DIBEBASKAN DARI MAUT (2)
Dalam berita ini kita perlu melihat beberapa ayat dalam Roma 5—8 yang menyinggung perkara tentang maut.
MAUT MASUK DAN MEMERINTAH
Roma 5:12 mengatakan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menja-lar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Dosa masuk ke dalam dunia itu berarti dosa telah masuk ke dalam keinsanian. Melalui satu orang, Adam, dosa telah masuk ke dalam ras manusia. Selain itu, mela-lui dosa, maut masuk. Dosa datang lebih dulu dan kemu-dian maut mengikutinya. Di mana ada dosa, di situ ada maut.
Roma 5:17 mengatakan, “Sebab, jika karena pelanggar-an satu orang, maut telah berkuasa melalui satu orang itu.” Maut bukan hanya telah masuk ke dalam dunia, bah-kan hari ini, maut telah memerintah seperti seorang raja.
MAUT, UPAH DOSA
Roma 6:23 mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Upah adalah sesuatu yang kita terima sebagai pembayaran atas pekerjaan yang telah kita laku-kan. Jika Anda melakukan pekerjaan dosa, Anda akan me-nerima upah maut. Ini berarti maut adalah bayaran yang Anda terima untuk pekerjaan dosa Anda. Misalnya, Anda marah. Ini adalah satu pekerjaan dosa, dan bayaran karena melakukan marah-marah adalah maut. Bila orang bekerja lembur, mereka akan menerima upah yang lebih tinggi. De-mikian juga, jika Anda berdosa sedikit, Anda akan mene-rima bayaran sedikit pula, tetapi jika Anda berdosa besar, maka Anda akan menerima bayaran ekstra.
DOSA MEMBUNUH KITA
MELALUI PERINTAH
Dalam 7:11, Paulus berkata, “Sebab dengan perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan dengan perintah itu ia membunuh aku.” Menurut ayat ini, do-sa melakukan dua hal: menipu kita dan membunuh kita. Membunuh adalah mematikan. Jadi, mengatakan bahwa dosa membunuh kita itu berarti dosa mematikan kita. Ini terjadi melalui hukum Taurat, karena dosa mengambil kesempat-an melalui perintah itu. Dalam satu aspek, dosa mengambil keuntungan dari hukum Taurat untuk membunuh kita.
Sebelum Anda diselamatkan atau sebelum Anda tergugah untuk mencari Tuhan, Anda mungkin sering marahmarah tanpa menyadari adanya pembunuhan. Alasan untuk hal ini adalah karena Anda belum memutuskan untuk tidak marah lagi. Tetapi setelah Anda diselamatkan atau tergugah untuk mencari Tuhan, Anda berdoa, “Oh Tuhan, aku tahu bahwa sebagai orang yang mencari Engkau, aku tidak boleh marah. Hal ini merusak kesaksianku bagi-Mu di antara keluarga dan teman-temanku. Karena itu, aku memutuskan mulai sekarang aku tidak akan marah-marah lagi.” Saat berdoa dengan cara demikian, Anda membuat satu hukum yang keras bagi Anda sendiri mengenai marah-marah. Hukum yang baru ini adalah “perintah Anda yang kesebelas”. Musa memberikan sepuluh perintah sedangkan Anda membuat perintah lainnya, perintah tentang marah-marah. Namun, ketika Anda marah-marah setelah membu-at perintah yang demikian, kemarahan Anda itu akan mem-bunuh Anda. Kemarahan itu mengambil kesempatan dari hukum yang Anda buat sendiri untuk mematikan Anda. Jika Anda marah-marah di pagi hari, Anda mungkin terbu-nuh sepanjang hari itu. Tetapi bila dulu Anda marah-ma-rah, Anda tidak merasakan pembunuhan itu, karena Anda belum membuat satu hukum tentang marah-marah.
