DIBEBASKAN DARI DOSA, HUKUM TAURAT, DAN DAGING
Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa pemikiran inti dari Kitab Roma ialah bahwa Allah sedang mengubah orang-orang dosa menjadi putra-putra untuk membentuk Tubuh Kristus. Ini — bukan dibenarkan oleh iman — adalah konsepsi dasar dari Kitab Roma. Jika kita tidak memiliki pandangan ini, kita akan memiliki pema-haman yang sangat dangkal akan Kitab Roma. Akhirnya, kitab ini bukan hanya untuk keselamatan pribadi kita, melainkan untuk pembentukan Tubuh Kristus.
EMPAT POS
Dalam Kitab Roma ada empat pos: Pembenaran, pe-ngudusan, Tubuh, dan gereja-gereja. Semua orang Kristen dapat dibagi menurut empat pos ini. Banyak orang Kristen sejati berhenti pada pos pembenaran. Mereka telah ditebus, dibenarkan, didamaikan, dan diselamatkan, tetapi mereka menghentikan perjalanan mereka pada pembenaran. Keli-hatannya mereka puas dan tidak mau mendengar sesuatu yang lebih jauh lagi. Dulu saya berbicara kepada banyak orang Kristen tentang mencari Tuhan dan hidup bersama-Nya. Tetapi ada orang berkata, “Bukankah cukup telah diselamatkan? Aku telah diselamatkan, darah Yesus telah menebus aku, aku telah dilahirkan kembali, dan sekarang aku adalah anak Allah. Satu hari aku akan pergi ke surga. Janganlah mengganggu aku dengan hal-hal lainnya lagi.” Ada sejumlah besar orang Kristen sejati yang tidak maju lebih lanjut dari pos ini.
Oleh anugerah Tuhan, ada orang-orang Kristen lainnya yang mencari apakah yang disebut hayat yang lebih dalam atau hayat batiniah. Mereka tidak puas hanya dengan pem-benaran saja, melainkan mengejar sesuatu yang lebih jauh, lebih tinggi, lebih kaya, dan lebih dalam. Orang-orang Kristen ini akhirnya mencapai pos pengudusan dalam Roma 8.
Setelah Perang Dunia II berakhir, sejumlah orang ku-dus di pos yang kedua ini mulai berbicara banyak tentang Tubuh. Menurut Kitab Roma, pasal 12 adalah pos kehidup-an Tubuh yang tepat. Tetapi menurut pengalaman banyak orang Kristen pada hari ini, sebenarnya ini bukanlah pos Tubuh, melainkan pos pembicaraan tentang Tubuh. Maka, kita dapat menyebut orang-orang Kristen ini sebagai para pembicara Tubuh. Ketika saya datang ke Amerika Serikat, saya merasa heran dengan pembicaraan tentang ministri Tubuh. Kemudian saya mempelajari bahwa apa yang mere-ka maksud dengan ministri Tubuh adalah suatu khotbah yang dilakukan oleh beberapa orang, seorang demi seorang, sebagai pengganti khotbah yang hanya dilakukan oleh satu orang saja. Meskipun orang-orang Kristen membicarakan begitu banyak hal tentang Tubuh, tetapi di manakah Tubuh itu? Semakin mereka membicarakan tentang Tubuh, semakin besar perpecahan yang terjadi. Sebelum tahun 1945, tidak ada begitu banyak perpecahan di Amerika Serikat seperti yang ada pada hari ini.
Kita tidak akan memiliki Tubuh hanya dengan berbi-cara tentang Tubuh. Tubuh hanya dapat direalisasikan di gereja-gereja lokal. Jika Anda tidak memiliki hidup gereja (church life), bagaimana mungkin Anda dapat memiliki Tubuh? Jadi, bersamaan dengan kategori orang Kristen yang ketiga, yaitu para pembicara Tubuh, terdapat kategori yang keempat: orang-orang yang mempraktekkan hidup gereja. Inilah pos yang keempat dalam Kitab Roma.
