebih sering menekannya. Mungkin hari ini Anda baru saja menekan tombol ini. Mungkin kita tidak akan menghentikan ini se-penuhnya sampai kita terangkat atau sampai kita berada di dalam Yerusalem Baru.

Mungkin Anda telah berkali-kali membaca Roma 7 tan-pa melihat hukum yang kelima ini. Selain empat hukum ini, ada hukum yang bekerja kapan saja kita ingin berbuat baik. Kita perlu meminta Tuhan mencegah kita menekan tombol ini, karena begitu kita menekannya, yang jahat itu muncul. Jika kita ingin menjadi sabar, kita menekan tom-bol ini, dan kita malah akan marah-marah. Jika kita ingin menjadi rendah hati, kita menekan tombol ini lagi, dan kita akan sombong. Orang Kristen sering kali berdoa mohon Tuhan mau membantunya untuk berbuat baik, melakukan hal-hal seperti mengasihi istri atau taat kepada suami. Te-tapi kita perlu berdoa agar Tuhan menjaga kita dari ingin berbuat hal-hal itu. Terhadap hal itu, kita perlu satu wah-yu, satu visi, yang mencegah kita menekan tombol yang membuat yang jahat itu muncul dalam diri kita.

TIGA PERSONA DAN TIGA HAYAT

Sekarang kita perlu melihat hukum kebajikan di dalam pikiran kita, hukum dosa di dalam anggota-anggota tubuh kita, dan hukum hayat di dalam roh kita. Di Taman Eden ada dua pohon — pohon pengetahuan baik dan jahat dan po-hon kehidupan (hayat). Pada kedua pohon ini kita melihat hal baik, jahat, dan hayat. Pada setiap hal ini ada satu hukum: hukum kebajikan, hukum kejahatan, dan hukum hayat. Kita adalah miniatur Taman Eden ini, karena situ-asi segitiga yang melibatkan Allah, manusia, dan Iblis seka-rang ada di dalam kita. Selain itu, hukum kebajikan, hu-kum kejahatan, dan hukum hayat semuanya ada di dalam kita.

Mengenai persona, hanya ada tiga persona di alam se-mesta ini: persona ilahi, yaitu Allah; persona yang jahat, yaitu Iblis; dan persona insani, yaitu manusia. Setiap per-sona ini memiliki satu hayat. Persona ilahi memiliki hayat ilahi, persona insani memiliki hayat insani, dan persona yang jahat memiliki hayat yang jahat. Hayat insani kita bukan hanya berasal dari orang tua kita; hayat ini juga berasal dari penciptaan Allah. Hayat insani kita diciptakan ketika Adam diciptakan, bukan ketika kita lahir dari orang tua kita.

Setelah diciptakan, manusia jatuh. Pada waktu keja-tuhan itu, satu hayat yang jahat diinjeksikan ke dalam tu-buh manusia. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam ke-jatuhan itu manusia bukan hanya melakukan sesuatu yang salah, melainkan sesuatu yang jahat juga diinjeksikan ke dalamnya. Misalnya, seorang anak kecil minum racun, itu bukan berarti ia hanya melakukan sesuatu yang salah, melainkan juga ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Melalui kejatuhan itu, hayat jahat Iblis masuk ke dalam tu-buh manusia, dan sekarang hayat jahat ini ada di dalam daging kita. Karena itu setiap orang, tidak peduli apakah dia seorang kesatria, atau seorang perampok, ia memiliki ha-yat insani yang baik, dan hayat setani yang jahat. Inilah sebabnya orang-orang dapat menjadi baik dan juga dapat menjadi jahat, dapat berbelaskasihan dan juga dapat seper-ti Iblis. Tidak ada orang yang suka berbuat hal yang jahat. Tetapi di dalam kita ada satu persona dengan satu hayat yang suka berbuat jahat. Karena itu Paulus berkata, “Se-bab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (7:19). Ini berarti bukan lagi kita yang melakukan hal-hal itu; sebaliknya, ada satu persona dengan hayat yang jahat di dalam kita yang melakukan hal-hal itu.

Setiap orang bukan hanya sebagai anak Adam, tetapi juga sebagai anak Iblis. Dalam Yohanes 8:44, Tuhan Yesus memberi tahu orang-orang Yahudi, “Kamu berasal dari ba-pakmu, yaitu Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapakmu.” Setiap orang mempunyai dua bapak, bapak insani dan Iblis (sebagai bapaknya). Suatu hari, sete-lah saya menyampaikan berita tentang ini di Shanghai, ada seorang saudara yang meminta saya berhenti mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Iblis. Dengan memberitahu-nya bahwa ini bukan berasal dari diri saya, saya menunjuk-kan 1 Yohanes 3:10 kepadanya, yang membicarakan tentang “anak-anak Iblis”. Karena kita adalah anak-anak Iblis, ten-tunya Iblis adalah bapak kita. Inilah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa Iblis adalah bapak dari orang-orang Ya-hudi. Karena itu, semua orang yang telah jatuh mempunyai dua bapak dengan hayat yang berbeda, bapak insani dengan hayat insani dan Iblis (bapak mereka) dengan hayat setani.