Ilustrasi ini memperlihatkan bahwa kita perlu hati-hati dalam membuat hukum bagi diri kita sendiri. Semakin kita membuat hukum-hukum, kita akan semakin mati. Ingat-lah, dosa selalu mengambil kesempatan dari perintah itu untuk mematikan kita.
TUBUH MAUT INI
Dalam Roma 7:24 Paulus mengumumkan, “Aku, manu-sia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Dalam ayat ini, Paulus berbicara tentang “tubuh maut”, yang adalah maut yang didefinisikan dalam Roma 7. Kita perlu mengenal maut yang diwahyukan dan dijelaskan dalam pasal ini. Kapan saja kita memutuskan untuk meme-lihara hukum Taurat, ada sesuatu di dalam daging kita akan bangkit, berperang melawan hukum kebaikan di da-lam pikiran kita, dan akan mengalahkan kita, menawan kita, dan membunuh kita. Jika kita tidak memutuskan untuk memelihara perintah, unsur ini tetap tidur di dalam kita. Tetapi kapan kala kita memutuskan untuk berbuat baik guna menyenangkan Allah, unsur ini digugah dan seperti-nya berkata, “Apa! Kamu bermaksud berbuat baik untuk menyenangkan Allah? Aku akan memperlihatkan kepada-mu bahwa kamu tidak dapat melakukannya. Aku akan me-ngalahkanmu dan membunuhmu.” Jadi, dosa di dalam da-ging ini akan bangkit, mengalahkan kita, menawan kita, dan membunuh kita. Hal ini membuat kita mengalami apa yang disebut oleh Paulus sebagai penderitaan “maut ini”.
Dalam Roma 7, persoalannya bukanlah neraka atau Iblis; melainkan adalah “tubuh maut ini”. Kita memiliki sa-tu tubuh yang di dalamnya ada satu hal yang menjijikkan yang disebut “maut ini”. Untuk keberadaan kita, kita perlu satu tubuh. Namun tubuh kita ini bukan lagi satu tubuh yang murni, melainkan satu tubuh yang menyulitkan, tu-buh dari maut ini. Kapan kala kita memutuskan untuk berbuat baik guna menyenangkan Allah, sesuatu di dalam tubuh ini akan bangkit untuk membunuh kita.
HUKUM DOSA DAN MAUT
Dari Roma 7:24 kita maju kepada perkara hukum dosa dan maut dalam Roma 8:2. Meskipun sulit menemukan istilah untuk mengekspresikan apakah hukum ini, tetapi mudah untuk mengalaminya menurut pengalaman kita. Mi-salnya, adalah mudah untuk menerapkan listrik dengan menggunakan peralatan rumah tangga, tetapi sulit untuk mendefinisikan apakah listrik itu. Kita tidak akan mencoba mendefinisikan hukum dosa dan maut ini, kita akan mem-bicarakan tentang hukum ini dari sudut pandang penga-laman kita.
Tidak ada seorang pun di antara kita yang suka marah-marah. Kita menyadari bahwa kita sangat tidak berha-rap untuk melakukannya. Tetapi andaikata Anda tergugah untuk mengasihi Tuhan dan Anda menetapkan untuk tidak marah-marah lagi. Pada satu pagi Anda berdoa tentang hal ini dan menetapkan untuk tidak marah-marah lagi. Segera setelah itu, istri Anda memberikan satu kesulitan kepada Anda dan membuat Anda marah. Meskipun Anda berusaha untuk menekan amarah Anda, pada akhirnya Anda tetap marah-marah juga. Kelihatannya semakin Anda berusaha menahan amarah Anda, semakin kuat amarah itu pada sa-at akan dikeluarkan. Anda tidak memiliki maksud atau keinginan untuk marah-marah, tetapi Anda marah-marah. Ini berasal dari pekerjaan hukum dosa yang ada di dalam Anda. Menekan amarah Anda itu seperti menekan sebuah bola karet; semakin Anda menekannya, semakin tinggi ia akan memantul. Inilah hukum. Ketika dosa bekerja melalui hukum ini, maut segera mengikutinya. Segera setelah Anda marah-marah, maut ini masuk untuk membunuh Anda. Ja-di, dengan kemarahan Anda, Anda dibunuh oleh hukum maut ini. Karena hukum maut telah membunuh Anda, maka Anda tidak dapat berdoa, bersekutu, atau bersaksi.