Di manakah Anda berkaitan dengan empat pos ini? Saya memiliki jaminan penuh bahwa saya berada di pos yang keempat. Allah telah dan masih tetap bekerja untuk mengubah orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah. Putra-putra Allah ini adalah anggota-anggota yang memben-tuk Tubuh Kristus untuk mengekspresikan Kristus. Seperti yang telah kita lihat, Allah ada di dalam Kristus, Kristus ada di dalam Tubuh-Nya, dan Tubuh-Nya ada di dalam gereja-gereja lokal. Inilah konsepsi dasar dan pemikiran inti dari kitab ini. Jika kita tidak melihat hal ini, berarti kita kekurangan penglihatan (rabun dekat).
MENANGGULANGI PERBUATAN KITA DAN APA ADANYA KITA
Untuk menggenapkan pekerjaan membuat orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah untuk membentuk Tubuh Kristus, Allah pertama-tama harus menanggulangi perbuatan-perbuatan kita di masa lampau. Masih ingatkah Anda akan hal-hal yang telah Anda lakukan sebelum Anda ber-oleh selamat? Jika Anda mengajukan pertanyaan ini kepada saya, saya akan berkata, “Jangan mengingatkan aku akan hal ini. Apa yang kulakukan di masa lampau itu terlalu ko-tor, jahat, dan buruk. Aku tidak mau membicarakannya.” Jika Anda mengira bahwa perbuatan-perbuatan Anda di masa lampau itu tidak buruk, saya mau bertanya, apakah Anda belum pernah mencuri sesuatu? Ketika orang-orang memberi tahu saya betapa baiknya mereka, saya akan me-meriksa mereka dengan hal mencuri. Tidak ada satu orang pun di antara kita yang bisa memegahkan diri atas masa lampau kita. Karena Allah tidak dapat menerima kita se-bagai putra-putra-Nya dengan sejarah yang demikian jahat, maka Dia harus menanggulangi hal ini.
Allah bukan hanya telah menanggulangi perbuatan ki-ta, tetapi juga menanggulangi apa adanya kita. Bahkan se-telah kita diselamatkan pun, kita tetap tidak begitu baik. Kita semua merupakan masalah bagi orang lain. Istri-istri merupakan masalah bagi suami-suami mereka, dan suami-suami merupakan masalah bagi istri-istri mereka. Anak-anak merupakan masalah bagi orang tua mereka, dan orang tua merupakan masalah bagi anak-anak mereka. Saya me-rupakan masalah bagi tetangga-tetangga saya, masalah bagi ipar-ipar saya, dan masalah bagi istri saya yang terka-sih dan anak-anak saya. Terima kasih kepada Allah bahwa Dia menanggulangi apa adanya kita!
Kematian Kristus di atas salib menanggulangi perbuatan kita, dan Kristus yang bangkit yang hidup di dalam kita menanggulangi apa adanya kita. Melalui kematian-Nya kita telah memperoleh kebenaran, dan karena itu kita dibenarkan di hadirat Allah. Melalui hal ini, persoalan masa lampau kita telah dibereskan. Sekarang Kristus hidup di dalam kita, menggarapkan kekudusan Allah ke dalam diri kita untuk menggenapkan satu pengudusan yang subyektif bagi kita. Kematian-Nya membawa kebenaran Allah kepada kita, tetapi tinggalnya Dia di dalam kita menggarapkan kekudusan Allah ke dalam diri kita. Dengan cara demikian Dia menanggulangi apa adanya kita. Dengan menanggu-langi masa lampau kita melalui kematian-Nya dan dengan menanggulangi apa adanya kita melalui Dia hidup di dalam kita, Dia mengubah orang-orang dosa menjadi putra-putra Allah.
Walaupun hal ini demikian indah menakjubkan, ini bukanlah hasil akhir dari proses ini. Pada kedatangan-Nya, Tuhan akan memuliakan kita. Dia akan membawa tubuh fana kita ke dalam kemuliaan Allah, dengan mengubah tu-buh maut kita menjadi tubuh yang mulia. Pada waktu itu kita akan dibawa ke dalam keputraan yang penuh. Kema-tian-Nya telah mendapatkan kebenaran Allah bagi kita, kehidupan-Nya menggarapkan kekudusan Allah ke dalam diri kita, dan kedatangan-Nya kembali membawa kita ke dalam kemuliaan ilahi supaya kita dapat memiliki ke-putraan yang penuh.