Puji Tuhan bahwa sejarah kita tidak berhenti pada penciptaan dan kejatuhan saja! Kita semua telah diselamat-kan dan dilahirkan kembali. Ketika Nikodemus mengira bahwa dilahirkan kembali adalah masuk ke dalam rahim ibu dan kemudian dilahirkan sekali lagi, Tuhan Yesus menja-wab bahwa dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari Roh: “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yoh. 3:6 Tl.). Jadi, dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari Allah (Yoh. 1:13). Haleluya, persona yang ketiga, yaitu Allah sendiri, telah lahir di dalam kita! Dengan memiliki persona ilahi ini, kita memiliki hayat ilahi.

Persona yang pertama, yaitu persona manusia, adalah diri kita, ego kita. Persona ini ada di dalam jiwa kita, yang diwakili oleh pikiran kita. Hayat persona ini terutama ada di dalam pikiran. Persona yang kedua, persona setani, ada di dalam tubuh kita, yaitu, di dalam daging kita. Tetapi pu-ji Tuhan bahwa persona yang ketiga, persona ilahi, ada di dalam roh kita! Seperti yang kita semua ketahui, manusia memiliki tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Di dalam jiwa kita, kita memiliki persona insani; di dalam tubuh kita, ki-ta memiliki persona setani; di dalam roh kita, kita memiliki persona ilahi. Sungguh ajaib!

Orang Kristen itu kompleks. Ketika saya masih muda, saya diajar bahwa orang beriman memiliki dua sifat, sifat yang lama dan sifat yang baru. Kemudian saya mempelajari bahwa pemahaman ini tidaklah memadai. Setiap orang Kris-ten yang sejati memiliki tiga persona beserta dengan tiga hayat. Allah, Iblis, dan ego; semuanya ada di dalam kita. Kadang-kadang ketiga persona ini berperang satu dengan yang lainnya. Tidak mungkin tiga persona itu menjadi harmonis atau memiliki persekutuan.

SETIAP HAYAT MEMILIKI SATU HUKUM

Setiap jenis hayat memiliki satu hukum. Hukum me-nunjukkan satu kekuatan alami dengan suatu kecenderung-an atau aktivitas tertentu. Misalnya, kita bernafas karena kita hidup. Selama kita memiliki hayat, hukum hayat ini membuat kita bernafas. Kita dapat memakai pencernaan sebagai contoh lainnya. Setelah kita makan, kita tidak per-lu berusaha mencerna makanan kita. Pencernaan adalah perkara hukum. Kapan saja kita makan, hukum hayat fi-sik kita berfungsi untuk mencerna makanan itu.

Sama halnya dengan hayat hewan. Burung terbang ka-rena hukum hayat seekor burung adalah terbang. Burung tidak diajar untuk terbang; karena burung lahir dengan ha-yat untuk terbang. Jadi, adalah alami bagi seekor burung jika ia terbang. Anda dapat merusak fungsi hukum ini de-ngan menaruh seekor burung dalam sangkar. Tetapi begi-tu pintu sangkar itu dibuka, burung itu akan terbang jauh. Sebaliknya, seekor kucing tidak akan pernah dapat terbang. Tidak peduli berapa banyak Anda memerintahkan seekor kucing untuk terbang, bahkan mengancamnya dengan hu-kuman, kucing itu tetap tidak akan dapat terbang, karena ia tidak memiliki hayat dengan hukum terbang. Namun, karena seekor kucing memiliki hayat untuk menangkap ti-kus, maka secara alami ia dapat menangkap tikus. Anjing menggonggong karena memiliki hayat menggonggong dengan hukum yang menggonggong. Seekor anjing tidak perlu diajar untuk menggonggong; anjing menggonggong secara alami dan spontan karena hayatnya penuh dengan kecenderungan dan aktivitas menggonggong.