Jika Anda berusaha untuk melakukan hal-hal ini, Anda akan merasa bahwa Anda dangkal dan kosong, dan perkataan-perkataan Anda tidak mengandung hayat. Inilah akibat dari pekerjaan hukum dosa dan maut.
Dosa dan maut adalah dua hal, tetapi keduanya hanya memiliki satu hukum. Hukum dosa adalah hukum maut, dan hukum maut adalah hukum dosa. Inilah sebabnya Roma 8:2 membicarakan tentang hukum dosa dan maut (Tl.). Do-sa bekerja untuk mendatangkan maut, dan maut bekerja mengikuti dosa. Keduanya selalu berjalan seiring. Setiap dosa, bahkan sedikit kelemahan, mendatangkan maut.
MELETAKKAN PIKIRAN DI ATAS DAGING
Roma 8:6 mengatakan, “Meletakkan pikiran di atas da-ging adalah maut.” (Tl.). Meletakkan (menaruh) pikiran di atas daging itu berarti menggunakan pikiran untuk hal-hal yang berasal dari daging. Misalnya, meletakkan pikiran Anda pada model-model duniawi atau iklan-iklan di surat kabar itu adalah meletakkan pikiran pada hal-hal yang ber-asal dari daging. Demikian juga, memikirkan kelemahan istri atau suami Anda itu adalah meletakkan pikiran di atas daging. Hasil dari hal ini adalah maut.
Maut yang disebabkan oleh meletakkan pikiran di atas daging ini, tentunya bukanlah maut yang membuat Anda mati secara jasmani dan dikuburkan di dalam kuburan. Ti-dak, maut ini memiliki gejala-gejala lainnya seperti kege-lapan dan ketidaknyamanan. Jika Anda merasa tidak nya-man dan tidak ada perhentian di dalam Anda, itu adalah satu tanda dari maut. Ketidakpuasan adalah gejala lainnya. Mungkin sewaktu Anda bersama dengan Tuhan di pagi hari, Anda sangat puas dengan Tuhan. Namun, setelah makan pagi, Anda meletakkan pikiran Anda pada iklan-iklan di surat kabar. Semakin Anda memikirkannya, Anda semakin merasa tidak puas. Ketidakpuasan ini adalah tan-da dari maut. Kelemahan adalah tanda lainnya lagi. Seperti yang telah kita ketahui, kesudahan dari kelemahan adalah maut. Ketika seseorang lemah, lemah sampai sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat bernafas lagi, maka akhirnya ia akan mati. Itulah kesudahan dari kelemahan. Jadi, ke-lemahan adalah ekspresi maut. Tanda lain dari maut ada-lah kekeringan (layu). Bila Anda merasa kering di dalam Anda, tidak merasakan pendirisan, itu berarti Anda berada di dalam maut. Semua butir ini — kegelapan, ketidaknya-manan, ketidakpuasan, kelemahan, dan kekeringan — ada-lah tanda kematian rohani di dalam Anda. Kapan saja Anda meletakkan pikiran Anda di atas hal-hal yang bersifat da-ging, Anda akan menyadari satu atau lebih dari tanda-tanda maut ini. Dipenuhi dengan hal-hal itu berarti dipenuhi de-ngan maut.
Kapan saja Anda menderita karena maut yang ada di dalam Anda, orang-orang yang berada di dalam roh akan dapat merasakannya. Mereka akan segera sadar bahwa An-da penuh dengan maut. Doa-doa Anda akan menunjukkan hal ini. Anda mungkin berdoa, tetapi tidak ada hayat dalam doa-doa Anda; sebaliknya, akan ada maut. Bukannya didi-ris, malah ada kekeringan.