PENGALAMAN BERADA DI DALAM ADAM
DAN BERADA DI DALAM KRISTUS
Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa dalam Roma 5 kita berada di dalam Adam, dalam Roma 6 kita berada di dalam Kristus, dalam Roma 7 kita berada di dalam daging, dan dalam Roma 8 kita berada di dalam roh. Jika kita berada di dalam daging, kita mengalami Adam, dan jika kita berada di dalam roh, kita mengalami Kristus. Adam dalam pasal 5 hanya dapat dialami di dalam daging dalam pasal 7, dan Kristus dalam pasal 6 hanya dapat dialami di dalam roh dalam pasal 8. Tanpa pasal 7 kita tidak akan memiliki pengalaman di dalam Adam. Sesungguhnya seorang anak yang baru lahir ada di dalam Adam. Tetapi pada anak itu tidak terlihat pengalaman berada di dalam Adam. Namun, semakin tua, kita semakin memiliki pengalaman di dalam daging. Apa saja yang kita warisi di dalam Adam dialami oleh kita secara riil di dalam daging. Ketika kita hidup di dalam daging, kita akan mengalami semua “kekayaan” Adam. Para ibu, meskipun kalian mencintai bayi-bayi kecil kalian, namun anak-anak itu merupakan suatu lumbung “kekayaan” Adam yang besar. Jika Anda tidak percaya hal ini, saya minta Anda menunggunya selama dua puluh tahun. Selama tahun-tahun itu, lumbung kekayaan Adam ini akan tertampak perlahan-lahan kepada Anda. Kemudian Anda akan berkata, “Saudara Lee benar. Dua puluh tahun yang lalu ia menga-takan bahwa anak kecil ini merupakan suatu lumbung ke-kayaan Adam. Pada waktu itu aku tidak percaya kepada-nya, tetapi sekarang, setelah pengalaman selama dua puluh tahun, aku mengakuinya. Semua kekayaan Adam benar-benar tersimpan di dalam anak kecil itu.” Apa yang kita miliki di dalam Adam, kita alami dengan berada di dalam daging.
Demikian juga, fakta berada di dalam Kristus hanya dapat dialami dengan berada di dalam roh. Bila kita berjalan (hidup) menurut roh, kita akan mengalami semua kekayaan Kristus. Kekayaan Kristus jauh lebih besar daripada kekayaan yang ada di dalam Adam. Tetapi untuk mengalaminya, kita harus berjalan (hidup) menurut roh.
DITARUH KE DALAM KRISTUS
Roma 5:19 mengatakan, “Jadi, sama seperti melalui ke-tidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa.” Anda mungkin menyangka bahwa karena Anda telah diselamatkan, maka Anda bukan lagi orang dosa. Dalam satu aspek, saya setuju dengan Anda. Akan tetapi, kita masih memiliki unsur dosa dari susunan lama kita. Kita adalah orang-orang dosa ini yang tersusun dari dosa. Kita bukan orang-orang dosa karena kita berbuat dosa. Tidak, kita adalah orang-orang dosa karena kita telah tersusun dari dosa. Bahkan sebelum kita lahir, kita adalah orang dosa. Apakah kita baik atau jahat, kita semua telah tersusun menjadi orang-orang dosa.
