DIBEBASKAN DARI MAUT (1)
Seperti yang telah kita lihat, butir inti dari wahyu da-lam Kitab Roma ialah Allah sedang mengubah orang-orang dosa menjadi putra-putra untuk membentuk Tubuh Kristus. Allah terekspresi di dalam Putra, Putra terekspresi di da-lam Tubuh, dan Tubuh terekspresi di dalam gereja-gereja lokal. Sebelum kita menjadi putra-putra, kita telah tersu-sun menjadi orang-orang dosa (5:19), bukan hanya dalam nama dan kedudukannya, tetapi juga dalam susunannya. Kita tersusun menjadi orang-orang dosa karena dosa telah masuk ke dalam kita.
DOSA MASUK KE DALAM DIRI KITA
Agar suatu substansi dapat disusun dengan cara ter-tentu, maka suatu unsur khusus harus ditambahkan ke da-lamnya. Melalui penciptaan Allah, kita menjadi orang-orang yang baik dan benar. Namun, karena kejatuhan Adam, dosa diinjeksikan ke dalam diri manusia kita. Ketika ma-nusia jatuh, ia bukan hanya membuat suatu kesalahan. Ji-ka manusia hanya membuat suatu kesalahan, kejatuhannya tidak akan seserius itu. Namun, dalam kejatuhan itu sesuatu yang lebih serius daripada kesalahan telah terjadi: dosa diinjeksikan ke dalam diri manusia.
Misalnya, ada seorang ibu yang memiliki sebuah botol yang berisi racun di rumahnya. Ia menyimpannya di tem-pat tertentu dan memberi tahu anak laki-lakinya agar ti-dak menyentuh botol itu. Satu hari, sewaktu ibunya pergi, anak laki-laki itu membayangkan apa yang ada di dalam botol tersebut. Ia mengambilnya, membuka tutupnya, dan meminum racun itu. Ketika ibunya menemukan apa yang telah terjadi, ia tidak memperhatikan kesalahan yang telah dilakukan oleh anaknya. Ia khawatir akan racun yang te-lah masuk ke dalam diri anaknya. Banyak orang Kristen mengira bahwa manusia hanya tidak taat kepada Allah dan membuat satu kesalahan dengan mengambil buah pohon pengetahuan. Tidak banyak yang menyadari bahwa dengan memakan buah pohon pengetahuan, sesuatu yang jahat dan bahkan yang setani telah masuk ke dalam manusia. Mela-lui kejatuhan itu, suatu unsur yang jahat dan setani telah diinjeksikan ke dalam manusia. Alkitab menyebut unsur ini sebagai dosa. Dosa bukan hanya perkara berdusta atau mencuri; itu adalah buah dari dosa, bukan dosa itu sendiri. Dosa sebenarnya adalah sifat Iblis (Satan), si jahat.
Dalam Roma 5—8 ada banyak hal yang menunjukkan dosa itu seperti persona yang hidup: dosa ini masuk (5:12), berkuasa (5:21), dapat menjadi tuan atas kita (6:14), menipu kita (7:11), membunuh kita (7:11), dan tinggal di da-lam kita (7:17). Begitu dosa, unsur jahat Iblis ini, diinjek-sikan ke dalam manusia, segera manusia tersusun menjadi orang dosa. Sekarang kita bukanlah manusia yang tepat; kita adalah orang-orang dosa oleh karena susunan kita. Jumlah perbuatan yang baik dengan yang jahat yang telah kita lakukan itu tidak membuat suatu perbedaan lagi, karena sekarang dosa ada di dalam diri kita. Meskipun per-buatan-perbuatan lahiriah kita itu mungkin tidak berdosa, tetapi di dalam kita, kita memiliki sifat dosa.
AKIBAT DOSA
Dosa mendatangkan banyak hal. Dosa mendatangkan daging dan hukum Taurat. Jadi, kita memiliki masalah dosa, daging, dan hukum Taurat. Tetapi kita masih memi-liki masalah lainnya, akibat dosa yang terakhir, yaitu ma-ut (kematian). Di mana ada dosa, di situ ada maut. Dalam 5:12 Paulus berkata, “Sebab itu, sama seperti dosa telah ma-suk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Maut masuk melalui dosa dan memerintah karena dosa. Karena itu dosa mengakibatkan tiga hal: hukum Taurat, daging, dan maut.