ROH ITU MEMBUAT RUMAH
DI DALAM KITA
Roma 8:9 mengatakan, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah ting-gal di dalam kamu.” Seperti yang telah kita tunjukkan, kata Yunani yang diterjemahkan “tinggal” di sini bukanlah kata yang biasa dipakai untuk “tinggal”. Kata Yunaninya di sini memiliki akar kata yang sama dengan kata untuk “rumah”. Kata ini menyampaikan pemikiran bukan tinggal di satu tempat untuk sejangka waktu tertentu, melainkan membuat rumah di satu tempat dan menetap di sana. Jika Roh itu membuat rumah di dalam Anda, Anda tidak akan lagi berada di dalam daging, melainkan di dalam roh.
TUBUH KITA AKAN MATI,
TETAPI ROH KITA AKAN HIDUP
Dalam Roma 8:10, Paulus berkata, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena do-sa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Karena Kristus, yang adalah hayat, ada di dalam roh kita, maka roh kita adalah hayat. Namun, karena Kristus terba-tasi di dalam roh kita, maka tubuh kita tetap akan mati. Ruang lingkup hayat itu terbatas pada roh kita. Hayat itu belum menyebar ke dalam tubuh kita; karena itu, tubuh ini tetap akan mati. Menurut Efesus 2 dan Yohanes 5, seorang manusia yang telah jatuh itu sudah mati. Efesus 2:5 menunjukkan bahwa sebelum kita diselamatkan, kita bukan hanya penuh dengan dosa, melainkan juga sudah mati. Yohanes 5:25 mengatakan, “Sesungguhnya Aku ber-kata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengar-Nya, akan hidup.” Ayat ini bukan mengacu kepada orang yang akan mati dan dikubur secara jasmani, melainkan mengacu kepada orang-orang mati yang hidup, orang-orang yang mati dalam rohnya. Jika Anda membaca Yohanes 5, Anda akan melihat bahwa ayat 28 mengacu kepada orang yang mati secara jasmani dan diku-bur di dalam kuburan. Tetapi dalam ayat 25, Tuhan mem-bicarakan tentang orang-orang yang mati secara rohani, namun secara jasmani hidup. Dalam berita ini kita memper-hatikan orang-orang mati yang hidup, bukan orang-orang yang akan mati dan dikubur secara jasmani. Semua orang yang belum diselamatkan itu sudah mati. Karena tubuh mereka telah diracuni oleh ular, maka tubuh mereka sudah dimatikan. Iblis (Satan), si ular tua, telah menginjeksikan racunnya ke dalam tubuh kita dan telah membuatnya men-jadi mati. Kematian tubuh ini juga telah mematikan jiwa kita dan roh kita. Karena itu, orang-orang yang belum di-selamatkan itu sudah mati dalam tubuh, jiwa, dan roh. Se-tiap bagian mereka sudah mati.
Suatu hari ketika saya bepergian melewati pedalaman China pada tahun 1937, saya berhenti di tepi sebuah anak sungai yang penuh dengan daun-daun kering yang dibawa oleh arus sungai itu. Di antara daun-daun itu ada beberapa ikan-ikan kecil yang berenang melawan arus sungai itu. Tidak sama dengan daun-daun yang dibawa arus itu tanpa tujuan, ikan-ikan itu penuh dengan hayat, berenang ke per-mukaan arus itu dengan satu tujuan tertentu. Ketika saya melihat hal itu, saya sungguh terkesan dan bahkan berte-riak, “Di sini ada hayat dan maut.” Semua orang yang belum diselamatkan bagaikan daun-daun itu; mereka dibawa oleh arus zaman ini tanpa tujuan. Seperti halnya daun-daun itu, mereka kacau-balau dan tidak teratur. Tetapi, kita, kaum beriman dalam Kristus, seperti ikan-ikan yang berenang melawan arus zaman ini dengan tujuan tertentu. Tidak ha-nya demikian, kita tidak berada dalam kekacauan, melain-kan berada dalam satu susunan yang teratur. Semakin kita memiliki hayat, semakin kita berada dalam susunan dan keteraturan. Tetapi semakin kita memiliki maut, kita se-makin kacau-balau. Alasan mengapa masyarakat hari ini begitu kacau adalah karena dipenuhi dengan orang-orang yang telah mati, orang-orang yang telah mati dalam tubuh, jiwa, dan rohnya. Kita perlu memperdengarkan Injil dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendengar suara Tuhan.