Roma 6:3 mengatakan bahwa kita “telah dibaptis ke dalam Kristus Yesus” (Tl.). Ini berarti kita telah masuk ke dalam Kristus. Kita lahir dalam Adam, tetapi kita telah dimasukkan ke dalam Kristus. Kita lahir di dalam alam, ruang lingkup, dan unsur Adam, tetapi kita telah dipindah-kan ke dalam alam, ruang lingkup, dan unsur Kristus. Ini adalah satu fakta, dan ini bukan tergantung pada perasaan kita. Saya mengatakan bahwa Anda lahir di dalam Adam, Anda mungkin menjawab, “Aku tidak merasa bahwa aku lahir di dalam Adam.” Anda merasakannya atau tidak, ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Misalnya, saya berada di Amerika Serikat, ini adalah satu fakta; tidak peduli saya mungkin merasa berada di Taiwan. Dari hal ini kita dapat melihat bahwa perasaan kita itu mungkin dusta. Saya mungkin merasa bahwa saya adalah seorang raja, tetapi sebenarnya saya adalah seorang jelata. Saya mungkin merasa bahwa saya sangat baik, tetapi sebenarnya saya ini sangat celaka. Terhadap fakta-fakta rohani, kita tidak boleh bersandar pada perasaan kita.
Dalam Roma 6, ada satu fakta bahwa kita telah dita-ruh ke dalam Kristus. Apakah Anda sekarang berada di dalam Kristus? Ada orang mungkin menjawab, “Mungkin aku berada di dalam Kristus, tetapi aku tidak merasakan bahwa aku berada di dalam Kristus. Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan aku berada di dalam Kristus bila aku baru saja marah-marah satu jam yang lalu? Jika ting-kah lakuku satu jam yang lalu semalang itu, bagaimana mungkin aku sekarang dapat berada di dalam Kristus?” Tetapi berdasarkan fakta dalam Roma 6, kita harus mengumumkan, “Amin, aku berada di dalam Kristus!” Dalam Roma 6 kita memiliki fakta bahwa kita telah ditaruh ke dalam Kristus. Suka atau tidak, dan kita merasakan atau tidak, itu bukan masalah. Fakta tetap adalah fakta. Kita berada di dalam Kristus.
MANUSIA LAMA KITA TELAH DISALIBKAN BERSAMA DENGAN KRISTUS
Roma 6:6 mengatakan, “Karena kita tahu bahwa ma-nusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Melalui kematian Kristus, manusia lama kita telah diakhiri. Dia bahkan telah mengadakan satu pe-nguburan. Tahukah Anda bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan dikuburkan? Jika kita percaya bahwa kita berada di dalam Kristus, maka kita harus percaya juga bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama dengan Dia. Entah kita merasakannya atau tidak, ini adalah satu fakta bahwa manusia lama kita telah mati dan dikubur. Ka-rena itu Paulus berkata, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan bersama dengan Dia.” Di dalam Kristus, manusia lama kita telah disingkirkan.
TUBUH DOSA DIBUAT MENJADI TIDAK AKTIF
Karena manusia lama kita telah disalibkan dan diku-bur, “maka tubuh dosa” telah “dibuat menjadi tidak aktif” (menganggur) (6:6 Tl.). Karena kejatuhan, maka tubuh kita adalah tubuh dosa. Tubuh dosa yang demikian ini, hanya cocok untuk berbuat dosa. Di dalam tubuh ini tidak ada yang lain selain dosa. Karena itu, dalam 7:19-20 Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehen-daki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.” Dosa yang tinggal di dalam tubuh kita ini membuat tubuh kita menjadi “tubuh dosa”. Tidak peduli bagaimana lelahnya kita, tubuh kita ini sangat aktif bila ada kesem-patan untuk berdosa. Misalnya, ada orang mungkin bisa main judi selama tiga hari tiga malam tanpa tidur maupun makan dengan baik. Namun, tidak ada seorang karyawan yang bisa bekerja selama tujuh puluh dua jam tanpa tidur. Seorang karyawan akan mengeluh bila ia dipaksa untuk melakukan hal ini. Tidak ada seorang pun yang mengeluh kelelahan di meja judi, karena tubuh setiap orang adalah tubuh dosa. Saya belum pernah mendengar seorang penjudi mengatakan bahwa ia lelah dan ingin pulang. Sekalipun is-trinya memohon suaminya untuk pulang, suaminya masih bisa tinggal di pinggir meja judi untuk beberapa jam lama-nya. Ini menunjukkan bahwa tubuh ini tidak pernah lelah untuk berdosa, meskipun mungkin mudah lelah untuk hal lainnya. Ketika orang tua menyuruh anak-anak mereka mengerjakan pekerjaan rumah mereka, anak-anak sering kali berkata, “Oh, aku lelah. Lagi pula, aku tidak enak ba-dan.” Tetapi ketika mau melakukan sesuatu yang berdosa, tubuhnya penuh dengan energi.