DIBEBASKAN DARI DOSA, HUKUM TAURAT, DAN DAGING
Roma 5 mewahyukan bahwa kita telah tersusun men-jadi orang-orang dosa, dan Roma 6 mewahyukan bahwa “tubuh dosa” telah “dibuat tidak aktif” (6:6 Tl.), karena ma-nusia lama kita telah disalibkan bersama dengan Kristus. Melalui kematian manusia lama, kita dibebaskan dari dosa. Seperti yang telah kita tunjukkan dalam berita sebelum-nya, dalam Roma 6 kita dibebaskan dari dosa, dalam Roma 7 kita dibebaskan dari hukum Taurat, dan dalam Roma 8 kita dibebaskan dari daging. Kita dibebaskan dari dosa ka-rena manusia lama kita telah disalibkan. Kematian manu-sia lama telah membuat tubuh dosa ini menganggur, dibuat tidak aktif. Karena tubuh dosa telah kehilangan pekerjaan-nya, maka kita tidak perlu lagi melayani dosa sebagai hamba-hambanya. Ini berarti kita telah dibebaskan dari dosa. Demikian juga, kita telah dibebaskan dari hukum Taurat karena suami lama kita telah mati dan telah diku-bur. Pada waktu penguburan ini, kita dinikahkan dengan suami kita yang baru. Karena kehilangan suami lama kita dan menikah dengan suami yang baru, maka kita dibebas-kan dari hukum Taurat. Seperti yang diwahyukan dalam Roma 8, kita dibebaskan dari daging melalui berjalan me-nurut roh. Kita dibebaskan dari dosa melalui menyalibkan manusia lama kita dan tubuh dosa kita dibuat menjadi ti-dak aktif; kita dibebaskan dari hukum Taurat melalui me-nguburkan suami lama kita dan menikah dengan yang lain; dan kita dibebaskan dari daging melalui berjalan menurut roh.
PEKERJAAN MAUT
Tetapi sekarang kita harus menghadapi masalah lain-nya, yaitu bagaimana kita dapat dibebaskan dari maut. Jika kita ingin tahu tentang hal ini, kita perlu memahami apakah maut itu. Setiap orang berada di bawah pemerin-tahan maut dan di bawah pekerjaannya. Di dalam setiap orang yang hidup ada sesuatu yang disebut Alkitab sebagai “pekerjaan maut”. Misalnya, ada seorang saudara menga-sihi Tuhan. Pada satu pagi, dalam persekutuannya dengan Tuhan, ia memutuskan bahwa mulai sekarang ia akan se-lalu menaati dan menghormati orang tuanya, mengasihi istrinya, dan ramah terhadap anak-anaknya. Ini adalah ke-inginan hatinya. Ia juga memutuskan untuk tidak marah-marah. Namun, segera setelah itu, situasi yang sulit ter-jadi, dan ia marah-marah lagi. Anda mungkin mengatakan bahwa ini adalah akibat dari pekerjaan dosa. Saya setuju. Tetapi akibat dosa ialah maut; mautlah yang bekerja di da-lam kita. Setelah disengat oleh maut, kita menjadi begitu lemah hingga tidak peduli bagaimana giatnya kita berusaha menghormati orang tua kita, atau mengasihi istri kita, kita tidak dapat melakukannya.
Dalam 7:7-8, Paulus berkata, “Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak menga-takan, ‘Jangan mengingini!’ Tetapi dengan perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan.” Keinginan bukanlah perkara lahiriah; ini adalah kedambaan yang di dalam. Pada suatu hari, seorang misionaris di China memberi tahu juru ma-saknya bahwa setiap orang penuh dengan dosa. Sambil ber-debat dengannya, juru masak itu mengatakan bahwa ia jujur dan tidak pernah mencuri sesuatu milik orang lain. Setelah melewati tanya jawab lebih lanjut, diketahui bah-kan sewaktu mereka sedang berdebat tentang dosa dan kejujuran, juru masak itu pun sedang memikirkan tentang kuda misionaris itu, dan memikirkan bagaimana bisa men-dapatkan kuda itu. Kemudian misionaris itu memberi tahu dia, “Inilah keinginan dan keinginan itu adalah dosa.” Da-lam Roma 7, Paulus juga memakai keinginan sebagai satu ilustrasi. Betapa sulitnya bagi kita untuk mengendalikan keinginan kita! Semakin kita berusaha untuk tidak meng-ingini, semakin kita mengingininya. Rasul Paulus berusaha menjadi benar, kudus, dan sempurna. Sedikitnya sampai sa-tu tahap tertentu, ia berhasil. Ia menjaga dirinya dari men-curi, tetapi ia tidak dapat menjaga dirinya sendiri dari mengingini. Pada kenyataannya, ia belajar bahwa tidak mungkin dia mengendalikan keinginannya. Oleh karena itu, ia berseru, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (7:24).