Ketika kita mendengar Injil dan berseru kepada nama Tuhan Yesus, maka Roh Kudus segera masuk ke dalam roh kita dan menghidupkannya. Dengan cara ini roh kita yang telah mati dibuat menjadi hidup. Sekarang Kristus ada di dalam roh kita, dan roh kita adalah hayat.
Tetapi bagaimana dengan tubuh dan pikiran kita? Tu-buh dan pikiran kita masih tetap berada dalam maut. Ba-nyak orang yang memiliki pikiran maut karena mereka tidak membiarkan Kristus yang berhuni di dalam roh me-reka menyebar ke dalam pikiran mereka. Ketika saya mem-baca sebuah surat kabar, saya sangat berhati-hati dengan hanya membaca berita-berita tentang hubungan internasio-nal. Jika saya membaca butir-butir berita lainnya, saya akan meletakkan pikiran saya di atas daging, dan pikiran saya akan segera mati. Kita perlu membiarkan Kristus yang berhuni ini menyebar dari roh kita ke dalam pikiran kita. Jika kita membiarkan Dia menyebar dengan cara ini, pada akhirnya hayat ini akan disalurkan bahkan sampai kepada tubuh fana kita. Kemudian roh dan pikiran akan menjadi hayat dan tubuh ini juga akan dihidupkan. Roma 8:11 me-nunjukkan hal ini: “Jika Roh Dia, yang telah membangkit-kan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.”
DAGING DOSA
Dengan masuk ke dalam tubuh kita, dosa telah mem-buatnya menjadi daging yang jatuh. Karena itu dalam Roma 6:6, tubuh ini disebut “tubuh dosa”. Tubuh ini juga disebut “daging dosa” (8:3 Tl.), karena telah dirusak oleh dosa. Tubuh dosa dan daging dosa mengacu kepada hal yang sama. Di dalam tubuh yang bobrok ini, daging dosa ini, ada begitu banyak nafsu. Dalam 7:17, Paulus berkata, “Kalau demikian bukan aku lagi yang melakukannya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.” Tegasnya, dosa ini tinggal di dalam daging kita, sehingga membuatnya menjadi daging dosa.
PENGARUH MAUT
Dosa yang berhuni ini adalah penyebab adanya maut. Di mana ada dosa, di situ ada maut. Maut yang digambar-kan Roma 5 sampai 8 terutama bukanlah maut yang mem-buat orang mati secara jasmani, melainkan maut yang membunuh mereka hari ini. Maut ini sedang melakukan pekerjaan yang mematikan pada diri kita. Alasan mengapa ada begitu banyak yang lemah dalam doa dan miskin da-lam berfungsi di dalam sidang-sidang gereja adalah adanya pekerjaan maut. Ada beberapa saudara dan saudari tidak bisa bersatu. Kekurangan keesaan ini berasal dari maut. Ji-ka Anda tidak dapat membuka mulut Anda untuk bersaksi dengan hidup, itu disebabkan adanya pekerjaan maut yang mematikan. Jika Anda tidak berada di bawah kuasa maut, Anda akan melonjak, berdoa, memuji, berfungsi, dan ber-saksi sepanjang waktu. Lagi pula, Anda akan menjadi esa dengan semua orang kudus. Selama Anda tidak demikian, Anda mati, sekalipun Anda mungkin baik, benar, dan alki-tabiah.