Marilah kita beralih dari hayat hewan ke hayat tumbuh-an, kita dapat mengambil pohon-pohon yang berbuah sebagai ilustrasi lainnya dari fakta bahwa setiap hayat memiliki satu hukum. Saya tidak begitu mahir dalam membedakan satu jenis pohon buah dengan pohon lainnya. Namun, ada-lah mudah untuk membedakan sebuah pohon dengan meli-hat buahnya. Pohon apel tentunya menghasilkan buah apel, dan pohon jeruk akan menghasilkan buah jeruk. Sungguh tidak mungkin kita memerintahkan pohon apel mengha-silkan buah jeruk dan pohon jeruk menghasilkan buah apel! Tidak mungkin ada orang yang demikian bodoh melakukan hal ini. Pohon jeruk menghasilkan buah jeruk, dan pohon apel menghasilkan buah apel. Pohon jeruk memiliki hayat pohon jeruk yang di dalamnya ada satu hukum yang ber-fungsi menghasilkan buah jeruk.

Demikian juga, tidak perlu mengajar pohon anyelir un-tuk menghasilkan bunga anyelir, bukannya bunga ceri. Pa-da kenyataannya, bahkan tidak perlu mengajarnya untuk berbunga. Andaikata seseorang berusaha mengajar pohon anyelir untuk berbunga dan anyelir itu dapat berbicara, ia akan berkata, “Jangan membuang waktu mengajariku un-tuk berbunga. Tinggalkan saja aku dan aku akan bertum-buh. Akhirnya, aku akan berbunga.” Berbunga berasal dari hukum hayat anyelir. Semua contoh ini memperlihatkan bahwa setiap hayat memiliki satu hukum.

TIGA HAYAT DAN TIGA HUKUM

Karena kita orang-orang Kristen memiliki tiga hayat, maka kita juga memiliki tiga hukum. Kita memiliki hayat insani, yang baik. Dengan hayat yang baik ini kita memili-ki hukum kebajikan. Karena hukum ini, maka setiap orang secara alami damba berbuat baik; orang tidak perlu diajar melakukan hal ini. Kita lahir dengan kedambaan untuk berbuat baik, dan setiap anak memiliki hayat insani dengan hukum kebajikannya. Namun, seperti yang telah kita lihat, manusia bukan hanya memiliki hayat insani, tetapi juga hayat setani dengan hukum kejahatannya. Karena hayat setani ini ada di dalam manusia, maka seorang anak dapat berbohong dengan spontan tanpa perlu diajar. Sebenarnya, para orang tua Kristen selalu mengajar anak-anak mereka untuk tidak berbohong. Saya mengajar anak-anak saya un-tuk tidak berbohong, tetapi mereka berbohong. Misalnya, saya berpesan kepada anak-anak saya untuk tidak bermain air yang telah dipakai untuk mencuci. Satu hari saya da-tang dan menemukan salah satu dari anak-anak saya ber-main air. Ia segera menyembunyikan tangannya ke bela-kang. Saya tidak menegurnya atau menghukumnya, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Inilah manusia yang te-lah jatuh. Apa gunanya menegurnya?” Anda boleh saja menyuruh sebuah semak duri untuk tidak menghasilkan duri, tetapi semak itu akan menghasilkan duri-duri. Inilah hukum hayat semak duri. Demikian juga, anak-anak berbo-hong tanpa perlu diajar, karena hayat Iblis dengan hukum berbohongnya ada di dalam mereka. Anak-anak itu berbo-hong karena mereka hidup menurut hayat berbohong. Kita mungkin perlu diajar bagaimana membaca, bukan diajar ba-gaimana berbohong. Pada prinsipnya, bagi orang-orang yang telah jatuh, berbohong itu ibarat perihal menangkap tikus bagi seekor kucing. Keduanya adalah aktivitas hukum hayat yang ada di dalam mereka. Sekarang kita paham mengapa kita melakukan hal-hal yang bertentangan ketika kita ingin berbuat baik. Kita memiliki dua hayat di dalam kita, hayat insani dan hayat setani; dan masing-masing hayat memiliki hukumnya. Tetapi hukum hayat setani lebih kuat daripada hukum hayat insani.

Puji Tuhan, karena kita juga memiliki hayat ilahi! Dari tiga hukum yang ada di dalam kita, hayat ilahi ini adalah yang paling kuat, dan hayat insani adalah yang paling lemah.