“MAUT INI”
Apakah yang Paulus maksud dengan “maut ini”? Mak-sudnya ialah maut ini ada dalam bentuk keinginan yang secara terus-menerus membunuhnya. Demikian juga, ada sesuatu di dalam kita yang membunuh kita setiap menit sepanjang hari. Jika kita kendur atau ceroboh, kita tidak akan menyadari hal ini. Tetapi jika kita berusaha menjadi benar, kudus, rohani, dan sempurna, kita akan menemukan bahwa bukannya menjadi sempurna, kita malah secara terus-menerus dibunuh oleh maut ini. Untuk mengalami ma-ut ini, kita tidak perlu menunggu sampai kita tua dan mati secara fisik. Bahkan dalam tubuh fisik, maut ini pun ada perkara mati secara perlahan-lahan. Setiap hari sekalipun kita hidup, kita mati sedikit demi sedikit. Semakin tua, ki-ta semakin mati. Misalnya, Anda mempunyai tujuh puluh dolar. Jika Anda membelanjakan lima dolar maka sisanya tinggal enam puluh lima dolar. Jika Anda membelanjakan enam puluh sembilan dolar sembilan puluh sembilan sen, maka Anda hanya akan memiliki satu sen lagi. Demikian juga, kita sedang membelanjakan hidup kita. Entah kita tua atau muda, kita sedang mati secara perlahan-lahan. Saya adalah seorang tua dengan banyak cucu. Ketika mereka memberi tahu saya berapa umur mereka, saya kadang-kadang berpikir, “Kalian tidak sedang hidup. Kalian semua sedang mati.”
Maut adalah satu perkara yang dalam dan misterius. Maut akan membunuh tubuh, jiwa, dan roh kita. Sekarang ia sedang membunuh tubuh, pikiran, tekad, dan emosi kita. Ia sedang membunuh hati Anda, lebih-lebih roh Anda. Inilah sebabnya begitu banyak orang datang ke sidang-si-dang gereja dengan cara yang mati. Mereka duduk di kursi mereka tanpa berdoa atau berfungsi, karena mereka sudah mati dan dikubur. Tidak mungkin orang mati yang demiki-an berseru, “Puji Tuhan!” Beberapa saudara mati dalam si-dang-sidang, karena mereka marah terhadap istri mereka. Bahkan ketika Anda sedang tidak senang terhadap istri, walaupun Anda tidak marah secara lahiriah, roh Anda tetap akan terbunuh. Saudara-saudara yang memimpin kadang-kadang bertanya kepada saya, mengapa begitu banyak saudara dan saudari yang tidak berfungsi di dalam sidang-sidang. Saya memberi tahu mereka, penyebabnya adalah orang-orang kudus ini mati dan ada di dalam peti mati. Ba-gaimana mungkin Anda mengharapkan orang mati ber-fungsi? Janganlah menasihati mereka atau memberi me-reka peraturan-peraturan. Sebaliknya, lakukanlah sesuatu yang dapat membuat mereka bangkit dari kuburan mereka. Kemudian mereka akan berbicara di dalam sidang-sidang. Yang saya tekankan di sini ialah kita semua memiliki se-suatu di dalam kita yang disebut maut oleh Alkitab. Jangan mengira maut hanya akan muncul di masa yang akan datang. Tidak, ia mungkin menang di dalam Anda hari ini. Meskipun namanya adalah maut, tetapi ia sangat aktif dan kuat, jauh lebih kuat daripada Anda. Dengan bersandar pada diri Anda sendiri, Anda tidak dapat mengalahkannya.
Sering kali di dalam sidang gereja, Anda mungkin me-miliki perasaan untuk memuji Tuhan atau memberikan satu kesaksian. Namun, Anda segera mulai mempertim-bangkan dan memikirkan bahwa Anda tidak boleh meng-utarakan sesuatu dengan ceroboh. Jika Anda berhati-hati demikian, ini menunjukkan bahwa Anda berada di bawah pengaruh maut. Jika Anda disuruh tampil sebagai saksi berdiri di depan hakim, Anda harus hati-hati. Tetapi ketika Anda menghadiri sidang gereja, Anda tidak perlu begitu berhati-hati, tidak perlu begitu waspada; Anda perlu mem-bebaskan roh Anda, dan berkata, “Puji Tuhan! Amin! Aku ingin bersaksi bahwa Kristus adalah hayatku.” Pertimbang-an apa pun akan mematikan Anda. Tahukah Anda meng-apa Anda berhati-hati di dalam sidang-sidang? Karena Anda ingin memuliakan diri Anda sendiri dan tidak mau kehi-langan muka Anda. Pertimbangan semacam ini akan mem-bunuh roh Anda.