Seperti yang telah kita tunjukkan, Roma 8:6 mengata-kan bahwa pikiran yang ditaruh (diletakkan) di atas daging adalah maut (Tl.). Maut di sini bukanlah maut yang mem-buat orang mati dan dikubur secara jasmani; ini adalah maut yang mematikan mereka sepanjang hari. Dalam me-lakukan banyak hal, Anda mungkin penuh dengan energi, tetapi dalam berdoa Anda akan miskin dan tidak berhayat. Ini berarti maut di dalam tubuh Anda telah menyebarkan pengaruh dan kuasanya yang mematikan ke dalam pikiran dan roh Anda.
Pada suatu kali, ketika Saudara Watchman Nee sedang berbicara, ia meminta para saudari supaya memberitahukan kepadanya berapa banyak pasal yang ada dalam Injil Matius. Mereka kesulitan dalam memberikan angka yang tepat. Saudara Watchman Nee segera berkata, “Kalian tidak dapat memberitahuku berapa banyak pasal yang ada dalam Injil Matius. Tetapi jika aku bertanya kepada kalian berapa panjang baju yang kalian miliki, kalian akan dapat memberikan angka yang tepat kepadaku. Kalian bukan hanya akan dapat memberi tahu angkanya, tetapi juga warna dan modelnya.” Banyak orang Kristen yang menemui ke-sulitan untuk mengingat ayat-ayat di dalam Alkitab, tetapi mereka dapat dengan mudah mengingat begitu banyak rin-cian tentang harta kekayaan mereka. Ini menunjukkan bahwa pikiran mereka telah dimatikan. Bila pikiran telah dimatikan, maka pikiran itu akan cocok untuk hal-hal yang bersifat daging dan duniawi, tetapi tidak cocok untuk hal-hal rohani.
Kita perlu membiarkan Kristus yang berhuni ini me-nyebar dari roh kita ke semua bagian diri kita. Kita harus berdoa, “Tuhan Yesus, aku mau membiarkan Engkau me-nyebar di dalamku. Aku mau Engkau memiliki keleluasaan di dalamku.” Jika Anda melakukan hal ini, pikiran Anda akan menjadi jernih, dan daya ingat Anda akan tajam. De-ngan sendirinya Anda akan dengan mudah mengingat ayat-ayat dalam Alkitab.
Maut bekerja ke arah dalam, dari tubuh kita ke roh kita; sedangkan hayat bekerja ke arah luar, dari roh kita ke tubuh kita. Arah pekerjaan maut adalah dari lingkaran ke pusat, sedangkan arah pekerjaan hayat adalah dari pu-sat ke lingkaran. Karena itu, maut dan hayat bekerja da-lam arah yang berlawanan. Maut bekerja dari lingkaran ke pusat, maut ini akan mematikan pikiran dan roh kita.
JALAN UNTUK DIBEBASKAN DARI MAUT
Kita telah melihat bagaimana dibebaskan dari dosa, hukum Taurat, dan dari daging. Sekarang kita harus mene-mukan bagaimana dibebaskan dari maut. Dasar dari maut di dalam kita adalah daging. Satu-satunya jalan untuk di-selamatkan dan dibebaskan dari maut adalah melarikan diri ke dalam roh kita. Daging kita adalah dasar dari maut, dan roh kita adalah tempat pelarian kita. Kita perlu lari ke da-lam tempat perlindungan ini dan menyelamatkan diri dari maut. Maut adalah lawan dari hayat, dan hayat adalah lawan dari maut. Maut ada di dalam daging kita dan hayat ada di dalam roh kita. Tidak ada satu pun yang dapat me-ngusir maut atau menelannya, seperti halnya tidak ada satu pun yang dapat menghalau kegelapan. Namun, ketika terang datang, kegelapan pun musnah. Tidak perlu menge-luarkan tenaga untuk menghalau kegelapan atau menying-kirkannya. Biarkan saja terang datang. Semakin terang da-tang, kegelapan itu makin sirna. Prinsipnya sama dengan menerapkan perkara hayat melawan maut. Dengan usaha kita, kita tidak dapat menghalau maut atau menelannya. Hanya hayat yang dapat menelan maut, dan hayat ini ada di dalam roh kita. Kapan saja hayat datang, maut akan sirna.