Karena manusia lama kita telah dikuburkan bersama dengan Kristus, maka tubuh dosa ini telah kehilangan pe-kerjaannya. Tubuh ini menjadi tidak aktif (menganggur), karena orang dosa, manusia lamanya, telah disalibkan. Tubuh ini bukanlah persona yang berdosa, melainkan alat yang berdosa, satu sarana yang dengannya orang itu dapat berbuat hal-hal dosa. Tetapi sekarang persona ini telah disalibkan, maka tubuh dosa ini menganggur. Ini berarti kita telah dibebaskan dari dosa. Karena manusia lama kita telah disalibkan dan dikubur bersama dengan Kristus, ma-ka kita dibebaskan dari dosa. Inilah butir utama dari Roma
6.
MASALAH HUKUM TAURAT
Pada waktu kejatuhan, dosa masuk ke dalam manusia. Namun, manusia tidak menyadari bahwa dirinya penuh de-ngan dosa. Hal ini membuat Allah perlu memberikan hukum Taurat kepada manusia, supaya dosa manusia dapat dising-kapkan. Hukum Taurat itu sendiri seharusnya bukanlah suatu masalah, tetapi akhirnya menjadi masalah. Maksud Allah dalam memberikan hukum Taurat kepada manusia adalah untuk menyingkapkan dan meyakinkan manusia akan dosanya. Tetapi sekalipun manusia telah disingkap-kan oleh tuntutan-tuntutan hukum Taurat, manusia tetap menolak untuk mengakui bahwa dirinya penuh dengan do-sa. Sebaliknya, manusia memakai hukum Taurat dengan tidak tepat, seperti berkata, “Hukum Taurat ini sempur-na. Aku akan menggenapkan semua tuntutannya.” Mak-sud Allah adalah memakai hukum Taurat untuk menying-kapkan manusia, tetapi manusia mengira bahwa dirinya sanggup memeliharanya. Meskipun demikian, maksud Allah dalam memberikan hukum Taurat ini telah tercapai. Se-makin manusia berusaha memelihara hukum Taurat, se-makin ia melanggarnya; dan semakin ia melanggarnya, se-makin ia disingkapkan. Karena itu, kita bukan hanya me-miliki masalah dosa, tetapi juga memiliki masalah hukum Taurat.
Seperti yang telah kita lihat, masalah dosa telah dibe-reskan dalam Roma 6. Tetapi bagaimanakah masalah hu-kum Taurat ini dapat dibereskan? Dalam Roma 7, kita me-miliki jalan untuk dibebaskan dari hukum Taurat. Jalan untuk dibebaskan dari hukum Taurat sama seperti jalan untuk dibebaskan dari dosa, yaitu melalui kematian manu-sia lama. Dalam pasal 6, manusia lama kita adalah persona yang berdosa, tetapi dalam pasal 7, manusia lama kita ada-lah ego yang menganggap dirinya sebagai suami. Manusia lama ini tidak boleh menjadi suami; sebaliknya, ia harus menjadi istri. Namun, manusia lama ini tidak menjaga kedudukannya, dan telah menganggap dirinya memiliki ke-dudukan sebagai suami. Puji Tuhan bahwa manusia lama sebagai persona yang berdosa dan sebagai ego yang meng-anggap dirinya sebagai suami ini telah disalibkan dan diku-bur! Sekarang kita bebas dari dosa dan dari hukum Taurat. Ini mencakup bagian pertama dari Roma 7.