Kita telah melihat bahwa karena unsur dosa ada di da-lam kita, maka kita telah tersusun menjadi orang dosa. Akibat dosa adalah maut yang akan membunuh dan mem-benam kita. Hari ini kita bukan hanya memiliki masalah dosa, melainkan juga masalah maut. Fakta bahwa dosa dan maut berjalan bersama-sama dibuktikan oleh Roma 8:2: “Hukum Roh yang memberi hidup (hayat) telah memerde-kakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Hukum dosa dan maut itu bukan mengacu kepada dua hukum, melainkan satu hukum dengan dua unsur — dosa dan maut. Di mana ada hukum dosa, di situ juga ada hukum maut.
TUBUH DOSA DAN TUBUH MAUT
Roma 6:6 membicarakan tentang “tubuh dosa” dan 7:24, membicarakan tentang “tubuh maut ini”. Tubuh dosa itu sangat aktif dan penuh semangat dalam melakukan hal-hal dosa. Dalam melakukan hal-hal yang berasal dari Allah, kita sering merasa lelah, ngantuk, dan perlu beristirahat. Tetapi bila ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berdosa, kelelahan itu musnah karena tubuh dosa ini pe-nuh dengan kekuatan. Meskipun tubuh dosa itu kuat, tapi tubuh maut itu lemah. Tubuh maut dapat membuat kita berkata, “Aku tidak dapat pergi sidang. Aku merasa tidak enak badan. Anakku membangunkan aku kemarin malam. Aku sungguh lemah dan lelah. Aku perlu tinggal di rumah dan istirahat.” Jadi tergantung pada yang terkait, tubuh yang sama ini dapat menjadi tubuh dosa atau tubuh maut. Dalam hubungannya dengan dosa, tubuh ini kuat; dalam hubungannya dengan Allah, tubuh ini lemah. Bila roh kita dibangkitkan, hidup, dan terlatih, maka tubuh kita tidak akan lelah. Tetapi bila roh kita dingin, atau bahkan suam-suam kuku, kita mungkin tidak ingin pergi sidang, melain-kan lebih suka tinggal di rumah dan beristirahat. Beberapa saudari mungkin berkata, “Aku begitu sibuk tiga hari bela-kangan ini sehingga aku lelah. Aku tidak dapat pergi si-dang; aku perlu istirahat.” Meskipun ini kelihatannya ada-lah satu fakta, namun sebenarnya ini adalah alasan yang palsu.
HAYAT BAGI TUBUH FANA KITA
Seperti yang telah kita lihat, di dalam 7:24 Paulus ber-seru, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Jalan untuk dibebaskan dari tubuh maut ini ditemukan dalam 8:2. Jalannya ialah mela-lui Roh hayat. Kita perlu berpaling ke roh kita dan berjalan menurut roh kita. Jangan percaya kepada perasaan Anda terhadap kelelahan. Sembilan puluh sembilan persen pera-saan seperti itu adalah bohong. Bila waktunya pergi si-dang, jangan mengatakan bahwa Anda lelah. Itu bohong, dan Anda tidak boleh percaya kepadanya. Atau, walau Anda berusaha untuk melakukan sesuatu, hal itu tidak akan berhasil. Yang perlu kita lakukan sebenarnya sangat seder-hana: Kembali ke dalam roh, tinggal dalam roh, bertindak, bertingkah laku, dan berjalan menurut roh. Jika kita me-lakukan ini, Roh hayat di dalam roh kita akan memberi-kan hayat bahkan sampai ke tubuh fana kita. Orang-orang yang terbeban oleh Tuhan untuk berpuasa dapat pergi berhari-hari tanpa makan dan tidak merasa lapar atau lelah, karena mereka bukan hidup berdasarkan kekuatan fisik mereka, melainkan hidup berdasarkan kekuatan yang berasal dari roh mereka. Roh yang di dalam itu menjadi sumber kekuatan bagi hidup mereka. Jika orang-orang yang tidak percaya berpuasa dengan cara ini, mereka mung-kin akan mati hanya setelah satu atau dua hari saja. Teta-pi jika kita, orang-orang yang percaya, dipimpin oleh Tuhan untuk berpuasa dan jika kita berpuasa di dalam roh, kita dapat pergi selama berhari-hari tanpa masalah apa pun. Selama waktu itu, kita akan hidup bukan berdasarkan kekuatan fisik kita melainkan berdasarkan kekuatan yang berasal dari roh kita. Dari dalam roh kita, Roh yang berhuni ini memberikan hayat kepada tubuh fisik kita. Di dalam prinsip yang sama inilah kita dibebaskan dari maut.