Maut adalah Iblis (Satan) dan hayat adalah Kristus. Jangan membiarkan diri Anda berhubungan dengan Iblis di dalam daging, melainkan tinggallah selalu di dalam roh Anda dengan Kristus sebagai hayat. Anda akan melihat bahwa Kristus, yang adalah hayat Anda, akan memiliki sa-tu jalan yang leluasa di dalam Anda untuk menyebar ke da-lam setiap bagian diri Anda. Akhirnya, Dia akan menjenuhi setiap bagian Anda. Inilah kehidupan (kebangkitan) dari hayat. Hayat akan menghidupkan pikiran, emosi, dan tekad Anda dan bahkan akan disalurkan kepada tubuh fana An-da. Jadi, setiap bagian diri Anda akan menjadi hayat. Roh akan menjadi hayat, pikiran akan menjadi hayat, dan tu-buh juga akan menjadi hayat. Bila hal ini terjadi, maka maut, musuh yang terakhir ini, akan ditelan.
MAUT ADALAH MUSUH YANG TERAKHIR
Maut bukan hanya musuh Allah yang terakhir, juga musuh kita yang terakhir. Musuh yang terakhir bukanlah dosa, hukum Taurat, atau daging; melainkan maut. Dalam pandangan Allah, tidak ada yang demikian membencikan seperti maut. Bahkan dosa pun tidak demikian membenci-kan seperti maut. Allah bahkan lebih membenci maut daripada membenci dosa. Dosa berlawanan dengan apa yang Allah kerjakan, tetapi maut menghina apa adanya Allah. Dosa bertentangan dengan kebenaran Allah, tetapi maut menghina diri Allah. Misalnya, seorang anak kecil bermain di lumpur dan menjadi sangat kotor. Tidak peduli betapa kotornya dia, kita tetap akan mengasihinya dan rela berma-in dengannya. Namun, andaikata anak kecil itu mati dan diletakkan di dalam sebuah peti; meskipun ia sangat bersih, kita tidak akan ingin bersama dengannya. Kita akan men-jauhinya bukan karena ia kotor, melainkan karena ia telah mati.
Saya terganggu dengan fakta bahwa sungguh banyak orang Kristen yang takut akan kecemaran, tetapi tidak memperhatikan tentang maut. Tetapi, sekali lagi, Allah lebih membenci maut daripada dosa. Dalam perlambangan, jika seseorang dicemari oleh hal yang najis, ia dapat diber-sihkan dengan mudah dan dalam jangka waktu yang pen-dek. Tetapi jika ia menjamah sesuatu yang mati, ia me-merlukan waktu yang lebih lama, sedikitnya tujuh hari, untuk menjadi tahir. Ini menunjukkan bahwa dalam pan-dangan Allah, maut lebih serius daripada dosa.
MEMELIHARA HAYAT
YANG DI DALAM ROH
Saat berfungsi dalam sidang-sidang lebih baik membu-at kesalahan daripada mati dan tidak membuat kesalahan apa pun. Salah itu tidak seserius mati. Jika Anda tidak berfungsi, Anda mungkin benar, tetapi Anda benar dengan cara mati. Saya lebih senang melihat Anda hidup salah da-ripada mati benar. Saya tidak mendorong Anda untuk membuat kesalahan. Tetapi kadang-kadang lebih baik lebih memperhatikan hidup daripada memperhatikan Anda men-jadi baik. Kita perlu mengenal gejala-gejala kematian untuk mengenal apakah kita mati atau hidup.