MASALAH DAGING
Pada bagian kedua dari pasal ini kita memiliki masalah lainnya — daging. Dosa telah membuat tubuh kita men-jadi satu tubuh yang penuh dengan dosa. Jadi, selain masalah dosa, kita juga memiliki masalah tubuh yang telah jatuh, tubuh yang penuh dengan dosa. Tubuh kita yang telah jatuh ini mutlak tidak baik; tubuh ini telah menjadi daging. Dalam Roma 7:18, Paulus berkata, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam dagingku (LAI. 1997: aku sebagai yang bersifat daging), tidak ada sesuatu yang baik.” Paulus yang mutlak berdiri di pihak hukum Allah, ingin berbuat baik dan memelihara hukum Taurat, tetapi ia menemukan bahwa dagingnya, yang menentang keingin-annya, adalah satu penghalang besar. Dalam 7:22-23, ia ber-kata, “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hu-kum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Dalam 7:25 ia berkata, “Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, teta-pi sebagai manusia yang bersifat daging aku melayani hu-kum dosa.” Kita semua perlu dibebaskan dari dosa, hukum Taurat, dan daging, semuanya itu adalah akibat dari kejatuhan kita.
DIBEBASKAN DARI DAGING MELALUI BERJALAN MENURUT ROH
Seperti yang telah kita lihat, Roma 5 mengatakan bah-wa kita telah tersusun menjadi orang-orang dosa. Sebagai orang-orang dosa yang demikian ini, kita memiliki masalah dosa, hukum Taurat, dan daging. Kita dibebaskan dari dosa dengan menyalibkan manusia lama kita sebagai persona yang berdosa. Kita dibebaskan dari hukum Taurat dengan menyalibkan manusia lama kita sebagai ego yang meng-anggap dirinya sebagai suami. Jalan untuk dibebaskan dari daging ditemukan dalam Roma 8, di mana kita melihat bahwa kita dibebaskan dari daging melalui berjalan (hidup) menurut roh. Bila kita berjalan menurut roh, maka kita dengan spontan dibebaskan dari daging. Jika kita tidak berjalan menurut roh, maka kita tetap berada di dalam daging, meskipun kita mungkin dibebaskan dari dosa dan hukum Taurat. Satu-satunya jalan untuk dibebaskan dari daging adalah berada di dalam roh dan berjalan menurut roh.
Dalam pasal 5—8 kita memiliki empat butir utama. Butir utama dalam pasal 5 adalah bahwa kita telah tersu-sun menjadi orang-orang dosa. Butir utama dalam pasal 6 adalah bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan bahwa kita telah dibebaskan dari dosa. Butir utama dalam pasal 7 adalah bahwa suami lama kita telah disalibkan dan bahwa kita telah dibebaskan dari hukum Taurat. Butir utama dalam pasal 8 adalah bahwa bila kita berada di dalam roh dan berjalan menurut roh, maka kita akan dibebaskan dari daging dan tidak lagi berhutang kepadanya. “Kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging” (8:12).
Kita perlu menerapkan hal ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, saya melukai seorang saudara se-waktu saya bekerja sama dengannya. Di satu pihak, saya sungguh mengasihinya; di pihak lain, saya tidak dapat menghindar dari melukainya. Setelah melukainya, hati nu-rani saya tidak enak, dan saya pergi kepada Tuhan, meng-akuinya, menerima pengampunan, dan dibersihkan oleh darah Tuhan. Setelah itu, saya berkata, “Aku tidak akan berbuat demikian lagi. Mulai sekarang, aku tidak akan berbicara kepada saudara itu dengan cara demikian.” Kemudian saya berlutut dan berdoa, “Oh Tuhan, Engkau telah mengampuniku. Tuhan, aku berdoa agar mulai sekarang Engkau membantuku untuk tidak melakukan hal itu lagi.” Tidak lama setelah berdoa demikian, saya bekerja sama dengan saudara itu lagi. Karena beberapa alasan, bekerja sama dengannya kali ini begitu sulit hingga saya tidak tahan. Setelah beberapa menit, saya marah-marah dan kembali melakukan kegagalan yang besar. Saya bertobat la-gi, mengakuinya, meminta pengampunan, dan menerapkan darah Tuhan. Tetapi sekarang saya malu untuk memu-tuskan, karena saya mulai merasakan bahwa hal ini tidak manjur. Meskipun demikian, akhirnya pada hari itu saya memutuskan untuk berusaha lagi dan memohon Tuhan membantu saya sekali lagi.