Jika kita diam dalam sidang-sidang, itu adalah satu tanda bahwa kita berada di bawah pembunuhan, kematian, dan maut. Pada waktu-waktu yang demikian kita harus kembali ke dalam roh kita dan memuji Tuhan. Jika kita lelah untuk menghadiri sidang, berdoa, atau bersekutu dengan orang-orang kudus, itu juga adalah satu tanda bah-wa kita berada di bawah pembunuhan dan kelemahan dari maut. Jika kita ingin dibebaskan dari hal-hal itu, kita harus kembali ke dalam roh kita dan berkata, “Puji Tuhan! Tuhan Yesus! Haleluya! Amin!” Maka Anda segera akan merasakan kuasa dan kekuatan dari mata air di dalam roh Anda yang akan ditransmisikan ke dalam tubuh fana Anda.
KRISTUS MEMBUAT RUMAH-NYA
DI DALAM KITA
Roma 8 adalah satu pasal yang dalam, bukan hanya dalam doktrin, tetapi juga dalam pengalaman. Semakin kita mengalaminya, kelihatannya menjadi semakin dalam. Se-lama hubungannya dengan doktrin, sangatlah mudah un-tuk menghafalkan ayat-ayat di dalam pasal ini. Tetapi pengalaman yang terkandung di dalamnya itu tak terukur dan tak terduga. Misalnya, untuk menyerap pengalaman dalam ayat 11: “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, ma-ka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari an-tara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.” Ayat ini mewahyukan bahwa Roh yang berhuni memberikan ha-yat kepada tubuh fana kita. Kita harus meletakkan ayat ini bersama ayat sebelumnya, yang mengatakan, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran.” Karena Kristus ada di dalam roh kita, ma-ka roh kita adalah hayat, meskipun tubuh kita mati ka-rena dosa. Ayat 11 mengatakan bahwa Kristus ini, yang adalah Roh itu, bukan hanya harus ada di dalam kita, te-tapi juga tinggal (berhuni) di dalam kita. Memiliki Kristus di dalam kita itu adalah satu perkara, tetapi memiliki Kristus yang tinggal (berhuni) di dalam kita itu adalah perkara lain. Dalam ayat 10, kita memiliki kata “di da-lam”; namun dalam ayat 11, bukan lagi hanya perkara “di dalam” saja, melainkan perkara “tinggal” atau “berhuni”. Kristus hanya ada di dalam Anda saja, atau berhuni di dalam Anda? Kita perlu Kristus yang berhuni. Untuk hal ini, kita harus memberikan kedudukan di dalam diri kita kepada-Nya. Kristus ada di dalam Anda, tetapi Dia tidak dapat berhuni di dalam Anda, karena Dia tidak memiliki kedudukan di dalam Anda. Jika Anda membiarkan Kristus berhuni di dalam Anda, maka Kristus yang berhuni, yang adalah Roh yang berhuni ini, akan menyalurkan hayat dari roh Anda ke dalam tubuh fana Anda. Ini berarti Roh yang berhuni ini akan menyebarkan diri-Nya sendiri dari roh Anda ke dalam anggota-anggota tubuh Anda.