Dalam Injil Yohanes, Tuhan tidak memberikan jawab-an ya atau tidak kepada pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya. Misalnya, perempuan Samaria berkata, “Nenek mo-yang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu ka-takan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah” (Yoh. 4:20). Perempuan ini bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai tempat yang tepat untuk menyembah. Apakah tempatnya di atas gunung di Samaria atau di Yerusalem? Tuhan Yesus menjawab, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara de-mikian” (Yoh. 4:23). Tuhan Yesus sepertinya berkata, “Me-nyembah Allah adalah perkara hayat, dan hayat ini ada di dalam roh. Ini bukanlah persoalan tentang menyembah Allah di atas gunung ini atau di Yerusalem. Waktunya telah datang untuk menyembah Allah di dalam roh.”
Kita melihat contoh lainnya dalam Yohanes 9. Sewaktu melihat orang yang buta sejak lahir, murid-murid Tuhan bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh. 9:2). Tuhan menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia” (ayat 3). Dalam Kitab Yohanes, ki-tab hayat ini, tidak ada jawaban ya atau tidak; sebaliknya, hanya ada hayat.
Dalam Yohanes 7, saudara-saudara Tuhan dalam da-ging menyarankan agar Dia pergi ke Yerusalem (ayat 3-4). Tuhan berkata kepada mereka, “Waktu-Ku belum tiba, te-tapi bagi kamu selalu ada waktu . . . Pergilah kamu ke pesta itu. Aku tidak pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap” (ayat 6, 8). Namun, ayat 10 mengatakan, “Tetapi se-sudah saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.” Di sini kita melihat bahwa Tuhan menjawab dan bertindak menurut hayat.
Kita semua tidak asing dengan catatan tentang Lazarus dalam Yohanes 11. Ketika saudari-saudari Lazarus mengi-rimkan berita kepada Tuhan bahwa Lazarus sakit dan me-minta kepada-Nya untuk datang, Dia menolak. Setelah mendengar bahwa Lazarus sakit, “Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada” (ayat 6). Ketika murid-murid berharap agar Tuhan Yesus mengunjungi Lazarus, Dia tidak pergi. Tetapi ketika mereka memutuskan untuk tidak pergi, Tuhan berkata, “Mari kita kembali lagi ke Yudea” (ayat 7). Dalam peristiwa-peristiwa ini kita melihat bahwa apa yang Tuhan Yesus lakukan itu selalu merupa-kan perkara hayat.
Dalam Kejadian 2, ada dua pohon, pohon hayat (ke-hidupan) dan pohon pengetahuan baik dan jahat. Baik dan jahat juga adalah perkara ya atau tidak. Ya dan tidak, be-nar dan salah, baik dan jahat, semuanya ini berasal dari pohon pengetahuan. Kita perlu melupakan konsepsi tentang ya atau tidak, dan kemudian tinggal di dalam roh kita. Inilah jalan untuk dibebaskan dari maut. Jalan dibebaskan dari maut bukanlah melakukan hal-hal tertentu, melainkan tinggal di dalam roh. Jika kita tinggal di dalam roh, maka kita akan berjalan dan bertingkah laku menurut roh. Kita akan membawa diri menurut roh, dan kita akan berpikir, mengekspresikan diri kita, dan melakukan segala sesuatu di dalam roh. Demikian tidak akan ada maut. Inilah jalan untuk dibebaskan dari maut dan mengatasi musuh yang terakhir.
Maut apa pun yang masih tetap ada di dalam diri kita adalah hal yang membencikan di mata Allah, dan kita ha-rus memusnahkannya. Kita harus menyelamatkan diri dari dasar maut di dalam daging ke dalam roh kita, di mana Kristus, hayat kita berada. Kita perlu tinggal di dalam roh dan bertingkah laku menurut roh. Jika kita melakukan hal ini, maka kita akan dibebaskan dari maut.