Roma 7:18 mengatakan, “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak.” Keinginan berbuat baik dan tidak marah-marah itu selalu ada pada kita. Namun, untuk berbuat apa yang kita kehendaki itu, kita tidak bisa. Dalam 7:19, Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan.” Pemberesan masalah saya dengan sau-dara itu dalam contoh di atas adalah setengah rohani dan setengah tidak rohani; setengah rahmat (belas kasihan) dan anugerah (kasih karunia) dan setengah hukum Taurat. Sa-ya membuat satu pengakuan, menerapkan darah Tuhan, dan memohon pengampunan Tuhan. Semuanya itu adalah anugerah. Tetapi kemudian saya memutuskan untuk berbu-at baik dan berdoa agar saya berhasil. Ini adalah menurut hukum Taurat. Dalam mengakui dan menerapkan darah Tuhan, saya pergi ke Roma 3 dan 4. Itu benar. Tetapi ke-tika saya memutuskan untuk berbuat baik, saya pergi ke Roma 7. Setiap orang Kristen melakukan kesalahan ini, mungkin ratusan bahkan ribuan kali. Ketika saya masih muda, saya mengulang kesalahan ini lebih dari lima puluh kali sehari. Sebagai seorang yang sungguh-sungguh men-cari kekudusan (kesucian), saya menemukan bahwa saya sering kali memiliki angan-angan yang tidak kudus. Misal-nya, saya mungkin secara luaran berbicara dengan ramah kepada seorang saudara, tetapi secara batiniah saya tidak suka atau bahkan meremehkannya. Itu adalah dosa dan kemudian saya berdoa, “Ya Allah, Bapaku, ampuni aku karena meremehkan saudara itu dalam hatiku. Bersihkan aku dengan darah. Mulai sekarang bantulah aku tidak me-lakukan hal ini.” Kemudian saya berbicara dengan saudara lainnya, dan hal yang sama terjadi lagi. Namun, bila saya tidak berdoa dengan cara ini, saya tidak terganggu. Bahkan sekalipun saya berusaha meremehkan seorang saudara, saya tidak dapat melakukannya. Tetapi setelah berdoa ten-tang hal itu, saya mulai meremehkan saudara itu lagi. Ke-adaan ini berlanjut selama bertahun-tahun. Satu hari, saya menemukan bahwa saya telah hidup dalam Roma 7. Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi mela-kukan apa yang baik, tidak.
Lalu apakah yang harus saya lakukan? Kita tidak boleh memiliki kehendak lagi. Namun, tidaklah mudah un-tuk menghentikannya. Meskipun demikian, kapan saja An-da dicobai untuk berkehendak, Anda harus berkata, “Iblis, enyahlah dari hadapanku. Aku tidak mau tertipu olehmu, dan aku tidak mau mendengarkanmu.” Bukannya memiliki kehendak, kita malah harus meletakkan pikiran kita di atas roh. Inilah kuncinya. Kita hanya harus mempraktek-kan satu hal: Menaruh pikiran kita di atas roh dan berja-lan menurut roh. Jangan memikirkan apa yang akan ter-jadi jika seorang saudara menjengkelkan Anda. Jika Anda tetap melatih kehendak Anda, Anda akan gagal. Tetapi jika pikiran Anda dan seluruh diri Anda ditaruh di atas roh dan Anda berjalan menurut roh, maka Anda dengan riil akan dibebaskan dari daging. Sungguh akan ada satu per-bedaan dalam hidup Anda sehari-hari! Kita perlu memprak-tekkan hal ini. Kita tidak perlu tinggal dalam Roma 5, 6, atau 7 lagi; melainkan dalam Roma 8, meletakkan pikiran di atas roh dan hidup, berjalan, dan bertingkah laku menu-rut roh kita. Kemudian kita akan mengalami satu kelepas-an yang penuh dari dosa, hukum Taurat, dan daging.