HIDUP OLEH HUKUM HAYAT

Apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari itu tergantung pada kita hidup oleh hukum apa. Ber-buat baik adalah satu hukum, berbuat jahat adalah hukum lainnya, dan hidup oleh hayat juga adalah hukum lainnya lagi. Segala sesuatu yang kita lakukan sebagai orang Kristen dalam kehidupan kita sehari-hari adalah satu fungsi dari hukum-hukum itu. Misalnya, saya marah-marah kepada se-orang saudara. Saya mungkin berusaha menekan amarah saya dan berkata kepada diri sendiri, “Meskipun kamu ma-rah kepada saudara ini, kamu tidak boleh memperlihatkan-nya. Jika kamu marah-marah, maka kamu akan kehilang-an muka dan akan menimbulkan masalah.” Tingkah laku yang demikian itu tidak sejati; itu adalah politik. Lagi pula, hal itu tidak akan berlangsung lama. Orang-orang yang menekan amarah mereka sering menderita gangguan pada pencernaan mereka. Meskipun kita mungkin berpolitik de-ngan cara ini, pada akhirnya hukum hayat setani akan membuat kita marah-marah. Menekan amarah kita adalah bermain politik; sedangkan melampiaskan amarah adalah hidup menurut hukum dosa. Jika kita sejati, riil, dan terus terang, maka apa saja yang kita lakukan atau katakan akan menjadi satu fungsi dari salah satu hukum-hukum ini.

Segala sesuatu ditentukan oleh hukum yang kita per-hidupkan setiap hari. Jika kita hidup oleh hayat insani, hu-kum hayat insani yang akan berfungsi. Namun, hayat in-sani itu lemah, dan hukumnya rapuh karena kehadiran hukum hayat setani, yang jauh lebih kuat. Haleluya, kita memiliki hukum yang paling kuat di dalam kita, yaitu hu-kum Roh hayat! Kita harus hidup bukan oleh hayat insani kita, melainkan oleh hayat ilahi.

Dalam Roma 8, Paulus mengatakan bahwa kita harus berjalan (hidup) menurut roh. Berjalan menurut roh adalah hidup oleh hayat ilahi, oleh hukum hayat, yaitu hukum yang paling kuat, yang bekerja di dalam kita. Tidak ada hukum yang dapat mengalahkan hukum hayat ilahi ini. Oleh hukum ini kita dibebaskan dari setiap kesulitan. Ja-ngan khawatir dengan masalah-masalah Anda. Selama An-da berjalan menurut roh dan hidup oleh hukum hayat ilahi, hukum ini akan bekerja bagi Anda dengan spontan.

Kita semua perlu diingatkan untuk menekan tombol yang benar, bukan tombol yang membuat “hukum itu” ber-fungsi. Jangan mengajari saya untuk mengasihi istri saya, karena dalam hayat insani saya, saya tidak dapat melaku-kannya. Sebaliknya, ajarlah saya supaya saya meletakkan jari saya pada tombol yang benar, yaitu hukum Roh hayat. Jika saya melakukan hal ini, dengan spontan saya akan mengasihi istri saya. Demikian juga, jangan mengajar para saudari untuk taat kepada suami-suami mereka. Semakin Anda mengajar mereka melakukan hal ini, mereka akan se-makin tidak dapat taat. Sebaliknya, ajarlah mereka untuk menekan tombol yang benar, dan secara otomatis mereka akan taat kepada suami-suami mereka.

Tombol yang benar ini ada di dalam roh kita. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita (8:16), dan tombol ini adalah Roh Allah itu sendiri. Hari demi hari, setiap sa-at, kita harus senantiasa meletakkan jari kita pada tombol ini; demikian kita meletakkan pikiran kita di atas roh, dan berjalan menurut roh. Jangan sekali-kali mengalihkan jari tangan kita dari tombol Roh itu. Jika selalu meletakkan ja-ri kita pada tombol ini, kita akan berada di dalam roh; Roh itu akan menjadi hayat bagi kita, dan setiap hal negatif akan dimatikan.

Rahasia untuk menjaga jari kita tetap pada tombol yang benar ini adalah mengenal bahwa kita memiliki roh insani dan bahwa Roh hayat ada di dalam roh kita. Kita perlu me-malingkan pikiran kita, seluruh diri kita, kepada roh dan meletakkan pikiran kita di sana. Kemudian kita akan ber-jalan menurut roh. Bila kita melakukan hal ini, maka se-mua hal negatif akan dengan spontan dimatikan, dan kita akan menikmati hayat ilahi. Bila kita melakukan hal ini, maka kedambaan untuk berbuat baik oleh hayat insani dengan hukum kebajikannya akan dipuaskan dan tuntutan-tuntutan hukum Allah akan dipenuhi. Selain itu, hukum ja-hat dari hayat setani akan dikalahkan. Semuanya ini adalah perkara hukum. Jangan berusaha mengasihi atau berbuat baik. Sebaliknya, palingkanlah diri kita ke dalam roh kita dan jagalah jari kita tetap pada tombol yang benar, yaitu pada Tuhan sendiri, yang adalah segala sesuatu bagi kita sebagai Roh hayat. Dengan cara ini kita akan menikmati Dia, dan kita akan hidup oleh hukum Roh hayat ini.