Setelah Kristus yang berhuni ini menghidupkan roh Anda, Dia juga ingin menghidupkan anggota-anggota tubuh Anda yang mati. Saya yakin bahwa Anda memiliki Kristus di dalam roh Anda dan roh Anda adalah hayat, tetapi saya prihatin bahwa Kristus belum dapat menyalurkan hayat ke dalam anggota-anggota tubuh fana Anda yang mati. Di satu pihak tubuh Anda adalah tubuh yang mati; di pihak lain, tubuh ini adalah tubuh fana. Puji Tuhan bahwa dalam Roma 8:11 kita melihat cara hayat itu dapat disuplaikan kepada tubuh kita yang mati ini! Caranya adalah membiarkan Kristus berhuni di dalam kita, membuat rumah-Nya di da-lam kita. Kata Yunani yang diterjemahkan “tinggal” bukan-lah kata untuk “tinggal” yang umum, melainkan memiliki akar kata yang sama seperti kata yang dipakai dalam Efesus 3:17, yaitu agar Kristus “membuat rumah-Nya” di dalam ha-ti kita. Akar kata ini berarti “rumah” atau “tempat tinggal”. Jadi, ini bukanlah kata yang biasa untuk tinggal, melain-kan satu kata yang berbobot yang berhubungan dengan Kristus membuat rumah-Nya di dalam kita.
MEMBERIKAN KEDUDUKAN
KEPADA KRISTUS
Kristus ingin mendapatkan lebih banyak kedudukan di dalam kita dan membuat rumah-Nya di dalam kita. Tetapi Dia mungkin tidak leluasa tinggal di dalam kita. Tidak di-ragukan lagi, roh kita adalah hayat, tetapi kita mungkin tidak memiliki hayat di dalam tubuh kita. Kita memiliki Kristus di dalam roh kita, tetapi tidak mengekspresikan Dia. Ada orang mengatakan bahwa berseru dan memuji itu sia-sia. Tetapi jika itu sia-sia, mengapa ada orang yang dapat berkata, “Puji Tuhan!” dan yang lainnya tidak? Ba-nyak pendeta yang tidak dapat mengatakan hal ini, karena dalam arti tertentu, mereka terbunuh. Beberapa tahun yang lalu, ada seorang pemuda berdiri di dalam suatu konferensi dan mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan hal berseru kepada nama Tuhan Yesus. Tetapi sewaktu ia berbicara, ia dengan spontan berseru, “Oh Tuhan Yesus!” Banyak kasus seperti ini.
Banyak orang yang tidak memuji Tuhan karena roh mereka lemah dan tubuh mereka (yang belum dihidupkan oleh Kristus yang berhuni) telah dimatikan oleh maut yang menghuninya. Namun, jika kita membiarkan Kristus men-dapatkan sedikit kedudukan di dalam kita, maka hayat akan menyuplai tubuh fana kita. Hayat ini akan menye-bar dari roh kita ke dalam anggota-anggota tubuh kita yang mati, dan kita akan mulai memuji Tuhan. Semakin kita memuji Tuhan, seluruh diri kita akan semakin diku-atkan.
MENJADI ORANG YANG MENDAPATKAN
KEMERDEKAAN
Kita tidak dapat menyangkal bahwa unsur dosa dan maut ada di dalam kita. Betapa kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita juga memiliki unsur yang disebut “Roh hayat”. Tidak hanya demikian, kita pun memiliki unsur Kristus yang berhuni. Setelah memiliki semua unsur ini di dalam kita, pertanyaannya adalah: Manakah yang harus ki-ta pakai di dalam “masakan” kita. Seorang saudari memi-liki banyak unsur di dapurnya, tetapi semuanya tergantung pada unsur manakah yang dipilihnya untuk memasak. Ki-ta perlu selalu kembali ke dalam roh kita dan hidup menu-rut roh kita. Jika kita melakukan hal ini, maka Kristus yang berhuni ini akan menjadi riil bagi kita, dan kita akan melihat betapa tak terbatasnya Dia. Akhirnya, Dia akan menyebarkan diri-Nya sendiri dari roh kita ke dalam tubuh fana kita yang mati. Dengan cara ini kita akan sepenuhnya dibebaskan dari maut.
Ketika kita dibebaskan dari dosa, hukum Taurat, da-ging, dan maut, maka kita benar-benar adalah orang-orang yang mendapatkan kemerdekaan. Sebagai orang-orang yang demikian, kita tidak lagi berada di bawah dosa, hukum Taurat, daging, dan maut. Cara untuk dibebaskan dari se-mua hal ini adalah menyalibkan manusia lama kita, me-nguburkan suami lama kita, dan kembali ke dalam roh, meletakkan pikiran di atas roh, dan berjalan menurut roh. Jika kita bertindak demikian, pada akhirnya kita akan di-bebaskan sepenuhnya. Perkataan ini mungkin agak seder-hana dan singkat, tetapi jika kita mempraktekkan dan mengalaminya, kita akan melihat bahwa hal ini tidak ter-batas, tidak terukur, tinggi, dalam, dan sangat misterius.